Feeling (c) Narcissus_M

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Pair : Sasuke uchiha x Sakura Haruno

Warning : OOC, typo(s)

Happy reading! Don't forget to review!


Sore telah datang dengan cepat. Sasuke diantar pulang oleh Naruto pukul 5 sore, hampir mendekati malam, namun masih ada yang tertinggal, itu yang sampai sekarang dipikirkan oleh Sasuke. Naruto bahkan terus-menerus menggodanya, seolah-olah berkata bahwa Sakura itu gadis yang susah ditaklukkan. Cukup menyebalkan.

Itachi berjalan dan berhenti di depan Sasuke yang tengah terduduk di sofa depan televisi. Alisnya terangkat, melihat sosok adiknya yang tengah melamun. Laptop bertengger manis di kedua paha yang terbalut jean berbahan terbaik.

Ada apa dengan adiknya?

Sasuke masih setia melamun, Ahh! Otaknya butuh asupan kopi, sepertinya Sasuke harus keluar dari rumah dan mampir ke minimarket atau supermarket terdekat. Sasuke sontak menaruh laptop yang sedari tadi di pangkuannya ke atas meja. Berdiri tergesa, berjalan mengambil jas di kamarnya.

Itachi bengong seketika, apa adiknya itu tidak melihat sosoknya? Lagipula, kenapa tergesa-gesa seperti itu?

Ketika Sasuke sudah siap dengan jas dan dompet di tangannya, Itachi segera memanggil, "Oi, Otouto, mau kemana kau?"

Sasuke membalikkan badannya yang telah sampai di depan pintu, "Keluar. Butuh kopi." balas Sasuke.

Itachi tersentak, "Bukannya ada alat pembuat kopi di dapur?"

"Tidak mau repot." Sasuke membalas lagi. Dalam hati menggerutu karena kakaknya terlalu lama mengajak ngobrol.

"Oh." Itachi makin bengong saja melihat Sasuke sudah berjalan-atau berlari meninggalkan rumah sewaan keluarga Uchiha. "Anak itu kenapa sih?"


Sasuke menilik beberapa minuman kopi kaleng maupun botol di etalase. Tidak ada minat, sebenarnya. Namun rasanya otak dan perasaannya membutuhkan sesuatu yang menyegarkan. Kopi hanya terlintas begitu saja.

Menghela napas, Sasuke akhirnya mengambil acak minuman itu.

"Sasuke?" suaranya terdengar lembut ketika Sasuke mendengarnya. Tanpa harus berpikir siapa yang memanggilnya; Sasuke sudah merekam baik-baik suara itu milik siapa.

Berbalik, Sasuke melihat sosok Sakura yang menggunakan dress selutut berwarna hijau tosca. Mirip kedua manik mata Sakura, begitu yang dipikirkan Sasuke.

"Sakura." Sasuke balas menyapa.

Sakura tersenyum, berjalan mendekati Sasuke. Tangan kanannya membawa keranjang belanjaan yang lumayan penuh. "Apa yang kau lakukan disini?"

Mengangkat kopi yang telah dia ambil dan Sasuke berkata, "Kopi?"

Sakura mengangguk, "Oh." Tidak ada lagi percakapan. Manik Sakura menyusuri sekeliling minimarket yang ia kunjungi karena ibunya meminta tolong untuk dibelikan beberapa bahan makanan. Malas ke swalayan yang besar dan tidak mau repot, disinilah Sakura. Membawa keranjang dipenuhi beberapa titipan ibunya dan keperluannya juga. "Aku duluan kalau begitu." Sakura akhirnya berbicara. Mengerti bahwa sepertinya Uchiha Sasuke bukanlah sosok yang banyak berbicara dan cenderung irit berbicara.

"...Sepertinya belanjaan mu berat. Mau saya bawakan?" Sasuke menawarkan tiba-tiba. Buntu, tapi masih ingin bersama Sakura.

Sakura melirik keranjangnya dan Sasuke untuk sesaat. "Hah?"

Sasuke mengendikkan bahunya dan segera mengambil keranjang milik Sakura, "Apa masih ada lagi yang mau kamu beli? Saya lumayan senggang. Dibanding di rumah sewaan keluarga saya dan merasa suntuk, saya pikir jalan keluar dan membeli kopi itu lumayan." Tidak tau apa yang Sasuke pikirkan hingga repot-repot berkata panjang kali lebar kepada Sakura seperti ini. Dirinya hanya butuh sebuah conversation with Sakura. Or just topic. Yes. Sasuke need topic right now!

Menunjuk rak makanan ringan dengan jari telunjuk yang lentik, Sakura mencoba memberi tahu Sasuke karena masih merasa tidak mengerti mengapa tiba-tiba Sasuke menawarkan untuk pergi belanja bersama, err-bukan bersama juga sebenarnya, karena mereka sebenarnya hanya bertemu tidak sengaja.

Keduanya berjalan mendekati rak makanan ringan. Sakura mengambil beberapa makanan ringan favoritnya. "Kau tidak mau membeli makanan ringan juga, Sasuke?"

"Tidak. Sudah terlalu banyak makanan di rumah." Sasuke membalas.

"Dimana rumah sewaanmu, Sasuke? Apakah dekat dari sini? Rumahku sebenarnya dekat dari sini juga." Sakura mencoba mencari pembicaraan. Kini keduanya berjalan menuju kasir karena Sakura sudah membeli semua yang diinginkannya. Sasuke diam tidak membalas.

Membayar tanpa harus berantri lama, Sasuke dan Sakura bejalan keluar dari minimarket.

"Rumah saya hanya berjalan 10 menit dari minimarket ini. Lihat, palang warna hijau itu. Sebelahnya, rumah sewaan keluarga saya." Sasuke berkata tiba-tiba. Langkah kakinya nampak berlawanan dari rumah sewaan keluarganya dan malah mengikuti langkah kaki Sakura.

Sakura tidak mengatakan apa-apa, namun entah mengapa rasanya aneh sekali, "Oh. Rumah sewaan itu, ya? Memang sering rumah sewaan itu di sewa kalau liburan seperti ini. Aku juga rasanya masih berharap liburan sekolahku diperpanjang saja." Sakura menimpali. Hanya tangan kirinya yang membawa belanjaan, belanjaan yang satunya telah dibawa Sasuke. Astaga, padahal belanjaan Sasuke hanya kopi. Malah repot-repot membawakan belanjaanku yang banyak. Pikir Sakura.

"Sekolah?" Sasuke bertanya. Maniknya melirik Sakura sejenak.

Mengangguk, Sakura membalas, "Ya. Aku masih kelas 2 SMA."

Sasuke sontak berhenti dari jalannya. Sakura ikut berhenti. Di depan mereka terdapat taman yang tidak terlalu ramai. Sakura sedikit tidak nyaman karena masih ada anak-anak kecil yang berarian. Ingin menegur Sasuke rasanya karena mereka berhenti di tempat yang tidak seharusnya.

"Sasuke?"

"Bukannya kamu ini teman Naruto?" tanya Sasuke setelah lepas dari rasa keterkejutannya. Masih SMA kelas 2. Tolong. Sasuke itu mahasiswa akhir. Berapa banyak gap mereka? Sasuke tidak bisa untuk tidak berpikir.

"Ya. Aku teman Naruto. Dulu rumah kami bersebelahan sebelum keluarganya pindah rumah." balas Sakura. Sakura mencoba mengajak Sasuke untuk melanjutkan jalan mereka.

"Lalu Hinata?"

"Hinata? Hinata Hyuuga itu putri keluarga Hyuuga yang terkenal di desa ini. Jadi, semua orang pasti mengenalnya. Aku kenal dengan Hinata juga karena Naruto." Jelas Sakura, "Lalu, Sasuke sendiri bagaimana?"

Sasuke diam sejenak, membersihkan tenggorokannya yang entah mengapa terasa kering Sasuke mencoba membalas, "Mahasiswa tingkat akhir. Tinggal mengerjakan skripsi."

Sakura terkejut, "Apa? serius? Aku baru 16 tahun ini, kalau Sasuke? Tunggu, aku harusnya memanggilmu Onii-san, kan?" Sakura meletakkan tangan kananya membekap mulut, dalam pikirannya hanya terpikir: mengapa wajah Sasuke masih awet muda. Ya, walau tinggi, namun wajahnya masih sangat muda!-Sebenarnya, Sakura, Sasuke masih 20an. Belum 30an. Jelas saja tidak terlihat tua.

"...23"

"-Onii-san!"

"Yamette." Sasuke mencoba menghentikkan Sakura yang hampir membuatnya merasa tua, "Cukup panggil Sasuke." Sasuke menolak dipanggil Onii-san. Terlebih dipanggil oleh Sakura seperti itu.

Sakura menggerakkan tangannya menyilang, "Tapi kita bahkan berbeda 7 tahun, Sasuke. Tidak apa-apa, nih?"

Sasuke mengangguk, "Ya."

Keduanya kembali berjalan beriringan. Jalanan tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Salju bahkan mulai menumpuki jalan.

"Ah! Itu rumahku. Dekat, bukan?" Sakura menunjuk rumah bertingkat dua yang sederhana. Terdapat taman kecil yang berada di perkarangan depan, "Mau mampir?"

Sasuke menggelengkan kepalanya, "Tidak. Mungkin lain kali."

"Baiklah kalau begitu." balas Sakura. Sasuke memberikan belanjaan milik Sakura.

"Sampai jumpa." Sasuke berucap pelan namun cukup untuk Sakura dengar.

Mengangguk, Sakura berucap, "Terimakasih," Sakura teringat sesuatu, "Ah. Tunggu, Sasuke."

Sasuke yang hampir beranjak dari rumah Sakura sontak menengok. Mengangkat salah satu alisnya.

Sakura menyerahkan permen coklat berganggang, "Kopinya pasti pahit. Ini. Biar menawar rasa pahitnya." Senyum bertengger manis di belah bibir Cherry.

Manik hitam milik Sasuke melihat permen coklat itu, "Thanks."

Sakura mengangguk.

Sasuke beranjak dari depan rumah Sakura dan berjalan pulang.


Itachi memandang adiknya yang baru saja pulang dari membeli sekaleng kopi. Bukankah minimarket dekat dengan rumah sewaan mereka? Mengapa Sasuke tadi sepertinya lama? Hm...

Sasuke kembali ke posisi awalnya. Duduk dengan memangku laptopnya, ya. Seperti itu seharusnya. Namun, di mata Itachi sekarang, Sasuke semakin aneh setelah pulang dari minimarket. Di tangan putih Sasuke membawa sebuah permen coklat. Tunggu, sejak kapan adiknya itu menyukai permen? Itachi membatin.

Izumi yang berada di belakang Itachi sedikit merasa aneh juga dengan suaminya yang dari tadi menontoni adiknya.

"Ada apa sih?" Izumi bertanya. Setelah berhasil menidur siangkan Hitatsu, Izumi berencana membuat makan siang. Melihat suaminya yang sedari tadi menamati Sasuke tidak berhenti-henti membuat Izumi bertanya, kenapa sih?

"Tidak kah kau merasa ada yang aneh dengan Sasuke?" tanya Itachi. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Maniknya yang sama persis dengan Sasuke memincing.

Izumi menaikkan salah satu alisnya tidak paham, "Hah? Apa yang aneh?" Izumi kembali bertanya karena merasa tidak ada yang aneh dengan Sasuke. Paling-paling yang aneh hanyalah Sasuke yang menjadi pendiam--Sasuke selalu menjadi pendiam sebenernya, tapi memang sekarang ini semakin menjadi pendiam dan sedikit suka melamun. Ya, seperti itu.

Itachi sontak menatap istrinya, "Lihat tangannya. Ada permen, Izumi!" ucap Itachi sedikit melebih-lebihkan.

Izumi menatap tangan Sasuke, "Err--"

"See. It's weird, right?"

"Sejak kapan Sasuke suka permen, Itachi-kun?" Izumi kembali lagi bertanya. Kali ini rasa ragu lebih kental.

Itachi menggelengkan kepalanya tidak tau. "Bukankah dari kemarin dia pulang, dia sudah aneh seperti itu?"

Izumi mengangguk setuju. "Ya, sejak kembali bersama Naruto. Apa ada sesuatu di kebunnya?"

"Tidak tau. Tapi sepertinya, iya."

Ting!

Suara dering ponsel milik Sasuke yang bertengger manis di meja membuat Sasuke tersadar dari lamunannya. Itachi dan Izumi pun sontak melihat Sasuke.

"Shitt."

Walau Sasuke mengucapkan kata kotor berbahasa Inggris itu dengan lirih, Itachi dan Izumi masih tau apa yang Sasuke ucapkan.

Aneh. Sangat aneh! begitu pikir sepasang suami-istri Uchiha itu.

Sasuke memandang ponselnya sebal. Cukup menyebalkan karena pengirimannya adalah teman barunya di desa ini. Isi pesannya pun sangat mengherankan hati Sasuke.

Dobe

Hoi, Teme! Ku dengar dari Sakura-chan tadi kalian bertemu dan berbelanja bersama!

Oww, Man. Kau benar-benar tertarik dengan teman masa kecilku itu?

Tunggu, apa kau tau umur Sakura-chan?

Menghela napas kasar, Sasuke mengetik kan balasan untuk Naruto.

Teme

Ya.

Dobe

Seriously? You just said, 'ya?' fck.

Terserah-terserah.

Kau tidak mau nomer Sakura, eh, Teme?

Sasuke tergoda. Ingin meminta, namun ego melarang. Tapi, bukankah dengan mendapatkan nomer Sakura, Sasuke bisa semakin gencar mendekatinya?

Ya. Ya.

Jalan keluar bersama lagi, tidak buruk bukan?

Astaga. Apa yang terjadi dengan dirinya? Berdebar tidak jelas dan merasa sayang hanya dengan sebuah permen coklat!

Itachi dan Izumi saling menyenggol, "Astaga. Sekarang Sasuke senyum-senyum tidak jelas seperti itu. Izumi, ada apa dengan adikku itu?" Itachi merasa khawatir dengan kondisi adiknya. Sedetik yang lalu gundah dan detik berikutnya senyum tidak jelas.

Hei. Apa kalian pernah melihat seorang Uchiha seperti itu? Maksudku, Uchiha Sasuke seperti itu? Yakinlah, Itachi yang sudah sedari Sasuke lahir, tidak pernah melihatnya yang seperti itu.

"... Apakah mungkin..."

"Hahaha. Tidak mungkinkan adik ku yang dingin itu jatuh cinta?"

"Mu--mungkin...?"

Itachi melongo.

"Aku pergi ke dapur dulu. Takut Okaa-sama dan Otou-sama pulang makanan belum siap." Izumi memilih pergi dibanding harus ikut berpusing ria. Toh, kalaupun Sasuke jatuh cinta, bukankah itu bagus?

Izumi mengambil beberapa bahan dari kulkas dan membatin, artinya sudah ada yang berhasil meluluhkan hati es milik uchiha lagi. Senyum kecil terpatri. Mengingat dibanding kan dengan Itachi, Sasuke lebih tertutup.

Kembali kepada Sasuke yang akhirnya menetapkan untuk menyingkirkan ego. Demi Sakura.

Dobe

Sure.

Teme

HAHAHA!

THIS 011-27X-XXXX

Dobe

Thx.

Teme

Anytime.

BTW, kalau ada perkembangan beri tahu ya!!!

Sasuke mendengus dan membantin; Tidak akan. Apa gunanya.

Tanpa membalas pesan dari Naruto, Sasuke memandang nomor ponsel milik Sakura dan segera menyimpanya.

Tidak ragu--sebenarnya ragu, tapi ragu lama-lama itu tidak ada gunanya bagi Sasuke. Jadi jemarinya mengetikkan sebuah pesan untuk Sakura.

Cherry

Hei. Ini Sasuke.

tbc.

.

OOC, right. But I don't care. Thx u for reading!

Crow on the wire Bucin is fun ; Thx u for reading!

Last, Happy New Year!!!