Disclaimer: All characters belong to Hajime. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.

Warning: au, miss typo(s), and other stuffs.


con amore

( ukp; dengan cinta; digunakan sebagai aba-aba dalam musik agar dimainkan dengan lembut )

.


lima

"Tahu tidak, semalam aku bermimpi."

Levi mendengar suara Hanji dari meja kerjanya, dan menyadari Isabel mengintip dari balik meja bar, menelisik melalui kedua matanya yang selalu bersinar, dan beberapa saat memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya.

"Hu-um?" Adik bungsunya membalas penasaran.

Ketika Levi memutuskan untuk tidak ikut campur dalam konversasi itu (sebab, yeah, seusia hidupnya, Hanji sudah terlalu sering mengujar mimpi-mimpinya yang begitu eksentrik; aku mimpi pergi ke bulan, aku mimpi melihat raksasa, aku mimpi ada bintang jatuh, aku mimpi menikah dengan Pak Shadis—mantan dosen kita itu lho Levi, hih!), ia lebih dulu menangkap mata Hanji yang mengarah kepadanya. Mata yang juga membuatnya terjaga semalaman, ketika Levi sampai di kamarnya hampir setengah tiga, tak mampu melenyapkan tremor di kepalan tangannya, dentum jantungnya, sensasi di bibirnya ...

Levi mendengar Hanji menghela napas, kemudian mengujar, volume suaranya mengecil, mungkin, tak ingin Levi mendengar, atau mungkin, Hanji punya jutaan alasan lain, "Aku mimpi Erwin menciumku."

Levi terlalu terstruktur untuk terkejut, alih-alih, ia mendengar pekikkan Isabel di sampingnya, membuat Hanji ikut tertawa dan mereka tertawa bersama. Levi berstagnasi beberapa saat, memutuskan untuk menutup program analisisnya ketika yang ia lihat di laptop kini hanya angka-angka yang memburam. Ia memijat pangkal hidungnya, merutuki diri dan menyesali mengapa semalam insomnianya harus datang dan ia baru bisa tidur ketika detak jarum jam menunjukkan angka hampir setengah enam pagi.

"Duh, Hanji-nee. Jangan bilang kau juga tertarik dengan Erwin-san?"

Hanji tertawa lagi. "Hahaha jangan kencang-kencang Isabel." Hanji berkata padahal suaranya sendiri sudah memenuhi ruangan. "Nanti Anikimu menguping."

Tch.

"Huh, memangnya kenapa?" Isabel mengujar tanya, melirik kepada Levi yang sudah bersiap untuk berdiri. "Kusarankan, ya, Hanji-nee minta aniki mengenalkanmu dengan Erwin-san saja!"

Memutar netra bosan, Levi pada akhirnya benar-benar bangkit. Ia menepuk dua kali kepala Isabel seraya berkata, "Anak kecil tahu apa," dan terus melangkah, sampai, ia berdiri tepat di depan sosok Hanji yang bersandar pada meja bar. Menyilangkan lengannya.

Levi masih berdiri di hadapannya, ikut menyilangkan tangannya. "Mau nomor ponselnya?"

Di luar dugaan, Hanji hanya tertawa renyah. Ia tatap kelabu Levi tepat di mata, senyum Hanji mereda dan telunjuknya menusuk-nusuk lengan Levi. "Aku bisa minta sendiri," katanya. "Lagi pula ...,"

Levi mengernyit. "Apa?"

Hanji tertawa lagi, berepetisi hingga membuat Levi merasa risi. Ia rotasikan netra sekali, melesapkan teka-teki yang begitu saja menyembul dalam ucapan wanita di hadapannya. Terkadang, Levi tak menyukai hal-hal seperti ini, ketika Hanji bicara dan Levi tak tahu apa-apa. Bukankah mereka selalu berbagi? Terlalu sering berbagi hingga Levi tak pernah tahu, bagaimana rasanya merahasiakan sesuatu satu sama lain?

Hanji hanya menggeleng, lagi-lagi tertawa dan berkata penuh misteri, "Bukan apa-apa!" Dan melirik kepada Isabel sekali sebelum atensinya kembali kepada Levi.

"Apa?" Kembali berepetisi. Tipikal Levi dan lagi-lagi membuat Hanji menggeleng. Sebelum Levi kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya, tatapnya berhenti kepada mata Hanji yang meredup, kemudian berpindah kepada tangannya yang kini terulur, menjangkau kepada wajah Levi, berhenti di rahangnya yang mengeras.

"Oi—"

"Sudah tiga hari," Hanji mengujar pelan. Sangat pelan sehingga Levi meyakinkan, bahwa Isabel pun tak akan bisa mendengar suara Hanji. "Dan kau masih lupa untuk bercukur."

Setelah mengujar, Hanji melepaskan tatap dan sentuhannya. Ia langkahkan kaki jenjangnya meninggalkan Levi. Menyisakan debar-debar halus di atas dadanya, getar-getar lembut di sekitar wajahnya.

"Hei, Aniki." Di sebelahnya, Isabel berbisik. "Aku memang suka Erwin-san. Tapi, aku lebih suka kalau kau yang bersama Hanji-nee."

Levi kembali menatap kepada direksi Hanji menjauh, langkahnya tetap statis, terlalu tenang hingga Levi tak mengenali jenis langkah itu. Hanji berhenti di depan pintu kafe, seolah semesta berkonspirasi sebab belum sampai beberapa detik, pintu kafe terbuka dari luar dan mendentingkan bel tipikalnya.

Erwin terlihat tak lama kemudian.

Dan mereka berdua saling bertukar senyum. Memulai konversasi satu sama lain seolah mereka sudah terlalu lama saling mengenal.

Di mata Levi, mereka berdua terlampau siap untuk saling jatuh cinta.


Levi mengetuk pelan jemari telunjuknya kepada permukaan meja bar di sebelahnya. Kafe baru saja tutup, Isabel belum lama meninggalkan tempat bersama Farlan sepersekian menit yang lalu. Ketika akan protes, Levi lebih dulu melihat rona-rona bahagia di wajah adiknya itu. "Hehe aku pulang sama Farlan dulu, ya, mau mampir ke suatu tempat," sahutnya cengengesan dihadiahi tatap Farlan yang menyeringai puas. Pada akhirnya, Hanji selalu benar, kan? Tentang Isabel dan Farlan. Tentang adiknya yang sebenarnya juga menyukai temannya itu.

Ketika arloji di pergelangan kirinya kembali diintip, Levi menghela napas berat. Dua jam yang lalu, Hanji pergi bersama Erwin. Dengan tawa-tawa terlampau keras dan rona-rona yang kentara. Levi tak lagi bisa memutuskan, pernahkan Hanji tertawa seperti itu ketika bersamanya? Jenis tawa di mana wajahmu akan ikut merona, dan belah bibirmu membentuk batas yang tak ingin terlampau berlebihan. Seperti, tawa-tawa para wanita yang mengiriminya pesan-pesan cinta, atau para pengunjung yang mengerling lewat sudut mata.

Dan Levi tidak menyukainya. Sebab itu, bukan Hanji. Bukan Hanji yang selama ini dikenalnya.

Hanji yang dikenalnya adalah sosok yang akan tertawa keras tanpa batas-batas, tanpa memikirkan bagaimana ekspresi wajahnya, bagaimana suaranya, bagaimana tanggapan orang-orang di sekitarnya. Hanji yang Levi kenal akan tertawa sampai matanya berair, kemudian bersandar pada Levi ketika mulai tenang, untuk kemudian kembali tertawa bersamanya.

Hanji yang ia kenal akan menemaninya sampai malam, berceloteh tak kenal waktu, menunggu-nunggu waktu kafe tutup untuk sekadar melakukan kegiatan favoritnya—membalik papan tanda buka menjadi tutup, dan memastikan Levi membawa satu cup kopi bonus untuknya.

Maka dari itu, Levi masih menunggu. Meski Levi tak tahu, untuk apa?

Untuk apa ia menunggu? Sebab mungkin, mungkin saja Hanji sudah sampai rumah. Diantar Erwin sampai depan rumah. Dan mungkin, melupakan kegiatan-kegiatan kasual yang selama ini mereka lakukan.

Melupakan dirinya yang—

—'ting'

Suara pintu terbuka, disusul bel yang menyapa, kemudian, langkah kaki terlampau familier.

Dan Levi menemukannya di sana.

Hanji Zoe.

"Levi! Hampir saja aku mengira kau sudah tutup kafe dan meninggalkanku."

Hanji-nya.

Ketika itu, Levi tak punya waktu untuk terkejut, atau bertanya tentang Erwin, atau, bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia masih di sini. Levi hanya mampu menghentikan ketukan di jemari, mengendurkan lipatan di keningnya yang tertekuk, merasakan kelegaan di rongga dadanya yang menghangat. Menahan diri, agar tak segera berlari untuk memeluk wanita di hadapannya ini.

"Oi," Levi menyeru ketika pada akhirnya Hanji mendekat. Ia ulurkan tangannya, setelah sebelumnya meraih sesuatu di balik meja bar. Pisau cukur. "Bantu aku ... melakukannya."

Hanji hanya melongo sesaat, sebelum akhirnya, tertawa dalam batas-batas yang Levi ingat. Jenis tawa yang selalu Levi hafal. Dan kini, ia dapatkan lagi.

"Kenapa ke sini lagi?" Levi mengujar pelan, ketika mereka sudah sama-sama duduk di kursi bar. Hanji di hadapannya, menyusuri rahangnya dan mulai mencukur. Levi menahan napas. "Kenapa tak langsung pulang."

Hanji tak segera menjawab. Sepersekian menit. Ia ratakan cukuran di rahang Levi, melewati dagunya, rahang sebelahnya. Jemari Hanji terasa menggelitik di atas kulit ketika wanita itu menyentuh area wajahnya.

"Mungkin, jawabannya sama denganmu." Hanji berhenti sejenak. Menatap Levi di mata dan berkata, "Kenapa menungguku?"

Kenapa?

Sebab Levi tahu Hanji akan datang.

Sebab Levi yakin Hanji akan kembali padanya.

Levi tersenyum miring, membiarkan Hanji meneruskan pekerjaannya kembali. Ruang kafe sudah gelap, tersisa satu lampu terakhir yang sengaja tak Levi padamkan. Mungkin, cukuran Hanji tak akan sebersih ketika ia mencukurnya sendiri. Dan mungkin, Hanji juga tahu itu. Mungkin, Levi akan bekerja dua kali dengan cukurannya, namun Levi terlampau menyukai sentuhan Hanji di wajahnya. Ia tak ingin berhenti.

"Oi, mata empat."

"Hm-hm ...,"

Levi menatap Hanji, memerhatikan garis wajahnya yang familier, hidungnya yang terlampau ia hafal, matanya yang bersinar di tengah redup-redup lampu.

"Tentang mimpimu ...," Levi melanjutkan. Hanji menghentikan kegiatannya. "Kau yakin, yang menciummu adalah Erwin?"

Hanji menatap Levi. Mata mereka bertemu.

Di mata keduanya, mereka saling menemukan.

Hei, kuberi tahu rahasia.

Tapi, jangan bilang-bilang Levi, ya.

Semalam, aku memang bermimpi Erwin menciumku. Namun, ketika aku membuka mata ...

... yang kulihat adalah wajah Levi.

.

.

.

tbc.