Disclaimer : Bunal hanya milik DMM Games! Saya cuma minjem charanya buat dinistain/plak

.

Warning! Yaoi. Feel yang ga nyentuh sama sekali dan bagian 'Anu' yang ancur-ancuran.

.

Semoga suka

.

Jangan lupa bahagia :)

Tangan kukuh Akutagawa meraba pipi Dazai yang terdiam.

Perih. Lagi, yang ia tumpahkan hanya pilu. Akutagawa benci. Bagaimana bisa pemuda itu terus tertawa seolah bahagia itu tersimpan di lautan hatinya? Sementara-

Sementara yang Akutagawa lakukan hanya menumpahkan sendu. Sakitnya, saat ia menelisik lebih dalam pada manik emas itu, didapatinya luka yang menganga. Lebar. Perih.

"Akutagawa-san?" Dazai bertanya-tanya dalam hati. Mengapa Akutagawa berhenti.

Akutagawa tertawa kecil, menutupi. Mengecup bibir Dazai lembut, sementara tangannya bekerja membuka pakaian bagian bawah Dazai.

"Dazai-kun, boleh aku bertanya?" Tangan Akutagawa meraba tubuh Dazai.

"Apa itu?" Dazai memiringkan kepala otomatis.

"Kenapa Dazai-kun tidak pernah cerita padaku?"

"Tentang?"

Akutagawa tersenyum miris. Melihat manik keemasan itu saja Akutagawa tahu Dazai mengerti tapi pura-pura bodoh.

"Tentangmu. Tentang lukamu," Akutagawa memainkan nipple merah muda itu. Menciumi beberapa bagian sensitif.

"Luka?" Dazai menahan suara.

"Aku sudah dengar dari Dan," Akutagawa mengunci mata Dazai.

Dazai mengalihkan tatap. Netra emasnya seakan menyembunyikan sesuatu. "Apa itu penting bagimu?" Tapi tanya itu melukai batin Akutagawa.

"Tentu saja," manik safir itu menjawab cepat.

"Bahkan setelah aku menjelma rumah untukmu, apakah luka itu masih penting bagimu, Akutagawa-san?" Dazai mengerang kecil saat Akutagawa menggigit lehernya.

Justru karena Dazai adalah rumah bagi Akutagawa, ia ingin tahu tentang segalanya. Akutagawa lalu bergumam sebagai jawaban. "Karena dengannya, aku takkan merasa sendiri saat terluka." Ia memberikan kecupan kecil.

"Jadi, kau merasa tak adil jika takdir hanya melukaimu, dan bersikeras menabur garam atas lukaku?"

Tanya itu hanya menambah perih bagi Akutagawa. "Apa salahnya jika aku ingin tahu, tentang luka yang kau derita, Dazai-kun?" Ia menjilati jari, memasukkannya kedalam liang Dazai.

"Salah.." Dazai menggeliat. "...karena aku sudah berusaha melupakan sakitnya, tetapi kau malah mengoreknya.." Mendesah.

Akutagawa tertawa pahit.

"Sebegitu tak pantasnyakah aku, untuk melihat semua lukamu, Dazai-kun?" Bibirnya meninggalkan kecupan disana-sini, tangannya meremas bokong Dazai yang tak lagi berbalut kain.

"Bukan.. begitu," sekuat tenaga Dazai mengatur napas.

"Aku tak memaksa. Lagipula, jika kau bersikeras tak ingin memperlihatkannya, aku hanya perlu sedikit melukaimu agar kita seri saja." Tangannya memainkan milik Dazai yang mengeras.

Dazai menahan napas. "Seri? Memangnya... aku perna-"

"Dengan menolak menampakkan lukamu saja, sebenarnya harga diriku sebagai kekasihmu hancur, lho, Dazai-kun." Lidah itu menjilati 'adik kecil' Dazai. "Terlebih lagi, kau menuduhku menabur garam diatas lukamu, dan menganggap penasaranku hanya mengorek luka, agar aku merasa takdir itu adil. Bukankah itu sedikit kejam?"

Dazai mengerang tertahan. Tapi Akutagawa tak perduli.

"Memang salahku baru bertanya karena tak peka dari awal. Tapi, mentang-mentang yang selama ini kutumpahkan hanya sendu, apa kau melihatku sebagai pilu yang mencari teman agar serupa?"

Dazai menggeleng. Tapi Akutagawa tertawa kecil.

"Kau tadi bilang begitu, sayang."

"Bukan begitu.. maksudku," lirih Dazai.

"Hm?" Akutagawa terus memainkan milik Dazai yang membengkak sejak tadi.

Dazai mendesah.

Bukan begitu maksudnya. Mulutnya hanya terlampau tajam. Tapi bukan itu tafsirnya.

Sebab Akutagawapun memiliki luka tanpa perlu Dazai torehkan. Karenanya Dazai enggan memperlihatkan perihnya. Cukuplah Akutagawa dengan pedih yang ia rasa. Tak perlu manik senada langit itu turut menanggung sakit yang Dazai punya.

Tapi Dazai sudah dengan tak sengaja melukainya.

"Hanya saja.." Dazai menggigit bibir. "Aku tak ingin Akutagawa-san melihatnya.. cukup aku yang merasakannya." Napas Dazai sesak.

Dazai klimaks. Cairan itu Akutagawa jilat sedikit, lalu mengecup bibir Dazai yang memerah sebab digigit.

"Bahkan, jika aku meminta?" Dahi mereka Akutagawa satukan. Menikmati hembus napas masing-masing.

Dazai tersenyum. "Sebagai laki-laki, tentu kau mengerti perasaan ingin melindungi yang kupunya, bukan?"

"Tapi aku juga lelaki, Dazai-kun. Tentu kau faham tentang rasa ingin memiliki, termasuk seluruh lukamu, bukan?" Balas Akutagawa.

Dazai tersudut. Ingin tertawa, tetapi ingin menangis juga.

"Apa karena yang selama ini kuluahkan hanya pilu, sebab itu Dazai-kun jadi enggan menampakkan sakitmu?" Akutagawa menerka.

Tepat sasaran. Dazai terdiam. Taoi tak mengiyakan atau menafikan. Tak mampu menghindari manik safir yang menguncinya lembut. Lalu, mendung hadir dimatanya tanpa ia undang. Dazai menepisnya sekuat tenaga. Tidak, ia tidak boleh menangis didepan Akutagawa.

"Aku tidak keberatan, ikut merasakan apa yang kau rasakan. Lagipula selama ini, Dazai-kun ikut menanggung perih yang aku luahkan. Tidak adil kalau kau tak membagi sakitnya denganku, Dazai-kun." Akutagawa berkata, lembut.

Dazai tergugu. Sedang Akutagawa melanjutkan yang sempat tertunda. Kembali memasukkan jemarinya ke lubang milik Dazai yang masih belum terbiasa. Dazai mendesah.

Sesaat, Akutagawa memeluk Dazai, lalu meninggalkan ciuman di dahinya. "Aku mulai," ia meminta izin.

Dazai mengangguk kecil. Sebelum mendesah tertahan saat milik Akutagawa memasuki dirinya. Biar sudah berkali-kali, tetap saja sakit pada awalnya.

Mencengkeram seprai yang sudah acak-acakan sejak awal. Menyebut-nyebut nama Akutagawa. Sementara Akutagawa mengucap nama bocah bunga persik itu berulang kali, penuh penekanan pada lafalnya. Berkali-kali.

Manik biru itu meringis kecil saat Dazai tak sengaja mencakar punggungnya. Ia tahu Dazai tak bermaksud. Pemuda itu hanya menahan rasa sakit dibawah sana. Akutagawa tersenyum kecil menyadarinya.

"Akutagawa-san.. hh.. Akutagawa-san.. hh-hentikan-.." suara Dazai tercekat, pedih. Seperti biasa di awal ia meminta berhenti, untuk terbiasa dengan rasa sakitnya. Selalunyapun Akutagawa menuruti, tapi tidak untuk kali ini.

Karena Dazai memintanya berhenti, agar tak menangis saat menahan perihnya. Dazai benci rasa sakit. Terlebih jika ia tak mampu menahan air matanya didepan Akutagawa, Dazai tak ingin.

Tapi kali ini Akutagawa tidak mengabulkan pintanya. Lelaki itu meneruskannya tanpa memberi jeda. Membuat mendung yang berusaha Dazai tahan terlihat nyata.

Akutagawa hanya ingin Dazai menangis dalam dekapannya walau sekali. Makanya-

"Akutagawa-san!" Dazai memekik, tertahan. Perih. Pedih. Sakit. Sesak.

"Sedikit.. lagi.. Dazai-kun," Akutagawa meraup bibir Dazai, rakus. Membungkam erangan Dazai, memintanya melupakan sejenak rasa sakit dibawah sana.

Meski Dazai tetap tak dapat menahan air matanya. Sebutir lolos begitu saja. Begitupun isak yang menggebu, berusaha keluar walau Dazai tahan sekuat tenaga. Sesak.

Akutagawa melepas ciuman sebelum napas mereka habis. Tersenyum samar melihat air mata di pipi putih itu. Mengusapnya.

"Akutagawa..san.."

Akutagawa mendekapnya. "Lepaskan semuanya, Dazai-kun," ia berbisik.

Bukannya kejam. Bukannya Akutagawa suka melihat Dazai menangis. Hanya saja, melihatnya menangis begini membuat Akutagawa seolah turut merasakan apa yang Dazai rasakan, meski netra emas itu tak bercerita.

Mendengar isaknya saja sudah cukup bagi Akutagawa.

Akutagawa hanya ingin dirinya pantas, untuk menjadi tempat bagi Dazai bersandar. Setidaknya dengan begini, mungkin Dazai takkan ragu lagi untuk sekedar bercerita padanya. Tentang dirinya. Tentang lukanya. Mungkin.

Salahkah jika Akutagawa egois untuk ini? Rasanya tidak..kan?

Saat cairan putih itu kekuar bersamaan dengan sedikut darah yang mengalir dari liang milik Dazai, Akutagawa menghela napas. Memeluk Dazai sekali lagi dan menyeka air matanya. Mencium sudut matanya.

"Maaf." Senyum Akutagawa tipis. "Karena tadi tidak berhenti dan malah membuatmu menangis."

Memang Akutagawa sengaja. Tapi bukan berarti Dazai langsung mengerti maksud ia melakukannya tanpa ia jelaskan. Dan bukan berarti juga Akutagawa tak merasa bersalah, membuat iris serupa senja itu menangis.

Dazai tertawa dengan suara serak. "Aku tahu kau sengaja," tapi selanjutnya dia menangis lagi.

"Kau marah?"

"Apa aku terlihat marah, Akutagawa-san?" Manik emas itu masih hujan, tapi raut wajahnya tenang. .

"Mungkin?" Akutagawa bergurau.

Dazai terkekeh. ".. maaf juga,"

Akutagawa mengacak rambut merah Dazai.

"Yang tadi itu.. aku tak bermaksud melukaimu.." ucap Dazai perlahan. Takut-takut.

Akutahawa menahan kekehan. "Santai saja. Lagilula, aku takkan memaksa lagi, jika Dazai-kun enggan bercerita." Ia menautkan jemarinya dengan jemari Dazai. Menatap matanya, tersenyum manis. "Aku akan berusaha, sampai kau menganggapku pantas sebagai tempat bersandarmu."

"Jahat," Dazai malah cemberut. "Akutagawa-san mengatakannya, solah-olah aku tak mempercayaimu." Kristal bening itu menggelinding lagi.

"Eh?" Akutagawa bingung. Tadi tangis Daxai sudah berhenti, kenapa malah turun lagi?

"Lagipula, bukan Akutagawa-san yang belum pantas kupercayai. Aku yang belum bisa bercerita," Dazai memalingkan tatap. Menggembungkan pipi setengah kesal.

Akutagawa tertawa kecil. Menghapus air mata Dazai. "Baik. Aku akan menunggumu siap,"

Dazai turut tertawa.

"Karena yang berperan menjadi rumah bukan kau saja." Akutagawa menggenggam tangan Dazai. "Dazai-kun memang rumahku, tapi aku juga rumah untukmu," senyumnya. Tulus. "'Kan?"

Tapi kata-kata itu tak membuat Dazai tertawa, melainkan menangis seketika. Akutagawa merengkuhnya, membawanya kedalam pelukan hangat.

Betapa Dazai melupakan hal itu.

Ia lupa, bahwa membiarkan hanya Akutagawa yang berbagi luka adalah hal keji. Membuat kisah mereka seolah berat sebelah karenanya. Memang niat Dazai adalah meminimalisir rasa sakit Akutagawa, tapu yang terjadi adalah sebaliknya.

Karena mereka hidup bersama.

Karena memadu kasih bukan sekedar berbagi cinta. Melainkan berbagi semua warna-warni rasa yang ditorehkan dunia dihati mereka. Termasuk luka.

Karenanya, Dazai akan mulai berusaha untuk bercerita.


FIN


ANJER LEBAY BANGET. APA INI. APA INI APA INI SKSKSKSK.

Gini amat jadinya astoge. Padahal awalnya cuma mau menggambarkan aktgw sebagai rumah buat dzi yang terluka, tapu malah jadi kayak gini.

maap kalau feel nya ga berasa.

btw makasih dukungannya buat yang nungguin cerita laknat ini up. kedepannya aku bakal berusaha bikin yang lebih baik. akukume mungkin /digaplok

makasih buat yang udah mampir, fav, follow dan ripiw.

PADAHAL AKU PENGEN DEBUT AKUDAZA PAKE YANG SOFT TAPI KOK MALAH- AH- /abaikan

sampai jumpa di kelaknatan berikutnya.

salam laknat,

Elfa Kanzu