Bungou Stray Dogs adalah milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango.
Penulis tidak mendapat keuntungan apapun dari fanfiksi ini.
(entah au apa. minimarket au, mungkin? :'D)
Suatu hari, pukul 1:03 siang
Ada banyak macam orang yang datang ke minimarket, setiap harinya. Ibu dan anak yang membeli bahan untuk keperluan memasak; mahasiswa yang membeli segelas kopi; atau remaja yang mondar-mandir di rak bagian makanan ringan sambil berbicara dengan temannya lewat telepon genggamnya.
Hari itu, ada seseorang yang menarik perhatian Atsushi.
Anak laki-laki itu mengenakan setelan lengkap serba hitam, dengan jas lebar menempel di pundaknya. Di balik itu, tubuhnya berbalut perban, juga pada sebelah matanya yang sewarna dengan teh hangat. Pandangannya yang dingin menyapu seisi ruangan, sebelum pada akhirnya ia berjalan pada sebuah rak spesifik di bagian belakang.
Atsushi menelan ludah. Mungkin karena penampilannya, dan pembawaannya, aura anak itu saat ia datang seakan mengintimidasi tempat ini.
Menit berikutnya, ia mendengar suara gaduh dari bagian belakang.
Atsushi keluar dari meja kasir, seketika menghampiri sumber suara. Dari jauh, ada kaleng makanan yang menggelinding menabrak kakinya. Atsushi mengambil kaleng itu, juga dua dan tiga yang mulai bermunculan.
Anak itu duduk di lantai, raut wajahnya kaget bercampur dengan bingung. Di sampingnya, rak-rak yang tadinya berisikan makanan kaleng kini separuh kosong, isinya telah berpindah ke tangan Atsushi.
"Ada... yang bisa saya bantu?" sapa Atsushi akhirnya, menawarkan.
Anak itu menoleh, kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali. "Raknya," ucapnya kemudian, "Raknya terlalu tinggi. Tadi, aku mau mengambil kepiting kaleng..."
Atsushi menatap pada bagian atas rak. Kepiting kalengan memang ditaruh pada rak paling atas. "Begitu," jawab Atsushi kemudian. "Berapa yang kau butuhkan? Biar aku ambilkan,"
Anak itu tampak berpikir. Kemudian, ia menunjukkan kesepuluh jemarinya. "Segini. Atau, dua kali lipatnya. Terserah, satu rak pun boleh. Pokoknya, aku butuh untuk stok isi lemariku,"
Atsushi meringis, mulai berpikir bahwa jika ia benar-benar menyetok makanan kaleng sebanyak itu, sepertinya itu bukanlah pilihan hidup yang sehat. Namun ia tetap berjalan untuk mengambil keranjang dan memasukkan sisa makanan kaleng yang ada di rak itu ke dalamnya.
Saat mereka sampai kasir, dan Atsushi menghitung semuanya, anak itu mengeluarkan sebuah kartu kredit dari balik jasnya.
"Bayarnya pakai ini saja," ucapnya ringan.
Atsushi menerimanya dengan ragu. Ia menjadi takut kalau-kalau kartu itu adalah kartu hasil curian. "Ini punya siapa? Benar tidak apa-apa bayar pakai ini...?"
Anak itu mengangkat bahu. "Mori-san yang memberikannya padaku. Ia bilang, kartu itu bisa dipakai untuk membayar, jadi aku rasa tidak apa-apa," jawabnya.
"Baiklah..."
Setelah semuanya selesai, anak itu berjalan pergi membawa sekantung plastik besar berisi kepiting kalengan, sedikit kesulitan, tapi ia berlaku seakan itu bukan masalah besar baginya.
Ternyata, memang masih anak-anak, pikir Atsushi, entah mengapa merasa sedikit lega.
"Terima kasih sudah berbelanja, silakan datang kembali."
Suatu hari, pukul 2:55 siang
"Selamat datang..."
Kali ini, seorang anak laki-laki berambut merah dengan topi di kepalanya berjalan memasuki minimarket. Juga pakaian mahal yang ia kenakan, mengingatkan Atsushi pada anak berbalut perban pada tempo hari.
Apa setelan mahal saat ini sedang menjadi tren di kalangan anak muda, ya? pikir Atsushi.
Atsushi sedang membereskan rak bagian makanan ringan ketika anak itu datang dengan wajah sedikit kesal. Di tangannya, terdapat keranjang belanja berisikan berbagai makanan manis dan minuman kaleng. Matanya tak lepas dari layar HP yang ia pegang, sesekali mengetik pada layar bercahaya itu dengan cepat.
Ia berakhir pada rak makanan kaleng, kemudian menggeram kesal. Dinyalakan telepon genggam miliknya itu, menekan beberapa tombol dan menempelkannya di telinga. Beberapa detik kemudian, ia berteriak kesal pada seseorang di ujung telepon.
"Kau berniat meledekku ya, Mackerel?! Aku tidak mau membelikanmu kepiting kaleng, pokoknya!"
Ada jeda sebentar sebelum ia kembali berbicara. "Aku tidak bisa melakukannya sembarangan, tahu! Kau sengaja mau mengerjaiku, 'kan? Biar saja kau mati kelaparan, aku tidak peduli!"
Ia memutuskan sambungan telepon, kemudian memasukkan kembali telepon genggam itu ke dalam saku celananya dengan paksa. Ia menghela napas dengan kesal.
Meskipun begitu, ia masih berusaha untuk mengambil kaleng di rak teratas itu.
Sepertinya aku harus menanyakan Shachou untuk merubah susunan rak, tutur Atsushi dalam hati, sembari menghampiri anak itu.
…
"Sebenarnya, tadi aku bisa mengambilnya sendiri, kok. Tapi terima kasih atas bantuannya," tutur anak itu, dengan sopan-sangat berbeda dengan anak pemarah yan tadi ia dengar, pikir Atsushi-setelah ia mengambil belanjaan yang telah ia bayar.
"Terima kasih, silakan datang kembali," Atsushi kembali mengatakan kalimat itu sambil tersenyum kecil. Anak itu kemudian pergi, mengembalikan keheningan yang tadi sempat hilang.
Entah mengapa ia punya perasaan bahwa sepertinya untuk hari ke depan ia akan sering bertemu dengan orang-orang menarik itu.
Suatu hari, pukul 1:19 dini hari
Kunikida sedang menulis jadwal agenda hariannya ketika seorang pelanggan berjalan memasuki minimarket.
Kunikida menyipitkan matanya, setelah menutup buku dan meletakannya di laci bawah mesin kasir. Itu seorang anak-anak, ia tidak salah lihat. Sudah selarut ini, apa yang ia lakukan? Apakah ia kabur dari rumah?
Tetapi pakaiannya bisa dibilang terlalu formal untuk pergi dari rumah, atau bahkan untuk dikenakan oleh anak-anak. Ditambah dengan perban di tubuhnya, membuatnya terlihat semakin mencolok dan mudah diingat. Maka dengan setelan lengkapnya, anak itu berjalan gontai menuju lemari pendingin. Yah, selama ia tidak berbuat masalah, biarkan saja, pikirnya, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tidak sampai satu menit, anak itu berjalan pelan menghampiri kasir.
"Hei. Apakah di dini menjual bir?" anak itu tiba-tiba bertanya, dengan nada malas, dan setengah mengantuk. Sebuah kantung hitam dapat terlihat dengan jelas di bawah matanya.
Kunikida mengangkat sebelah alisnya. "Ada," jawabnya, "Tapi kau tahu? Orang yang membeli minuman beralkohol setidaknya harus berumur 20 tahun."
"Hee..." anak itu merespon dengan setengah hati. "Kau tahu? aku sudah cukup umur untuk minum bir, tahu."
"Begitu?" Kunikida bersedekap. "Kalau begitu, tolong tunjukkan kartu identitasmu."
Anak itu mengeluarkan dompet dari dalam saku jas mahalnya, kemudian mengeluarkan sebuah kartu dengan tanpa ragu. Kunikida menerimanya dengan skeptis, lalu mengamati kartu itu.
"Jadi. Sejak kapan kau mengecat rambutmu, Nakahara Chuuya?" Kunikida bertanya, sarkastis. Sesungguhnya, bahkan foto orang dalam kartu identitas itu tidak mirip sama sekali dengan wujud anak yang ada di depannya saat ini.
Anak itu akhirnya mengangkat kepala, bingung. "Naka..." kemudian, ia tampak menyadari sesuatu. Ia menggeram dengan kesal. "Chibikko sialan," gumamnya.
Kunikida melemparkan kartu itu ke meja kasir. "Maaf nak, kau harus memakai kartu identitasmu sendiri."
Anak itu menunduk, terdiam selama beberapa saat. Tiba-tiba ia memukul meja kasir, tatapannya yang dingin menerjang Kunikida, tangannya yang lain terselip masuk dalam saku jasnya.
"Kau tidak tahu, siapa aku?" ucapnya, aura kanak-kanaknya hilang dari permukaan. Kini suaranya terdengar jauh lebih rendah dari sebelumnya.
"Tidak," jawab Kunikida, serius. "Apa kau sedang mengancamku?"
Suhu di tempat itu seketika menurun beberapa derajat, suasana mencekam mulai terasa adanya. Sepertinya anak ini membawa senjata, tutur Kunikda dalam hati, sambil melirik pada tangan anak itu, yang disembunyikan dalam saku. Tentu saja. Pakaiannya nampak seperti ia bergabung dalam sebuah organisasi rahasia yang cukup berbahaya. Dengan refleks, Kunikida meraba laci bawah meja, jaga-jaga apabila anak ini mulai menyerang dengan senjata, ia bisa langsung menggunakan Doppo Poet untuk melawannya.
Tapi kemudian, tangan anak itu jatuh terjuntai di samping tubuhnya, kepalanya ikut menunduk. Terdengar suara helaan napas lelah, diikuti dengan erangan sebal, dan saat anak itu kembali mengangkat kepalanya, wajahnya kini dihiasi raut merengut seperti anak kecil.
Kunikida sedikit terkejut. Ini, tentu saja anak biasa yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu.
"Kalau begitu, boleh aku memesan kopi?" ucap anak itu kemudian, kembali pada nada malasnya.
Kunikida merasa sedikit rileks, sekaligus merasa puas karena ia merasa menang. Ia kembali bersedekap. "Tentu saja. Mesin kopi ada di seberang sana, kalau kau ingin kopi panas."
Suatu hari, pukul 6:13 pagi
Anak itu datang lagi, kini dengan langkah berat.
Tatapan Fukuzawa seketika melekat pada sosok itu. Dari penampilannya, sepertinya ini memang anak yang Kunikida bicarakan beberapa hari yang lalu. Kunikida memintanya untuk waspada, karena anak ini tampaknya cukup berbahaya. Fukuzawa meraba katana yang tersembunyi di balik haori-nya. Tentu saja, mendirikan sebuah minimarket di tengah daerah rawan seperti ini sudah ia pikirkan secara matang. Sudah menjadi rahasia umum di daerah sini, bahwa Fukuzawa beserta para pegawai yang bekerja di tempat ini memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik.
Tapi, anak itu tidak melakukan hal yang mencurigakan. Kecuali ia berjalan dengan sedikit terhuyung, sesekali memegangi dinding atau rak yang cukup kuat untuk menopang dirinya. Fukuzawa mengernyit. Apa dia mabuk? Berdasar laporan dari Kunikida, ia juga pernah mencoba untuk membeli minuman beralkohol di sini. Padahal dilihat dari penampilannya, barangkali usianya bahkan belum menyentuh angka 15.
Anak itu meletakkan sekaleng kopi dingin di kasir. Fukuzawa memindai kodenya, kemudian anak itu membayar dengan uang pas, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Diluar dugaannya, anak itu tidak melakukan apa-apa. Tapi, memang ada sesuatu yang aneh.
Fukuzawa menatap anak itu berjalan menjauh, tapi langkahnya semakin lambat. Semakin lama ia tampak seperti kahilangan keseimbangan. Perlahan Fukuzawa keluar dari meja kasir, rasa khawatir mulai tumbuh untuk anak itu. Sebelum anak itu benar-benar kehilangan keseimbangan dan terjatuh, Fukuzawa telah menangkapnya.
"Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"
Mereka berdua jatuh terduduk di pintu keluar, kaleng kopi yang ada di genggamannya telah jatuh entah ke mana. Fukuzawa terlalu awas dengan gerak-geriknya hingga ia tidak menyadari bahwa wajah anak itu benar-benar terlihat pucat dan tangannya gemetar. Matanya terpejam dan dahinya mengernyit, masih berusaha untuk sadar.
Fukuzawa membawanya masuk dan duduk pada salah satu kursi di sana. Anak itu menelungkupkan wajahnya di meja, seakan kesadarannya mulai hilang. Fukuzawa pergi untuk menghangatkan bento dan mengambil sekaleng susu untuknya, dan melayani beberapa pelanggan yang hendak membayar. Hingga semua itu selesai, anak itu masih tampak belum sadar.
Fukuzawa meletakan bento dan susu itu di meja. Ia mulai bepikir apakah ia harus membawa anak itu untuk istirahat di salah satu kamar kosong miliknya, atau sekalian saja memanggil ambulans, ketika secara perlahan tubuh anak itu bergerak.
Perlahan, ia mengangkat kepalanya, matanya yang hanya sebelah itu terlihat berair. Ia mengerjapkannya beberapa kali, pandangannya tidak fokus.
"...Kau sudah sadar?"
Fukuzawa duduk di kursi depannya, mengamatinya dengan seksama. Anak itu ikut duduk tegak, mukanya sedikit tegang. Fukuzawa menyodorkan bento itu di depannya.
"Makan. Aku beri kau gratis untuk hari ini."
Anak itu tak berkutik.
"Itu produk kami yang terbaru. Tenang saja, aku tidak memasukkan apa pun ke dalamnya. Kau hampir pingsan di depan minimarket, kau ingat?"
Anak itu menunduk. "Maafkan aku," bisiknya lirih.
"Makanlah. Anak seusiamu masih harus makan banyak," Fukuzawa menjawab. "Aku tidak akan mengizinkanmu pergi sampai kau makan sesuatu di sini."
Anak itu bergerak tidak nyaman, seakan ingin segera kabur dari tempat itu. Tapi pada akhirnya, ia mengambil sumpit di atas bento itu dengan ragu, dan membuka tutup bento. Dalam kotak itu ada nasi, beberapa lauk dan sayuran segar.
Anak itu menangkupkan kedua telapak tangannya. "Te-terima kasih untuk makanannya," ia berkata pelan, kemudian mulai memakan isinya sedikit demi sedikit.
Suatu hari, pukul 3:48 sore
"Oh... kau lagi," Fukuzawa menyapa, menatap seorang anak yang kini berdiri di belakang Atsushi.
Sore itu hujan deras. Atsushi melihatnya sedang berteduh di depan minimarket. Akhirnya Fukuzawa meminta Atsushi untuk memanggilnya masuk, untuk berteduh di dalam.
Anak itu tampak tidak nyaman. Ia menyembunyikan dirinya di belakang Atsushi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Fukuzawa kemudian, mengingat pada pertemuan pertamanya, ia tidak terlihat terlalu baik.
"...Baik." jawab anak itu pelan, yang disambut oleh anggukan Fukuzawa.
"Sepertinya kau sering datang ke sini, ya? Para pegawaiku semuanya mengenalimu."
Anak itu diam menatap lantai.
"Apa kau adalah anggota dalam sebuah organisasi tertentu?"
Anak itu sedikit terkejut mendengar pertanyaannya. Tapi ia tidak menjawabnya.
"Sudah jadi rahasia umum kalau daerah sini adalah markas berbagai macam organisasi gelap, jadi aku tidak akan kaget." tambah Fukuzawa, diikuti anggukan kecil dari Atsushi.
Anak itu tampak mempertimbangkan jawabannya. Pada akhirnya, ia menjawab dengan jujur. "Ya. Aku tinggal bersama Port Mafia."
"Port Mafia?" Fukuzawa mengernyit. "Kau anak buahnya Mori?"
Kecanggungan pada anak itu mencair ketika mendengar nama familiar yang terucap. "Kau kenal Mori-san?"
"Masih senang saja ya dia mempekerjakan anak-anak," Fukuzawa menggeleng. "Berapa umurmu?"
"Ah- lima belas..."
"Oh?" Fukuzawa sedikit terkejut, karena anak itu tampak lebih kecil dari anak seusianya. Mungkin karena pakaiannya, pikirnya. "Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"Dazai. Dazai Osamu,"
"Dazai," Fukuzawa mengulang. "Ya. Bisa dibilang, kami pernah bekerja bersama. Tapi, itu masa lalu." ia menghela napas. "Nah, Dazai-kun. Kalau begitu, apakah aku harus membicarakan soal pola makanmu pada Mori-san?"
Fukuzawa tentunya tidak akan melakukan itu; mereka telah lepas kontak selama lebih dari waktu yang bisa ia hitung. Hal itu juga bukan urusannya, atau urusan Mori, atau sesuatu yang akan dipedulikan oleh orang seperti Mori.
Tapi perkataan itu berhasil membuat Dazai gelagapan. "Ti-tidak perlu!" teriaknya, malu. "Aku bukan anak kecil, tahu."
"Kata pegawaiku, kau memborong makanan kalengan kemarin. Apa benar itu untuk stok makananmu?"
"Itu..." Dazai kehabisan kata-kata, lalu mulai melirik sengit pada Atsushi, yang hanya tersenyum canggung sekaligus merasa bersalah.
"Aku mencoba untuk mengajukan perubahan susunan raknya. Maafkan aku," bisik Atsushi.
"Lalu, kau juga mengancam salah satu pegawaiku ketika kau mencoba untuk beli bir. Kau tahu kan, bahwa kau masih di bawah umur?"
"A- itu- aku tidak mengancamnya, kok!" sanggah Dazai, mencoba untuk membela diri.
Fukuzawa masih menatapnya dalam diam, menunggu jawaban yang ingin ia dengar.
"Se-sedikit..." Dazai akhirnya mengakui. Ia kemudian memasang wajah cemberut. "Habis, dia menyebalkan, jadi aku ingin mengerjainya sedikit!"
Atsushi tidak bisa tidak tertawa mendengar jawabannya. "Ma-maafkan aku," ujarnya, setelah ia mampu menghentikan tawanya. "Kurasa, rata-rata orang yang pertama kali bertemu dengan Kunikida-san memang memiliki pandangan yang mirip,"
"Dia memang cocok bekerja shift malam." Fukuzawa ikut mengamini.
Atsushi mengangguk. "Pembawaan Kunikida-san memang lumayan ketus..."
"Meskipun begitu, Dazai-kun, itu bukan hal yang baik untuk dilakukan." Fukuzawa kembali menatap Dazai.
"Iya, aku mengerti. Maafkan aku," ujarnya merajuk.
Ekspresi Fukuzawa terlihat melunak. Ia menepuk kepala Dazai pelan, mendapat respon terkejut dari anak berambut cokelat tersebut.
"Ya, sudah. Dazai-kun, jangan ragu-ragu untuk datang kemari, ya." jawabnya tulus.
