"Shisou punya misi untukku?" tanya Sakura sembari melihat Shizune
"Ya" jawab Shizune singkat
Sakura mengernyit, "Memangnya dimana Shisou sekarang?".
Shizune menjawab, "Ruangan di-sebelah ruang Hokage".
Sakura mengangguk, "Baiklah, aku akan segera menemuinya".
Sakura segera beranjak pergi untuk menemui Tsunade. Mata emerald Sakura menampakkan rasa penasaran. Karena selama ini Tsunade jarang sekali memberikan Sakura misi setelah Perang dunia Shinobi keempat berakhir.
"Shisou" lirih Sakura
"Ya, masuklah Sakura" jawab Tsunade dari dalam
"Shisou ada misi apa untukku?" Tanya Sakura to the point
"Aku ada misi untukmu, aku ingin kau menghangatkan hati dingin Kakashi" jawab Tsunade
Sakura mengernyitkan dahi, "Apa?,itu tidak mungkin, Shisou".
"Kau pasti bisa Sakura, ya itu misimu" jawab Tsunade
"Sekarang pergilah ke kantor hokage Kakashi" lanjut Tsunade
Sakura memasang wajah lesu, "Baiklah"
Bagaimana bisa Sakura harus menghangatkan hati-ku yang dingin itu?, Rasanya tidak mungkin sekali. Ya aku dan Sakura memang dekat sebagai Seito dan Sensei
"Sensei" lirih Sakura sambil mengetuk pintu ruangan-ku
"Ya, masuklah" jawab-ku
Sakura masuk perlahan. Ia berdiri membeku di hadapan-ku. Tak tau harus berbicara apa
"Sensei, tidak makan sii.. siang?" tanya Sakura canggung
Aku menyunggingkan senyum tipis, "Terimakasih, tapi aku belum lapar"
Senyum-ku serasa menghilangkan aura dingin dari-ku. Namun seperti biasa, Aku hanya tersenyum sejenak, lalu tatapan-ku kembali datar
Sakura mengangguk pelan, "Baiklah".
Aku menautkan alis, "Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku?"
Sakura mencoba menjawab, "Sebenarnya aku...,aku...,aku ingin mengajak Sensei makan siang, tapi Sensei bilang belum lapar".
"Hn"
Aku menaruh bolpoin di tangan-ku, lalu beranjak dari kursi.
"Kenapa Sensei berdiri?", tanya Sakura
"Kau bilang kau mengajakku makan siang" jawab-ku
Sakura terbelalak tidak percaya, biasanya aku jarang sekali mudah di-ajak, namun entah kenapa hari ini aku ingin mengikuti Sakura
"Ayo", ujar-ku
Sakura mengangguk
Aku dan Sakura berjalan seiringan. Namun tak ada satu-pun dari kami yang berbicara guna memecah keheningan di antara kami
Sakura masih bingung dengan maksud Tsunade, kenapa harus dia yang mendapat tugas meluluhkan hati-ku?
Sementara aku masih sama seperti biasanya. Dengan kedua tangannya berada di saku
"Sakura"
"Ya"
"Kita akan makan siang dimana?"
"Bagaimana kalau kita makan di kedai Ichiraku?"
Aku mengangguk, "Ichiraku ya?"
"Kenapa?Apa Sensei tidak suka?" tanya Sakura
Aku menggeleng, "Ah tidak" jawab-ku singkat
Sesampainya di kedai Ichiraku. Aku dan Sakura duduk bersebelahan.
"Tumben sekali Hokage-sama, Anda kesini bersama Sakura" ujar Teuchi
"Jangan terlalu formal padaku" jawab-ku
"Biasanya anda datang kesini sendirian kan Kakashi-san" tanya Teuchi
Aku menjawab dengan datar, "Ya"
"Aku pesan ramen 1 ya Teuchi ji-san" ujar Sakura
"Lalu, Kakashi-sama?" Tanya Ayame
"Samakan saja dengan Sakura" jawab-ku
Sakura menatap-ku bingung, tak biasanya aku seperti ini.
"Apa karena aku muridnya?" batin Sakura
Keheningan pun tercipta diantara mereka. Aku sibuk dengan buku Icha icha ku
"Sensei"
Suara Sakura memecah keheningan
"Hem?"
"Maaf sensei"
Kata kata Sakura membuat-ku penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Sakura
"Ya?"
"Apa sejak dulu sensei dingin?maksudku..."
"Ya.." jawab-ku memotong perkataan Sakura
"Kenapa?, Maksudku, apa sejak kecil Sensei memang dingin atau ada peristiwa yang membuat Sensei seperti ini?" tanya Sakura berusaha membuat-ku terbuka
"Peristiwa"
"Apa itu?"
"Aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi, kehidupan merenggut mereka dariku".
"Jadi selama ini, peristiwa itu yang membuat sensei terpuruk dan menjadi dingin?" Sakura memastikan
"Ya mungkin seperti itu"
Aku melanjutkan, "Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan kalian, dan itu membuatku sedikit lebih baik".
Sakura tersenyum kecil, Sakura tak menyangka betapa berharganya tim 7 bagi-ku
Aku menatap Sakura sayu, "Andai kau tahu, aku selalu ingin mati sejak dulu".
Sakura membulatkan mata-nya
"Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan kehidupan yang terus-menerus menciderai ku".
Sakura benar-benar terdiam seribu bahasa ketika mendengar perkataan-ku, ia tak tahu harus merespon seperti apa
Ah ya, dia teringat akan misinya
"Lalu Sensei, kenapa Sensei tidak berubah menjadi sosok yang hangat?"
Aku mengusap tengkuk-ku, "Menurutku aku sudah cukup hangat"
"Kau dan Sasuke-kun memiliki banyak persamaan di sifat dan sikap".
Aku mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Sensei" .
"Kau dan Sasuke memiliki banyak persamaan, sama-sama pernah tersesat di kegelapan, bukannya kau dulu mantan Anbu, Sensei?" Sakura melanjutkan
"Ya", aku menjawab singkat
"Ini ramennya Kakashi-san, Sakura-san" ujar Teuchi sembari menyerahkan dua mangkuk ramen di meja
Sakura mengamati-ku yang sedari tadi memainkan sumpit di tangan dengan wajah lesu, ya itu tampak dari mata-ku
"Kenapa Sensei?, Apa perkataan ku ada yang menyakiti Sensei?" Tanya Sakura memandang-ku cemas
Aku tersenyum simpul, "Tidak"
"Jangan berbohong, aku benar-benar minta maaf jika perkataan-ku mengingatkan Sensei akan masa lalu Sensei" ujar Sakura
Aku memperlebar senyuman, "Tidak, Sakura".
"Lalu kenapa Sensei tampak lesu?",tanya Sakura
"Hmm"
"Mm...baiklah jika Sensei tidak mau memberitahu-ku".
Sakura mengalihkan perhatiannya dari-ku dan mulai menikmati ramen-nya
"Silakan di-makan Sensei" ujar Sakura sambil memegang sumpit-nya
"Aku sudah selesai"
Sakura terbelalak dan langsung mengalihkan pandangannya kepada-ku
"Yang benar saja, kapan dia memakannya" batin Sakura
"Sakura aku boleh pergi dulu kan?" tanya-ku datar
"Ya Sensei" jawab Sakura
Aku beranjak dari tempat-ku dan berjalan menjauh dari kedai Ichiraku
"Sakura-san" panggil Ayame
"Ya?", tanya Sakura
"Kakashi-san memang cepat sekali menghabiskan ramen-nya" jawab Ayame
"Bukan itu maksudku" jawab Sakura
"Lalu?",tanya Ayame
"Aku menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat wajah-nya" jawab Sakura
"Ah wajah Kakashi-san ya?" tanya Ayame memastikan
"Ya, aku sangat penasaran seperti apa rupanya" jawab Sakura
Ayame memasang wajah kagum, "Percayalah padaku Sakura-san, Kakashi-sama sangat tampan".
"Benarkah?" Sakura memastikan
Ayame mengangguk, "Aku pernah melihatnya walaupun hanya sekejap".
"Bagaimana rupanya?".
Namun tiba-tiba suara yang familiar itu memotong pembicaraan Ayame dan Sakura
"Konnichiwa" seru Naruto sembari duduk
"Naruto?" Gumam Sakura
"Ah Sakura-chan, tumben sekali kau disini?".
"Aku tadi ada pembicaraan dengan Kakashi-sensei, tapi Kakashi-sensei sudah pergi" jawab Sakura
"Sensei?, Sakura-chan apa kau pendekatan dengan Sensei?",tanya Naruto terbelalak
"Tentu saja tidak, baka!" Jawab Sakura
"Kau memesan apa Naruto-kun?" Tanya Ayame
Naruto mengangkat telunjuk-nya, "Seperti biasa ya"
Ayame mengangguk, "Baiklah".
Naruto menggaruk kepala-nya yang tak gatal, "Ngomong-ngomong kau dengan Sensei ada pembicaraan apa?".
"Aku mendapat misi rahasia dari Tsunade-sama".
Naruto memasang wajah penasaran, "Misi rahasia?,misi apa itu?".
"Tsunade-sama bilang aku harus meluluhkan hati Kakashi-sensei".
"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya Sakura-chan".
"Ini ramennya" ujar Ayame
"Arigato, Ayame-san"
Sakura memasang wajah gelisah, "Aku juga tidak yakin, kau tahu sendiri kan Kakashi-sensei seperti apa?"
"Ya" jawab Naruto singkat sambil melahap ramennya perlahan-lahan
"Coba saja Sakura-chan".
"Bagaimana caranya dobe?" tanya Sakura
"Bagaimana ya, jika kita melakukannya secara langsung pasti terkesan tidak sopan, karena Kakashi-sensei itu kan Sensei kita" jawab Naruto
Sakura mengepalkan tangan-nya, "Sebenarnya kau punya saran tidak hah?"
Naruto menjawab dengan tenang, "Coba kau bicarakan perlahan-lahan dengan Sensei"
"Aku sudah membicarakannya, dia tidak mengatakannya, dia hanya membahas separuh dari masa lalunya".
"Jujur saja, membuat Sensei terbuka itu sulit, bahkan lebih sulit dari saat kita membuat Sasuke terbuka" jawab Naruto
"Bahkan tadi Sensei hanya membalas dengan senyum simpul dengan wajah datar" ujar Sakura
"Memangnya ada tujuan apa Tsunade Baa-chan ingin kau yang meluluhkan hati Kakashi-sensei?" Gumam Naruto
Sakura melipat tangan di depan dada-nya "Entahlah, akan aku tanyakan jika aku sudah berhasil membuka hati Sensei"
Sakura mengernyit, "Memangnya kenapa Sensei tidak mau terbuka dengan kita?,kita kan muridnya".
Naruto mendongak, menatap langit atap Ichiraku, "Masa lalu Sensei adalah hal tabu yang berat untuk di-ceritakan".
Sakura menatap Naruto horor
Naruto mengangkat telunjuk-nya, "Teuchi ji-san apa aku boleh tambah lagi?"
"Selama kau punya uang kau boleh tambah sesuka hatimu" jawab Teuchi
"Apa maksudmu hal yang tabu?, Sensei hanya kehilangan orang-orang yang dia sayangi kan?" tanya Sakura
Naruto memulai, "Hatake Sakumo, ayah Kakashi-sensei dia bunuh diri didepan Kakashi-sensei saat sensei masih berusia 5 tahun. Uchiha Obito musuh perang dunia Shinobi keempat, dia adalah orang yang menyadarkan sensei bahwa teman lebih penting dari aturan, dia yang memberikan sensei, Sharingan. Nohara Rin dia adalah kunoichi yang mengagumi sensei, namun sayang sekali dia harus terbunuh di tangan sensei secara tidak sengaja. Selanjutnya ayahku memasukkan Kakashi-sensei ke organisasi Anbu,ayahku bermaksud agar sensei menjadi lebih baik, namun itu tidak sesuai harapan. Lalu, insiden Kyuubi saat kelahiran ku, disitulah Kakashi-sensei kembali kehilangan, sensei kehilangan ayahku yang merupakan senseinya. Sampai akhirnya Hiruzen jii-san memutuskan supaya Kakashi-sensei menjadi pembimbing Genin, supaya sensei bisa terlepas dari masa lalunya yang kelam".
Sakura menautkan alis, "Bagaimana kau bisa mengetahui semua itu?".
"Kakashi-sensei yang menceritakan itu kepada kami saat melawan Obito ttebayo..".
"Itu pasti hal yang berat ya?".
Naruto mengangguk, "Tentu"
"Teuchi ji-san, mana ramen-ku".
"Masih aku buatkan" jawab Teuchi
"Naruto, bisakah kau membantuku dalam misi ini?" tanya Sakura
"Eh?"
Naruto mengusap tengkuk-nya, "Kenapa aku?".
"Hanya kita yang bisa".
"Mm..baiklah aku akan mencobanya, kebetulan setelah ini aku akan ke kantor Hokage".
Sakura menggeleng cepat, "Jangan di Kantor Hokage"
Naruto mengangkat satu alis-nya, "Kenapa ttebayo?"
"Ada Shikamaru-kun dan Shizune-senpai di-sana".
Naruto memegang dagu-nya, "Lalu dimana kita bisa berbicara enam mata dengan Sensei?"
"Di taman Desa Konoha" jawab Sakura
"Benar juga ttebayo"
"Apa menurutmu Kakashi-sensei mau?".
Naruto menggeleng, "Aku tidak tahu ttebayo".
"Menyebalkan teme!" Sakura kesal
"Teuchi ji-san mana ramen ku..., aku lapar ttebayo".
"Ini-ini, aku rasa perut-mu itu perut ramen ya" ujar Teuchi sambil menaruh semangkuk ramen pesanan Naruto
"Sebaiknya kau saja yang mengajak Sensei" ujar Sakura
"Aku agak canggung" Sakura melanjutkan
"Kenapa ttebayo?".
"Tadi aku sempat berjalan bersama Sensei, hening sekali, Sensei hanya diam" jawab Sakura
"Kau kan anak-nya berisik, jadi siapa tahu Sensei mau membuka mulut-nya yang kaku itu".
Naruto mengerucutkan bibir-nya, "Iya-iya".
"Kenapa harus aku" lirih Naruto
Sakura menggeram, "Jadi kau tidak mau dobe?".
"Ahhh...gomen...gom.. gomennasai Sakura-chan".
~ to be Continued~
