If I Could Fly by joe Satriani.

Kampus tampak sendu, hujan masih saja turun dari atas langit. Beberapa mahasiswa mahasiswi berlari menuju kampus untuk menghindari hujan. Hawa dingin terus menusuk kulit. Gadis manis itu terus berlari, ada pelajaran tambahan yang harus gadis itu ikuti. Demi apa? Dosen killer Suikotsu menyuruhnya datang pagi sekali. Untung hari ini mata kuliah Kebudayaan, jadi buat Kagome tidaklah sulit. Kelas agak sepi, beberapa orang saja yang mengikuti pelajaran tambahan. Sementara itu, Kagome mengambil roti dari dalam tas untuk mengganjal perutnya. Tugas kuliah menguras pikirannya semalam suntuk sehingga tidak sempat sarapan.

Dengan mata menatap bosan, Kagome hanya menyimak dan tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan dosen itu. Pikirannya sudah kemana-mana. Gadis manis itu ingin tidur secepatnya. Ketika jam pelajaran sudah selesai, gadis itu melesat keluar kelas. Matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Gadis itu ingin cepat sampai ke apartemen nya.

Seorang wanita berparas cantik memasuki koridor kampus. Gadis manis bernetra biru kelabu itu melambatkan lari nya. Dia begitu terpana memandangi sosok wanita ayu, bertubuh semampai, kaki jenjangnya yang ditutupi oleh stocking hitam, bibir dipoles lipstick merah , memakai kemeja merah dan blazer ungu panjang selutut, rok mini berwarna ungu. Semua mata tertuju pada wanita itu. Sepatu stiletto hitam anggun mengimbangi jalannya.

'Siapa dia?'

Saking terpana nya Kagome tidak melihat ke depan, karena pandangannya fokus kepada satu objek sehingga--

JEDUG

"Argh!" pekik Kagome sambil mengelus-elus keningnya yang terantuk pintu koridor. Karena terantuk cukup kuat, gadis itu sampai terjengkang. "Aduhh, sakit sekali," keluh gadis itu. Dia juga mendengar pekikan kecil dari wanita itu. Oh, ternyata dia jatuh, hak stiletto nya copot sebelah. Wanita itu meringis kesakitan, sepertinya kakinya keseleo. Kagome merasa kasihan, wanita itu jadi bahan tertawaan mahasiswa yang kebetulan melihat dia jatuh. 'Salah sendiri sih kenapa pake sepatu hak tinggi,' sungut Kagome dalam hati.

Tanpa pikir panjang ia berjalan mendekati wanita cantik itu. "Nona tidak apa-apa?" Kagome hendak mengulurkan tangannya untuk membantu nya berdiri. Namun wanita canti itu menepis uluran tangannya.

"Don't touch my hand!" mata gadis itu membulat tatkala ia berkata seperti itu seolah-olah gadis yang menolongnya ini benalu. Hatinya menjadi panas mendengar wanitu itu berkata.

"Dasar sombong," gumam gadis manis itu. Amarahnya mulai naik.

"Kalau begitu saya pemisi dulu." Kagome menyibakkan rambutnya hitam legam dan berlalu dari hadapan wanita sombong itu. Hatinya dongkol setengah mati. Dalam hatinya berteriak, 'dasar wanita sombong! Emangnya aku kuman apa?'

"Hei you, help me!"

Kagome berhenti sejenak, memejamkan kedua matanya dan menghela napas. "Demi dewa Loki (Loki: siapa yang manggil gue barusan?), apa lagi?" rutuknya pelan.

"Help me!" teriak wanita cantik namun sombong itu. Tetapi sayang, gadis yang dimintai tolong tidak menggubrisnya.

Kagome yang hatinya sudah keburu dongkol meninggalkannya. Kantuk yang mendera tadi menghilang seketika.Telinganya masih mendengar dengan jelas ketika wanita sombong itu berteriak memanggil. Astaga! Suara nya jelek dan cempreng sekali. Tolonglah hamba, Dewa Loki (Loki: apa lagi sih?).

Dengan langkah besar-besar dan aura nya sangat tidak mengenakkan, gadis itu berkata, "WHAT!?" wanita itu terperangah dan bibir merahnya terbuka sedikit. Gadis di hadapannya itu membentaknya. Mata indah nya melotot. Wanita bermanik merah jadi ciut nyalinya.

"Tadi Anda tidak mau saya tolong kan? Minta tolong saja sama orang lain jangan sama aku!" wanita itu mau membuka mulutnya tapi tidak jadi, karena mata Kagome jadi seram. "Anda paham kan perkataan aku barusan?"

Kagome tersentak dan menutup mulutnya. Celakanya, dia membentak wanita yang tidak dia kenal. habisnya, mau ditolong eh, tangan ditepis. Maunya apa sih? kan jadi kesal.

"Sebaiknya kau bisa berdiri sendiri, Nona Kagura. Kakimu baik-baik saja."

Kagome terperanjat dengan suara di belakangnya. Dia kenal dengan suara itu. Baritone nan dalam namun berwibawa. Kagome segera menoleh kearah sumber suara. Wajah datar itu tidaklah berubah. "P-Pak Sesshomaru?"

Sesshomaru hanya mengangguk pelan, netra ambernya menyipit ketika dia melihat ada benjolan kecil di keningnya dan mengeluarkan liquid merah.

'Sepertinya gadis ini tidak sadar,' pikirnya. Sesshomaru langsung menarik tangan sang gadis dan membawanya ke suatu tempat.

"He-hei, aku mau dibawa kemana?" Tanya sang gadis panik.

"Ke rumah sakit."

"APA!? Eh, tunggu dulu. Aku tidak mau!"

Pria berambut silver ini menghela napas. Dia berbalik dan menatap gadis di hadapannya. "Keningmu benjol dan berdarah," ucapnya singkat. Tangan kanan Kagome reflek memegang keningnya dan oh- benar ada darah.

"Darah!?" pekiknya. Dosen tampan nya meraih tangan sang gadis, namun suara cempreng itu memanggilnya.

Sesshomaru ... Tolong aku, kakiku keseleo," suara manja itu sangat menggangu hati Kagome. Ya, entah kenapa mendengar suara wanita bernama Kagura sangat mengganggu hatinya.

Sesshomaru menatap Kagura, datar. Tidak ada emosi di wajah tenangnya. Sangat berwibawa. Kagome sangat menyukai kewibawaan yang dimiliki pria tampan di sebelahnya. "Kakimu tidak keseleo," sahutnya sambil berlalu dari hadapan Kagura.

Sepasang muda mudi itu keluar dari rumah sakit. Untunglah luka di kening Kagome tidak terlalu parah. Supaya Kagome tidak takut dengan suasana rumah sakit, dosen di sebelahnya mengusap bahunya agar gadis itu merasa tenang. Kepalanya sedikit pusing jadi jadilah ia dituntun oleh pria cakep ini.

"Pak Sesshomaru," panggil Kagome. Pria bertubuh tegap berbalik menatap dengan pandangan bertanya.

"Bapak kenal wanita bernama Kagura tadi?" tanyanya penasaran. Dalam hati ada sepercik rasa aneh mendengar dosen di sebelahnya mengenal wanita bernetra merah.

"Kenal."

"Kok aku tidak pernah melihatnya?"

Sesshomaru tahu, gadis di sampingnya tidak menyukai Kagura. Dari nada suaranya saja sudah jelas. Namun, Kagome tidak menyadari akan bahaya yang akan dihadapinya suatu saat nanti.

"Dia baru datang hari ini, menggantikan Totosai yang sudah pensiun," ucap Sesshomaru datar.

Kagome hanya bisa ber- Oh saja.

"Dia akan jadi dosenmu."

"Apa!?" Seketika saja kepala Kagome berdenyut. Matilah aku!

Sesshomaru melirik dari sudut matanya. Sudut bibirnya terangkat sedetik lalu kembali seperti semula.

"Kagome?"

Yang dipanggil menoleh. Alangkah terkejutnya dia, wanita paruh baya ini tepat di hadapannya. "Ma-Mama? Kenapa Mama ada di rumah sakit?"

"Mama mau kontrol, Nak. Kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan dirimu dan keningmu ..."

"Tidak apa-apa, Mama. Ada benjol di keningku dan mengeluarkan sedikit darah. Tapi sudah ditangani kok." Kagome berusaha menenangkan Mamanya yang panik.

"Anda ini ..." sudut mata sang Mama melirik pria jangkung di samping anaknya. Sadar, pria itu menganggukkan kepalanya, sekali.

Menyadari tatapan Mama nya ke pria di sampingnya, Kagome langsung menyela. "Dia bernama Sesshomaru. Dosen aku, Ma," timpalnya. Wanita ayu itu hanya menganggukkan kepalanya.

"Kalian romantis sekali, Mama senang dapat calon menantu se tampan ini."

"MAMA," wajah gadis manis itu merah padam. Pria di sebelahnya memberikan tatapan bertanya. Setelah dijelaskan baru lah muka pria itu kembali datar. Benar-benar kayak ubin.

Sang Mama hanya tertawa menggoda anaknya. "Mama hanya bercanda saja."

"Yuk, aku antarkan Mama pulang. Hm, Pak Sesshomaru, sampai disini saja. Terima kasih sudah mengantar saya. Kalau begitu, saya permisi pulang dulu," Kagome membungkuknya tubuhnya dan mengucapkan terima kasih.

"Kagome."

Kagome mendongakkan kepalanya. "Ya Pak?"

"Aku akan mengantar kalian pulang."

TBC.

Yuhuuu kembali lagi dengan saya disini. Wahahahah sudah tahu kan siapa yang aku munculkan?

Readers: Kagura jelek!!! Sok anggun!!

Kagura: oyy enak aja bilang aku jelek!

Maafkan agak ngaret, maklum agak sibuk dikit. hehe.

Inuyasha: halah sok sibuk.

Author: Apa Loe? Apa?

Inuyasha: enggak, enggak.

Terima kasih banyak bagi yang sudah baca fic ini. Maafkan kalau ini agak berjalan lambat.

Terima kasih juga untuk AmetoAi atas semangatnya. Aku terharu banget. Dahal gaya tulisanku ringan kek ditiup angin, belum bisa yang mendayu-dayu. Malah ga berasa gitu, hehehe Tetap ikuti ya perkembangan mereka.

arigatou Gozaimasu *bow*

Peloks Ame