Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.
Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.
Note: by your side © bulan nosarios. beberapa hal di chapter ini terinspirasi dari novel tersebut. thanks dan selamat membaca!
con amore
( ukp; dengan cinta; digunakan sebagai aba-aba dalam musik agar dimainkan dengan lembut )
.
d u a
"Jadi, gadisnya Levi yang berambut merah atau cokelat?"
Sore itu angin berembus kencang, coffee shop milik Levi dan Isabel menjanjikan kehangatan yang membuat pedestrian saling melirik dan membelokkan langkah mereka memasuki bangunannya.
Levi memutar mata. Melesapkan dengus yang ia tahan ketika Erwin—rekan kerjanya yang baru—memerhatikan dua gadis yang tengah mengobrol di konter. Farlan, yang sudah terlalu lama mengenalnya, hanya tertawa kencang, melirik Levi dengan sengaja dan menggeleng pelan membuat Erwin bertanya-tanya akan reaksinya.
"Yang rambut merah itu adiknya." Lelaki itu menjawab Erwin, melangkahi Levi. "Jangan tanya aku kenapa mereka sangat berbeda."
Levi tak mengacuhkan jawaban Farlan. Ia mengaduk teh hitamnya yang tercampur aroma kopi. Diam-diam mengumpat dalam hati, tak akan pernah ia merestui adiknya itu berpacaran dengan Farlan. Sejauh yang Levi tahu, lelaki itu memang menyukai adiknya. Hanya saja, Isabel masih terlalu naif untuk mengartikan sikap-sikap Farlan. Dan Levi berharap, Isabel akan menjadi naif untuk selamanya.
Erwin tertawa kecil. "Berarti gadismu yang berambut cokelat?" Mata birunya menatap Levi, ada harap samar yang terpancar di sana, entah harap apa, Levi tak dapat membacanya. "Yang berkacamata itu."
Sebelum memalingkan tatapan, Farlan memandang Levi lama. Tersenyum simpul sampai akhirnya memutuskan untuk menutup mulut, menyesap kopi hitamnya.
Levi menatap Erwin. Mengukuti tatapan teduhnya yang sesekali melirik kepada Hanji. Ini adalah jenis pertanyaan yang sering Levi dapatkan. Seharusnya, seharusnya ia sudah terbiasa. Sebagaimana Hanji yang selalu menjawab kasual setiap pertanyaan berjenis sama. Hanya, ada hal-hal samar yang tidak Levi pahami, setiap ia memikirkan jawaban-jawaban akan pertanyaan tersebut.
Ada sesuatu yang membuatnya ingin menyamarkan ... tanpa kentara ...
"Bukan." Mata kelabu itu mengalihkan pandangannya, menatap cangkirnya yang mengepul. "Dia sahabatku."
Farlan terbatuk kecil, Erwin diam-diam mendesah lega.
Levi tak suka merasakan ini. Bagaimana orang-orang seolah menghakimi relasinya dengan Hanji. Kata sahabat seharusnya menjadi hal yang menyenangkan, namun bagi Levi, tidak. Bahwa relasinya dengan Hanji lebih dari itu. Ada hal-hal yang tak akan bisa mereka berdua bagi kepada orang lain di sekitar mereka. Dan kata sahabat terdengar begitu dangkal.
Ia ingin menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri—bersama Hanji. Mungkin tak ada yang bisa memahaminya selain mereka berdua. Tapi tak apa, sebab begini saja sudah cukup. Berdua saja sudah cukup.
"Halo, tuan-tuan! Mau tambah kopinya?" Isabel menghampiri meja mereka. Tersenyum manis pada Erwin dan melewatkan tatapan penuh harap Farlan.
"Aku mau." Farlan berdeham kecil. "Black coffee spesial buatanmu."
Isabel melesapkan senyum manisnya. Menyipitkan mata ketika tatapannya membalas Farlan. "Tawaran ini tidak berlaku untukmu, tahu."
"E-eh ... tadi kau menawarkan pada kami!"
"Aku hanya bertanya pada Erwin-san dan Levi-nii!"
Levi hampir saja menyemburkan tawa sinisnya ketika menyadari cangkirnya ditarik seseorang.
"Nah, biar aku yang mengambilkan tehmu lagi." Perempuan itu melempar satu cengiran lebar. Terkikik sekilas pada Isabel dan Farlan, kemudian berlalu membawa cangkirnya.
Levi merasakan angin menariknya begitu saja. Ia ikut bangkit, meninggalkan meja pelanggan dan jalan di belakang Hanji menuju dapur kafe. Ia berhenti di sebelah daun pintu. Memerhatikan Hanji yang meracikkan teh hitam untuknya.
Hanji mengujar pelan. "Kau ingin aku menambahkan perasan lemon?"
"Tidak, terima kasih."
"Gula? Atau susu?"
"Mata empat ...,"
Hanji terkekeh kecil. "Kali-kali saja kau perlu asupan manis setelah melihat Isabel dan Farlan."
"Cih." Levi mendecih. "Aku tak akan membiarkan Farlan mendekati Isabel."
"But you did it." Hanji berbalik dengan sendok di tangannya. "Lagi pula, aku percaya Isabel sebenarnya menyukai Farlan, kok."
"Jangan mulai, mata empat."
"Aku tidak memulai apa pun." Hanji tertawa lebar. "Dasar aniki protektif."
Hanji berbalik dan kembali memusatkan perhatian pada teh hitam yang dibuatnya. Levi diam-diam memerhatikan pergerakannya. Bagaimana tangan itu bergerak ringan, memegang cangkir, mencicipinya sedikit. Hatinya menghangat.
"Hanji."
"Hum?"
Levi melangkah padanya. Berhanti tepat di samping Hanji, dan menyandarkan punggungnya pada konter dapur. Bahunya menyentuh lengan Hanji. "Kurasa Erwin tertarik padamu."
Hanji menghentikan kegiatannya. Pelan-pelan melepaskan sendok di tangannya dan menatap Levi dengan tatapan bertanya. "Erwin? Erwin yang barusan?"
Levi mengangguk tak begitu acuh.
"Wow." Hanji tertawa sendiri. "Wow."
Levi mendengus gemas. Mengacak pelan rambut Hanji yang sudah berantakan. "Bodoh."
"Jangan buat aku geer, dong." Levi memerhatikan ekspresi Hanji, menunggu-nunggu rona di pipinya yang mungkin akan datang. "Awas, ya, kalau kau cuma bercanda."
Levi tak bisa menahan ucapannya. "Memangnya kau juga tertarik?"
"Siapa yang tidak?" Perempuan itu tertawa kecil. "Biarpun begini, aku tetap perempuan normal, lho, Levi."
"Tak usah bicara aku pun tahu."
Hanji terkikik lagi, membuat Levi berdebar halus ketika gadis itu mengulurkan tangannya, mengusap pipinya sekilas-sekilas.
"Kau belum cukur, ya?"
Levi mengangkat bahu. "Keadaan kafe akhir-akhir ini lumayan menyitaku."
"Hmm ... harusnya lelaki berewok itu seksi! Tapi, kupikir agak kurang cocok untukmu." Hanji kini memegang dua pipi Levi, dengan sengaja menutupi bulu-bulu halusnya yang tumbuh di sana.
"Ck, jangan macam-macam, mata empat."
Diam-diam, jemari kurus Hanji terasa hangat di wajahnya. Levi ingin menyambut, membiarkan jemarinya melingkupi jemari Hanji dan menggenggamnya. Namun, suara Isabel yang berseru di belakang mereka membuat Hanji melepaskan kontak fisiknya.
"Astagaaa. Bisa tidak, sih, bermesraannya nanti saja kalau kafe sudah tutup?"
Hanji tertawa lebar, mengacak rambut Isabel dan menggumamkan maaf. Mereka melangkah keluar dapur tanpa menoleh pada Levi lagi. Ia menghela napas. Mengusir perasaan janggal yang sering menyulitkannya. Ia ambil teh hitam buatan Hanji di konter. Membiarkan bibirnya terangkat ketika menyesapnya, dan entah bagaimana, ada sedikit aroma Hanji di cangkir tersebut.
Bagi Levi, ada beberapa hal yang tak akan pernah mau ia bagi pada siapa pun di dunia ini.
Salah satunya aroma Hanji. Yang tak jarang selalu membekas di setiap benda-benda yang Levi miliki.
.
.
.
tbc.
