. Aku tahu aku membutuhkannya, namun masa laluku masih menyelimuti pikiranku. Aku kehilangan setiap orang yang aku sayangi, entah kenapa kehidupan begitu keras denganku. Ayahku, Ibuku, Teman terbaikku, Senseiku, kehidupan merenggut mereka dariku. Aku tak ingin itu terulang kembali, ya kisah kelam itu.
Aura Anbu membuatku semakin beringas, banyak nyawa yang mati di tanganku. Teman-teman sebayaku menganggapku mati secara perlahan. Tatapanku semakin dingin mengingat kehidupan yang tiada henti mencideraiku. Sampai pada akhirnya Sandaime memutuskan agar aku menjadi jounin pembimbing para genin. Pada awalnya aku tak ragu untuk tidak meluluskan murid yang tidak mengerti apa arti dari sebuah tim. Hingga akhirnya aku bertemu dengan mereka yang mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan, Tim 7, Naruto, Sakura dan Sasuke, perlahan aku mulai bangkit dari masa laluku dan melangkah di lembaran baru bersama mereka. Aku mulai mengenal Naruto anak dari Minato sensei yang dulu merupakan senseiku, dia adalah anak yang ceria, berisik seperti Obito teman se-timku dulu,hingga pada akhirnya Naruto membuktikan kekuatannya pada seluruh shinobi yang ada saat Perang Dunia Shinobi ke-4. Aku juga mulai mengenal Sasuke yang sifat dan sikapnya hampir sama denganku saat masih berada dibawah bimbingan Minato-sensei, Sasuke adalah adik dari Itachi yang merupakan rekan anbu ku dulu, Sasuke adalah anak yang dingin namun jenius, sama sepertiku, Namun dia tenggelam di dalam kegelapan, tapi aku bersyukur dia bisa kembali ke jalan yang benar. Aku juga mengenal Sakura, seorang kunoichi yang dulunya cengeng, tak bisa berbuat apa-apa, namun lambat laun dia mulai belajar dibawah bimbingan Godaime hokage, dan menjadi ninja medis yang hebat dan tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat
Ketika Perang Dunia Shinobi ke-4 berakhir, aku kembali kehilangan sesuatu yang sangat berharga untukku. Obito dan sharingan yang dulu dia berikan padaku
Kini, semuanya damai, tiada lagi perang, ataupun konflik yang lainnya. Sasuke, yang merupakan mantan muridku, dia memutuskan untuk berkelana.
Kini, aku duduk di kursi tertinggi desa Konohagakure, Kursi Hokage. Jujur saja aku merasa tidak pantas duduk diatas kursi itu. Hokage-hokage terdahulu jauh lebih hebat dariku, aku tidak yakin kalau aku bisa melampaui mereka. Kekuatan Shodaime hingga Godaime hampir seperti kekuatan dewa, sedangkan aku?. Aku tak punya kekuatan sehebat itu, aku hanya memiliki pemikiran saja. "Hokage terbaik adalah hokage yang bisa memimpin desa sebaik mungkin", itu yang aku dengar dari Godaime-sama. Namun tetap saja aku ragu. Apa aku bisa melakukannya?, sebaik hokage pendahuluku? Aku tak yakin bisa melakukannya.
Hampir setiap hari dokumen-dokumen yang merepotkan itu menumpuk di mejaku, aku selalu berusaha mengerjakannya sebaik mungkin, lebih tepatnya semampuku.
Aku senang, pria berkuncir nanas itu setia disampingku, dia selalu membantuku memilah-milah dokumen-dokumen yang sangat merepotkan bagiku
"Hokage-sama"
itu yang aku dengar setiap aku berpapasan dengan warga desa ataupun orang-orang terdekatku. Bahkan teman dan muridku memanggilku dengan gelar Sama. Apa aku pantas mendapat gelar seperti itu?
Seperti biasa, aku menyempatkan diri untuk membaca buku Icha-Icha favoritku. Seperti biasa aku membacanya di atas pohon sembari bersantai, aku tak peduli apa gelarku saat ini. Aku juga tak ingin semua orang terlalu formal terhadapku. Aku tak terbiasa dengan itu.
Tak jarang Shikamaru mencariku. Shikamaru tak tahu tempat apa yang paling aku sukai. Shikamaru selalu berpikir bahwa aku di pemakaman ayahku. Ia selalu mencariku ke sana, bahkan aku melihatnya ketika dia melintas di bawah pohon yang aku singgahi. Namun tak jarang juga dia menemukanku.
"Sensei" panggil Shikamaru
Aku hanya berdehem kepadanya, seakan-akan aku sudah tahu apa yang akan dia bicarakan
"dokumen kan?" tanyaku
"bagaimana anda tau?" Shikamaru kembali bertanya
"ketika kau mencariku, sudah pasti kau memintaku mengurusi dokumen itu. Mana mungkin kau mencariku untuk bermain shogi denganmu" Jawabku
"itu bisa saja sensei"
Pria berambut kuncir nanas itu kembali menjawab perkataanku
Tanpa basa-basi aku langsung turun dari pohon dan mengikuti Shikamaru menuju kantor hokage, meskipun aku masih malas mengurusi dokumen-dokumen itu.
Diperjalanan ada seorang anak memanggilku, anak itu adalah murid kesayangan Naruto, siapa lagi kalau bukan Sarutobi Konohamaru
"Hokage-sama" panggilnya
Aku membalikkan badanku dan menyamakan tinggiku dengannya
"Ya Konohamaru?" tanyaku
"Aku hanya menyapa anda" jawabnya polos
Aku hanya berdehem kepada Konohamaru
Aku bangkit dari posisiku dan kembali melangkahkan kaki menuju kantor hokage. Aku tak ingin menyita waktu. Konohamaru hanya menatapku dengan tatapan lesu
Apa ada yang berubah dari sikapku?
itulah yang aku pikirkan sekarang. Lebih baik aku bercerita ke orang-orang terdekatku. Karena mereka yang mengerti aku saat ini. Tapi tunggu. Kepada siapa aku harus bercerita? Naruto? Sakura? atau Shikamaru?. Atau lebih baik aku memendamnya sendiri?, ah tidak aku terlalu banyak memendam masalah sendirian
Bahkan Naruto sering berkata padaku, bahwa memendam masalah sendiri itu tidak baik, apa salahnya bercerita? itu akan membuat dirimu merasa lebih lega
Seiring berjalannya waktu satu persatu temanku, muridku memiliki pasangannya masing-masing
Kecuali Guy dan Tenzo, Guy selalu menikmati masa muda, ya itulah yang dia katakan padaku. Tak jarang dia mengajakku berlibur, namun aku selalu saja menolaknya. "Ayolah..apa salahnya berlibur?" batinku
Aku tak tau harus bagaimana, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, aku tak tau harus mengatakannya kepada siapa?, "seorang wanita" itulah yang ada di pikiranku saat ini. Aku hanya berpikir apakah ada wanita yang mau menjadi pasanganku? siapa? Aku berpikir tidak ada wanita yang mau denganku. Aku tak setampan Minato-sensei, Aku tak sekeren Asuma, bahkan aku selalu berpikir bahwa aku kalah tampan dengan mantan muridku, ya siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke. Banyak sekali wanita yang kagum dengan kehebatannya, termasuk Sakura dan Ino
Namun berbeda dengan Ino yang dulu, saat ini Ino menaruh hatinya kepada Sai, ya Sai adalah mantan anbu sepertiku. Wajahnya datar memancarkan aura anbu di matanya. Sedangkan Sakura?, dia tetap saja menaruh hatinya kepada . Sasuke, Sasuke, dan Sasuke. Seakan nama Sasuke abadi didalam hati Sakura. Sepertinya Sakura tak akan pernah menghapus nama Uchiha Sasuke dari dalam hatinya, aku pikir Sakura hanya membuka hatinya untuk pria Uchiha itu, meskipun teman-temannya sudah membangun rumah tangga.
Aku pernah ingin bertanya kepada Sakura, apa arti cinta sesungguhnya, apa arti cinta tanpa sebuah kesetiaan?
Itulah yang ingin aku tanyakan kepadanya. Kenapa Sakura sangat menunggu cinta dari Sasuke yang bahkan tak punya kepastian untuknya
Aku ingin menanyakan semua hal yang berkaitan dengan kata cinta kepada Sakura. Namun aku canggung, "kenapa aku harus canggung?" Pikirku sekali lagi.
Ah ya aku sangat canggung, aku sangat jarang hampir tidak pernah mengurusi apapun yang berkaitan dengan kata cinta. Aku membenci cinta aku tak tahu apa-apa tentang kata dengan 5 huruf itu
"Rin" nama itu sangat bergema di hatiku, aku sangat menyesalinya, aku masih terjebak di sana. Ketika aku diminta Obito untuk menjaganya, aku malah membunuhnya?ya aku tidak sengaja. Peristiwa itu sangat menyayat hatiku.
Terkadang aku berkhayal, andaikan Kaasan ku masih hidup, akan kutanyakan kepadanya mengenai cinta. Apa itu cinta? Kaasan?
Aku bahkan tak tahu seperti apa wajah Kaasanku, aku ingin menemuinya walau hanya dalam mimpi.
"Kaasan, Kaasan, Kaasan" itu yang terus aku pikirkan. Aku berpuluh kali menyebut namanya di hatiku.
Aku merindukannya, aku ingin dipeluknya, diciumnya. Sejak aku lahir sampai sekarang aku belum pernah merasakan bagaimana berada dipelukan seorang ibu.
Namun kehidupan masih membutuhkanku.
Kenapa begitu lama waktu yang aku habiskan di dunia. Aku hanya ingin bertemu dengan Tousan dan Kaasan di alam sana. Kenapa begitu sulit?
"Kenapa Nagato menggunakan rinne tensei kepadaku?kenapa dia tak membiarkanku mati?padahal aku selalu ingin tiada sejak dulu" batinku
Aku merebahkan tubuhku ke kasurku.
Aku membolak-balikkan tubuhku, pikiranku gelisah.
"Hanya karena wanita, pikiranku gelisah?" Gumamku
"Tapi ya...apa salahnya membuka hati untuk seorang wanita?", "Tidak masalahnya bukan itu, masalahnya adalah siapa yang mau menikah denganku?dengan pria yang tak romantis dan tak mengerti tentang make up?" Batinku sembari memeluk gulingku
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari Sakura. Aku bangkit dari tidurku dan mengambil rompi Jouninku.
Canggung,gelisah, malu, itulah yang aku rasakan saat ini. Apa yang Sakura pikirkan ketika aku bertanya kepadanya apa itu cinta?
Aku mulai menyusun kalimat dihatiku. Apa yang akan aku katakan kepada Sakura. Apa yang akan aku ucapkan kepadanya.
Satu-satunya kalimat yang ada di hatiku saat ini adalah.
Aku tak mau Sakura mengingat Sasuke. Aku tak mau dia menangis hanya karena mengingat pria tanpa kepastian itu.
Seperti biasa aku berjalan mencari Sakura sembari membaca buku Icha-Icha favoritku
Sampai...
Brakkk...
Seseorang berambut pink menabrak ku, dan membuat buku Icha-icha ku jatuh ke tanah, namun aku familiar dengannya.
Aku spontan langsung mengambil buku Icha-icha ku yang terjatuh di tanah. Tapi entah kenapa wanita berambut pink itu juga ikut mengambilkan buku ku yang terjatuh.
Tangan kami saling bersentuhan. Wanita itu menatap mataku. Begitupun juga denganku, aku menatap emeraldnya
"Sakura" gumam ku
"Sensei"
Wanita berambut pink itu menjawab perkataan ku
Wanita itu langsung berdiri setelah mengetahui bahwa itu adalah aku.
"Kenapa sensei disini?" Sakura bertanya kepadaku
"Aku ada perlu..." Jawabku
Aku belum melanjutkan perkataanku, namun sepertinya Sakura terburu-buru entah mau kemana
Perlahan aku mengulangi perkataan ku sebelum dia menjauh dariku
"Sakura, aku ada perlu denganmu" ujarku
"Apa sensei?" Tanyanya dengan wajah tergesa-gesa
"Sebaiknya kita bicara di taman desa" jawabku
"Baiklah" jawab Sakura
Aku dan Sakura menuju ke taman desa.
Saat diperjalanan tiada satu kata pun yang keluar dari mulut kami. Hening sekali.
Aku ingin membuka mulutku, mengeluarkan kata-kata, namun entah kenapa mulutku terasa kaku untuk dibuka
Sakura adalah muridku, lalu kenapa aku canggung kepadanya?
Sesampainya di taman. Kami duduk bersebelahan di bangku dekat air mancur.
Tiada satupun kata yang keluar dari mulut kami. Padahal aku bilang kepada Sakura bahwa aku akan memulai pembicaraan di taman.
"Sakura..."
Aku mencoba memulai pembicaraan
"Ya?" Jawab Sakura
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu" ucapku menyusun kalimat
"Apa?" Sakura bertanya kepadaku dengan tatapan penasaran
"Maaf jika aku mengingatkanmu kepada orang yang kau cintai", aku melanjutkan
"Sakura hanya berdehem kepadaku"
"Bisakah kau jelaskan kepadaku, apa itu cinta?" Tanyaku tanpa basa-basi
"(Sakura berdehem), cinta itu sebuah perasaan saling suka" jawab Sakura singkat
"Apa hanya itu?" Tanyaku sekali lagi
"Cinta itu sebuah perasaan suka yang biasanya disertai pengorbanan dan cinta butuh kepastian" jawab Sakura dari lubuk hatinya
"Kenapa sensei bertanya seperti itu?"
Sakura bertanya kepadaku.
Aku benar-benar tak bisa menjawab pertanyaan itu.
Aku mengunci mulutku dan menatap ke atas langit. Tatapanku mulai kosong.
Aku bingung harus menjawab apa, haruskah aku ceritakan semuanya kepada Sakura?, Itu hal yang langka. Aku hampir tak sekalipun menceritakan masalahku kepada orang lain. Orang lain? Tidak Sakura bukan orang lain, dia muridku.
Sejenak, Sakura menatapku dengan kedua bola mata emeraldnya. Tatapannya menuntut jawaban dariku. Ya dia menuntut ku untuk menjawab kenapa aku menanyakan tentang cinta.
Bukankah Kakashi-sensei yang selama ini dia kenal adalah orang yang dingin,tidak peka dan tidak peduli terhadap kata cinta?
Ini hal yang langka. Baru kali ini aku menanyakan apa itu cinta. Apalagi aku menanyakannya kepada Sakura.
Aku ingin memberikan jawabanku, tapi aku ragu.
Aku menatap emerald milik Sakura
"Aku hanya ingin tau apa itu cinta" jawabku singkat. Aku benar-benar tak punya kata-kata sekarang.
"Sakura beranjak dari duduknya"
"Maaf Sensei, aku harus pergi" ujarnya
Aku hanya menatap emerald gadis bersurai pink itu
"Terimakasih Sakura" jawabku singkat
Sakura mulai berjalan menjauh dariku, aku menatap langit yang biru, pikiranku gelisah, aku bingung kenapa begitu sulit bagi hatiku untuk membukakan hati untuk seorang wanita
Hatake Kakashi bukalah hatimu untuk seorang wanita.
Kata" itu terus menggema di hatiku
Sebuah pertanyaan terlintas di benakku
"Dapatkah aku melakukannya?"
TBC
A/N : next or stop? Support ya!?!
Happy Reading
