Sasuke mulai bermimpi tentang kehidupan orang lain saat ia berusia 6 tahun.
Ibunya bilang, apa yang dia lihat dalam mimpinya adalah apa yang dialami oleh soulmate nya pada hari itu. Mereka, soulmate, adalah orang yang telah ditakdirkan untuk bersama dengan kita, belahan jiwa yang akan melengkapi diri kita. Dan tampaknya, semua orang memiliki soulmate nya masing-masing.
Sasuke tidak memimpikannya setiap hari, selalu ada jeda sekitar 3-7 hari. Malah, ia pernah tidak mendapatkan mimpi apa pun selama sebulan penuh. Di lain waktu, ia pernah bermimpi selama 3 hari berturut-turut, Sasuke pikir saat itu soulmate nya sedang bahagia. Jadi ia sadar, apabila soulmate nya sedang merasa senang, maka mimpi nya akan menjadi lebih sering.
Dari apa yang ia lihat di dalam mimpi, soulmate nya adalah seorang perempuan, ia bisa mengetahuinya setelah melihat isi lemarinya. Sasuke tidak pernah melihat sosok nya dengan jelas. Walau soulmate nya tengah berkaca sekalipun, yang dapat ia lihat hanyalah bayangan yang buram saja, seakan takdir belum mengizinkannya untuk mengetahui wujud pasangannya.
Ibunya suka bercerita banyak hal mengenai soulmate, dan dia berkata bahwa setiap orang memang tidak bisa melihat wajah belahan jiwa mereka dalam mimpi, pun memimpikan segala hal yang dapat dengan mudah menguak identitas asli mereka.
Sasuke menemukan konsep tentang soulmate ini begitu menarik. Ia ingin tahu tentang semuanya, semua tentang soulmate nya. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengannya, melihat wajahnya, bertukar cerita dengannya. Setiap hari, diam-diam hatinya mendamba akan datangnya hari itu.
Tapi untuk sekarang, ia harus fokus pada latihan yang dijalaninya. Sebagai seorang Uchiha, yaitu klan para penyihir yang sangat tersohor di kalangan semua orang, dan sebagai anak yang terlahir dalam garis keturunan utama Uchiha, maka ia harus mampu menunjukkan bahwa ia pantas untuk berada di posisinya yang sekarang. Siapa tahu, soulmate nya akan sangat terpukau olehnya ketika ia sudah menjadi seorang penyihir yang hebat nanti.
Hah… seandainya ia tahu, bahwa kelak dirinyalah yang akan tersihir oleh kehebatan soulmate nya itu, bukan malah sebaliknya.
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Warning!
Long descriptions ahead, semi-baku, fast burn, fast paced, Soulmate AU, Modern AU, Ninja as Sorcerer, Senju!Sakura, Mokuton Sakura, BAMF Sakura
Soulmate AU = Di mana setiap orang bisa melihat apa yang dilakukan oleh soulmate nya pada hari sebelumnya dalam mimpi mereka. Tapi, hanya hal-hal kecil dan biasa seperti berbelanja, sekolah, belajar dll. hal-hal penting seperti wajahnya, wajah keluarga dan lain-lain yang berpotensi untuk menguak indentitasnya tidak akan pernah muncul di dalam mimpi. Apabila kedua soulmate telah menyadari bahwa mereka adalah soulmate satu sama lain, biasanya akan muncul sebuah cahaya sebagai penandanya.
Sorcerer AU = Di mana orang-orang yang bisa menggunakan dan mengendalikan chakra dianggap sebagai penyihir.
Inspired by Jujutsu Kaisen
Please enjoy!
.
.
.
Pagi itu, Sasuke tengah berdiri di tengah lapangan sekolah bersama dengan sekumpulan temannya yang lain. Uzumaki Naruto, sahabatnya sejak ia masih mengenakan popok, berdiri tepat di sebelahnya sambil terus mengoceh tentang hal yang tidak ia mengerti.
Di usianya yang ke-17 tahun, Sasuke disekolahkan di Akademi Sihir Tokyo dan sekarang berada di tahun ketiga nya sebagai pelajar di sana, alias tahun terakhirnya di masa SMA.
Mengenai mereka yang dikumpulkan di tengah lapangan begini, well… hari ini adalah hari 'itu'. Hari yang selalu dinanti-nanti oleh setiap murid penyihir.
Para kepala sekolah dari setiap cabang sekolah sihir suka menjulukinya sebagai acara get together murid-murid dari berbagai Prefektur, karena menurut mereka penting untuk selalu saling menjaga ikatan dan koneksi antara setiap penyihir. Mereka akan sangat membutuhkannya di masa depan nanti, apalagi ketika sudah berada di garis pertarungan melawan para roh-roh jahat.
Untuk tahun ini, tuan rumahnya adalah sekolah mereka, dan murid-murid penyihir dari Prefektur lain akan datang ke sini. Nantinya, mereka akan melakukan banyak games untuk melatih dan mengukur kemampuan masing-masing. Tak jarang, acara ini menjadi ajang pamer untuk menunjukkan siapa sekolah yang lebih unggul di antara mereka, sekaligus menjadi ajang cari muka terhadap guru-guru terkenal atau malah jadi ajang cari jodoh.
Setidaknya, itulah informasi yang diberikan oleh Naruto, karena ini merupakan kali pertamanya Sasuke untuk mengikuti acara get together ini.
Di tahun-tahun sebelumnya, Sasuke selalu disuruh ayahnya untuk pulang dan berlatih di rumah saja, melihat sudah sejauh mana perkembangannya. Dikarenakan sekolah yang memakai sistem asrama, ia hanya bisa pulang pada waktu libur nasional saja. Dan acara get together ini selalu diadakan pada libur musim panas, berlangsung selama lima hari. Meskipun begitu, hampir semua murid memilih untuk ikut berpartisipasi, menganggap acara itu sebagai kesempatan yang bagus untuk mengenal dan melihat kemampuan murid dari Prefektur lain. Mungkin hanya Sasuke yang tidak pernah ikut sebelumnya.
Pada saat ini, yang sudah hadir adalah pelajar-pelajar ilmu sihir dari Prefektur Yamagata, Shizuoka, Okayama dan Kagawa. Tinggal menunggu dua sekolah lagi, yaitu dari Prefektur Osaka dan Fukuoka.
Menurut Naruto, setiap Prefektur memiliki murid unggulannya masing-masing. Seperti Prefektur Okayama dengan tiga bersaudara mereka, Gaara si pengendali pasir, Kankurou si pengendali boneka, dan Temari yang sangat ahli dalam elemen angin menggunakan senjata kipas raksasanya.
Dari Prefektur Shizuoka, ada Chojuro yang merupakan salah satu dari Tujuh Pendekar Pedang Shizuoka dan memegang pedang Hiramekarei, lalu ada juga Haku si ahli elemen es. Dari Prefektur Yamagata ada dua orang laki-laki dan perempuan yang sangat ahli dalam menggunakan pedang dan elemen petir, bernama Omoi dan Karui. Lalu dari Prefektur Kagawa pula ada seorang perempuan bernama Kurotsuchi yang ahli menggunakan elemen lava dan seorang pemuda feminin bernama Deidara si pecinta ledakan.
Kalau yang dari Fukuoka dan Osaka, Sasuke belum lihat orangnya, karena belum hadir, tapi Naruto bilang murid unggulan dari Fukuoka bisa mengendalikan tulang-tulang yang ada di dalam tubuhnya. Sementara mengenai murid dari Osaka, belum sempat dijelaskan oleh Naruto. Alasannya karena Sai yang datang menginterupsi mereka, dan sekarang si pirang bodoh itu malah jadi asyik sendiri mengoceh tentang video game daripada melanjutkan pembicaraan mereka yang tadi.
Omong-omong, mengenai acara ini yang dapat menjadi ajang mencari jodoh itu memang benar adanya lho, terbukti dari Naruto, Sai dan Shikamaru yang bertemu dengan soulmate mereka di sini. Memiliki soulmate yang juga seorang penyihir, pasti menyenangkan sekali.
Sasuke masih menanti saat ia bisa bertemu dengan soulmate nya. Sekarang, setelah lamanya berlatih dengan sungguh-sungguh, Sasuke telah memiliki reputasi atas dirinya sendiri. Ia dianggap sebagai murid unggulan dari Tokyo dan sering dielu-elukan karena kemampuannya yang hebat. Seperti yang diharapkan, kata mereka. Karena ia adalah seorang Uchiha.
Sasuke berpikir, apa ia juga dapat berjumpa dengan soulmate nya di sini?
Di tengah pemikirannya, tiba-tiba orang-orang menjadi grasak-grusuk, gumaman-gumaman terdengar dari kanan dan kiri. Sasuke memutar kepalanya, berusaha mencari asal keributan ini.
Dari arah pintu gerbang, muncul sekumpulan perempuan yang memasuki area sekolahnya. Mereka semua memancarkan aura yang kuat, sama sekali bukan seperti tipikal gadis-gadis pada umumnya. Gadis-gadis yang ini terlihat jauh lebih sangar. Terutama yang berada di tengah, posisinya sedikit lebih maju daripada teman-temannya yang lain. Padahal rambutnya berwarna pink, yang mana menurut Sasuke itu sangat girly, tapi entah bagaimana bisa auranya terasa lebih 'berbahaya' dibanding yang lain.
Sasuke beralih ke Naruto, menaikkan alisnya saat melihat pemuda pirang itu melambaikan tangan pada seorang gadis berambut indigo yang tergabung di dalam grup perempuan tersebut.
"Naruto, mereka siapa?" tanya Sasuke. Naruto yang baru teringat dengan eksistensi sobatnya itu langsung menjawab dengan semangat, "Itu perwakilan dari Osaka, teme! Julukan mereka adalah The Queens!"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "The Queens…?"
"Iya, soalnya sekolah sihir yang di Osaka itu khusus untuk perempuan, dan sekolah mereka itu terkenal selalu menghasilkan penyihir-penyihir perempuan terbaik di muka bumi! Kau tentunya tahu Senju Tsunade kan, teme? Dia lulusan dari sekolah itu." Jelas Naruto panjang lebar.
Sasuke bergumam kecil, tapi ternyata Naruto masih memiliki hal lain untuk diceritakan.
"Lalu murid unggulannya, yang berambut pink itu, Senju Sakura."
"Senju?" Sasuke sedikit kaget mendengarnya.
Naruto mengangguk. "Cucu nya Senju Tsunade, itu berarti dia masih berada di garis keturunannya Senju Hashirama."
Sasuke membelalakkan matanya. Jadi ternyata gadis itu yang sering dielu-elukan sebagai 'keturunan dari Sang Legenda; Senju Hashirama'? Pantas saja auranya terasa sangat berbeda, pasti kelasnya juga berbeda dari yang lain. Kalau begitu, Sasuke harus menetapkannya sebagai musuh yang wajib diwaspadai untuk acara ini.
"Tahu tidak? Di tahun pertamanya dia ditetapkan sebagai MVP untuk tim nya pada misi mengumpulkan gulungan bumi dan surga, tahun kemarin dia mencetak rekor sebagai penangkap roh terbanyak sepanjang sejarah sekolah, dengan total 237 roh! Gila, kan? Lalu dia selalu menjadi juara adu panco yang kami adakan setiap tahun. Tenaganya gila sekali, teme…"
Oke, itu… terdengar cukup keren untuk Sasuke, tapi masih belum cukup untuk membuatnya mengakuinya.
Naruto bergerak mendekat, menangkupkan dua tangan di sekitar mulutnya dan berbisik pada Sasuke. "Ku dengar juga katanya waktu itu dia ikut membantu di garis depan untuk melawan serangan para roh jahat di Okinawa lho."
Kali ini Sasuke benar-benar terkejut. Sangat jarang untuk penyihir yang masih berstatus sebagai pelajar dikirim ke medan perang seperti itu, itu juga cuma berlaku pada saat benar-benar mendesak. Kalau mereka sampai terpaksa harus mengirimkan pelajar, pasti yang terpilih hanya segelintir dan yang kemampuannya benar-benar menjanjikan saja.
Sasuke ingat kejadian itu, penyerangan besar-besaran di Okinawa sekitar lima bulan yang lalu. Kakaknya, Uchiha Itachi, juga ikut berpartisipasi dalam perang tersebut. Mungkin dia bisa menanyakan hal ini kepadanya? Sekadar untuk memastikan—tapi buat apa juga ia bertanya, buang-buang waktu saja.
Tapi tetap saja, kalau sampai dikirim ke medan perang seperti itu…
Netra obsidiannya bergulir, menatap gadis merah muda tersebut dalam-dalam. Berpikir, orang seperti apa dia ini?
Sedetik kemudian tatapannya dibalaskan dengan netra emerald milik gadis itu. Sasuke tersentak, merasa tiba-tiba semacam ada listrik yang mengaliri tubuhnya. Gadis itu juga terlihat seperti terlonjak kaget, sama sepertinya. Itu aneh, apa dia juga merasakan sensasi yang sama dengannya? Kira-kira kenapa?
Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba rasanya seperti Sasuke sudah pernah bertemu dengannya, ya? Seolah-olah gadis itu adalah orang yang seharusnya ia ketahui sejak dulu, sementara Sasuke sama sekali tidak pernah berjumpa dengannya. Aneh.
Lalu, yang rambut pirang diikat ekor kuda itu. Rasanya Sasuke pernah lihat, tapi di mana ya…?
.
.
.
Magnificent
.
.
.
Perlombaan yang akan mereka ikuti sejatinya hanya berlangsung selama tiga hari saja. Pada hari pertama, mereka hanya akan saling berkenalan dan membiasakan diri dengan kehadiran murid-murid yang lain. Tiga hari selanjutnya untuk perlombaan yang dimaksud. Lalu pada hari terakhir, biasanya mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan sebelum upacara penutupan dilangsungkan.
Jadi, seperti tradisi yang sudah-sudah, kegiatan pertama yang mereka lakukan setelah perkenalan adalah adu panco. Pelajar yang dulu-dulu menganggap kegiatan ini sebagai cara yang bagus untuk saling mendekatkan satu sama lain, dengan ini juga mereka bisa mencicipi sedikit kekuatan dari masing-masing lawan yang akan mereka hadapi esoknya.
Semua orang telah berkumpul di ruang tengah penginapan yang akan menampung mereka selama lima hari ini. Sebuah meja berukuran sedang terletak di tengah-tengah ruangan.
Naruto, tidak bisa diam seperti biasanya, mengangkat suara untuk memecahkan suasana kompetitif di antara mereka. "Ayo, jadi siapa yang mau coba duluan?!"
Mereka semua menatap pemuda pirang itu malas, Naruto menyengir masam. "Kalau begitu… Sakura-chan! Kenapa tidak coba duluan?" tanya Naruto antusias.
Gadis berambut pink itu merengut. "Eh, kenapa harus aku?"
"Soalnya selama ini kau menang terus."
"Malas, ah."
Sasuke menaikkan alis, tidak menyangka dengan sikap santai gadis itu. Padahal sebelumnya dia terlihat sangat serius, tapi sekarang berbeda drastis.
Gadis lava—Kurotsuchi, menyeringai lebar. "Takut ya, Sakura?" yang disambung oleh rekannya, Deidara. "He… jangan bilang kau sudah nggak sekuat dulu lagi, un."
"Nggak usah banyak bicara, dasar banci!" tidak, itu bukan Sakura, melainkan rekannya, Yamanaka Ino yang ternyata merupakan soulmate dari teman Sasuke sendiri, Sai.
"Haku! Apa barusan aku mendengarmu tertawa? Berani-beraninya kau!"
"…Itu lucu."
"Tapi kau itu lebih feminin daripada aku!"
"Berisik sekali sih, Deidara! Kau lebih cocok dipanggil banci daripada Haku, sudah selesai!"
"Nggak adil banget!"
Tawaan kencang meledak di antara mereka. Sasuke akui itu cukup lucu, tapi masih belum cukup untuk membuatnya tertawa.
"Ya sudah, karena tadi kau yang mengajakku duluan….Naruto! Ayo lawan aku!" seru Sakura dengan senyum lebar.
"HEEEE!!"
Sakura langsung mengambil posisinya, melempar tatapan menantang pada Naruto. "Apa kau takut?"
Naruto mengerutkan dahi, berjalan ke sisi lain meja. "Sama sekali tidak."
Seruan 'ooohh' panjang merebak dari para penonton. Sekadar informasi, Naruto juga terkenal atas kekuatan fisik dan staminanya yang jauh di atas rata-rata. Tahun lalu, ia nyaris mengalahkan Sakura sebelum perempuan itu membalikkan keadaan dengan cepat, katanya pertandingan mereka berdua menjadi yang paling seru untuk dilihat. Sasuke merasa tertarik akan hal ini. Pasalnya, Naruto itu fisiknya benar-benar gila, kalau sampai kalah pada gadis ini, kegilaan yang bagaimana lagi yang dimilikinya?
Sakura dan Naruto mengaitkan tangan mereka, tersenyum kepada satu sama lain. Chojuro berdiri di sisi keduanya, bertindak sebagai wasit. Dalam hitungan ketiga, mereka berdua langsung mengeluarkan tenaga yang gila-gilaan.
Melihat Naruto yang sampai harus segitunya, Sasuke terkesiap. Masa iya segila itu?
Suara retakan terdengar dari bawah siku mereka, tidak mampu menahan tekanan yang diterimanya. Sakura menyeringai, menatap Naruto remeh. "Bahkan setelah setahun, hanya ini yang kau bisa?"
Naruto menggertakkan gigi, semakin menguatkan tangannya untuk menumbangkan lawannya. Kendati demikian, tangan gadis itu dengan keras kepala nya masih tetap berdiri tegak.
"Naruto," ekspresi Sakura berubah, sorot matanya memancarkan keseriusan. "Kau masih belum bisa mengalahkanku." Bersamaan dengan ucapannya tersebut, ia langsung membanting tangan Naruto ke atas meja dengan kuat, membuat benda itu bergetar hebat di bawah tekanannya.
Semuanya tercekat, tapi tidak lebih dari Sasuke. Saat melihat perubahan air muka Sakura dan ucapan gadis itu sebelum dia menumbangkan Naruto, Sasuke merasakan getaran yang turun ke punggungnya, yang mana merupakan sensasi yang asing baginya.
"Wooooo! You go, girl!" Seru Ino sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Naruto-kun!" si gadis indigo, Hyuuga Hinata, spontan menghampiri soulmate nya dengan cemas. Sementara yang dikhawatirkan hanya cengengesan.
Naruto berdiri, kembali ke tempat awalnya yang berada di sebelah Sasuke. "Wow, bahkan sepertinya kekuatannya menjadi lebih besar sekarang." Gumamnya pelan.
"Mungkin kaunya saja yang lemah." Sahut Sasuke.
Naruto sontak memutar kepalanya, memelototi Sasuke dengan ganas. "Apa kau bilang?!"
Sasuke mendengus. "Ku bilang, kau nya saja yang lemah."
Naruto menggeram rendah. "Kalau begitu, coba saja sendiri!" bola mata safir nya mengkilat, tersirat akan tantangan. "Kecuali, kau adalah seorang pengecut."
Sasuke memicingkan mata, tidak suka dengan senyum meremehkan yang diberikan Naruto. Tanpa membalas apa-apa ia langsung berjalan ke depan, mengambil posisi yang sebelumnya ditempati oleh Naruto dan mengangkat tangannya di atas meja. Memberikan isyarat atas partisipasinya sebagai penantang yang berikutnya, tidak mempedulikan bisikan-bisikan dari yang lain.
Sakura terkesiap, merasa bingung dengan sikap tiba-tiba dari pemuda yang ada di hadapannya ini. "Uchiha, huh…?"
Menajamkan tatapannya, Sasuke mengoreksi gadis itu; "Sasuke."
Sakura menghela napas. "Ya, uh, Sasuke."
Saat telapak tangan mereka bersentuhan, lagi-lagi Sasuke merasakan sensasi tersengat listrik seperti yang tadi. Ia juga semakin curiga bahwa Sakura juga dapat merasakannya, napas gadis itu tercekat selama sepersekian detik tadi. Mungkin orang-orang ini tidak dapat melihatnya, tapi ia jelas melihatnya dengan nyata. Sasuke menyimpan informasi ini untuk ia pikirkan nanti, sekarang ia hanya perlu membuktikan pada si kuning bodoh itu kalau memang dianya saja yang lemah.
Selama hitung mundur, Sasuke baru menyadari adanya gelang berwarna merah yang melingkari pergelangan tangan gadis itu. Lagi-lagi merasa seperti pernah lihat, tapi di mana ya?
"Hey," Sasuke mengangkat pandangannya, kembali fokus pada wajah Sakura. "Cuma mau bilang, aku akan mengalahkanmu dalam tiga detik." Kata Sakura dengan senyum congkak di bibirnya.
Kening Sasuke mengerut. Ya, ia tahu gadis ini mungkin lebih kuat daripada Naruto, tapi sepercaya diri ini? Oh, tidak-tidak. Peraturan penyihir nomor satu; jangan pernah meremehkan dan merasa lebih hebat dari musuhmu, siapapun itu. Sasuke akan membuat gadis ini menelan bulat-bulat harga dirinya yang hancur dan menjilat lukanya sendiri.
"MULAI!"
GREP!
Sasuke membelalak, kaget dengan cengkeraman kuat Sakura.
"Satu."
Ia berusaha menekan tangan gadis itu ke bawah, namun hasilnya nihil. Bergeser seinchi saja pun tidak.
"Dua."
Rahang Sasuke mengeras. Persetan, apa dia hanya bermain-main dengannya?
"Tiga!"
BUGH!
Sama seperti Naruto, Sasuke juga harus menerima kekalahan setelah tangannya dibanting dengan cepat. Dalam hati meringis, menyadari bahwa justru dirinyalah yang harus memakan perkataannya sendiri. Padahal ini merupakan kemunculan pertamanya dalam acara ini, tapi image nya sudah hancur duluan dari sebelum memulai pertandingan.
Sasuke mendecih, tawa Naruto menggema ke seluruh pejuru bangunan. Ia kembali menatap Sakura, berniat untuk melayangkan satu pelototan mematikan miliknya. Tapi saat ia melihat gadis itu, Sakura justru tersenyum lebar padanya. Dan lebih parahnya lagi, Sasuke merasakan sensasi yang tak biasa di perutnya usai melihat senyuman itu, yang tentu saja, sangat aneh dan membuatnya tidak fokus! Menyebalkan sekali!
Sasuke memutuskan, detik itu juga, bahwa Senju Sakura tidak baik untuk kesehatannya dan ia harus mewaspadai gadis itu, sebisa mungkin.
.
.
.
Magnificent
.
.
.
Hari ini tidak ada mimpi. Lagi.
Kalau dipikir-pikir, sudah seminggu Sasuke tidak memimpikan soulmate nya. Mimpi yang terakhir kali ia dapat adalah tentang soulmate nya yang tengah berbelanja makanan. Kira-kira bagaimana keadaannya sekarang?
Sasuke menggeleng. Bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu, karena sekarang, ia harus berkonsentrasi untuk menangkap para roh-roh sialan ini.
"Shishi Rendan!"
Bunyi gedebum terdengar usai Sasuke melancarkan serangannya, dengan roh yang menjadi targetnya tergeletak tak berdaya di atas tanah. Sasuke langsung menyegel roh tersebut ke dalam gulungan miliknya, bergabung bersama roh-roh lain yang sudah ia tangkap sebelumnya.
Sasuke tidak yakin sudah berapa banyak yang ia tangkap, tapi ia cukup yakin dengan angka yang akan dicetaknya pada pertandingan ini.
Pertandingan pada hari kedua, menangkap roh, sudah berlangsung sekitar satu jam yang lalu, mungkin. Sasuke tidak terlalu mengikuti waktu, jadi ia tidak tahu pasti sudah berapa lama ia melakukan ini. Meskipun begitu, Sasuke rasa ini sudah berlangsung cukup lama karena ia telah melihat sekilas berbagai macam kemampuan yang dimiliki oleh para pesaingnya.
Pada awal pertandingan, Sasuke secara tak sengaja melintasi jalur yang sama dengan Kaguya Kimimaro, murid unggulan dari Fukuoka yang bisa mengendalikan tulangnya sendiri, dan melihat kemampuannya secara langsung. Kalau boleh berpendapat, sebenarnya itu agak meresahkan untuk Sasuke. Melihat tulang-tulang mu sendiri bergerak keluar dari kulitmu….menggelikan.
Tak lama dari pertemuan pertamanya, ia kembali bertemu dengan murid lain lagi, kali ini Haku dari Shizuoka. Pemuda feminin itu menggunakan jurus es nya untuk membentuk banyak cermin es agar dapat mengelabui sebuah roh yang hendak ditangkapnya.
Lalu Sasuke juga melihat jurus lava milik Kurotsuchi, keahlian berpedang duo Karui dan Omoi, dan seorang gadis bernama Tenten—dari Osaka—yang sangat ahli dalam menggunakan berbagai jenis senjata.
Sasuke harus mengakui, bahwa semua yang berkumpul di sini adalah para penyihir yang hebat. Oleh karena itu, ia akan mendorong dirinya untuk menjadi jauh lebih hebat lagi.
BOOM!
Tanah yang dipijaknya bergetar bersamaan dengan suara gedebum keras yang menggema ke seluruh hutan, ini sudah yang ke sekian kalinya. Tebakan Sasuke, itu adalah ulahnya Deidara. Karena... yah, dia adalah ledakan, benar kan?
Menetapkan target pada satu roh yang ia temui, Sasuke bersiap untuk melayangkan Chidori Senbon pada roh tersebut guna menghentikan pergerakannya, namun tiba-tiba—
"SHANNARO!!!"
BUAGH!
—dari atas muncul Senju Sakura dengan kakinya yang terangkat tinggi, lalu tumit sepatunya mendarat di atas kepala roh yang tadi. Roh yang seharusnya menjadi target Sasuke.
Sasuke terdiam kaku. Jadi suara-suara yang sebelumnya, dan getaran tanah itu… semuanya gara-gara gadis pink ini?!
Sakura menyegel roh tersebut, sama sekali tidak sadar dengan keberadaan Sasuke. Sampai netra emerald nya mendarat pada pemuda Uchiha tersebut.
"Oh!" serunya. "Sasuke! Sejak kapan berdiri di situ?"
Sasuke merasakan alisnya berkedut. "Kau, mengambil targetku…"
"Eh?" alis merah muda terangkat tinggi. "Kalau begitu aku minta maaf karena sudah merebutnya darimu."
Sebelah alisnya terangkat naik, Sasuke tidak menyangka gadis itu akan meminta maaf padanya.
"Tapi kau juga harus ingat, peraturan nomor satu dari permainan ini adalah, siapa cepat dia dapat."
Kini Sakura memiliki senyuman mengejek yang tersungging lebar di bibirnya. Sasuke termangu, sedikit tersulut emosi karena sikap sarkastik gadis itu.
Sakura tertawa kecil, melemparkan satu kedipan mata pada Sasuke sebelum melesat pergi dari sana. "Sampai jumpa di penginapan nanti, pemula."
Pada saat ini Sasuke benar-benar emosi. Emosi karena gadis Senju itu telah merebut mangsanya, dan dengan beraninya berkedip, berkedip kepadanya?! Kenapa…kenapa pula sekarang jantungnya berdebar-debar?! Tidak, ia sama sekali tidak deg-degan karena kedipan matanya, sama sekali bukan karena itu. Pasti.
Arrggh! Bikin tidak fokus saja!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hasil hari ini, Sakura berada di peringkat pertama dengan total tangkapan 246 roh. Sasuke mengikuti di peringkat kedua dengan 125 roh, lalu peringkat ke tiga ada Naruto dengan 124 roh. Iya, Sasuke dan Naruto hanya berbeda satu angka saja, sementara perbedaan angka antara dirinya dengan Sakura membentang jauh hingga lebih dari seratus angka. Menyebalkan.
Saat ini mereka tengah makan malam bersama, diselingi dengan suara yang saling sahut-menyahut mengenai topik tentang pertandingan mereka tadi.
Sasuke mengunyah tomatnya dengan sedikit beringas. Beberapa saat yang lalu, ia mendapat pengetahuan baru bahwa Senju Sakura ternyata bisa memasak, dan makanan yang dihidangkan saat ini adalah hasil dari masakannya. Sialnya lagi, masakannya terasa sangat enak.
Ketidak adilan macam apa ini? Gadis itu ahli adu panco, mempunyai kekuatan yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun, penyihir kelas atas, dan sekarang, dia bisa memasak makanan enak pula?! Semua hal yang dimilikinya adalah 'unggul'.
Dan gadis itu berada di hadapannya sekarang. Duduk dan makan tepat di depan matanya.
"Sakura! Seperti biasa di peringkat pertama!"
"Nggak seru banget, Saku. Kau menang terus…"
"Nasib dilahirkan di era yang sama dengan Senju Sakura, sabar, sabar."
"Naruto juga! Konsisten seperti biasa~"
"Tidak bisa! Aku turun satu peringkat dari tahun lalu gara-gara si teme ini, tidak bisa!"
Awalnya Sasuke hanya diam saja, menyimak pembicaraan mereka satu-satu. Tapi saat dirinya dibawa-bawa begini, apalagi oleh Naruto dengan tingkah dramatisnya, ia pun berdecak sebal. "Berhentilah bersikap menjijikkan, dobe."
"Teme! Bagaimana bisa kau mengalahkanku, hah?!"
Sasuke hanya memutar kedua bola matanya, lalu beralih untuk kembali menyantap makanannya. Tapi sebelum itu, ia justru bertemu tatap dengan Sakura duluan, sebuah senyum simpul terpatri di bibir merah mudanya.
Sasuke mengernyit. "Ada apa dengan senyumanmu itu…"
"Hm?" Sakura memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"
Dengan wajah tertekuk, Sasuke berkata; "Kau menyebalkan."
"Ha…?"
Melemparkan tatapan tajam, Sasuke akhirnya kembali berkutat dengan makanannya. Sasuke juga tidak tahu mengapa ia mengatakan itu, yang ia tahu ia hanya ingin mengatakannya. Lagipula, gadis ini membuatnya frustasi, jadi ia rasa itu sudah cukup untuk dijadikan sebagai alasan.
Sasuke pikir Sakura akan menjauhi dirinya—setidaknya dengan begitu ia tidak perlu merasa terganggu hanya dengan melihat wajah gadis itu lagi—tapi dia malah mengajaknya berbicara sekarang.
"Bagaimana masakanku?"
Sasuke memilih untuk melemparkan tatapan tajam, lagi.
"Naruto bilang kau suka tomat, jadi aku tambahkan saja ke dalam sup itu. Padahal biasanya kami tidak pernah memakai tomat." Sakura menopang dagunya, menatap menerawang ke atas.
Sasuke menghela napas panjang, mengamati wajah gadis di depannya. Itu… terdengar sangat perhatian untuknya. Memperhitungkan apa yang ia suka, lalu menghidangkannya untuknya.
Dan dia memiliki hati yang baik pula? Hah…
Sasuke memutuskan untuk menghiburnya kali ini. "Enak."
Sakura tersadar dari lamunannya, menatap Sasuke bingung. "Apa?"
"Masakanmu enak." Ulang Sasuke.
Sakura tersenyum lebar, sorot matanya berbinar. "Benarkah?"
Oke, sekarang Sasuke sedikit menyesali keputusannya barusan. "Ck, iya."
"Hehe, aku senang mendengarnya."
Melihat senyumnya itu, entah kenapa Sasuke merasa sedikit tersentuh. Tanpa sadar sudut bibirnya ikut tertarik ke atas, membentuk senyum tipis.
Di tengah hiruk pikuk para pelajar ilmu sihir itu, Sasuke dan Sakura saling berbagi senyuman, meskipun tanpa disadari oleh si pelaku pertama—terlanjur larut dalam dunia mereka sendiri.
.
.
.
Magnificent
.
.
.
Pagi tadi, Sasuke terbangun karena mimpi yang kembali ia dapat setelah tujuh hari lamanya.
Secara mengejutkan, ia hanya melihat Yamanaka Ino sepanjang mimpinya. Kelihatannya, gadis pirang itu tengah berjalan di sekitaran halaman belakang penginapan bersama dengan soulmate Sasuke. Mimpi ini juga membuatnya sadar, bahwa alasan mengapa Ino terasa familiar untuknya adalah karena gadis itu yang sering muncul di dalam mimpinya. Serius, Sasuke ingin memukul dirinya sendiri karena tidak langsung menyadari fakta ini sejak awal.
Kembali ke masalah utama, jika Sasuke harus membuat tebakan siapakah soulmate nya, maka dugaannya akan jatuh kepada gadis-gadis Osaka. Kenapa? Pertama, Ino sudah muncul di mimpinya jauh sebelum acara ini datang, untuk terus melihatnya dalam frekuensi yang banyak, itu berarti soulmate nya juga berasal dari Osaka. Lalu, dari sepenglihatan Sasuke selama tiga hari ini, Ino sepertinya tidak terlalu suka berbaur dengan siswi-siswi lain yang bukan dari sekolahnya sendiri, jadi itu seharusnya memang Osaka.
Nah, sekarang mari kita lihat. Mengingat Ino yang merupakan soulmate dari Sai dan Hinata soulmate Naruto, sisa siswi Osaka yang masih memiliki peluang untuk menjadi soulmate nya adalah Tenten, Fū, Shion, dan… Sakura.
Hm… bagaimana kalau.…kalau ternyata soulmate nya adalah Sakura?
Secara otomatis, netra obsidiannya langsung menemukan gadis itu, berjalan memasuki ruang makan bersama dengan Ino.
Sebenarnya, itu masuk akal. Ino paling sering terlihat bersama dengan Sakura—secara praktis, mereka berdua sudah seperti kembar siam; tidak bisa dipisahkan. Sedikit banyak, Ino dan Sakura adalah Naruto dan Sasuke dalam versi perempuan.
Tapi tunggu, ia sedang tidak mengharapkan gadis itu untuk menjadi soulmate nya…..kan?
Saat ini sudah memasuki jam makan malam. Lagi. Mereka semua telah menyelesaikan pertandingan pada hari ketiga; mengumpulkan gulungan surga dan bumi. Hari ini, Sasuke dapat melihat kemampuan teman-temannya lebih jauh lagi. Ada banyak jurus-jurus baru yang ia lihat, jurus yang tidak dikeluarkan pada hari sebelumnya. Bermaksud untuk elemen surprise, mungkin.
Pada pertandingan ini juga mereka dipaksa untuk saling melawan sekolah lain, demi merebut gulungan yang harus dikumpulkan. Tim Tokyo sempat beradu kekuatan dengan Tim Okayama tadi. Sasuke jadi bisa melihat kekuatan pasir Gaara dari jarak dekat. Pemuda itu hebat, ia akan memberikannya itu. Tapi Sasuke dan Naruto jauh lebih hebat dari mereka, jadi tentu saja, mereka yang menang.
Lalu, Sasuke juga dapat melihat teknik terkenal dan yang sangat diagung-agungkan karena kelangkaannya di kalangan penyihir; teknik elemen kayu, dilancarkan oleh Sakura pada pertandingan kali ini.
Alasan mengapa gadis itu lebih dikenal sebagai keturunan dari Senju Hashirama, adalah karena kemampuannya yang bisa menggunakan elemen kayu, yang sama kuatnya dengan pendahulunya.
Sejak zaman dulu, satu-satunya orang yang bisa menggunakan elemen kayu sejak lahir hanyalah Senju Hashirama, membuat sang legenda tersebut benar-benar istimewa di kalangan para penyihir. Jika ditambah dengan masa sekarang, total ada tiga orang yang bisa menggunakannya, yaitu Hashirama, seorang penyihir senior yang bernama Yamato, dan terakhir, Sakura. Dan yang murni mendapatkannya sejak lahir adalah Hashirama dan Sakura.
Itu sangat keren, bagaimana pohon-pohon yang ada di hutan tunduk di bawah kendali Sakura, mengikuti setiap kehendaknya. Apalagi ketika senyuman lebar terpatri di bibir gadis itu setelah dia berhasil mendapatkan gulungan yang dibutuhkan timnya, sangat memesona.
Pada akhirnya, pertandingan hari ini dimenangkan oleh Tim Tokyo, sukses menyelesaikan misi paling awal dari yang lainnya. Disusul oleh Tim Osaka, lalu Tim Okayama.
Sekarang, setelah semuanya selesai, Sasuke menyantap makanannya sambil kembali merenungkan perihal soulmate nya. Dan lagi-lagi, di hadapannya ada Sakura yang juga tengah menikmati makanannya. Sasuke tidak tahu apakah gadis itu melakukannya dengan sengaja, mengingat kursi yang kosong tidak hanya di depannya saja, atau mungkin dia hanya spontan memilih yang ini, karena kemarin mereka juga duduk di posisi yang sama.
Hari ini sedikit aneh. Ia menangkap Sakura beberapa kali melirik ke arahnya, mulai dari tadi pagi hingga sekarang. Bahkan saat ini ia bisa merasakan tatapan gadis itu di sela santapannya, membuatnya sedikit risih, dan… gugup?
Merasa cukup, Sasuke memutuskan untuk menanyainya. "Kenapa?"
Gadis itu terlihat kaget, tapi langsung mengontrol ekspresinya. "Kenapa apanya?"
"Kenapa manatapku terus?" jelas Sasuke. Sakura mendengus. "Siapa juga yang menatapmu? Jangan ge-er."
"Hn."
Tidak berguna juga menanyainya, jadi lebih baik lanjut makan saja.
Tapi sekarang Sakura malah terlihat gelisah, seperti memikirkan banyak hal sekaligus, dan itu sangat menganggu Sasuke.
Menghela napas panjang, Sasuke berucap; "Katakan." Yang disahut Sakura dengan; "Hm?"
Sepertinya gadis ini memiliki masalah dengan indera pendengarannya. "Katakan apa yang mengganggu pikiranmu."
Sakura mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Hoo… terlihat sangat jelas ya?" pemuda raven itu hanya menatapnya datar. "Padahal Ino saja tidak sadar lho."
"Ck, sudah langsung ke intinya saja." Decak Sasuke sebal.
"Kenapa juga aku harus menceritakannya padamu?"
"Karena wajahmu itu benar-benar menggangguku. Cepat katakan lalu pergi dari sini."
Sakura merengut. "Kau ini mau mendengarku atau mau mengusirku sih?"
"Hn."
Sakura mendecakkan lidah, jengkel dengan sikap Sasuke. Tapi ia menahan diri untuk tidak melayangkan komentar tajam padanya, melainkan mencoba untuk menumpahkan isi pikirannya.
"Sasuke, apa kau sudah bertemu dengan soulmate mu?"
Sasuke terbatuk, dengan cepat meraih gelas berisi minumannya. Matanya menyipit kepada Sakura, sementara gadis itu hanya mengedikkan bahu. "Kau yang minta aku untuk jujur kan?"
Ya, memang benar. Tapi mana Sasuke tahu kalau Sakura tengah memikirkan hal sensitif seperti itu. Biar ku beri tahu, menanyakan tentang soulmate kepada orang lain adalah BIG NO! Yang berarti, jangan pernah coba-coba mengangkat hal ini sebagai topik pembicaraan, apalagi dengan orang yang baru dikenal.
Namun, karena Sasuke juga tengah uring-uringan mengenai soulmate nya, dan dengan adanya kemungkinan kalau gadis ini ternyata adalah soulmate nya, yang menjadikan dirinya sebagai soulmate gadis itu, maka Sasuke memilih untuk berbaik hati.
"Belum." Jawab Sasuke. Kedua matanya fokus menatap paras gadis yang ada di depannya, menelisik setiap inchi wajahnya.
"Aku juga!" seru Sakura antusias.
"Lalu?"
"Lalu, er….jadi begini….um…kemarin… hm… bagaimana ya…"
"...Aku tidak mengerti."
Sakura tiba-tiba tergelak, entah karena apa. Mungkin dia melakukannya untuk menenangkan dirinya sendiri, entahlah. Sasuke hanya menatapnya datar, tidak mengerti dengan sikap yang dimiliki gadis merah muda itu.
Akhirnya, setelah tawanya mereda, Sakura berbalik menatap Sasuke dengan serius. "Dengar, Sasuke. Ini sedikit gila, tapi… apa mungkin kau adalah—"
Drrtt!
Suasana langsung buyar seketika saat suara getaran ponsel menyela pembicaraan mereka.
Sakura mengumpat, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menatap layarnya dengan sadis. Ia buru-buru pamit kepada Sasuke dan berlari keluar dari ruang makan dengan cepat.
Sasuke menatap kepergiannya dengan embusan napas panjang. Ia bahkan tidak sadar telah menahan napasnya saat Sakura akan mengatakan sesuatu yang menurutnya 'gila' itu. Berbagai macam pertanyaan berputar di otaknya; kenapa gadis itu tiba-tiba membicarakan tentang soulmate? Secara kebetulan bisa sama dengannya yang juga tengah pusing memikirkan soulmate nya. Apa hal itu yang mengganggu pikirannya? Bagaimana kalau ternyata Sakura juga berpikir bahwa mereka, mungkin saja, adalah soulmate satu sama lain?
Tidak… Sasuke benar-benar harus berhenti untuk overthinking. Mana mungkin Sakura juga berpikir mengenai hal yang sama dengannya…
—Tapi bagaimana kalau ternyata memang benar? Lalu ia harus apa?
Menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Sasuke kembali melanjutkan makannya yang sempat terjeda sambil berpikir; di mana ia pernah melihat ponsel itu sebelumnya…?
.
.
.
Magnificent
.
.
.
"Oi! Kau menjatuhkan gelangmu lagi nih!"
Ia memutar badan, menemukan Yamanaka Ino yang tengah menyodorkan gelang berwarna merah kepadanya.''Ah! Padahal sudah ku cari ke mana-mana! Huhu~ terima kasih, Ino!"
Gadis berambut pirang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini ceroboh sekali, untung saja aku lihat duluan di ruang depan, kalau tidak bakal tersapu sama Temari tadi."
Tawaan masam terlantun dari tenggorokkannya.
"Ngomong-ngomong, kau habis ditelpon siapa?" tanya Ino, senyuman menggoda tersungging di bibirnya. "Dari laki-laki ya? Hayo ngaku!"
"Mana ada!" ia menyanggah dengan cepat. Pandangannya jatuh kepada layar ponsel yang ia genggam untuk beberapa saat. "Aku habis ditelpon Obaa-chan."
Ino mendesis. "Heish, nenekmu itu berlebihan sekali. Padahal kau selalu menjadi murid unggulan setiap tahunnya, tidak ada yang perlu dia khawatirkan."
Ia terkekeh. "Mau bagaimana lagi, sekarang hanya tinggal kami berdua."
Ino tersenyum. "Hah~ kau membuatku ingin memelukmu saja. Cepat kemari! Sak—"
SRAK!
Sasuke terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar dan napasnya sedikit tersengal.
Barusan itu—!
Ino, gelang merah, ponsel, telponan dari nenek, murid unggulan—
—Itu Sakura, benar kan?
Sial, sial, sial. Sasuke mengusap wajahnya dengan kasar. Ini sungguhan, ini benar-benar terjadi! Ia meremas rambutnya frustasi, lalu mengacaknya asal-asalan. Ia tidak sedang marah dengan takdir, tapi ia kesal dengan dirinya sendiri karena tidak mampu menyimpulkan semua ini sejak awal. Maksudnya, gelang itu dan ponsel itu? Ia melihatnya sehari-hari tapi tidak bisa mengingatnya dengan baik. Dan jangan lupakan sensasi sengatan listrik yang ia rasakan tempo hari. Benar-benar bodoh.
Manik obsidiannya bergulir, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Sial. Kalau sudah jam segini mana bisa tidur lagi.
Sasuke mengacak rambutnya lagi, sebelum beranjak dari kasurnya dan berjalan mengeluari kamar. Tidak tahu ke mana, yang jelas ia hanya ingin melakukan sesuatu, untuk mendinginkan kepalanya dan berpikir dengan jernih.
Apa lebih baik ia mengkonfrontasi Sakura mengenai masalah ini sekarang saja? Soalnya berbicara berdua lebih enak tanpa harus dikelilingi oleh banyak orang.
Tapi mana mungkin Sakura sudah bangun. Gadis itu pasti masih terlelap sambil memimpikan dirinya.
Sekarang Sasuke penasaran, kira-kira apa yang dilihat gadis itu di dalam mimpinya?
Sasuke mendengus. Kalau ia saja melihat Ino secara terus-terusan di dalam mimpinya, berarti Sakura juga akan melihat Naruto dalam frekuensi yang banyak.
Menapakkan kaki di lorong bangunan, Sasuke menyadari bahwa ia sama sekali tidak masalah dengan kenyataan yang baru didapatnya ini. Ia justru… merasa senang? Senang karena soulmate nya adalah Sakura.
Apakah ini karena.…jangan-jangan ia telah jatuh hati pada gadis itu secara perlahan-lahan?
Oh, tidak. Bahkan jantungnya saja sekarang berdebar-debar hanya karena pemikiran jatuh cintanya.
Yep. Detik itu juga Sasuke sadar, bahwa ia telah jatuh.
Melangkah ke dapur, Sasuke memutuskan untuk mengambil segelas air putih. Sambil menenggak minumannya, bola matanya bergulir pada jendela yang menyuguhkan pemandangan di halaman belakang dari dalam. Semuanya terlihat biasa saja, kecuali untuk warna pink yang menyembul dari balik bangku taman.
Sasuke tersedak.
Pink?!
Tubuhnya secara otomatis langsung bergerak mendekati asal warna tersebut. Dan benar saja, di sana, ada Senju Sakura yang tengah duduk termenung di atas bangku.
Sasuke menarik napas panjang. "Kau!?"
Gadis berambut pink itu terlonjak kaget. Badannya berputar ke arah Sasuke dan ketika manik emeraldnya mendarat pada pemuda itu, ia terkesiap. "S-Sasuke?!"
Sasuke berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. "Apa yang kau lakukan di sini? Pada jam dua pagi?"
Sakura terlihat linglung selama beberapa saat, sebelum akhirnya tersadar dari kebodohannya. "Aku… tidak bisa tidur."
Sasuke menatapnya datar. "Hn."
Sakura, yang sepenuhnya telah selesai memproses keberadaan Sasuke, bertanya dengan sinis; "Kau sendiri, kenapa tidak tidur?"
"Aku juga tidak bisa."
"O-oh…"
Tak ingin tenggelam dalam keheningan, Sasuke memutuskan untuk berterus-terang. "Apa kau sudah menyadarinya?"
Sakura membelalakkan mata, langsung paham dengan apa yang ia maksudkan. "Jadi, kau juga?!"
Sasuke berdecak, tangannya terangkat untuk menyentuh gadis itu, tapi dikejutkan dengan munculnya cahaya menyilaukan yang berasal dari area di mana kulit mereka bersentuhan.
Sakura menganga. "Ini… ini benar-benar sungguhan!"
Mata Sasuke melebar, menatap cahaya tersebut seakan terhipnotis olehnya. "The light of truth…" bisiknya.
Tak lama kemudian cahaya tersebut meredup, meninggalkan mereka dalam pikiran masing-masing.
Sasuke tidak tahu apa yang mendorongnya, mungkin semua emosi yang selama ini terpendam di dalam hati akhirnya menghantamnya secara bersamaan. Mungkin—mungkin karena Sakura yang berada di hadapannya sekarang. Sakuranya, soulmate nya.
Ia bergerak maju, menempelkan bibirnya pada bibir merekah gadis itu. Melumatnya dengan sedikit beringas.
Manis, rasanya manis. Memabukkan, rasanya memabukkan. Sasuke mabuk, Sasuke jatuh. Jatuh ke dalam spiral jutaan emosi yang mengaduk-aduk hatinya.
Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit. Sampai pasokan oksigen yang ada di dalam paru-paru keduanya menipis, barulah mereka saling menjauhkan diri dari satu sama lain.
"Gila…" bisik Sakura di tengah-tengah tarikan napasnya.
Sasuke menghirup napas dalam-dalam, sambil mengamati wajah Sakura yang merah merona.
"Gilaaaa!" seru Sakura, kedua tangannya meremas helaian rambut merah mudanya. Sasuke mengerutkan hidung. "Kau ini kenapa?"
Sakura sontak mengangkat wajahnya, menatap Sasuke dengan pupil yang membola. "Itu first kiss ku!"
"Itu juga first kiss ku." Sahut Sasuke datar.
"Aduh, bukan itu masalahnya!"
Sasuke masih menatapnya datar.
"Sasuke!" kedua manik emerald itu bersinar, menatapnya dengan tegas. "Ku pikir—ku pikir aku telah jatuh cinta padamu…" ucapnya lirih.
Sasuke tentu saja terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis itu memiliki sisi yang seperti ini di dalam dirinya. Sisi yang sangat manis, berbeda dengan image yang selama ini ditanamkannya pada orang-orang lain.
Sasuke tersenyum. Senyum pertamanya yang secara sadar ia tampilkan pada Sakura; senyum tulus yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.
"Ku pikir, aku juga sudah jatuh cinta padamu."
Netra obsidian dan emerald saling berbentrokan, menatap satu sama lain selama beberapa saat; merasa nyaman dengan atmosfer yang tercipta di antara keduanya.
Dalam momen impulsif, Sasuke dan Sakura kembali mempersempit jarak di antara mereka. Kali ini untuk berpelukan, bukan berciuman. Hanya sekadar menikmati panas tubuh satu sama lain di tengah dinginnya suhu pada pukul dua pagi.
Ya, Sasuke tidak akan pernah bisa menolak kenyamanan ini. Bahkan setelah ribuan tahun pun, ia tidak akan pernah mau menukar semua ini untuk hal lain. Karena ini adalah soulmate nya, ini adalah Sakura; si gadis magnificent yang unggul dalam segala hal, termasuk dalam merebut hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Fin
Haloo~!
Ini jujur aja ceritanya agak gaje, idenya juga muncul tiba-tiba. But i still write and post it anyway so...
Buat kalian yang Sakura-centric dan suka baca cerita crossover, aku ada post cerita Sakura x Haikyuu dan Sakura x AOT ya, hehe (yes, i'm shamelessly promoting my other ficts here so do check them out if you are interested ;))
Also, aku ada rencana buat bikin crossover fict Sakura x BNHA dengan pairing Sakura x Todoroki or Sakura x Bakugou, or maybe both? Idk, i might do it but not in the near future, karena sibuk nugas dan mood nulis yang suka berubah-ubah... tapi gitupun aku masih punya banyak ide di otakku lol
Btw, i just want to let y'all know in case i really do write it later ;)
Please leave your thought if you have any!
