Disclaimer Masashi Kishimoto [A sasuhina fanfinction; Close Friendship]


Hinata tidak pernah bisa melawan, terutama ketika, sahabat kecilnya melakukan hal seintim ini. Mereka bilang perasaan seperti itu disebut cinta, namun, bagi Hinata sendiri, ini bukan cinta, ini lebih dari itu, perasaannya yang melebihi kata 'cinta' pada Sasuke, perasaan terlalu mencintai. Yah, bila ada kata yang memiliki arti dari kata cinta, itulah perasaan Hinata yang sebenarnya. Benar~ ia terlalu mencintai sang sahabat, dan Hinata tidak pernah menyesal mengakui hal itu.

Tubuh halus Hinata tersorot remang lampu, memperlihatkan bentuk tubuh berisi berbalut bra ungu feminim berenda. Dengan penuh perasaan, Hinata mencium rambut Sasuke yang menggelitik sekitaran leher dan dagu sang gadis, membelai hati-hati tiap inchi wajah Sasuke yang bisa jemari lembut itu gapai. Hinata menyukai bagaimana aroma Sasuke memenuhi ruang paru-parunya, seakan oksigen teristimewa, adalah harum sang sahabat.

"Jauhi Naruto setelah ini." Sasuke bergumam berat penuh penekanan perintah, memberi bekas gigitan di leher Hinata, dengan tangan yang tidak bisa berhenti menjamah. Bagi Sasuke, tubuh Hinata merupakan tubuh yang paling pas, tubuh yang mampu membuat Sasuke selalu tidak bisa mengendalikan diri, meski Hinata sudah menutupinya menggunakan pakaian tebal, a-ah, mungkin bukan karena tubuhnya, lebih tepatnya ialah Sasuke tidak pernah bisa mengendalikan diri, jika itu adalah Hinata.

Siapa pun mereka yang mengenal Sasuke tahu, betapa idiotnya ia ketika berhadapan dengan Hinata, betapa tidak warasnya ia ketika sudah menyangkut Hinata, dan semua orang juga tahu betapa bajingannya ia memonopoli Hinata. Cinta yang diketahui Sasuke adalah memiliki, maka dengan semua keegoisan yang dirinya punya, ia menginginkan Hinata mencintai ia, seperti dirinya mencintai Hinata. Cinta mematikan yang begitu besar, sampai maut tidak akan pernah berani menyentuh mereka, merusak kisah cinta unik mereka. Orang-orang menjuluki sasuke, seorang iblis berwajah rupawan.

Hinata bergumam, mengangguki perintah Sasuke, mengecup sebentar hidung Sasuke, kala mereka saling bersitatap, yang kemudian, sedetik setelahnya dibalas ciuman panjang oleh Sasuke, menggigit bagian bawah bibir Hinata, menjilat, lalu menginvasi mulut sang gadis penuh keagresifan. Hinata melenguh, respon tubuhnya membusung, mengetat, ke arah dada bidang Sasuke, wajah terhiasi warna merah, disertai bagian bawah yang sudah basah.

Siapa bilang Hinata merupakan gadis-ah ralat-wanita baik-baik nan polos? Ia bisa berubah liar, bila berhadapan dengan Sasuke. Hanya dengan Sasuke.

Mereka berhubungan intim untuk pertama kalinya, ketika Hinata dan Sasuke sama-sama memasuki umur empat belas tahun (kelas tiga junior high school). Waktu itu, segalanya terasa begitu cepat, dan, mengalir begitu saja. Mereka memang masih sepasang sahabat, namun sejatinya, hubungan mereka lebih dari pada itu. Ya, mereka memang pasangan gila, saling mencintai, dan membutuhkan satu sama lain, tetapi, tidak menjalin hubungan resmi seperti pasangan umum lainnya, tidak ingin memamerkan betapa romantisnya hubungan mereka terhadap semua orang. Benar-benar tidak masuk akal.

Bra Hinata sudah tidak terpasang dengan benar menutupi payudara, Sasuke menempelkan kedua kening mereka sesudah ciuman panas mereka berakhir, memberi jarak antar wajah Sasuke dan Hinata, agar Sasuke dapat mengamati wajah manis sang tuan puteri yang tidak berdaya dalam kuasanya. Sasuke tersenyum lembut. Darah Hinata berdesir, ia berani bersumpah akan memberikan segalanya, hanya demi bisa melihat senyum Sasuke setiap hari seperti ini. Percayalah, besar cinta mereka, sama-sama hebat.

Kehidupan Sasuke sekelam iris hitamnya, ia terlantar yatim-piatu, kemudian, dibiayai kehidupannya oleh Madara (paman Sasuke), dengan kehidupan bergelimpangan harta kekayaan. Sasuke terlahir jenius, darah Uchiha mengalir dalam dirinya, meski dibiayai oleh Madara, prestasi Sasuke di bidang akademik maupun non akademik membuat Sasuke mudah bersekolah di manapun dan dibiayai oleh banyak lembaga beasiswa, hal itu mempermudah kehidupan Sasuke, yang hanya terlahir menjadi anak yatim-piatu. Sedangkan Hinata memiliki kehidupan sepucat iris ungunya, sepi, dan kosong. Hinata memiliki keluarga retak, kedua orang tuanya bercerai di usia Hinata yang ke tujuh tahun, sama seperti Sasuke, Hinata memiliki otak pintar yang senang bekerja keras, ia unggul dalam prestasi akademik sehingga ia dapat dengan mudah mendapatkan beasiswa.

Mereka sama-sama memiliki kekurangan mengenai arti keluarga, maka di antara mereka saling menguatkan satu sama lain, saling membantu dan membangun kebahagiaan itu sendiri, menciptakan perasaan meletuk-letuk yang mampu menumbuhkan warna pada kehidupan muram mereka, menyeimbangkan siklus kehidupan agar layak seperti orang normal lainnya.

Hinata mencium pipi Sasuke, bibirnya yang bengkak tidak serta-merta membuat dirinya mengeluh. "Aku tidak ingin pulang ke rumah, Sasuke-kun." Suara indah Hinata benar-benar hal yang paling Sasuke candui, Hinata berucap berbisik menggunakan notasi halus dan lembut dalam satu tarikan napas. "Aku tidak mau sendirian." Hinata melanjutkan kalimat tertundanya, sebagai isyarat bahwa ia menginginka Sasuke untuk menemaninya. Ya, sebagai penjelas, kehidupan setelah perceraian Hikari dan Hiashi, Hinata dibawa oleh hak asuh ayahnya, Hiashi Hyuuga, di mana Hiashi amat perfeksionis bila menyangkut soal pekerjaan.

"Hm," Sasuke mengangguk, mencium kening Hinata yang tertutupi poni. Setelahnya, mereka melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda, kegiatan panas yang disukai keduanya, kegiatan intim antar sahabat yang begitu intensnya. Dan kata-kata cinta lagi-lagi tidak bisa mewakili perasaan mereka satu sama lain, karena sedari awal~ perasaan mereka adalah perasaan yang lebih dari pada kata cinta. Begitu lebih. Pula jauh lebih besar.

[story by artnius]