"Sudah Februari, ya?"

Gumaman Touson di hadapannya membuat Shuusei melirik sedikit. Fokusnya jadi sedikit terbagi, antara gumaman rekannya yang tiba-tiba, juga sarapannya yang belum selesai. Shuusei menuntaskan kunyahannya sebentar, sebelum benar-benar fokus pada Touson dan menyahut.

"Sudah Februari?"

"Uhm, tanggal 1."

"Oh ..." Shuusei mangut-mangut saja. Belakangan ia tidak memerhatikan tanggal, meski sejujurnya ia tidak terlalu perduli apabila hari ini ternyata bulan sudah berganti.

Gantian Touson yang menatapnya sekarang. Pada mulanya ia tidak begitu sadar—ia baru menyadarinya kala iseng mencuri lirik ke depan, dan mendapati pemuda berhelai cokelat itu menatapnya dengan pandangan tak biasa.

"Shimazaki?" Dahi Shuusei mengernyit, agak risih dipandangi seperti itu.

"1 Februari ..." Lagi-lagi Touson menggumam, namun gumamannya tak berhenti di sana. "Ulang tahunnya Shuusei, bukan?"

Shuusei terdiam. Kedua matanya mengerjap. "... Kau mengingatnya?" Dahinya mengernyit lagi.

"Hanya kebetulan, sebenarnya."

"Oh."

Dan untuk sesaat mereka kembali saling bisu, ditelan ramainya aula makan pada pagi hari yang cerah. Shuusei fokus kembali pada sarapannya—menghabiskannya, lumayan cepat karena hari ini ia masih bertugas jadi asisten pustakawan.

"Nee, Shuusei."

Shuusei baru saja ingin mengembalikan nampan kala tiba-tiba Touson memanggilnya. Pemuda itu tidak jadi beranjak, matanya langsung menatap si pemanggil dengan tatapan bingung.

"Ya?"

"Bagaimana rasanya waktu kamu tahu hari ini ulang tahunmu?"

Pertanyaan yang cukup aneh. Untuk kali ketiga dahi Shuusei mengernyit pagi ini, bingung dengan pertanyaan Touson yang kedengaran ... absurd?

"Biasa saja?" Shuusei mengangkat bahu.

"Hee?"

"Usiaku nggak bertambah lagi, soalnya. Lagipula memang bukan hal spesial, kan? Bakalan sama saja seperti hari biasa." Terakhir kali usianya bertambah adalah pada sekian puluh tahun lalu, kala usianya bertambah jadi 71. Setelah itu tidak lagi—karena pada tahun yang sama napasnya berhenti berembus. Bukan hal unik, tidak perlu diingat lagi sebagai sesuatu yang spesial, begitu Shuusei berpikir.

Touson masih menatap Shuusei. Iris sewarna daun muda miliknya sejenak mengerjap-ngerjap ketika mendengar jawaban pemuda itu. "Wah ..."

"Kenapa?"

Touson menggeleng kalem. "Tidak, tidak," ucapnya seraya tersenyum. Sebetulnya Shuusei tidak mengerti apa maksud dari jawaban itu, hingga memilih buat undur diri, mengembalikan nampan yang isi makanannya sudah tandas.

~o~

Different Things on First Day of February

Bungou to Alchemist belong to DMM

for our beloved starter's birthday, Tokuda Shuusei (Feb 1)

Happy reading!

~o~

Tugasnya sebagai asisten pustakawan sederhana saja sebenarnya. Mengurusi beberapa unit bungou yang bakal delving hari ini, menata buku-buku yang telah selesai disucikan kembali ke rak buku dalam perpustakaan, juga mencatat semua laporannya nanti sore.

Yah, itu tugas utama, sih. Tambahannya, mengurusi semua kekacauan absurd yang dilakukan oleh rekan-rekannya dalam Toshokan ini—konflik sepele (tapi ujung-ujungnya perlu dilerai) antara Dazai Osamu dengan Shiga Naoya yang mustahil selamanya reda, misalnya, atau masalah Shimada Seijirou yang tahu-tahu sudah berkelahi dengan Iwano Houmei entah di titik perpustakaan bagian mana, benar-benar merepotkan. Intinya seperti itu.

Neko dan Kanchou menyambutnya seperti biasa pagi itu, lalu membiarkan Shuusei berjibaku dengan jadwal unit-unit bungou yang bertugas, sebelum keduanya pergi. Shuusei sendirian sekarang.

"Jadi hari ini ... The Case of Murder on D Hill?" Novel karya Edogawa Ranpo melayang dalam mesin transmisi, membukakan portal untuk para bungou masuk dan menyucikannya.

Beberapa bungou yang pagi ini bertugas datang dalam waktu cepat—jadwal delving penghuni perpustakaan selama seminggu biasanya ditempelkan dalam papan pengumuman pada Minggu malam, alias kemarin. Mereka pergi, dan Shuusei tinggal mengamati apa yang terjadi dari tempatnya berpijak sekarang—siap sedia memanggil yang lain atau menyusul ke dalam apabila ada masalah genting.

Saat itulah, pintu ruang transmisi mendadak terbuka. Shuusei menoleh sebentar.

"Aka-kun dan Ao-kun?"

"Yo," sapa Aka ceria, seraya memasuki ruang transmisi. Ao di belakangnya turut menyusul, tangannya hanya membawa papan scanner kayu berisi kertas-kertas kosong.

Shuusei mengernyitkan dahi. "Tumben kemari?" Sepasang anak yang hubungannya tak pernah Shuusei mengerti itu jarang sekali ke tempat ini, selain kalau ada buku baru yang mesti diteliti. Biasanya mereka hanya berdiam di ruang memoria, atau perpustakaan, di manapun. Tumben sekali.

"Ng, itu ..." Aka tampak ragu mengatakannya. Sebelum anak itu bicara lagi, Ao sudah memotongnya.

"Kami mau bantu Shuusei-san mengurus orang-orang yang pergi delving sekaligus ngerjain laporannya," ujar anak berhelai putih itu langsung.

"... Hah?"

Shuusei mengerjap-ngerjap, agak bingung.

"Mumpung nggak ada kerjaan, nih, jadi kami bantu." Aka berujar lagi. "Boleh, nggak?"

"... Ng ..." Agak janggal, sebetulnya. Sekali lagi, mereka jarang kemari, apalagi mau membantu sesuatu yang sejujurnya bukan urusan mereka. Bukan curiga, hanya saja ...

... aneh.

"Diem aja berarti boleh! Ao, ayo!" Seruan Aka yang terlalu tiba-tiba membuat laporan Shuusei terbuyar. Tunggu, dia bahkan belum setuju!

"T-tunggu sebentar ..."

"Tenang, kami nggak bakal bikin kekacauan," potong Ao. Anak itu tersenyum kecil sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Bukan ..." Shuusei menggeleng pelan. "Kalian berdua ... tumben?"

Aka dan Ao saling lirik.

"Hanya ingin saja," kata Aka ringan.

"Setahun sekali, lho," sambung Ao, nadanya kedengaran kalem. "Jadi, apa yang harus kami kerjakan?"

~o~

Tiga puluh menit berlalu, The Case of Murder on D Hill telah sukses disucikan. Unit bungou yang pertama delving hari ini pulang dengan selamat, tanpa luka parah sedikitpun—paling-paling hanya lecet karena menghindari serangan, akan tetapi tidak perlu beristirahat lama di ruang kesehatan.

"Niimi kenapa?" Melihat raut wajah Niimi Nankichi yang murung sambil memeluk bonekanya kala kembali dari mesin transmisi sedikit menarik perhatian Aka. Chuuya yang kebetulan mendengar pertanyaan itu menghentikan langkahnya sejenak.

"Lengan bonekanya nggak sengaja sobek," ujar pemuda itu singkat. "Mori-sensei hari ini nggak di tempat, makanya dia sedih."

"Hee ..."

Shuusei hanya memperhatikan percakapan mereka berdua sedari tadi. Matanya melirik ke arah pintu sedikit, belum tertutup karena Chuuya yang turut keluar tak lama setelahnya lupa menutupnya.

"Kudengar Shuusei-san bisa menjahit, kan?" Celetukan Ao membuat Shuusei menoleh.

"Ooh, iya!" Aka mendekat pada mereka. Iris merahnya tertuju pada Shuusei. "Kau bisa perbaiki bonekanya?"

Shuusei mengerjap. Tak lama, ia mengangguk kecil. "Bisa, sih ..."

"Nah!" Tak lama Aka berlari keluar, lantas berteriak di koridor, "Ooooi, Shuusei bilang dia bisa perbaiki bonekanya!"

Shuusei tersentak. "T-tunggu, pekerjaanku belum-"

"Kami bisa urus itu." Ao memotong. "Tenang saja."

Nankichi kembali ke ruang transmisi tak lama kemudian, diikuti Kenji yang menemaninya sejak tadi dan Aka dari belakang yang tersenyum puas. Penulis dongeng yang bereinkarnasi dalam wujud anak-anak itu menatap Shuusei penuh harap.

"Shuusei-san bisa obati Gon?" tanyanya.

"I-iya ..." Shuusei patah-patah mengangguk, agak terkejut sebenarnya karena Nankichi benar-benar kembali.

Nankichi menyerahkan boneka rubah miliknya pada Shuusei. "Tolong, Shuusei-san!"

"... Baik ..."

Nankichi dan Kenji keluar setelah mengucapkan terima kasih. Shuusei menatap boneka yang ada di tangannya saat ini. Bagian lengan kirinya sobek dari pangkal hingga ke ujung, dan isi kapasnya mencuat sedikit. Shuusei mangut-mangut.

"Kami bisa urus ini, kau perbaiki saja itu," ucap Aka santai.

Shuusei mengangguk. "Mohon bantuannya, lho."

"Siap~"

~o~

"... Di mana ya ...?"

Shuusei menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kotak berisi benang dan jarum yang dimilikinya sudah ada di pangkuan. Masalahnya hanya satu.

Benang jingga kekuningan yang warnanya sama persis dengan boneka milik Nankichi sepertinya habis—yang ia dapati hanya beberapa gulungan kosong di antara gulungan-gulungan benang warna-warni. Shuusei meringis.

Suara ketukan dari pintu kamarnya mendadak menarik perhatian. Shuusei menoleh, lalu berdiri. "Sebentar!"

Pintu dibuka. Sosok berhelai biru dengan setelan putih khas Shirakabaha berdiri di depan kamarnya dengan senyum riang.

"Ah, Satomi-kun?"

Satomi Ton nyengir, serta menyodorkan sesuatu dengan kedua tangannya. "Nih!"

"Eh?"

Ada sebuah kotak kecil berwarna hijau di tangan Satomi. Gambar siluet kepala kelinci berwarna jingga menghiasi bagian tengah tutupnya. Shuusei memiringkan kepala.

"Dari Kyouka-sensei." Satomi berujar ringan. "Katanya, balasan buat November kemarin."

"... Huh?"

Rasanya agak canggung ketika Shuusei menerima kotak kecil itu. Kala kotak hijau dari Kyouka sudah berpindah tangan, senyum Satomi melebar.

"Aku dengar dari beberapa orang, hari ini Shuusei-san ulang tahun. Jadi, selamat ulang tahun!" Ucapnya riang, kemudian beranjak. "Jaa, aku pergi dulu!"

"... Ah, iya ..."

Shuusei baru menutup pintu kala punggung Satomi menghilang di belokan koridor. Kotak hijau itu masih ada di tangannya, Shuusei membukanya setelah ia kembali duduk di dekat boneka milik Nankichi dan kotak benang miliknya yang sempat terabaikan.

Ada satu kertas terlipat di paling atas. Kala Shuusei mengambilnya, ia bisa lihat gulungan benang beraneka warna dan satu set jarum jahit di bawahnya. Sejenak pemuda itu terdiam.

Shuusei melirik kertas yang ada di tangannya. Lipatannya ia buka perlahan. Barisan kalimat rapi bertinta hitam yang amat ia kenali gayanya menyambut kedua matanya.

[Untuk Tokuda Shuusei,

Ingat saat kau memberikan gantungan kelinci buat ulang tahunku? Ini buat balasannya, aku harap kau menyukainya juga. Selamat ulang tahun.

-Izumi Kyouka

P.s.: aku belum memaafkanmu kalau soal Kouyou-sensei, jangan salah paham.]

"... Ya ampun ..." Shuusei menghela napas. Surat dari Kyouka membuatnya merasa geli dan agak kesal di saat yang bersamaan. Pandangan Shuusei kembali beralih pada benang-benang yang ada dalam kotak tadi. Kebetulan sekali, benang jingga kekuningan yang warnanya persis seperti Gon ada di sana.

Yah, tidak buruk juga. Mungkin Shuusei harus tulis surat balasan untuk Kyouka nanti.

~o~

"Uwaaaaaah, Gon!"

Shuusei turut tersenyum ketika Nankichi memeluk bonekanya yang telah diperbaiki. Raut muramnya sejak pulang dari buku milik Ranpo tadi kembali ceria.

"Terima kasih, Shuusei-san!" Nankichi tersenyum lebar. Ia mengarahkan wajah Gon agar benda itu seolah-olah menatap Shuusei juga. "Ayo, Gon, bilang terima kasih juga pada Shuusei-san!"

"Tak masalah." Shuusei mengangguk kecil. "Ah, aku masih ada pekerjaan, sebenarnya. Jadi aku pergi du-"

"Sebentar, Shuusei-san!" Anak itu melompat dari posisi duduknya, lantas berlari dan mengambil sesuatu dari mejanya, kemudian kembali. Kedua tangannya yang berbalut sarung tangan tebal menyodorkan sebuah kantung kain berwarna jingga yang entah isinya apa. "Buat Shuusei-san!"

Sepasang iris jelaga milik Shuusei mengerjap-ngerjap. "Eh?"

"Karena Shuusei-san sudah mengobati Gon, dan ... hari ini hari ulang tahun Shuusei-san, kan? Selamat ulang tahun!"

~o~

Shuusei tidak mengerti mengapa Aka dan Ao melarangnya buat kembali melaksanakan tugasnya ketika sampai di ruang transmisi tadi.

"Khusus hari ini, kau istirahat saja, atau bersenang-senang! Kami bisa, kok, ngurus beginian!"

"Nikmati harimu, Shuusei-san."

Benar-benar tak memahaminya. Namun karena kedua anak itu terus memaksa, maka Shuusei menyerah. Ia pergi setelah Ao bilang ia boleh menata ulang buku-buku yang baru selesai disucikan nanti sore, dan sebagai ganti karena Aka dan Ao menggantikan tugasnya, ia memberi dua anak itu beberapa bungkus bola-bola cokelat yang ada di kantung kain pemberian Nankichi tadi—masih ada beberapa lagi tersisa di dalam sana, mungkin Shuusei akan memakannya nanti.

"Sebentar, Doppo, ekspresinya nggak mirip ..."

"Eh, bener? Duh. Touson, tolong carikan batu yang lain!"

"Sebentar ..."

Melewati taman belakang yang masih diselimuti salju musim dingin, telinga Shuusei menangkap suara-suara yang lumayan ia kenali. Langkahnya terhenti sejenak, Shuusei menoleh.

Terlihat Tayama Katai dan Kunikida Doppo berdiri di sekitar sebuah boneka salju. Tak lama kemudian, Shimazaki Touson mendekat ke arah mereka, menyerahkan sesuatu pada Kunikida yang kemudian berlutut di hadapan boneka salju setinggi setengah kali manusia normal itu. Katai melirik ke samping, kedua iris jingganya bertemu pandang dengan Shuusei.

"Ah, Shuusei! Sini, sini!!!"

Karena tidak ada alasan untuk menolak, Shuusei mendekati mereka. Udara luar rasanya cukup menusuk tulang, meski menurutnya dinginnya tidak serendah udara musim dingin Kanazawa.

"Nah, udah ada orangnya!" Katai menepuk-nepuk bahu rekannya. "Doppo bisa lihat wajahnya langsung sekarang!"

Kunikida mengancungkan jempol. "Oke!"

"... Hah?"

Katai tidak menjawab, begitu pula dengan Kunikida yang fokus dengan boneka saljunya dan Touson yang tampak menahan tawa dengan tangannya. Tak berapa lama kemudian, Kunikida mundur dari tempatnya. Pemuda berhelai merah muda itu bersorak. "Selesai!"

"Lihat, lihat!" Katai merangsek maju, mendekati Kunikida. Tawanya pecah. "B-beneran mirip!"

Touson ikut terkikik. Shuusei mengernyitkan dahi. "Apaan, sih?"

"Shuusei ke sini, deh." Katai berusaha untuk menahan tawanya ketika bicara, meski pada akhirnya tawanya pecah untuk yang kedua kalinya.

Dahi Shuusei masih mengernyit. Pada akhirnya ia memilih untuk mendekati teman-temannya.

"... Kalian ..."

Tawa Kunikida dan Katai pecah bersamaan, menertawai boneka salju buatan Kunikida yang baru saja jadi. Wajah dan ekspresinya mirip Shuusei, yang membuat kedua orang itu terbahak-bahak dan Touson cekikikan. Shuusei tidak tahu harus meresponnya bagaimana.

"Ah, andai aku bawa kamera." Kunikida berdecak kecil.

"Mau difoto, gitu?" Shuusei melirik.

Kunikida terkekeh. "Iya, dong," ucapnya. "Setahun sekali, lho. Setahun sekali~"

"... Kalian bisa bikin boneka salju beginian tiap hari, kan?" Asalkan salju belum mencair, mereka seharusnya bisa membuatnya kapan saja. Shuusei tidak mengerti mengapa Kunikida berkata demikian.

"Biar spesial, gitu," sahut Katai riang. "Shuusei dan boneka salju yang mirip Shuusei berfoto bareng-bareng, soalnya ultahnya barengan!"

"Oiya, hampir lupa tadi!" Kunikida beralih pada Shuusei. "Selamat ulang tahun, Shuusei! Hebat nih, kalau masih dihitung, umurmu udah seratus berapa ..."

"Kalau dihitung berarti umurmu juga sudah seratus lebih, dong," celetuk Touson. "Kunikida kan lebih tua dari kita semua."

"Kakek Doppo! Ahahahaha!" Katai tertawa lagi.

Kunikida mendengus geli. "Tapi jiwaku tetap muda, huahaha!"

"Haha bener!"

Obrolan mereka yang kesannya sedikit absurd membuat Shuusei terkekeh kecil. Ia melirik lagi boneka salju buatan ketiga temannya di depan sana, lalu tersenyum geli.

~o~

"Aku mau ke bar, kau mau ikut?" Touson menawarinya ketika secara tak sengaja mereka bertemu di koridor dekat ruang transmisi, setelah Shuusei memastikan bahwa Aka dan Ao baik-baik saja selama menjalankan tugasnya.

Merasa tidak ada lagi yang harus diurusnya hari ini, Shuusei mengiyakan. Keduanya berjalan beriringan menuju bar, yang mana selalu dijagai oleh Matsuoka Yuzuru selaku bartendernya tiap malam mulai beranjak larut.

"Ada sesuatu hari ini?" Touson bertanya dengan nadanya yang biasa. Mereka belum sampai di bar.

Shuusei diam sebentar. Irisnya melirik ke arah lain untuk sesaat, sebelum melirik lawan bicaranya. "Yah, ada ..."

Banyak, malahan. Mulai dari Aka dan Ao, bahkan Shimada Seijirou. Lumayan mengejutkan, Shuusei tidak tahu bagaimana menanggapi semuanya, apabila ia mengingatnya lagi.

"Menyenangkan?" Seulas senyum tipis terbit di wajah Touson yang masih menatapnya.

Anggukan kepala diberikan oleh Shuusei, setelah ia menghela napas kecil.

Selama sisa hari setelah melihat boneka salju buatan Kunikida dan kawan-kawan tadi, banyak yang terjadi.

Ada Ozaki Kouyou yang mengajaknya menikmati manisan bersama di ruang santai. Ada gerombolan Buraiha yang mengajaknya ikut perang salju sehabis makan siang (yang mana ujung-ujungnya Shuusei menonton saja, karena tidak akan adil kalau ia bergabung sementara Chuuya yang juga diajak main menolak ikut). Ada Kawabata Yasunari yang membantunya menata ulang buku-buku yang sudah disucikan kembali ke perpustakaan. Ada juga Shimada Seijirou yang baru kembali dari luar Toshokan, dengan bangga berkata bahwa hari ini ia sempat bertemu Houmei, namun tidak berkelahi dengannya (Shuusei merasa bersyukur untuk yang satu ini, setelah sempat was-was gara-gara perkataan sebelumnya), dan terakhir memberinya sekantung permen—oleh-oleh dari luar, begitu katanya.

Hari yang harusnya biasa-biasa saja rasanya jadi agak berbeda kali ini.

"Bagus, deh ..."

Lonceng di atas bar berdenting ketika Touson dan Shuusei masuk. Tak banyak orang yang mampir ke bar hari ini—paling-paling hanya pelanggan setia macam Wakayama Bokusui dan Nakahara Chuuya, juga Kume Masao yang setengah mabuk, sedang curhat pada Matsuoka Yuzuru di ujung sana. Karena tidak ingin mengganggu salah satu rekan rangkap bartender dengan kawannya itu, Touson dan Shuusei memilih buat duduk di ujung lain, yang tempatnya masih lumayan sepi.

"1 Februari, ulang tahun Shuusei," ucap Touson tiba-tiba, lagi-lagi membuat atensi orang yang disebutnya terarah padanya.

"Hm?"

"Hari yang bagus, kan?" Kedua mata sehijau daun muda itu menyipit ramah. "Karena ini hari ulang tahunnya Shuusei dan Shuusei bilang menyenangkan, ayo ingat terus."

Sebagai hari yang terasa berbeda dari biasanya, akan tetapi tetap menyenangkan, kah? Shuusei menghela napas, namun tak lama setelahnya tersenyum tipis dan mengangguk.

Untuk kali ini, sepertinya ia bakal setuju.

-end-

Yea, pertama-tama, HABEDE BUAT STARTER KESAYANGAN KITA SEMUAA :D Aaaaaa anak aku ultah QAQ

Aku sempet kena wb sebenernya pas ngerjain ficnya, tapi bersyukur banget tadi subuh beres (the power of kepepet memang mantap skali kawan). Ide-ide yang sejak awal pengen kusalurin (Kyouka ngasih Shuusei satu set benang jahit lewat Satomi (ini soal hadiah gantungan kelincinya ada kubikin mini comic 4 November kemaren, ada di twitterku) sama ShuuTou ngobrol di aula makan pagi-pagi, ngobrolin ultah yang ga terlalu diperdulikan Shuusei) sama ide dari Nana (KuniKatai bikin boneka salju yang mirip Shuusei) akhirnya kesalur beneran, mana ada bonusnya pula yg baru kepikiran h-sekian jam.

Pokoknya, aku beneran seneng ini fic kelar juga (moga pas ultah Touson bisa sepanjang ini juga nanti :'). Sekali lagi habede buat Shuusei, betah-betah di perpus meski temenmu rada-rada ndablek semua ya :D