Crystal Planet by Joe Satriani
"Om pacarnya kak Kagome ya?"
Sesshomaru terpaku bagai patung. Manik emas itu menatap datar anak kecil di hadapannya. Pria itu sudah disambut celoteh adik Kagome. Sedangkan Kagome terkejut, matanya membelalak. Dia menghampiri dan membekap mulut adiknya, Souta.
"Souta! Kau tidak boleh bicara begitu!" hardik Kagome. Souta hanya mengerucutkan bibir sambil menggembungkan kedua pipinya.
"sudah, sudah, kalian berdua," Mama melerai kedua anaknya yang hampir bertengkar. "Silakan masuk, Tuan Sesshomaru".
"Hn".
Hari ini Sesshomaru berkunjung ke kampung halaman Kagome. Awalnya Kagome menolak diantar oleh Sesshomaru. Tetapi Sesshomaru memaksa, dengan alasan ingin mengunjungi teman. Gadis manis itu tidak ingin merepotkan dosennya yang tampan ini. Dan akhirnya ia menyerah. Seringai di sudut bibir Sesshomaru muncul. Sekarang ia sudah berada di rumah Kagome.
Sesshomaru, kenalkan. Ini kakekku, dan itu adikku Souta." Kagome memperkenalkan anggota keluarganya.
"Senang anda mau berkunjung kesini, Tuan Sesshomaru," sapa kakek ramah. Bagaimana kabar Inukimi Sama?
"Sehat," jawab Sesshomaru pendek.
Pria bersurai silver itu membungkukkan tubuhnya sedikit sebagai penghormatan orang tua.
Sang kakek mempersilakan pria itu duduk. Menurut, ia mengikuti perintah si kakek tua. Manik emas mendengarkan pria paruh baya bercerita tentang bonsai-bonsainya. Tak lama, matanya beralih melihat Souta adiknya Kagome sibuk bermain dengan kucing bertubuh gendut.
"Baru kali ini aku melihat kucing segendut itu. Apa kucingnya tidak pernah olahraga?" batinnya.
Sementara kakek dan Souta sibuk dengan kegiatannya masing-masing, pria itu memperhatikan gadis bersurai hitam bersama Mama nya di dapur. Netra emas itu tak berkedip, gadis manis itu sangat cekatan memotong sayur dan buah. Tangan kirinya menopang dagu sambil memperhatikan gadis itu memasak. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Mama," bisik Kagome. Wanita itu datang mendekati putri sulungnya. "Ya?"
"Kok kakek kenal ama Sess-ish-Pak Sesshomaru?" tanya Kagome. Rasa penasarannya bertambah tatkala dia menoleh ke belakang si kakek bercengkerama dengan Seshomaru.
"Kau tidak sopan sekali, Kagome. Dia dosenmu," tegur Mama.
"Maaf, Ma," jawab Kagome. Matanya tetap fokus memotong sayuran.
"Oh, kau penasaran ya? kenapa tidak tanya saja ke Pangeranmu?" Mama menahan tawa. Senang sekali menggoda anaknya.
"Mama, dia bukan pangeranku, sama saja aku tidak sopan. lagipula aku mahasiswi nya. Tidak ada hak untuk bertanya pribadi." Dalam hati Kagome menjerit senang. Siapa sih yang tidak mau sama Pengeran Es? Wajah yang tadinya senang sekarang murung. Mana mungkin itu terjadi? Kagome sangat tahu diri.
Mama hanya menggeleng. Wanita ayu itu menoleh ke belakang. Bibirnya menyunggingkan senyum. Pria berambut silver itu menatap intens anak perempuannya. Entah kenapa akhir-akhir ini putra sulung Inukimi lumayan sering berkunjung ke rumah. Wanita itu yakin dia tertarik dengan Kagome.
"Inukimi-Sama pernah datang ke kuil kita. Kalau enggak salah sih sendirian. Sempat juga ngobrol dengan Mama."
Kagome menoleh. Kedua alis hitamnya terangkat. "Benarkah? kapan?"
"Kau lagi di kampus waktu itu."
"Ibunya Pak Sesshomaru cantik?" Mata Kagome berbinar.
"Sangat cantik dan awet muda," ujar mama sambil mengaduk dan mencicipi masakannya. "Ikannya sudah matang?" yang ditanya hanya mengangguk. "Ayo kita menata meja.
Pandangan Sesshomaru beralih ketika Souta menyodorkan teh panas. sebagai tanda terima kasih Sesshomaru mengangguk. Manik amber itu menatap Souta duduk di hadapannya.
"Om ini beneran pacarnya Kak Kagome?" tanya Souta penasaran.
Alis Sesshomaru terangkat. "Kenapa?"
Souta mengibas tangannya. "Jangan."
Alis pria itu bertemu di tengah. "Jangan?"
"Sini Souta bisikin". Menurut, Sesshomaru mencondongkan tubuhnya ke arah Souta. "Kak Kagome itu males mandi. Bangunnya suka siang. Terus suka ngepet kalau hal lain."
"Ngepet?" Baritne Sesshomaru makin berat.
Sadar akan salah pengucapan Souta cepat berkilah. "Maksudku mepet, he he he."
Manik emas itu menatap tajam Souta. "Ada lagi?"
"Ada, dong. Kak Kagome itu tomboi. Seperti laki-laki." pandangannya beralih pada sosok makhluk imut yang ingin minta digendong. "Nah, ini kucing kesayangan Kak Kagome."
Kini Sesshomaru jadi sedikit lebih mengetahui tentang Kagome berikut kemalasannya. Dia teringat pertama kali di kelas gadis itu bukannya menjawab pertanyaan dengan benar, melainkan ... '
'Tubuh Bapak hot.'Tentu saja seisi kelas jadi geger gegara ulah Kagome. Berbagai cacian dan pembelaan yang perempuan itu terima, karena Sesahomaru tahu sebagian tidak menerima Kagome. Hanya gadis itu berani berkata seperti itu. Sesshomaru menepis sepercik rasa aneh di dalam dada.
"Makanan sudah siap …"suara lembut dari sang Mama membuyarkan lamunannya. "ayo kita makan dulu, Tuan Sesshomaru."
"Hari ini menunya ikan sanma, sup pangsit, tumis sayur dan acar lobak …"sahut Kagome ceria.
"Wah ikan sanma," timpal sang kakek.
"Maaf hari ini menu makan siang ala kadarnya, ujar wanita itu lembut. Sesshomaru hanya mengangguk.
"Selamat makan."
Netra emas melirik kakek, Mama dan Souta makan. Tetapi dia juga memperhatikan Kagome makan dengan … cepat dan lahap.
'Makannya cepat sekali, apa enggak kelesek tuh?' batin pria itu.
"Kak, makannya pelan-pelan donk." Souta terlihat protes dengan kakaknya.
"Biarin, kakak lapar."
"Masa di depan tamu makan seperti itu?" timpal Mama.
"Pak.Sesshomaru saja tidak masalah, Ma." Matanya melirik sekilas pada pria di hadapannya. Tapi mata itu cepat mengalihkan ke arah lain, karena pria itu juga sedang memperhatikannya.
"Kalau kau makan seperti itu, nanti Sesshomaru tidak mau sama kamu lho." Perkataan sang kakek sukses membuat Kagome menoleh ke arah kakek sambil melotot.
"Om, kok bisa suka sih sama kak Kagome?" pertanyaan polos adiknya sukses membuat Kagome terbatuk-batuk. Tangan kanannya langsung meneguk teh hangat. Sang mama tertawa kecil.
"Heh! Jangan ngomong sembarangan ya, Souta! Pak Sesshomaru, jangan dengarkan dia."
"Tidak apa-apa. Om suka kok karena kakakmu makannya banyak."
Rahang gadis itu jatuh kebawah. "Nih orang lagi ngelawak atau enggak sih? Muka datar kayak ubin kampus kok bisa-bisanya bicara seperti itu" sungut nya dalam hati.
"oh syukurlah kalau begitu cucuku sudah laku, hahahahahaha!"
Wajah Kagome sudah merah padam. Ingin rasanya gadis itu memarahi kakeknya. Tapi urung tatkala Mama menyikut pinggang rampingnya. Gadis itu hanya mendengkus kasar melihat kakek dan Souta tertawa terbahak-bahak, menertawakan dirinya. Sedangkan pria tampan itu tersenyum. Sedikit. (Senyum sedikit saja sudah tampan apalagi banyak, ya.)
Suasana makan siang ini sangat ceria. Pria berwajah datar itu sangat menikmati canda dari keluarga gadis itu. Sesekali ia menimpali candaan sang kakek walau itu versinya dia. Sungguh, ia sangat menikmati suasana seperti ini. Tidak ada jarak di antara mereka. Semuanya tampak akrab dengan dirinya. Keluarga yang hangat ...
Ia jadi teringat. Ibunya jarang ada di rumah. Sibuk dengan urusan pekerjaan di luar negeri. Di rumah ia hanya makan seorang diri. Ia ingat kapan terakhir kali sang ibu makan dengan dirinya.
"Om, ini teh nya," souta menyodorkan segelas ocha hangat. Lagi-lagi pria ini hanya mengangguk saja.
Ohya, Om sejak kapan akrab dengan kak Kagome?"
Sesshomaru baru saja membuka mulutnya, Kagome sudah berdiri di belakang, tangan kanannya menjewer telinga souta, tangan kirinya mencubit pipi adiknya .
"SOUTAAAAA! Kau minta digigit ya sama Kakak!?"
"Aww, awww adududuhh syakiittt…"mata souta berair sambil meringis.
Rasakan itu, bocah!" Kagome menyeringai puas.
Pria tinggi itu hanya terpana melihat adegan yang—kekanak-kanakan baginya. Tawa pria itu tertahan di dalam dadanya.
"Kagome, kau itu lucu," baritone pria di hadapannya membuat gadis manis itu menoleh.
"Iya Om, Kakak memang lucu. Kayak kucing gendut yang disana," tunjuk Souta. Yang ditunjuk sedang mendengkur manis.
"Hah apa!?" gadis manik biru keabuan hendak menjewer telinga adiknya, namun ditahan oleh pria baritone seksi itu, memperlihatkan lesung pipinya.
Lagi-lagi Kagome terpana dibuatnya. Baru kali ini ia melihat pria tampan itu sedikit—tersenyum. 'Dia sangat tampaann!' batin gadis itu menjerit.
Hari sudah mulai senja, Kagome dan Sesshomaru pamit untuk kembali ke kota. Besok ada mata pelajaran yang mengharuskan gadis itu bangun pagi. Di sepanjang perjalanan Kagome banyak diam. Manik biru keabuan memandang pemandangan. Ekor mata pria itu memperhatikan gadis di sebelahnya.
"Kau melamun apa?"
Kagome tersentak. "Ah, tidak apa-apa." Tangan kanannya menyelipkan anak rambut di telinganya.
"Kalau kau rindu, aku bisa mengantarmu."
"Ah, tidak usah repot-repot pakeh Sesshomaru, aku bisa sendiri kok" meremaskan kedua tangannya, gugup.
"Tidak baik seorang gadis pulang sendirian, apalagi tidak ada yang mengantar. "
"Enggak usah. Sungguh. Aku bisa jaga diri. Lagipula bapak kan sibuk mengajar," kilah Kagome.
Suasana dalam mobil hening. Tidak ada yang bicara. Tapi tidak lama. "Keluargamu menyenangkan, Kagome."
"Terima kasih, Sesshomaru," ucap gadis itu tulus. Tiba-tiba gadis manis tu teringat sesuatu. "Eh, katanya Bapak mau mengunjungi teman?"
Pria tampan hanya menghela napas. "Tidak jadi. Keluargamu lebih penting."
Kagome menoleh. Biru keabuan bertemu manik emas. Ia mencoba menerka di balik netra emas, apakah pria ini berbohong atau tidak. Tetapi nihil. Pria ini serius dengan ucapannya.
Mobil sedan hitam berbelok ke toko souvenir. Sesshomaru menyuruh Kagome menunggu saja di dalam mobil. Tak lama pria itu sudah masuk kembali ke dalam mobil dan segera berlalu.
Hari sudah larut malam, mereka sudah di depan apartmen kecil milik Kagome. "Terima kasih banyak sudah mengantarkanku, Sesshomaru," Kagome membungkukkan tubuhnya.
"Hn." Tangannya merogoh sesuatu dari kantong celananya.
"Ini."
"Eh, apa ini?"
"Happy white day, Kagome."
Gadis manis bersurai hitam membuka kota beludru biru kehitaman. Mata indahnya terbelalak.
"Semoga suka." Sesshomaru pamit dan berlalu.
Kagome tidak bisa berkata apa-apa. Ini terlalu mendadak. Hatinya berdebar kencang. Tangan mungil gemetar meraih sesuatu di dalam kota beludru.
"I-ini ..."
TBC
Auhtor note: hai hai haiii…..apa kabar kalian semua? Gomen gomen membuat kalian menunggu lama dengan fic ini. aku harap kalian suka ya. Btw apa kalian bisa menebak apa isi kota beludru itu? Huehehehehehe
Teruntuk AmetoAi, terima kasih banyak sudah komen ceritaku ini. peloooks jauh. Pokoknya Ame sehat selalu dan kita ramaikan fandom Inuyasha terutama pair kesayangan kita, SessKag.
See you next chap.
