Naruto by Masashi Kishimoto

Haikyuu by Furudate Haruichi

Please enjoy!


Syuut—BAM!

Priiitttt!

"Dengan spike lurus yang menembus tiga blocker tim Italia, Haruno Sakura mencetak skor terakhir dan membawa kemenangan untuk tim Jepang!"

Riuh sorakan langsung bergemuruh ke seluruh penjuru arena, bersamaan dengan berakhirnya pertandingan sengit yang terjadi antara timnas voli wanita Jepang versus Italia.

"Yahh~ lagi-lagi spike mengerikan Haruno yang dikatakan sebagai mimpi buruk para blocker! Dengan ini Jepang melaju ke babak semifinal!"

Para pemain timnas Jepang langsung bergerak menghampiri ace mereka, seorang wanita berambut merah muda pendek yang disebut sebagai Haruno Sakura tadi, dan memberikan pelukan yang besar padanya di tengah euforia kemenangan mereka.

"Fuwaaahh~ spike nya gila sekali!"

"Yup, seperti yang diharapkan dari Haruno."

"Aku tidak akan pernah terbiasa melihatnya."

"Tidak peduli sudah seberapa sering dilihat, spike nya masih sangat keren dan menjijikkan."

Macam-macam kicauan itu terdengar dari dalam salah satu ruangan yang ada di perkampungan para atlet. Di dalamnya, terdapat tujuh orang pria yang masih setia menatap layar tv, yang saat ini tengah memperlihatkan close up wajah penuh kebahagiaan dari seorang Haruno Sakura.

"Cantik sekali~"

Kageyama Tobio menggulirkan kedua bola matanya, melirik sang empu suara yang baru saja angkat bicara. Merasakan lirikannya, Miya Atsumu balas mendelik tajam.

"Apa lihat-lihat?!" sentak pria berambut pirang itu.

Mendapat semprotan secara tiba-tiba membuat wajah Kageyama tertekuk. Ia memalingkan wajahnya dan malah tak sengaja bertemu tatap dengan rekan sejak SMA nya, si boke Hinata Shoyo, yang memasang senyum jahil di mulutnya.

Pria berambut oranye itu membuka mulut, "Jangan terlalu keras padanya, Atsumu-san. Dia kan sangat mudah cemburu." Katanya disertai dengan cekikikan yang berasal dari Bokuto Kotaro dan Hoshiumi Korai.

Atsumu menyeringai. "Santailah sedikit, Tobio-kun. Pacarmu itu memang cantik, tapi aku tidak serendah itu untuk merebutnya darimu."

Kageyama mendengus. "Berisik!" serunya.

Ia mengalihkan pandangannya, kembali menatap layar tv yang sudah berganti menampilkan dua orang pembawa acara dari tayangan perlombaan voli barusan.

Pasti mereka sudah dalam perjalanan pulang, pikir Kageyama. Waktu yang ditempuh dari Ariake Arena ke tempat peristirahatan para atlet yang disediakan untuk mereka selama masa Olimpiade Tokyo ini, atau yang biasa disebut dengan Kampung Atlet, adalah sekitar 7 menit. Bukan waktu yang lama, mengingat jarak kedua tempat yang memang dekat. Sebentar lagi para pemain timnas voli wanita itu akan segera sampai.

Haruno Sakura, pemain dengan posisi opposite hitter sekaligus ace yang sudah berada di timnas sejak usia 18 tahun, dikarenakan kejeniusannya dalam permainan voli. Pada masa SMA nya, ia bersekolah di Akademi Konoha, sebuah sekolah di Tokyo yang terkenal dengan tim voli wanita mereka yang powerhouse, mampu mengamankan posisi juara selama bertahun-tahun di tingkat nasional dan menjadi tim favorit penggemar. Dari situlah reputasinya mulai meningkat.

Sakura mendapatkan gelar best spiker dan disebut-sebut sebagai top ace untuk pemain perempuan di kalangan pelajar SMA. Ia dikenal dengan pukulannya yang keras hingga sampai beberapa kali mematahkan jari para blocker lawan, dari sinilah sebutan 'mimpi buruk para blocker' mulai muncul menyertainya. Tapi tidak hanya itu, ia juga memiliki reputasi sebagai salah satu pemain all rounder terbaik di antara pemain perempuan lainnya.

Pada Olimpiade Rio tahun 2016, ia menjadi top scorer bagi pemain wanita Jepang. Sementara di Piala Dunia Bola Voli Putri FIVB tahun 2019, ia dianugerahi gelar MVP atau most valuable player dalam pertandingan tersebut.

Dan sekarang, di usianya yang ke 27 tahun, perempuan berambut merah muda itu berada di jajaran teratas sebagai salah satu best player bersama dengan pemain top voli wanita lainnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Selain karena keahliannya dalam permainan voli, Sakura juga terkenal dengan penampilannya yang nyentrik dan selalu menarik perhatian. Di Olimpiade Tokyo yang sedang berlangsung saat ini sendiri, namanya telah menjadi hot topic dan ia mendapatkan vote terbanyak sebagai pemain perempuan kesukaan penggemar.

Sayang seribu sayang, status wanita ini sudah tidaklah lagi single. Seperti yang disinggung sebelumnya, she's very much taken. Taken by none other than Kageyama Tobio. Pemain voli yang tidak kalah jeniusnya dari sang wanita dan juga tengah digandrungi oleh banyak pihak saat ini. Kombinasi dari mereka berdua membuat banyak penggemar yang menamai mereka sebagai power couple. Bukan hanya karena kepandaian mereka dalam voli, tapi juga karena visual keduanya yang sangat powerful.

Ini mengejutkan banyak orang karena, siapa sangka Kageyama bisa menyukai sesuatu yang bukan voli, ataupun yogurt, ataupun susu? Tetapi lelaki itu akhirnya merasakan jatuh cinta juga, jadi tidak ada yang protes di sini. Terutama Hinata, Atsumu, Hoshiumi, dan Bokuto yang bisa menggunakan alasan ini untuk meledeknya secara terus-menerus di kala awal mereka mengetahui tentang perasaan Kageyama, mengingat betapa bodohnya pria itu dalam urusan percintaan.

Tapi untungnya, hubungan mereka berdua bisa bertahan selama setahun terakhir ini, sebuah pencapaian yang sangat hebat bagi Kageyama yang baru sekali ini menjalin kasih dengan seorang wanita. Dan ia sama sekali tidak memiliki niat untuk berhenti hanya dengan satu tahun, ia akan terus melaju hingga ke tahun-tahun berikutnya.

Sedang asyik dengan dunianya sendiri, Kageyama tersentak saat merasakan rusuknya disikut oleh Hoshiumi yang duduk di sebelahnya. Pria berambut putih itu menatapnya lucu. "Ne, Kageyama, kapan-kapan bawalah Haruno-san ke pertemuan kita. Tidak ada salahnya kan, sekadar berkenalan saja?"

Kageyama berwajah masam, sama sekali tidak menyukai ide tersebut. Tapi, belum sempat ia melontarkan ketidak setujuannya, Sakusa Kiyoomi sudah menyahut duluan.

"Tidak bisa. Semakin banyak orang, semakin banyak kuman." Atsumu, Bokuto dan Hoshiumi langsung menyoraki pria berambut ikal tersebut, sementara yang disoraki hanya balas menatap datar dan meminum teh nya dengan tenang.

Kageyama hanya memperhatikan adegan yang terjadi di hadapannya dengan tenang, berpikir kalau seharusnya Sakura sudah sampai sekarang. Ia berdiri, berjalan menuju pintu tanpa berkata apa-apa.

Usai membuka pintu, Kageyama mencondongkan badannya keluar dan menoleh ke kiri. Benar saja, di ujung koridor sana tampak seorang wanita berambut merah muda yang sudah ia tunggu-tunggu tengah berjalan mendekat bersama dengan seorang temannya yang berambut pirang ekor kuda.

Kageyama bergerak maju, sepenuhnya keluar dari ruangan yang sesungguhnya hanya ditempati oleh Sakusa (tapi menjadi markas mereka selama masa Olimpiade). Ia berdiri kaku di tengah koridor, menunggu hingga salah satu dari kedua wanita itu menyadari keberadaannya.

Saat Sakura menyadarinya adalah saat jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi, perempuan itu langsung tersenyum lebar dan berlari ke arahnya.

"Tobio-kun~!"

Dan menerjangnya dengan pelukan. Ia sama sekali tidak keberatan, tentu saja.

Kageyama mengangkat tangannya, menepuk pucuk kepala merah muda sang kekasih. "Selamat."

Sakura mengadahkan kepala, menatap Kageyama yang jauh lebih tinggi darinya. "Um! Dengan begini kita dapat berjuang bersama di semifinal!"

Kageyama tersenyum tipis, memperhatikan wajah Sakura yang berbinar penuh kebahagiaan. Untuk beberapa saat, ia merasa cukup puas dengan atmosir yang tercipta di antara mereka, terasa tenang dan menghanyutkan. Hingga suara deheman kencang dari arah kirinya menghancurkan semuanya.

Mereka menoleh, mendapati sisa pria yang tadinya masih sibuk di dalam ruangan, kini sudah bertengger di daun pintu dan melempar tatapan yang beragam pada dua sejoli itu.

Kali ini, Ushijima Wakatoshi lah yang mulai berbicara dengan ekspresi datarnya. "Haruno, permainan yang bagus."

Hinata buru-buru menambahkan, "Sugoiii, Haruno-san! Itu tadi seperti woosh lalu spang lalu bam lalu—" yang kemudian mulutnya langsung dibekap oleh Atsumu.

Bokuto dan Hoshiumi bersorak bersamaan, "Selamat atas kemenangannya, Haruno/Haruno-san!"

Perempatan siku muncul di kening Kageyama, sementara Sakura tertawa dengan kencang dan melontarkan ucapan terima kasih kepada sekumpulan lelaki itu.

Sebuah gerutuan kecil terdengar dari arah belakang. Mereka semua menoleh, mendapati Yamanaka Ino yang berdiri bak orang kebingungan.

Sakura terkesiap, bisa-bisanya ia melupakan setter kesayangannya itu.

"Are? Ternyata ada Yamanaka juga."

Yamanaka Ino—sahabat sedari kecil Sakura yang juga merupakan lulusan Akademi Konoha dan secara luas dikenal sebagai best setter untuk pemain voli wanita semenjak masa SMA hingga ke karir yang dijalaninya sekarang—menatap perkumpulan pria itu dengan nyalang.

"Yamanaka, selamat juga atas kemenangan kalian!"

"Fuwah! Best setter wanita!"

"Yamanaka, bagaimana kalau kau bergabung dengan kami di sini? Anggap saja pesta kecil-kecilan untuk merayakan tim kita yang sama-sama lolos ke semifinal."

Dengan alis yang berkedut kesal, perempuan berambut pirang itu menghentakkan kakinya sambil berjalan menghampiri para lelaki, lalu menyembur mereka semua dengan amarahnya, bahkan Ushijima dan Sakusa yang tidak bersuara sama sekali pun terkena dampratnya juga.

Kesempatan ini digunakan Kageyama untuk menarik Sakura menjauh dari sana dan memasuki sebuah kamar yang berada tepat di depan kamar Sakusa, alias kamar milik Sakura sendiri. Mereka, para atlet wakil dari Jepang, ditempatkan di gedung yang sama dan khususnya para atlet voli, ditempatkan di lantai yang sama juga.

Kageyama menghela napas panjang, akhirnya ia bisa terlepas dari jerat rekan-rekannya yang aneh itu (walaupun ia sendiri juga sangat aneh, Kageyama menyalahkan hal ini akibat pengaruh buruk teman-temannya. Tidak, keanehannya sama sekali bukan berasal dari dirinya sendiri, pasti para boke-boke itulah yang menularkannya).

"Ahahaha! Kamu ini seperti habis terbebas dari beban yang berat saja!"

Kageyama mengangkat kepalanya, menatap Sakura yang berjalan menuju kamar dan melempar tawa dari balik bahunya. Tanpa ia sadari bibirnya mengerucut kecil, sebuah kebiasaan yang tak dapat ia hindari. Menurut Sakura itu lucu, ketika Kageyama bersikap seperti anak kecil tanpa disadarinya.

"Tapi mereka semua memang menyusahkan…" sungut Kageyama yang kembali mengundang tawa Sakura. "Duduklah, aku akan mandi sebentar."

Kageyama masih berdiri di tengah ruangan, maniknya mengikuti gerak tubuh Sakura yang hilang di balik pintu kamar mandi. Setelah itu, barulah ia bergerak untuk mendudukkan bokongnya di sofa ruang tengah.

Jujur saja, semenjak ia terbangun pagi hari ini, otaknya telah dipenuhi oleh berbagai macam hal yang mau tak mau membuatnya kepikiran hingga sekarang. Ditambah lagi, berkumpul dengan teman-temannya sama sekali tidak membantu, justru mereka semakin memperparah sakit di kepalanya.

Pertama, pertandingan Sakura. Kageyama sangat tahu kalau Sakura adalah pemain yang sangat, sangat handal, perempuan itu tidak disebut sebagai mimpi buruk para blocker kalau bukan karena skill nya yang mumpuni. Kageyama juga sudah yakin seratus persen bahwa dari sebelum pertandingan dimulai pun, kemenangan itu sudah berada di dalam genggaman Sakura. Tapi tetap saja, rasa risau itu tetap muncul di hatinya, walau hanya sedikit.

Sekarang, setelah Sakura benar-benar pulang membawa kemenangan, pikiran Kageyama jadi berkelana ke pertandingannya besok. Mereka, tim voli pria, sudah menyelesaikan babak quarterfinal dan melaju ke semifinal sejak sehari yang lalu. Hari ini adalah jadwal istirahat untuk mereka sementara para pemain wanita bertanding di quarterfinal. Itu berarti, mereka akan bertanding di semifinal lebih dulu daripada tim wanita. Dan itu adalah besok, melawan Argentina. Argentina yang sudah mengalahkan Jepang selama 2 kali berturut-turut.

Argentina yang memiliki Oikawa di dalam tim nya.

Sudah lama sekali sejak terakhir Kageyama melihat seniornya yang satu itu. Mereka baru dipertemukan lagi di Olimpiade Tokyo ini. Ia sudah mengamati pertandingan Oikawa, dan seperti biasa, pria berambut cokelat itu bermain dengan sangat baik. Kageyama menemukan dirinya masih mengagumi cara bermain Oikawa, pria itu telah berubah menjadi musuh yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya.

Tapi tentu saja, ia sendiri juga telah berkembang pesat dan menjadi pemain yang lebih hebat lagi dari sebelumnya.

"Memikirkan apa?"

Kageyama tersentak saat Sakura sudah berada di sebelahnya secara tiba-tiba. Perempuan itu sudah berganti memakai kaus lengan pendek berwarna teal dan sweatpants pendek berwarna maroon.

Kageyama menggeleng. "Bukan apa-apa."

Sakura menatap pria yang lebih muda 2 tahun darinya itu lamat-lamat, meneliti air muka Kageyama. Meskipun dia mengelak, wajahnya menunjukkan indikasi bahwa memang ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Pria itu merupakan pembohong yang buruk.

"Apa kamu khawatir tentang besok?" Kageyama kembali menjatuhkan pandangannya pada iris emerald Sakura. Kini wanita itu menatapnya penuh tahu, seakan dia mengetahui seluruh isi otaknya. Kageyama menyerah. Tidak ada gunanya mengelak dari Sakura.

"Khawatir bukan kata yang tepat, lebih seperti… mengantisipasi hari esok." Kageyama menerawang ke atas, lalu mengangguk yakin. "Ya, benar. Mengantisipasi."

Sakura tersenyum lembut, tangannya terangkat untuk merapikan rambut Kageyama yang sedikit berantakan. "Mengantisipasi si Oikawa-Oikawa yang kamu ceritakan itu?"

Sejenak Kageyama hanya mengamati wajah Sakura, menikmati sensasi jemari wanita itu di kepalanya, terasa sangat menenangkan sampai ia ingin tidur. "Iya."

"Hm… aku tidak tahu Oikawa ini orangnya bagaimana, tapi aku sempat melihat permainannya sebentar kemarin, dia memang hebat."

"Iya, kan?"

Sakura menarik tangannya kembali. Kageyama sedikit kecewa karena dia menyelesaikannya terlalu cepat, ia masih ingin merasakan sensasi nyaman itu.

"Tapi kamu juga sangat hebat, Tobio-kun. Mungkin aku sedikit bias, tapi—" Kageyama terlihat seperti sedang menahan senyumnya yang aneh itu. "—tapi aku sangat yakin kamulah yang akan jadi pemenangnya."

Kali ini Kageyama benar-benar tersenyum. Senyum tulus yang hanya ia perlihatkan pada orang-orang terdekatnya. Tidak pernah ia merasa lebih beruntung karena telah dipertemukan dengan wanita yang menjadi kekasihnya ini. "Terima kasih," matanya beralih menatap surai merah muda Sakura. Tangannya terangkat menyentuh beberapa helai rambut wanita itu, memilinnya di antara jemarinya.

"Tapi sejujurnya kamu tidak perlu mengatakan itu."

"…hah?"

Hening sejenak, sebelum Sakura menjauhkan tangan Kageyama dari rambutnya. Ia menatap pria itu sebal. "Haruskah memecahkan suasana seperti itu?" Kageyama malah menyeringai, membuatnya semakin kesal. "Padahal tadi itu sudah sangat nyaman dan tenteram." Gerutu Sakura.

"Maaf, aku benar-benar berterima kasih atas ucapanmu, tapi tanpa perlu kamu bilang pun, aku sudah yakin kami akan menang." Kageyama meraih tangan Sakura, menggenggam jemari wanita itu yang jauh lebih kecil darinya, tenggelam di dalam genggamannya. "Apalagi sekarang ada si boke itu, kali ini pasti kami yang menang."

Sakura tersenyum, sorot matanya memancarkan kelembutan untuk pria yang sekarang tengah menatap jemari mereka yang bertautan. Kageyama, terlihat dingin dan memancarkan hawa yang tidak bersahabat bagi mereka yang tidak mengenalnya, tapi sebenarnya tetaplah seorang manusia yang perasa dan juga sangat menghargai orang-orang yang berada di sekitarnya.

"Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku," bola mata biru gelapnya kembali terangkat, menatap Sakura tepat di kedua iris emerald nya. "Karena aku baik-baik saja." Sambung Kageyama dengan pasti. Matanya terlihat sedikit berkilat, senyuman percaya diri terpatri di bibirnya.

Sakura membalasnya dengan senyum lembut, lalu menghela napas panjang. "Hah… sekarang malah jadi kamu yang meyakinkanku."

Tatapannya menurun ke tautan tangan mereka berdua, masih dengan senyuman di bibirnya. Sakura meremas jemari yang menggenggamnya itu dengan maksud untuk memberinya kenyamanan.

"Mau makan tidak?"

Sakura balik menatap Kageyama. Pria itu sudah kembali seperti dirinya yang biasa, Kageyama yang terlihat polos dengan tampang tanpa dosanya. Itu bagus, dia tidak perlu memikirkan apa-apa lagi, dia hanya perlu fokus untuk pertandingannya besok.

"Lapar, ya?" tebak Sakura. Kageyama terlihat berpikir sebentar, sebelum menggelengkan kepalanya. "Hm… tidak juga. Aku menanyaimu karena kamu habis bertanding, seharusnya kamu merasa lapar sekarang."

Sakura merasa gemas bukan main. Kageyama itu, selalu peduli dengan hal-hal kecil seperti ini, dan dia mengatakannya dengan sangat tenang. Sakura menggigit bibir. Benar-benar menggemaskan!

Ia melemparkan tubuhnya pada Kageyama, yang langsung ditangkap pria itu dengan sigap. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, tapi ia menerimanya dengan senang hati, tentu saja.

Dalam posisi berpelukan Sakura menjawab, "Nanti saja, deh, pasti kafetarianya lagi ramai sekarang, soalnya baru masuk jam makan malam."

Kageyama tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya saat merasakan telapak tangan mungil Sakura yang mengusap-usap punggung lebarnya.

"Lagipula aku ingin bersamamu untuk saat ini, tidak apa-apa kan?" tanya Sakura sambil mengendurkan pelukannya sedikit.

Kageyama menggangguk dengan cepat. "Tentu saja."

Sakura tersenyum lebar, tangannya naik untuk kembali mengusap rambut Kageyama. Ia tahu pria itu menyukainya saat ia melakukan ini padanya.

Kageyama memejamkan mata, menikmati perhatian yang diberikan oleh kekasihnya tersebut. Kalau begini, ia bisa tertidur dalam waktu dekat.

Sakura tertawa kecil, membuat Kageyama membuka matanya. "Ah, maaf, apa kamu mengantuk?" tanya Sakura dengan senyuman.

Kageyama mengerjap beberapa kali, menatap wajah Sakura yang sarat akan kebahagiaan. Entah apa hal lucu yang membuat wanita itu tertawa, tapi ia memutuskan kalau ia selalu suka dengan tawanya.

Mengingat pertanyaannya yang tadi, Kageyama mengangguk kecil. "Sedikit."

Sakura kembali merasa gemas. Apa pria itu benar-benar tidak sadar bahwa sikapnya itu seperti anak kecil yang polos? Sangat lucu!

"Mau tidur?" tawar Sakura.

Kageyama menatap ke atas, menimang sebentar lalu mengiyakan tawarannya. Sakura mengangguk, melepaskan pelukannya dan berniat bangkit dari sofa, tapi Kageyama malah menahannya dan menatapnya bingung.

"Hm? Kenapa?" tanya Sakura.

Kageyama menatapnya aneh. "Bukankah kamu akan tidur bersamaku?"

Sakura mencerna kalimatnya hati-hati, sedetik kemudian ia tertawa kencang. "Kamu ingin tidur berdua? Sambil berpelukan, begitu?" tanyanya histeris.

Melihat Sakura yang menertawakannya, Kageyama merengut. Ia langsung merebahkan dirinya di atas sofa dan menarik perempuan itu bersamanya, membuatnya memekik kaget.

"Tobio-kun!"

Sakura memberontak. Kageyama mendesis, dengan cepat ia melingkarkan lengannya pada tubuh wanita itu, menahan pergerakannya secara efektif.

"Diamlah, ayo tidur!"

Tak berselang lama, Sakura pun menyerah. Ia membenamkan wajahnya pada dada bidang Kageyama, kemudian melingkarkan tangannya pada badan besar pria itu.

"Kamu curang…"

Tidak menggubris tuduhan wanita itu, Kageyama menyamankan posisi tidur nya, mendaratkan dagunya pada pucuk kepala merah muda Sakura.

Beberapa detik kemudian ia berkata dengan tegas, "Istirahat sebentar, setelah itu kita makan."

Yang dijawab dengan pasrah oleh Sakura. "Ha'i, ha'i…"

Yah, seperti itulah sekelebat kehidupan percintaan mereka berdua, dipenuhi oleh banyak warna. Apabila ada yang merasa terjatuh, maka yang lainnya akan siap membantu. Bagaimana pun juga, itu adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap pasangan, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fin


Hello~!

Singkat cerita, pas lagi ngerjain yg edisi Atsumu malah dapat ide buat Kageyama, alhasil ngetik yg ini ini dulu dan malah ini duluan yang selesai wkwk aneh banget emang.

Aku sangat berterima kasih sama yang udah baca, review, fav, dan follow fict crossover Sakura x Haikyuu ku yang pertama, yaitu yang edisi Hinata. Jadi seperti yg sudah ku janjikan, edisi Atsumu sudah ku upload dan bisa dibaca juga, bonus sama yg Kageyama ini hehe

Btw, adakah yang tertarik sama crossover Sakura x BNHA di sini? karena aku punya ide bikin antara Sakura x Todoroki atau Sakura x Bakugou, atau dua-duanya, who knows... tapi mungkin nggak dalam waktu dekat, soalnya aku lagi banyak tugas wkwk maap yak

And for the international readers from my other fict, Chance Encounters, just in case y'all read this, i want to let you know that i am very thankful for the attention that y'all gave to my story, really, but i'm afraid that i can't provide y'all with a proper english translation of my fict, i'm deeply sorry. School just started again and i'm very busy with school assignments now, i barely even manage to finish all these stories, i'm just trying to finish this as quick as possible in the meantime that i had, so again, i'm very sorry :(

Please leave your thought if you have any!