Hands In The Air by Joe Satriani.
Gadis berambut biru kelabu itu menguap lebar-lebar. Masih memejamkan kedua mata indahnya, gadis itu masih duduk di pinggir ranjangnya. Mengumpulkan beberapa nyawa masih menari-nari di awang-awang. Tangan kirinya mengusap mata sebelah kiri,dan iler di sudut bibirnya. Mata nya melirik weker di meja nakas. Oh, baru jam 07.00 pagi. Tubuhnya mematung, matanya melotot, kemarin pria tampan itu ke apartemen kecil nya. Katanya 'don't be late'. My GOD! Hari ini jam kuliah pertama, SEJARAH! Jerit nya dalam hati.
ALAMAK, KESIANGANNN!!!
Secepat kilat dia membuka baju dan melempar asal, kemudian membuka lemari baju dan menarik salah satu kaos lengan panjang. Tak lupa dia mencuci muka dan gosok gigi agar tak bau. Malu dong nanti ketemu pangeran netra amber enggak gosok gigi. Hih, apa kata dunia?
Gadis itu memakai deodorant dan sedikit menyemprotkan cologne, Karena apa? Gadis manis itu tidak sempat mandi. Biarin bodo amat, pikir gadis itu cuek. Cepat-cepat dia melilit syal ke leher jenjangnya, lalu memakai jaket tebal. Tak lupa boots coklat kesayangannya dia pakai. Tas dan buku sudah di tenteng di tangan. Yak, lets goh!!
Gadis itu berlari sangat kencang. Kelas mana kelas? Aduh jangan sampai terlambat!, pekiknya dalam hati. Mulut gadis manis itu komat kamit memohon pada Kami-Sama semoga pria wajah datar nan aduhai itu terlambat masuk kelas, entah mogok kek, kebelet kek, sakit kek eh jangan, jangan sakit. Yak, kelas sudah dekaattttt!!!
BRAKK
Gadis biru kelabu itu mendobrak pintu kelas. Napasnya terengah-engah, kedua tangannya memegang lutut, kepalanya menunduk ke bawah bahwa hari ini terjadi olahraga kilat dari tempat kosan ke kampus.
"YESS! Aku ga terlambat, horee!" gadis netra biru kelabu itu mengepalkan tangan kanan ke atas. Air mukanya bahagia.
"Kata siapa?"
Mata nya membulat, wajahnya pucat pasi. Ketika dia melihat siapa yang bicara barusan, mata indahnya hampir loncat keluar melihat keberadaan orang itu tak jauh dari dia berdiri.
"P-pak Sesshomaru…" bibirnya bergetar mengucapkan nama itu. Pria bertubuh atletis itu benar-benar tampan, hanya memakai kemeja putih lengan digulung batas siku, vest warna abu, dasi biru navy, dan celana dengan warna yang sama denga vest nya. Sepatu mengkilat, pasti dia menyemir semalaman.
"Maaf saya terlambat…"
"Higurashi." Wajah datar itu sama sekali tidak ada emosi ataupun kesal. Nampak pria ini menikmati tontonan gratis yang ia dapat dari gadis manis itu. "Ambil kursi kosong, lalu kau duduk disini." Nada tegas pria itu tak bisa dibantah. Cepat-cepat dia mengambil kursi kosong, lalu duduk sesuai yang diperintahkan pria itu.
"Di-disini, Pak?" Tanyanya ragu-ragu. Ini kan di depan meja dosen? Pikirnya.
"Mau nurut atau—" belum selesai pria itu bicara, ia sudah memotong duluan.
"NURUT PAK!" sahutnya takut-takut. dengan cepat dia mengeluarkan bukunya. Matanya mengerling ke teman-temannya. Nampak diantara mereka cekikikan. Entah apa yang ditertawakan mereka. Dia hanya mengangkat bahunya saja. Biarin deh, pikirnya.
"Higurashi."
"Y-ya Pak?"
Pria itu menghela napas panjang. Tangan kanan pria itu memijat pelipisnya. Sambil menggelengkan kepala dia perkata,"Itu sisir di atas rambutmu, kenapa sampai ikut ke kampus?"
Oh my gosh!
Kedua tangannya meraba-raba mencari sisir keramat itu. Aduh kenapa sampai nyangkut di rambutku? Keluhnya dalam hati. Dengan secepat kilat dia menaruh sisir dalam tas dan menyisisr hanya menggunakan kedua tangannya. Suara tawa membahana riuh di jam pelajaran sejarah. Semua mata tertuju pada salah satu objek yang duduk di dekat meja dosen. Dia malu setengah mati, sekejap saja dia ingin memakan meja dosen gantengnya itu. Mata indah melirik sekilas pada dosen yang bernama Sesshomaru. Dosen itu tersenyum, tapi sayangnya, senyum itu hanya bisa dilihat pakai kaca pembesar, buka kaca make up. Fix! Dia ingin mendaftar senyum langka itu ke UNESCO, agar dilestarikan dan diingat sepanjang masa.
"Pak, Kagome dihukum aja pak!" teriak mahasiswa pakai kacamata.
"Eh jangan Pak, Disuruh ngepel aja!" timpal mahasiswi berambut pendek dan chubby.
"Suruh dia traktir sekelas aja Pak! Hahahahha."
Gadis yang sedari tadi diam saja, nampaknya sudah mulai kesal. Tanpa sadar dia berteriak, "KALIAN SEMUA MINTA DIKUNYAH YA SAMA AKU!?" tatapan gadis itu mengerikan sehingga teman-temannya itu jadi urung mengganggunya.
"Kalian ini mau belajar atau tidak!" suara baritone nan dalam tapi tegas memberi tatapan menusuk ke semua mahasiswa/i nya. Wajahnya datar, tetapi itu tidak akan mengurangi kharismanya. Aura Sesshomaru ini sangat kuat, sehingga semuanya jadi patuh kepadanya. Tak terkecuali Higurashi Kagome. Gadis itu makin ciut nyalinya.
"MAU, PAK."
"Hn. Ayo lanjutkan."
Kagome menghela napas lega. Akhirnya dia sudah tidak dipermalukan lagi di depan kelas. Kagome menyimak pelajaran yang diberikan oleh dosen gantengnya, Sesshomaru. Mata itu terkunci pada sosok tubuh berlekuk ramping apabila dilihat dari belakang. Tubuh itu sangat seksi dimata Kagome. Ketika dia membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu, terlihat jelas dadanya yang bidang. Kagome menghayal, pasti enak deh sendaran di dada bidang itu. Serasa dilindungi. Ahh, pikiran gadis itu mulai liar, kalau dipeluk enak kali ya, pasti perutnya kayak roti sobek.
"Higurashi."
Pria netra amber itu memanggil dirinya. Kagome terkejut dan sedikit tergagap. Takut dihukum, dia menjawab dengan cepat.
"Tubuh Bapak sangat hot."
Kagome membekap mulutnya. Wajahnya panik ketika netra amber itu menatap dirinya datar menyipit. Gadis itu hanya menunduk, tak kuasa ditatap intens seperti itu. Aduh, aku kenapa sih? Mampus deh tamat riwayat aku, keluhnya.
"Waktu istirahatmu dipakai untuk mengikuti pelajaranku. Itu hukumanmu."
Jawaban final tak bisa dia elak. Gadis itu hanya mengangguk pelan menerima nasibnya nanti. Mana tabuh genderang di dalam perut sudah bernyanyi minta diisi. Yah, sudahlah ...
Tinggallah kagome seorang diri tatkala teman-temannya sudah keluar kelas. Kagome mau beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?"
"Eh?"
"Duduk lagi disini, di depanku."
Ya, Pak." Maksud hati Kagome mau pindah tempat duduk agak jauh supaya perutnya tidak bernyanyi ria, dengan langkah gontai dia duduk lagi di depan pria itu.
Baru saja Seshhomaru itu membuka suara, kedua alisnya bertemu di tengah. Telinganya mendengar bunyi yang tidak asing. itu berasal--
"Itu suara perut saya, Pak." Kagome memandang dosennya takut.
Sesshomaru tetap memasang wajah datar. Walau sedikit terganggu karena terusik oleh gadis itu.
"Maaf, saya izin ke kantin dulu beli roti."
"Jangan."
"Eh, kenapa?" tanya Kagome. Namun nyalinya jadi ciut melihat tatapan tajam pria itu.
"Nanti kau kabur."
Kagome tertegun. Baru kali ini dia melihat wajah dosennya itu sedikit ... marah. Selama ini kan wajahnya datar kayak ubin. Netra emas itu memandangnya. Kagome salah tingkah, untuk menutupi kegugupannya dia berkata, "Bapak jangan khawatir, saya menyuruh teman untuk membeli roti di kantin." Melihat dosennya diam saja, Kagome jadi gemas sendiri. Tapi akhirnya menganggukkan kepala juga.
Akhirnya, Kagome belajar dengan dosennya, Sesshomaru. Cuma berdua lho, berdua! Yang baca ini jangan iri ya.
Sesshomaru menerangkan pelajaran sejarah jaman feudal. Gadis itu menyimak dengan seksama. Pria itu yang awalnya cemberut tapi sudah biasa lagi wajahnya, datar. Kalau lagi begini kelas benar-benar damai. Asikk, hihihihi…
"Kenapa kau tertawa?"
Kagome gelapagan. Rambutnya dia selipkan di belakang telinga. sambil tersenyum masam dia berkata, "Eh? Oh enggak kok Pak."
"Jam ditambah sampai malam!"
"Yah, Bapaakkk…" erang Kagome dengan tatapan nelangsa. Kali Ini dia sudah membuat Sesshomaru kesal.
TBC.
Author Note: Yihaaaaa! aku balik lagi.
Readers: balik lagi sana gih!!
Yoyo…gimana part ini? aku ga tahu dah gimana bisa seperti ini. isengku lagi kumat.
Part selanjutnya gimana ya? Apa Inuyasha dimunculkan?
Inuyasha: waktunya gue beraksi. Azeekk!
Author: Ehh nanti aja kalo gitu belum waktunya dimunculkan.
Inuyasha langsung menggaruk cakarnya ke dinding*
Terima kasih sudah menyempatkan baca cerita saya ini. hehehe.
See you soon. Salam kecup manjahh.
