.Happy Read.

op: Tears and Rain (James Blunt)

¤Uchida Tokugawa¤

-Present-

.Naruto belong's Masashi Kishimoto.

Naruto © Kishimoto M.

.Highschool DxD belong's Ichie Shibumi.

Highschool DxD © Ichie Shibumi

.

.

.

.

.

.Present.

.

Summary: Uzumaki Naruto seorang pemuda berusia 28 tahun terlahir dijepang dan sejak usia 14 tahun telah masuk akademi militer US hingga dirinya beranjak remaja dan kemudian diusianya yang ke-25 ia memutuskan untuk pensiun dini entah karena apa dan memilih melanjutkan sisa usianya untuk berkelana ke penjuru dunia hingga akhirnya tepat diusia 28 dirinya kembali ketanah kelahirannya dan memutuskan tujuan akhir hidupnya untuk bekerja menjadi seorang guru dikuoh akademi!

Bagaimanakah kisahnya?

.

.

(Last Journey)

Hampir 20 menit berkendara melintasi jalanan kota Kuoh hingga akhirnya dirinya sampai disebuah perumahan kemudian menghentikan laju motornya tepat didepan sebuah rumah berukuran minimalis bercat kuning cerah.

Set!

Naruto meminggirkan dan memarkirkan motor CB miliknya dan kemudian dirinya melangkah memasuki pekarangan rumah tersebut.

Tap!

Tap!

Tap!

Pemuda pirang tersebut terdiam sesaat ketika berada didepan pintu rumah sebelum akhirnya perlahan tangan kananya terangkat menekan tombol bel dibagian samping atasnya.

Ting!

Tong!

"Sebentar!"

Drap!

Drap!

Drap!

Cklek!

Naruto dapat mendengar suara balasan serta langkah seorang wanita dari dalam rumah tersebut dan benar saja ketika pintu terbuka ia dapat melihat sosok wanita dewasa bersurai dark blue panjang terurai indah yang menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Ada keperluan apa?"

Suara pelan dari wanita dihadapannya membuat pikiran Naruto kembali dan dengan senyuman canggung dirinya membungkuk pelan.

"Gomen menganggu waktu anda" ucap Naruto sambil membungkuk pelan ,"Namaku Uzumaki Naruto seorang guru dari Kuoh academy sekaligus wali kel-!"

"Naruto-Sensei?"

Perkataan Naruto terputus saat mendengar suara yang tidak asing ditelinganya dan ketika mendongak dirinya dapat melihat Himejima Akeno yang berdiri tidak jauh dibelakang wanita dewasa dihadapannya sambil memandangnya terkejut membuat pemuda pirang tersebut akhirnya tersenyum tipis kearah Akeno.

"Yo Akeno!" Sapa Naruto ramah.

.

.

.

Beberapa saat kemudian terlihat saat ini Naruto yang duduk disofa ruang tamu kediaman Himejima, pria pirang itu sesaat menatap ruangan disekitarnya, terlihat beberapa figura foto yang menampilkan gambar Akeno dengan sang ibunya, dimulai dari usia bayi hingga sampai usianya yang sekarang, namun entah hanya perasaannya namun dalam setiap foto tersebut dirinya tak melihat sosok pria yang menjadi ayahnya, sebab dalam sebuah keluarga terdiri dari Anak, Ibu dan Aya-!.

"Mencari sosok ayah dalam foto-foto itu Naruto-san?."

Pikiran pemuda pirang tersebut sesaat buyar ketika mendengar perkataan ibu Akeno yang sepertinya memahami pemikirannya saat melihat pajangan foto diruang tamu itu, kemudian kedua iris safirnya beralih menatap kearah wanita paruh baya dihadapannya.

"Dulu ada seorang gadis polos yang belum mengerti arti cinta yang sesungguhnya dan kerasnya dunia luar nekat pergi bersama pacarnya meninggalkan kedua orang tuanya hanya karena 'Cinta' bahkan gadis bodoh itu mengabaikan perkataan orang tuanya dan memaki mereka akibat tidak merestui hubungannya dengan pacarnya, gadis tersebut nekat pergi dan semua nasihat orang tuanya ternyata benar, gadis bodoh tersebut hamil diluar nikah, kemudian sang laki-laki yang diharapkan bahkan hingga rela memilihnya ketimbang kedua orang tuanya itu menghilang tanpa jejak meninggalkan sang gadis seorang diri, membuat gadis tersebut menyesal, sangat menyesal dan putus asa hingga rasanya ingin mengakhiri hidupnya, namun di tengah-tengah keputus-asaanya sebuah pesan singkat dari sang ibu melintas dibenaknya bahwa 'Mengakhiri hidup bukanlah jalan terakhir untuk menyelesaikan sebuah masalah, namun hanya membuat masalah baru bagi orang disekitarnya' pesan tersebut membuat gadis itu sadar dan akhirnya memilih untuk berjuang seorang diri dengan sekeras mungkin membesarkan sang buah hati hingga sampai saat ini." Kedua iris kosong Himejima Shuri menerawang jauh saat menceritakan sebuah kisah kelam mengenai seorang gadis bodoh yang lebih memilih laki-laki ketimbang mendengar nasihat kedua orangtuanya, "Mungkin Sensei ingin bertanya kenapa aku menceritakan hal seperti itu bukan? Aku berpikir bahwa sekuat apapun seseorang menyembunyikan sebuah bangkai, baunya akan tetap tercium, oleh sebab itu aku memilih memberitahu Sensei yang sepertinya sudah berpikiran siapa ayah Akeno ketika melihat foto keluarga kami." Sambungnya dengan ekspresi datar kearah Naruto yang sesaat terdiam mencerna kalimat penjelasan dari ibu anak didiknya tersebut.

Sebuah senyuman tipis muncul diwajah Naruto setelah mendengar cerita panjang dari ibu beranak satu dihadapannya tersebut, mungkin kebanyakan orang akan merasa jijik dan miris jika mendengar hal tabu seperti itu namun menurutnya malah sebaliknya, Himejima Shuri seorang ibu sekaligus single parents membesarkan serta mendidik anak gadisnya Himejima Akeno dengan sekuat tenaga hingga sampai sekarang bukanlah perjuangan yang mudah, jasa dari ibu paruh baya itu sangatlah besar dan patut dibanggakan, sebab diluar sana masih banyak keluarga yang memiliki orang tua lengkap namun anaknya malah rendah moral akibat salah pergaulan, bahkan di era sekarang tidak banyak pelajar yang mengerti apa itu tata krama dan moral.

"Kurasa itu adalah hal yang luar biasa Himejima-san dan sepantasnya Akeno harus bangga dengannya serta dapat menjadi sebuah pesan moral terhadapnya untuk bisa memilih pergaulan dilingkungannya nanti." Naruto dengan senyuman lebar menatap kearah Himejima Shuri yang terdiam mendengar balasan dari wali kelas puterinya tersebut, wanita berusia 45 tahun itu tidak menyangka bahwa pria dihadapannya tersebut akan merespon seperti itu, "Aku sejak kecil sudah tidak memiliki kedua orang tua dan dibesarkan dipanti asuhan hingga beranjak remaja, caci-maki, hinaan tentang aku anak dari seorang pelacur serta anak hasil prostitusi ditambah dengan banyak permasalahan tanpa ada yang peduli sudah pernah kulalui selama aku hidup, namun diantara orang-orang yang merendahkan serta mengucilkanku akibat sudah sebatang kara sejak lahir ada sesosok pria yang menghampiriku kemudian mencurahkan kasih sayang serta kepeduliannya, pria tersebut selalu membelaku setiap permasalahan yang kubuat dan mendampingiku hingga lulus SMA, hanya satu orang dari sekian banyak dari mereka yang tuhan kirimkan untuk peduli terhadapku dan hal itu sudah cukup bagiku karena aku percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian dan cobaan kepada ciptaanya diluar batas kemampuan ciptaannya itu sendiri." Dirinya sesaat menghela nafas pelan kemudian tersenyum tipis menatap kearah Ibu Akeno yang saat ini menatapnya dengan pandangan terkejut akibat tidak menyangka jika hidup dari pria yang menjadi guru dari puterinya tersebut memiliki kisah hidup kelam dimasa mudanya, ia awalnya sempat menganggap kisah tersebut hanyalah bualan sehingga Guru dihadapannya ini terlihat berpengalaman dan hebat dimatanya namun saat melihat pancaran kedua iris safirnya yang mengatakan jika pria itu memang benar-benar mengalaminya membuat rasa ragunya menghilang.

Tanpa disadari oleh kedua orang dewasa yang saling bercerita mengenang masa lalu mereka itu dibalik dinding lorong yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang dapur terlihat Akeno dengan ekspresi menunduk, punggung gadis itu menempel didinding kemudian bergetar pelan saat mendengar kisah pahit ibunya serta kisah guru barunya tersebut, dirinya sekarang paham mengenai email yang tadi pagi dikirimkan oleh sahabatnya Rias, gadis bersurai merah itu mengatakan bahwa seorang Naruto, Sensei baru mereka adalah sosok berbeda tidak seperti yang selama ini mereka anggap, bahkan gadis tersebut mengatakan jika ia yakin Naruto-sensei akan bisa merubah mereka semua termasuk dirinya dan semua itu ternyata benar.

Didetik berikutnya Gadis bersurai darkblue itu mendongak kemudian dengan senyuman tipis dirinya berbalik dan melangkah kearah ruang tamu sambil membawa nampan berisi 3 cangkir teh serta camilan ringan yang sebelumnya disuruh buatkan oleh sang ibu.

Tap!

Tap!

Tap!

"Ohayou Ake-!."

"Sensei!." Perkataan Naruto yang awalnya ingin menyapanya ketika melihat kemunculan gadis bersurai darkblue itu terputus saat mendengar Kalimatnya, "Mulai saat ini aku akan berusaha keras dalam menuntut ilmu hingga lulus! Dan kuharap bisa memasuki perguruan tinggi yang kuinginkan serta membahagiakan ibuku tercinta!." Sambungnya dengan nada mantap kearah sang Sensei yang awalnya terdiam akibat kalimatnya namun didetik selanjutnya terkekeh pelan.

"Tentu saja Akeno! Meskipun banyak rintangan yang menanti dihadapanmu, tetaplah berjuang dan jangan menyerah! Sebab menyerah bukanlah pilihan opsi terakhir dalam sebuah kehidupan." Balas Naruto dengan senyuman lebar kearah Akeno.

"Kurasa puteriku memiliki guru sekaligus wali kelas yang tepat." Batin sang ibu ketika melihat interaksi antara Puterinya dengan Naruto, masih jelas diingatannya beberapa mantan wali kelas puterinya dulu juga pernah berkunjung kerumahnya hanya untuk melaporkan tingkah Akeno serta memberi surat skorsing, namun semua hal tersebut menghilang dari kepalanya ketika melihat hal yang dilakukan oleh Naruto saat ini.

Beberapa saat kemudian setelah dirinya menikmati secangkir teh buatan Akeno dan juga sepertinya permasalahan dalam anak didiknya Himejima Akeno telah berakhir membuat Naruto perlahan bangkit, izin untuk undur diri akibat tidak enak jika harus menganggu aktifitas keluarga Himejima dipagi hari.

"Ah! Kalau begitu saya undur pamit Himejima-san, Akeno, sebab habis ini masih ada tempat yang harus kukunjungi." Naruto bangkit dari duduknya sambil membungkuk sopan kemudian melangkah menuju pintu keluar meninggalkan Shuri dan Akeno yang menatap kepergiannya dalam diam.

"Kau memiliki Sensei yang hebat Akeno."

"Haha! Tentu saja Kaasan, Naruto adalah sesosok Sensei yang sangat berbeda dari Sensei sebelum-sebelumnya."

Set!

Brum!

Brum!

Naruto saat ini telah berada diatas motor CBnya yang telah menyala bersiap untuk pergi sesaat menatap kearah rumah Akeno sambil tersenyum tipis karena kondisi dari siswinya tersebut bisa dikatakan membaik tidak seperti sebelumnya, dimana beberapa siswi maupun siswa sering kali mengungkit aib orang tua Himejima Akeno dan dirinya pernah mendengarnya sendiri saat akan menuju toilet, kemudian pria pirang tersebut mulai menjalankan motornya.

Drap!

Drap!

Cklek!

"Sensei!." Akeno dengan langkah tergesa berlari menuju pintu rumahnya selanjutnya berteriak nyaring kearah Naruto yang mengurangi kecepatan motornya kemudian menoleh menatapnya, "Arigatou pirang tampan!." Sambungnya nyaring membuat sang Sensei terkekeh pelan sambil mengacungkan jempolnya membalas teriakan Akeno dan kemudian kembali memacu motornya meninggalkan kediaman Himejima.

"Seandainya umur Naruto-sensei sepantaran denganku maka-!."

"Maka apa hmm?."

"K-kasaan!, Tidak ada apa-apa."

Perkataan pelan Akeno terhenti saat Himejima Shuri memegang pundaknya sambil menatapnya dengan senyuman menggoda, membuat gadis bersurai darkblue tersebut seketika merona tipis dan langsung berlari masuk menuju kamarnya meninggalkan sang ibu yang menatap kepergian Naruto dengan senyuman.

"Bimbinglah terus puteriku dan murid lainnya Naruto-san." Ucapnya pelan karena berpikir jika puterinya Akeno memang sangatlah merindukan kasih sayang sosok dari seorang ayah.

.

.

.

Siang harinya dimana langit biru bersih membentang luas serta matahari yang bersinar terik menyinari seluruh kota terlihat Naruto yang saat ini menghentikan motornya dipemukiman kumuh bagian selatan kota atau lebih tepatnya didepan sebuah apartemen/rumah susun lusuh yang telah menjadi tempat tinggal bagi kaum lansia dan fakir miskin yang kurang mampu.

Tap!

Tap!

Tap!

Pria pirang itu melangkah menaiki tangga apartemen menuju lantai 2 kemudian berhenti tepat didepan sebuah pintu lusuh bernomer urut 34, perlahan tangannya terangkat mengetuk pintu tersebut beberapakali.

Tok!

Tok!

Tok!

"Permisi! Ada orang?."

Drap!

Drap!

Drap!

Terdengar suara langkah dari balik pintu yang mengarah ke tempatnya dan kemudian terbuka menampilkan seorang wanita lansia yang surainya telah hampir memutih seluruhnya menatapnya dengan kedua mata menyipit akibat penglihatannya telah merabun termakan usia.

"Anda mencari siapa ya?." Wanita sepuh itu berucap pelan saat melihat kedatangannya.

"Perkenalkan aku Uzumaki Naruto, Wali kelas dari Issei serta Vali, Anda neneknya bukan?."

"Oh Naruto-sensei, silahkan masuk." Wanita itu mempersilahkannya masuk sambil sesaat meminggirkan tumpukan baju yang berada diatas ranjang dan juga Naruto dapat melihat ruangan dari apartemen tempat tinggal Issei serta Vali ini hanyalah sepetak kamar berukuran sedang yang bisa dikatakan sangat sempit jika harus ditempati oleh 3 orang, "Sensei tidak keberatan jika duduk diatas ranjang? Maafkan jika tempat ini selalu berantakan sebab diusiaku saat ini sangatlah susah untuk bekerja berat dan juga Issei serta Vali saat pulang sekolah sudah harus berangkat kerja paruh waktu untuk menghidupiku sekaligus kebutuhan keseharian mereka." Sambungnya dengan nada pelan akibat merasa tidak enak kepada Naruto yang harus melihat tempat tinggal kumuh mereka bertiga.

"Ah jangan dipikirkan ditempatku juga sering berantakan seperti ini kok haha~." Balas Naruto diiringi tawa, dirinya tidak merasa jijik ataupun risih dengan lingkungannya saat ini sebab memang kondisi kehidupan mereka yang susah dan juga serba kekurangan, "Jadi nenek sedang membuat apa ini?." Sambungnya sambil mengambil sebuah rangkaian bunga berukuran kecil yang disusun rapi menjadi sebuah hiasan cantik.

"Ah ini? Hanya hiasan kecil yang bisa ditempelkan diberbagai tempat, aku hanya bisa melakukan ini untuk mengisi waktu luang sekaligus membantu keuangan keluarga ini, sebab melihat Issei dan Vali yang seharusnya diusia mereka sebagai seorang pelajar diisi dengan canda tawa bersama teman-temannya malah sudah harus membanting tulang menghidupi keluarga setiap harinya." Kedua matanya sesaat meredup karena merasa dirinya seorang lansia hanya bisa menjadi beban terhadap kedua putera karena diumur senjanya tidak bisa melakukan banyak hal.

"Seperti yang Sensei ketahui, Issei tinggal bersamaku saat umurnya masih beberapa bulan setelah lahir, aku menemukannya waktu sepulang kerja serabutan dipagi hari, kemudian beberapa tahun setelahnya dimana Issei telah beranjak 4 tahun dimana waktu itu dirinya bersamaku sedang berjalan ditaman kota, terjadi sebuah insiden kecelakaan maut yang memakan seluruh penumpangnya namun ternyata menyisakan seorang bayi laki-laki bersurai silver yang menangis kencang berada didalam dekapan jasad seorang wanita, waktu itu tidak ada satupun orang disana yang berani mengadopsinya akibat memikirkan tanggungan biaya dikedepannya membuatku akhirnya memutuskan untuk mengadopsi bayi tersebut kemudian membesarkannya hingga sekarang, namun seiring berjalannya waktu seperti yang Sensei lihat? Diusiaku sekarang sudah tidak bisa lagi melakukan banyak hal untuk mereka berdua." Kedua matanya mulai berembun saat menceritakan tentang perjuangan kedua anak angkatnya tersebut, "Aku sudah tidak sekuat dulu yang selalu bisa melindungi mereka Sensei oleh sebab itu terkadang rasa khawatir selalu muncul dihatiku ketika memikirkan mereka berdua yang saat ini sedang bekerja keras diluar sana." Sambungnya perlahan tangan terangkat mengusap matanya yang mulai berair.

"Kondisi mereka belakangan ini bagaimana nek?."

"Kondisi mereka sama seperti biasanya Sensei, namun Issei kemarin sempat bilang jika sekolah mereka akan diliburkan beberapa hari karena ada renovasi oleh sebab itu mereka berdua hari ini telah berangkat bekerja waktu pagi hari." Jelas sang nenek sambil mengingat perkataan Issei kemarin sore saat pulang bekerja, "Apakah kedatangan Sensei saat ini karena mereka berdua telah membuat masalah disekolah? Dan sebenarnya mereka libur tersebut adalah karena hukuman Skorsing? Bukannya karena sekolah yang sedang direnovasi?." Sambungnya saat sebuah pemikiran melintas dibenaknya, sebab kedatangan Sensei kedua puteranya itu bukanlah hanya datang tanpa tujuan.

Kedua iris safir Naruto sesaat menatap wajah penuh kekhawatiran milik wanita lansia dihadapannya yang sebenarnya tebakannya sudah sangat tepat sasaran selama beberapa detik sebelum sebuah tawa ringan keluar dari mulutnya.

"Ah~ Bukan, bukan seperti itu, kedua putera anda malah sangat berprestasi disekolah." Balas Naruto sambil tersenyum kearah sang nenek yang seketika raut wajahnya berganti menjadi lega, "Dan juga kedatanganku kemari hanya untuk mengantarkan pesan dari pihak sekolah mengenai prestasi Issei dan Vali." Sambungnya masih dengan senyuman kemudian tangannya merogoh saku belakang celananya mengambil dompet dengan corak angkatan militer AS dan mengambil seluruh lembaran uang yang berada didalam dompetnya tersebut.

"Ini adalah sedikit bantuan dana Beasiswa dari pihak sekolah, kuharap dapat meringankan beban kehidupan anda untuk kedepannya."

Tangan Naruto yang menggenggam uang puluhan lembar kemudian memberikannya membuat wanita dihadapannya tersebut sesaat tersentak kaget namun setelahnya tersenyum haru akibat kembali menerima uang hasil dari kerja keras kedua puteranya, bahkan nominal yang diterimanya saat ini tidaklah sedikit.

"T-terima kasih banyak Sensei, aku tidak tau harus berkata apa untuk mengutarakan rasa terimakasih ini."

"Ah jangan dipikirkan, uang ini adalah hasil jerih payah kedua putera anda, jadi tidak perlu sungkan." Naruto tersenyum tipis melihat raut bahagia dari nenek dihadapannya, dirinya yang niat awalnya sebenarnya ingin berkonsultasi mengenai tentang Issei serta Vali sepertinya akan mengurungkan niatnya itu, "Dan kalau boleh tau, kedua putera anda sekarang bekerja dimana?." Sambungnya menanyakan tempat sekaligus pekerjaan yang dilakoni oleh Issei dan Vali.

"Aku tidak terlalu mengetahuinya karena setiap kutanya, mereka berdua selalu menjawab jika pekerjaan mereka adalah serabutan dan tempatnya hanya beberapa ratus meter dari sini."

Naruto mengerutkan keningnya setelah mendengar balasan orang tua angkat Issei dan Vali barusan, pekerjaan serabutan? Serta hanya beberapa ratus meter dari sini? Setahunya daerahnya sekarang hanya dipenuhi oleh pemukiman kaum tuna wisma dan jika hanya berjarak beberapa ratus meter dari sini maka...

Pria pirang itu seketika menghela nafas pelan karena sepertinya sudah mengetahui pekerjaan apa yang saat ini sedang dikerjakan oleh kedua anak didiknya tersebut, kemudian dirinya berdiri bangkit dari duduknya.

"Kalau begitu saya izin pamit, karena masih ada pekerjaan lainnya." Naruto berdiri bangkit kemudian izin pamit karena masih ada pekerjaan yang menunggunya membuat sang nenek seketika langsung ikut bangkit berdiri kemudian membungkuk sambil berterimakasih beberapa kali kearah Naruto.

"Tentu saja Sensei, dan terimakasih karena telah mendidik Issei serta Vali selama ini."

Naruto hanya mengangguk pelan sambil melangkah pergi menuju motornya yang terparkir tepat didepan gedung apartemen, kemudian pria tersebut memacu menuju tempat Issei dan Vali bekerja.

.

.

.

"Pesananku?."

Seorang pria bertubuh kekar serta dipenuhi tatto melemparkan sebuah amplop tebal kearah dua pemuda dihadapannya kemudian dengan nada berat bertanya apakah pesanannya sudah ada atau belum.

Wush!

Set!

Sebuah bungkusan kecil terlapisi plastik hitam melayang pelan kearah pria kekar yang langsung menangkapnya sambil menyeringai tipis.

"Nice, kuharap pesananku selanjutnya akan selalu tepat waktu seperti ini gaki." Ucap pria tersebut kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua pemuda yang menatap kepergianya dalam diam.

"Haah~ Akhirnya pekerjaan kita hari ini selesai."

"Aku terkadang berpikir apakah kita harus terus melakukan pekerjaan hina ini Issei?."

"Jadi kau berpikir untuk melakukan pekerjaan lain Vali? Coba pikirkan pekerjaan mana yang memberi kita uang sebanyak ini? Dari pekerjaan inilah kita bisa menghidupi keluarga, membayar iuran sekolah serta memenuhi kebutuhan sehari-hari, jika ada pekerjaan yang bisa memenuhi seluruh hal tersebut maka akupun akan berhenti dari pekerjaan ini." Salah satu pemuda yang ternyata adalah Issei itu dengan datar berucap kearah Vali yang sesaat terdiam akibat perkataan saudaranya tersebut memang sesuai dengan kenyataan yang mereka alami sekarang, meskipun keduanya membenci pekerjaan ini namun karena demi kebutuhan hidup mereka rela melakukannya sebab sejak satu-satunya orang tua mereka mulai menua dan sakit-sakitan kebutuhan kehidupan merekapun mulai memberat, "Setidaknya masa Skorsing kita memiliki faedah karena pendapatan untuk beberapa hari kedepan akan bertambah, kalau begitu tugas terakhir adalah menyerahkan uang ini kepada bos." Sambungnya sesaat menatap amplop tebal berisi uang ditangannya kemudian kedua pemuda itu beranjak pergi menuju markas bos mereka.

Beralih menuju tempat Naruto, terlihat saat ini guru pirang tersebut sedang mengendarai motornya dengan pelan sambil sesaat kedua iris safirnya menatap sekelilingnya mencari keberadaan kedua anak didiknya yang sepertinya bekerja diarea lokasinya sekarang.

30 menit berkendara mengelilingi tempat tersebut akhirnya membuahkan hasil dimana saat ini ia dapat melihat Issei dan Vali sedang melangkah dipinggir jalan sebelum akhirnya kedua muridnya itu memasuki sebuah kediaman yang bisa dikatakan paling mewah diantara pemukiman penduduk lainnya serta dengan gaya adat Jepang yang begitu kental.

Namun Naruto sangat mengetahui bahwa sepertinya kedua anak didiknya itu sedang bekerja dengan siapa dan terlebih menjalin kontrak kerja dengan sekelompok mafia Jepang atau bisa disebut Yakuza sangatlah beresiko, karena ada istilah mengatakan bahwa bekerja dengan Yakuza sama halnya seperti bisa masuk namun tidak akan bisa keluar kembali, sekali seseorang menjalin kontrak/berhubungan kerja dengan Yakuza maka sisa hidupnya akan terus bekerja untuk kelompok Yakuza jika tidak maka nyawa sebagai gantinya.

Sedangkan Issei dan Vali yang sebelumnya memasuki kediaman Yakuza saat ini terlihat berdiri dihadapan seorang pria berkepala plontos mengenakan jas hitam menatap keduanya dengan seringai.

"Jadi? Apakah uangnya telah kalian dapatkan?."

Set!

Issei tanpa banyak bicara langsung meletakkan amplop tebal yang sebelumnya ia terima dari pelanggannya tadi keatas meja dihadapannya yang setelahnya pria plontos tersebut mengambil dan membukanya kemudian mulai menghitung lembaran demi lembaran uang yang berada didalamnya.

"Good job nak~ sesuai harapanku! Kinerja kalian sangatlah memuaskan." Pria botak tersebut tertawa pelan melihat kinerja kedua bocah dihadapannya saat ini sangatlah memuaskan dan juga berkatnya, hari ini obat-obatan terlarang yang kelompoknya jual bisa laku keras, "Dan ini upah sebagai uang jajan sekolah kalian hari ini." Sambungnya melempar beberapa lembar uang kearah Issei serta Vali yang menatap tidak percaya kearah pria dihadapannya.

"Kenapa upah kami sama seperti biasanya?! Bukankah hari ini kami mulai bekerja dari pagi? Dan perjanjian awal upah kami adalah 10% hasil dari penjualan bukan?." Issei dengan nada tidak terima memprotes kearah pria dihadapannya akibat menerima upah yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, namun hanya kekehan pelan yang dikeluarkan oleh pria botak tersebut.

"Memang aku sebelumnya mengatakan hal seperti itu Gaki~." Balasnya dengan seringai tipis, "Namun entah mengapa pikiranku berubah beberapa saat lalu dan juga jika kalian tidak mau menerima uang ini maka tidak masalah, kalian bisa langsung pergi tanpa menerima upah sepeserpun namun jika kalian memaksa ingin menuntut lebih~ kurasa kalian sudah tau apa konsekuensinya bukan?." Sambungnya dengan seringai tipis ketika melihat kedua bocah dihadapannya.

"Brengsek kau botak!."

Wush!

Bruagh!

"Vali cepat kabur!."

Issei tanpa aba-aba melompat keatas meja kemudian menendang tepat kewajah bossnya membuat pria botak tersebut terjungkal kebelakang sambil memegangi wajahnya yang nyeri luar biasa akibat hidungnya patah setelah menerima tendangan telak dari Issei.

"B-bocah brengsek! Kalian! Tangkap dan habisi mereka!." Pria botak yang sedang menahan nyeri diwajahnya berteriak nyaring kearah bawahannya membuat belasan pria berjas seketika bergerak mengejar Issei dan Vali yang telah kabur jauh, namun sebuah teriakan penuh amarah kembali terdengar saat amplop berisi uang yang sebelumnya berada disakunya telah menghilang dan sepertinya pelakunya adalah kedua bocah tengik tersebut.

"Arghhh! Sialan!."

.

.

.

"Vali lewat sini! Cepat!."

Issei dengan wajah yang dipenuhi keringat berlari sekuat tenaga menerobos kerumunan orang kemudian berbelok memasuki sebuah gang kecil diikuti Vali dibelakangnya.

Kedua pemuda itu sesaat menunduk dengan nafas memburu setelah berlari hampir 20 menit tanpa henti akibat menghindari kejaran belasan geng Yakuza yang sepertinya masih mencari keberadaan mereka saat ini.

"A-apa yang kau lakukan tadi Issei?! Kau pikir bagaimana nasib kita kedepannya hah?! Dengan memukul pria botak itu sama halnya seperti mengajak perang dengan geng Yakuza!." Vali menatap Issei dengan pandangan tajam, dirinya tidak habis pikir dengan tingkah saudaranya tersebut, hal yang dilakukannya bisa dikatakan sangat nekat yaitu menghajar pimpinan Yakuza berarti sama dengan mendeklarasikan perang terhadap geng tersebut.

"Kheh! Tapi aku mendapatkan sesuatu yang setimpal juga!." Balas Issei dengan seringai tipis sambil menunjukkan sebuah amplop tebal yang berada ditangan kanannya kearah Vali, "Dengan uang ini kita bertiga bisa membeli rumah sederhana jauh dari sini dan memulai hidup baru bersama." Sambungnya kearah Vali yang sesaat terkejut akibat melihat amplop tebal berisi uang yang sepertinya telah berhasil dicurinya.

"Kau pikir hanya dengan pindah tempat tinggal bisa menyelesaikan masalah ini Issei? Lawan kita saat ini adalah sekelompok Yakuza dan jaringan informasi milik mereka masih bisa melacak keberadaan ki-!."

Bruagh!

"Ugh!."

Brukh!

"Vali!."

Tap!

Tap!

Tap!

"Hahaha! Satu telah tumbang, hanya tersisa satu lagi."

Kedua iris coklat milik Issei menatap tajam kearah sekumpulan pria kekar dihadapannya, dirinya mendekap tubuh Vali yang dalam keadaan pingsan akibat hantaman tongkat besi baseball tepat ditengkuknya.

"Apa mau kalian brengsek!."

Belasan pria yang berada disekelilingnya sesaat terdiam mendengar teriakannya namun didetik selanjutnya mereka semua tertawa nyaring.

"Mau kami bocah? Kami ingin menghabisi dua bocah tidak tau diri yang seharusnya berterima kasih karena telah diberi pekerjaan namun malah melukai boss kami!."

Tanpa banyak basa-basi belasan pria berjas hitam yang mengelilingi tubuh Issei serta Vali langsung menghajar tanpa ampun kedua pemuda tersebut.

Bruagh!

Dugh!

Bruagh!

Dugh!

Hampir lima menit sekumpulan Yakuza mengeroyok mereka, dan terlihat saat ini Issei maupun Vali dengan tubuh babak belur serta dipenuhi luka terlentang diatas tanah.

"Kurasa mereka akan mati sebentar lagi." Salah seorang Yakuza berucap pelan saat melihat tubuh tak berdaya kedua bocah dihadapannya.

"Kheh! Tugas kita adalah menghabisi mereka, jadi selama nyawanya masih melekat ditubuh maka tugas kita belum usai." Balas salah satu anggota Yakuza lainnya, kemudian dirinya mengambil tongkat baseball yang berada disampingnya dan mengangkatnya tinggi berniat menghancurkan kedua kepala bocah dibawahnya sat ini, sekaligus mengirimkannya menuju akhirat.

Issei yang melihat jika sepertinya nasib mereka berdua akan habis ditangan para geng Yakuza dan perkataan Vali yang mengingatkan untuk jangan berhubungan dengan Yakuza sepertinya benar, dirinya saat ini hanyalah seorang pemuda bodoh yang belum paham betapa kerasnya dunia mafia namun dengan modal nekat pergi untuk berurusan dengan mereka dan nasib pemuda bodoh itu akan berakhir...

"Matilah bocah!."

Wush!

"Kurasa nenek akan kesepian."

Brakh!

Bruagh!

"Siapa kau!?."

Duagh!

"Argh!."

Duagh!

Duagh!

Sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang sama seperti Vali, kedua iris coklatnya dengan samar dapat melihat seorang pemuda bersurai pirang yang sedetik sebelum tongkat besi itu menghancurkan kepalanya, melompat dari atas bangunan kemudian menendang dua Yakuza yang akan menghabisinya dan selanjutnya dengan samar ia melihat perkelahian sengit didepannya hingga akhirnya dirinya sepenuhnya jatuh pingsan.

"Apakah itu Naruto-sensei? Kheh! Tidak mungkin Senseinya itu bisa datang menolongnya layaknya pahlawan kesiangan." Batin pemuda bersurai coklat itu sebelum benar-benar pingsan.

.

.

.

Malam harinya di Kuoh Hospital terlihat saat ini diruang perawatan bernomer urut 07 terdapat Issei dan Vali yang terbaring lemah dengan beberapa perban yang menutupi luka disekujur tubuhnya.

"Enggh~."

Namun salah satu diantaranya perlahan melenguh pelan diikuti kedua matanya yang mulai terbuka , hal pertama yang dirinya pikirkan apakah saat ini ia berada di surga? Neraka? Karena seingatnya nasib dirinya dengan Vali akan habis ditangan para Yakuza, namun sebuah aroma obat-obatan seketika tercium kedalam Indra penciumannya menandakan bahwa mereka berdua saat ini berada dirumah sakit, namun siapa yang telah membawa mereka berdua kesini? Tidak mungkin jika sekelompok Yakuza yang telah menghabisi mereka malah berbaik hati membawanya menuju rumah sakit.

Perlahan dengan rasa nyeri yang terasa hampir disekujur tubuhnya, Issei sekuat tenaga bangkit kemudian dengan tertatih melangkah menuju keluar ruang-! Langkahnya seketika terhenti saat dari balik tirai yang menutupi kasur tempatnya berbaring terlihat Senseinya, Naruto yang sedang duduk membelakanginya dan disampingnya terdapat seorang dokter yang sepertinya sedang mengucapkan sesuatu.

"Selamat dari pertarungan melawan 12 Mafia Yakuza bahkan tanpa menerima luka serius, entah harus seperti apa aku menanggapi hal tersebut." Sang dokter berucap pelan sesekali geleng-geleng sambil mengobati luka dipunggung pria pirang dihadapannya saat ini.

"Haha~ kurasa itu hanya keajaiban yang tuhan berikan kepadaku untuk menyelamatkan kedua nyawa pemuda yang tidak bersalah."

"Anda ini seorang guru kan?." Sang dokter kembali bertanya kemudian terdiam saat menyadari bahwa dibeberapa bagian tubuh bagian atas pria yang sedang diobatinya ini terdapat bekas luka tembak yang telah mengering, dan tidak mungkin seorang guru bisa memiliki bekas luka mengerikan seperti itu.

Naruto mendengar nada ragu dari dokter yang sedang mengobatinya hanya terkekeh pelan, "Seperti yang anda lihat, pekerjaanku memanglah menjadi seorang guru." Balasnya diiringi tawa pelan membuat helaan nafas pelan dikeluarkan dokter dibelakangnya.

"Baru kuketahui jika pekerjaan seorang guru akan seberbahaya ini, terlebih sampai berurusan dengan Yakuza." Ucapnya pelan melirik kearah Naruto yang masih tertawa pelan, "Namun sangat jarang melihat seorang guru rela berkorban hingga seperti ini hanya demi muridnya, apakah keduanya adalah keluarga anda?." Sambungnya menayakan apakah kedua pemuda sebelumnya dibawa oleh Naruto yang sedang dalam kondisi terluka kedalam rumah sakit adalah keluarganya? Karena sangat jarang dijaman sekarang melihat seorang guru rela berkorban melawan bahaya hanya demi muridnya.

Issei sesaat terdiam dari balik tirai menunggu jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh Senseinya tersebut, namun pemuda bersurai coklat itu hanya mendengar sebuah helaan nafas pelan diiringi tawa pelan dari sang Sensei.

"Mereka berdua memanglah bukan keluargaku, namun mereka adalah anak didikku yang berharga, mungkin dimata orang lain mereka hanya terlihat seperti murid bodoh nakal tidak tahu diri yang suka berbuat onar namun menurutku malah sebaliknya, kurasa sistem mengajar disekolah lah yang hanya selalu berpatokan kepada peraturan tanpa bisa melihat dari setiap karakteristik dari masing-masing mereka." Dengan senyuman tipis Naruto menceritakan mengenai murid kelasnya yang terkenal sangat susah diatur dan bebal membuat tangan sang dokter yang sebelumnya sedang mengobati luka dipunggungnya sesaat terhenti kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.

"Beruntungnya mereka bisa memiliki guru pendidik seperti anda."

"Haha~ dari pada dikatakan mereka beruntung lebih tepatnya akulah yang sangat beruntung karena memiliki murid unik seperti mereka."

Issei yang mendengar kalimat yang dikeluarkan oleh Senseinya tersebut sesaat termenung namun didetik selanjutnya sambil mengusap kedua matanya akibat terharu dirinya tersenyum menatap kearah Naruto, dirinya sekarang sangat yakin bahwa Sensei mereka kali ini sangatlah berbeda dari pengajar sebelum-sebelumnya, bahkan Vali yang sepertinya telah siuman sejak awal dan memilih untuk diam ketika melihat Issei sedang mengintip sesuatu dari balik tirai saat ini juga ikut terdiam sambil memandang langit-langit ruangan.

Keesokan harinya dimana sang Surya mulai menampakkan diri menyinari seluruh kota, terlihat Naruto, Issei dan Vali yang saat ini berdiri disebuah jembatan penyeberangan orang sambil ketiganya meminum minuman kaleng.

"Kenapa Sensei membawa kami kemari?." Vali dengan pandangan bingung menatap kearah pria pirang disampingnya itu, sebab tadi pagi-pagi sekali Senseinya tersebut membangunkan mereka berdua dan mengatakan akan menunjukkan sesuatu namun ternyata hanya membawa mereka keatas sebuah jembatan penyeberangan.

"Lihatlah..." Ucap singkat Naruto sambil menunjuk kearah depannya membuat keduanya mengikuti arahannya dan seketika terdiam saat melihat seorang wanita lansia berjalan pelan menyusuri daerah sekitarnya sambil sesekali menawarkan dagangan rangkaian hiasan bunga yang berada dikeranjang bawaannya, "Jika kalian ingin membahagiakannya maka belajarlah dengan giat serta sungguh-sungguh dan jangan berbuat hal yang merepotkan seperti kemarin, kalian beruntung karena masih ada aku yang melindungi, bayangkan jika kemarin yang datang adalah nenek kalian? Mungkin saat ini hanya penyesalan yang akan kalian berdua rasakan." Dengan helaan nafas dirinya melanjutkan perkataannya menasehati kedua anak didiknya tersebut, mengenai tindakan mereka yang bisa dikatakan nekat, karena hanya demi uang hingga rela berurusan dengan mafia.

Naruto yang melihat Issei serta Vali malah mematung kemudian pria pirang itu menepuk kedua pundak mereka, "Kenapa malah melamun hah? Cepat sana pergi bantu nenek kalian!." Ucapnya dengan nada agak nyaring seketika membuyarkan lamunan keduanya dan dengan segera berlari menuju kearah satu-satunya orang yang telah membesarkan mereka sedari kecil tersebut.

"Tunggu! Aku baru sadar! Kenapa Sensei hebat sekali sampai bisa menang melawan 12 Yakuza seorang diri?." Vali seketika menghentikan langkahnya kemudian menoleh menatap kearah Naruto yang hanya geleng-geleng karena sempat-sempatnya muridnya itu menanyakan hal seperti itu.

"Aku tidak hebat! Yang hebat adalah nenekmu itu! Lihatlah diusia senja masih bisa merawat bahkan membantu kehidupan kalian! Sudah jangan banyak bertanya! Cepat bantu nenek kalian!."

"Siap Sensei!.

Naruto tersenyum pelan melihat kepergian Vali serta Issei yang saat ini sedang membantu nenek mereka berjualan dan sepertinya masalah dari kelima muridnya yang sedang dalam masa Skorsing tidaklah seperti yang dikatakan oleh publik, dirinya kemudian berbalik melangkah pergi berniat untuk kembali kerumahnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang saat ini bisa dikatakan sangat kelelahan akibat insiden kemarin dan juga besok adalah hari terakhir dari masa Skorsing kelima muridnya.

.

.

.

Kring!

Kring!

Kring!

Suara deringan alarm jam yang berbunyi dan memasuki pendengaran seorang pemuda bersurai pirang yang masih terlelap sekarang diatas ranjang dengan nyenyak namun perlahan tidur pemuda tersebut tidak bertahan lama karena suara jam yang berbunyi itu semakin nyaring dan akhirnya mau tidak mau perlahan membuka kedua matanya dengan malas.

"Ugh!" lenguh pemuda tersebut sesekali mengusap kedua matanya yang masih terasa berat sambil bangkit dari tidurnya kemudian melangkah menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempatnya tertidur.

Tidak sampai tiga puluh menit akhirnya Pemuda tersebut telah selesai berisap dibuktikan dengan tubunya yang dibalut kemeja hitam dan bawahan celana jeans biru Dongker panjang, kemudian dengan perlahan pemuda tersebut melangkah menuju pintu dan keluar namun tak lupa menutup serta menguncinya kembali.

"Pagi yang cerah hm~" dirinya tersenyum kecil menatap langit biru cerah tanpa awan menandakan bahwa cuaca hari ini sangatlah bagus untuk memulai aktivitas, kemudian dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat parkiran, lebih tepatnya kearah sebuah motor CB modif berwarna hitam yang hanya memiliki tempat duduk pas untuk satu orang.

Set!

Klek!

Brum!

Brum!

Pemuda tersebut mengangkat sebelah kakinya menaiki motor CB kemudian dengan kecepatan sedang dirinya mengendarai motornya tersebut.

Beberapa saat setelahnya terlihat pemuda itu sekarang sudah berada didepan sebuah Academy yang dibagian halaman pekarangannya tertulis Kuoh Academy, menjelaskan bahwa ia mempunyai profesi sebagai guru atau staf disekolah tersebut, dan dengan menarik nafas dalam dirinya memandang sekali lagi dengan mantap kearah akademi dihadapannya.

"Siapkan mental untuk meraih kesuksessan" Ucapnya pelan kemudian kembali menjalankan motor CBnya memasuki pekarangan akademi dan tidak sampai satu menit masuk dirinya dapat mendengar bisik bisik dari para siswa maupun siswi yang membicarakanya.

"Hei itu Naruto-sensei!."

"Kyaa! Dia semakin tampan saja!."

"Aku sempat melihatnya di tv kemarin, Sensei pirang itu menang malawan 12 Yakuza demi menyelamatkan kedua murid kelasnya."

"Aku juga melihatnya! Bahkan kabarnya kelompok mafia itu sudah diamankan oleh pihak berwajib akibat terkena kasus bandar narkoba."

Naruto yang baru sampai diakademi Kuoh hanya bisa kembali tersenyum kecil melihat respon murid disekitar halaman sekolah yang barusan dirinya lewati, ia memilih mengabaikan mereka seperti sebelumnya dan kemudian setalah memarkirkan kendaraannya dengan cekatan Naruto melangkah memasuki gedung akademi kemudian menaiki tangga menuju lantai 3 atau lebih tepatnya menuju kesebuah ruangan kelas yang bertuliskan 3-F dibagian papan tanda ruangan.

Drap!

Drap!

Drap!

Cklek!

"Good morn-!."

"Ohayou Naruto-sensei!."

Perkataan Naruto bahkan hingga langkahnyapun ikut terhenti ketika melihat seluruh murid kelasnya berdiri serentak sambil menyapanya kemudian membungkuk hormat.

"Hei~ hei~ kenapa kalian bersikap aneh seperti ini hah? Sudah sudah cepat kalian duduk kembali." Dengan tawa pelan bercampur heran Naruto menggerakkan kedua tangannya memberi isyarat agar mereka semua kembali duduk seperti semula.

"Wow! Aku tidak tau jika Sensei adalah mantan anggota Militer!."

"Aku malah penasaran bagaimana cara Naruto-sensei mengalahkan sekelompok Yakuza tersebut."

"Haha! Trending topic yang saat ini sedang hangat diperbincangkan dikota Kuoh adalah mengenai seorang guru mantan anggota militer yang menghajar sekelompok Yakuza demi menyelamatkan kedua anak didiknya."

Naruto yang akhirnya paham kenapa aksinya waktu menyelamatkan Vali dan Issei bisa sampai diketahui oleh banyak orang ternyata karena telah masuk dan tersebar dimedia sosial serta media masa, entah hal tersebut ulah siapa namun berkatnya saat ini seorang Uzumaki Naruto telah menjadi artis dadakan.

"Simpan pertanyaan kalian untuk nanti sebab sekarang jam pelajaran telah dimulai! kalian buka buku kalian halaman 210 bab IV alenia II mengenai Gravitasi!"

Teng!

Ting!

Tong!

Suara bel sekolah yang berbunyi nyaring keseluruh penjuru menandakan jika jam pelajaran telah usai dan memasuki waktu istirahat.

Naruto yang sedang menuruni tangga dari ruang kelasnya seketika memelankan langkahnya saat melihat sang kepala sekolah berdiri tidak jauh dari hadapannya kemudian berisyarat untuk mengikutinya.

Set!

"Aku sudah menggunakan segala cara untuk membelamu waktu rapat tadi Naruto-sensei, namun mereka para staf Mentri pendidikan memilih untuk mencabut izin mengajarmu akibat tindakanmu yang melawan sekelompok Yakuza tersebar dimedia, meskipun hal tersebut demi menyelamatkan kedua muridmu namun sebagian dari mereka ada yang merasa was was jika sampai suatu anaknya mengalami tindak kekerasan denganmu, mungkin terdengar tidak masuk akal namun jika hanya diriku yang membelamu sangatlah mustahil untuk menang melawan ocehan publik, terlebih mereka yang berbicara adalah setiap wali murid dari pelajar akademi ini. Sekali lagi mohon pengertiannya Naruto-sensei."

Sang kepala sekolah atau Jiraiya hanya bisa menghela nafas pelan sambil menyodorkan selembar kertas kearah Naruto yang sesaat terdiam menatap lembar pemberhentian dihadapannya, namun sebuah senyuman tipis tercipta diwajahnya.

"Jangan terlalu dipikirkan Jiraiya-san, hal tersebut terjadi juga karena kelalaianku sebagai seorang guru." Balas Naruto sambil terkekeh pelan kearah Jiraiya yang sepertinya masih tidak rela jika harus memecat seorang guru teladan sepertinya, bahkan jika ada suatu hal yang bisa membuat keputusan para Mentri pendidikan untuk membatalkan surat pemberhentian izin mengajar pria pirang dihadapannya ini maka dengan senang hati ia akan melakukan hal tersebut.

"Setelah ini datanglah keruang lab komputer, mereka para utusan Mentri pendidikan menunggumu disana." Ucap Jiraiya dengan ekspresi sulit diartikan karena harus melakukan hal yang dibencinya yaitu memberhentikan seorang guru seperti Naruto, namun dirinya melakukan semua ini juga demi sekolah yang saat ini dipimpinnya, ia bimbang antara memilih membela Naruto habis-habisan dan membiarkan martabat sekolahnya hancur Dimata publik atau membuang seorang guru yang menjadi kambing hitam agar reputasi sekolahnya tidak terancam jelek Dimata publik.

"Kalau begitu saya pamit undur diri untuk mengisi dokumen serta mengepack barang-barang dimeja kerja, kalau sudah saya akan langsung menuju kesana." Naruto membungkuk sopan sebelum beranjak pergi keluar ruangan meninggalkan sang kepala sekolah yang menatap punggungnya dalam diam.

Jiraiya setelah melihat kepergian Naruto sesaat terdiam kemudian pandangannya beralih menatap jejeran bingkai foto para mantan kepala sekolah terdahulu yang terpajang rapi di ruangannya tersebut.

"Pada akhirnya berkat perjuangan seorang Uzumaki Naruto murid kelas 3-F yang terkenal tidak tau aturan serta bebal dapat diajari dan didik seperti halnya murid lain, namun karena hal itupun dirinya sampai harus kehilangan hak izin mengajarnya." Ucapnya pelan seorang diri merenungi permasalahan yang saat ini memenuhi pikirannya, "Jadi... Apakah semua perjuangannya bisa dikatakan sia-sia?."

Beberapa waktu kemudian setelah dirinya selesai mengisi surat dokumen serta mengepack barang-barang miliknya terlihat saat ini Naruto yang duduk disebuah bangku dan dihadapannya dibalik meja terdapat tiga orang dari pihak kementerian pendidikan menatapnya dengan berbagai ekspresi.

"Ehmm... Jadi kedatangan kami disini sebenarnya untuk mengetes apakah kau masih layak untuk bisa menjadi seorang guru pengajar atau sebaliknya." Salah satu dari tiga orang dihadapannya itu membuka suara kearah Naruto yang memilih diam mendengar setiap perkataan mereka.

"Dan juga kami mendengar jika cara mengajarmu sangat berbeda bahkan berlawanan dengan kurikulum kami."

"Bahkan saat ini media sedang ramai-ramainya memberitakan dirimu yang terlibat perkelahian dengan sekelompok Mafia Yakuza, coba kau pikir apakah pantas seorang guru yang seharusnya memberikan contoh teladan bagi anak didiknya malah harus terlibat perkelahian yang bahkan disaksikan oleh hampir seluruh pelajar diakademi Kuoh, jadi... Bisa kau jelaskan mengenai semua hal tersebut? Naruto-sensei?.

Ketiga orang utusan dari Mentri pendidikan itu memberikan masing-masing pendapat mereka mengenai hasil setelah yang dilakukan oleh Naruto selama mengajar di akademi Kuoh, sedangkan pria mantan anggota Militer AS itu hanya terdiam sesaat mendengar dari setiap argumen yang dilontarkan kearahnya.

"Kurasa tidak ada hal lagi yang bisa kujelaskan kepada kalian sebab seharusnya kalian sebagai Mentri pendidikan yang mengatur urusan internal dan eksternal seluk beluk persoalan pendidikan dinegeri ini sudah mengetahuinya tanpa perlu kujelaskan." Dengan ekspresi datar kedua iris safirnya menatap setiap wajah dari utusan Mentri pendidikan dihadapannya, " Setiap tahunnya kasus pendidikan dalam skala ringan maupun berat selalu terjadi dan bertambah diseluruh penjuru Jepang, menurut kalian setiap kasus-kasus yang muncul berasal dari murid? Orang tua murid? gurunya? Atau dari sistem pendidikan/Kurikulum yang kalian agung-agungkan itu? Dimana kalian mendidik seorang murid hanya untuk menjadi pintar dalam materi namun tidak dalam moralnya, kutanya apakah pernah kalian menyaksikan perkelahian 2 orang siswa? Perkelahian antara siswa yang dicap buruk Dimata publik namun ternyata memiliki moral yang baik dan dapat dibimbing ilmu materi meskipun secara perlahan sedangkan siswa satunya dicap dengan berbagai prestasi namun miskin moral, jika kedua siswa tersebut berkelahi kira-kira kurikulum kalian akan mengeluarkan/menghukum siswa yang mana? Kheh! Kurasa dengan jelas kalian akan membela yang berprestasi bukan? Dan bayangkan jika negeri ini tumbuh dengan banyak orang yang berprestasi namun rendah moral?." Ketiga orang dihadapannya seketika terdiam mendengar perkataan panjang lebarnya barusan, seolah mereka tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu keluar dari mulutnya.

"Mungkin perkataanku menyinggung kalian dan juga kurasa karirku sebagai guru memang sudah cukup sampai disini namun aku hanya memberi kalian sedikit solusi." Ucap Naruto sambil bangkit dari duduknya kemudian meletakkan dokumen surat pemberhentian izin mengajar kearah tiga orang dihadapannya, "Dari pada kalian sibuk mencari kambing hitam untuk setiap permasalahan yang selalu terjadi setiap tahunnya bukankah lebih baik jika kalian memikirkan bagaimana cara agar hal/kasus yang sama tidak terulang kembali setiap tahunnya?." Sambungnya sebelum pergi melangkah keluar ruangan meninggalkan ketiga orang yang menatap kepergiannya dalam diam.

Naruto dengan ekspresi sulit diartikan melangkah menuruni tangga akademi sambil membawa kardus berisi barang-barangnya menuju tempat parkiran, langkahnya sesaat terhenti kemudian dirinya berbalik menatap akademi Kuoh yang dulu telah mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.

"Kurasa aku akan merindukan tingkah sableng mereka." Senyuman kecil muncul diwajahnya sebelum akhirnya dirinya berbalik menuju tempat motornya terparkir.

Brakh!

"Sensei!."

"Naruto-sensei!."

"Jangan pergi Naruto-sensei!."

Naruto kembali menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap murid kelasnya yang saat ini berteriak nyaring dari balik pagar mencegah kepergiannya.

"Hei! Kenapa kalian malah berkumpul disini? Cepat kembali kekelas kalian!."

"Kami akan kembali jika yang mengajar adalah Naruto-sensei!."

Hati dari pria pirang tersebut kembali tersentuh melihat tingkah muridnya, ia tidak bisa berbohong jika rasanya sangat berat untuk meninggalkan mereka namun ada konsekuensi yang saat ini harus dirinya terima membuatnya hanya bisa tersenyum tipis membalas setiap teriakan muridnya demi mencegahnya pergi.

"Tugasku untuk menjadikan kalian murid hebat telah tercapai! Jadi mulai saat ini kalian harus bisa membuktikan jika dimasa mendatang kalian semua akan menjadi orang sukses tanpa lupa dengan moral serta etika!." Balas Naruto dengan nada nyaring membuat murid kelasnya geleng-geleng masih tidak ingin jika Sensei pirang mereka itu harus pergi, bahkan Rias dan Akeno dengan sekua tenaga menahan isak tangis sambil terus mencoba membujuk Naruto agar kembali berjuang mempertahankan hak izin mengajarnya.

Naruto yang melihat anak didiknya telah berubah menjadi kepribadian yang lebih baik dari hari pertama mereka bertemu, pria tersebut mengacungkan jempolnya kearah mereka sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju motornya Kemudian menghidupkannya dan mulai berjalan keluar akademi menghiraukan teriakan muridnya kelasnya.

-a few years later-

Beberapa tahun telah berlalu setelah pencabutan hak izin mengajar milik Naruto, banyak hal yang terjadi selama rentan waktu tersebut, dan saat ini terlihat bangunan akademi Kuoh yang tampak megah setelah melalui beberapa renovasi karena setelah insiden waktu itu entah mengapa setiap tahunnya murid yang lulus selalu memiliki nilai diatas rata-rata, seketika membuat akademi Kuoh menjadi sekolah terbaik dijepang yang setiap lulusannya selalu menciptakan generasi cerdas.

"Kurasa para Mentri pendidikan itu sudah memahami maksud perkataanku."

Seorang pria bersurai pirang berusia 35 tahunan saat ini sedang duduk diatas sebuah motor menatap bangunan akademi Kuoh sambil tersenyum tipis, kemudian pria tersebut berniat ingin melanjutkan perjalanannya namun seketika mengurungkan niatannya saat sebuah perasaan Dejavu hinggap dipikirannya.

"sensei?."

Suara yang tak asing terdengar ditelinganya dan kemudian dirinya berbalik dan tidak jauh dihadapannya saat ini terlihat lima orang pria dan wanita yang awalnya memang berkumpul diakademi Kuoh untuk melakukan reuni namun tidak disangka saat akan pulang melihat sosok pahlawan yang dulu telah membimbing mereka hingga menjadi seperti sekarang.

"Kalian?."

Tanpa aba-aba kelima orang itu berlari kencang kearah Naruto yang awalnya terkejut dengan kemunculan mereka namun didetik selanjutnya sebuah senyuman tipis tercipta diwajahnya.

"Naruto-sensei!."

"Hahaha! Lama tak berjumpa mantan murid sablengku!."

END

~BIG BROTHER INSPIRATION~

~Arigatou~

.Dont Like Dont Read.

.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.

.Great Teacher Uzumaki Naruto Belong's Uchida Tokugawa.

.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.

-SAYONARA-