Bayangan Sang Kakak
Disclaimer : Haikyuu! belongs to Haruichi Furudate
Warning : Ngehit dikit manga spoiler apalagi A/N-nya! A/N panjang! Humornya jatuh bodo! Embel-embel friendship tapi agak nyerempet! Banyak filler!
.
.
.
Selamat menikmati!
.
.
.
Mungkin saja bila Osamu memutuskan untuk melanjutkan karir dengan bola voli, ia akan dikenal dengan namanya sendiri.
Januari membawa salju bersamanya, menghiasi Kota Kobe dengan butiran halus berwarna putih yang menumpuk di sepanjang jalan atau berhenti di permukaan yang cukup datar. Osamu menutup pintu kedai diikuti desahan napas lelah. Ia melepas topi dan apron yang dikenakan ke atas meja. Selama beberapa detik, pemuda itu terjebak dalam ingatannya yang menyerukan suara; membuat Osamu sedikit muak.
"Eh, itu Miya Atsumu? Kukira dia main untuk MSBY."
"Ah, masa, sih? Perasaan kemarin dia hadir di hari fans event."
"Lihat baik-baik, deh. Itu mukanya mirip benar!"
"Iya, sih. Tapi masa langsung berhenti? Karirnya bagus gitu."
Lalu, seorang pria di belakang mereka menyeletuk. "Mana ada Miya Atsumu. Itu Miya Osamu, kembarannya! Dulu waktu SMA mereka dikenal dengan julukan 'Miya Bersaudara' sebagai pasangan setter-hitter."
Ya, setidaknya Osamu sedikit puas ketika tak sengaja mendengar pria tua itu berani memprotes.
Osamu menatap meja kayu di bawahnya. Lantai yang dipijaknya juga dari kayu. Tak ada yang istimewa dari itu. Hanya lantai biasa, bukan lapangan voli yang dihiasi garis putih dan net.
Sejak dulu, Osamu hanya dikenal sebagai bayangan sang Kakak, Atsumu. Setidaknya impresi sebagian besar orang begitu ketika tak mengenal mereka dengan baik. Atsumu jelas lebih superior dan atraktif darinya. Sementara Osamu seperti ketenangan yang mengancam sebelum badai. Sang kakaklah yang akan memancing badai itu keluar.
Bertahun-tahun hidup bersama, memiliki barang-barang serupa, hobi yang sama dan karunia fisik yang mirip satu sama lain, pada akhirnya Osamu memilih berhenti mengikuti Atsumu. Berhenti berjalan di belakang sang kakak sehingga ia bisa menciptakan bayangannya sendiri, bukan menjadi bayangan bagi Atsumu. Osamu mengambil jalan yang kala itu, ia katakan lebih rasional.
Bagaimana bisa aku mempertaruhkan hidup dengan bola voli?
Itu katanya beberapa tahun silam.
Namun, tampaknya sekarang, ia justru semakin tidak dikenal dan berakhir menjadi bayangan Atsumu.
Osamu mendesah, menumpahkan segala pikiran yang membebani melalui satu helaan napas. Ia memejamkan mata sembari berusaha memperbaiki sesuatu yang berantakan di dalam sana. Tubuhnya, mentalnya, keteguhannya setelah memutuskan mengambil jalur lain; Osamu berusaha untuk meraih kembali itu semua. Ia berusaha menepis segala pikiran negatif. Lagipula, dua tahun masih waktu yang terlampau singkat.
Suara ketukan menyentak Osamu dari kegiatan 'meditasinya'. Ia menoleh dan bertanya-tanya siapa yang datang dengan cuaca sedingin ini? Padahal palang yang menunjukkan toko telah tutup juga terpasang. Osamu beranjak dan membuka pintu. Ia bersiap melontarkan pernyataan bahwa tokonya sudah tutup. Namun, segala niatnya bias ketika melihat sosok yang berdiri di depannya.
"Oh?"
Sosok itu meringis, tangannya terangkat ke belakang kepala.
"Hei. Lama tidak bertemu, Osamu," sapanya agak canggung.
"Loh? Suna? Ngapain malam-malam di sini?" tanya Osamu. Seingatnya markas utama EJP Raijin itu di Hiroshima, bukan di Kobe.
Suna mengedikkan bahu.
"Habis dari kamp latihan, sih. Pas lewat, kulihat lampunya masih menyala jadi kupikir kau masih di sini dan ternyata benar."
Osamu melupakan satu hal fatal. Ia baru sadar ketika rasa dingin bulan Januari menamparnya begitu keras. Pemuda itu membuka lebar pintu kedai.
"Ah, masuklah dulu."
Suna menggeleng.
"Nanti lantainya basah. Sebenarnya aku hanya mau ngajak minum, sih."
Ah, ini yang Osamu butuhkan. Siapa sangka ketika ia bergelut dengan segala tekanan yang diterimanya Tuhan justru mendatangkan sang sahabat lama dengan solusi yang pemuda itu butuhkan? Osamu buru-buru menyambar mantel dan sepatu boots-nya. Suna sedikit khawatir pemuda besar itu akan terjatuh saking tergesanya. Si Miya bungsu langsung menghampirinya agar Suna tak perlu menunggu dan kedinginan lebih lama.
Trotoar Kobe diselimuti salju, berpotensi membuat siapa saja tergelincir jika tak hati-hati. Suna dan Osamu berbelok ke sebuah minimarket 24 jam yang tak jauh dari Kobe Central Gymnasium. Keluar-keluar mereka membawa kantongan berisi beberapa kaleng bir dan ramen instan. Mereka berjalan sebentar melewati beberapa ruko pertokoan, diterangi lampu jalan yang menggantung bersinar keemasan kemudian memasuki sebuah kawasan apartemen. Tempat Osamu ada di lantai enam, jadi harus lewat lift atau tangga dulu.
Osamu membuka pintu dan membiarkan Suna masuk lebih dulu. Pemuda berambut gelap itu langsung menyisihkan sepatunya agar tak membuat lantai si tuan rumah basah oleh bekas salju. Ia menyamankan kakinya di dalam sandal berbulu dengan yang menyerupai boneka rubah. Suna ingat ia selalu tak tahan untuk tidak mendengkus geli ketika melihat benda itu di kediaman si kembar. Maksudnya—Osamu yang badannya mirip atlet binaragawan itu punya benda selucu ini?
"Mandilah dulu. Rambutmu basah gara-gara enggak pake topi," ujar Osamu yang berjalan melewatinya.
"Siap …," jawab Suna dengan nada main-main.
Suna bukan tipe orang yang akan menghabiskan banyak waktu di kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi, selesai dengan handuk yang menggantung di kepala. Untungnya ia bawa peralatan mandi dan baju cadangan saat latihan tadi. Ya, walaupun itu juga saran dari Komori. Besok-besok Suna harus mentraktirnya sesekali.
Apartemen si kembar sudah seperti rumah kedua bagi Suna, walaupun ia sangat jarang menginap kecuali untuk hal yang mendesak. Biasanya Suna akan pulang jika masih ada kereta yang beroperasi—masa bodoh biar sampai pagi. Sungguh, berada di antara dua rubah kembar yang sumbu pendek tidak baik untuk kesehatan. Jika saat latihan ada Kita yang turun tangan, maka di tempat ini harus Suna juga yang melerai jika mereka bertengkar. Terkadang malah kena.
Osamu juga telah berganti pakaian. Ia membawa dua mangkuk ramen instan ke ruang tengah di mana beberapa kaleng bir yang mereka beli juga di sana. Suna yang masih sibuk menggosok kepala untuk mengeringkan rambut ikut menghampiri. TV dinyalakan dan wajah Atsumu langsung muncul. Osamu mengomel entah apa—dominan umpatan yang hanya ditimpali kekehan ringan dari Suna.
"Timmu bagaimana? Sudah bisa menyesuaikan diri?" Osamu memulai percakapan. Selama waktu makan tadi, tak ada satupun suara dari keduanya kecuali TV yang kini berganti menayangkan acara talkshow. Suna mengambil sekaleng bir dan membukanya tanpa kesulitan. Ia meneguk sekali isi kaleng tersebut kemudian mengedikkan bahu. "Lumayan."
Osamu terkekeh. Ia mengenal Suna sejak tahun pertama sekolah menengah atas. Kebetulan mereka berada di kelas yang sama. Suna bukan sosok yang bisa dengan mudah bersosialisasi. Bagi yang sejenis dengannya, duduk diam, menghiraukan keberadaan orang lain, dan berpura-pura ia sendirian jauh lebih mudah daripada sekadar menyapa atau melontarkan basa-basi sederhana. Namun, ia sedikit lebih ekspresif jika bergabung dengan anggota tim voli.
"Usahamu bagaimana?"
Osamu menoleh sekilas kemudian kembali memalingkan wajah ke layar TV. Ia meneguk bir sekilas. Ah, omong-omong pertanyaan Suna terlalu terbuka. Mungkin saja ia menangkap sesuatu begitu melihat raut tak biasa Osamu.
"Biasa saja," jawab Osamu sekenanya.
"Biasanya itu bagaimana?" balas Suna, agak gemas.
"Ya habisnya pertanyaanmu terlalu luas. Bagaimana apanya? Lancar, terkendala atau tidak maju? Perjelas pertanyaanmu," tukas Osamu. Ia bisa mendengar Suna yang menghela napas di sampingnya.
"Ya … kalau kutanya lancar, terkendala atau tidak maju kaubisa bebas ngeles."
Ya, Osamu salah sangka jika ia mengira ucapannya tadi mampu membungkam Suna. Ia lupa satu hal penting. Suna adalah pengamat yang baik. Biasanya orang yang tipenya introver justru punya banyak senjata membuat orang lain skakmat dalam pembicaraan. Osamu yang hanya diam menerima sindirannya kembali membuat pemuda itu mendecak.
"Enggak beres pasti—entah usahamu tidak lancar atau kau yang lagi di persimpangan jalan."
Perkataan Suna sama sekali tidak baik untuk jantung Osamu. Sekarang ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri buah kesemek tetangga sebelah dan tidak tahu harus berkata apa. Orang ini kelewat jenius—ya meskipun nilai ujiannya tidak. Tapi intuisinya sangat tajam, setingkat di bawah Kita.
"Suna, kau pernah mikir enggak kalau aku itu cuma bayangannya Atsumu?"
Ah, ini dia inti permasalahannya. Sedikit lebih awal, Suna bahkan tak mengira akan semudah ini memancing Osamu berkata jujur. Tapi, setidaknya ia berhasil menarik keluar apa yang bersarang di kepala sahabatnya itu. Kalau saja Osamu seperti Kita, ya Suna mundur saja. Ia bakal kalah telak!
Pemuda itu menggerakkan bibir hingga pipinya bergantian menggembung di kiri dan kanan sebelum melontarkan jawaban—yang diharapkan tidak memperburuk kondisi Osamu.
"Pertama kali? Iya. Soalnya kau selalu sembunyi di belakang Atsumu," jawab Suna mantap tanpa menatap lawan bicaranya. Osamu sudah menduga hal itu. Murungnya tertunda ketika Suna kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, lama-lama juga berubah. Atsumu itu lebih pecicilan makanya sering disorot. Kalian enggak beda jauh, sih. Sama-sama sumbu pendek. Kalau soal bayangan, kau ya kau, Atsumu ya Atsumu. Kau Miya Osamu, dia Miya Atsumu. Kau itu bukan bayangannya."
Suna kembali meneguk birnya. Sorotnya tenang, tapi dalam hati ia mengutuk betapa kacaunya kalimat yang keluar itu. Pemuda itu berharap Osamu tidak bertambah buruk. Bisa-bisa ia dihajar habis-habisan sama si kakak.
Atsumu yang berada di ruang ganti bersama anggota MSBY lain langsung bersin-bersin. Sakusa yang berada di sampingnya langsung mengambil langkah mundur dengan mata yang menyorot ngeri; takut tertular virus.
"Jauh-jauh dariku, pembawa penyakit!" desis Sakusa.
Atsumu menyalang nyolot, "Heh, enggak sopan! Omi-Omi jaga mulutmu itu!"
Osamu termenung. Suna mungkin mengatakan itu untuk menghiburnya tapi ia agak bimbang. Pasalnya, Suna itu tipe orang yang suka berterus terang. Straight forward. Kecil kemungkinan semua kata-katanya itu dusta. Tapi tetap saja Osamu masih merasa bahwa ia hanya bayangan Atsumu.
"Kenapa? Kau mau mengaku kalah gara-gara enggak mendengarkan Atsumu buat main voli habis lulus? Loh, loh, ini bukan Osamu yang kukenal kayaknya," goda Suna dengan seringai menyebalkan. Osamu menatapnya sekilas kemudian berpikir. Lalu, pemuda itu mendengkus sembari membuang wajah ke samping kanan.
"Mana mungkin!"
Suna terkekeh. Sudah jelas jiwa pantang kalah dari Atsumu masih hidup di dalam diri Osamu.
"Lagipula kau juga berhenti main voli buat membuktikan ke Atsumu kalau kaubisa lebih baik, 'kan? Kalau gitu ngapain pakai bicara 'aku ini bayangannya Atsumu'?"
Suna itu tukang kompor. Provokator handal yang mungkin bisa sukses sebagai anggota kongres. Dia tak banyak bicara, tapi sekali bersuara semua orang langsung kena skakmat dengan apik. Selain itu, ia juga pandai memanipulasi sehingga arah pembicaraan bisa sesuai dengan keinginannya.
"Kau kenapa enggak jadi anggota kongres saja? Mulutmu itu benar-benar minta diperban," cibir Osamu.
"Enggak, makasih! Aku cuma bisa main voli," tukas Suna.
Osamu mendengkus geli. Ia kembali meneguk birnya hingga kandas.
"Oh ya, kau bakal tanding sama MSBY bulan depan, 'kan?"
Suna mengangguk. "Begitulah. Tempatnya masih belum ditentukan, sih. Tadinya mau di Sendai City Gymnasium ... tapi keburu dicarter buat pertandingan Tachibana Red Falcons lawan Azuma Pharmacy Green Rockets. Kalau bukan di Tokyo mungkin di Osaka."
"Ah, sesama V-League Divisi 1. Andai saja Divisi 2 mereka mungkin akan mempertimbangkannya," sahut Osamu yang membuka kaleng kedua. "Kau benar-benar masuk Divisi 1, eh? Selamat."
Suna terkekeh pelan sebelum mempertemukan kaleng minumannya dengan Osamu; berpura-pura bahwa yang mereka pegang adalah gelas berisi sampanye kualitas dunia.
"Perayaannya sedikit terlambat kurasa, tapi terima kasih."
Osamu menanggapinya dengan kekehan kecil yang singkat.
"Soalnya kau sibuk terus."
"Memang kau sendiri enggak?"
Keduanya menutup percakapan dengan tawa.
"Nanti kabarin lokasi tandingnya," ujar Osamu sambil memukul pelan bahu Suna.
"Eh? Mau datang mendukungku?"
"Enggak, mau jualan. Pertandingan V-League Divisi 1 pasti ramai penonton."
Suna balas meninju lengan Osamu. "Sialan, kau membuatku patah hati."
Osamu terkekeh sebelum membersihkan bekas makanan mereka, dibantu Suna. Saat ini TV di ruang tengah sedang menayangkan headline news yang memaparkan bahwa kemungkinan akan terjadi badai salju malam ini. Suhu di luar di bawah nol derajat. Selesai dengan pekerjaan singkat karena memang ia tak perlu mencuci apapun, Osamu kembali menghampiri Suna yang anteng di depan TV.
"Malam ini menginap saja di sini," ujar Osamu sambil menaruh pizza yang baru selesai ia panaskan di microwave.
"Ok, aku tidur di sofa," jawab Suna sekenanya.
Osamu melirik Suna dengan raut masam. "Aku ini masih suka cewek, loh, Suna."
Suna terkekeh pelan. "Enggak, bukan itu. Habisnya terakhir kali aku tidur di sampingmu kau menendangku sampai jatuh dari tempat tidur."
Mendengar pernyataan gamblang itu lantas membuat Osamu memuntahkan tawa kecil.
"Maaf, maaf, soalnya kebiasaan. Dulu Atsumu suka pindah ke tempatku terus tidurnya juga suka tendang sana-sini. Ya kubalaslah tendang balik. Makanya orang tua kami bahkan membuat ranjang bertingkat biar dia enggak pindah ke kasurku lagi."
Suna tertawa terpingkal-pingkal. Kacau sekali dua kembar ini.
"Tidur di kamarku saja. Aku tidur di kamar Atsumu. Tadi dia bilang enggak sempat pulang jadi kamarnya bakal kosong."
"Deal. Omong-omong Atsumu apa kabar? Aku jarang ketemu akhir-akhir ini."
Osamu meneguk bir kaleng ketiganya sejenak kemudian menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri. Ia seperti mencoba merangkai kata yang bagus untuk pertanyaan Suna. Suna hanya diam dan menunggu jawaban.
"Baik—atau tidak. Kemarin dia jatuh pas hari fans event. Sepertinya dia masih depresi dengan itu."
"Tunggu, apa?! Kenapa aku tidak tahu hal semacam ini?" Suna beringsut mendekat seperti ibu-ibu kompleks yang baru saja mendengar bahan gosip baru. Jiwa lambe turahnya tak pernah absen menyangkut kekonyolan si kembar. Sebenarnya bukan hanya kekonyolan si kembar. Apapun yang hot dia sambar tanpa pandang bulu!
"Agak lama, sih. Sebelum mereka tanding sama Adlers. Kata Bokuto-san, Tsumu jadi kayak mayat hidup saking malunya." Si Miya satu ini juga bersemangat tentang hal konyol kembarannya.
"Ah, aku nonton yang itu di ruang ganti, sih. Enggak ada foto atau apa begitu pas hari fans event-nya MSBY?"
Osamu menjentikkan jari sekali kemudian mengambil ponselnya. Ia menggulir menu galerinya dengan tidak sabar sampai Suna khawatir layar ponsel itu akan aus. Setelah menjelajahi banyak foto, Osamu berhenti dan memperbesar sebuah foto di mana Atsumu nyungsep sementara anggota MSBY lain berdiri.
Osamu dan Suna menyemburkan tawa keras.
"Ah, ada juga di sini," ujar Osamu sambil berpindah ke album lain. Ia memutar video amatir yang diabadikan seorang die-hard fans Miya Atsumu. Sebuah tulisan 'Kak Atsumu bisa jadi keren bisa jadi konyol. Benaran husband material!' terpampang di bagian atas video. Suna ingin muntah sejenak. Lalu ia fokus pada apa yang terjadi dalam video tersebut.
Tawa Suna dan Osamu refleks meledak ketika Atsumu jatuh dengan tidak elit dalam video amatiran tersebut.
"Kirim ke surelku!" seru Suna bersemangat. Sepertinya dia dapat sesuatu untuk membungkam Atsumu kali ini.
"Bayar dulu," ujar Osamu bak preman tapi gagal karena ia terlalu innocent.
"Nanti kuberi tanda tanganku, deh. Jual ke cewek-cewek, 'kan lumayan," balas Suna dengan percaya diri yang setinggi langit.
Osamu meraih bantal di sofa belakang dan langsung menempeleng Suna. "Kenapa kau malah ketularan narsis kayak Atsumu, sih?"
Suna memprotes, "Enggak salah, 'kan?"
"Ya sudah, ya sudah," tutup Osamu.
Lagi-lagi, masih di ruang ganti MSBY Black Jackals, Atsumu bersin beberapa kali diikuti bulu kuduk yang merinding gara-gara kedinginan.
"Uhh … kenapa jadi dingin begini?" keluhnya.
Sakusa memanggil Atsumu, pemuda itu menoleh dan langsung disambut semprotan disinfektan dari si rekan. Sontak saja ia memekik kesal.
"Omi! Aku ini manusia, bukan virus, hoi!"
"Sama saja. Kau membawa virus-virus itu. Ah, bukan, kaulah virusnya," balas Sakusa kejam.
"Oi, kata-katamu itu! Memangnya kau bulu babi apa?! Dasar bulu babi keriting!" cela Atsumu yang masih kesal karena terus disemprot disinfektan.
Sakusa berhenti menyemprot Atsumu, kali ini ia melempar tatapan horor.
"Kalau sampai habis latihan kau masih bersin-bersin, jangan harap aku akan membiarkanmu masuk kamar."
Oh, mereka satu kamar pemirsa. Sayangnya, ini tidak be-rating berbahaya atau menjurus. Pure friendship dengan adegan yang agak nyerempet. Tidak, tidak, walaupun mereka satu kamar ranjangnya pisahan, kok. Lagipula Sakusa juga tidak rela berbagi ranjang dengan virus macam Atsumu.
Atsumu merinding lagi. "Kejam!" Ia memekik kala Sakusa mengambil ancang-ancang untuk menyemprotnya dengan disinfektan lain.
Setelah mengirimkan satu video dan foto—yang dijamin hidup Atsumu tidak akan tenang ke depannya, Osamu kembali memasang wajah murung. Hal itu spontan menarik perhatian Suna. Ia cukup merinding membayangkan bagaimana pergantian suasana hati yang cepat dari Osamu. Pemuda itu lalu menepuk punggung sahabatnya beberapa kali.
"Kau itu bukan bayangannya Atsumu, kok. Kecuali kalau kau masih berpikir begitu, silakan tutup kedaimu dan susul Atsumu ke V-League Divisi 1."
"Mana mungkin aku melakukan itu."
Suna mendesah, "Makanya … kau harus buktikan padanya kalau kau tidak menyesal dengan jalan ini."
Tumben mulutnya benar, batin Osamu.
Suna, yang tahu apa arti dari tatapan Osamu sekarang mencebik.
"Aku ini juga manusia, lho. Bisa memikirkan perasaan orang juga."
"Jangan lakukan lagi. Kau membuatku merinding!"
Suna memekik kesal kemudian disambung tawa geli. Usai tawanya reda, ia kembali mengarahkan pandangan pada layar TV.
"Lagian, kalau kau ikut sama Atsumu di MSBY yang ada kau malah semakin dianggap bayangannya. Atsumu tetap akan mengambil semua perhatian itu. Ya, dia memang begitu, sih pada dasarnya. Attention seeker kayak temannya yang dari Fukurodani itu. Kombinasi mereka benar-benar … chaos. Ditambah si pendek dari Karasuno dan si top ace, Sakusa dari Itachiyama. Mereka kombinasi yang benar-benar gila."
Osamu mencerna perkataan Suna pelan-pelan. Ia kembali termenung menatap layar TV tanpa mengikuti sedikitpun apa topik yang dibahas oleh pembawa acara. Pikirannya, entah kenapa setuju dengan pernyataan Suna. Hal itu membuat Osamu sedikit tenang. Sebuah tepukan di kepala membuat pemuda itu menoleh. Irisnya bersirobok dengan permata kehijauan yang terbingkai kelopak mata sempit.
"Tetap jadi Osamu yang kukenal, ok?"
Agak lama hening sebelum Osamu menjawab. Itupun ketika Suna sudah menarik kembali tangannya.
"Ok."
"Omong-omong, aku enggak bisa begadang."
Osamu mengerjap pelan. "Oh, ok, tidur aja kalau begitu. Acaranya juga sudah membosankan. Selamat malam."
"Selamat malam."
Suna langsung beranjak dari tempatnya menuju kamar Osamu. Namun, sebelum pemuda itu masuk ke kamar, suara Osamu kembali terdengar.
"Oh iya, kau tidak terbiasa bangun tengah malam buat buang air, 'kan?"
Sekonyong-konyong, Suna menoleh. Melempar tatapan heran.
"Sering, sih. Kalau musim dingin kayak gini malah tiap malam. Kenapa memang?" tanya Suna dengan polosnya.
Osamu menggeleng. "Enggak. Cuma, kalau di kamar mandiku shower-nya tiba-tiba nyala atau kerannya jalan sendiri enggak usah panik. 'Mereka' kadang memang suka iseng. Ya sudah, selamat malam," ujar Osamu yang menutup pintu kamar Atsumu dari dalam.
Suna membeku di tempatnya, lantas ia merinding dan mengambil langkah cepat ke kamar Atsumu. Yang mana di dalam kamar itu, Osamu sudah hampir pingsan gara-gara ketawa keras. Perutnya sampai sakit dan napasnya nyaris putus. Ketukan tak sabar Suna memecah hening diikuti berbagai umpatan yang 'halus' sampai mendiktekan nama-nama binatang—yang dijamin bakal bersin berjamaah malam ini.
"Tega!"
Akhirnya, mereka berakhir tidur bareng. Cuma tidur, enggak ngapa-ngapain! Pas pagi tahu-tahu Suna sudah tengkurap di lantai. Untung saja ada karpet. Bisa-bisa Middle Blocker kesayangan EJP Raijin itu membeku kalau tiduran langsung di lantai.
Osamu? Jangan tanya. Posisinya diagonal sempurna, menginvasi sebagian besar tempat tidur. Suna harus menambah catatan di ponselnya. Kalau menginap di apartemen si kembar jangan lupa bawa karpet dan selimut sendiri. Lalu bawa dupa, jimat, bawang putih atau apalah yang bisa menjauhkan makhluk usil.
Atsumu menggosok hidungnya yang memerah, terus memencet tombol apartemen dengan tidak sabar. Badai salju berhenti dan ia langsung pulang ke apartemen. Ketika melihat orang yang membuka pintu bukan adiknya, Atsumu jadi paham. Semuanya menjadi jelas.
"Oh, pantasan aku bersin-bersin terus semalaman sampai dikunciin kamar sama Omi-Omi!"
Suna yang nyawanya belum terkumpul hanya bisa ber-'hah' ria.
end
A/n :
Fanfiksi terpanjang di awal bulan ini yang akhirnya berhasil direalisasikan, fyuh~ sebenarnya ini udah dari beberapa hari yang lalu. Entah kenapa kemampuan menulis banyak word udah terkikis dimakan zaman, hikd.
Okey balik lagi sama pair favku di HQ alias SunaOsa *tebar confetti* dan masih bergenre friendzone -bukan- tapi friendship. Yaaa meski agak nyerempet sih. SakuAtsu juga cuma filler buat bagian haha hihi aja, ueueue maapkeun, nanti saia kasi kalian sesembahan foto sangwooh* ama lysol sejerigen! Ehe!
Atsumu teriak dari belakang, ditahan Bok-kun sama Omi biar ga tackling authornya, "Gw bukan sangwooh* dasar author durjana!"
Aku lagi suka friendship SunaOsa, entah kenapa—jujur aja anda payah bikin bl!—
Mereka itu gimana, ya? Imut-imut gitu. Sama-sama pendiam. Diam-diam menghanyutkanku dalam pesonanya~
Awalnya aku mau ngambil latar Sendai, tapi inget kalau perjalanan dari Sendai ke Hiroshima (markas EJP Raijin—yang kudapat di reddit ternyata interpretasinya JT Thunder adanya di Hiroshima) ternyata 14 jam pemirsah! Wah! Selain itu markas MSBY yg di wikifandom haikyuu ada di Osaka. Osaka ke Sendai tuh sekitar 10 jam, yakali Atsumu pulang balik Osaka-Sendai, kasian si sangwooh* kw!
Atsumu lagi, tereak dibelakang, "Gw bukan sangwooh* b*ngke!"
Alasan pengen ngambil Sendai soalnya pas baca manga Osamu lagi jualan di SCG alias Sendai City Gymnasium pas pertandingan Jackals vs Adlers. Didukung sama Akaashi yg muncul. Entah dia atau Samu yang bilang kayak, "Sendai emang markasmu, sih." Kupikir emang Samu netap di Sendai buat jualan. Gitulah. Lupa saia. Tapi pada akhirnya yaa ngambil Kobe aja, Hyogo. Selain deket sama markas Atsumu, dari Hiroshima juga cuma sekitar 4 jam perjalanan. Yang markas EJP Raijin tuh cuman headcanon ku aja sih, soalnya gaada konfirmasi lokasi markas EJP. Kasian minor hikd.
Lagian aneh, namanya Eastern Japan Paper Mills Raijin, Eastern, East (Timur) tapi markasnya di bagian barat. Nani?! Tapi yaa, ini cuma berdasar headcanon-ku aja yg kebetulan nemu tim-tim yang diambil dan dimodifikasi Furudate Sensei di reddit.
Alah, bacotnya kepanjangan. Ya sudahlah, mari kita akhiri.
Makasih buat yang udah mampir di sini baik yang meninggalkan jejak atau tidak. Sampai jumpa di fanfiksi berikutnya!
