DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
Genre : Romance
Rating : T
Pairing : NaruHina
Warning : AU, Typo(s), Abal, Miss Typo(s)
Don't like, Don't read
I've Fallen For You
.
.
.
.
.
Hinata tidak ingat bagaimana semua ini dimulai. Yang ia tahu, awalnya Naruto hanya sekedar rekan kerja di matanya. Tak lebih dari pria ramah yang senang memenuhi isi kantor dengan cengengesan renyahnya.
Pria blonde berisik itu tidak pernah terlihat murung maupun tidak bersemangat. Dia selalu ceria dan menularkan tawanya ke orang-orang sekitarnya.
Hinata hanya tahu itu.
Jadi, Hinata tidak mengerti kenapa kini matanya selalu mencari-cari keberadaan Naruto.
"Wah kau baru disini, ya? Perkenalkan, aku Uzumaki Naruto, manusia yang kerajinannya suka disalahgunakan."
Itu adalah kalimat pertamanya di hari Hinata masuk perusahaan Konoha Group. Lengkap dengan cengiran dan jabatan tangan yang bersahabat. Hinata sampai kagok dengan kesupelan Naruto yang diluar nalar manusia biasa.
Naruto merupakan salah satu seniornya di Divisi Legal. Menurut info rekan kerjanya, Shino, Jabatan Naruto sudah termasuk tinggi, untuk pemuda seumurannya. Tidak terlihat workaholic, tapi selalu mengerjakan pekerjaan dengan kilat, tepat, dan memuaskan.
Tidak heran Head Legal mereka, Kakashi, sangat menyukai Naruto dan mengangkat Naruto jadi supervisor sebelum setahun.
Berbulan-bulan mereka bekerja bersama, Hinata semakin mengenal Naruto. Walaupun terkesan ceroboh dan berantakan, Hinata tidak menyangka Naruto sangat pintar. Sering sekali Naruto menyelesaikan masalah yang mereka hadapi, maupun memberikan solusi untuk rekannya yang terkena masalah. Tidak hanya itu, bahkan hal lain seperti laptop error, kabel rusak, mesin fotocopy macet bisa Naruto perbaiki. Tanpa sadar semua orang jadi mengandalkan Naruto.
Kini Hinata memiliki tujuan di kantor ini. Suatu saat ia ingin menjadi Naruto, orang yang diandalkan rekan-rekannya. Agak idealis, tapi Hinata tidak keberatan. Naruto adalah panutannya.
Akibatnya, Hinata jadi giat bekerja. Ia pelajari apapun yang sulit baginya dalam pekerjaan, bertanya kepada rekan-rekan apa yang tidak ia tahu, meminimalisir kesalahan dan berusaha menyelesaikan case tepat waktu.
Dan Naruto selalu membantunya.
Pria itu selalu menyempatkan diri untuk membimbing Hinata, menjawab pertanyaan-pertanyaan Hinata, dan mereview hasil pekerjaan Hinata, meskipun itu bukan tugasnya.
Hinata Heran, darimana Naruto bisa mendapatkan tenaga untuk bekerja keras, mengajari orang, dan melawak secara bersamaan tanpa letih?
Sejak saat itu, tanpa sadar mata Hinata mengikuti Naruto. Ingin Hinata mempelajari apa yang membuat Naruto selalu berenergi seperti ini. Padahal Pria itu bekerja 2x lebih keras dibanding yang lainnya. Bagaimana dia bisa bekerja seperti ini tanpa mengeluh? Manusia normal harusnya mengeluh, kan?
Dari hal-hal rumit yang Naruto kerjakan sampai hal sepele, menjadi perhatian Hinata. Bagaimana cara pria itu mengatur waktu, cara dia berinteraksi dengan atasan dan dengan sesama rekannya. Ketika ia fokus menelusuri hukum-hukum untuk membuat Perjanjian yang sulit, memimpin meeting, dan mati-matian mencari pemecahan masalah suatu case.
Sampai Hinata mulai tersadar, mata memincing Naruto ketika mereview ulang pekerjaannya, keningnya yang berkerut karena berpikir, jemari kurus panjang Naruto yang mengetik, erangan kesalnya ketika mendapati masalah, wajahnya yang damai saat tertidur kala lembur, gelak tawa yang menular seisi ruangan, mulai membuat hati Hinata menghangat...
dan terpikat.
.
.
Mata Hinata menemukan sosok Naruto di dalam ruangan sedang asik main game di handphonenya. Suara game yang berisik dibiarkan Naruto mengisi ruangan sunyi, sedangkan matanya menyipit dan mulutnya mengumpat bebas saking focusnya.
"Pagi, Hinata-chan!" Sapa Naruto di balik handphonenya.
Hinata hanya tersenyum samar, "Pagi, Naruto-kun."
Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, dan seperti biasa hanya Hinata dan Naruto yang sampai di kantor. Hinata tidak tahu kenapa Naruto selalu datang sepagi ini ke kantor dan menghabiskan waktu main game sampai jam masuk kantor. Yang pasti dia bersyukur punya waktu untuk menatap Naruto tanpa perlu salah tingkah. Karena yang ditatapi sibuk dengan game onlinenya.
Hinata membuka bekal sarapannya, sesekali matanya melirik Naruto yang terpantul dari cermin pilar di dekat mejanya.
Apa Naruto sudah sarapan? Atau belum? atau Naruto tidak suka sarapan? Seandainya Hinata punya keberanian untuk menawarkan bekalnya.
Waktu berlalu begitu saja, sampai satu persatu rekan mereka datang dan tiap kursi penuh oleh pemiliknya. Anehnya Hinata selalu menyesal tidak memberanikan diri untuk mengangkat topik tiap bertemu Naruto pagi hari. Alih-alih berbicara, Hinata malah bersembunyi di balik layar konputernya.
"Hoi," Hinata melihat Shikamaru, salah satu supervisor, menimpuk kepala Naruto dengan segepok berkas. "Kau sudah selesaikan MOUnya? Aku harus email Direktur Konoha Electric siang ini."
"Sudah, sudah," sahut Naruto masih asyik dengan handphonenya. "Sedang di recall Kakashi, akan kuberikan padamu jam 10 nanti."
Tiba-tiba iris Shappire Blue menemukan Hinata yang sedang menatap Naruto, membuat Hinata segera mengalihkan pandangannya. Hinata bodoh! Kenapa kau harus salting seperti ini?
"Ah, eh, Sakura, Draft memori bandingku sudah selesai," salah tingkah, Hinata langsung mengajak bicara Sakura yang duduk di sebelahnya.
"Oh, bagus sekali," Sakura segera menarik diri ke meja Hinata dan mendiskusikan draft memori banding Hinata.
Huft, lain kali Hinata harus berhati-hati kalau menatap Naruto.
.
.
Buk!
Hinata terkejut ketika seikat berkas diletakkan di mejanya. Shino, yang baru saja memenuhi meja Hinata, merenggangkan badannya. "Tolong bantu urus aset Konoha di Kyoto. Kita mau teken jual beli."
"Oh, Oke." jawab Hinata sambil mengintip beberapa dokumen yang baru ia terima. Saking tebalnya, berkas itu diikat tali rafia agar tidak terpisah.
"Wah, Shino ternyata kejam juga, ya." Tiba-tiba Naruto sudah berada di sisi Hinata, ikut mengorek-ngorek berkas Hinata. "Tega sekali Hinata mengurus ini sendirian."
"Kau mau mengerjakannya?" Shino membetulkan letak kacamatamya. "Biar kuserahkan padamu, nih."
"Wah, boleh," balas Hinata tertawa pelan, berusaha terlihat santai.
"Hiiii tidak mau," seru Naruto tidak terima. "Aku cukup mendukung Hinata saja dari mejaku. Hinata pasti bisa,"
Hinata menelan ludah saat tangan Naruto tiba-tiba mengacak-acak rambut Hinata. "Benar 'kan?"
.
.
"Kenapa mesin fotocopy ini sering ngambek 'sih?"
Hinata mengintip dari balik komputernya, Choji sedang menggerutu sambil memukul gemas mesin didepannya. Mesin tua itu memang langganan membuat kertas nyangkut di dalam mesin.
"Rusak lagi?"
"Yaampun, kenapa tidak dibuang saja sih rongsokan ini?"
"Apa Ketua Kakashi tidak berminat minta mesin baru ke GA?"
"Sudah ku ajukan, tapi responnya lama."
Hinata mendengar sahutan Naruto.
"Ini tandanya kita tidak boleh kerja! Hahahaha. Ayo bubar semuaaa!!!" lalu disusul dengan jitakan Kakashi di kepalanya dan tawa seisi ruangan.
"Ampun, Pak Ketua," Naruto hanya cengengesan, dibalas dengusan Kakashi.
Lucunya, seperti dugaan Hinata, tanpa menunggu lama, Naruto sudah ikut bergabung dengan Choji, mengutak-atik mesin fotocopy mereka.
Pandangan Hinata tidak terlepas dari sosoknya. Naruto membuka-buka mesin fotocopy tanpa berpikir, seakan-akan dia sudah biasa bongkar pasang mesin. Sesekali ia memencet layar sentuh mesin itu untuk mengatur kembali. Wajahnya yang fokus membuat Hinata tertegun. Padahal hanya mesin fotocopy, kenapa pria itu mengerjakannya dengan sepenuh hati?
Hanya perlu 10 menit dan mesin itu kembali bekerja.
Tidak ada satupun yang mengucapkan terima kasih, padahal semua pekerjaan mereka bisa tertunda hanya perkara mesin mereka rusak. Tapi Naruto terlihat tidak peduli. Ia benar-benar membetulkan mesin itu karena senang.
Lihatlah senyuman lebar pria itu, seakan baru saja memenangkan hadiah jutaan yen dalam beberapa menit.
Hinata menyembunyikan kembali wajahnya di balik layar komputer. Seperti mesin
fotocopy, hanya perlu 10 menit bagi Naruto untuk membuat Hinata kembali jatuh.
.
.
"Kau mau pulang?"
Langkah Hinata terhenti melihat Naruto dengan motornya di sisi trotoar. Ini pertama kalinya Hinata berpapasan dengan Naruto di jalan, dan pertama kalinya Hinata melihat Naruto bersama motor besarnya. Yang tak Hinata sangka bisa sekeren itu.
"Ya..." jawab Hinata pelan.
"Ke arah mana? Sana? Sana? Sana?" Naruto menunjuk sembarang arah jalan. Wajah pria itu terlihat lugu, membuat Hinata tak
tahan untuk tidak tersenyum.
"Ke arah stasiun."
"Heee," Naruto mendecak, "Stasiun di Tokyo banyak tahu. Kau mau aku menebak satu-satu stasiun mana yang kau maksud?"
Hinata tertawa, "Stasiun mana saja yang terdekat."
"Hmm," Naruto terlihat berpikir sejenak. Senada dengan otaknya, jarinya bergerak seakan-akan sedang membayangkan belokan-belokan mana yang harus dia lewati.
"Oke," serunya kemudian, tangannya menepuk bangku belakang motornya. "Ayo naik, aku bisa melewati stasiun."
"Eh?" Hinata terkejut, "Jangan! Naruto-kun kan tidak perlu lewat stasiun," tolak Hinata. Ia tau jelas jalan pulang Naruto tidak ada yang melewati stasiun, dia tidak mau merepotkan pria ini.
Dan bagaimana dengan jantungnya kalau sampai ia dibonceng Naruto?
"Haish, banyak jalan menuju Roma," ucap Naruto, mengungkit pepatah lama. "Salah satunya Stasiun Otemachi." Kini Naruto melemparkan satu helm ke arah Hinata, yang reflek langsung ditangkap dua tangan mungil Hinata.
"Jangan menolak dan bikin aku malu, ayo naik."
Kalau pria itu menawarkan sambil tersenyum lebar begini, bagaimana cara Hinata menolaknya?
.
Jantung Hinata berdegup sangat cepat, yang ia anggap akibat Naruto ngebut membabi buta. Tapi kenapa wajahnya ikut memanas?
Dia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Bagaimana bisa suara jantungnya mengalahkan suara angin motor?
Hinata mempererat pegangannya di ujung jaket Naruto. Aroma tubuh Naruto yang terbawa angin membuat Hinata tidak fokus. Ini pertama kalinya Hinata mencium aroma parfum Naruto, dan hebatnya Hinata langsung menyukainya. Sekaligus menyadarkan Hinata betapa dekat posisi mereka saat ini.
Hinata baru sadar ternyata Naruto memiliki bahu yang bidang, dan pundak yang lebar. Jaket jeans yang dipakai Naruto benar-benar membalut sempurna di tubuh Naruto. Kalau Hinata memeluknya, pasti Hinata tenggelam.
Astaga apa yang barusan kau pikirkan, Hyuuga Hinata?!
"Hei, sudah sampai."
"Ah, iya."
Hinata segera turun. Bahaya sekali pikirannya barusan. Naruto senior kantormu, Hinata! Sadarlah!
"Terima kasih," ucap Hinata seraya mengembalikan helm ke pemiliknya, matanya tiba-tiba jadi pengecut karena tidak mampu menatap langsung mata Naruto.
"Sama-sama," balas Naruto riang. "Oh, wajahmu merah."
Hinata reflek memegang pipinya sendiri. Malu sekali rasanya. Wajahnya kini merah padam dan panas. Kenapa Naruto harus sadar. sih?
"Kau sakit?" Naruto terlihat khawatir, bahkan tangannya sudah terangkat, berusaha menggapai kening Hinata.
Hinata segera menghindar, bisa berhenti jantungnya kalau-kalau Naruto menyentuh keningnya. "Aku tidak apa-apa."
"Kau yakin?"
"Ya," Hinata mengangguk mantap, "Terima kasih atas tumpangannya, aku akan masuk." Dengan gerakan cepat Hinata menunduk singkat dan segera berlari masuk ke stasiun.
Hinata duduk bersandar di bangku kereta, menghela nafas berat. Seketika ia megacak surainya, frustasi. Apa-apaan barusan? Bisa-bisanya dia lari masuk meninggalkan Naruto di depan stasiun?!
Bahkan Hinata tidak mengatakan terima kasih dengan benar dan tidak mengucapkan hati-hati di jalan. Sangat-sangat tidak tahu diri. Bagaimana kalau Naruto menyesal telah mengantarkannya?
Hinata kembali menghela nafas, pasrah. Rasanya ia ingin memutar kembali waktu.
.
.
Nyatanya, Naruto sama seperti biasanya.
"Hinata, komparisimu salah," Naruto mengoreksi pekerjaan Hinata. "Kalau perusahaan dengan direksi yang begini, kau harus tambahkan Pihak kedua seperti ini."
"Oh, baiklah."
Naruto mulai mencoret-coret minuta Hinata dan menulis revisinya dengan pensil. Sesekali ia memutar-mutarkan pensil di sela jemarinya seraya membalikkan halaman minuta Hinata. Naruto terlihat lihai memainkan pensilnya. Bakat tersembunyinya unik juga, batin Hinata.
"Oke, itu aja revisinya," Naruto tersenyum lebar dan menyerahkan kembali minuta Hinata.
"Terima kasih, Naruto-kun." ucap Hinata, sedikit terpana dengan senyum Naruto. "Aku akan serahkan ke Kakashi setelah kurevisi."
"Hem," angguk Naruto, "kalau kau masih bingung, tanya saja yaa." Lalu ia kembali sibuk dengan kerjaannya sendiri.
Hinata kembali ke tempat duduknya, membuang nafas yang sedari tadi ia tahan. Aroma Naruto benar-benar melenyapkan fokusnya.
.
.
"Hinata!"
Hinata segera menoleh, dan kembali mendapati Naruto sudah berhenti di sisi trotoar.
"Pulang, kan? Ayo, Ku antar sampai stasiun."
Hinata menoleh kiri-kanan, trotoar terlihat ramai oleh orang-orang baru saja pulang kantor.
"Aku?" tanya Hinata ragu.
"Tentu saja, Hinata-chan." Naruto tertawa melihat wajah kebingungan Hinata. Kemudian ia melempar Helm ke Hinata.
"Yuk."
Hinata menangkap helm Naruto dengan sigap dan mendekati motor Naruto. "Tidak apa-apa?"
"Tentu saja," jawab Naruto ramah dan menarik Hinata untuk segera naik, "Sebelum
hujan."
Hinata lagi-lagi perlu meredam detak jantungnya. Sentuhan Naruto di lengannya terasa panas. Semoga saja wajahnya tidak semerah kemarin, karena Hinata merasa wajahnya panas.
Berbeda dari kemarin, Naruto tidak ngebut gila-gilaan. Ia membawa motor dengan lebih santai. Sayangnya, hal ini membuat nafas Hinata semakin tercekat. Semakin lama posisi mereka dekat begini, semakin sesak nafas Hinata.
Tidak ada satupun dari mereka berdua yang memulai pembicaraan. Antara memang tidak ada yang perlu dibicarakan, atau Naruto bukan type berbicara saat berkendara. Apapun itu, Hinata bersyukur. Karena Hinata tidak yakin bisa berbicara dengan benar sekarang.
Sesampai di Stasiun, Hinata segera turun dan mengembalikan helm. Kali ini Hinata harus berterima kasih dengan benar.
"Terima kasih, Naruto-Kun." Hinata tersenyum simpul. "Hati-hati di jalan."
Naruto dengan wajahnya yang masih tertutup helm besar hanya mengangguk, "Hinata-chan juga, ya."
Hinata menunggu sampai Naruto berlalu dari pandangannya dan mengelus pelan dadanya. Kapan jantungnya bisa bekerja sama dengannya?
.
.
"Acara makan bersama?" Hinata mengulang kembali ucapan Sakura.
"Benar," Jawab Sakura antusias. "Kakashi ulang tahun dan mentraktir minum. kamu bisa ikut, kan?" Sekarang Sakura memeluk erat lengan Hinata, "iya 'kan? iya 'kan?"
"Tapi ini bukan weekend, kalau bukan weekend agak sulit..." Hinata berpikir sejenak. Jarak antara rumahnya dengan kantor agak jauh dan kalau sampai minum, Hinata biasanya harus menginap. Hinata tidak bisa membayangkan amukan ayahnya kalau Hinata pulang dengan bau alkohol.
Sakura terlihat kecewa, "Tidak bisa, kah? Jarang loh Kakashi yang pelit mau mentraktir kita."
Hinata hanya menggeleng lemah, "Maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa. Kalau ada acara makan selanjutnya, dan hari jumat, aku pastikan akan ikut."
"Baiklah," Sakura tidak mau memaksa Hinata. Sebagai teman Hinata, Sakura tahu keluarga Hinata agak kaku dan keras. Kasian kalau Hinata kesulitan hanya karena berusaha ikut acara minum anak kantor.
"Heh? kau tidak ikut?" Hinata bisa mendengar seruan Choji dari ujung ruangan.
"Kau ini," Naruto mendecak, "Aku bilang aku menyusul, bukannya tidak ikut."
"Kau mau kemana memang?" tatapan Choji penuh selidik, jarinya menunjuk Naruto curiga.
"Astaga, kau tidak rela ya kalau melepaskanku beberapa menit saja?" Naruto menggoda balik Choji, membuat Choji merinding sendiri.
"Enak saja!" Seru Choji, kini sibuk mengibas-ngibaskan tangan Naruto yang mencolek-colek perutnya. "Aku kan tanya!"
Hinata hanya menahan tawa melihat Naruto dan Choji kini sibuk saling menggelitik.
Tapi, Naruto mau ada urusan apa, ya?
Ah, Hinata seharusnya tidak perlu tahu, kan?
.
"Hinata-chan!"
"Naruto-kun?" Lagi-lagi mereka bertemu di pinggir trotoar.
"Ke stasiun 'kan? Mau bareng?" tawar Naruto sembari meraih Helmnya yang lain untuk dilempar ke Hinata.
"Oh? Bukankah Naruto-kun ada urusan?" tanya Hinata, meskipun tangannya tetap menerima lemparan Helm Naruto.
"Aku ada urusan di sekitar stasiun," Jawab Naruto, dengan cengiran khasnya.
"Ayo naik."
Dan lagi, Hinata wajib mengatur detak jantungnya selama perjalanan.
.
.
Hari ini Hinata datang lebih siang, bahkan ia memang izin telat. Jadi, Hinata heran mengapa di ruangannya tidak ada orang sama sekali kecuali Naruto?
"Oh, Hinata-chan sudah datang?" sambut Naruto dari sudut ruangan, sedang membuat kopi.
Hinata menuju mejanya, meletakan semua baramg bawaannya. "Yang lain pada kemana, Naruto-kun?"
Naruto hanya cengengesan, sembari mengaduk minumannya. "Mereka semua sakit. Sepertinya menu yang dipesan Kakashi kemarin ada yang bikin semuanya keracunan."
"Ah, benarkah?" Hinata cukup terkejut, bisa-bisanya satu kantor serentak keracunan? "Naruto-kun bagaimana? Baik-baik saja?"
"Yah, untungnya aku ada urusan kemarin, jadi tidak ikut acara makan mereka." Naruto kembali ke mejanya. "Aku cuma kebanyakan minum, dan sekarang masih mual. Hinata-chan mau kopi?" tawar Naruto.
Hinata menggeleng pelan, "Terima kasih."
Sudah 5 jam berlalu, dan kantor benar-benar tersisa Hinata dan Naruto. Hanya terdengar suara ketikan keyboard dan alunan lagu yang sengaja diputar Naruto agar tidak sunyi. Hinata merasa aneh sekali tidak ada percakapan, tapi sepertinya Naruto tidak peduli. Dia malah sibuk menerima telfon masuk tanpa henti sejak pagi.
"Oh, Gugatannya harus hari ini di email? oke."
"Hm? Iya, aku tau. Nanti kuemail mereka."
"Gimana perutmu? ... Apa? 12x ke toilet? Gapapa, sekalian kau buang dosa-dosamu."
"Iyaiya aku tahu. Setelah ini kupaketkan berkasnya. Ke PT Lanc 'kan? ... ya, ya."
"Aku tidak tahu. Harusnya sudah selesai, sih."
"Kau mau apa? ... Oh, baiklah. Besok pagi kan baru dikirim? Nanti ku bantu selesaikan."
Hinata sudah tidak tahu berapa orang yang menelfon Naruto untuk minta bantuan. Dari sekian banyak hari, kenapa harus hari mereka keracunan makanan yang banyak sekali kerjaan yang wajib diselesaikan?
Jam sudah mendekati pukul 4 sore, Hinata lihat Naruto mulai kewalahan dengan pekerjaan yang ditumpuk kepadanya. Kalau Naruto memaksa untuk menyelesaikan semuanya hari ini, bisa-bisa dia tidak pulang sampai tengah malam.
"Ada yang mau kubantu? Pekerjaanku sudah selesai hari ini," tawar Hinata akhirnya setelah bergelut 5 menit dengan pikirannya sendiri.
"Boleh?" tanya balik Naruto, wajahnya berbinar. Sepertinya dia memang berharap pertolongan Hinata sedari tadi. Apa aku kurang peka? batin Hinata.
"Tentu saja. Tapi aku hanya bisa sampai jam 6 sore."
Jadilah, kini Hinata dan Naruto sibuk mengerjakan deadline rekan-rekan mereka. Mereka terlalu fokus dengan kerjaan hingga hanya suara ketikan saja yang terdengar. Tanpa terasa jam menunjukkan hampir pukul 7 malam.
Saat Hinata menoleh, Naruto tengah tertidur dengan tangan menjadi tumpuan dagunya.
Pasti ia mengantuk berat, apalagi kemarin acara Kakashi sampai tengah malam. Wajar saja Naruto akan tepar juga. Sayangnya, Hinata tidak bisa membantu Naruto lebih dari ini. Haaah, ia jadi kecewa sendiri.
Setelah membereskan barangnya, Hinata perlahan meletakkan ricebowl dan segelas soda dingin di meja Naruto yang sebelumnya ia beli di foodcourt kantor. Yah, mungkin Naruto akan membutuhkannya nanti.
"Semangat, Naruto-kun." Bisik Hinata pelan sebelum meninggalkan ruangan.
.
.
Sudah hari kedua sejak satu ruangan mereka keracunan makanan.
Hinata dan Naruto sibuk menyelesaikan pekerjaan rekan mereka yang sudah menyentuh due date. Untungnya tidak sehectic hari pertama, namun tetap menguras tenaga mereka.
Jarum jam kembali menunjukkan pukul 6 lewat.
"Hinata-chan sudah mau pulang?"
Hinata menoleh, melihat Naruto dengan wajah letihnya. Kasian sekali, kemarin sudah lembur dan hari ini dia terpaksa lembur lagi.
"Setelah ini," jawab Hinata pendek. Ugh, kenapa ya Hinata sulit sekali terlihat ramah?
"Aku sudah tidak kuat, mau pulang saja." Naruto merenggangkan tubuhnya di kursi. Sepertinya ia benar-benar lelah. "Ku antar sampai stasiun, ya?"
"Eh?" Hinata ragu, sebenernya pekerjaan yang ia bantu pegang masih belum selesai. Tapi sepertinya memang lebih baik ia pulang. Naruto pasti sungkan kalau pulang duluan sedangkan Hinata masih mengerjakan kerjaannya. "Baiklah..."
Mereka bergegas merapikan barang-barang dan menuju parkiran motor gedung. Hinata sepertinya mulai terbiasa dengan kebiasaan Naruto yang melempar helmnya ke arah Hinata, karena tangannya tiba-tiba saja bersiap untuk menangkap helm yang bahkan belum dilempar Naruto.
"Aku penasaran," Hinata sedikit menyesal ketika kalimat itu keluar. Huf, kenapa dia harus menyuarakan isi otaknya?
Sudah terlanjur, lebih baik diutarakan sekalian. "Kenapa Naruto-kun selalu membawa 2 helm?"
"Hmm," Naruto berpikir. "Kenapa, ya?" Naruto terlihat bingung juga. "Jaga-jaga kalau aku harus menumpangi seseorang."
"Oh," Hinata hanya mengiyakan dan segera naik ke bangku belakang Naruto. Berarti siapapun bisa diboncengi Naruto, ya...
Hinata tidak punya hak, tapi kenapa ia merasa sedih?
.
.
Sudah satu minggu, dan untungnya rekan mereka satu persatu sembuh dan kembali masuk kantor. Walaupun belum full team, setidaknya kantor tidak sesepi hari-hari kemarin.
Yang terpenting, Hinata dan Naruto tidak perlu lembur sampai gelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan pekerjaan Hinata sudah selesai. Rasanya sudah lama Hinata tidak pulang secepat ini, akibat insiden keracunan masal kemarin.
"Hinata sudah mau pulang? Yuk," ajak Naruto yang sudah bersandar di partisi meja Hinata.
"Ah, iya, aku sudah siap." jawab Hinata.
"Wah, apa ini?!" seruan Choji dari mejanya terdengar. "Sejak kapan kalian pulang bersama? Kami cuma absen seminggu, tiba-tiba kalian sudah sedekat ini?"
Seketika ruangan ramai dengan ledekan Choji. Hinata yang malu hanya kelabakan, bingung bagaimana menjelaskannya. Karena, diapun juga sudah lupa bagaimana mereka jadi selalu pulang bareng.
"Heee, kalian ini sirik sekali 'sih," Naruto hanya tertawa santai. "Ini karena limpahan kerjaan kalian yang bertumpuk-tumpuk, aku dan Hinata lembur mengerjakannya sampai malam."
"Sebagai pria tampan dan gentle, aku harus antar dia dong!" tambah Naruto yang segera disoraki satu ruangan.
Sakura memeluk Hinata gemas, "Kamu ikut lembur? Astaga maafkan kami yaaa."
"Tidak apa-apa," jawab Hinata pelan.
"Kalau gitu Naruto kau harus antar Hinata dengan selamat!!" ancam Sakura ke Naruto. "Awas kalau Hinata terluka!"
Jawaban Naruto selanjutnya membuat Hinata tersedak sendiri.
"Tentu saja, aku memang sudah bertekad untuk menjaganya terus, tahu!"
.
.
Sasuke is calling...
"Hinata, ada telefon masuk." teriak Sakura.
Hinata yang tadinya sedang fotocopy segera kembali ke meja meraih handphone.
"Ya?" tanya Hinata setelah mengangkat telepon.
"Hari ini temani aku cari lensa."
"Sasuke-kun sudah kabari ayah?"
"Sudah. Nanti kutunggu jam setengah 5 di parkiran."
"Oke, sampai jumpa."
"Woah, siapa itu?" tanya Sakura penasaran setelah Hinata mematikan teleponnya.
"Ehm, temanku."
"Temanmu mengajak pergi, tapi langsung izin dulu ke ayahmu?" Sakura terlihat takjub, "Kamu yakin itu teman saja?"
"Iya teman dekatku," jawab Hinata.
"Ah, masa sih? Atau jangan-jangan dia mendekatimu tapi kamu tidak peka?" goda Sakura semakin menjadi.
"Kupikir kamu sukanya Naruto, lho!" Hinata terbatuk seketika mendengar ucapan Ino di belakangnya. "Karena kalian dekat, kupikir kalian ada hubungan."
"Ah, enggak. Kebetulan kami searah saja," elak Hinata segera. Matanya sedikit melirik kearah Naruto. Sialnya, Naruto ternyata sedang melihat kearahnya. Hinata semakin salah tingkah.
"Yakin?" Sakura dan Ino masih terlihat kekeuh menggoda Hinata.
"Tapi," Ino mulai berbisik pelan, "setauku Naruto punya pacar di daerah asalnya. Mereka Long Distance Relationship."
Hinata tertegun, benarkah?
"Oh!" Sakura mengangguk setuju, "Aku pernah tidak sengaja melihat pacarnya kirim selfie ke Naruto!"
"Padahal sepertinya lebih lucu kalau kalian bersama," ucap Ino lagi.
"Kami tidak ada apa-apa, kok," Hinata menggeleng kuat. "Mana mungkin aku suka Naruto, kan?"
Mata Hinata kembali bertemu dengan Naruto. Jantung Hinata berdegup cepat. Kalau seperti ini, harusnya Naruto tidak terbebani 'kan?
.
.
"Hinata, mau bareng?"
Kini Naruto, Hinata, dan beberapa rekan mereka sedang berjalan bersama menuju parkiran gedung. Pertanyaan Naruto barusan langsung mendapat sorakan teman-teman mereka.
"Terima kasih Naruto-kun, hari ini aku dijemput." tolak Hinata sopan.
"Waaah," Ino tertawa meledek, "Hari ini dijemput pacarnya, loh. Pupus sudah perjuanganmu."
"Oh, ya?" tanya Naruto penasaran, menatap Hinata penuh tanya. "Aku baru tau?"
"Eh, eum," Hinata salah tingkah sendiri. Ia ingin sekali menegaskan Sasuke bukan pacarnya, tapi apa gunanya? Toh, ada perasaan yang Naruto jaga. Hinata mana boleh berharap.
Lampu dim Sasuke menyala dua kali.
"Aku duluan ya, teman-teman," pamit Hinata sembari menunduk singkat dan segera menghampiri mobil Sasuke yang terparkir.
"Dah Hinata!!" Seru teman-teman mereka serentak.
"Siapa itu?" tanya Sasuke setelah Hinata masuk ke dalam mobil.
"Teman kantorku," jawab Hinata sekenanya.
"Oh."
Sasuke segera menjalankan mobilnya keluar parkiran. Dari spion tengah Hinata bisa melihat Naruto dan teman-temannya sedang tertawa ramai.
Seharusnya lebih baik Naruto mengira Hinata punya pacar. Tapi kenapa Hinata semenyesal ini?
.
.
Sudah beberapa hari ini Hinata tidak pulang bareng Naruto. Entah karena Hinata lebih duluan pulang, atau sebaliknya. Hinata berharap memang itu alasannya, bukan karena Naruto menghindar.
Untuk apa Naruto menghindar? Kan mereka tidak ada apa-apa?
Namun Hinata bersyukur, terkadang Naruto masih mengajaknya berbicara, walaupun hanya obrolan sekitar pekerjaan,
Kau mau berharap apa dari pacar orang, Hinata?
Hinata menghela nafas dan mengintip meja Naruto dari balik komputernya. Pria itu sedang tertawa bersama Shikamaru. Sesaat, Hinata terhipnotis tawa Naruto.
Mungkin memang ini jalannya. Hinata memang hanya diijinkan mengagumi dari jauh. Tidak lebih.
.
.
Mulut Hinata membeku ketika sadar hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Suasananya terasa sangat canggung, sampai-sampai Hinata bisa mendengar suara menelan ludahnya sendiri.
"Hinata-chan langsung pulang?" setelah beberapa menit akhirnya Naruto memecahkan kesunyian.
"Iya..."
"Dijemput pacarmu?" tanya Naruto lagi.
Dia bukan pacarku.
"Hari ini aku pulang sendiri," jawab Hinata, menelan bulat-bulat pikirannya.
"Mau kuantar sampai stasiun?" tawar Naruto.
"Bukan maksud apa-apa, karena terbiasa aku jadi selalu lewat stasiun," Naruto segera menjelaskan panjang lebar membuat Hinata tertawa. Untuk apa Naruto menjelaskan begini?
"Kalau Naruto-kun tidak repot,"
seharusnya tidak apa-apa kan? beberapa menit saja?
"... Aku mau."
.
.
"Resign?"
Hinata membatu saat tak sengaja mendengar percakapan Shikamaru dan Naruto di balik pilar pantry.
"Ya," suara Naruto terdengar. "Kakashi telah mereview surat pengunduranku sejak 2 minggu lalu. Aku sudah 3 tahun disini dan waktunya untuk mengejar impianku S2 di Jerman."
"Benar juga," timpal Shikamaru. "kau sudah lama merencanakannya. Kapan kau keluar?"
Hinata merasa dadanya sesak dan kakinya selemas jelly mendengar jawaban Naruto.
"Minggu depan."
.
"Naruto-Kun," Hinata meletakkan satu bundel berkas di meja Naruto. "Sai memintamu untuk review kontrak kerja terbaru."
"Ah, Sai HRD itu?" Naruto membuka berkas yang baru diberikan Hinata.
"Iya."
"Baiklah, makasih Hinata-chan." ucap Naruto seraya tersenyum lebar. Hinata hanya mengangguk pelan. Namun ia tetap berdiri di sana. Matanya menjelajahi singkat meja Naruto. Tidak seperti meja lain yang memiliki foto atau pernak pernik kantor, ternyata meja Naruto sangat polos. Hanya ada satu kotak pensil.
Setelah dipikir-pikir, Hinata memang tidak tahu apa-apa soal Naruto. Bagaimana keluarga Naruto, apakah ia punya saudara, rumahnya daerah mana, warna apa yang ia sukai, makanan apa yang dibencinya. Hinata tidak tahu apapun.
"Kenapa Hinata-chan? ada lainnya?" Suara Naruto memecahkan pikiran Hinata.
"Tidak ada. Aku kembali dulu." Hinata segera berlalu ke mejanya.
Hinata menghela nafas sesampai di mejanya. Dia tidak mengenal Naruto sama sekali, lalu kenapa ia bisa sejatuh ini pada Naruto?
.
.
Hari ini hari terakhir Naruto bekerjasama dengan mereka. Dan mereka semua mengamuk karena Naruto tidak memberi kabar sama sekali terkait resignnya.
"Bisa-bisanya kau tidak memberitahu kami! Kalau kami tahu kan kami bisa siapkan pesta perpisahan." Sakura mengomeli Naruto panjang lebar, masih shock dengan kabar Naruto.
"Justru karena kalian akan siapkan pesta jadi tidak kuberitahu," balas Naruto. "Bisa-bisa gajiku habis karena bayar kalian minum!!"
"Tetap saja Naruto kau tega sekali tidak memberitahu dulu," Shino yang biasa diam ikut menimpali. Pelawak kantor akan pergi, siapa yang tidak kehilangan?
"Makanya aku beli pizza banyak biar kalian tidak marah," cengenges Naruto. Dia memang memesan pizza berkotak-kotak untuk makan siang satu ruangan itu.
Hinata hanya terdiam memyimak pembicaraan mereka semua. Hatinya kacau. Perasaannya tercampur aduk. Satu sisi ia bersyukur Naruto pergi, karena Hinata sudah mulai tidak tahan menata perasaannya, disisi lain ia tidak yakin bisa melepas perasaannya begitu saja.
Matanya melirik ke arah tas kecilnya, ia sudah menyiapkan kado perpisahan. Ia berniat menyerahkan kado itu sekaligus menyatakan perasaannya. Namun ia belum yakin akan memberikannya atau tidak. Hinata takut hadiahnya justru akan membebani Naruto.
"Lalu kapan rencana kau akan berangkat ke Jerman?" pertanyaan Shikamaru membuat semuanya terdiam, penasaran dengan jawaban Naruto.
"Besok," ucap Naruto. Matanya tidak sengaja bertemu iris bening Hinata. Yang membuat Hinata bersemu, Naruto tiba-tiba tersenyum padanya.
"Lebih cepat lebih baik, kan?"
.
Hinata berdiri terdiam di tepi trotoar. Matanya menyapu ke arah jalan raya.
Saat ini ia sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Disini tempat pertama kali Naruto menawarkan tumpangan ke Hinata. Kalau misalnya Hinata menunggu disini dan Naruto berhenti di hadapannya, ia akan memberikan hadiah itu dan menyatakan perasaaanya.
Kalau Naruto tidak datang, Hinata akan menyerah dengan perasaannya. Membiarkan perasaannya pupus begitu saja tanpa ternyatakan.
Waktu terus berjalan, langit mulai gelap, udara semakin dingin. Hinata tetap berdiri disana. Sejam sudah berlalu sejak ia menunggu dan Naruto belum muncul juga.
Seharusnya Hinata pulang terlebih dahulu dari Naruto. Terakhir Hinata bertemu Naruto, ia masih sibuk serah terima dokumen dengan Shikamaru.
Hinata menatap ujung sepatunya, ia merasa air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak. Apa Naruto melewatinya? Hinata mulai putus asa. Apa Hinata berhenti saja?
"Hinata-chan?"
Suara itu sukses membuat jantungnya memompa lebih cepat. Mata Hinata melebar melihat Naruto bersama motornya satu meter didepannya. Naruto terlihat bercahaya, seterang harapannya setiap menatap Naruto.
"Kenapa sendirian disini? Bukankah harusnya sudah pulang?" suaranya terdengar khawatir.
Air mata lolos begitu saja dari mata Hinata. Mengingat pria ini akan menghilang dari kehidupannya membuatnya sedih.
"Hinata-chan? Kamu tidak apa-apa?"
Hinata mengangkat tangannya, seperti tiap ia menangkap Helm Naruto yang dilemparkan kepadanya.
"Boleh antar aku ke stasiun?"
.
Mereka sama-sama terdiam selama perjalanan. Hinata yakin Naruto pasti bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Hinata. Tapi Hinata tidak peduli. Saat ini ia ingin menikmati kedekatan mereka untuk terakhir kali.
Memikirkannya saja membuat Hinata sesak nafas.
Aroma tubuh Naruto kembali memenuhi indra penciuman Hinata. Sudah lama Hinata tidak menciumnya, dan sekarang ia merindukannya.
Sekelibat memory terpintas di pikiran Hinata. Kenangannya dengan Naruto, walaupun bukan apa-apa bagi Naruto, Hinata sangat bersyukur pernah melalui itu semua. Setidaknya pria inilah yang alasan Hinata menjadi orang yang lebih baik.
Motor Naruto kini berhenti tepat di pintu masuk stasiun. Perlahan Hinata turun dan mengembalikan helmnya kepada Naruto.
"Hinata-chan sudah tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir setelah melepas helm yang ia pakai sendiri.
"Naruto-kun," Hinata merasa kakinya bergetar hebat. Tidak, ia harus bisa. Jangan melarikan diri. "Terima kasih..."
"Terima kasih karena Naruto-kun selalu membantuku dan membimbingku selama ini. Terima kasih telah menjadi orang yang membuatku berkembang sejauh ini."
Hinata terdiam sejenak, memberanikan diri menatap langsung mata Naruto.
"Tiap perkataan, tawa, dukungan, bahkan omelan Naruto-kun sangat berarti untukku. Aku bersyukur bisa mengenal Naruto-kun, walaupun Naruto-kun tidak sadar, kehadiran Naruto-kun di kehidupanku berpengaruh sebesar itu."
Air matanya kembali terjatuh.
"Ditempat nanti, tetaplah menjadi Naruto yang sekarang, menjadi cahaya dengan tawa Naruto-kun yang menular ke semua orang," Hinata sedikit tertawa ditengah tangisnya.
"Hinata-chan..." Naruto terlihat tidak mampu berkata apapun.
Hinata meronggoh kantung dalam jaketnya dan menyerahkan kotak hitam kepada Naruto.
"Ini hadiah perpisahanku," Hinata tersenyum getir. Rasanya sulit sekali menaikkan ujung bibir untuk saat ini. Kalau bisa, ia lebih memilih menumpahkan air matanya dibanding tersenyum.
Angin bertiup, membuat rambut mereka bergoyang mengikuti angin. Sekitar mereka terlihat bergerak lambat. Jantungnya berdegup begitu cepat, sampai Hinata takut Naruto bisa mendengarnya. Tangannya yang tidak sengaja tersentuh jemari Naruto ketika Naruto menerima kado darinya menghangat.
"Hinata... aku..." Ucapan Naruto terhenti saat melihat Hinata tersenyum lembut.
"Aku menyukai Naruto-kun."
.
.
.
TO BE CONTINUE
Terima kasih sudah mau part 1 ini!!
Sudah lama ga nulis fanfic, semoga ga berantakan yaaa.
Niatnya mau bikin oneshoot, kok tiba-tiba jadi two shoot begini yaa, maafkan author freak ini huehehehehehe
Cerita-ceritaku yang terbengkalai sebelumnya akan kuusahakan untuk kuselesaikan dengan baik. Jadi mohon bantuannya untuk sabar menunggu yaaaaa!
Dan cerita ini akan kuselesaikan minggu depan. Semoga kalian tidak bosan menunggu.
Harap berikan review juga yaa, supaya aku bisa lebih baik.
Sampai ketemu!!!
