Dazai-san! Akutagawa-kun?

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event daaku week 2021.


Day 3: Another Time/Another Life


"Dazai-san ..."

Pemuda serba hitam itu melangkah meninggalkan gang berbau apak. Nama yang ia panggil-panggil tersebut akhirnya keluar dari kesunyian malam yang penat. Suaranya menyentuh keramaian lampu dan lalu-lalang kendaraan, yang sejurus kemudian hanya lenyap tak berbekas. Bibirnya ia gigit membenci ketidakberdayaan. Iris obsidiannya nyalang, seolah-olah menyalak pada purnama yang sekadar menjelma saksi kemelaratannya.

"Di mana kau, Dazai-san?"

Suaranya bukanlah sendu ataupun dilumat perasaan kehilangan. Itu hanyalah amarah, kebencian, dan sebab ia kehilangan, dia tentu ingin menghilangkan kehilangannya tersebut. Namun, sesuatu yang entahlah apa merasa ini salah. Bahwa ia hanya akan keliru, dan semakin buntu dalam sekarat.

"Jika kau ketemu nanti ... pasti kau kubunuh, Dazai–"

Segudang keringat dingin seketika membanjiri Akutagawa Ryuunosuke. Rasanya bahkan menyerupai palung yang menenggelamkan ia tanpa batas. Apa yang membedakannya hanyalah Akutagawa dicekik air mata. Sesak, sebab tiada yang dapat berwujud atau diwujudkannya. Padahal kesedihan ini yang tiba-tiba menumpahi hatinya amat banyak, dan Akutagawa takut justru sekali, ketika ia berpikir ingin menangis.

Anehnya lagi Akutagawa mendengar pintu kamarnya diketuk. Namun, karena Akutagawa tak kunjung membukanya, Kikuchi Kan memutuskan masuk begitu saja. Mereka harus bergegas. Tanggal ini merupakan jadwal untuk delving bagi Kan dan Akutagawa, soalnya. Di mana Kan masih mencerocos macam-macam, mengenai Tayama Katai serta Hagiwara Sakutarou yang tengah bersiap-siap, tanpa menyadari keadaan Akutagawa.

"Ryuu? Apa kaudengar? Ryuu?"

Pundaknya hanya disentuh oleh pelan. Akan tetapi reaksi Akutagawa seolah-olah menunjukkan, ia disetrum listrik bertegangan tinggi.

"Ryuu? Kenapa, Ryuu? Wajahmu pucat banget." Mendadak khawatir, Kan jadi mengecek kening Akutagawa. Ia sampai melakukannya berulang-ulang, tetapi Akutagawa memang tak didera suhu tubuh kelewat batas. Satu menit kemudian barulah Akutagawa merespons Kan, entahlah apa yang Akutagawa pikirkan lamat-lamat.

"E-eh ... tidak apa-apa, kok. Ayo bersiap-siap. Aku enggak lama lagi menyusul. Kan tunggu saja di luar."

"Ada apa-apa bilang, lho. Jangan memaksakan diri."

"Cuma mimpi buruk lagian. Habis delving nanti kuceritakan."

Kemauan Akutagawa dituruti dengan setengah hati. Sampai detik terakhirnya, Kan memperhatikan Akutagawa melalui celah pintu yang kian mengecil. Akutagawa jadi tak enak hati, tetapi nyatanya memang sekuat apa pun Akutagawa mengepalkan tangan, mimpi terlampau nyata itu bahkan tidak sedikit pun memburam.


"Bentar, deh. Ini cuma perasaan, atau emang wajah Akutagawa keliatan pucat? Kayak ... apa sih? Kayak abis liat hantu gitu, deh, dibandingkan sakit. Iya kagak?"

Mendengar Katai menceletuk begitu saja, tatkala Akutagawa tiba di ruangan delving, topik mereka yang merupakan orang hidup itu jadi mengerjap-ngerjap. Heran akan Katai yang menurut Akutagawa, tiba-tiba sekali mengatakannya. Sakutarou dan Kan seolah-olah menunjukkan persetujuan terhadap ujaran Katai. Menumbuhkan senyuman kecil untuk membantah mereka pun, Akutagawa tahu ini cenderung kecut bahkan memaksa.

"Duh. Kalian kenapa, deh? Tayama-san juga. Jangan membuat Saku sama Kan khawatir dong."

"Kurasa ... Tayama-san benar. Tadi Kikuchi-san juga udah bilang, wajah Ryuu-kun pucat banget. Mending istirahat aja, 'kan?" Akutagawa menatap Sakutarou. Melihatnya sulit percaya, mendadak Kan mengulurkan cermin yang mengarah pada wajah Akutagawa. Iris aquamarine itu sekejap membeliak. Sekarang Akutagawa terasa melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.

"Cerminnya agak buram, ya?" Menggunakan sapu tangan Akutagawa mengelap permukaannya. Mengapa pula ia melakukannya berkali-kali sampai-sampai menyalurkan tekanan yang tidak diperlukan? Kan tidak tahan. Pergelangan tangan Akutagawa digenggamnya memaksa ia berhenti.

"Sudahlah, Ryuu. Sebagai gantinya, aku mencoba memanggil Dazai. Sekarang kau bisa istirahat."

Beberapa saat menunggu kabar, justru yang susah payah berlari ke sini adalah Sakaguchi Ango, menyebabkan seisi ruangan bertanya-tanya. Sewaktu Ango menjelaskan segala yang luas menjadi singkat, Akutagawa tahu-tahu tertatih-tatih meninggalkan mereka. Tanpa sadar membisikkan, "Dazai-san" sepanjang ia menempuh koridor perpustakaan. Dazai-san yang entah mengapa, namanya berbau rindu bagi napas Akutagawa.

"Dazai-san! Dazai-san!"

Kamar yang tidak tertutup Akutagawa hampiri. Lagi-lagi kesadarannya terbuang entah ke mana, mendorong ia berlari dan melompat seolah-olah tanpa alasan. Matanya seperti melihat sebuah protofon dijatuhkan ke udara bebas. Sekelebat suara yang mungkin dari hatinya lalu memekik, ia harus mendapatkannya apa pun yang terjadi. Lantas khayalannya pecah, saat Akutagawa menabrak Dan Kazuo serta Oda Sakunosuke yang berada di samping Dazai Osamu.

"Jangan tiba-tiba menerjang, dong, Akutagawa-sensei. Kami sampai kaget." Belakang kepalanya Oda elus-elus begitu pun Dan. Menyadari keanehan yang dibuatnya, Akutagawa minta maaf. Namun, rasa bertanggung jawabnya buyar lagi, mendapati Dazai bersandar lesu pada pinggiran ranjang. Tangan kirinya tampak diperban, tetapi lukanya terbuka lagi.

"Dazai-san!"

Pundak Dazai ditepuk cepat. Sementara Dan serta Oda saling kebingungan akan panggilan asing itu, netra Dazai terpaku pada paras Akutagawa. Sekilas menemukannya sebagai pemuda ceroboh berambut hitam, tetapi kedua ujungnya merupakan warna putih kotor.

"... Akutagawa-kun?"

"Aduh! Kalian berdua kenapa, sih? Kalau begini, mah, bukan hanya Dazai yang harus diperiksa," komentar Dan tak habis pikir. Untungnya Dokter Mori panjang umur, karena baru saja Oda hendak menanyakan eksistensinya, Dokter Mori menampakkan batang hidung.

Selama tangan kiri Dazai diobati ulang, tampaknya baik Dazai maupun Akutagawa tersadarkan–tidak lagi memanggil "Dazai-san" atau "Akutagawa-kun, di mana mereka pun kurang tahu kenapa begitu. Keputusan final Dokter Mori adalah membiarkan keduanya bicara. Tentu ia menutup pintu ini, karena pertimbangannya telah masak. Anggaplah Dokter Mori merasa mimpi Dazai dan Akutagawa mungkin terhubung, usai mendengarkan cerita Oda.

"Tanganmu ... kenapa?" tanya Akutagawa samar. Tenggorokannya kering sekali, setiap ia menyerukan Dazai-san yang mungkin sekarang ini berada di dekatnya, walaupun tak kasatmata. Entahlah bagaimana cara menerjemahkan perasaan tersebut.

"Ini, ya? Ini, mah, cuma ketusuk, kok! Awalnya aku mau ... mau memotong apel, iya! Tapi ..." Buah berkulit merah itu bahkan tidak terlihat di mana pun. Terlambat menyadarinya Dazai terkekeh saja, menertawai tingkah lakunya yang barusan hebohnya garing.

"Katakan saja, Dazai-kun. Jangan takut membuatku cemas. Kita sama-sama mengkhawatirkan lagian."

"Harusnya hari ini Sensei delving, 'kan? Jadi yang Sensei maksud kita sama-sama mengkhawatirkan itu ... terjadi sesuatu juga, ya, pada Sensei?"

"Barusan aku memanggilmu Dazai-san, lho. Dazai-kun tidak menyadarinya?"

"Kukira halusinasi atau apa. Namun, berkat Sensei memanggilku Dazai-san, aku jadi tersadarkan."

Sesudah itu Dazai memutuskan berhenti memainkan tarik-ulur. Awalnya ketakutan-lah yang bercerita, di mana Dazai memimpikan ia memukul wajah Akutagawa. Beberapa peluru bahkan ditembakkannya berturut-turut ke arah Akutagawa. Seribu untung sebuah perisai aneh menahan lajunya, sehingga tubuh Akutagawa selamat dari lubang dan darah. Akhirnya adalah kegilaan. Dazai pun mencoba membantahnya habis-habisan, dengan berulang-ulang menusuk tangannya.

"Aku tidak mungkin menembak Sensei. Hanya itulah yang kupikirkan selama tanganku kutusuk-tusuk. Sampai akhirnya Dan menghentikanku ketika mengajak sarapan." Tentu saja sakit sekali. Hanya didiamkan pun Dazai merasa aliran darahnya dibakar. Malah sempat terbersit ia bisa saja kehilangan satu tangan, tetapi Dazai tetaplah permukaan kolam–teramat tenang, seakan-akan siap sejak lama.

"Lukamu pasti sangat parah."

"Entah kenapa, aku enggak berminat mengeluh atau menangis. Sensei sendiri merasa gimana?"

Helaan napas tampaknya lolos dengan susah payah. Jika Dazai merasa takut dan porak-poranda–menunjukkan ia masih Dazai-kun yang biasanya–Akutagawa tak demikian. Akutagawa terus berpikir ia bukanlah Akutagawa Ryuunosuke yang menulis cerpen. Namun, berkat interupsi rekan-rekan yang lain, setidaknya Akutagawa berhenti terlalu mengambang. Walaupun tetap saja seolah-olah ada dua kesadaran yang kini sengit, di dalam dadanya.

Bahwa Akutagawa mati-matian menelan ludahnya, agar ia tidak tiba-tiba memuji Dazai-san yang berada dalam mimpi Dazai sebagai keagungan.

Bahwa Akutagawa juga berusaha tidak memikirkan kata-kata untuk Dazai-san, sampai-sampai tiap detiknya menyerupai sekarat akibat menahannya.

Lagi pula Akutagawa bukanlah Akutagawa-kun, walaupun ia merasai perasaan Akutagawa-kun. Ditambah lagi jika ia tak menahannya, lalu Dazai pun terpancing berbicara seperti Dazai-san, semua makin kacau, bukan? Kali ini Akutagawa-lah yang akan menentukan cukup tidaknya Akutagawa-kun tersakiti, dan menurut Akutagawa di sini Akutagawa-kun tak perlu menambah penderitaannya.

"Sama, Dazai-kun. Tampaknya kita memang memimpikan hal yang sejenis. Dazai-kun meninju wajahku sampai aku terpental. Kamu juga menembakkan beberapa peluru yang berhasil kutahan. Lalu ... sepertinya Dazai-kun pergi? Tiba-tiba waktu berjalan cepat sekali, dan aku berusaha meraih protofon yang seseorang lemparkan. Katanya ada Dazai-kun di situ."

"Arghhh ...! Sebenernya apa, sih, arti semua ini?! Masalahnya semua itu terasa nyata banget. Pas melihat wajah Sensei, aku sempat berpikir bisa aja meninjumu lagi. Mengerikan."

"Rasa-rasanya pun aku bisa bilang tidak apa-apa. Seolah-olah Dazai-kun sering memukulku aja selama ini." Senyuman getir melengkungkan dirinya sendiri. Dazai langsung protes, "Mana boleh Sensei bicara baik-baik saja, soalnya dipukul itu sakit" yang terkesan asal-asalan. Namun bungkam lagi ketika ditemukan tatapan Akutagawa yang terasa keras, tetapi di baliknya sebenarnya sayu.

"Mimpi tersebut membuatku merasa sedih, walaupun perasaan itu ditutupi oleh kebencian dan amarah. Bahkan aku sampai berpikir ingin membunuh Dazai-san tersebut, supaya Dazai-san benar-benar hilang dalam artian sebenarnya."

"Namun, Akutagawa-kun itu sebenarnya enggak mau melakukannya, 'kan? Tadinya aku mau merecok. Kok bisa-bisanya, ya, dia tenang-tenang aja? Sudah terbiasa pun, kalau sama Akutagawa-kun yang notabene menghormati dia, harusnya jangan, dong."

Pemahamanlah yang mendatangi Dazai. Sejak bermimpi mengenai sosoknya sendiri yang kejam, Dazai merasa segalanya dapat dimengerti, ditemukan, dan dijabarkan secara mudah. Apalagi ia hanyalah Akutagawa-kun yang mengejar (fatamorgana) Dazai-san. Jauh lebih sederhana dibandingkan semua yang telah Dazai-san alami.

Sebab Akutagawa-kun memang bukanlah siapa-siapa, bagi kesadaran Dazai-san yang masih tertinggal jauh dalam raga Dazai. Sepanjang perasaan dari mimpi tersebut belum melambaikan selamat tinggal, Dazai akan menjadi tak merasakan apa pun mengenai Akutagawa-sensei-nya, dan ini agak mengganggu Dazai, memang. Namun, ketika ia paham mengapa hendak dibunuh pun Dazai-san tenang-tenang saja, Dazai pikir kali ini tak apa-apa sedikit senang untuk mereka (walau selanjutnya lebih diisi miris.).

"Ya. Dazai-kun benar-benar tahu jawabannya?"

"Soalnya Akutagawa-kun hanya ingin berkata rindu kepada Dazai-san. Namun, ia tak tahu cara mengatakannya secara terang-terangan, sehingga berkata, 'Dazai-san akan kubunuh'." Memang bagus Dazai-san mengerti, tetapi kelanjutannya benar-benar buruk dan sebenarnya Akutagawa-kun pun tahu. Meskipun ia memilih acuh tak acuh.

"Karena memahaminya, apa Dazai-san menerimanya? Rindu dari Akutagawa-kun itu?"

"Hanya kalimatnya. Perasaan di dalamnya tidak dia terima."

Sejenak Akutagawa merasa ditikam ketiadaan. Dadanya ia kepal dan peras kuat-kuat, ditambah lagi Akutagawa-kun merasa biasa saja–tak apa-apa, karena Akutagawa-kun akan lebih keras dan semakin berusaha tanpa jeda.

Mengapa pula hanya berupaya yang dapat Akutagawa-kun lakukan? Kenapa dirinya yang lain itu tidak bisa menerima lalu ikhlas? Mengubah Dazai-san yang tahu ia akan selalu menolak Akutagawa-kun, menjadi ketidaktahuan bahwa ia dapat menerima Akutagawa-kun, bukankah sulit bahkan mendekati–?

"Mereka itu ... kita di kehidupan yang lain, bukan? Sedih banget rasanya. Memang ada mimpi yang lain, ketika aku menepuk bahu Sensei dan Sensei pingsan. Namun, kurasa Sensei juga sadar hal tersebut tak akan cukup untuk membuat hubungan mereka membaik. Mereka enggak akan pernah kayak kita."

Tiba-tiba pula Dazai menghadiahkan pelukan. Kalimatnya yang panjang lebar, dan jedanya yang membuat deras perasaan Dazai tetap mengalir perlahan-lahan–semua itu indah bagi Akutagawa. Andaikata Akutagawa-kun bisa merasakannya dengan tubuhnya yang sebetulnya, pasti jauh lebih baik, bukan? Sebab dari bahasa sesederhana ini pun Akutagawa tahu, Dazai juga menghargai Akutagawa-kun bahkan dialah yang paling memahaminya.

"Tetapi syukurlah kita mengetahuinya, perihal diri kita yang lain. Jika kita adalah reinkarnasi dari mereka juga, dan bukan hanya jiwa penulis, bukankah bagus sekarang kita sudah akrab? Tak ada yang tersakiti lagi."

Kekaguman Akutagawa-kun memang berpindah pada Dazai, tetapi setidaknya segalanya berbuah baik–menjelma pahit-manis yang tak hanya dan melulu pahit. Dazai-san pun tidak perlu mencoba menjadi dapat menanggung perasaan Akutagawa-kun kepadanya, karena Akutagawa telah menerimanya menggantikan dia, dan Akutagawa bisa.

Ini adalah happy ending di dalam bittersweet, begitulah cara Akutagawa menjabarkan.

Apabila Dazai-san tahu ada kehidupan seperti itu, ia pasti bahagia untuk dirinya dan Akutagawa-kun juga. Sementara bagi Akutagawa-kun tetap saja tak berarti. Apa artinya kalau bukan Akutagawa-kun yang menerimanya–melainkan Dazai–dan malah ia yang memberi pengakuan?Mungkin mereka bisa mendoakan Akutagawa-kun agar lebih berlapang dada, ya? Segera menerima baik dia maupun Dazai-san bukanlah dewa.

(Tidak semua manusia dapat Akutagawa-kun ubah, sehingga ia bukanlah dewa, dan Dazai-san pun demikian, karena sabarnya bukan tanpa batas.).


Tamat.


A/N: Idenya dikasih reauvafs juga sih. karena another life bisa dipake buat BTA, jadinya aku langsung gaskan aja dan ya menarik emang. selama proses pembuatan aku rada bingung juga, tapi akhirnya ditambahin "akutagwa-kun" sama "dazai-san" biar gak ketuker. semua referensinya dari anime. aku gak berapa tau juga mau buat apa, tapi yang pasti patokannya itu di "akutagawa-kun bilang dia mau bunuh dazai-san, karena sebenernya dia kangen dazai-san". maaf juga kalo ini OOC parah.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di fanfic lainnya.