Eternal Flame by Human Nature (aslinya sih The Bangles). Gpp ya, biar lagunya kekinian.

Manik biru keabuan fokus menatap laptop. Jemarinya lincah mengetik atas papan keyboard. Wajah manisnya sangat serius mengerjakan laporan untuk study tour nanti. Susunan acara yang dia ketik hampir selesai. Matanya memicing apakah ada yang missing atau tidak, tangannya bergerak mengambil mug berisi kopi latte. Ya, Kagome tidak menyukai kopi hitam.

Senyummya mengembang, mata itu berbinar-binar seperti mendapat mainan. Dia bernapas lega akhirnya selesai juga. Sebagai asisten dosen sejarah mendampingi si Wajah Rupawan, dia ditunjuk menjadi panitia. Awalnya sebagai keuangan, Kagome menolak.

Merasa sudah banyak tugas, Kagome tidak mau dibebankan hal-hal yang memang bukan tugasnya. Dia sudah diperingatkan oleh Sesshoumaru, jangan mau menerima apalagi yang bukan pekerjaannya. Untunglah ada teman baiknya, Sango, si gadis cantik itu mau menerima tugas untuk mengatur akomodasi.

Ngomongin Sango, dari luar tampak kalem dan lembut. Namun, bila berhadapan dengan pria iseng, dia tidak segan-segan memukul bahkan menendang daerah terlarang laki-laki. Sakit cuyy!

Lalu, akhir-akhir ini Inuyasha mulai sering menelponnya. Entah sekedar say hello atau yah basa basi enggak jelas, buat Kagome itu sudah enggak penting. Gadis itu hanya menjawab sekedarnya. Dalam hati Kagome bertanya-tanya, Inuyasha sudah punya kekasih bernama Kikyo. Kenapa masih saja mengirim pesan atau menelpon?

Walaupun hubungan antara Inuyasha dengan dirinya sudah berakhir, tapi Kagome tidak bisa melupakan kenangannya bersama pemuda itu. Inuyasha itu kasar, serampangan, emosian, sebenarnya pemalu bahkan suka malu-maluin.

Mengingat itu sudut bibir gadis itu tersenyum. Surai silver Inuyasha sama dengan rambut perak nya Sesshoumaru. Sama-sama tampan.

Eh, tunggu dulu ...

Kagome tersadar, wajah mereka kok agak mirip ya? Enggak mirip-mirip amat. Rambutnya pun sama. Sama-sama silver. Hanya saja beda warna kulitnya saja. Sesahoumaru putih bersih, sedangkan Inuyasha kulitnya agak cokelat.

Oya, warna mata mereka juga emas. Mata yang bisa menaklukkan gadis bahkan ibu-ibu rumah tangga. Mata yang memikat hati.

Dibandingkan Inuyasha, mata emas Sesshoumaru lah yang memiliki daya tarik. Di balik sorot matanya yang tajam, ditunjang wajahnya yang datar, Kagome tidak bisa tidak berpaling menatap amber milik pria yang sekarang dekat dengan dirinya.

Tanpa sadar wajah gadis berambut hitam sepunggung itu merona. Kedua tangannya menepuk pipi apakah dia bermimpi atau tidak. Sungguh, Kagome kagum dan menyukai ekspresi dingin pria itu.

Menyukai Sesshoumaru? Ah, mana mungkin ...

Kagome sadar diri siapa dia dan berasal dari keluarga sederhana. Mana mungkin Sesshoumaru menyukai dirinya yang jauh dari kata 'cantik'. Kagome pelupa, ceroboh, bangun sering siang, sifat malasnya belum juga hilang.

Anehnya, sejak dia dipercaya jadi asisten dosen Sesshoumaru, Kagome mulai terbiasa bangun lebih pagi. Ya iya, pria datar itu menerornya tiap subuh. Lama-kelamaan mulai terbiasa dan bisa mengikutu jam terbangnya Sesahoumaru.

Kagome bernapas lega, akhirnya selesai juga. Tinggal di print saja. Tangan kanannya mengepal terangkat ke atas. "YOOOOSHH!!"

Mulut gadis itu menguap lebar, matanya sedikit berair. Diliriknya kopi latte sudah habis, dia beringsut menuju ke dapur untuk mencuci gelasnya. Kagome merenggangkan otot-ototnya. Luar biasa pegal tubuh ini. Kagome ingin setelah acara study tour selesai dan pekerjaan sudah beres, dia ingin liburan sejenak. Oh, jangan lupa harus minta izin dulu pada si Tampan Berwajah Datar. Bahaya nanti, bakal di intograsi seperti polisi menyidak tersangka.

Kagome melirik jam weker kuning di atas meja nakas kecil sudah menunjukkan di angka sepuluh malam. Kakinya melangkah ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Di cermin Kagome tampak berpikir...

Tempo hari di kelaaSango bercerita tentang Miroku. Katanya pria kuncir ekor belakang itu suka mesum. Grepe-grepe bokong Sango. Alhasil pria itu dihadiahi cap lima jari oleh Sango.

Tentu saja Kagome tertawa terpingkal sambil memegang perutnya.

'Jangan begitu apalagi berkata benci, nanti malah jatuh cinta dari pandangan pertama gegara grepe-grepe.'

Kagome malah ketawa dan terbatuk ulahnya sendiri.

Rasain.

Kagome mematikan kran air. Terdengar suara ketukan pintu depan. Siapa sih malam-malam begini?

Sango kah?

Dia ingat Sango pernah bilang akan menginap ke apartemennya. Tapi kenapa malam begini? Gadis Higurashi itu membuka pintu perlahan. Di luar berdiri pria tegap memakai long coat hitam panjang selutut, rambut silver, manik emas itu sedang menatapnya dengan pandangan antara terkejut sekaligus menahan tawa.

'Sessahoumaru!' jeritnya dalam hati.

"Selesaikan dulu menyikat gigimu."

Kagome mengerjapkan kedua matanya. Wajahnya merona seketika. Membuka slot rantai di pintu, gadis itu mempersilakan masuk. "Mhashuk, Phak."

"Hn."

Seaahoumaru duduk di kursi. Manik emasnya memandang sekeliling ruang yang cukup berantakan. Pria itu menghela napas, baju dan sweater ada dimana-mana. Bahkan, matanya terpaku pada salah satu objek bra berenda senada dengan celana dalam berwarna hitam teronggok di lantai. Dalaman hitam milik gadis manis sukses membuat Sesshoumaru tak berkedip.

Kagome datang membawa gelas berisi ocha hangat. Sadar apa yang dilihat oleh Sesshoumaru, secepat kilat dia meraih baju dan dalaman tergeletak di lantai. Menutupi rasa malu, gadis itu bertanya, "Tumben malam-malam ke sini?"

Emas bertemu biru laut. "Tidak boleh?" Sahut Sesshoumaru datar.

"Ya, bukan begitu, ini sudah malam."

"Siapkan kopermu."

Akis hitam Kagome terangkat. "Memangnya mau kemana?"

"Aku culik kau," ujarnya tajam.

"Eeeh!?" Kagome mulai panik.

"Kita ke Kyoto malam ini juga."

"Hah?"

"Orang yang kusuruh berhalangan. Jadi kita yang kesana."

"Se-sekarang juga? Ke Kyoto?" Dalam hati Kagome kegirangan. Asyik!

Sesshoumaru menghela napas. "Iya, Kagome.

Manik emas Sesshoumaru memperhatikan Kagome sibuk kesana kemari memasukkan baju dan lain-lain ke dalam koper. Peralatan mandi sudah lengkap. Ponsel, charger, dompet, laptop, dan print kertas sudah masuk ke dalam tas ransel kuning.

"Sebentar, aku ganti baju dulu." Dibalas anggukan Sesshoumaru, Kagome melesat masuk ke dalam kamar. Jeans biru muda, dipadu turtle neck lengan panjang warna navy. Sepatu kets putih membungkus kaki jenjang nya.

"Yuk."

Sesahoumaru tertegun. Memandang sosok cantik berdiri di hadapannya. Cantik. Itu kesan yang didapatnya. Tubuh yang dibalut turtle neck tercetak di tubuh langsing milik Kagome.

Bagaimanapun juga Sesshoumaru tetaplah memasang wajah datar andalannya. "Sudah siap?"

Kagomer berpose seperti orang memberi hormat di kening. "Siap, Bos!"

"Tidak ada yang ketinggalan?"

"Um, aku rasa enggak ada deh."

"Ayo!"

Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto memakan waktu lima jam an. Sesshoumaru sengaja berangkat lebih awal agar dia bisa beristirahat sampai di sana. Dua sejoli itu membeli cemilan, air mineral, permen, dan hot coffee di minimarket yang buka 24 jam.

Di dalam mobil Kagome terus bercerita mengenai Sango. Kadang Sesshoumaru ikut menimpali, kadang hanya gumaman saja.

Sesshoumaru takjub, gadis di sebelahnya terus mengajaknya bicara. Ada saja bahan pembicaraan. Entah itu gossip, atau ngejulidin teman-temannya. Sesshoumaru juga tahu, Kagome banyak bercerita tentang mantan pacarnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

Apa yang dilakukan oleh Kagome agar Sesshoumaru tidak mengantuk di saat sedang menyetir. Dan Sesshoumaru tahu itu. S-Class hitam metalik menyusuri jalanan yang ditemani cahaya lampu di sisi kiri kanan jalanan.

Alunan musik eye catchy tapi enggak bikin mengantuk. Lagu favorit Sesshoumaru terus berkumandang.

Pria itu melirik gadis itu mengulurkan tangannya.

Close your eyes

Give me your hands

Oh, Sesshoumaru mengerti. Dia menggenggam tangan kanan gadis itu. Matanya tetap lurus ke depan.

Darling,

Do you feel my heart beating

Do you understand

Do you feel the same?

Sudut bibir Sesshoumaru terangkat sedikit. Dia tahu, Kagome menyanyikan lagu itu penuh perasaan. Hanya untuknya seorang.

Am i only dreaming, is this burning an eternal flame.

Gayung pun bersambut, Sesshoumaru ikut menyanyikan lagu terbaik sepanjang masa ... Untuk Kagome nya.

I believe it's meant to be, darling

I watch you when you are sleeping

You belong with me

Do you feel the same

Ketika Sesshoumaru menyebut 'darling' safir emasnya menatap lembut pada gadis manis di sebelahnya. Wajah Kagome makin memerah seperti kepiting rebus ketika Sesshoumaru berkata 'you belong with me'.

Hatinya melayang. Jantung berdegup kencang. Untuk menutupi kegugupannya, Kagome berkata, "Suaramu bagus Sesshoumaru, aku suka suaramu," puji si gadis berambut panjang tulus.

Sesshoumaru menoleh. Safir amber menghunjam langsung ke mata Kagome. "Kau juga. Aku merasa, kau bernyanyi hanya untukku."

Kagome menggigit bibir bawahnya. Hatinya melambung bahagia. Beneran ini Kagome salah tingkah. Duduknya tidak tenang. Entah tubuhnya menggigil krn angin malam makin dingin, karena AC mobil atau gugup, dia malah sibuk mencari baju hangat.

"Cari apa?"

"Baju hangat. Rasanya tadi aku bawa, deh. Yang dicari-cari tidak ada, Kagome mendesah. "Beneran ketinggalan. Aku benar-benar ceroboh."

"Sebentar." Mobil hitam Sesshoumaru belok ke kiri untuk menepi di rest area. Tangannya mulai kedinginan. "Kita pindah di belakang." Lalu mematikan AC mobil.

"Belakang?"

Sesshoumaru pindah dan duduk di belakang kemudi. Tangannya menepuk jok mobil agar Kagome mendekatinya.

Menurut, Kagome beringsut dan duduk disamping Sesshoumaru. Sebuah long coat tebal hitam yang tadi dipakai pria itu disampirkan ke tubuh gadis itu supaya hangat. Sedangkan Sesshoumaru mengusap kedua tangannya.

Gadis itu tertegun. Laki-laki ini juga kedinginan. Hanya memakai kemeja merah, dilapisi sweater hitam saja. Sedangkan Kagome? Ah dia enggak tega. Mengingat laki-laki telah banyak melakukan hal untuknya.

Karena mantel itu cukup besar, jadi dipakai berdua rasanya cukup. Kagome berinisiatif. "Sesshoumaru."

Sesshoumaru menghentikan aktifitasnya dengan pandangan bertanya.

"Kita bareng-bareng aja pake nya," tawar Kagome. Sungguh dia tidak tega. Namun, Sesshoumaru menolak.

"Kau saja."

Manik birunya membulat. "Mana bisa?" Tangannya menyentuh telapak Sesshoumaru. "Tuh kan tanganmu dingin. Ayo kita saling menghangatkan tubuh."

Perlahan Sesshoumaru mendekat. Bahu keduanya saling menempel. Berbagi kehangatan dengan satu mantel tebal. "Kau kedinginan."

Gadis Hogurasi mengangguk. Gemetar menahan dingin. Di balik mantel, tangan kiri Sesshoumaru melingkar ke pinggang ramping Kagome.

"Bo-bolehkah aku memelukmu?" Bisiknya.

Sebagai respon, Sesshoumaru makin mengeratkan pelukannya. Dia tidak peduli gadis itu mendengar detak jantung nya bertalu-talu. Yang dia pedulikan saat ini adalah agar Kagome tetap hangat di dalam rengkuhannya.

Kagome membenamkan wajah pada dada bidang Seashoumaru. Dia menyesap aroma parfum Joe Malone melekat di sweater pria itu. Tentu saja gadis itu hapal, parfum itu ada di mobil. Aroma yang dia suka. Suka sekali.

Sayup-sayup lagu Eternal Flame berputar berulang-ulang. Di dukung suasana seperti ini, "Kenapa lagu ini diputar lagi? Apa CD nya rusak?" Celetuk Kagome menahan tawa.

"Karena lagunya mendukung suasana seperti ini." Pria itu juga menahan senyum yang menawan hati. Sekaligus berharap gadis itu peka akan perasaannya.

Kagome mendongak menatap wajah Sesshoumaru. "Oke, aku nyanyi deh biar kau ga ngantuk."

Say my name, sun shines through the rain

A whole life so lonely

And then you come and ease the pain

I don't want to lose this feeling

Kagome mengendurkan pelukan, tangannya berpindah menggenggam ke telapak Sesshoumaru. Pria tegap itu mengeratkan genggamannya.

Close your eyes, give me your hands ...

Waktu yang di rasa tepat, Sesshoumaru menyatakan rasa cintanya pada gadis yang dia cintai. "Kagome."

"Um?"

Baritone seksi itu semakin dalam. "Kita sedekat ini, do you feel the same with me, Kagome?" Bisiknya lembut.

TBC

ARRRGHHHHH endingnya kurang maknyusss.

Entah apa yang merasukiku nulis sepanjang ini. Jujur saja lagu-lagu seperti ini justru sangat membantuku. Apalagi emang cocok ama Bang Sesshy.

Kyaahh gimana ya rasanya jadi nano-nano nulis ini. Aku ikut bahagia jadinya.

Maafkan kalao cerita ini kurang sweet. Aku berusaha agar ke depannya lebih hot eh romantis.

Ame to Ai: Uwu, Ame. Kupersembahkan cerita ini untukmu. Lop lop. Muach

Guest: iya makin lop lop y. Udah minum obat diabet belum? Wekekekkeke

Terima kasih banyak. Besok update lagi. *Bow*