Title: To The Hardworker You
Rated: K+
Character: Tokuda S.
Genre: General, Friendship
Disclaimer: Bungou to Alchemist belongs to DMM Games
Summary: Sejak dihidupkan kembali, Shuusei merasa perpustakaan ini terlalu sepi.
Perpustakaan ini begitu sepi, itulah yang Shuusei pikirkan ketika ia dibangkitkan oleh para Alkemis. Mereka menjelaskan banyak hal yang awalnya ia tak pahami. Memasuki buku, melawan shinshokusha, kemudian menyelamatkan penulis lain - Shuusei meminta mereka mengulangi ceritanya beberapa kali sampai ia paham duduk permasalahannya.
Setelah ia diberi arahan, ia segera melakukan tugasnya. Ia bertemu orang-orang baru. Hori yang penurut, Shigeharu yang berkepribadian keras, Oda yang santai, serta Haruo yang bijaksana. Tak butuh waktu lama bagi merela untuk saling mengakrabkan diri. Masa lalu sebagai penulis menyatukan mereka semua dalam misi melindungi sastra.
Perlahan penulis baru mulai berdatangan. Shigeharu menyambut Takiji, Hori menyelamati Akutagawa, dan Oda dan Haruo menceramahi sikap Dazai yang sembrono.
Shuusei pun punya bagiannya juga, sayangnya yang ia sambut rupanya orang yang ia tak suka. Kyouka kerap menceramahinya, menggurui seakan-akan dirinya harus selalu dikoreksi, kemudian Shuusei akan meledak dan keributan akan semakin memanas. Di saat itu, guru mereka, Kouyou, akan mengomeli keduanya.
Selang beberapa hari, ia kedatangan teman-teman lamanya seperti Touson, Kunikida, Katai, hingga orang yang sulit ia ingat kembali seperti Kawabata ataupun Shimada dengan sikap nyentriknya. Hari-harinya di sini diwarnai banyak hal karena mereka semua.
Misi yang mereka kerjakan semakin sulit. Shinshokusha berevolusi menjadi jauh lebih kuat, buku semakin cepat terserang noda, dan misteri-misteri lain banyak yang belum berhasil terkuak.
Tapi, di saat bersamaan, perkembangan dunia alkemis semakin meningkat. Komunikasi antar dunia asli dengan dunia di dalam buku dapat dilakukan, pemanggilan penulis tanpa masuk ke buku juga memungkinkan, dan sekarang mereka sedang gencar menciptakan dunia sendiri di dalam buku putih. Memang masih langkah kecil, tapi Shuusei yakin dengan kekuatan Alkemis dan bantuan penulis, shinshokusha pasti bisa dikalahkan.
Shuusei baru saja selesai membersihkan pekarangan di luar perpustakaan. Matanya terus mengamati bangunan besar tersebut. Sudah berapa lama ia tinggal di sini? Ia tak begitu ingat pastinya. Yang ia tahu, ia tempat ini sudah mengalami banyak perubahan ketimbang saat ia pertama kali dihidupkan kembali. Ia tak menganggap semua kejadian di sini menyenangkan, tapi ia juga tidak menganggapnya cukup buruk untuk mengakhirinya.
Mendadak jadi sosok melankolis membuatnya malu sendiri. Shuusei menggeleng-gelengkan kepala sembari memasang kembali wajah normalnya.
Saat ia mengembalikan sapu dan masuk ke perpustakaan, ia disambut oleh confetti yang melayang di udara. Shuusei hampir terjungkal, beruntung tangannya berhasil meraih gagang pintu agar ia tidak tampil memalukan.
Orang-orang menyelamatinya. Shuusei bingung dalam rangka apa mereka merayakan sesuatu untuknya. Setelah diingatkan Touson, ia baru sadar rupanya hari ini hari ulang tahunnya.
Kyouka menyerahkan kue, menyuruhnya segera meniup lilinnya, kemudian terima hadiahnya. Shuusei sempat menolak sampai senyum gurunya mengurungkan niatnya. Banyak yang memberikan hadiah, tapi yang paling berkesan baginya adalah saat kepala perpustakaan menyerahkan sekotak kado.
"Kanchou, ini ..."
"Ungkapan terima kasih dari kami semua." Ia merujuk pada para Alkemis yang sekaligus bekerja sebagai pengurus perpustakaan di sini. "Kami terbantu sekali berkatmu."
Shuusei terdiam sejenak. "Tapi aku ngerasa kaya nggak terlalu banyak bantu, deh. Dibanding yang pada semangat delving atau semangat bantu-bantu hal lain, kayaknya aku-"
"Ngomong apa kamu?" Omongan Shuusei dipotong tanpa sempat diakhiri. "Dari sejak dipanggil, kamu selalu ngerjain tugas tanpa ngeluh. Nggak ada yang paling bisa disebut pekerja keras di sini selain kamu."
"... padahal kupikir yang ada di pikiran Kanchou dan yang lain cuma sikap jimi-ku."
"Wah, kalo yang itu maaf, deh." Ia merasa sedikit tidak enak. "Kami harap kita bisa terus kerja sama buat melawan shinshokusha."
Tentu saja semua orang tahu jawabannya, 'kan? Sebagai orang pertama yang diajak menyelamatkan sastra, Shuusei tidak akan menolak jika ditawari melindungi hal tersebut. Karena baginya, dan rekan seperjuangannya, sastra adalah sesuatu yang menghubungkan mereka di dunia ini, sesuatu yang menjelaskan bahwa mereka pernah hidup dan menorehkan sejarah bagi siapapun yang membacanya.
"Tentu saja." Shuusei menerima hadiah darinya. "Terima kasih, Ka-"
"Wah, Shuusei berkaca-kaca. Gimana perasaanmu sekarang?"
"Shimazaki ... tolong jangan wawancara aku tiba-tiba kaya gini, dong ..."
Semua yang ada di sana tertawa kala melihat apa yang dibilang Touson. Shuusei yang biasanya terus protes, sekarang memutuskan untuk tidak melakukannya. Ia ikut tertawa, tenggelam dalam rasa haru atas kebaikan yang orang-orang berikan untuk orang sepertinya.
Banyak hal terjadi di sini. Shuusei tidak ingat hal detil yang terlewatkan, tapi jika ia diberi pertanyaan tentang apa yang ia paling ingat saat ini, ia akan menjawab ...
Perpustakaan ini sudah tak sepi lagi.
END
Author's Note: Hbd suseiiiii! Ini bikin mepet2 tapi akhirnya kelar juga! Idenya simpel sebenernys, cuma mau bikin susei dihargain karna dia bungou pertama yg dipilih alkemis buat bantu mereka. Pengen bikin yg psnjang cuma ini ngetik di hp (sebuah peningkatan). Yah, suatu saat akan diperbaiki blunder2nya. Sekali lagi hbd susei, semoga fanclubmu tambah rame.
Makasih uda baca fic ini. Kayaknya saya masih bisa nulis.
