Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


con amore

( ukp dengan cinta; digunakan sebagai aba-aba dalam musik agar dimainkan dengan lembut )

.


t i g a

Levi tak pernah menyukai makanan manis. Atau, segala sesuatu hal yang manis.

Ketika kecil, ia terbiasa dengan hambar-hambar di bubur, atau, teh kamomail alih-alih susu cokelat penuh akan gula. Maka dari itu, ia tak akan pernah suka datang ke tempat-tempat berlabel 'Candy Festival'. Dengan membaca judulnya saja sudah mampu membuat Levi mengecap lidah merasakan manis tak nyata yang tiba-tiba menyerang.

Tapi profesinya sebagai sopir tetaplah sopir. Dan sepersekian usianya, mungkin sudah dijampi-jampi Hanji sebab Levi tak mengerti mengapa ia masih tak bisa menolak. Ditambah lagi, dengan paksaan Isabel. Dan Farlan. Maka acara datang ke festival permen tidak lagi menjadi bayang-bayang buruk yang menerornya, melainkan mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan.

Tempat itu lebih mirip seperti festival pasar malam. Levi melihat bianglala, roller coaster mini, juga airplane swinging yang membuat mata Hanji berbinar cerah. "Tidak," Levi menolaknya di langkah pertama mereka turun dari mobil. "Kau ajak saja Isabel untuk menaiki segala kegilaan itu."

Hanji hanya terkekeh, memberikan wajah menyebalkan dan menggoda Levi. "Ini bukan kegilaan, Levi!" Levi mendengus. "Bertahun-tahun hidup bersamaku ternyata hidupmu masih membosankan."

Levi terlalu malas untuk membalas. Ia menahan langkah untuk tidak mengikuti Hanji menjauh. Melipat tangan dan tetap berstagnasi di sana, bersandar pada kap mobil. "Terserah, aku tunggu di sini."

Isabel muncul di belakang mereka. Farlan tersenyum semringah karena berhasil membawa adiknya itu berkendara dalam satu mobil. Tidak, Levi tahu Farlan pun bukan tipe lelaki yang senang dengan festival seperti ini. Namun teman menyebalkannya itu rela melakukan apa saja demi menarik hati Isabel. Cih.

"Baiklah, baiklah. Kalau kalian terlalu malas berkeliling, kalian tunggu saja di sini." Isabel mengembangkan senyumnya.

"Kurasa kalian lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk mengobrol semalaman bersama, dibanding menemani kami mencicipi berbagai permen?" Hanji menambahkan dengan satu senyum menyebalkannya.

Levi mendelik, "Jangan kurang ajar, mata empat." Dan membiarkan dengus kesekiannya berlalu begitu saja ketika Hanji dan Isabel melangkah cepat-cepat.

Hanji memang menyebalkan, dan Levi tak akan pernah bosan untuk mengatakannya.

Tapi, mungkin memang Levi yang gila, sebab rasa kesal itu akan menguap ketika Hanji tersenyum, menatap bersahabat kepadanya dan berbicara lewat pandangan, "Kau tahu aku memang begini." Dan kemudian Levi akan terpaku, memikirkan ulang betapa ia yang membosankan mau memiliki relasi ini dengan Hanji yang menyebalkan.

Terkadang Levi tak mengerti. Ia tak pernah mencari jawabannya.

Levi mendengar uar-uar tawa dan konversasi yang sayup terbawa angin. Harum permen yang khas menyengat ke dalam penghidunya. Ia mendesah keras. Mencari-cari ke mana sosok Hanji dan Isabel pergi.

Tatapannya berhenti pada satu kedai permen kapas. Dua perempuan itu tengah berdiri di sana, memerhatikan gumpalan manis digantung di langit-langit kedai. Seorang bapak tua berdiri di pusatnya, menawarkan pemandangan menarik akan pembuatan permen kapas yang mencuri perhatian.

Hanji di depannya tertawa begitu lebar. Berkata sesuatu kepada si bapak tua penjual tersebut. Mungkin bertanya-tanya, reaksi apa yang terjadi antara gula dan putaran mesin sehingga menciptakan gumpalan halus yang berwarna-warni itu. Sesekali tangannya yang nakal mencuri satu comotan kecil permen kapas yang tengah dibuat, ia makan tanpa ragu. "Ini enak, lho, Isabel!" Sedang Isabel hanya mampu tersenyum tipis menahan ujaran—dan rasa malu. "H-Hanji-nee!" Membuat Levi bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang adik di sini? Membuat Levi bertanya-tanya, ada berapa banyak kejutan yang belum Hanji perlihatkan pada dunia? Melalui senyumnya, melalui teriakannya, melalui wajah polosnya yang selalu membuat Levi merasa kesal.

Seseorang menyenggol bahunya. Kemudian berbisik.

"Ada banyak pria yang membutuhkan senyum Hanji." Suaranya merendah. "Kau bukan satu-satunya."

Farlan merapat di sampingnya. Ikut memerhatikan Hanji. Kemudian menambahkan.

"Jadi, yang seperti itu masih kau abaikan?"

Ini bukan tentang mengabaikan, bukan. Levi memikirkan sesuatu yang lebih dari itu. Ia tidak mengabaikan Hanji, tidak. Tapi ia tidak punya kuasa untuk menarik Hanji lebih dari ini.

Ini tidak semudah yang dipikirkan. Levi sudah terlalu lama mengenal Hanji, mungkin akan lebih mudah jika mereka adalah dua entitas yang baru saling mengenal, merasa nyaman, kemudian jatuh cinta. Suatu hubungan yang diawali dengan cinta, akan lebih mudah. Hanya saja, hal-hal di antara mereka diawali dengan keplatonisan.

Levi hanya memikirkan akhirnya. Sebab suatu hubungan yang tidak diawali dengan cinta, hanya memiliki dua opsi pada akhirnya;

menjadi saling cinta, atau saling berpisah.

.

.

.

tbc