.

.

.


Memento

Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.

Rated: T

Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).

Warning: Alternate Fact and Reality, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting… Elemental Nations Universe!


Pre Arc Pertama: Conspiracy in Mizu

Chapter 3

.

.

.

Sore ini, di dalam kantor Hokage, terlihat ada seorang pemuda pirang yang sedang berdiri di tengah ruangan. Dia memenuhi sebuah panggilan dari Sang Hokage yang memberinya perintah untuk pergi ke sini.

Sang Hokage perempuan sendiri bukannya melihat ke arah pemuda pirang itu malah melihat ke arah langit melalui kaca jendela kantornya. Dia berposisi membelakangi si pemuda pirang.

"Aku sudah datang, Baa-san."

"Ya ya ya. Aku juga tau."

Twitch!

Sebuah perempatan tercetak di dahi Naruto. Ya kalau sudah tahu kenapa tidak segera berbicara dan malah menatap langit begitu?

Tsunade membalikkan posisinya menjadi menghadap Naruto. Ekspresi di wajahnya terlihat begitu serius. Ditatapnya iris safir Naruto dalam-dalam.

Naruto yang ditatap seperti itu sedikit banyak cukup tahu. Tatapan ini sama ketika Tsunade sedang di dalam sebuah situasi atau kondisi yang cukup menjepit. Jadi, dia bisa menebak, pasti hal yang akan dibicarakan Tsunade adalah hal yang mendesak. Pasti…

"Dini hari tadi ada seekor elang dari Anbu datang. Dia membawa sebuah laporannya tentang Mizu no Kuni," cerita Tsunade.

Naruto mengernyitkan dahinya. Laporan tentang Mizu no Kuni. Kalimat ini mengindikasikan bahwa Tsunade sedang memonitor Mizu no Kuni kan? Di dunia yang sudah damai seperti ini, untuk apa Tsunade memerintahkan Anbu memata-matai Mizu no Kuni?

"Ada sebuah peristiwa mencurigakan di sana. Menurut laporan dari elang Anbu yang datang, secara subjektif peristiwa itu adalah sesuatu yang begitu mencurigakan dan meresahkan."

"Tunggu dulu sebentar, Baa-san. Kau mengirimkan seorang Anbu ke sana? Tindakan yang seperti ini bisa dinilai sebagai tindakan spionase dan sangat mungkin Mizu no Kuni tidak bisa menerimanya. Bisa saja mereka memerintahkan beberapa shinobi dari Kirigakure yang menjadi basis operasi militer mereka untuk menyerang Konoha sebagai tindak peringatan," potong Naruto dan menjelaskan logikanya.

Benar sekali. Yang dipikirkan oleh Naruto bukanlah sebuah hal omong kosong. Secara logika memang tindakan satu sisi yang dilakukan oleh Tsunade adalah aksi spionase terhadap negara lain. Probabilitas terciptanya sebuah konfrontasi nyata adanya.

"Oh, kulihat cara berpikirmu sudah lebih berkembang ya sekarang?" tanya Tsunade mengalihkan topik. Meskipun begitu, Naruto tidak terkecoh begitu saja. Dia akan benar-benar serius jika menyangkut kedamaian dunianya sekarang.

"Fokus pada masalahnya, Hokage-sama," jawab Naruto sedikit dingin.

Tsunade yang mendengar panggilan Naruto kepadanya berganti menjadi lebih formal hanya menyeringai.

"Tenang saja, Naruto. Tindakan ini adalah sebuah tindakan yang sangat wajar dilakukan oleh masing-masing desa tersembunyi. Masing-masing negara besar memerintahkan setiap Kage yang menjabat untuk melakukan hal yang seperti ini. Para Daimyo tidak sepenuhnya percaya pada negara yang lain, dan aku juga sama. Ini adalah antisipasi supaya kita tetap mengetahui bahwa mereka tidak sedang melakukan sesuatu yang berbahaya dan mengancam," jelas Tsunade.

"Tapi-"

Setumpuk kertas laporan yang disimpan di dalam sebuah stopmap dibanting ke meja oleh Tsunade. Dia menatap Naruto datar, seolah memerintahkannya untuk mengambil dan membaca setiap kata yang tertulis di dalam sana.

Naruto yang paham maksudnya melangkah ke depan. Dia membukanya dan terlihat ada beberapa laporan tertulis serta lampiran.

Beberapa menit Naruto membacanya, dia tersentak. Tubuhnya menjadi menegang sekarang. Seluruh informasi yang terkandung dalam laporan itu membuatnya cukup terkejut karena di sana dituliskan bahwa ada sejumlah shinobi tidak dikenal sedang menyamar di dalam Konoha. Anbu yang bertugas mengamati keadaan desa melaporkan bahwa mereka berasal dari negara adidaya yang lainnya. Tsuchi no Kuni, Kaze no Kuni, Mizu no Kuni, dan Kaminari no Kuni. Semuanya ada. Ini adalah bukti otentik yang didapatkan oleh para Anbu bahwa tidak hanya Hi no Kuni saja yang sedang melakukan spionase.

Si pirang benar-benar terkejut dengan fakta ini.

"Sudah paham? Bukti ini tidak bisa dibantah. Jika kau masih ragu dan mulai tidak percaya pada negaramu sendiri, buang perasaan itu jauh-jauh."

Naruto terdiam.

"Kami tidak akan mengambil sebuah tindakan tanpa alasan, Naruto. Spionase Hi no Kuni dilaksanakan berdasarkan fakta ini. Kau tau kan? Pada dasarnya manusia tidak akan pernah bisa saling memercayai satu sama lain ketika sudah duduk di atas sebuah tahta. Mereka akan terus berusaha untuk menarik yang lainnya supaya tunduk di bawah satu kekuasaan absolut," jelas Tsunade lagi.

Ya… Naruto cukup setuju dengan opini yang dikatakan oleh Tsunade. Selama 18 tahun kehidupannya, dia sudah cukup memahami cara dunia berjalan. Yang dikatakan oleh Tsunade adalah fakta. Ambil saja contoh dari kejadian yang paling besar dalam sejarah Dunia Shinobi. Kasus Madara adalah salah satu contoh nyatanya. Dia berusaha membuat sebuah utopianya sendiri dengan membuat setiap manusia yang berdiri di bumi terjebak dalam Mugen Tsukuyominya.

Jika yang seperti ini sudah tidak terbantahkan, tidak akan ada lagi keraguan dalam hatinya. Dia hanya perlu mengikuti negaranya yang diyakininya paling menginginkan adanya perdamaian.

"Aku mengerti, Baa-san. Kumohon, maafkan sikapku yang tadi," pinta Naruto.

Sebuah senyuman lembut diberikan oleh Tsunade kepada Naruto.

"Tidak masalah, Naruto. Itu adalah respon yang wajar untuk seorang yang sangat menginginkan kedamaian dunia sepertimu. Terkadang kau memang harus mempertanyakan tindakan yang dilakukan oleh negaramu sendiri dan itu tidaklah salah. Aku senang kau mau berpikir sampai seperti itu."

Tsunade sendiri bersyukur bahwa Naruto tetap mau mempercayainya sebagai seorang atasan. Lagipula, akan jadi masalah yang tidak kecil jika Naruto lepas dari genggaman Konoha. Menurunnya kekuatan tempur Konoha akan menjadi dampak terkecil yang juga menjadi dampak paling besar karena akan membuka sebuah kemungkinan negara yang lain menginvasi Konoha ketika mengetahui Shinobi terkuat di dunia tidak lagi berafiliasi dengan Konoha.

"Kalau begitu, kembali ke masalah yang tadi. Kau siap, Naruto?" tanya Tsunade meminta konfirmasi Naruto supaya mereka bisa masuk ke dalam tahap yang lebih serius dari sekedar meragukan sesama.

"Tentu. Silahkan, Baa-san."

Tangan putih Tsunade membuka laci dari satu-satunya meja kerja yang tersedia di kantornya. Dia mengeluarkan sebuah kain kecil bersegel. Dari segel itu, muncul sebuah gulungan berwarna hitam polos yang juga bersegel di sana.

Ini cukup aneh ketika melihat bahwa sebuah pesan tentang laporan negara yang dikirimkan melalui seekor elang sampai terproteksi sebanyak dua kali. Biasanya ketika sudah dikirimkan oleh hewan, jarang diberikan proteksi. Naruto mengerti, jadi karena sebuah alasan, tindakan perlindungan yang seperti ini dibutuhkan. Ini pasti serius.

'Hmm… Dilihat dari ekspresinya, sepertinya Naruto menyadarinya. Dia bisa mengira-ngira urgensinya. Dia berkembang cukup pesat pasca perang,' ucap Tsunade dalam hati ketika melihat respon Naruto.

"Kai," gumam Tsunade pelan.

Segel yang berada di gulungan itu menghilang ketika Tsunade membukanya. Dia melemparkan gulungan itu kepada Naruto yang berdiri di seberangnya. Tangkapan sempurna diperoleh Naruto. Dia akan membukanya sekarang ini.

Naruto membaca setiap kata yang tertulis dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau salah dalam membaca sebuah laporan penting. Ini sangat penting untuk dilakukan jika tidak mau salah persepsi. Kalau memang terjadi kesalah persepsi, nanti bisa saja berakhir memicu sebuah konfrontasi antara Hi no Kuni dan Mizu no Kuni. Dia tidak mau namanya dicatat dalam sejarah sebagai pemicu perang.

Beberapa menit sudah berlalu. Laporan panjang itu selesai dibacanya.

"!"

Reaksi tubuh Naruto langsung menegang di sana. Seperti yang sudah dibicarakan oleh Tsunade di awal. Hal yang seperti ini memang cukup meresahkan. Akan jadi hal yang buruk jika tidak segera ditangani dengan cepat.

Tsunade yang menyadari bahwa Naruto sudah selesai membacanya, akhirnya memutuskan untuk angkat bicara lagi. Memberikan briefing lanjutan perihal situasi yang sedang dihadapi ini.

"Ini adalah misimu, Naruto."

Iris safir Naruto melirik ke arah Tsunade yang menatapnya serius.

"Misi tingkat A dengan sebuah kemungkinan untuk naik ke tingkat S.

Kasus Mizu no Kuni secara resmi kubuka dan kulimpahkan kepadamu."

Sebuah anggukan tanda setuju diberikan oleh Naruto. Dia sangat mau dan bahkan akan menawarkan dirinya sendiri untuk melaksanakan misi ini meskipun tingkat kesulitan dan bahayanya tinggi. Yang paling penting untuk dirinya adalah kedamaian dunia. Tidak masalah harus mengotori tangannya sendiri supaya seluruh masyarakat sipil tidak mengalami pahitnya perang sekali lagi.

"Kapan dan dengan siapa aku berangkat?" tanya Naruto.

"Kau akan bersama dengan Shikamaru. Dia yang akan bertindak sebagai pemimpin tim kecilmu. Bukan apa-apa, tapi kemampuan berpikir Shikamaru akan sangat menguntungkan dan lebih cocok untuk digunakan dalam misi yang seperti ini. Kau paham kan, Naruto?" ucap Tsunade.

Mengangguk adalah satu-satunya respon yang diberikan oleh Naruto. Dia sendiri juga paham jika intelejensi Shikamaru akan jadi faktor yang lebih penting dalam meningkatkan tingkat keberhasilan misi ini. Kehati-hatian dan rasionalitas Shikamaru akan membantu mereka memutuskan sesuatu yang aman sehingga tidak sampai terjadi sebuah konflik antar negara.

"Dua hari lagi, kau akan berangkat. Ngomong-ngomong, aku sudah lebih dahulu memanggil Shikamaru tadi sebelum kau. Jadi kau tidak perlu menemuinya untuk mengonfirmasi perihal misi ini. Manfaatkan dua hari ini untuk menikmati hidupmu dan menyiapkan mentalmu terlebih dahulu, Naruto. Kau akan segera terjun ke sebuah kasus yang rumit mulai dari sekarang."

"Dimengerti, Baa-san!"

.

.

.

Langit sudah menggelap sekarang. Tidak terasa pengarahan Naruto di ruang Hokage tadi memakan waktu yang cukup lama.

Kaki jenjang Naruto melangkah dengan kecepatan normal menuju ke rumah yang ditinggalinya. Dia baru saja dari kantor Hokage untuk menerima panggilan misi untuknya dan Shikamaru. Sekarang ini yang ingin dilakukannya adalah bersantai terlebih dahulu di rumah. Yah, dia harus menikmati kehidupan rumahnya sebelum berangkat ke Mizu no Kuni besok lusa.

Jika memikirkan tentang rumah, dia jadi mengingat bahwa ada sebuah hal yang berbeda sejak sembilan hari yang lalu. Dia tidak lagi tinggal sendirian. Ada seorang gadis yang tinggal bersamanya di bawah satu atap yang sama. Dia adalah gadis yang ditemuinya ketika sedang mendapat misi tingkat A yang terasa seperti misi tingkat C lebih dari seminggu yang lalu itu.

'Hmm… Kira-kira dia sedang apa ya, Kurma-chan?' batin Naruto bertelepati kepada partnernya.

'Wahai bedebah, tidak bisakah kau menutup mulut busukmu untuk sebentar saja? Aku sedang malas berdebat denganmu.'

Naruto tersenyum sendiri ketika mendengar nada malas dari rubah raksasa yang tertanam dalam tubuhnya. Interaksi yang dilakukan olehnya dengan Kurama memang terhitung cukup kasar, tapi itu adalah sebuah cara mereka untuk saling mempererat persahabatan mereka.

Pikiran Naruto kembali lagi kepada gadis yang tinggal seatap dengannya. Rasa penasaran menyerangnya. Dia entah kenapa ingin tahu apakah Gabriel—gadis yang tinggal dengannya—melakukan sesuatu di rumah atau tidak.

Memikirkan hal itu membuat Naruto ingin cepat-cepat pulang saja. Dia sedikit merasa rindu dengan tingkah polos dan kadang mengesalkan gadis itu.

Dia menambah kecepatan berjalannya menjadi lebih cepat sebelum akhirnya berganti menjadi sebuah langkah lari dan sekarang juga ditambah lagi dengan sedikit lompatan ke atap rumah warga.

Naruto berlari dengan kecepatan yang cukup tinggi sebelum akhirnya melompat tinggi dari sebuah atap rumah.

Hup!

Sebuah pendaratan yang sempurna. Naruto berhasil mendarat di depan pintu rumah sederhananya yang berada sedikit di tengah desa. Tangannya sudah gatal untuk memegang gagang pintu dan membukanya. Ingin rasanya dia langsung berteriak, tapi rasa gengsi muncul di hatinya. Rasanya akan aneh kalau dia berteriak-teriak seperti itu.

"Aku pulang," gumam Naruto pelan ketika dia membuka pintu dan memasuki rumah.

Derap langkah kaki yang tergesa terdengar dari dalam. Sesaat kemudian, seorang gadis pirang muncul dengan wajah antusias.

"Narutoo~ Selamat datang ya!" jawab Gabriel sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Naruto langsung pucat pasi ketika melihat pose Gabriel yang satu itu. Ah tidak. Dia tidak akan siap!

'Ughh! Mayday mayday, UN kepada Kurma UN kepada Kurma. Brace for impact!' batin Naruto panik.

Grep…

Gabriel memberikan sebuah pelukan selamat datang kepada Naruto.

"Aaaa… G-Gab-san. T-Tolong lepaskan," cicit Naruto pelan. Wajahnya yang tadi pucat sedikit demi sedikit berganti memerah. Well, ini adalah sebuah serangan psikologis untuknya yang merupakan seorang lelaki normal. Memang benar dia sedikit menutup diri dari lawan jenisnya, tapi kalau diserang seperti ini sih dia bisa-bisa kehilangan ketenangannya lho!

"Hee? Kenapa? Aku tadi lihat di televisi ada film yang memperlihatkan ketika seseorang pulang, dia disambut dengan sebuah pelukan. Aku mau coba deh. Naruto tidak mau ya?" tanya Gabriel dengan tatapan polos.

"Bu-Bukannya tidak mau. Tapi ini berbahaya, Gab-san. Tolong lepaskan ya?" pinta Naruto.

"Berbahaya gimana? Memangnya sekarang pelukan bisa bikin mati ya?"

'Iya bisaa! Astaga bisa habis darah gegara mimisan aku ini!' teriak Naruto dalam hatinya. Dia memegang kedua lengan Gabriel dan mendorongnya menjauh. Dia berkata, "Maaf, Gab-san."

Gabriel hanya menatap Naruto dengan pandangan bingung. Ini berbeda dengan yang ada di televisi tadi. Di televisi tadi Gabriel melihat respon dari cowok yang pulang dan diberi sebuah pelukan malah terlihat senang-senang saja. Sedangkan Naruto malah tidak mau. Dasar aneh.

Pelukan Gabriel sudah sepenuhnya terlepas. Naruto sudah terbebas dari yang namanya penderitaan yang nikmat. Dia mengusap dadanya penuh syukur. Mengabaikan tatapan bingung Gabriel.

Mereka memutuskan untuk tidak memikirkannya dan berjalan lebih masuk ke dalam rumahnya dan memilih untuk duduk di ruang tamu. Mereka berdua terlarut dengan pikirannya masing-masing. Naruto dengan misi yang akan dijalaninya besok lusa, dan Gabriel yang masih memikirkan apakah pelukannya tadi salah. Ceilah…

Naruto berpikir, bagaimana caranya dia bisa dengan tenang pergi keluar desa ketika ada sesosok eksistensi yang ditemukannya sedang duduk bersamanya di rumah. Naruto takut Gabriel akan kesulitan ketika dia sedang pergi. Lagipula, pada dasarnya Gabriel juga merupakan tanggung jawabnya dan sangat wajar jika Naruto berpikir yang seperti ini.

Oke, singkirkan itu sejenak. Yang paling penting, sekarang bagaimana dia harus izin untuk pergi. Naruto memutar otaknya untuk memikirkan ide.

Belum selesai Naruto berpikir, Gabriel membuka mulutnya untuk menyuarakan keinginannya.

"Naruto. Tiba-tiba, aku ingin makan ramen sekarang."

Naruto mengerjapkan matanya ketika mendengar permintaan Gabriel. Apakah mungkin kebiasaannya yang suka makan ramen jadi tertular kepada Gabriel? Tidak masalah. Yang penting ini nanti bisa dia jadikan sebagai momen untuk meminta izin pergi dari Gabriel.

"Kalau begitu mau pergi? Aku tau penjual ramen terenak sedunia," tawar Naruto.

Sebuah senyuman senang terlukis indah di wajah Gabriel.

"Ummu!"

.

.

.

"Ara ara… Lihat siapa yang datang~"

"Ini dia si pirang favoritku! Duduklah, Nak!"

Naruto tersenyum simpul ketika mendengar sebuah suara yang sangat familiar menyapa indera pendengarannya.

Itu adalah Ayame dan Teuchi. Duo pemilik kedia Ichiraku. Naruto sudah mengenali mereka berdua sejak masih bocah karena memang hanya tempat ini saja yang mau menerimanya dulu. Bahkan Teuchi dan Ayame malah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kecil mereka ketika yang lainnya memperlakukannya seperti binatang. Mereka adalah salah satu orang terdekat Naruto.

"Konbanwa, Ayame-nee, Teuchi Ji-san," sapa Naruto dengan sebuah senyuman tipis. Dia mengambil duduk di sebuah kursi dan diikuti oleh Gabriel yang duduk di sebelahnya dalam diam.

"Miso ramen dua ya."

"Okee! Tunggu sebentar," jawab Teuchi.

Ayame yang sejak tadi melihat Naruto menyadari bahwa Naruto tidak datang sendirian, tapi dengan seorang gadis cantik yang sangat asing untuknya. Apakah gadis ini…?
Sebuah senyuman jahil mengembang di wajah Ayame.

"Ara? Siapa gadis ini, Naruto? Aku sepertinya belum pernah melihatnya di Konoha," ucap Ayame dengan sebelah alis yang dinaik-naikkan untuk menggoda.

"Oh, dia? Perkenalkan dirimu dong, Gab-san," ucap Naruto pada Gabriel.

Gabriel menganggukkan kepalanya lalu tersenyum manis kepada Ayame.

"Perkenalkan, namaku adalah Namikaze Gabriel!" seru Gabriel mengenalkan dirinya. Ah, benar juga. Gabriel menggunakan marga Namikaze atas usulan Tsunade dan jika ditanyai tentang identitasnya, Gabriel harus menjawab bahwa dia adalah kerabat dari Yondaime Hokage yang menggunakan marga Namikaze. Hanya supaya segala urusan administrasi lebih mudah dilakukan.

Ayame mengerutkan dahinya ketika mendengar marga itu. Dia merasa tidak asing dengan marga itu. Tapi dimana ya… Yang lebih penting, apa hubungan gadis ini dengan Naruto? Itu adalah pertanyaan utama Ayame di benaknya. Dia menyuarakan pertanyaannya.

"Apa hubunganmu dengan Naruto? Cukup penasaran karena Naruto hampir tidak pernah membawa seorang gadis untuk pergi berdua seperti ini lho…" ucap Ayame dengan sebuah alasan yang logis.

Gabriel terlihat melirik ke atas, berpikir. Sebelum dia menjawab pertanyaan Ayame tentang hubungannya dengan Naruto.

"Dia bertanggung jawab penuh terhadapku!"

Ayame tersentak. Bertanggung jawab penuh? Maksudnya itu kan? Yang seperti itu? Serius? Wajah Ayame bersemu merah. Dia tidak menyangka adik kecilnya sudah bertindak secepat ini tanda adanya rumor yang tersebar. Pokoknya dia ikut berbahagia tentang adiknya ini.

"Aaa… Naruto! Kau sudah… Wah selamat ya!"

Naruto menatap Ayame bingung selama beberapa detik, sampai dia menyadari maksudnya. Wajahnya ikut merona merah.

"T-Tidak! Bukan seperti itu, Ayame-nee! Aku memang bertanggung jawab kepadanya, tapi bukan dalam konteks yang seperti itu!" bantah Naruto panik.

"Terus-terus? Yang seperti apa konteksnya? Ngomong-ngomong, kurasa Klan Uzumaki bertambah ya anggotanya," goda Ayame.

"Sudah kubilang bukan! Dia adalah seseorang yang kutemukan ketika misi. Aku membawanya pulang dan Tsunade melimpahkan tanggung jawabnya kepadaku. Dasar Nenek Tua sialan!" gerutu Naruto dengan wajah yang masih memerah.

Sebuah tawa kecil keluar dari mulut Ayame dan Gabriel. Mereka merasa geli ketika melihat respon Naruto yang menurut mereka lucu.

Ayame sendiri sedikit kecewa bahwa ekspektasinya yang berupa Naruto dan Gabriel memiliki sebuah hubungan khusus ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Sebenarnya akan menjadi sebuah kabar yang begitu menggembirakan untuknya dan ayahnya jika memang seperti itu. Dalam hatinya, dia hanya menginginkan kebahagiaan dari Naruto. Dia sudah terpuruk sangat lama sejak berakhirnya Perang Dunia Shinobi ke 4.

Gabriel cukup terhibur dengan interaksi antara Naruto dan Ayame yang terlihat seperti seorang kakak yang sedang menjahili adiknya. Dia merasa hangat.

Ada sebuah pertanyaan yang hinggap di pikiran Gabriel.

"Kau sering ke sini ya, Naruto?" tanya Gabriel.

"Yups! Ini adalah tempat yang paling sering kudatangi dari seluruh tempat di Konoha," jawab Naruto.

Jawaban Naruto membuat Gabriel seolah menemukan kepingan puzzle yang sedang dipasangnya di dalam pikiran. Pantas saja Naruto terlihat sangat dekat orang di kedai ini. Ternyata dia memang sering ke sini. Sangat sering malahan.

"Ini dia. Dua Miso Ramen. Silahkan dinikmati!" ucap Teuchi menghidangkan masakannya yang disambut oleh Gabriel dan Naruto.

Mereka berdua menerimanya dan memakannya dalam diam. Menikmati setiap helai mie ramen yang masuk ke dalam kerongkongan mereka. Mengecap seluruh rasa dengan lidah mereka.

Setelah beberapa menit dimanjakan oleh semangkuk mie ramen, akhirnya makanan mereka habis.

Dari ekspresi di wajah Gabriel terlihat bahwa dia sudah cukup kenyang. Begitu pula dengan Naruto. Naruto yang biasanya menambah, minimal tiga mangkuk, tidak terlihat akan menambah. Sepertinya memang sedang tidak mood. Well, itu adalah hal yang cukup mengherankan Ayame dan Teuchi yang hafal betul tabiat serta nafsu makan Naruto yang begitu besar.

"Beneran tidak tambah?" tanya Ayame ragu.

"Hmm? Tentu. Aku sudah cukup kenyang kok," jawab Naruto singkat. Naruto berdiri dan meletakkan beberapa uang koin di atas meja.

Ayame hanya menganggukkan kepalanya paham.

Gabriel menatap Naruto yang berdiri secara tiba-tiba dalam diam sebelum dia menyuarakan pertanyaan yang terbesit di pikirannya.

"Kita pulang sekarang, Naruto?" tanya Gabriel.

"Tidak. Kita akan menuju ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang. Ayame-nee, Teuchi Ji-san. Aku dan Gabriel pamit dulu. Ayo, Gab-san!" ucap Naruto yang dijawab dengan sebuah lambaian tangan oleh Ayame dan Teuchi. Gabriel sendiri mengikuti Naruto untuk berdiri dan berjalan di belakangnya.

Duo pirang kita ini berjalan beriringan dengan kecepatan normal. Terlihat bahwa mereka berdua menjadi perhatian banyak orang. Tentu saja berkat Naruto yang merupakan pahlawan dunia membuat semua orang segan. Mereka pasti menyapa Naruto ketika mereka melihatnya. Nah, berhubung sekarang Naruto tidak sendirian, maka perhatian yang didapatnya malah lebih banyak lagi. Ada beberapa rumor yang langsung tercipta dikalangan masyarakat Konoha.

Beralih ke Gabriel, dia penasaran, kemana mereka akan menuju setelah ini. Naruto tidak mengatakan secara spesifik kemana mereka akan pergi. Apakah menuju ke sebuah tempat yang penting, atau apa. Dia hanya ingin tahu itu. Tapi ketika dia akan bertanya, dia harus terpaksa mengunci mulutnya rapat-rapat karena Naruto terlihat memasang ekspresi serius. Ekspresi yang kali ini… Gabriel baru sekali melihat Naruto berekspresi yang seperti ini. Meskipun begitu, dia merasakan sebuah perasaan yang cukup aneh ketika melihat Naruto yang seperti ini. Entah kenapa… Naruto juga terlihat gelisah?

Mereka berjalan dalam diam.

Sampai beberapa saat kemudian, dia mereka berhenti di sebuah taman kecil di depan sebuah bangunan yang asing untuk Gabriel. Dia melihat papan yang ditulisi nama tempat ini.

Akademi Ninja

'Kenapa Naruto membawaku ke tempat ini ya? Aneh sekali…' batin Gabriel heran.

Jelas saja Gabriel heran. Untuk apa ke tempat yang seperti ini malam-malam? Apakah Naruto akan menyelinap atau apa?

Terlihat Naruto mengambil langkahnya untuk duduk di sebuah ayunan tua. Dari pengaturan tingginya, sudah jelas bahwa ayunan itu dibuat untuk anak kecil. Entah kenapa, Naruto tidak mempedulikannya dan duduk dengan tenang.

Gabriel menatapnya dalam diam kali ini. Tidak ada lagi ekspresi heran atau apapun. Dia merasakan bahwa emosi Naruto sepertinya sedikit bergejolak sekarang. Empatinya yang pada dasarnya besar bekerja optimal saat melihat Naruto. Dia menyadari, bahwa tempat ini pasti memiliki dampak psikologis yang cukup besar kepada Naruto. Entah apa yang sudah terjadi dulu.

Gadis pirang itu berjalan ke samping Naruto dan mengelus punggungnya perlahan. Berusaha memberikan perasaan nyaman kepada Naruto dan berusaha menenangkan emosi Naruto yang bergejolak.

"Ada apa?" tanya Gabriel lembut.

Mulut Naruto terbuka sedikit, lalu tertutup kembali. Sebuah senyuman masam terlukis di wajahnya.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sering kemari malam-malam. Kau tau? Tempat ini begitu bersejarah untukku. Salah satu tempat paling berkesan dalam hidupku," cerita Naruto.

"Kenapa seperti itu?"

Diam sejenak sebelum Naruto menjawabnya.

"Tempat ini adalah tempat dimana aku pertama kali mendapatkan pengakuan dari teman-temanku. Ketika aku merindukan momen-momen itu aku selalu pergi kemari."

Gabriel mengangukkan kepalanya paham. Meskipun begitu, dia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam lagi yang disembunyikan oleh Naruto. Dan lagi, pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan Naruto kepadanya. Dia tahu bahwa itu adalah salah satu alasan membawanya kesini. Tapi Naruto belum menyuarakannya.

"Gab-san…"

"Hmm?"

"Aku akan pergi."

"H-Hah?! Kemana? Kau akan meninggalkanku sendirian di Konoha?" tanya Gabriel panik. Yah, sedikit banyak dia khawatir jika keberadaannya adalah alasan kenapa Naruto meninggalkan Konoha. Itu berarti Gabriel menjadi beban untuk Naruto kan? Tidak tidak. Dia tidak boleh berpikiran buruk. Dia harus mendengarkan alasan Naruto dengan jelas.

"Jangan salah sangka, Gab-san. Aku hanya akan melaksanakan sebuah misi. Kau tau kan? Aku adalah seorang Shinobi. Melaksanakan sebuah misi adalah hal fundamental bagi kami. Pada dasarnya kami dicetak dengan harapan menyelesaikan misi kan."

Gabriel menghela nafas lega. Setidaknya dia mendapatkan sebuah fakta bahwa Naruto pergi karena akan menjalankan misi. Bukan karena terganggu dengan keberadaannya yang menumpang di kediaman Naruto.

"Kapan?"

"Lusa."

"Ap-Apa?! Serius?! Itu mendadak banget lho!" seru Gabriel tidak percaya.

Naruto hanya tersenyum simpul mendengar hal tersebut. Dia tidak terlalu terkejut jika mengetahui reaksi Gabriel akan seperti ini. Yah, seminggu lebih bersama Gabriel membuatnya sedikit paham bahwa Gabriel adalah orang yang cenderung polos dan tidak memikirkan hal yang seperti ini.

"B-Berapa lama kau pergi? Apakah misimu berbahaya?" tanya Gabriel.

"Aku tidak tau… Bisa saja satu minggu atau lebih. Tidak bisa dipastikan untuk jangka waktunya. Untuk tingkat bahayanya, karena yang diberikan kepadaku adalah sebuah misi tingkat A dengan kemungkinan naik ke tingkat yang lebih tinggi, aku bisa mengatakan bahwa ini adalah misi yang sepertinya cukup beresiko," jelas Naruto.

Rasa cemas Gabriel langsung meningkat ketika mendengar penjelasan Naruto tentang misinya. Iris safir Naruto menatap Gabriel yang terlihat khawatir. Hanya menatapnya dengan tatapan biasa tanpa tersirat emosi yang lebih.

"Tenanglah, Gab-san. Aku tidak apa-apa. Oh, ngomong-ngomong aku akan berbicara dengan Sakura-chan supaya menemanimu ketika aku pergi nanti. Supaya kau mendapat teman baru dan tidak kesepian."

"Terima kasih. Tapi, yang kukatakan bukan itu intinya, Naruto."

Naruto mengernyitkan dahinya. Dia salah mengartikan maksud dari ucapan Gabriel ya? Maksudnya, dalam pikirannya Naruto hanya berpikir bahwa Gabriel pasti merasa kerepotan jika Naruto jauh darinya. Sepertinya itu adalah kesimpulan yang salah.

"Lalu apa?" tanya Naruto heran.

"A-Aku mengkhawatirkanmu tau!"

Jantung Naruto serasa berhenti berdetak, lalu berdegup kencang. Tangannya sedikit bergetar. Sedikit demi sedikit, hatinya terasa menghangat. Rasanya sudah lama dia tidak mendapat ungkapan khawatir yang ditunjukkan terang-terangan seperti ini sejak dua tahun yang lalu. Mungkin beberapa kali Sakura yang merupakan teman terdekatnya juga seperti itu, serta si nenek seksi juga. Tapi yang lainnya, mereka hanya melihat Naruto sebagai seorang pahlawan yang selalu baik-baik saja dan akan terus seperti itu. Padahal jika dikembalikan kepada hakikatnya, Naruto hanyalah seorang manusia yang sama seperti mereka semua. Tidak mungkin hidupnya selalu baik-baik saja.

Mendengar ungkapan ini dari Gabriel benar-benar memaksanya untuk tersenyum tulus. Iris safirnya menatap teduh wajah ayu Gabriel.

"Sungguh, Gab-san. Aku tidak apa-apa," ucap Naruto menenangkan.

"Aku tau kau adalah yang terkuat, Naruto. Tapi, dalam dunia ini tidak ada yang pasti. Tidak ada jaminan bahwa kau akan kembali dengan selamat," bantah Gabriel. Sedikit banyak Gabriel tidak rela Naruto melakukan misi yang satu ini. Naruto adalah seseorang yang membawanya ke Konoha dan menjadi temannya setelah dia bangun-bangun di tempat terpencil dan kehilangan jati dirinya. Dia tidak ingin satu-satunya temannya ini kenapa-napa.

Naruto membenarkan pernyataan Gabriel. Benar sekali. Dunia ini begitu luas dan terang serta gelap di saat yang sama. Ada ribuan rahasia dunia yang tidak diketahuinya dan mungkin saja… ada sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya.

"Berjanjilah kepadaku, Naruto—bahwa kau akan pulang dengan selamat," pinta Gabriel.

"Aku… Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk pulang dengan selamat. Untukku sendiri, serta untukmu," jawab Naruto tegas. Hatinya sudah menetapkan niat dengan jelas. Dia akan pulang dengan selamat.

Sebuah senyuman terukir secara perlahan di wajah Gabriel. Itu cukup. Jawaban yang diberikan oleh Naruto sudah cukup untuk membuatnya merasa tenang.

"Aku mengerti. Berusahalah, Naruto."

"Tentu saja!"

"Kalau begitu, kita pulang?"

"Iya. Ayo pulang… Gab-san."

.

.

.


Yah, emang gini adanya wkwk… Membosankan kan pasti udah tiga chapter plus satu prolog tapi nggak terlihat sedikit pun adanya scene aksi? Saya tahu kok. Tapi saya ingin menjalankan fic ini dengan tidak tergesa-gesa. Chapter ini berguna untuk membuka Arc pertama, yaitu Mizu's Conspiracy. Sudah cukup untuk bonding antara Naruto dan Gaburiiru untuk saat ini. Mulai dari sini, saya akan mengedepankan sisi mystery dan adventurenya karena sudah masuk ke dalam Arc yang serius.

Makasih sudah mau baca, apalagi fav, foll, sama review!

Kali ini mau review?


.

.

.

Di atas dinding besar yang mengelilingi Konoha, lebih tepatnya di atas gerbang utama, terlihat dua orang pemuda berumur 18 tahun sedang berdiri saling menatap. Mereka adalah Naruto dan Shikamaru. Pagi-pagi buta seperti ini, mereka sudah membuat jadwal pertemuan. Misi adalah alasannya.

Ya, ini sudah dua hari berlalu sejak pertama kali mereka memenuhi panggilan Sang Hokage yang membicarakan tentang penugasan terhadap mereka.

"Semua sudah siap?" tanya Shikamaru. Dia terlihat menghembuskan asap dari mulutnya.

"Ya. Kita bisa berangkat sekarang juga, Kapten."

Shikamaru memutar bola matanya malas ketika mendengar panggilan Naruto.

"Merepotkan… Panggil saja seperti biasanya, Naruto. Itu memuakkan," ucap Shikamaru menolak panggilan Naruto dengan titel kapten tim kecil mereka. Naruto hanya tersenyum khas setelah mendengar Shikamaru mengucapkan penolakannya.

"Oh ayolah, Shika. Aku kan hanya bercanda."

"Terserah."

Obrolan mereka berhenti sampai situ. Mata mereka berdua menatap datar ke arah hamparan luas di luar Konoha. Hamparan bertuan, tapi tidak menurunkan kadar bahayanya. Mulai dari sini, mereka akan berjalan menuju ke tempat berbahaya.

Mizu no Kuni yang berada di sebelah barat Hi no Kuni adalah tempat tujuan mereka. Satu-satunya negara adidaya yang teritorinya terpecah menjadi beberapa pulau kecil di sekitar pulau utama mereka.

Misi mereka adalah untuk memaksa penanganan terhadap kasus yang disembunyikan oleh Mizu no Kuni. Dengan detail bahwa adanya laporan dari Anbu tentang desa kecil yang beberapa masyarakatnya secara mendadak menghilang dan tidak pernah kembali. Sangat aneh karena menurut laporan, peristiwa ini sudah terjadi selama hampir dua minggu, tapi tidak adanya ninja Kirigakure sebagai kekuatan militer serta penyidik yang menanganinya.

Setelah membaca laporan, tidak akan ada salahnya berasumsi bahwa Mizu no Kuni adalah dalang dari hal itu. Mereka menyiapkan sesuatu dan dirahasiakan dari aliansi kelima negara adidaya. Tsunade selaku perwakilan dari para Daimyo mengambil tindakan lanjutan secepat mungkin. Naruto dan Shikamaru adalah eksekutornya.

"Ayo pergi, Shika."

Shikamaru yang sedang memegang sebatang rokok menyala menjatuhkannya di tanah sebelum menginjaknya. Dia menghela nafas panjang.

Tatapan datar Shikamaru berganti lebih serius. Begitu pula Naruto.

"Operasi… dimulai!"


Chapter 3—END