You Come To My Senses by Chicago

Sesshoumaru memainkan iphone Pro nya berwarna putih. Ponsel kamera bulat tiga di belakangnya dibolak balik oleh tangannya. Alis pria berambut silver bertemu di tengah. Sepertinya ada suatu hal yang mengganggu pikirannya. Seseorang yang dia tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Sudah satu jam Sesshoumaru berada di dalam ruang rektor. Kekesalan sudah mencapai puncak kepala. Tangan mengepal, andai saja Pak Tua itu datang sudah habis tuh wajahnya. Bonyok-bonyok dah.

"Yo, Sesshoumaru."

Pria dipanggil Sesshoumaru tak jua berdiri apalagi membungkuk. Suaranya makin berat, "Lama sekali, Pak Tua!"

"Namaku Totosai, bukan Pak Tua," ujarnya santai seraya duduk menghadap pria jutek.

"Ngaca deh, Pak Tua," Sindir Sesshoumaru dingin. Amber makin tajam menghubus manik bulat hitam Totosai.

Totosai tahu, pria ini tidak suka terlambat apalagi dengan alasan yang jelas. Salahnya sendiri tidak menelpon atau menulis pesan. Wajar saja Sesshoumaru marah. Putra Inu Taisho menjunjung dan menghargai waktu.

"Kau sudah menghabiskan waktuku," desisnya tajam.

Totosai mengibaskan tangannya. "Yayayaya, maafkan aku yang salah. Habis ini aku traktir makan, ya? ya?"

"Aku tidak butuh rayuanmu."

"Yayaya maaf."

"Mau apa kau memanggilku kemari?"

"Wait, kita harus menunggu seorang gadis."

Gadis?

Telinga Sesshoumaru menangkap langkah setengah berlari. Sesshoumaru terkesiap, dia sangat mengenal wangi yang akhir-akhir ini menghantuinya. Aroma buah bercampur Lily menusuk penciumannya.

"Maaf, maaf, aku terlambat. Kelas baru saja bubar." Tampak gadis itu masuk terengah-engah, tak lupa membungkuk. Totosai mengangguk.

"Duduk."

"Higurashi?"

Kagome terkejut. "Lho, kok Pak Sesshoumaru ada di sini?"

"Hn. Aku dipanggil oleh Pak Tua," Ujarnya seraya mengerling sinis.

Mata biru laut Kagome mengikuti objek yang sedang menopang dagu, lalu ke manik Sesshoumaru. Kagome duduk di sampingnya.

"Ada apa Bapak memanggil saya ke sini?" Tanya Kagome sopan.

"Ehem," Totosai terbatuk. "Aku memanggil kalian ke sini untuk membahas study tour bulan depan nanti." Mata bulat Totosai melirik gadis itu sibuk mengeluarkan buku dan balpoint.

"Asistenmu sangat cekatan, Sesshoumaru," puji Totosai, tapi matanya tidak lepas memandang gadis yang tertunduk malu. Tentu saja hal itu tertangkap oleh Sesahoumaru lewat sudut matanya.

"Beberapa hari yang lalu aku memanggil Kagura, Naraku, dan Miroku untuk study tour nanti. Bagaimana kabar ibumu, Kagome?"

"Oh, Mama sudah sehat hanya harus banyak istirahat," senyum Kagome. Gadis itu tak sadar sepasang amber menatap intens. Pemilik mata emas pun tahu Totosai sedang memperhatikan dirinya. Namun, dia tidak peduli.

"Syukurlah. Oya, kau masuk ke Todai jalur beasiswa ya?"

Kagome mengangguk. "Betul, Pak."

Totosai tahu betul Sesshoumaru. Sebelum gadis itu datang, anak sulung Taisho adalah sangat dingin, raut wajah tegas ditunjang tatapan matanya yang tajam. Sekarang, Totosai sudah tahu dan melihat dengan sangat jelas, sorot emas menatap hangat si gadis. Tak pernah Totosai melihat Sesahoumaru seperti ini. Senyum tersungging di bibir Totosai. Ada sesuatu yang lain bukan karena gadis itu asisten dosen Sesshoumaru.

"Kita akan bicara panjang lebar."

"Kenapa tidak sekarang? Buang-buang waktu saja," Ujarnya tak senang. Kagome langsung memegang pergelangan tangan Sesshoumaru untuk menenangkannnya.

"Pak," bisiknya pelan lembut.

Bagai disiram es cair di atas kepala, Sesshoumaru pun tenang.

Lagi-lagi Totosai tertegun. Dia melihat mata kepala sendiri bagaimana gadis itu bisa membuatnya kembali tenang. Biasanya Totosai mendapat sindiran keras. Lama-lama sudah terbiasa.

"Kau mau aku mati kelaparan? Bagaimana nanti aku menjelaskannya?" Totosai mulai pura-pura merajuk.

"Mati saja sana!"

Kagome tak mengerti kenapa dua orang ini jadi memanas. Matanya menatap bergantian.

"Sudah biasa kok, jangan khawatir," balas Totosai santai, melenggang keluar ruangan diikuti oleh Sesshoumaru dan Kagome.

Kagome menatap menu yang baginya sangat menggiurkan. Perutnya sudah 'bernyanyi'. Matanya membelalak, harga makanan western ini sangat mahal. Ini sih buat biaya makan sebulan. Astaga!! Pekiknya dalam hati.

"Kau mau makan apa?" Tanya Sesshoumaru.

"Hmm," Kagome tampak kebingungan. Bapak mau makan apa?" Kagome balik bertanya.

"Aku sama denganmu saja," balasnya.

"Hmm, kalau gitu pesan tenderloin steak with mash potato and saus barbeque. Deal?"

"Hn."

Kagome membolak menu halaman paling belakang. "Hmm, minumnya?"

"Ocha panas."

"Oke, aku sama denganmu saja."

"Hm, aku pesan sirloin saja."

"Tidak bagus untuk kesehatanmu, Pak Tua."

Mata Totosai tambah bulat. " Ini enggak boleh itu enggak boleh jadi aku makan apa dong?"

Sesshoumaru menghela napas. Lelah menghadapi Pak Tua ini. Kagome langsung berinisiatif memilih menu makanan sehat dan sesuai dengan Pak Totosai.

"Bagaimana Cog au Vin?"

Alis tipis Totosai terangkat.

"Dalam bahasa Perancis ayam jantan di wine. Masaknya membutuhkan waktu yang supaya bumbu meresap," terang Sesshoumaru.

Totosai manggut-manggut. "Baiklah."

Tak lama pelayan datang dan mencatat makanan apa saja dipesan. Sambil menunggu Totosai menerangkan study tour. "Kalian akan ke Kyoto."

Dua telapak tangan Kagome bertemu di tengah. "Yeah."

"Kau kesana untuk mendampingi para mahasiswa, bukan pergi buat main."

Kagome merengut, bibirnya mengerucut. "Yah, Bapak ga seru. Aku kan juga mahasiswi, boleh dong sambil main." Mata biru laut gadis itu membulat tatkala dia mendengar pria itu seperti menahan tawa.

"Bapak menggodaku, ya?" Gerutu Kagome.

Tatapan Seaahoumaru melembut. "Kau memang enak untuk digoda."

"Cih." Kagome mengalihkan pandangannya ke jendela. Lihat orang lalu lalang aja deh. Sebel.

"Kagome," panggil Sesshoumaru.

"Hmm." Gadis surai hitam legam masih menatap luar jendela. Merajuk rupanya.

"Yuk, makan."

Secepat itu pula merajuk, secepat itu pula lah wajah berbinar. "Yuk."

Hari ini Totosai benar-benar melihat bagaimana pemilik berwajah datar itu memperlakukan gadis di sampingnya. Seumur-umur kenal Sesahoumaru, baru kali Totosai melihat raut dingin berubah jadi hangat apabila gadis itu berada di sampingnya.

'Rupanya pengaruhmu sungguh besar,' Higurashi, benak Totosai. Dia hanya tersenyum melihat interaksi mereka berdua.

Setelah mengantar Totosai ke kediamannya yang sangat luas, Kagome sampai ternganga. Alangkah besarnya rumah rektornya. Dari tadi Kagome penasaran ada apa di antara Pak Totosai dengan Seaahoumaru.

Setelah keluar gerbang, jemari Sesshoumaru memasukkan cd dan memutar lagu kesukaannya. Denting piano mengalun lembut.

picture you on the beach

Lying in the sand

Out of reach of my trembling hands

I picture you in the car

"Sesahoumaru," panggil Kagome lembut.

"Hn."

"Sepertinya akrab sekali dengan Pak Totosai?" Tanya Kagome penasaran.

"Sesshoumaru mengerling ke arah gadisnya. "Dia pamanku."

Rahang Kagome jatuh kebawah. "Apa?" Aduh gawat, aku tadi makan cepat sekali. Habis lapar banget.

"Kenapa?"

"Tidak, hanya terkejut saja. Aduh, kenapa enggak bilang dari tadi? Aku malu sekali." Kagome menutup wajah dengan kedua tangannya.

Sesahoumaru menahan tawa. "Kenapa? Makanmu banyak? Bukankah sudah dari sana nya?"

"Argh, itu lain. Kalau makan di hadapanmu sih aku cuek aja. Lha, ini rektor lho rektor." Kagome mengusap wajahnya berkali-kali.

You come to my senses

Every time i close my eyes

I have no defenses

Kagome menyimak tiap bait lagu dan mencoba memahami makna dari lagu Chicago. Tentu saja dia hapal. Kagome pun ikut bernyanyi ...

Driving home in the cold

January rain

I've got to find my way out of this pain

I reached for you in the night

I dreamed of your kiss

I woke before it got light

With your name on my lips

Alone in my bed

Your voice in my head

"Suaramu bagus."

Kagome terhenyak. "Thanks," ujarnya malu.

"Kau menghayati."

"Hm, aku pikir lagu ini lumayan agak berat dan 'dewasa' sekali," terka gadis manis sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.

"Hn."

"Wah, benar ya?" Tanya Kagome dan hanya dibalas anggukan Sesshoumaru.

"Mungkin ini perasaanku, lagu ini sepertinya seorang pria memuja seorang wanita. Dalam sekali makna nya. Sekilas lagu ini membosankan, lama-lama kok enak juga ya."

"Hn."

Sesshoumaru fokus menyetir. Pandangannya lurus ke depan. Pria itu memegang erat kemudi setir. Berusaha meredam gejolak aneh di dalam dada. Sesshoumaru tahu ini belum waktunya. Suara dan wajah gadis manis itu sudah merasuki di kepalanya.

'Sial.'

TBC

Selingan percakapan ibu dan anak. (Lagi)

Inukimi menenteng beberapa kantong berisi sepatu. Tadaaa Ibu beli sepatu.

Sesshoumaru: buat apa?

Inukimi: ibu merasa besok ibu akan tampil.

Sesshoumaru: yakin?

Inukimi: anakku sayang Sesshoumaru, kau jangan gitu dong terhadap ibu. Nanti kau ga punya pacar dan jadi bujang lapuk, huhuhu

Sesshoumaru: mulai lagi deh. Lebay.

Ame to Ai: terima kasih banyak komenannya. Aku senang sekaligus terharu. Aku akan lebih bersemangat lagi nulisnya. Aku emang lagi seneng, jadi lagu2nya romantis. Menyesuaikan isi hati Bang Sesshy kita tercinta.

Guest: iya ya makin cinta ama Bang Sesshy.

Mungkin bab selanjutkan akan romantis lagi sih. Gimana alurnya saja hehe. Btw, you come to my senses emang rada dewasa sih dan agak berat. Entah ya cocok aja ama suasana hati bang Sesshy.

Terima kasih banyak. Peluk dan cium buat Ame.