Death Note belong to Tsugumi Ohba & Takeshi Obata


Do not go gentle into that good night,

Old age should burn and rage at close of day;

Rage, rage against the dying of the light.

-Dylan Thomas


Dia tersenyum.

Setelah aku terjatuh dari kursi, dia menangkapku. Dan kemudian dia tersenyum.

Ah.. apa kubilang, aku benar, kan?

Tapi..

~Elegy~

Pengalaman di ambang maut sering kali di gambarkan dengan rentetan kejadian di dalam hidupmu yang berkelebat sangat cepat di depan matamu sendiri. Dan aku akhirnya bisa membenarkan hal tersebut.

Tapi sayang aku tidak bisa mengatakannya kepada siapa pun.

Kejadian-kejadian itu berkelebat sangat cepat, tapi ada kejadian tertentu yang muncul dengan sangat jelas seperti kalimat yang dicetak tebal dan digaris bawahi.

Tentu saja kejadian itu yang memutuskan untuk muncul di saat istimewa seperti ini.

Aku hampir saja melupakannya.

Tapi aku tahu bahwa itu mustahil, karena dia sudah berjanji untuk mengingatkanku kalau waktunya sudah datang.

.

.

21 Desember, 10 Tahun yang lalu, Winchester, England.

Melalui lorong sekolah di jam makan siang selalu membuat semua orang tergesa-gesa. Terutama di ambang libur akhir tahun. Aku menahan keinginan untuk berlari, berjejal-jejalan sambil berharap segera sampai di loker di ujung lorong.

Loraine muncul tepat sebelum aku membuka loker.

"Hei, Einstein jangkung!"

"Hei," kataku agak kaku.

"Liburan kemana?"

"Belum tahu. Yang pasti aku ga bakalan balik lagi ke sini.."

Loraine menatapku, mencari-cari tanda jahil di mukaku.

"Ga bohong. Aku ga direkomendasiin lagi sekolah disini. Bakal Home Schooling.."

"Ya ampun, ngebosenin banget.."

Aku angkat bahu.

"Kenapa?"

Ada ekspresi kecemasan di muka Loraine, dia gagal menyembunyikannya sambil pura-pura mengaduk-aduk lokernya di sampingku.

"Hasil tes ku sudah keluar. Rupanya mereka berhasil menebak kalau aku sengaja mengakalinya. Dan kata mereka aku udah ga cocok lagi disini.."

"Maksudnya kamu terlalu bodoh?" Loraine terkekeh, tapi masih belum bisa menyembunyikan muka kecewanya.

"Yah.. aku ga bisa bilang apa-apa lagi.."

Loraine menepukku, "makanya, jadi orang jangan terlalu pandai.. ah.. malas deh, kalau kamu ga ada lagi disini, aku juga ga mau lagi sekolah.."

"Rugi sendiri kalau kamu berhenti.."

"Iya aku tahu.. aku kan cuma bercanda.."

Aku menatapnya. Dengan sengaja.

"Jangan bohong, kamu ga jago.. malah jadinya bikin kesal.."

Loraine cemberut, "salah siapa.. kamu tahu kan aku ga betah di rumah.. cuma di sekolah aja aku bisa jadi diriku.. tapi sekarang—"

Aku merasa bersalah. Memberanikan diri dengan menepuk pundaknya, aku berkata, "jangan kuatir, aku bakal mengunjungimu berkala nanti.."

Loraine tersenyum, "aku tahu.. kamu ga perlu bohong gitu biar aku senang.."

"Aku ga bohong.. kamu tuh yang ga jago bohong.."

Loraine terdiam. Tiba-tiba mukanya murung.

"Hei.. maaf, aku memang ga jago ngomong.. kalo ada yang salah.."

"Aku bakal—"

Sekarang aku benar-benar memusatkan perhatian padanya.

"Kenapa? Kamu bisa bilang padaku.. eh kecuali kalau kamu ga mau sih.."

Loraine menatapku, matanya yang biru menderita.

"Kalo bisa.. kamu harus mengunjungiku tiap hari.. waktu liburan.. kompensasi karena kurang ajar sudah meninggalkanku—" katanya sambil kemudian mengaduk-aduk lokernya lagi.

Aku bergumam

Loraine menoleh, "apa katamu?"

"Musti buru-buru pulang.. ada tugas.."

"Haa," katanya dengan nada bosan dan kesal, "ga enak ya tinggal di rumah Profesor X.."

"Tempat itu yang memberiku makan—"

"Terserah, pokoknya kamu musti datang ke rumahku tiap hari!"

Loraine sudah pergi dari situ, berlari kikuk menembus kerumunan yang makin padat. Aku masih bisa melihatnya menoleh ke belakang. Matanya basah, aku tidak mungkin salah.

Tidak ada murid lain yang sepertinya mau repot-repot berteman denganku. Selalu seperti itu sejak dulu, tapi anehnya aku tidak merasa terganggu. Sampai Loraine masuk ke orbitku dan kemudian tiba-tiba aku mempunyai orang lain selain diriku yang musti kuperhatikan.

Setahun yang lalu kami bertemu secara tidak sengaja persis di tempat ini. Loker kami yang bersebelahan tidak disangka menjadi pintu mistis yang bakal membawaku ke masa depan yang sudah digariskan.

Kutatap loker itu, kemudian bergumam sambil mengunci loker.

.

"Halo!"

Pria paruh baya itu muncul dari balik pintu, seketika tersenyum. Padahal tadi rasanya mukanya ditekuk marah.

"Hai, aku teman Loraine—"

"Ooh.. Aku tidak tahu Loraine punya teman.."

"Tentu saja dia—"

"Siapa namamu?"

"Ryuzaki," jawabku.

"Oh? Orang Asia? Jauh sekali dari tempat asalmu ya nak.."

"Apakah Loraine ada—"

"Loraine! Ada temanmu disini.. kau tidak bilang kalau kita bakal pergi ke luar kota sayang?"

Loraine muncul dari keremangan di dalam. Agak berlari, terengah-engah, mukanya penuh peluh dan seketika ia tersenyum senang melihatku-sepertinya dia lega melihatku.

"Hai.."

Aku terkejut melihatnya kewalahan.

"Kau baik-baik saja?"

"Ayo naik—" Ia meraih lenganku dan langsung berlari ke atas.

"Akan kubawakan minuman, ingat ya sayang, jam 3 kau harus sudah siap-siap.."

Suara pria itu tidak terdengar lagi setelah Loraine menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

"Ryuzaki?" ejeknya. Mukanya merah, seperti menahan marah.

Aku angkat bahu.

Loraine tersenyum kecil jahil, "semua orang tahu namamu bukan Ryuzaki.. lagi main jadi agen rahasia ya.."

"Lihat kan, aku beneran datang," kataku asal lalu.

Berharap melihat mukanya memerah dan malu, aku dihadiahi tangisan tersedu yang tersendat pelan. Emosi yang sedari tadi ditahan, tumpah semuanya.

Loraine merangkulku dan menangis sunyi di atas bahuku.

Rasanya seperti bertahun-tahun sebelum akhirnya Loraine berhenti menangis.

"Apa yang menghentikanmu untuk pergi dari sini?" tanyaku.

"Kau tahu kan, ada adikku.. kecuali jika aku bisa bekerja dan punya atap sendiri.."

"Kau bisa pindah ke tempatku.."

"Tidak semudah itu.. kau tahu itu tidak mungkin.. dia ayahku dan—"

"Dia bukan ayahmu.. kau tidak berhutang apapun padanya.. dia selalu memukulmu, kau bisa bersaksi dan bebas darinya.."

Loraine tidak menjawab.

"Apa lagi yang dia—"

Wajahku seketika mengeras. Seluruh kekejaman yang ada di dunia menganiaya pikiranku, membuat jemariku terkepal; tidak kuasa menahan keinginan untuk melampiaskan semua pikiran gelap itu.

"Aku—aku takut—aku—"

"Berapa kali dia melakukannya?"

"Tolong! Aku sudah tidak tahan.. aku merasa tidak layak mendapatkan hukuman seperti ini!" Loraine berteriak. Suaranya menderita.

Ada suara gaduh di luar kamar.

Aku bergumam.

"Dia mengancam akan membunuhku dan menelantarkan adikku.. aku tahu dia bajingan hebat yang bisa menghilang—aku tahu siapa dia sebenarnya—"

"Loraine.."

Ia terkejut mendengar nada suaraku. Nada itu tidak pernah ada sejak kapanpun. Aku pun agak terkejut dibuatnya.

"Apa yang.."

"Tenanglah Loraine.."

"Apa yang mau kau—kau tidak bisa—jangan—jangan laporkan pada siapapun—aku mohon—tolong—aku—"

"Kau meracau.. tenang dulu.. aku tidak akan melaporkan pada siapapun.. aku punya teman yang bisa membantu kita.."

Loraine membelalak nyalang, memilih untuk tidak memercayainya.

"Apa yang kau—jangan-jangan kau bilang ke Profesor X—Mr. Wammy—kau tidak bisa—"

"Aku tahu kau pasti akan malu.. tenang saja, aku tidak akan membuatmu malu."

"Apa yang—" Loraine berbisik ketakutan mencengkeram lenganku.

"Kita punya teman yang akan membantu kita tanpa masalah. Teman dari atas."

Pintu meledak terbuka. Loraine menjerit. Aku merasakan tanganku ditarik kasar kemudian pukulan keras di mukaku membuatku tidak sadarkan diri.

.

Ocehan itu tidak mau pergi.

Saat mataku terbuka, ocehan itu bahkan bertambah keras.

"—jangan ayah.. aku berjanji aku akan menurut.. kumohon.."

"Diam anak brengsek. Aku berjanji, kan untuk menghukummu jika kau nakal.. nah aku adalah ayah yang baik dan menjaga janjinya.."

Pria itu sibuk melakukan sesuatu di dekat Loraine—yang sibuk menangis sambil memohon-mohon.

Loraine matanya basah, ia sersedak tangisannya sendiri dan sedang berlutut di depan pria itu.

"Oh sudah bangun ya," kata pria itu senang. Ada nada kejam di baliknya.

Kami di sejenis lumbung yang tertutup dan kumuh. Baunya tidak tertahankan. Tempatnya gelap, sama seperti rumahnya yang tidak pernah tersentuh sinar.

"Sayang sekali temanmu harus menghilang satu, Loraine sayang.. semuanya karena kau sudah nakal.."

"Sebaiknya kau pergi dan jangan kembali lagi.. atau kau akan menyesal," kataku serak. Mulutku sakit, ada darah kering disana.

Pria itu berhenti melakukan pekerjaannya dan bergegas mendatangiku; dengan sebilah pisau.

"Diam saja kau. Dengarkan. Kau akan kubunuh dan kukuburkan entah dimana—dan aku bersumpah tidak akan ada satu manusiapun yang akan menemukan jasadmu, dan kemudian aku akan membunuh anak brengsek ini juga adiknya yang cacat itu, kemudian aku akan pergi dan melupakan semuanya ini. Aku bersumpah akan menikmati hidupku dan tidak ada satupun yang akan menemukanku. Kau lihatkan kita di tengah antah berantah, dan Loraine disini.. naah, dia tidak akan diperhatikan oleh siapaun. Kalau dia menghilang, tidak akan ada yang menyadari. Nah kau lihat kan, Loraine sayang.. kau sudah melanggar janji kita dan sekarang dengan sangat menyesal aku akan mengakhiri hubungan keluarga kita."

"Kau yakin tidak mau pergi saja?" kataku memberanikan diri. Ada yang bergemuruh di dalam kepalaku.

Pria itu menggoyang-goyangkan pisaunya di depanku, "anak manis.. kau benar-benar manis.."

"Kau tahu kan bahwa pemerkosa akan berada di neraka paling dalam?" aku berusaha membuatnya menderita.

Pria itu tidak terpengaruh.

"Apalagi orang sepertimu.. pasti akan terbakar selamanya di tempat yang paling panas. Tentu saja aku tidak percaya hal itu.. semua orang yang mati tidak akan kemana-mana karena mereka hanya akan mati. Tapi aku berusaha untuk yakin bahwa kau akan berada di tempat paling hina setelah kau mati."

Pria itu sekarang mencengkeramku. Mukanya yang seperti babi menggelambir di depanku, tersenyum jahat.

"Sudah selesai khotbahnya? Yang akan mati sekarang adalah kau, anak ingusan. Semoga kau ingat itu."

Loraine menjerit-jerit dan memukul-mukulkan tangan kecilnya ke perut si Pria. Pria itu menendang perut Loraine dengan kasar. Loraine terjungkal ke belakang, terjatuh sambil memegangi perutnya.

"He—hei.. aku punya permintaan terakhir," kataku susah payah.

"Tidak ada nak.. kau sudah tamat."

"Kumohon.. aku hanya akan menulis sesuatu dan kemudian kau boleh membunuhku.."

Si Pria memelototiku dengan nyalang. Urat nadi di dahinya sudah akan meledak keluar saking bergairahnya.

"Satu permohonan terakhir.. aku jamin kau akan menikmati membunuhku setelahnya.."

Menahan sakit di tungkai tanganku, aku berlutut di kakinya.

Pria itu tertawa geli. "Tentu saja, tentu saja anak manis.. lakukan apa saja yang kau mau untuk hadiah perpisahanmu dengan Lorainku tersayang," katanya sambil mengentakkan tanganku dengan kasar.

Loraine sekarang cuma bisa mencicit ketakutan.

"Cepat lakukan apa yang mau kau lakukan.. atau aku akan berubah pikiran.."

Aku mengeluarkan secarik kertas kecil dan sebuah bolpoin.

"Hahaha.. kau mau buat surat wasiat rupanya ya," gelak si Pria babi itu.

"Ingat kataku, Loraine.. kita punya teman di atas.."

Aku menulis sesuatu di secarik kertas tersebut.

"Oke, waktu habis. Selamat tinggal, nak."

"Kita punya teman Dewa Maut," bisikku.

Kemudian aku merasakan tusukan panas yang tajam mengunjam perut.

.

.

Setahun yang lalu

Tentu saja aku terkejut bukan main melihat Dewa Maut di depanku.

Tiga hari yang lalu aku menemukan sebuah buku hitam aneh di halaman belakang. Halaman itu selalu sepi dan aku memang selalu berada disana sepanjang hari.

Setelah mempelajari segalanya, aku digelitik insting, ditantang oleh tangan tidak kasat mata yang mengawasiku dengan mata melotot; mengajakku untuk masuk ke lubang kelinci ke Wonderland.

Awalnya aku mengira bahwa buku itu hanya candaan semata, pasti ulah salah satu anak di sini. Tapi siapapun yang melakukan ini benar-benar telaten, walau menggelikan.

Jika memang benar bisa membunuh orang hanya dengan menuliskan namanya, terkutuklah aku..

Tapi saat Shinigami itu muncul di depanku, sadarlah aku bahwa semuanya ini bukan hanya candaan belaka.

Dewa maut itu menjawab semua pertanyaanku mengenai buku hitam itu. Dan aku memutuskan untuk menyimpannya—mungkin untuk selamanya—agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.

Namun aku tidak punya niatan untuk menggunakannya. Untuk alasan apapun. Tapi saat waktunya tiba, aku tahu bahwa aku hanya menipu diri sendiri.

Dan otomatis Dewa Maut itu kini menjadi bayanganku kemanapun aku pergi.

Dewa Maut itu pernah bertanya padaku, apa yang akan kukerjakan di masa depan. Aku bilang padanya mungkin aku akan menjadi detektif. Detektif yang handal dan terkenal. Karena Wammy sendiri memang punya niatan seperti itu mengenai diriku. Dia cuma terkekeh.

Aku bertanya padanya, apa alasannya menjatuhkan buku berbahaya seperti itu, dan dia terkekeh lagi sambil berkata bahwa ia bosan. Aku tahu ia bohong.

Beberapa bulan kemudian aku bertemu Loraine.

"Kau sudah tahu ya.. kalau ayahnya," Dewa Maut itu berkata.

"Aku tidak akan melakukannya.. Jika tidak terpaksa," aku berbisik padanya.

"Apa katamu?" Loraine menoleh padaku dari dalam lokernya.

.

"Berdoalah agar aku tidak perlu melakukan perbuatan terkutuk itu.."

Dewa Maut itu terkekeh, "justru itu yang kutunggu akan kau lakukan.."

Aku menatap pintu loker. Berjuta pikiran lewat berantakan. Kemudian aku mengunci loker dan pergi dari sana.

.

"Tolong! Aku sudah tidak tahan.. aku merasa tidak layak mendapatkan hukuman seperti ini!" Loraine berteriak. Suaranya menderita.

Ada suara gaduh di luar kamar.

"Rupanya kau akan mendapatkan apa yang kau harapkan," kataku pada Si Dewa Maut.

"Dia mengancam akan membunuhku dan menelantarkan adikku.. aku tahu dia bajingan hebat yang bisa menghilang—aku tahu siapa dia sebenarnya—"

"Loraine.."

Ia terkejut mendengar nada suaraku. Nada itu tidak pernah ada sejak kapanpun. Aku pun agak terkejut dibuatnya.

"Apa yang.."

"Tenanglah Loraine.."

.

Kalau ada jalan lain, aku tidak akan melakukan ini, itu yang kupikirkan berhari-hari sampai hari ini tiba, Namun yang membuatku terkejut adalah fakta bahwa sesungguhnya di dalam hatiku, aku menginginkan ini.

Aku benar-benar menginginkan laki-laki jahanam ini mati. Benar-benar mati.

Sangat mudah mencari namanya. Dia punya sejarah berteman dengan Mafia terkuat di Negeri Timur dan orang ini sangat pandai menghilang. Daftar kejahatannya sudah menumpuk dan aku hampir muak membaca seluruh tulisan itu.

Sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi dengan Loraine setelah kami berteman selama 1 bulan. Ibunya menikahi laki-laki babi ini demi uang dan kebetulan ibunya sangat cantik. Lima tahun kemudian ibunya meninggal karena sakit parah yang dilawannya selama bertahun-tahun, meninggalkan Loraine dan adiknya yang cacat bersama babi jahanam yang disebut ayah.

Rupanya Pria itu sudah menyentuh Loraine sebanyak yang bisa ia lakukan di rumahnya yang jauh dari mana-mana. Dan rumah itu juga sangat besar dan siapa yang tahu apa saja—atau siapa—yang disembunyikan di dalamnya.

Awalnya aku tidak tahu bahwa Pria babi itu melakukan perbuatan setan itu sampai Loraine mengatakannya dengan jelas di wajahnya hari ini di depanku. Aku sudah mempersiapkan rencana—yang dengan gairah mistis ingin sekali kulakukan—dan berencana mengeksekusinya jika benar-benar terpaksa. Jelas aku tidak ingin itu terjadi, makanya aku berusaha membujuknya agar ia pergi.

Tapi aku tahu diriku tidak menginginkan dia pergi.

Aku ingin dia mati.

.

"Ingat kataku, Loraine.. kita punya teman di atas.."

Aku menulis sesuatu di secarik kertas tersebut.

Nama Pria tersebut.

"Oke, waktu habis. Selamat tinggal nak."

"Kita punya teman Dewa Maut," bisikku.

Jantungku memburu. Tanganku berkeringat. Apakah aku telah menjadi seorang pembunuh?

Tidak benar membunuh manusia walau ia jahat. Benarkah demikian? Bagaimana dengan Hakim yang memutuskan hukuman mati? Bukankah ia juga membunuh? Dan orang ini memang pantas di hukum.

Aku menyadari bahwa tidak ada penyesalan di dalam dadaku. Tidak ada yang salah. Namun aku tetap telah berjanji.

.

"Kau bilang kau yang akan menulis namaku saat aku mati nanti, aku ingin mengadakan perjanjian."

"Oh ya? Menarik."

"Aku akan menggunakan buku itu."

Dewa Maut itu tersenyum, "Waw, akhirnya kau tidak tahan juga menolak godaannya, ya kan?"

"Rupanya benar katamu, hidupku tidak akan tenang setelah bertemu denganmu, karena setelah itu aku bertemu dengan Loraine dan sekarang aku tampaknya harus menggunakan buku itu. Tapi jangan salah paham. Aku hanya akan menggunakannya sekali saja. Setelah itu aku akan mengembalikan buku ini kepadamu dan kau bisa enyah selamanya dari hidupku dan aku akan menjalani sisa hidupku dengan menderita walau aku tidak akan mengingatmu lagi."

"Oh?"

"Tapi.. aku bersumpah akan menjadi detektif handal yang akan mengadili dunia demi membalaskan kesalahanku karena menggunakan buku itu."

Dewa Maut itu terkekeh keras.

"Saat aku mati.. katamu kau yang akan menuliskan namaku, kan?"

"Ya."

"Kumohon jangan lakukan itu sekarang. Lepaskanlah aku sekarang, dan biarkan aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk menebus perbuatanku, barulah setelah itu kau bisa kembali lagi dan menuliskan namaku."

"Tenang saja, sebenarnya aturan itu tidak kaku seperti itu. Yang sudah pasti, kau tidak akan menjalani hidup dengan tenang karena telah menyentuh buku ini, dan satu hal lagi.. saat kau mati, kau akan mengingat momen ini, dan perasaan bersalahmu yang paling besar saat kau menggunakan buku itu akan muncul sebelum matamu tertutup. Itulah yang harus kau siapkan."

"Baik, aku akan memikirkan itu nanti.. setelah semuanya selesai."

Aku merobek secarik kecil halaman pada buku hitam itu dan menyembunyikannya di saku celanaku.

"Oh ya satu lagi," kataku pada Dewa Maut itu.

"Ya?"

"Kumohon jangan datang ke dunia ini lagi selama beberapa tahun. Kau tahu kan bahwa kau hanya mendatangkan masalah?"

"Aku tahu," katanya sambil tersenyum.

"Ngomong-ngomong namaku Ryuk."

.

Pria itu menikamku. Pisau itu tanpa ampun merobek perutku.

Darah merembes keluar saat ia menarik keluar senjatanya dan tertawa sambil menghampiri Loraine.

Loraine melolong, dan aku merasa bersalah tidak bisa menghiburnya.

Tapi tidak apa-apa Loraine. Semuanya sebentar lagi selesai.

Pria itu tiba-tiba terjatuh dan mengentak-entakkan seluruh badannya selama beberapa saat. Kemudian ia tidak bergerak lagi.

.

.

Tentu saja momen ini yang muncul.

Ah.. aku tahu aku benar, bahwa kau adalah Kira, Light Yagami.

Tapi—

Kemudian aku tidak merasakan apa-apa lagi.

End of the story