Ahh… Di pagi hari seperti ini, memang yang paling nyaman adalah duduk bersantai di depan rumah dengan secangkir teh hangat sebagai teman duduk. Menatap langit biru yang cerah sambil sesekali mengamati beberapa orang yang lewat di depan rumah.
'Hmm… Sempurna!'
Yah, sempurna kalau-
"Narutooo!"
Nah kan, baru saja mau disindir.
Dengan malas, Naruto berdiri lalu melangkah pelan menuju pintu. Naruto menengok ke dalam pintu rumahnya yang berada di dekat kursi tempatnya duduk. Dia melihat seorang gadis pirang sedang berdiri kebingungan di lorong.
"Ada apa?" tanya Naruto malas.
Gadis itu menatap Naruto. Pipinya terlihat memerah malu. Dia memalingkan tatapannya kesana-kemari, menghindari kontak dengan Naruto.
"Umm… itu…"
"Apaan?" tanya Naruto.
"Kok tidak ada ya? Itu lho…" ucap gadis itu sambil membuat sebuah gestur dengan jari lentiknya. Membentuk sebuah bentuk bangun datar sederhana.
"Hah apaan sih?" tanya Naruto tidak sabar. Mana ngerti dia maksud dari gadis ini?
"Ihh~ dasar tidak peka!"
Nah loh. Salah lagi kan dia…
"Itu lhooo…"
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Naruto lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Naruto. Naruto sedikit memerah ketika menyadari jaraknya dengan si gadis hanya beberapa sentimeter saja.
"psstt psstt…" bisik gadis itu. Dia kemudian menjauh dari Naruto dengan wajah memerah malu.
Naruto hanya terdiam sebelum mencerna seluruh kalimat aneh bin ajaib yang dibisikkan kepadanya beberapa detik yang lalu. Kedua matanya melebar dan pipinya memerah saat berhasil mencernanya.
"Ya mana aku tau celana dalammu woi!" seru Naruto.
"YA JANGAN DITERIAKKAN JUGA!"
Plaakkk!
Ahh… Pagi yang sempurna.
.
.
.
Memento
Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.
Rated: T+
Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).
Warning: Alternate Fact and Reality, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting… Elemental Nations Universe!
Chapter 2—Naruto's Disaster
.
.
.
Terkadang, kenyataan memang sedikit lebih pahit dari sebuah mimpi—maksudku bukan terkadang, tapi seringnya.
Ini adalah hari ketujuh sejak Naruto pulang dari misi tingkat A yang dilaksanakannya. Misi tingkat A yang pada akhirnya malah membuatnya terjebak dalam sebuah tanggung jawab, serta misi eksklusif yang diberikan oleh Hokage Tsunade kepadanya, menjaga seorang gadis.
Oh, tentu misi ini menyenangkan! Maksudnya, memangnya ada yang tidak betah jika harus berada di rumah bersama dengan seorang gadis cantik yang terkadang bisa sangat menggemaskan? Tentu saja Naruto! Dia tidak betah dan ingin segera keluar dari rumahnya sendiri sekarang juga pokoknya!
Salahkan saja Hokagenya yang sudah tua, tapi masih seksi itu. Sehari setelah Naruto pulang, dia membuat tugas ini menjadi sebuah misi. Gila saja! Ingin rasanya Naruto menimpuk kepala nenek cantik itu—kalau berani sih.
Tsunade memberikan sebuah titah, yaitu membuat Naruto di rumah terlebih dahulu. Setidaknya untuk seminggu ke depan dengan tujuan meyakinkan diri mereka sendiri bahwa gadis ini tidak berbahaya ataupun memiliki niatan buruk. Dengan membuatnya terjebak bersama Naruto selama setidaknya seminggu, mereka bisa mengevaluasi dan memutuskan langkah yang tepat dalam menangani kasus ini. Tentu saja harus Naruto. Naruto adalah pemilik kemampuan sensor emosional paling baik di seluruh dunia. Tidak akan ada yang lolos dari sensor Naruto, begitu pula dengan gadis ini.
Sejujurnya, itu adalah sebuah kebijakan yang sangat masuk akal. Membuat seseorang asing terjebak dengan Naruto yang notabene seorang yang memegang tahta tertinggi dalam hal kekuatan adalah sebuah langkah yang tepat. Andai kata orang asing ini tiba-tiba berniat menyerang Konoha dan ternyata memiliki kompetensi yang tinggi dalam bertarung, Naruto pasti akan menjadi musuh yang tepat.
'Tapi tetap saja menyebalkan!' batin Naruto sendiri.
Empat hari pertama berjalan sangat lancar. Tapi, penderitaan yang sesungguhnya baru saja dimulai ketika menginjak hari kelima. Kesabaran serta penguasaan dirinya sebagai seorang lelaki normal benar-benar diuji sekarang.
Hari Kelima—Pagi Hari
Di dalam sebuah kamar rumah pribadi pahlawan kuning kita, terlihat seorang pemuda pirang yang sedang tertidur dengan posisi yang telentang. Sebuah selimut menyelimuti seluruh tubuhnya.
Cahaya matahari menerobos tirai putih yang terpasang pada relnya di jendela. Membuat pemuda pirang itu mengerjapkan matanya ketika merasakan silau matahari yang ternyata sudah mulai meninggi.
Pemuda itu menoleh ke kanan, lebih tepatnya pada jam kecil yang duduk manis di atas nakas. Iris safirnya mendapat informasi bahwa sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6. Ini lebih pagi dari biasanya dia bangun.
'Uhh… Kurasa sesekali bangun lebih awal tidak masalah.'
Naruto dengan malas menarik selimut yang memeluk tubuhnya ke atas. Dia melihat sebuah warna kuning di dalam sana.
Sret!
Dengan cepat Naruto menutupnya lagi. Bentar! Memeluk tubuhnya. Rasanya dia sedikit lebih lambat mencerna itu. Bagaimana mungkin… sebuah selimut, memeluknya?!
Tangan kirinya yang bebas masuk selimut pelan-pelan, dia memegang sesuatu yang berada di atas dadanya. Terasa sangat familiar untuknya. Rasanya lembut, benar sekali! Itu adalah kulit.
"Ahnn~"
'Aje gile! Nani kore?!' batin Naruto melotot ketika mendengar suara lenguhan itu.
Srekk srekk…
Warna kuning yang dilihatnya di dalam selimut tadi tiba-tiba berubah tinggi, berubah menjadi sesuatu yang sangat dikenalinya.
"Uaah… Sewamat pagwi Naw-aahh…ruto."
Oh, hei! Itu si Gab! Dia sedang menatap Naruto manis dengan matanya yang sayu karena baru bangun tidur.
"Kenapa… Kok Naruto di sini?" tanya Gabriel sambil memiringkan kepalanya bingung.
"Kau yang kenapa?! Ini kamarku oii!"
"Ehh! Benarkah?!" seru Gabriel tidak percaya. Sontak dia berdiri.
Masalahnya… karena secara mendadak berdiri, piyama gadis itu yang awalnya sudah sedikit terbuka di bagian depannya, sekarang semakin lebar. Memperlihatkan sesuatu yang membuat wajah Naruto memerah sempurna.
"AAARRGHHH!"
Ah, darah kemaksiatan mengucur dari hidungnya.
Hari keenam—Malam hari
Bermeditasi selama berjam-jam memang menjadi sebuah kebiasaan Naruto ketika sedang senggang. Di dalam pikirannya dia pasti akan mendekatnya dirinya dengan Kurama. Membuat sebuah ikatan yang lebih dalam antara sesama partner yang saling berbagi tubuh satu sama lain.
Lagipula, berinteraksi dengan Kurama memang menyenangkan untuk Naruto. Kurama adalah eksistensi yang sudah menjadi bagian darinya sejak awal. Memang dulu Kurama selalu berusaha untuk menguasai dan mengambil alih tubuh Naruto. Tapi, tidak lagi sekarang. Dia adalah salah satu sahabat paling baik yang dimilikinya.
Sudah cukup bermeditasi, Naruto bangkit dari posisi duduknya. Sontak, dia memegangi punggungnya setelah menyadari rasa tidak nyaman dari sana.
"Adududuh… Tumben sekali punggungku terasa pegal setelah bermeditasi," keluh Naruto pelan.
"Mungkin berendam air panas bisa membuat tubuhku lebih lemas deh," gumam Naruto lagi ketika dia mendapatkan sebuah ide untuk dirinya sendiri.
Pemuda pirang itu berjalan keluar dari kamarnya yang sepenuhnya gelap ini.
Naruto melihat lampu di ruang tengah sudah mati. Sedikit heran, karena biasanya jam segini Gabriel masih melihat televisi. Mungkinkah Gabriel sudah tidur? Yah, Naruto tidak peduli. Yang penting sekarang Naruto ingin berendam air panas di kamar mandi.
Kakinya melangkah menuju ke kamar mandi. Dia sudah tidak sabar lagi sekarang! Naruto langsung membuka pintu kamar mandinya.
"Yosh!"
Cklek…
Tubuhnya menegang dan matanya melotot sempurna.
"N-Na-Naruto…"
Ada Gabriel hanya menggunakan handuk. Wajahnya sudah berubah warna menjadi semerah kepiting rebus.
Dengan cepat Naruto menutup pintu yang masih dibukanya setengah dengan sebuah bantingan keras.
Tubuh Naruto merosot lemas. Dia terduduk di depan pintu kamar mandi. Seluruh pikirannya merutuki dirinya sendiri karena telah melakukan sebuah kebodohan dan kecerobohan yang mungkin saja dihitung sebagai sebuah kerugian oleh orang lain.
Mana dia tahu bahwa ada seorang gadis sedang mandi malam-malam begini?!
"Aaaa… Aku nggak lihat apa-apa. Aku nggak lihat apa-apa," gumam Naruto panik.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Gabriel terlihat di sana. Kali ini sudah menggunakan pakaian lengkap. Pandangannya menunduk ke bawah sehingga Naruto tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas. Tapi, satu yang pasti. Auranya tidak bersahabat.
Tambah panik lah Naruto.
"Err… M-Maafkan aku. Sumpah aku nggak lihat apa-apa kok!" seru Naruto sambil mengangkat tangan kanannya yang membentuk simbol peace.
Gabriel mendongak, menyipitkan matanya tajam.
"Tidak bisa dipercaya. Ucapanmu tidak membuktikan apapun!" desis Gabriel.
"Ap-Sumpah, Gab-san! Serius!"
"Nggak! Aku harus memberikan hukuman kepadamu karena sudah ceroboh."
Nah loh…
"Hmm… Kurasa satu atau dua pukulan tidak masalah kan, Naruto? Kau kan katanya ninja terhebat."
Benar juga! Naruto merasa bahwa ini adalah sebuah hukuman yang hampir seperti tidak menghukumnya. Gabriel hanya seorang gadis biasa sedangkan dia adalah shinobi terkuat di dunia. Mendapatkan satu atau dua pukulan dari seorang gadis biasa tidak akan membuat Naruto mendapatkan dampak yang besar.
"Yosh kalau begitu boleh, Gab-san!" seru Naruto yang mendadak suka rela.
Buagghh!
Naruto melotot sempurna.
"A-Aduduh… S-Sa-Sakit sekali…" rintih Naruto kesakitan.
Gila! Kekuatan pukulan gadis ini mungkin setara dengan Sakura yang tubuhnya adalah tubuh berkekuatan monster!
"Oh, ngomong-ngomong, Naruto. Karena tadi kau tiba-tiba semangat, hukuman yang awalnya dua pukulan kugandakan ya~"
Di detik itu, Naruto menyadarinya.
Setelah ini dia harus belajar cara menulis surat wasiat.
.
.
.
Naruto mengusap-usap pipinya yang terlihat sangat merah karena baru saja digampar oleh Gabriel. Well, sebenarnya itu adalah kesalahannya sendiri karena dengan bodohnya berteriak tentang hal sensitif seperti celana dalam seorang gadis.
"Apakah masih sakit?"
Naruto mendengus kesal ketika mendengar sebuah pertanyaan retorik yang diluncurkan oleh bibir ranum gadis yang tinggal bersamanya itu. Hei! Kau bisa melihat bekas tanganmu sendiri di pipi coklat Naruto! Itu sudah pasti masih sakit.
'Sialan. Ini sakit sekali…' rintih Naruto dalam hati. Yah, itu memang benar-benar menyakitkan. Maksudnya, kau digampar oleh seseorang dengan tenaga monster yang mungkin bisa disandingkan dengan Sakura. Siapapun di Dunia Shinobi juga sudah tahu bagaimana besar dan destruktifnya tenaga Sakura.
"M-Maaf… Aku refleks," ucap Gabriel menyesal. Tidak-tidak Gab-chan! Jangan menyesal seperti itu!
"Haahh… Sudahlah. Kau sudah meminta maaf lebih dari sepuluh kali dalam waktu dua jam terakhir. Sudah kubilang ini tidak apa-apa," ucap Naruto menenangkan.
"U-Umm…"
Sebenarnya ini yang perlu diperhatikan dengan jelas.
Gabriel menggampar pipinya dengan sepenuh tenaga. Hasilnya adalah pipinya memerah sampai dua jam dan belum terlihat akan sembuh.
Belum sembuh.
Naruto heran sendiri. Dia adalah salah satu pemilik kemampuan regenerasi paling eksepsional di Dunia Shinobi. Meskipun tingkatannya masih beberapa tingkat di bawah Sang Kaisar Regenerasi, yaitu Shodaime Hokage, Senju Hashirama dan juga cucunya yang sekarang menjabat sebagai Godaime Hokage, Senju Tsunade—tapi itu seharusnya sudah cukup. Seharusnya dengan kemampuannya yang seperti ini, luka ringan yang diberikan oleh Gabriel bisa disembuhkannya dengan cepat. Tapi kenyataannya sebaliknya.
Itu cukup aneh.
'Kenapa bisa begitu, Kurma?'
'Kurma ja nai, Kurama da!(1),' seru Kurama kesal menggunakan telepati. Sebuah perempatan tercetak di dahinya.
'Iya maaf. Kepleset ini tadi,' jawab Naruto tanpa merasa bersalah.
'Kau memang terlalu bodoh sampai berpikir saja bisa terpeleset.'
'Terserah. Aku sedang tidak ingin membalas ejekan tidak berdasarmu itu. Jelaskan saja sekarang kenapa hal ini bisa terjadi,' batin Naruto malas.
'Itu berdasar pada fakta, Bocah Sialan! Haahh… Terserahlah. Dengar ya, aku sendiri juga masih menyelidiki kenapa kau bisa tidak sembuh dengan cepat. Maksudku, seharusnya kau akan cepat sembuhnya. Luka ringan yang seperti itu seharusnya paling lama 30 menit sebelum benar-benar pulih. Sedangkan ini sudah dua jam.'
'Benar kan? Aku juga berpikir seperti itu tadi… Kurasa ini memang sebuah kasus yang cukup aneh. Lebih baik kau coba untuk berpikir tentang hal ini terlebih dahulu, Kurma. Kau kan lebih jago dalam logika,' usul Naruto kepada Kurama.
'Sudah kubilang… Namaku Kurama, Bocah Keparat!'
'Iya iya. Terima kasih kerja samanya, Kurma-chan,' ejek Naruto. Yah, sekarang dia punya satu lagi hal yang bisa membuat Kurama marah-marah tidak jelas. Dia harus bersyukur untuk itu.
Pikiran Naruto yang sebelumnya terfokus untuk berkomunikasi dengan Kurama kembali ke dunia nyata.
Benar juga, di posisinya sekarang, dia bisa melihat jelas Gabriel. Tentu saja bisa karena dia sedang duduk di sofa yang berseberangan dengan Gabriel.
Naruto melihat Gabriel yang masih menunduk menyesal.
"Oh, sudahlah, Gabriel-san. Aku beneran tidak apa-apa. Luka ini akan sembuh dengan cepat. Tunggu saja sebentar lagi," ucap Naruto berusaha menghibur Gabriel.
"T-Tapi… Ini kan sudah dua jam."
"Err…" Naruto kembali bingung.
Ya memang benar sih.
"Pokoknya aku tidak apa-apa! Jangan murung begitu dong!" seru Naruto.
Gabriel hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dalam pikirannya, dia masih menyalahkan dirinya yang tadi dengan refleks menggampar Naruto.
Tok tok tok…
Suara ketukan pintu terdengar. Baik Naruto dan Gabriel mengalihkan perhatiannya ke pintu rumah yang berjarak tidak jauh dari sofa tempat mereka berdua bersantai.
Gabriel berinistiatif untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Anggap saja aksi ini adalah sebuah permohonan maaf karena perbuatannya yang tadi. Naruto sendiri tidak terlalu mempermasalahkan hal ini dan mempersilahkan Gabriel yang menatapnya meminta persetujuan. Sebenarnya sih dia hanya terlalu malas untuk sekedar berdiri jadi mempersilahkan Gabriel.
Pintu rumah Naruto dibuka oleh Gabriel.
Ada seorang gadis berambut secerah musim semi berdiri di sana. Dia adalah Haruno Sakura. Sakura menatap Gabriel bingung lalu berubah menyelidik.
"Etto… Kau siapa?" tanya Sakura.
"Kau siapa?" tanya Gabriel balik.
Sakura memicingkan matanya.
"Aku yang bertanya terlebih dahulu. Kau siapa?" tanya Sakura lagi. Sedikit kesal karena malah ditanya balik oleh seseorang yang tiak dikenalinya seperti ini.
"Eh? Namaku Gabriel. Siapa kau? Mau ada perlu apa kesini?" jawab Gabriel mengenalkan dirinya serta menanyakan identitas Sakura.
Sakura sedikit terkejut karena ada orang yang tidak mengenalinya yang notabene adalah salah seorang pahlawan perang dan juga merupakan salah satu Medic-nin paling terkenal. Dia kemudian menjawab dengan sabar.
"Namaku Haruno Sakura."
"Oke. Haruno-san. Ada perlu apa?"
"Gabriel-san, kenapa kau bisa di sini? Yang ku tau tempat ini ditinggali oleh sahabat pirangku yang kelewat bodoh," ucap Sakura.
Gabriel seperti tersadarkan oleh sesuatu ketika mendengar kalimat terakhir Sakura. Itu mengingatkannya kepada seseorang yang bertanggung jawab atasnya seminggu terakhir. Sepertinya orang itu yang dicari gadis rambut pink ini.
Gadis pirang itu menggeser tubuhnya ke samping dan menunjuk ke sebuah arah.
"Maksudmu si bodoh yang di sana itu?"
Dahi Sakura mengerut ketika mendengar kalimat Gabriel. Dia kemudian mengalihkan pandangannya mengikuti arah yang yang ditunjuk oleh Gabriel.
"Naruto?"
Si pemuda pirang yang sedang duduk melamun di sofa menoleh ke arah pintu rumahnya ketika mendengar sebuah suara memanggil namanya. Hei, itu adalah seseorang yang sangat dikenalinya selama setidaknya 10 tahun terakhir.
Naruto berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah pintu.
"Are? Sakura-chan? Tumben ke sini? Mau masuk dulu?" tanya Naruto heran.
"Tidak usah. Aku hanya sebentar kok. Aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu. Sudah seminggu terakhir kau tidak terlihat. Aku sudah bertanya kepada Tsunade-sama apakah kau sedang menjalankan misi atau tidak, tapi beliau berkata bahwa kau tidak menjalan misi dan sedang cuti. Jadi aku memutuskan untuk mencarimu ke rumah," jelas Sakura.
Naruto manggut-manggut menanggapi penjelasan panjang Sakura yang intinya sedang mengkhawatirkan keadaannya.
"Aku mengerti. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Sakura-chan. Sungguh, aku baik-baik saja," ucap Naruto sambil tersenyum lembut.
"Benarkah?" tanya Sakura memastikan.
"Tentu saja. 100% malahan!" seru Naruto semangat.
Sakura hanya tersenyum kecil ketika melihat bahwa sahabat yang dikhawatirkannya ternyata baik-baik saja. Well, ini adalah sebuah kabar bagus untuknya karena dia tadi sedikit berpikiran buruk terhadap apa yang mungkin saja terjadi pada Naruto.
"Yang lebih penting. Naruto…" ucap Sakura menggantung.
"Iya?" tanya Naruto bingung.
Telunjuk Sakura menunjuk ke arah Gabriel yang sejak tadi memperhatikan perbincangan Naruto dan Sakura dengan wajah polos nan imut. Sakura cukup curiga sebenarnya. Sejak kapan Naruto tinggal bersama dengan seorang gadis? Jangan-jangan dia adalah kekasih Naruto?
"Siapa gadis cantik ini?" tanya Sakura dengan aura yang tidak bersahabat.
Sebuah keringat dingin muncul di dahi Naruto.
"Umm… Dia Gabriel," jawab Naruto takut. Takut kalau tiba-tiba Sakura menghajarnya. Yah, itu adalah alasan yang logis karena Sakura kadang menghajarnya karena sebuah alasan yang tidak masuk akal.
"Kalau namanya aku juga tau, Bodoh! Kau benar-benar mau kuhajar ya?"
"Terus kenapa tanya?!" seru Naruto sebal dan takut di saat yang sama.
"Jelaskan kenapa ada seorang gadis di rumahmu? Kau pasti menculiknya kan?! Katakan padaku dari mana kau mengarunginya!"
"Oii! Aku bukan penjahat kelamin, Sakura-chan!"
"Bohong!"
"Sumpah deh! Kau gila ya?! Kalau aku melakukan hal semacam itu, pasti kau dan Nenek Tua itu akan menghajarku sampai mati. Jelas aku masih sayang nyawa oi!" seru Naruto tidak terima.
Sakura hanya cengengesan ketika mendengar seruan tidak terima Naruto. Itu memang sedikit mengejeknya dan membuatnya terlihat seperti seorang barbar, tapi dia tidak mempermasalahkannya. Maksudnya, hei! Siapa yang rela sahabatmu menjadi seorang penjahat kelamin yang tidak bermoral?! Kalau itu terjadi pada Naruto, Sakura sendiri yang akan mengatasinya.
"Benar juga ya," ucap Sakura. Dia tidak peduli apakah gadis ini kekasih Naruto atau bukan. Mendengar pengakuan bahwa Naruto tidak menculiknya sudah cukup membuatnya bersyukur karena sahabatnya tidak pindah jalur ke dalam gelapnya hati.
"Iya lah!"
"Baiklah. Itu tidak penting. Siapa pun gadis ini, perlakukan dia dengan baik pokoknya. Aku tidak mau mendengar kabar tentang seorang gadis pirang menangis karena kebodohan seorang pahlawan. Jelas aku akan membunuhmu saat itu juga."
Naruto tertawa kikuk ketika mendengar ancaman bernada bercanda dari Sakura.
"Ngomong-ngomong…"
Sakura merogoh kantong ninjanya sebelum mengeluarkan sebuah gulungan kecil yang disinyalir sebagai sebuah pesan.
Gadis itu menyerahkannya kepada Naruto.
"Tadi Tsunade-sama memberikan ini. Katanya untukmu."
Naruto menerimanya dengan sebuah tatapan heran yang tersirat jelas di wajahnya.
"Apa isinya?" tanya Naruto kepada Sakura.
"Ya mana aku tau? Kan itu buatmu!" seru Sakura.
"Iya iya. Santai dong."
Lidah Sakura menjulur seolah mengejek Naruto.
"Karena tidak ada yang perlu kukhawatirkan lagi, maka aku akan pamit dulu, Naruto, Gabriel-san," pamit Sakura.
"Beneran langsung balik? Tidak mau masuk dulu?" tawar Naruto tidak enak.
"Tidak. Sebentar lagi ada urusan di rumah sakit. Aku tidak mau terlambat. Jaa ne~" ucap Sakura sambil melompat dari sana. Meninggalkan Naruto dan Gabriel yang masih menatap kepergian Sakura.
Naruto mengambil alih kendali gagang pintu yang sebelumnya dipegang oleh Gabriel sebelum menutup pintunya. Kemudian, Naruto berlalu meninggalkan Gabriel yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Kursi sofa yang sama adalah tujuan duduk dari Naruto. Dia membuka gulungan yang diberikan oleh Sakura tadi. Ini mungkin adalah pesan lanjutan dari Tsunade tentang misi dan kondisinya mengingat bahwa sekarang sudah tujuh hari sejak pertama kali dia mendapatkan misi merepotkan ini dari Tsunade. Yang berarti, mungkin saja dia bisa terbebas dari misi ini sekarang juga.
Tangannya menarik kertas gulungan itu dengan antusias.
Baka-Ruto,
Anbu yang kuperintahkan untuk memata-matai rumahmu melaporkan bahwa sejauh ini tidak ada masalah tentang Gabriel dan kemungkinan tidak akan ada masalah di masa depan.
Setelah kau menerima pesan ini, segeralah pergi ke kantorku. Kita akan membahas tentang kelanjutan dari kasus ini. Bawa juga Gabriel denganmu.
"Yosh! Ini baru namanya kebebasan!" seru Naruto semangat.
Sudah dilupakannya rasa sakit yang diterimanya tadi dari Gabriel dan sekarang dia terlalu bersemangat setelah mengetahui bahwa dia sudah bisa pergi keluar dari rumah. Tidak masalah sih tempat pertama yang ditujunya adalah kantor Hokage. Pokoknya dia ingin segera keluar sekarang juga.
Pandangannya beralih ke Gabriel yang baru saja duduk.
"Bersiap-siaplah, Gabriel-san."
"Hee… Kemana?" tanya Gabriel heran.
"Kita akan pergi ke kantor Hokage setelah ini," ucap Naruto dengan segenap senyuman bahagianya.
Tentu saja dia bahagia sekarang. Ada sebuah kemungkinan bahwa setelah ini dia bisa terbebas dari situasinya yang terjebak dengan Gabriel dalam satu atap.
Harapannya begitu tinggi sekarang.
.
.
.
"Ap-Hei! Mana bisa begitu?!"
Tsunade menatap bosan Naruto yang dengan hebohnya berteriak-teriak di kantornya tanpa mempermasalahkan sopan santun antar jabatan.
Naruto sendiri tidak terima. Mana mungkin dia harus selamanya terjebak dengan gadis cantik itu? Uhh… Sebenarnya tidak masalah. Serius deh! Tapi akan sangat merepotkan jika tiba-tiba dia harus menghadapi tingkah random Gabriel. Maksudnya, ambil saja contoh ketika si gadis salah kamar. Itu sudah cukup untuk membuat Naruto panas dingin!
"Aku sih nggak masalah," celetuk Gabriel.
Kalau kalimat yang seperti ini sudah terucap, maka yang terjadi selanjutnya adalah—
"T-Tunggu dulu! Kumohon diamlah dan jangan menuangkan bensin di kobaran api sialan bernama Tsunade ini!" seru Naruto.
"Tuh kan? Doi saja tidak masalah. Sudah diputuskan dan tidak bisa diganggu gugat ya!" ucap Tsunade memutuskan seenaknya.
—err… ya yang seperti ini.
Naruto menatap Tsunade dengan tangisan anime. Memohon supaya adanya pergantian kebijakan yang ini.
"Oh sudahlah, Naruto. Jangan seperti anak kecil. Nantinya kau pasti juga akan tinggal dengan istrimu kalau sudah menikah," ucap Tsunade. Sedikitnya dia merasa kesal dengan sikap Naruto.
"Tapi aku belum menikah!"
"Kalau begitu nikahi saja dia," ucap Tsunade enteng.
Iya, enteng kok.
Gabriel berinisiatif membuka mulutnya
"Uhm… Aku sih ngg-"
"Udahlah, Gab-san…"
Naruto langsung menghadiahi Gabriel dengan tatapan tajam tanda supaya gadis itu berhenti bicara.
'Haahhh! Nenek tua sialan!'
"Aku tau yang kau pikirkan ya bocah!"
Yah, sepertinya… kita memang harus menjauhkan harapan tinggi Naruto yang tadi.
.
.
.
Ngg... Halohalohai~
Yah, cuma sebuah chapter ringan yang berfungsi sebagai bonding dari Naruto dan Gaburiiru. Menurutku sendiri hal seperti bonding akan cukup penting dalam fic, jadi saya mencoba untuk membuatnya dan diletakkan di awal fic. Chapter selanjutnya akan menjadi Prechapter sebuah Arc yang lebih serius. Maaf banget karena di chapter ini tidak terjadi peningkatan jumlah kata, karena chapter ini sendiri sebenarnya sudah rampung saya garap saat akan mempublish chapter 1.
Tentang si Gab... saya nggak bisa bilang apa-apa dulu. Maaf ya.
Oiya, sampe sini ngelihat typo banyak banget nggak sih? Maaf ya kalo rada ngganggu.
Ngomong-ngomong, kalau mau ngobrol-ngobrol boleh banget lho buat PM saya. Saya nggak gigit kok :3
Gitu aja dulu ya. Makasih udah mampir. Mau review?
A lil trivia down here:
(1) "Kurma ja nai, Kurama da!": adalah trademark line dari Katsura Kotaro dari serial Gintama yang sengaja dipelesetkan.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan dini hari. Langit terlihat begitu gelap. Tapi tidak untuk kantor Hokage. Untuk beberapa alasan, Sang Hokage memutuskan untuk tetap berada di kantornya meskipun sudah larut malam, bahkan hampir berganti pagi setelah ini.
Di atas mejanya terlihat setumpuk kertas putih yang dianggapnya sebagai hama tidak berguna, menunggu untuk diselesaikan olehnya.
Flap flap flap…
Tsunade mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Ada seekor burung elang berwarna hitam sedang mengepakkan sayapnya dan mendarat di kusen jendelanya. Wanita ini mengenali elang yang datang. Itu adalah dari salah satu anggota Anbu yang dikirimkannya menuju ke Mizu no Kuni beberapa hari yang lalu. Tsunade melihat ada sebuah kain berwarna merah gelap yang terikat di kaki elang itu.
Tangan putihnya terulur untuk mengambil kain itu. Dia melihat ada sebuah segel rumit di sana. Ini adalah sebuah segel proteksi yang bertingkat cukup tinggi, dan dia bisa melihat bahwa kain ini memang ditujukan kepadanya. Perasaan tidak enak mulai tergambar di hati Tsunade.
'Perasaanku tidak enak. Ada apa ya?'
Dia membuka segel tersebut, dan muncul sebuah gulungan dari sana. Memunculkan sebuah gulungan surat yang disegel juga. Dia sedikit paham dari maksud pesan ini. Sudah dapat disimpulkan tanpa perlu membukanya terlebih dahulu.
'Sialan…'
Chapter 2: Naruto's Disaster—END
