Jumat kemarin Kagome pulang ke rumah. Hari libur waktunya untuk leha-leha. Kagome sangat senang. Gadis manis itu menghabiskan hari-harinya ke Mall, berbelanja ke supermarket terdekat dengan sang Mama, atau mengunjungi teman semasa SMA.

Kagome mendorong troli. Belanjaan hampir penuh. Kedua alisnya bertaut di tengah. Ini aneh, biasanya Mama tidak pernah belanja sebanyak ini. "Mama," panggil Kagome.

Wanita ayu itu membalikkan tubuhnya menghadap anaknya. "Ya, Kagome?"

"Mama kok belanjaannya banyak amat? enggak biasanya deh." Kagome mulai mengecek belanjaan di kertas catatan yang dia bawa.

Wanita bernama Hitomi itu menggaruk pipinya. "Ini buat persediaan, hehe. Karena kau libur jadi Mama ingin membuat masakan yang paling enak."

'Senyum yang dipaksakan, pasti ada apa-apanya nih,' batin Kagome. Mata biru keabuan itu membelalak, ada es krim kesukaannya. "Kyah, akhirnya Jamoca Almond ketemu juga!"

"Kau senang sekali hari ini, Kagome," timpal Mama.

"Jelas dong, Ma. Es krim ini kan jarang ada. Di dekat kampus mahal. Dan ini ... lagi diskooon!! Kyaaah senangnya!" Kagome memekik bahagia. Dia tidak peduli orang-orang memperhatikan tingkahnya. Bagi Kagome pokoknya senang dapat es krim enak.

"Kami pulang!"

Kagome sibuk melepas sepatu. Sedangkan Mama beranjak menuju ke dapur untuk meletakkan belanjaan. "Souta, tolong bantu Mama."

Kagome mendecih. Itu bocah tidak mengindahkan panggilan Mama, tangannya sibuk memainkan ponsel. Dia sedang apa sih? kok sambil ketawa gitu? "Souta, kau dipanggil Mama. Cepat sana!

Bocah itu gelagapan. Tangannya memasukan ponsel di saku celananya. "Iya, iya!"

"Dasar bocah!" gerutu Kagome.

Di dalam kamar mandi Kagome berendam air hangat. Sesekali gadis itu menghela napas. Sekelebat bayangan dosen tampan berwajah datar melintas di pikirannya. Wajah Kagome merona. Aduh, kenapa wajah dia yang kebayang sih? bukan Inuyasha?

Bicara tentang Inuyasha, sebenarnya dalam kecil Kagome belum bisa melupakan pemuda itu. Walau omongannya suka kasar, tapi dia pemalu. Gara-gara selingkuh dengan perempuan yang mirip dengannya, Kagome jadi benci. secepat itu juga memutuskan hubungan yang sudah berjalan hampir tiga tahun.

Iya, tiga tahun!

Bukan waktu yang sebentar. Kagome tidak menghitung entah berapa puluh kali bertengkar. Capek memang. Heran, kenapa bisa bertahan ya. Lagi-lagi gadis berambut panjang hitam legam mendesah sambil menekukkan kedua kaki ke dada.

Tanpa sadar Kagome mengangguk, mungkin keputusan untuk berpisah dengan Inuyasha adalah hal yang paling tepat. Buktinya? dia malah ditolong oleh pria berambut silver panjang, wajah tampan, badan atletis. Lagipula, laki-laki itu dosen sejarahnya.

Dadanya berdegup kencang, tatkala dia melamun dan kepergok oleh pria bernama Sesshomaru. 'Bodi Bapak aduhai'. Sontak saja seluruh kelas riuh. Kagome menutup wajahnya karena malu. Namun, di balik telapak tangannya mata abu kebiruan itu melihat dengan sangat jelas, wajah pria itu sedikit merona, tapi ketutup oleh raut mukanya yang datar.

Nah sekarang Kagome baru menyadari, belakangan ini dosennya itu sering mengantarnya kerumah. Pulang dan pergi. "Pak Sesshomaru, bapak sedang apa?" gumamnya. Kagome menepuk keningnya, ponselnya dia matikan. Pantas saja tidak ada pesan masuk. Bodohnya ...

Ditambah tempo hari pria itu memberikan kotak beludru. Hampir saja hati Kagome berbunga-bunga. Namun, nasibnya tidak beruntung. Ternyata kalung untuk Buyou. Kenapa musti Buyou sih?

Keluarga kecil itu sedang asyik menonton televisi. Kakek sibuk berceloteh mengenai berita tentang harga cabe naik meroket. Souta seperti biasa sibuk dengan ponselnya. Mama sedang cuci piring. Kagome turun dari kamarnya membawa sesuatu. Di ruang itu, Buyou sedang mendengkur tenang. Perlahan dia mengalungkan di leher hewan imut tersebut.

Souta menoleh. Bunyi gemericik menarik perhatiannya. "Kakak beli kalung?"

"Hadiah dari Pak Sesshomaru," dengkus Kagome. Jemarinya yang lentik mengetuk meja. Wajahnya menekuk, bibirnya mengerucut.

"Kenapa wajahmu, Kak?" tanya Souta.

"Kukira cincin atau apa gitu, ternyata kalung buat Buyou," gerutu gadis manis itu. Tentu saja ada sedikit kecewa. Ibaratnya sudah di atas malah dijatuhin. Kan sakit ...

"Oh, jadi Kakak kira Om Sesshomaru memberimu cincin? jangan mimpi deh, Kak. Emangnya dia mau sama kakak yang pemalas?" sindir Souta.

Mata Kagome mendelik. Ini bocah mulutnya tajam bagai sembilu. "Heh, bocah, jaga mulutmu!"

"Lho, kok marah? Emang kenyataannya begitu kok," kilahnya. Kagome tertegun, ada benarnya juga. Kemalasan Kagome agak sulit dihilangkan.

Manik abu kebiruan itu menatap acara televisi. Malam minggu kelabu. Uh, bosan. Tangannya mencomot buah ceri yang dibawa oleh Mama. Tangan kirinya merogoh ponsel dari saku celana trainingnya. Ketika dia menggeser tomboh kunci, matanya membelalak. Banyak pesan masuk dan itu dari ...

Sesshomaru!!!

"Pak Sesshomaru!" Teriak Kagome. Dia tidak menghitung berapa banyak panggilan tak terjawab. Waduh, ini gawat. Mampus aku!

"Ada Apa, Kagome?" tanya Mama.

"Enggak, enggak ada apa-apa, Ma." Dadanya berdegup kencang. Wajahnya memanas. Gadis itu mencoba untuk menelpon pria itu. Lagi-lagi tidak diangkat. Kagome merutuk kecerobohannya.

"Paling ponselnya dimatiin sama Kakak."

"Aku lupa mengisi daya batre ponsel, Mama." Kagome mencoba menulis pesan. sayangnya centang satu. Kagome merasa bersalah.

"Hayoloh, Kakak entar dimarahin ama pacar Kakak," goda Souta. Adik bungsu Kagome ini sangat suka sekali menjahili kakak tersayangnya. Rasakan, haha.

Kagome beranjak dari ruang tv menuju kamarnya. Sampai di kamar dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Berapa kali bolak balik Kagome gelisah. Sesekali memandangi ponselnya berharap pria itu membalas pesannya. Kantuk mulai menyerang perlahan manik biru keabuan itu meredup sambil memegang erat ponselnya.

"Kak, bangun!"

Kagome membuka kedua matanya. Teriakan adiknya membuatnya beringsut bangun. Dengan wajah masih mengantuk, dia duduk di tepi ranjang.

"Kak, buka pintunya!"

"Iya, iya, sabar. Kakak udah bangun." Namun Kagome malah merebahkan kembali tubuhnya. Hari minggu di isi dengan bangun siang. Dia tidak peduli, Souta sudah berteriak di luar kamarnya.

"KAKAAAAAKKKK!!!"

Astaga! Tuh anak bisa ga sih ga ganggu bentar? gedoran pintu makin kencang. Kagome menggunakan bantalnya untuk menutup kedua telinga. Kagome beranjak dari tempat tidurnya. Dia melangkah besar-besar dan membuka pintu dengan kasar.

"Souta! bisa ga sih kau ga teriak di depan kamar ka--" Kagome mundur satu langkah, manik biru keabuan membulat. Di belakang Souta berdiri pria jangkung. Rambut silver, mata emas yang menawan hati, wajah datar, siapa lagi kalau bukan ... "P--pak Sesshomaru," desisnya.

Manik emas menghunjam netra biru keabuan. Pria itu terpana, melihat Kagome bangun tidur dengan rambut hitam legamnya berantakan, dadanya tercetak dengan jelas dibalik kaus putihnya alias tidak pakai bra. Celana pendek biru laut sepaha, ada bekas iler di sudut bibirnya. Itu tidak masalah, gadis di hadapannya ini terlihat sangat cantik ketika bangun tidur. Desiran aneh menyergap dada Sesshomaru.

Sadar apa yang dipandang oleh Sesshomaru, Kagome langsung menutup pintunya. Wajahnya merah padam karena malu. Terlebih pakaian yang dikenakan aga tipisz sehingga dua buah dadanya kelihatan sangat jelas. Bagaimana ini? Mau keluar kamar saja dia tidak sanggup.

"Kaaaak!"

"Kagome membuka pintu sedikit. kepalanya menyembul dari balik pintu. Yang benar saja, laki-laki itu masih berdiri di sana! "A-anu, Bapak ke ruang tengah saja dulu. Aku mandi dulu. Okeh?"

"Hn."

Kagome masih menatap punggung dosennya ketika dibawa oleh Souta. Kenapa pagi-pagi ke sini ya? dilirik jam dinding sudah menunjukkan angka sepuluh. Alamak! jerit Kagome.

Kagome keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. tidak sampai lima menit, dia sudah berganti pakaian. Celana pensil berwarna biru laut, dengan atasan baju longgar warna pink muda. Menyisir rambut asal yang penting rapi. Gadis itu berlari menuruni anak tangga. Di sana pria bersurai silver itu duduk dengan tenant sambil menyesap teh hijau.

"Se-selamat pagi, Pak," sapanya takut-takut seperti anak kecil.

"Siang."

Kagome menundukkan kepalanya. Jemarinya sibuk memainkan ujung bajunya. Di Ruang tv hanya mereka berdua saja. Kagome tahu, pria itu menyindirnya. "Maafkan aku, Pak."

Pria itu tidak bergeming. Manik emasnya menatap lurus Kagome. Dalam hati ingin menggoda gadis di hadapannya. Sengaja mendiamkannya. Dasar Sesshomaru, mana mau terang-terangan di depan perempuan yang mulai mengambil hatinya.

"Kemarin aku lupa menyalakan ponsel."

Alih-alih menanyakan, Sesshomaru malah mengambil buku dan selembar kertas dari dalam tas ranselnya. Kemudian membuka halaman yang sudah diberi pembatas.

Alis hitam Kagome terangkat. "Apa ini, Pak?" Kagome mulai tidak mengerti.

"Tidak usah banyak tanya. Kerjakan sekarang juga!"

Perintah dosennya ini tidak bisa dibantah. Kagome segera mengambil bolpoint dan mulai mengisi. Gadis manis itu tahu laki-laki tampan sedang memperhatikannya dengan intens. Menutup kegugupannya Kagome menggenggam pena dengan erat. Matanya membaca cerita tentang awal berdirinya Samurai di Kyoto. Pelajaran tersebut sudah diluar kepala Kagome. Hal yang mudah baginya.

Sementara itu, Sesshomaru memandang gadis manis dalam diam. Aroma yang menguar dari tubuh Kagome menusuk penciumannya.Wangi buah bercampur bunga magnolia. Menyesap harum tubuh Kagomr membuat dirinya terlena. Sudut matanya melirik tatkala Ibu Hitomi masuk membawa nampan berisi cemilan kue kastela dan ocha hangat. Wanita itu mempersilakan Sesshomaru dan dibalas anggukan sebagai ucapan terima kasih.

Kembali ke Kagome ...

Sesshomaru menyesap ocha nya. Pria itu tidak menyangka bisa mengenal gadis aneh ini. Entah berapa kali dia berada di sini. Tentu saja beberapa tahun yang lalu pernah mengantar sang ibu mengunjungi kuil. Entah kenapa Sesshomaru betah bila berada di sini, lebih tenang lagi bila gadis itu ada di depan matanya.

'Konyol'!

Bagi Sesshomaru, dibalik kemalasan dan kecerobohan, Kagome adalah mahasiswi cerdas. Buktinya, gadis itu cepat menyerap pelajaran yang dia bawakan dan nilainya tidak pernah di angka tujuh. Nilai yang didapat selalu sempurna. Sudut di bibir Sesshomaru terangkat mengingat Kagome pernah mengajaknya makan di apartemen sangat kecil. Walau sederhana, itu sangat berarti bagi Sesshomaru.

Senyum di wajahnya menghilang, mengingat gaya hidup Kagome terbilang sangat hemat. Sesshomaru baru mengetahui dari jajarannya untuk masuk kampus bergengsi gadis itu dapat beasiswa. Jauh dari orangtua membuatnya hidup pas-pasan.

"Done!" Kagome merentangkan kedua tangannya.

Dengan wajah datar Sesshomaru memeriksa hasil tulisan Kagome. Mani amber pria itu kembali menatap si pemilik rambut panjang. "Kenapa kau mematikan ponselmu?"

"A-aku lupa menyalakan, Pak."

"Sudah berapa kali kubilang di luar kampus panggil namaku," geramnya.

Oh, maafkan habis sudah terbiasa jadi susah, hehe," Kagome hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Eh, tunggu sebentar rasanya ada yang aneh. 'Kok tahu aku matiin ponsel?'

"Adikmu yang cerita."

Kagome hanya ber-Oh saja. Pantas saja. Dasar Souta, pasti dia bercerita macam-macam tentangnya. Sebenarnya ingin menanyakan suatu hal. Namun, itu tidak sopan. Mengapa dia sering mengantarnya pulang pergi. Kagome jadi tidak enak hati. "Maafkan aku sering merepotkanmu. Mengantarkanku pulang bahkan sampai ke apartemenku. Aku jadi merasa bersalah."

"Kau keberatan?" tanyanya dingin.

"Eh? oh tentu saja tidak. hanya saja aku merasa tidak enak," ujar Kagome pelan.

Sesshomaru melipat kedua tangan di dada. sudut bibirnya terangkat walau sebe ntar. "Bagus kalau begitu."

Hening. Kagome duduk gelisah. Sebentar-sebentar duduknya tidak tenang. Di luar seperti ada yang sedang bercakap-cakap. Pelan-pelan dia menggeser pintu. Sepasang suami istri sebelah rumah mengantar dua dus apel segar. Kagome tersenyum seraya melambaikan tangannya.

"Kagome."

"Ya, Mama." Sesshomaru, aku ke depan dulu."

Sesshomaru mengangguk. Penasaran, pria itu mengintip dari balik pintu geser. Tampak Kagome kerepotan mengangkat kotak dus bergambar apel. Sesshomaru segera bertindak.

"Duh berat sekali," keluh Kagome. Dia menyeret kotak itu ke dapur.

"Biar aku saja."

Kagome menoleh. Sesshomaru sudah berdiri di belakangnya. Agar tidak menghalanginya Kagome mundur ke samping.

"Tolong, ya," pinta sang mama, dibalas dengan anggukan.

"Wah, tampannya!" Seru tetangga.

"Siapa dia?"

"Nemu dimana?"

Astaga, Kagome tersenyum kikuk. Salah sendiri punya wajah tampan di atas rata-rata.

"Dia dosen sejarah Kagome," ujar Mama.

"Wah, sudah punya pacar belum?"

"Eh, anak kita masih jomblo, lho."

"Aku sudah ada yang punya," ujar Sesshomaru datar. Tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Kagome.

Mendengar itu Kagome agak sedikit kecewa. Sudah ada yang punya ternyata ...

"Wah, kok ga dibawa? kenalin dong."

Sesshomaru melirik gadis yang sedang tertunduk. Dengan mantap lengan kanan melingkar bahu mungil Kagome. "Kalian sudah mengenalnya."

Sontak pemilik manik indah itu mendongak. Tak percaya apa yang dia dengar barusan. Berharap ini bukan khayalan atau ilusi semata. "EEH!?"

Dalam perjalanan pulang ke Tokyo, Kagome lebih banyak diam. Biasanya sepanjang perjalanan bibirnya tak berhenti 'berkicau'. Anehnya laki-laki itu sama sekali tidak keberatan.

"Kagome."

"Yya?"

"Kenapa kau diam?"

"Aku sedang mencari bahan obrolan, hehe."

Padangan Sesshomaru lurus ke depan. Fokus menyetir. "Si 'sapi' apa kabar?"

"Sapi?" Ulang Kagome. Rasanya tidak pelihara sapi di rumah.

"Buyou."

"Dia bukan sapi," erang Kagome.

"Mirip."

Kagome merengut. Enak saja kucing kesayangannya dikatain sapi. Hm tapi emang mirip sih. Gendut soalnya. "Sudah aku kalungin di leher hadiah darimu. Terima kasih banyak," ucapnya tulus.

"Hn." Hari ini Sesshomaru mendapat begitu banyak info penting dari adik Souta. Souta bercerita bagaimana gadis itu mengira cincin ternyata kalung untuk Buyou.

"Anu, yang tadi enggak serius kan?"

Sesshomaru tahu kemana arah pembicaraan yang dimaksud gadis itu. "Kau keberatan?"

"Jangan canda."

"Kapan aku bercanda."

Kagome mati kutu. Hayoloh!

"Kagome."

"Ya?" Kagome mati-matian menggenggam erat tas selempangnya.

"Mulai besok, kau akan jadi asisten dosenku."

TBC.

Notes: ga kerasa nulis sepanjang ini. Aku menikmati walau agak berantakan. yang penting tulis aja dulu edit belakangan. Ngoahahahah

Terima kasih untuk AmetoAi dan Guest. Komen kalian membuatku makin bersemangat.

Yuk, kita ramaikan fandom kesayangan kita Inuyasha, terutama pair sepanjang masa SessKag. /buang Inuyasha jauh-jauh.