Hari senin adalah hari yang dinantikan Kuroko Kazuhira dengan perasaan antusias sekaligus cemas. Jantungnya berdebar kencang dan rasanya nggak bisa tenang.
Karena hari ini dia akan bernyanyi di depan kerumunan orang. Kata kakak kelasnya sih, entah itu sungguhan atau tidak.
Jangan salah dulu, Kuroko suka sekali menyanyi tapi jika didepan orang lain, itu hanya untuk meramaikan atau lucu-lucuan saja. Karena dia sadar kalau suaranya tidak begitu enak didengarkan. Padahal dulu tidak begitu. Suaranya biasa saja, seperti teman lelakinya yang lain. Kalau Aomine dari pertama kenal suaranya tetep rendah meski masih kayak suara anak kecil.
Dan tuh anak populer banget, dasar ikemen sialan.
Kembali ke topik-
Suara Kazuhira seperti ini sejak dia sakit tenggorokan di upacara kelulusan SD. Dia kira seminggu juga sembuh tapi suaranya tetap berbeda. Dia sekarang masih mencari cara menyanyi yang enak didengar dengan suaranya yang berubah jauh.
Seorang Kuroko Kazuhira pantang menyerah! Memang dia agak kecil hati sih tapi mungkin dia akan dapat saran dari kakak kelas nanti! Dia akan terus mencari jalannya sampe ketemu!
"Kazu-kun, berhentilah berpose pagi pagi begini… sarapannya sudah siap lho" Kakak dari Kuroko Kazuhira, Kuroko Tetsuya sudah kenyang akan kelakuan adeknya. Kadang Tetsuya ingin sekali kali menjitak adeknya tapi dia sayang. Adeknya terlalu precious!
"Oke kak!" jawab Kazuhira penuh semangat. Tetsuya menghela nafas dan ikut tersenyum.
Kazuhira mengambil jaket dan tasnya lalu menyusul kakaknya ke ruang makan. Ayah ibu dan nenek mereka sudah duduk di kursi ruang makan yang terletak di sebelah dapur, menunggu kedua anak lelaki mereka.
"Selamat pagi" sapa Tetsuya.
"Pagiiiii!" sapa Kazuhira kelewat semangat.
"Ooh! Pagi pagi begini Kazu sudah semangat ya! Ada apa nih?" Tanya ayahnya yang melipat koran yang dia baca dan meletakkannya di rak terdekat.
Neneknya tersenyum melihat kedua cucu kesayangannya hari ini pun sehat dan penuh semangat.
Kedua anak lelaki dari keluarga Kuroko itu duduk dan mengambil sarapan mereka. Porsi Tetsuya kalah sama adeknya. Kuroko Kazuhira anak yang hyperaktif dari dulu, karena itu makannya banyak, tapi perawakan mereka berdua tidak beda jauh.
Kata orang orang sih makanannya kedua bersaudara ini menguap. Yang satu jadi energy, yang satu entah kemana, hihi.
"Hehe! Kemarin kan aku nggak ketemu wali kelasku karena katanya dia masih diluar negeri, bulan madu katanya! Jadi kemarin kenalan sama teman sekelas, trus keliling sekolah aja. Agak bosen sih tapi hari ini hari resmi dimulainya kegiatan klub! Aku nggak sabar!" cerita Kazuhira dengan sangat energik. Tetsuya dan ibunya yang mendengarkan tertawa kecil. Lalu Tetsuya memegang bahu adiknya.
"Berhenti dulu ceritanya, yuk makan."
"Oh iya, Tetsu-nii kan ada latihan pagi." Kazuhira berhenti bercerita, lalu keluarga Kuroko mengucapkan terimakasih atas sarapan hari ini dan menyantap makanan.
Kazuhira dan kakaknya pergi sekolah ke arah yang berbeda jadi bus yang mereka naikipun berbeda. Kalau ayahnya menaiki sepeda ke stasiun kereta.
"Baik baik di sekolah ya. Sampai jumpa" kata Tetsuya sambil mengusap kepala adiknya dengan senyum.
"Iya! Kakak juga semangat ya latihan sama sekolahnya! Sampai jumpa!" timpal Kazuhira dengan senyumnya yang lebar.
Tidak menyadari kalau mereka jadi tontonan orang orang yang ada dalam bus. Membuat mereka bahkan sang sopir bus tersenyum akan tontonan yang menghangatkan hati itu. Kuroko Tetsuya baru menyadarinya saat dia dilihati oleh penumpang bus dengan senyum gemas. Ditempat duduknya, Kuroko Tetsuya menutupi wajahnya dengan tas sekolahnya. Malu.
Skip time, akhirnya Kazuhira bisa bertemu teman sekelasnya dan guru wali kelasnya lengkap. Kemarin dia sudah berkenalan hanya dengan beberapa anak yang memang kebetulan sedang nongkrong disana, yang lainnya kata mereka sedang berkeliling dan hanya menitipkan tas di kelas, ada yang langsung pulang begitu pengumuman berakhirnya upacara penerimaan murid baru selesai.
Wali kelasnya adalah seorang wanita berkisaran awal 30. Rambutnya cokelat di gelung rapi, tampilannya ringkas dan rapi, make-upnya pun sederhana dan ringan, senyumnya simple dan matanya ikut tertawa. Dia memperkenalkan diri sebagai Sakaki Manami. Dipanggil Manami-sensei. Dia juga memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab klub merangkai bunga.
Perkenalan sudah diawali dari guru, sekarang giliran murid muridnya mulai dari bangku terbelakang dekat pintu dibelakang kelas. Kazuhira agak gugup, di kelas ini tidak ada yang dia kenali, tidak ada yang dari SD yang sama dengannya. Aomine ada di kelas yang berbeda, meskipun bersebelahan.
Anak di belakangnya berdiri dan memperkenalkan diri, membuat Kazuhira jantungan "Aku Midorima Hazuki, dari SD Suitou barat, kesukaanku membaca buku dan bermain piano. Dan cita citaku menjadi pianis klasik professional. Salam kenal" perkenalan yang lancar, penuh percaya diri dan tanpa celah anak ini sampaikan dengan sangat baik. Tapi kedengarannya agak kaku.
Lagipula Kazuhira sangat mengenal nama Midorima. Karena itu setelah terdengar kursi yang ditarik dan orang duduk, Kazuhira mengintip kebelakangnya. Manik biru cerah bertemu dengan hijau daun. Untuk beberapa saat, waktu seperti berhenti. Rasanya Kazuhira pernah mengalaminya. Apa ini yang disebut Déjà vu?
Anak yang bernama Midorima Hazuki itu menatapnya tanpa ekspresi dan menganggukkan kepalanya, yang Kazuhira balas dengan anggukan kepala juga dan pelan pelan mengembalikan pandangannya kedepan. Dia sekarang deg degan karena seperti ketahuan sedang menyelinap.
"Kursi berikutnya?" suara Minami-sensei membuyarkan pikirannya dan saat Kazuhira melihat kearahnya, Minami-sensei juga menatapnya sambil tersenyum. Saat beliau mengangkat kedua alisnya dan teman sebelahnya yang bersebelahan dengan jendela melihat kearahnya Kazuhira baru sadar kalau sekarang adalah gilirannya memperkenalkan diri.
"Ah! Aku Kuroko Kazuhira! Dari SD Namiya! Kesukaanku, eh…. Musik dan basket? Terus aku ingin masuk klub musik!" Kazuhira spontan mengatakan apapun yang ada dipikirannya.
Lalu suasana kelas mendadak berubah.
Ah, Kazuhira yang merusak suasananya. Dia melihat senyum gurunya yang kini dipaksakan, tapi tak ada perasaan negatif yang tertuju padanya. Lalu Kazuhira menoleh kesekitar, beberapa anak mulai berbisik dengan temannya disebelah, depan atau belakang mereka. Mata mereka semua terarah kepadanya. Kazuhira mengerutkan alisnya sambil kembali duduk, saat teman yang duduk di sebelahnya berdiri dan memperkenalkan diri dia tak begitu mendengarkan, bertopang dagu, terus seperti itu bahkan sepanjang pelajaran hingga istirahat pertama.
Aomine Daigen diam saja melihat teman kecilnya itu mengerutkan alisnya. Mereka berdiri berhadapan di koridor dekat jendela, depan pintu kelas mereka masing masing.
Daigen berkedip sekali "Yo".
Tidak ada jawaban dari Kazuhira yang terus menunduk dan merengut.
Daigen merangkul pundak temannya itu dan berjalan menuju kantin tanpa berkata apapun.
Keluar dari kelas 1-3 adalah pemuda berkacamata tak berbingkai, berambut hijau daun dan membawa dua kertas formulir keanggotaan. Melihat kedua sahabat itu berjalan menuju kantin dengan tatapan dan ekspresi yang tak terbaca.
Sementara itu, di kantin Kazuhira dan Daigen bertemu dengan Senpai cewek yang menerima formulir keanggotaan mereka minggu lalu dengan dua cowok, di depannya satu (yang mereka kenal sebagai anggota klub basket berambut pirang yang memberitahu mereka letak ruang klub musik) dan satu lagi cowok yang tidak mereka kenal di sebelah senpai berambut pirang itu.
"Ah! Kuroko-kun! Aomine-kun! Duduk disini!" katanya sambil melambaikan tangan dan tangan satunya menepuk sisi meja yang bersebelahan dengannya.
"Ah, senpai!" Kazuhira balas melambaikan tangan diikuti Daigen.
Kazuhira dan Daigen duduk di sebelah senpai cewek itu. Mereka sudah bertemu muka dan tapi tidak tau namanya, berkenalan pun hanya dalam grup. Meskipun mereka sudah mengira siapa yang siapa sih.
"Sekali lagi perkenalkan, aku Ootsubo Tae, yang berambut pirang ini adalah Miyaji Yuya, dia juga anggota klub basket, termasuk aku dan yang disebelahnya, Kimura Subaru" masing masing kakak kelas member sapaan khas gayanya sendiri, Kimura Subaru dengan senyum bersahabat dan lambaian tangan, kalau Miyaji Yuya dengan pandangan risih.
Waah.
Kazuhira dan Daigen mengangguk sopan sebelum bicara "Kuroko Kazuhira-desu!"
"Aomine Daigen"
Ootsubo Tae dan Kimura Subaru tersenyum puas. Miyaji Yuya masih memperhatikan mereka dengan muka yang nggak damai. Nafsu makan Kazuhira dan Daigen menghilang. Untung mereka membeli makanan kemasan, bisa mereka simpan untuk dimakan nanti. Jadi mereka cuma duduk diam dan memperhatikan apa yang dibicarakan Ootsubo Tae-senpai. Pertanyaan apapun buat kapan kapan aja dah.
"Jadi, buat kegiatan kita nanti, rencananya kita akan ngetes kalian dulu buat referensi klub ini untuk sementara fokusnya dimana dulu, pengennya kita sih sembari membimbing kalian, klub musik akan menggelar pertunjukan kecil kecilan di beberapa tempat nongkrong di sekolah. Dan taman sebelah kantin adalah salah satunya." Jelas Ootsubo Tae.
"Taman sebelah kita ini kak?" Tanya Kazuhira.
"Iya" jawab si kakak kelas manis masih dengan senyum.
Kazuhira dan Daigen spontan langsung melihat kearah taman. Sakura masih bermekaran dan jatuh mewarnai bumi hijau yang memiliki jalan setapak yang seperti ukiran berwarna putih gading. Taman yang bagus, kalau menggelar pertunjukan musik kecil kecilan disana, menyanyi bersama penonton mereka dan membuat video dari sana pasti akan sangat bagus seperti video klip itu sendiri yang biasanya mereka tonton di youtube.
Itu yang dipikirkan kedua junior yang baru bergabung di klub Musik.
Kazuhira tersenyum bersemangat "Aku akan berusaha agar tidak mengecewakan kalian!"
"Tesnya akan diadakan sepulang sekolah hari ini di ruangan klub. Jangan telat ya!" Kimura Subaru berkata dengan senyum lebar ke kedua adik kelasnya.
"Hai!" jawab Kazuhira lantang dan Daigen hanya mengangguk mengerti.
"Lalu, aku menantikan Drogon Voice-mu lho, Kazuhira-kun!" terusnya, dengan nada dan senyum jahilnya yang sepertinya akan menjadi ciri khasnya di mata adik kelas nanti.
"Eeeeeehhhhhh" Kazuhira nggak tau harus bagaimana, dia tidak menyangka kalau dia akan beneran disuruh nyanyi, terus apalagi kakak kelasnya ini juga menyebut nama julukannya yang entah kenapa sekarang terdengar konyol itu!
Aah memalukan!
.
.
.
Waktu pulang sekolah, meskipun itu adalah hari pertama berjalanannya kegiatan belajar mengajar dan tak mungkin materinya akan berat, tetap akan membuat para siswa dan guru capek lahir batin.
Mereka butuh istirahat, mereka butuh hiburan.
Taman sebelah kantin yang jadi tempat mereka ngobrol tadi siang adalah tempat yang lumayan ramai dilewati siswa yang pelajaran terakhir mereka ada di bangunan tengah.
Saat ini terdapat sekelompok siswa yang menata tempat untuk pertunjukan sederhana. Meskipun ada beberapa orang dan siswa yang menunggu mereka, mayoritas orang sekolah akan berjalan melewati mereka begitu saja seperti mereka tidak ada, atau memandangi mereka dengan pandangan mengganggu. Mereka sudah dapat ijin jadi setidaknya mereka tidak akan diusir.
Dilalui begitu saja dan dilihat dengan pandangan seperti itu adalah tantangan tersendiri, tapi para siswa ini sudah membulatkan tekad. Karena mumpung ada beberapa orang yang menunggu mereka, walau itu hanya seorang tukang kebersihan atau tukang kebun sekalipun, itu sudah cukup. Mereka ingin ada yang mendengar dan melihat pertunjukan mereka. Padahal dari hati kecil ketiga kakak kelas mereka sudah bersiap jika tidak ada seorangpun yang akan menonton mereka.
Mereka harus sukses menurunkan tingkat kewaspadaan minimal siswa pada Klub Musik dan anggotanya, karena Momoi-Sensei sampai memohon-mohon hanya untuk mendapat izin pertunjukan musik di dalam sekolah.
Menghembuskan nafas, Miyaji Yuya menoleh pada teman-temannya yang telah dalam posisi masing masing. Kimura dan Aomine pada alat perkusi, Ootsubo pada X style piano portable, dan dia sendiri dengan Kuroko adalah gitar akustik. Semuanya adalah alat musik kepunyaan mereka sendiri. Alat musik yang ada di ruang klub selain berat dan membutuhkan listrik, karena itu mereka meng-akustik-kan lagu yang akan mereka bawakan.
"Kalian siap?" Tanya Yuya, yang lainnya mengangguk. Yang menyanyi adalah Tae.
Meskipun ada mik, power dan teknik vokalpun masih dibutuhkan. Yang bisa menyanyi dengan bagus sekarang hanya Yuya dan Tae memang, jadi- apa boleh buat.
"Authentic Symphony" Tae tidak akan mengatakan pengantar, dia tidak akan basa basi. Dia sudah tak sabar menyanyikan lagu lagu yang ada di daftar sore ini. Bersama anggota ini, dia ingin menyampaikan bahwa Klub Musik tidak seburuk yang rumor katakan. Bahwa itu semua sudah jadi masa lalu.
Sono koe wa itsuka watashi wo yobu Yakusoku no hibiki
Mezameta asa ni
Atarashi kaze o tsurete
Sotto kaoru no
Mitsumetara shinjitsu ni natte shimau
Kokoro made todoite shimau
Hajimaru tame ni umareta to wakaru yo
Mabushi omoi wa saisho no Authentic
,
,
,
"Arigatou gozaimasu!" beberapa orang penonton menjadi sekelompok orang, dan tepuk tangan mulai terdengar satu persatu, tidak meriah, tapi itu sudah cukup. Penampilan mereka dinilai layak oleh penonton mereka. Dan pandangan orang orang yang berhenti itu menjadi netral, bahkan ada yang melembut, juga tersenyum.
Para anggota klub musik pulang dengan perasaan yang ringan, konser kecil pertama mereka sukses!
"Ah, tapi jangan terlalu senang dulu. Ini baru awalnya." Bilang Miyaji Yuya pada anggota klub. Dari bersorak kegirangan sekarang mereka jadi senyum senyum.
"Kerja bagus untuk hari ini. Kita akan berikan jadwal kegiatan klub selama semester ini pada kalian beberapa hari kedepan. Untuk sekarang, kalian latihan dasar vokal sama teorinya dulu. Lihat link yang kami kasih dan baca soft file yang kami berikan di grup ya" kata Kimura Subaru pada Kazuhira dan Daigen.
"Dan perbaiki sikapmu pada senpai-mu, Aomine" kata Yuya sambil menunjuk ke Aomine.
"Baik, Terima kasih atas kerja kerasnya." Seperti tidak merasa kalau dia sudah ditandai senpainya, Daigen memasang muka cuek seperti biasanya dan membungkuk 45 derajat dan berjalan pergi.
"Sampai jumpa besok senpai!" Kazuhira masih senyum senyum saat melambaikan tangannya di ambang pintu, lalu dia berlari kecil menyusul Daigen.
Menyelempangkan tas keyboard (piano portable) di bahunya dan tas gitar di punggungnya, Miyaji Yuya dan Ootsubo Tae, juga Kimura Subaru pulang bersama setelah dari ruang klub. Hari sudah agak gelap saat mereka keluar gedung sekolah. Para adik kelas sudah mereka suruh pulang duluan tadi.
"Di tes tadi… mereka berdua luar biasa di konteks yang berbeda" Subaru memulai pembicaraan.
" Maa, kalau Aomine kemampuan drum-nya lebih bagus dari dugaanku, dia berbakat walaupun kurang ajar. Tapi kalau Kuroko… baik dari vokal maupun gitarnya masih perlu bimbingan. Tapi power-nya kerasa banget." Kata Yuya sambil mengingat ingat tes sebelum pertunjukan mereka tadi.
"Hehe, sudah keliatan juga kan kalau dia punya power di cara dia ngomong." Timpal Tae disela ketawanya.
"Dan itu, entah kenapa aku nggak bisa mengalihkan pandangan darinya saat dia nyanyi. Padahal kalo dibilang suara yang dia hasilkan membuat telinga sakit dan kepala berdenging itu bener. Banget malahan." kata Yuya tidak habis pikir. Dia heran, tapi bukan dalam artian buruk.
"Kau benar. Apa ya namanya? Passion? Charisma?" Subaru ikutan heran dan mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan adik kelas mereka yang kecil itu.
"Dia menikmatinya." Jawab Tae dengan suara dan senyum lembut.
"Dia mencintai musik dan menikmatinya sepenuh hati. Dan dia bekerja keras untuk bisa menunjukkan musiknya, dan itu terlihat di penampilannya" lanjutnya. Kedua pemuda yang lain tersenyum. Mungkin itu benar.
"Ah, tentang Murasakibara Asahi. Bagaimana?" Tanya Subaru tiba tiba mengingat anggota baru mereka yang lain.
Yuya menghela nafas kasar "Setidaknya setor muka kek, kayaknya dia berniat jadi anggota bayangan. Di sekolah juga sepertinya dia masih belum masuk sampai hari ini." Dia sempat bertanya pada beberapa guru tentang anak kelas satu yang jadi lumayan terkenal ini.
Terkenal diantara guru dengan image yang nggak bagus tentunya.
"Ah, aku lupa minta file lagunya ke Momoi-sensei!" Tae menepuk kedua tangannya, dia lupa sama sekali karena pertunjukan kecil yang akan mereka adakan hari ini. "Padahal rencananya lagunya akan kita review dan memutuskan membiarkan anak itu jadi anggota dengan tingkah begini atau keluarkan saja kan ya?" dia bertanya untuk memastikan. Di diskusi terakhir mereka bersama Momoi-sensei sih seingatnya kesimpulannya begitu.
"Eeh, memangnya kita sekarang dalam keadaan bisa milih milih anggota?" Dan, Subaru berhasil mengucapkan pertanyaan seribu dolar.
Mereka tidak dalam keadaan bisa memilih anggota!
"Ya udah sih biarin aja anak ini jadi anggota bayangan atau anggota yang cuma numpang nama, toh kita nggak boleh ambil resiko sekarang. Kalau nggak dapet anggota segera klub bakalan ditutup." Klub Musik ini yang jadi pelarian mereka kalau ada masalah di klub basket, pelajaran, berantem sama teman mereka yang lain, pokoknya pelampiasan stress mereka ya Klub ini, sejak mereka kelas satu. Dan juga banyaknya kenangan disana, rasanya sayang kalau mereka menyerah dan klub dihancurkan begitu saja, setidaknya mereka ingin melawan dengan cara mereka. Tanpa kekerasan atapun muslihat apapun.
Dan juga,
Musik mengingatkan mereka pada teman masa kecil mereka yang sekarang entah ada di belahan bumi yang mana.
"Aku sudah bilang ke Momoi-sensei, dia bilang biarkan saja untuk sementara waktu. Dan sepertinya Sensei suka sama lagu remix-nya" lanjut Subaru menunjukkan chatnya dengan guru mereka barusan.
"Kamu gercep ya" komen Yuya sweatdrop.
"iya dong" jawab Subaru tegas dan pede.
"Ah, aku duluan ya. Makasih udah mau bawain, Yuya-kun!" kata Tae menadahkan tangannya, rumahnya adalah rumah pertama dari gang sebelah kanan mereka.
Tanpa berpikir panjang Yuya berkata "Aku gak mungkin membiarkanmu membawa ini. Biarkan aku mengantarmu sampe depan rumah"
"Eh…" senyum Tae menjadi senyum kaget.
Sebenarnya perut Kimura Subaru udah tergelitik, tapi dia akan menyelamatkan temannya kali ini "Kawan, sebaiknya jangan hari ini. Bukannya kakakmu bilang dia mau mampir ke rumah Tae? Lagipula nggak enak diliat cewek-cowok pulang bareng malem malem"
Denger kakaknya mampir kerumah Tae, Yuya jadi kesal "Sekalian jemput tuh orang aja dah."
"Nggak"
Kimura mengambil keyboard Tae dari punggung Yuya dan menyelempangkannya ke punggungya "Biar aku aja, jangan libatkan Tae dalam pertengkaran saudara kalian. Kan kasihan dia."
Yuya terdiam.
"Eh? Yuya-kun dan Kiyoshi-san lagi bertengkar?" Tae yang akhirnya bisa menangkap pembicaraan bersuara. Kalau bisa dia ingin bantu Miyaji bersaudara ini baikan. Keluarga Miyaji, Kimura dan Ootsubo sekarang menjadi dekat sekali karena hubungan anak anak mereka. Miyaji bersaudara sudah dekat dengan Tae sejak dulu, Subaru baru bergabung saat tahun pertama mereka menginjak bangku SMP.
Subaru memutar badan Tae dan mendorongnya pelan kearah rumahnya "Udah udah, yuk kuantar pulang~" dan mereka berdua berjalan menjauh.
"Eh, tunggu! Mereka bertengkar kenapa??"
"Jalan, Tae, berjalanlah menuju kerumah…~"
"Tunggu! Subaru-kun!"
Meninggalkan Yuya di bawah lampu jalan saat langit sudah berwarna hitam keunguan.
"…." Mata Yuya masih tertuju pada sosok kedua sahabatnya yang menjauh sebelum dia sendiri berjalan menjauh.
'Setelah ini semua berakhir, aku akan mengatakannya'
Dia tidak sudi kalah, meskipun melawan kakaknya.
.
.
.
"Ah! Ada yang komen!" tidak lama ini dia membuat akun di Nico Nico Douga dan mengupload satu lagu orisinilnya dengan dua versi. Vocaloid dan suaranya sendiri. Dia menguploadnya tiga hari yang lalu.
Sudah bisa ditebak kalau yang versi vocaloid yang lebih banyak view-nya.
Ada sekitar 3 komentar negatif dan 4 positif. Satu persatu dia baca dan komentar negatif semacam
'lagunya kekanakan, yang bikin anak TK kali lol'
'bikin geli wwwww'
'apaan nih? Bunyi mainan adikku lebih bagus wwww'
Itu
Bikin Kazuhira
KEPIKIRAN BANGET RASANYA PENGEN NANGIS
Tubuhnya lemas seketika dan jantungnya kayak jatuh ke perut. Bikin mules.
Tapi komentar berikutnya membuatnya bisa bangkit lagi.
'lagunya lucuuu'
'ini membuatku ceria kembali. Kerja bagus!'
'jangan pikirin komen negatifnya, semangat!'
Siapa yang nggak terenyuh coba.
Lalu hampir di satu menit terakhir videonya ada komen panjang. Hampir memenuhi layar sampai lagu itu berakhir.
[Lagumu bagus dan bersemangat ya. Lumayan nih. Aku mendengarkan kedua versinya. Yang versi Vocalo no comment sih. Tapi covermu…
As expected from an amateur, I guess. :D
Mengenai hal ini, aku punya beberapa saran. Maaf jika tidak berkenan.
Pertama coba kamu latihan nafas dulu. menyanyilah menggunakan pernafasan Diafragma. Dan usahakan kamu mengeluarkannya melalui mulut dengan desisan selama mungkin.
Kedua adalah sikap tubuh. Kutebak kamu pasti bungkuk saat menyanyikan lagu ini. Itu tidak bagus. Aku sarankan berdirilah dulu yang tegak agar pernapasanmu lancar dan kamu jadi lebih leluasa bernyanyi.
Ketiga buka mulutmu lebar lebar. Jangan malu malu ah, liriknya jadi gak jelas nih.
Lalu karena kamu udah punya power dalam suaramu, manfaatkan. Ketahui vocal range-mu dulu dan gaya bernyanyi seperti apa yang ingin kamu lakukan.
Untuk vokalmu itu dulu. Aku tidak akan komentar lebih jauh tentang lagumu karena menurutku bagus tidaknya lagu itu tergantung selera orang yang mendengarkan. Tapi menurutku, ini cukup bagus.
Tetap semangat!
Semangat Kuroko Kazuhira untuk memperbaiki diri dan terus bernyanyi meningkat drastis. Dia memang butuh saran dan bersyukur banyak orang yang mau menolongnya. Bahkan orang asing!
Kazuhira buru buru mencatatnya dalam memo kecil dan menempelkannya di papan yang dia paku di dinding sebelah meja belajarnya. Memonya pun tak hanya satu. Semua kritik, saran dan pencapaian yang dia inginkan selama hidupnya dia tempelkan di sana. Hari ini memonya bertambah 4 buah. Dua adalah kumpulan dari beberapa saran dari Senpai-nya dan dua buah lagi dari komen di videonya.
.
.
.
A/N
SD Suitou Barat dan Namiya asal Midorima Hazuki dan Kuroko Kazuhira cuma nama karangan.
Disclaimer: semua karakter milik Tadatoshi Fujimaki dan semua lagu yang digunakan dalam fanfic ini adalah milik artist dan composer masing masing
