Jauh di dalam hutan belantara yang termasuk ke dalam teritorial Hi no Kuni, terlihat dua orang pemuda sedang melompat dari dahan satu ke dahan yang lain. Salah satu dari mereka, yang memiliki rambut pirang jabrik memimpin perjalanan mereka. Sedangkan yang berambut hitam berkuncir berada di belakangnya sambil mengamati keadaan sekitar.
Mereka adalah Shinobi yang berasal dari Konoha. Desa tersembunyi yang menjadi basis operasi militer Hi no Kuni. Mizu no Kuni adalah yang tempat yang mereka tuju saat ini. Mereka berdua memiliki sebuah misi tingkat A untuk menangani sebuah kasus mencurigakan di Mizu no Kuni. Negara yang diasumsikan memiliki sebuah rencana tersembunyi di balik tabir aliansi kelima negara adidaya.
"Naruto, akan kuingatkan sekali lagi, kita tidak boleh gegabah dalam bertindak ketika sampai di sana nanti. Sedikit pun kesalahan yang kita perbuat bisa berujung menimbulkan sebuah konflik antar negara. Kau mengerti kan?" ucap Shikamaru, pemuda yang berambut hitam.
"Untuk yang ketujuh kalinya, Shika. Iya, aku mengerti. Kenapa sih kau banyak bicara? Jarang-jarang aku melihatmu banyak bicara seperti ini," gerutu Naruto pelan. Yah, dia sedikit kesal karena harus berkali-kali diwanti-wanti oleh Shikamaru dengan kalimat yang mirip-mirip. Naruto memang sedikit lambat dalam berpikir, tapi dia juga tidak sebodoh itu untuk memahami situasi dan kondisi. Dia tahu betul bahwa misi ini sangat beresiko karena sedikit banyak juga bisa dijadikan senjata politik Mizu no Kuni jika mereka salah langkah. Jika itu terjadi, nanti pasti berujung pada perselisihan paham dan akan terjadi sebuah agresi militer antara Hi no Kuni dan Mizu no Kuni, yang berarti… perang.
Tidak. Cukup sekali saja Naruto merasakan perasaan terintimidasi dan ketakutan karena perang. Sudah cukup dia dengan yang namanya perang. Itu adalah hal yang mengerikan. Pertarungan sejauh mata memandang, ribuan korban yang berjatuhan di hamparan luas serta hutan-hutan. Dia tidak mau melihat pemandangan itu lagi.
"Aku sangat paham dengan resiko misi ini, Shika. Aku hargai peringatanmu. Aku pasti akan mengingatnya dengan baik. Tapi jika nanti aku sedikit lepas kendali dan terbawa perasaanku, kumohon jangan sungkan-sungkan kepadaku," ucap Naruto.
Shikamaru hanya tersenyum tipis mendengar permintaan Naruto. Sebenarnya tanpa diminta pun dia akan melakukan hal itu. Apalagi yang bisa dia lakukan kecuali yang seperti ini? Lagipula itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai pemimpin tim ini.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka dalam diam. Masing-masing dari mereka fokus kepada misi yang diembannya. Berkali-kali dalam pikiran mereka mengingatkan diri sendiri tentang konsekuensi yang harus dihadapi jika mereka salah melangkah.
Secara tidak sadar, mereka akan menciptakan beban di pundak mereka sendiri.
.
.
.
Memento
Disclaimer: Naruto dan High School DxD bukan punya saya.
Rated: T
Genre: Adventure, (Fail) Comedy, Friendship, Mystery, and a lil bit of Romance (gonna work rly hard for this one).
Warning: Alternate Fact and Reality, Alternate Timeline, Out of Character, dan yang paling penting… Elemental Nations Universe!
Arc Pertama: Conspiracy in Mizu
Chapter 4
.
.
.
Entah sudah berapa lama Naruto dan Shikamaru berlarian dan melompati dahan. Waktu terasa cepat. Cepat karena mereka tegang dalam melakukan misi beresiko sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sudah hampir keluar dari Konoha. Sedikit lebih dekat dengan tempat tujuan mereka.
Rasa tegang yang mereka rasakan semakin menjadi. Ini adalah pertama kalinya mereka melakukan sebuah misi spionase dan infiltrasi semenjak perang berakhir. Secara psikologis mereka cukup terbebani karena takut melakukan sebuah kesalahan nantinya. Memang pada dasarnya sangat tidak mungkin semua hal sesuai dengan ekspektasi seseorang, jadi mereka harus terus menajamkan pikiran mereka dan berimprovisasi jika nanti menemui kesulitan.
Wajah mereka bercucuran peluh. Mereka sedang berada di kecepatan tertingginya. Urgensi dari misi ini benar-benar memaksa mereka untuk harus sampai di Mizu hari ini juga. Malam ini lebih tepatnya. Mereka tidak bisa membiarkan korban hilang bertambah lagi karena jika mereka terlambat sehari saja, sangat mungkin kalau mereka bisa melewatkan sesuatu yang penting dan malah terjebak di situasi yang tidak bersahabat dengan mereka.
Masing-masing netra mereka melihat sebuah cahaya terang di ujung hutan, tanda mereka akan segera terbebas dari gelapnya hutan belantara ini. Dengan lompatan terakhir, masing-masing dari melompat dari dahan menuju ke tempat penuh cahaya itu.
Naruto dan Shikamaru mendarat di sebuah tanah lapang. Mereka sudah sepenuhnya keluar dari hutan Hi no Kuni.
Dengan ini, mereka sudah masuk ke dalam wilayah sebuah negara kecil yang berbatasan langsung dengan Hi no Kuni, yaitu Nami no Kuni.
Mereka berdua berdiri diam dan saling menatap. Shikamaru berinisiatif mengeluarkan pemikirannya.
"Dari sini, kita mulai berjalan saja, Naruto. Sekalian untuk sedikit beristirahat," ucap Shikamaru memberikan komando.
Naruto menganggukkan kepalanya setuju. Memang benar akan sangat penting bagi mereka untuk menyimpan tenaga mereka baik-baik. Akan jadi hal yang merepotkan kalau mereka sudah terlalu lelah hanya dengan melakukan perjalanan saja. Misi bisa kacau karena mereka terlalu memforsir energi mereka. Dengan pertimbangan yang seperti itu, adalah hal yang sangat logis mengambil keputusan ini.
Ngomong-ngomong, ketika memasuki teritorial Nami no Kuni ini, Naruto jadi mengingat sesuatu.
Negara ini adalah negara pertama yang dikunjungi Naruto ketika pertama kali menginjakkan kakinya keluar dari Konoha. Nami no Kuni memiliki sebuah kesan tersendiri untuknya. Negeri Ombak ini adalah dimana dia mengantarkan seorang kliennya, Tazuna. Ah, rasanya kisah itu sudah berlalu cukup lama. Mungkin sekitar lima tahun yang lalu bukan?
"Naruto. Kau menunggu apa? Kita harus segera berjalan lagi," tegur Shikamaru.
Tubuh Naruto sedikit tersentak ketika mendengar teguran Naruto. Pikirannya yang sebelumnya sedikit bernostalgia dipaksa kembali. Dia melihat Shikamaru yang menatapnya dengan tatapan bosan.
"Maafkan aku. Ayo."
Naruto melangkahkan kakinya menjejeri Shikamaru yang berada beberapa meter di depannya.
Sembari berjalan, Naruto kembali terpikir tentang yang dulu terjadi di negara ini. Secara spesifiknya ketika Naruto sedang melakukan misi pengawalan Tazuna.
Lima tahun yang lalu, Tim 7 diberikan sebuah misi tingkat C berupa pengawalan terhadap klien bernama Tazuna. Jika ditilik dari tingkatannya, seharusnya misi tingkat C ini tidak terlalu berbahaya dan bisa diselesaikan dengan cukup mudah. Setidaknya untuk sebuah tim Genin yang dibimbing oleh seorang Jounin elit.
Tapi itu semua berubah ketika mereka mendapatkan fakta bahwa mereka harus berhadapan dengan seorang mafia bernama Gatou. Gatou sendiri bukanlah seorang masalah yang sesungguhnya. Dia tidak lebih dari seorang pria brengsek yang memiliki banyak uang dan menghalalkan semua cara supaya bisnisnya lancar. Masalah yang sesungguhnya ketika ada dua orang Nukenin asal Kiri yang mengacau di sini. Mereka berdua adalah Nukenin berkompetensi tinggi yang disewa oleh Gatou.
Kirigakure no Kijin, Momochi Zabuza dan Hyoton no Haku, Yuki Haku.
Mereka berdua adalah Nukenin dengan kemampuan individu yang luar biasa. Hanya dua orang, tapi bisa dengan mudahnya memporak-porandakan formasi Tim 7. Kakashi yang menjadi Jounin pembimbing Tim 7 dan terhitung sebagai seorang Jounin elit serta mantan Anbu terbukti masih kesulitan menghadapi seorang Zabuza. Di lain sisi, Haku harus dihadapi oleh Naruto dan Sasuke yang kala itu masihlah seorang bocah yang baru saja terjun di kerasnya dunia Shinobi. Meskipun ada banyak sekali kekacauan yang terjadi dan bahkan seluruh anggota Tim 7 harus babak belur setelah konfrontasi itu, pada akhirnya Zabuza dan Haku tewas dalam misi ini.
Terlepas dari semua insiden berdarah itu. Peristiwa inilah yang memaksa Naruto untuk melihat dunia dengan kedua mata terbuka.
Dunia ini begitu kejam dan keras.
Ada ribuan perseteruan mulai dari yang kecil, lalu masalah internal yang tingkatnya antar klan, lalu konfrontasi antar desa kecil di dalam sebuah negara sampai yang berskala global seperti perang dunia. Tapi, ada satu hal pasti yang dipelajari oleh Naruto.
Tidak akan pernah ada asap jika tidak ada api.
Yang mana artinya adalah di balik segala perseteruan itu, ada sebuah alasan yang mendasarinya. Itu kemudian membuatnya tersadar dan menetapkan niat di dalam hatinya. Menyelesaikan permasalahan dengan cara damai adalah yang paling utama. Sebisa mungkin dia ingin menghindari adanya pertarungan. Jika membicarakan permasalahan secara damai tidak memungkinkan, maka dengan sangat terpaksa dia harus menggunakan kekerasan.
Pada beberapa kondisi, Naruto berhasil menggunakan menggunakan cara yang lebih damai daripada murni mengandalkan pukulan. Membicarakannya dengan mereka yang berseteru dengannya. Kasus invasi Konoha yang dilakukan oleh Pain adalah salah satunya. Memang benar dia bertarung dengannya di awal mula. Tapi pada akhirnya dia tetap saja berhasil menggunakan kalimat untuk memenangkan pertarungan akhirnya.
Naruto tahu bahwa pengambilan tindakan yang seperti itu tidak akan selalu bisa digunakan. Pada akhirnya nanti dia pasti akan menghadapi kasus dimana dia harus terpaksa 100% berpegangan kepada kemampuan bertarungnya. Tanpa sedikit pun mengubah pola pikir para musuhnya. Dia tahu hal itu dengan sangat pasti.
Jika hal yang seperti itu terjadi…
'Aku tidak akan menahan diri lagi.'
.
.
.
Matahari sudah semakin tenggelam. Langit terlihat jauh lebih jingga dari sebelumnya. Naruto dan Shikamaru berjalan di pinggiran Nami no Kuni. Sebisa mungkin mereka ingin menghindari pemukiman apalagi sampai kontak dengan warga di sini. Itu bisa membahayakan keberhasilan misi mereka.
"Naruto Nii-chan?"
Naruto refleks menolehkan kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil. Dia merutuki dirinya sendiri karena seharusnya dia tidak menanggapi panggilan itu. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa juga di pinggiran seperti ini dia masih dikenali.
Seorang pemuda yang terlihat beberapa tahun lebih muda dari Naruto tertangkap di mata biru Naruto. Ada setumpuk kayu yang dipanggul oleh pemuda itu. Ahh… Naruto mengenali pemuda ini. Dia adalah seseorang yang dulu pernah diubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Seorang bocah yang beberapa tahun lebih muda darinya.
"… Inari, kah?"
Pemuda yang dikenali Naruto sebagai Inari itu tersenyum lebar ketika melihat seseorang yang disapanya memang benar-benar orang yang diidolakannya sejak lima tahun silam.
"Sudah lama bukan, Nii-chan? Terakhir kali adalah setelah penyerangan di Konoha," ucap Inari dengan semangat.
Naruto sendiri hanya tersenyum kikuk. Di dalam pikirannya yang sekarang, dia hanya ingin fokus kepada misinya. Memang tadi sempat terbayang sedikit nostalgia dan pemikiran untuk mampir ke rumah seseorang yang dikenalinya di negara ini, tapi bukan ketika berangkat. Itu akan sangat-sangat mengganggu.
"Naruto Nii-chan mau ke Kiri ya?" tanya Inari.
Lidah Naruto terasa kaku. Dia merasa bingung harus berkata apa. Bukan sifat dasarnya untuk menjawab asal tentang hal yang seperti ini.
"Ya. Ada sebuah misi diplomasi dengan Mizu no Kuni," sahut Shikamaru yang sejak tadi diam dan memperhatikan. Sahutan ini adalah sebuah langkah preventif kepada Naruto. Dia cukup mengenali Naruto adalah seseorang yang sedikit labil. Dia tidak mau kerahasiaan misi dirusak dan dibocorkan secara tidak sengaja oleh Naruto.
"Nah, seperti itu, Inari," tambah Naruto.
Inari sendiri hanya menganggukkan kepala paham. Dia masih mempertahankan senyum lebarnya.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, Inari. Kami harus sampai secepat mungkin ke Mizu no Kuni. Kau juga sedang bekerja kan? Fokuslah dengan pekerjaanmu. Nanti tolong sampaikan salamku kepada Tazuna-san dan Tsunami-san ya," pamit Naruto. Dia ingin terbebas dari situasi ini secepat mungkin. Tidak ingin berlama-lama karena bisa saja misinya terganggu.
"Oh ayolah. Jangan seperti itu. Kau sudah kuanggap sebagai kakak yang tidak pernah kumiliki. Jangan sungkan denganku," tolak Inari.
"Bukan itu yang dimaksud. Kami memang benar-benar harus sampai secepat mungkin ke Mizu no Kuni. Kau tau maksud yang ini kan?" tanya Shikamaru.
"Maaf. Kukira Naruto Nii-chan hanya sungkan kepadaku."
"Tidak, bukan seperti itu."
"Oke, karena kalian sepertinya dalam sebuah situasi yang cukup mendesak, bagaimana kalau aku membantu kalian supaya bisa sampai secepat mungkin ke Mizu?" tawar Inari.
Shikamaru yang mendengar ini langsung memikirkannya matang-matang.
Mulai dari letak geografis, dari Nami no Kuni ini mereka harus menyeberangi lautan untuk sampai di Mizu. Mereka tidak memiliki seseorang yang dikenali untuk membantu mereka menyeberang. Oke, memang bisa saja mereka berjalan di air, tapi itu adalah sebuah tindakan yang sangat sia-sia dan bodoh. Selat itu cukup luas untuk dilewati dengan menggunakan chakra. Sama saja mereka membuang-buang chakra dan tenaga yang tidak perlu.
Dengan tawaran Inari, maka mereka akan menghemat biaya dan waktu yang dibutuhkan. Secara implisit Inari juga berkata dia bisa membawa mereka ke Mizu secepat mungkin, yang mengindikasikan bahwa Inari cukup hapal dengan perairan ini sampai bisa membuat rute paling pendek. Ini adalah sebuah penawaran yang sangat berguna untuk mereka berdua. Shikamaru berpikir, lebih baik dia mengambil penawaran yang ini. Tapi ada sebuah pertanyaan yang mengganggunya.
Apakah Inari bisa dipercaya?
Tidak akan jadi soal kalau memang misi ini hanyalah sebuah misi diplomasi. Masalahnya, sesungguhnya misi ini bukan yang seperti itu. Ini adalah spionase dan infiltrasi dengan tingkat rahasia yang tinggi!
"Terima saja. Aku sudah mengenal Inari sejak dulu. Dia adalah seseorang yang loyal dan bisa dipercaya," bisik Naruto pelan kepada Shikamaru.
Jika Naruto percaya padanya, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk menolak. Sedikit saja nanti Inari mengubah emosinya dan menunjukkan indikasi dia berafiliasi dengan Mizu, Naruto pasti akan menyadarinya dan mengusahakan supaya informasi penting yang dibawanya tidak bocor.
"Kau yakin bisa membawa kami ke sana secepat mungkin?" tanya Shikamaru memastikan.
"Yah, tidak cepat-cepat amat sih sebenarnya. Kalau kita berangkat sekarang pun pasti kita sampai ketika gelap. Mungkin kita nanti akan berada di lautan selama beberapa jam, tapi aku yakin nanti kita sampai lebih cepat para penyedia jasa menyeberang," jawab Inari.
Sempurna!
Waktu lebih cepat, sampai ketika gelap, lalu dengan seseorang yang bisa mereka percaya. Apa lagi yang lebih menguntungkan dari ini?
"Kalau begitu, ayo berangkat sekarang," ucap Shikamaru.
.
.
.
Kegelapan mutlak adalah hal yang kentara di langit saat ini. Tidak ada bulan, tidak ada satu pun bintang pula di langit. Semuanya terlihat gelap. Langit tertutupi oleh sebuah awan hitam tebal yang entah muncul dari mana. Udaranya pun begitu dingin, memberikan sebuah kesan ganjil yang menusuk di kulit setiap insan. Tidak terkecuali untuk dua orang yang sedang berjongkok di atas sebuah dahan pohon yang tinggi.
Sudah lebih dari dua setengah jam sejak pertama kali mereka berdua meninggalkan dataran Nami dan sudah sekitar 20 menit yang lalu mereka sampai di tempat ini.
Mereka sudah sampai di sebuah pulau yang sedikit terisolir dari pulau utama Mizu. Secara geografis pulau ini terletak di bagian paling selatan Mizu dan menjadi batas terluar dari teritorialnya. Jika dipikir-pikir setelah melihat letak pulau ini secara geografis, sedikit masuk akal jika Shinobi Kiri sendiri kesulitan untuk datang ke tempat ini. Apakah mungkin… Mizu sendiri juga tidak mengerti tentang kasus ini?
Untuk sementara, Naruto harus menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan yang terbesit di kepalanya. Dia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di pulau ini.
"Shika… Perasaanku tidak enak," ucap Naruto pelan.
Shikamaru menatap Naruto dengan tatapan seriusnya. Jika Naruto yang instingnya terhitung sangat tajam berkata seperti ini, maka kemungkinan besar memang ada sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Lagipula, dimana Anbu Tora? Dia seharusnya menjemput kita tepat di titik ini kan?" tanya Naruto gusar.
"Seharusnya. Kita sudah menunggunya sekitar 20 menit. Tidak biasanya seorang Anbu sepertinya terlambat," jawab Shikamaru.
"Kalau begitu kita harus segera bergerak sekarang juga, Shika. Bisa saja dia sedang berurusan dengan sesuatu yang harus kita hadapi dalam misi ini."
Pemikiran Naruto adalah sebuah asumsi yang mungkin. Karena Anbu adalah sebuah unit khusus Konoha yang bergerak di balik bayangan, lebih tepatnya mengurusi segala hal yang berbahaya. Disiplin dan tepat waktu adalah salah satu hal yang dituntutkan kepada mereka. Dari hal itu saja sudah cukup bagi Shikamaru untuk mengambil sebuah tindakan dalam misi ini. Sekali lagi, dia setuju dengan ucapan Naruto.
"Aku mengerti. Kita harus mulai menginvestigasinya sekarang. Tapi sebelum memulainya, aku akan memberimu sebuah syarat khusus di sini," ucap Shikamaru.
Naruto mengerutkan dahinya bingung. Dia sudah cukup paham untuk berhati-hati dalam bertindak. Apalagi yang kali ini akan disampaikan Shikamaru?
"Jangan gunakan Mode Kyuubi nanti. Kecuali kita benar-benar terpaksa, jangan pernah masuk ke dalam mode itu. Pancaran auranya terlalu terang dan besar. Meskipun kita berada di pulau terluar, tidak menutup kemungkinan ada Anbu Kiri yang sedang berjaga di pulau-pulau sebelah. Mereka pasti akan merasakan dan… Kurasa kau paham maksudku kan?"
Ya, Naruto paham. Mereka pasti akan datang dengan cepat ketika merasakan chakra Kyuubi tiba-tiba meledak di tempat ini. Ah, Naruto tidak mau memikirkan konsekuensinya. Dia sudah terlampau paham sampai enggan berpikir tentang itu.
"Aku mengerti."
Mereka berdua terdiam setelah Naruto mengucapkan kalimatnya. Beberapa saat diam dan menghirup nafas dalam-dalam, mereka akhirnya kembali menatap dan mengangguk.
Dengan kecepatan tinggi, Naruto dan Shikamaru melesat menuju ke pusat pulau. Tempat dimana Naruto merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Dalam lari, mereka berdua memasuki sebuah kabut tebal setelah sampai di sebuah titik tertentu.
Mereka mengenali kabut ini. Ini bukan sebuah fenomena alam. Berbeda dengan kabut alami karena kabut ini dihasilkan oleh chakra.
Kirigakure no Jutsu adalah nama dari jutsu kabut ini. Kirigakure no Jutsu hanya sebuah jutsu tingkat D yang sebenarnya biasa saja, tapi memberikan keuntungan yang besar untuk penggunanya. Dia bisa menggunakan kabut ini sebagai alat untuk menutupi keberadaannya ketika sedang melakukan infiltrasi ke sebuah tempat atau ketika sedang bertarung.
Naruto yang merupakan seorang ninja sensorik merasakan sesuatu yang berbeda dari kabut ini. Terasa lebih kental akan chakra daripada yang seharusnya. Mata Naruto semakin menajam ketika menyadari arti dari hal itu. Tingkatan dari jutsu ini sudah meningkat!
"Shika! Ini bukan lagi Kirigakure no Jutsu yang kita kenal. Tingkatannya sudah lebih tinggi daripada sekedar tingkat D! Aku tidak bisa menebak sampai di titik mana jutsu ini berkembang sehingga aku tidak tau efek-efeknya. Berhati-hatilah!" ucap Naruto memperingati Shikamaru tentang hal yang sedang mereka hadapi.
"Tentu!"
Kecepatan lari mereka semakin bertambah. Sudah jelas sekali ada hal yang sedang terjadi di sini. Jika sampai melakukan sebuah jutsu yang bisa menghilangkan diri, Shikamaru bisa bertindak berdasarkan tiga kemungkinan. Yang pertama adalah untuk menutupi sesuatu di tempat ini. Itu berarti seseorang yang asli pulau inilah penggunanya. Kedua, seseorang ada seseorang yang sedang berusaha masuk ke tempat ini tanpa ingin terlihat, dan yang ketiga… sedang terjadi sebuah pertempuran dalam sunyi.
Sialan! Semuanya bermuara pada hal yang buruk! Oke memang yang kedua tidak terdengar buruk, tapi jika menggunakan logika dengan benar, pasti ada alasannya seseorang sampai harus menggunakan jutsu ini hanya untuk sekedar masuk ke dalam desa kecil yang berada di pusat pulau ini. Dengan kata lain, pasti akan berujung pada sesuatu yang buruk!
Shikamaru keluar dari alam deduktifnya dan memfokuskan diri untuk menerima semua informasi yang mungkin ditemuinya di sepanjang jalan ini. Dia tidak boleh melewatkan satu hal pun! Detail-detail kecil yang mungkin saja ditemuinya akan menjadi sebuah penunjuk tentang banyak hal.
"Suiton: Suidan no Jutsu!"
Sebuah peluru air berdiameter dua setengah meter meluncur secara tiba-tiba. Mengarah tepat pada Shikamaru dan Naruto yang sedang berlari. Mengejutkan dua insan yang sedang menajamkan kedua mata masing-masingnya ke depan.
Dumm!
Naruto dan Shikamaru melompat ke dua arah yang berbeda. Puluru air raksasa yang mengarah pada mereka tadi pecah di tanah dan menghasilkan sebuah kawah kecil. Menunjukkan seberapa besarkah dampak yang dihasilkan dari jutsu elemen air itu.
'Tch! Siapapun dia, dia mengetahuiku dan Naruto! Ini buruk! Aku harus memberitahu Naruto tentang renc—'
Belum sempat Shikamaru menyelesaikan pikirannya, dia insting ninjanya berteriak keras-keras memperingatinya ada sebuah serangan yang datang.
Trangg!
Tebasan sebuah pedang ditahan oleh Shikamaru menggunakan kunai miliknya. Dari tenaga serangan yang diterimanya, dia tahu bahwa yang sedang bertarung dengannya adalah seorang ahli berpedang. Dia yakin!
Srett
Sebuah pukulan diarahkan kepada Shikamaru. Dia bisa menyadarinya dengan cepat. Tanpa tahu ada sebuah serangan lain yang datang kepada dirinya.
Duak!
Tendangan harus diterimanya keras-keras ketika dia sedikit lengah.
Shikamaru terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi. Dia sama sekali tidak melihat tendangan itu datang kepadanya. Kegelapan hutan serta tebalnya kabut benar-benar menjadi hal yang tidak bersahabat dengannya.
Pukulan demi pukulan serta beberapa kali tendangan dan tebasan pedang ditujukan untuk melukai tubuhnya. Shikamaru hampir tidak bisa membalas serangan ini. Yang bisa dilakukannya hanyalah menghindari seluruh serangan ini mati-matian.
Shikamaru melakukan sebuah salto ke belakang ketika merasakan bahaya tebasan pedang dari arah kirinya.
'Sialan! Aku tidak bisa melakukan apapun!'
Motif dari serangan ini bisa Shikamaru pahami dengan jelas. Siapapun yang sedang menyerangnya, dia ingin memisahkan mereka berdua. Shikamaru dan Naruto masing-masing harus berhadapan dengan musuhnya sendiri.
Rahang Shikamaru mengeras. Saat ini, hampir tidak ada yang bisa dilakukannya. Dalam kegelapan ini dia tidak bisa menggunakan Kagemane no Jutsu untuk bertarung sekarang. Yang bisa dilakukannya hanya menghindar ke belakang untuk mengulur waktu sebanyak mungkin.
Terlepas dari itu, dia lebih mengkhawatirkan Naruto. Akan berujung jadi hal yang merepotkan jika Naruto nanti sampai terpaksa menggunakan Mode Kyuubi.
'Bertahanlah, Naruto! Kumohon jangan gegabah!'
Dengan itu, Shikamaru berlari menjauh dari tempat ini. Keluar untuk memikirkan strategi dan tidak membahayakan dirinya sendiri. Dia merasakan seseorang yang menyerangnya juga mengikutinya. Benar. Itu adalah hal yang menguntungkannya sekarang.
Mulai dari sekarang, mereka bertarung sendiri-sendiri!
.
.
.
Beralih ke sisi Naruto, dia berada beberapa belas meter dari tempatnya tadi setelah dia terpisah dengan Shikamaru. Dia terus merasakan chakra Shikamaru menjauh setiap detiknya. Naruto menyadari hal yang sedang terjadi.
Dia sengaja dipisahkan.
Entah apa yang menjadi pikiran musuhnya saat ini sampai begitu percaya diri bisa menahan Naruto sendirian.
'Kheh! Aku akan menyelesaikannya dengan cepat lalu kembali bersama Shikamaru. Mereka yang ada di sini pasti bisa kubereskan dengan mudah!"
Sementara Naruto sibuk dengan pikirannya, sang musuh sudah bersiap untuk melancarkan serangannya yang selanjutnya.
"Suiton: Suijinheki!"
Ribuan liter air muncul secara tiba-tiba dari arah kanan Naruto dengan kecepatan tinggi. Bak air bah yang berusaha menghancurkan siapapun yang berada di jalurnya.
Naruto yang merasakan bahaya dari jutsu itu langsung menggerakkan tangannya untuk membentuk handseal secepat mungkin.
"Doton: Doryuuheki!"
Naruto menciptakan sebuah dinding tanah tebal dan tinggi untuk meredam serangan yang diberikan kepadanya. Naruto melompat ke atas dinding yang sudah dibuatnya untuk mempertahankan diri. Dia menatap tajam ke arah serangannya datang tadi.
Beberapa detik setelah seruan Suijinheki tadi, sekarang airnya berhenti tercipta. Tanda bahwa jutsu ini sudah berhenti. Yang tetap menjadi fokus Naruto adalah penyerangnya.
Naruto cukup tahu bahwa chakra musuhnya terus bergerak secara acak kesana kemari. Dia tidak bisa menebak lokasinya secara pasti karena tersamarkan dalam kabut Kirigakure no Jutsu yang kental akan chakra. Ini menjadi sebuah pertarungan yang cukup memberikannya tekanan jika berada di lingkungan yang tidak menguntungkannya.
Seharusnya dia bisa saja menggunakan Fuuton untuk menghilangkan kabut ini. Tapi itu akan menjadi hal yang sia-sia karena dia tidak tahu secara pasti yang menggunakannya dan dimana pusat kabut ini. Jika dia menghilangkannya sekarang dan pengguna asalnya berada jauh dari sini dan bersifat sebagai support, dia pasti akan langsung mengembalikannya lagi. Terlebih lagi ini adalah versi upgrade dari Kirigakure no Jutsu yang dikenalinya. Ini akan menyulitkan.
Berjalan dengan asumsi tersebut, akan menjadi sebuah hal yang sia-sia dan tidak efisien jika Naruto menggunakan Fuuton untuk menghilangkan kabut ini. Dia lebih kesulitan mengatasi teknik pendukung ini. Meskipun begitu, ada sebuah teknik yang bisa digunakannya untuk memutar balik keadaan.
Naruto menutup matanya sejenak, lalu dalam lima detik dia kembali membukanya. Kelompak mata miliknya sudah berubah warna menjadi jingga, tanda dia memasuki sebuah kondisi khusus untuk menghilangkan keterbatasannya.
'Sennin Moodo!'
Kemampuan seluruh indera serta sensor miliknya naik secara drastis. Dia bisa mendengar setiap langkah yang berusaha keras disenyapkan oleh musuhnya.
'Satu, dua, empat. Empat orang. Masing-masing bergerak secara acak.'
Hmm... Dia bisa mengetahui jumlah musuhnya sekarang. Meskipun tidak mengetahui identitas mereka dan jenis chakra yang dimiliki mereka, itu sudah cukup. Lagipula, dalam pertarungan ini Naruto tidak membutuhkan strategi yang terlalu rumit. Cukup menggunakan serangan balik yang sederhana untuk membalikkan keadaannya. Dan lagi, tujuannya bukan untuk membunuh mereka tapi untuk mengetahui identitas mereka dan bekerja pada siapakah mereka. Itu yang pasti.
Insting Naruto seolah memperingati. Dia merasakan sebuah serangan yang datang dari arah kirinya.
Ini dia!
Dengan kecepatan tinggi, sebuah bilah pedang menebas secara vertikal menyasar tubuh Naruto. Naruto tidak membiarkannya terjadi. Dia mengelak ke sedikit ke belakang lalu melayangkan sebuah pukulan bertenaga ke tubuh musuhnya.
Buagh!
Pukulan kuat Naruto tersarang sempurna ke tubuh sang musuh. Bahkan musuh Naruto sampai merintih kesakitan ditambah dengan tubuhnya membungkuk ke depan. Cukup untuk memperlihatkan seberapa kuat pukulan Naruto tadi.
Meskipun dipukul dengan telak, musuh Naruto tidak berhenti berusaha. Sesaat setelah pukulan pertama bersarang di tubuhnya, dia menggunakan kaki kanannya untuk menendang Naruto. Lagi-lagi Naruto tidak membiarkan serangan itu mengenainya. Tangan kiri Naruto yang bebas memblok tendangan kuat itu. Dia mencengkeramkan tangannya di pergelangan kaki itu.
"Suiton: Suiryuudan no Jutsu!"
Sebuah naga air besar tercipta. Dengan kecepatan tinggi naga air itu meluncur ke arah Naruto dengan tujuan untuk mencabik-cabiknya.
Tidak mau terkena dampaknya, Naruto langsung melemparkan musuh yang sedang dicengkeramnya itu ke lintasan serang misil naga air. Setelah melemparkannya, Naruto melompat menjauh dari sana.
Srashh!
Tubuh yang dilemparkan oleh Naruto tadi diterjang keras-keras oleh teknik yang semula mengincarnya. Memberikan luka yang sepertinya cukup serius kepada musuhnya.
Ketika dirasakan oleh Naruto, dia bisa mengetahui bahwa musuhnya yang terkena jutsu temannya sendiri tadi masih sadar meskipun dalam kondisi yang tidak cukup bagus. Pria itu melompat menjauh dan kembali bergerak acak di balik gelapnya hutan dan tebalnya kabut.
Dalam selang waktu ini, Naruto menyadari sesuatu dari mereka. Mereka semua menggunakan topeng dengan sebuah simbol yang terpatri di dahi topeng masing-masing dari musuhnya. Hanya ada satu hal yang terpikirkan olehnya.
Anbu.
Divisi khusus yang dimiliki oleh setiap negara. Divisi yang secara sengaja didirikan dengan tujuan mengurusi segala hal kotor yang dilakukan oleh negara serta divisi yang bergerak di balik bayangan. Mereka semua memiliki kompetensi yang luar biasa.
'Tch! Sialan memang. Kenapa Anbu sampai turun tangan?!'
Ya, ada banyak hal yang terpikirkan oleh Naruto sekarang. Namun, dia harus fokus kepada pertarungannya saat ini terlebih dahulu.
Detik demi detik berlalu, Naruto masih dengan sabar menunggu serangan yang akan diberikan kepadanya. Lalu pada sebuah titik, dia merasakan sebuah hawa membunuh yang lebih kental tiba-tiba terlepas di udara. Tubuh Naruto yang lebih sensitif dari biasanya tiba-tiba menegang.
"!"
Dua buah bilah pedang dengan cepat mengincar tubuh Naruto.
Serangan yang datang dari dua arah berbeda ketika tubuh Naruto sedang cukup terkejut dengan pelepasan hawa membunuh sehingga sulit untuk dihindari oleh Naruto. Meskipun begitu, Naruto kembali memperoleh kontrol penuh terhadap tubuhnya saat itu juga. Dia melompat ke samping untuk menghindari serangan dari dua sisi itu, lalu memutar tubuhnya sehingga menghadap ke dua orang yang berusaha menyergapnya. Saat melayang di udara, Naruto menghirup udara dengan jumlah besar.
"Fuuton: Daitoppa!"
Naruto mengolah chakranya secepat mungkin dan menembakkan sebuah terjangan angin dengan kecepatan tinggi ke depan. Angin bertekanan tinggi itu hanya berhasil menghempaskan salah satu musuh Naruto sehingga jatuh ke tanah.
Hanya satu yang jatuh. Sedangkan yang satunya masih bisa berkelit dan mengubah direksi lesatannya menuju Naruto yang masih melayang di udara. Musuh yang satu itu memiliki insting dan kemampuan memanfaatkan celah dengan sangat baik. Dia menebaskan pedangnya secara bertubi-tubi kepada Naruto. Menegaskan fakta bahwa dia adalah seorang pendekar pedang yang ulung.
Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!
"Khh!"
Dari delapan tebasan, Naruto hanya berhasil menepis lima tebasan dari musuhnya yang berarti tiga berhasil bersarang sempurna di tubuhnya. Membuatnya harus terluka di sana-sini dan mengeluarkan darah yang cukup banyak dari sana. Dia tidak berlarut-larut dengan luka yang diterimanya. Kakinya yang sedang senggang bergerak dengan cepat menuju perut musuhnya.
Duakh!
Sebuah tendangan diberikan Naruto dengan telak kepada sang musuh. Membuatnya berhasil memberikan sebuah serangan dengan tujuan defensif.
Naruto melompat menjauh dari sana dan berdiri dengan sedikit membungkuk. Sebuah ringisan yang menyiratkan rasa sakit terlihat di wajahnya. Lengan kirinya tergores dalam, paha kanannya juga, serta bahu kanannya hanya sedikit tergores. Harga yang cukup setara karena dia terlalu merasa di atas angin dan mengendurkan kewaspadaannya.
Sekarang dia mengetahui kemampuan musuhnya. Mereka cukup terspesialisasi dalam seni berpedang. Kenjutsu memang sedikit menjadi kelemahan Naruto. Dia adalah tipe petarung yang terfokus kepada kecepatan dan kekuatan. Bukan ketepatan gila para petarung yang terspesialisasi dengan Kenjutsu. Jarak serangan dengan menggunakan pedang lebih luas dari pertarungan tangan kosongnya. Jadi dia sedikit kewalahan jika harus diserang bertubi-tubi dengan kecepatan serta akurasi gila sebuah pedang. Terlebih tadi dia cukup meremehkan musuhnya.
'Sialan! Seharusnya tidak kuremehkan mereka,' rutuk Naruto dalam hatinya.
Naruto kembali mengingat kondisi serta keuntungan musuhnya. Mereka memiliki kontrol hawa membunuh yang sangat baik. Itu berarti mereka memiliki sebuah keuntungan yang cukup besar jika bermusuhan dengan pengguna Senjutsu sepertinya.
Ini akan menjadi sebuah pertarungan yang merepotkan Naruto jika dia tidak segera menghilangkan kabutnya. Memang sebenarnya dia masih bisa menutupi kekurangannya dengan Senjutsu, tapi jika musuhnya tiba-tiba mengeluarkan dalam intensitas luar biasa seperti tadi dengan sekejap, tubuhnya yang terlalu sensitif karena hasil amplifikasi kepekaan dari Senjutsu akan tersentak dan berhenti bergerak selama sepersekian detik. Dari situ saja para musuhnya bisa dengan cepat memanfaatkannya.
Dan lagi, dari setiap gerakan yang dilakukan oleh musuhnya, Naruto tahu mereka pasti sangat ahli dalam seni Silent Killing. Mereka seolah sudah tersinkronisasi dengan sangat bagus.
Rahang Naruto mengeras. Dia harus membalikkan keadaannya dan mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin. Dia juga harus kembali bergabung dengan Shikamaru. Dia cukup mengkhawatirkan temannya karena Shikamaru sendiri memiliki kompetensi bertarung yang jauh di bawahnya.
'Bertahanlah, Shikamaru!'
"Kulihat anda begitu meremehkan kami, Uzumaki-sama. Meskipun anda adalah seorang yang berada di puncak, bukan mustahil bagi kami untuk mengalahkan anda. Ada sebuah kekurangan yang bisa kami eksploitasi di sini."
Naruto memicingkan matanya ketika mendengar suara itu. Dia tidak fokus kepada seluruh kata yang diucapkan kepadanya, tapi lebih memfokuskan pikirannya untuk mendeteksi dari mana suara itu berasal. Arahnya berubah-ubah. Meloncat dari satu titik ke titik yang lain. Sangat mengganggunya.
Tunggu, mereka mengatakan namanya. Mereka tahu dengan jelas siapa yang datang dan mengirimkan sebuah regu khusus yang bisa mengeksploitasi kekurangan Naruto. Ada sebuah kemungkinan juga bahwa mereka mengetahui kondisi Naruto yang tidak akan menggunakan Mode Kyuubi untuk bertarung.
'Ini... Ada yang salah dengan segalanya di sini. Mereka sepertinya mempertimbangkan segalanya matang-matang! Apakah mungkin ini adalah rencana mereka?!' pikir Naruto.
Tatapan mata Naruto menajam.
Benar. Ada yang salah di sini!
Naruto sedikit lengah karena terlalu fokus kepada pikirannya. Ternyata keempat musuh yang sedang dihadapinya menyadari kelengahan Naruto dan langsung memutuskan untuk menyerang.
"Suiton: Mizurappa!"
"Raiton: Kangekiha!"
Sebuah tembakan gelombang air yang tercampur dengan aliran listrik bertegangan tinggi melesat mengincar tubuh Naruto yang kini melompat-lompat. Bermanuver untuk menghindar.
Dalam lompatannya Naruto sedikit membelalakkan kedua matanya ketika mendengar suara seruan dari musuhnya. Dua jutsu yang dipadukan menjadi satu dari dua orang yang berbeda. Mereka pasti sangatlah terbiasa dan percaya diri sehingga berani menggunakan serangan kombinasi di medan pertempuran.
Naruto berhasil menghindari tembakan air bertegangan listrik itu dengan selamat. Tidak sedikit pun tubuhnya terkena serangan itu. Namun, karena terlalu fokus menghindari, dia jadi melupakan bahwa musuhnya berjumlah empat orang dan mereka memasteri sebuah seni Silent Killing.
Refleks dan perspesi Naruto yang meningkat drastis akibat Sennin Moodo membuatnya merasakan sebuah bahaya yang mengincar tubuhnya. Tangan Naruto menarik sebilah kunai dari kantong persenjataannya.
Trang!
Naruto menahan tebasan pedang yang mengarah kepadanya dengan menggunakan kunai yang menyilang. Kedua mata birunya menatap dingin musuhnya yang menggunakan topeng.
Kaki kanan Naruto bergerak untuk menyapu tubuh musuhnya yang masih berusaha menjatuhkannya dengan beradu kekuatan. Musuhnya tidak sebodoh itu. Dia menangkis sapuan kaki kanan Naruto.
Ketika dalam kondisi seperti itu, datang lagi seorang musuh yang tiba-tiba melepaskan hawa membunuh yang begitu kental dari belakang Naruto. Menebaskan pedangnya dengan tujuan untuk membelah tubuh Naruto menjadi dua.
Lagi-lagi, Naruto harus sedikit kerepotan. Dia menggerakkan tangan kirinya yang bebas untuk mencengkeram kerah rompi musuhnya yang sedang beradu pedang, lalu melemparkannya kepada musuh kedua yang berusaha menebaskan pedang.
Brakh!
Tubuh dua orang musuh Naruto saling bertubrukan dan tersungkur di tanah. Naruto tidak menyianyiakan peluang yang terbuka lebar itu. Di tangan kanannya tercipta sebuah pusaran angin yang dipadatkan dan membentuk sebuah bola. Naruto melompat tinggi dan bergerak secara diagonal dalam kecepatan tinggi menuju kedua orang yang tersungkur itu.
"Rasengan!"
Dumm!
Rasengan yang diciptakan Naruto tidak berhasil disarangkan ke tubuh musuhnya dan malah menghantam tanah. Hasil dari tabrakan Rasengan dengan tanah itu adalah sebuah kawah dengan diameter tiga meter. Cukup memberitahukan seberapa destruktif kekuatan serangannya itu.
"Tch!"
Naruto mendecih ketika menyadari bahwa serangannya tidak berhasil. Namun, dia segera mengembalikan emosinya yang sedikit naik ketika menyadari bahwa ada sesuatu yang harus segera dianalisisnya.
Tidak mungkin musuhnya tadi bisa menghindar secepat itu. Recovery mereka terlalu cepat jika tiba-tiba mereka bisa sama-sama menghindar di saat yang bersamaan. Jelas sekali. Rekan mereka pasti membantu.
Krrtt Krrtt Krrtt…
Telinga Naruto menangkap sebuah suara yang bergerak menjauh sedikit demi sedikit. Dengan kemampuan sensor chakranya, Naruto mengetahui dengan jelas apa yang bergerak itu.
'Sialan! Ini akan merepotkan,' gerutu Naruto dalam hati.
Kondisinya bertambah parah. Bukan berarti Naruto tidak bisa mengatasinya, tapi dengan adanya penambahan fakta tentang musuhnya yang membuatnya semakin terpojok. Tujuan utamanya untuk bergabung bersama dengan Shikamaru benar-benar harus tertunda untuk sementara waktu. Setidaknya mungkin untuk setengah jam kedepan.
Sensor chakra Naruto merasakan sebuah aura yang sangat familiar dari sesuatu yang menarik kedua musuhnya yang hampir saja terkoyak oleh Rasengan miliknya. Itu adalah sesuatu yang kuno dan langka…
.
.
.
Mokuton.
.
.
.
Chapter 4—END
Maaf, ini memang sebuah pertarungan yang singkat dan terlalu banyak deskripsi. Rasanya cukup kaku setelah lama tidak membuat sebuah fight scene.
Oke, mungkin banyak yang marah-marah karena Naruto kesannya gampang banget kena serangan. Saya jelaskan sekarang.
Pertama dan yang paling dasar, Naruto menggunakan Senjutsu. Kenapa saya malah mengatakan bahwa ini adalah sebuah kekurangan? Karena Senjutsu sendiri adalah sebuah teknik yang bisa meningkatkan kekuatan, stamina, refleks, serta persepsi. Tekankan pada kata persepsi. Dengan persepsinya yang sudah teramplifikasi, dia jadi jauh lebih peka daripada ketika tidak menggunakan Senjutsu. Ini berarti Naruto akan lebih mudah merasakan hawa membunuh, tapi jika dikeluarkan dalam intensitas tinggi, maka Naruto sendiri juga akan terkejut karena dia terlalu peka. Yang mengakibatkan Naruto jadi sedikit terstun.
Kedua, musuhnya adalah spesialis Kenjutsu. Mereka yang merupakan spesialis Kenjutsu memiliki kompetensi luar biasa dan itu menjadi kekurangan Naruto yang gaya bertarungnya adalah tangan kosong. Jangkauan serang mereka berbeda. Pengguna pedang lebih lebar dalam urusan jangkauannya. Lagi, Naruto akan cukup kerepotan.
Ketiga, dia nggak boleh pakai Mode Kyuubi.
Keempat, dia ngeremehin. Dia bisa aja asal hajar, tapi dia ngeremehin.
Gitu aja sih. Silahkan banget kalau tidak setuju dengan segala opini dan pemahaman saya terhadap segala kemampuan Naruto di sini. Nah, jadi bukan tidak mungkin kan Naruto terdesak di awal pertarungannya. Kalau ada yang tidak setuju boleh memberikan opini di kolom review ya!
Oh ya, ngomong-ngomong Kagemane no Jutsu gak bisa digunakan di kegelapan absolut. Jadi ya... Shika gak bisa pake untuk sementara waktu.
Oh, ngomong-ngomong. Saya agak kesel sih sama flame lucu sang penghapus. Itu asumsi logikanya dari mana cuy?! Wakakaka lucu banget. Sumpah, dilihat dari mana pun gak ada sambungannya bro. Lu aja gak tau gw di RL kek gimana wkwkw... Lagian, kenapa sih pake akun guest? Pake nama akun orang lagi. Akun lu sendiri mana? Gak berani pake karena takut kena counter? wkwkwk
Gitu aja sih, maaf panjang banget Author Notenya karena saya harus njelasin pemahaman saya.
Makasih udah mampir baca, fav, foll, atau review!
