"Garisnya dua."

Hinata terlihat menggigit bibirnya sampai terluka. Ketakutan tiba-tiba saja merajai relung hati sang wanita, Hinata sendiri tidak mengerti mengapa bisa. Namun, mungkin benda pipih berwarna putih ini ialah penyebabnya.

Suara helaan napas terdengar. "Mau bagaimana lagi? Tak apa Hinata, nanti kita pikirkan bagaimana caranya."

Senyuman mengembang di bibir sang pria bermahkota kuning cerah itu. Memeluk sang wanita, menepuk-nepuk punggung Hinata dengan pelan. "Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Aku akan tetap bersamamu."

"A-apa kita perlu ke dokter, Naruto-kun?" Pemilik manik kecubung pucat itu berusaha untuk menahan tangisnya yang akan datang.

Melihat wajah penuh tanya sang Uzumaki, Hinata kembali menguatkan diri. "Kadang testpack tidak selalu akurat."

"Kau meragukan hasilnya?" Naruto memainkan rambut panjang Hinata dengan jemarinya. Pria itu mengatakan bahwa rambut Hinata sangat lembut, tebal, dan halus—ditambah lagi berbau wangi yang manis. Naruto selalu betah untuk menciumnya.

Hyuuga Hinata tak berani untuk menjawab. Nyatanya sudah terdapat empat testpack terbaik yang disarankan oleh pegawai apotek telah dicobanya. Dan itu semua selalu menunjukkan bahwa tengah bergelung nyaman seorang calon manusia di dalam rahimnya. Hinata juga tidak dapat menampik tanda-tanda kehamilan umum yang terjadi padanya; rasa mual nan menyiksa selama beberapa minggu ini dan dirinya yang mudah lelah.

"Baiklah, tetapi kau harus janji agar memberitahukan segalanya padaku."

Naruto memang bisa dibilang akan sibuk besok, dan Hinata juga tidak ingin merepotkan pria yang telah dianggapnya malaikat baik hati di hadapannya. Jadi, wanita itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Naruto juga ikut mengurvakan tubir. Pria itu mengecup pelan kedua pipi gembil sang wanita dan mengurungnya ke dalam sebuah pelukan maut. Membuat tubuh mereka limbung ke atas kasur yang empuk.

"Sekarang kita tidur harus tidur!" ujar Naruto sembari mencubit pelan pipi gembil Hinata yang selalu terlihat merona lucu. "Jangan nangis, dasar cengeng!"

"S-siapa yang nangis, sih?" Sang wanita Hyuuga mengerucutkan tubir, dan sang Uzumaki tertawa.

"Matamu tidak bisa berbohong, Hinata."


Setitik Kebahagiaan (c) faihyuu

Naruto (c) Kishimoto Masashi

Rated T mendekati M

Warning(s): AU, Miss Typo(s), OOC, etc.

Sebelum melanjutkan, sekali lagi saya peringatkan bahwa cerita ini nyatanya tidak nyambung sama judul dan juga sinopsis. Ini hanyalah hasil karya random yang dibuat ngebut saat gabut. Penuh ke-gajean.


Percaya tidak percaya, Naruto dan Hinata bahkan belum genap setengah tahun tinggal bersama. Mereka bahkan tadinya hanya dua orang manusia yang tidak saling mengenal satu sama lainnya. Namun, akibat pandemi COVID-19 nan meluluhlantakkan hidup umat manusia, semuanya bisa terjadi begitu saja. Alasan mereka bisa mengenal dan memutuskan tinggal bersama hanya satu; pemutusan hubungan kerja. Sangat pahit, tentunya.

Walaupun Jepang dikenali sebagai negara maju, tetapi tak dapat menampik fakta bahwa pandemi yang saat ini terjadi dapat mengguncang sektor ekonomi. Termasuk pula dengan Naruto dan Hinata, korban dalam pandemi ini.

Sang pria Uzumaki tadinya bekerja di salah satu perusahaan internasional sebagai pegawai tetap di usianya yang bisa dibilang masih muda. Masih seperempat abad. Pria yang tidak cerdas-cerdas amat, tetapi seorang lulusan Waseda asal Okinawa. Naruto yatim-piatu, sejak mendapatkan kesempatan beasiswa atas prestasi bidang olahraganya untuk menempuh pendidikan di Waseda—pria itu memutuskan untuk tidak merepotkan siapa pun lagi. Tidak pula dengan para saudara dari pihak ibunya yang tinggal di tempat asalnya ataupun para saudara dari pihak ayahnya di Clarksville, Amerika. Namun, sesekali Naruto memang senantiasa mengirimkan surat dan oleh-oleh kecil untuk mereka penanda bahwa Uzumaki berambut kuning itu masih hidup dan merindukan mereka semua.

Sang Uzumaki bergores pipi tiga ini memang tidak cerdas, tetapi dirinya pekerja keras. Pria itu mampu mengikuti perkuliahannya dengan baik dan mendapatkan kesempatan untuk kerja paruh waktu dengan bayaran yang lumayan tinggi. Sampai pada akhirnya, ketika Naruto berhasil sarjana—dirinya mampu mendapatkan upah yang lumayan tinggi untuk menghidupinya, bahkan membantu sepupu-sepupunya yang masih sekolah di Okinawa sana.

Ketika pandemi ini menyerang, Naruto masih tak terlalu memikirkan hal yang terburuk. Pria itu masih berusaha berpikir positif dan terus bekerja dengan baik. Bahkan ketika Jepang terpaksa lockdown sejak Februari, Naruto masih dapat bekerja dengan baik tanpa melepas protokol kesehatannya—sampai akhirnya sejak Maret kantornya ditutup. Para pegawai bekerja dari rumah. Naruto masih merasakan ketenangan di hatinya.

Namun takdir siapa yang tahu, pria itu hampir kehilangan kesadaran ketika dirinya ikut menjadi korban dari pemutusan hubungan kerja besar-besaran kantornya pada bulan Mei yang lalu. Bagaimanapun juga, fakta bahwa Naruto tinggal di Tokyo tak bisa terlupakan. Tokyo, kota yang berada di urutan pertama dalam hal biaya hidup termahal. Pria Uzumaki itu memang diberkahi kebiasaan untuk menabung. Namun sebanyak berapa pun nominal tabungannya, Naruto harus segera memiliki pekerjaan agar tetap bisa bertahan hidup. Dan bukannya berharap yang buruk, tetapi semuanya tahu pandemi belum tentu selesai secepat perkiraan para manusia.

Naruto merasa frustrasi, yang membuat pria itu merasa kepalanya berat saat ini adalah biaya sewa apartemen. Pria Uzumaki itu tinggal di salah satu apartemen yang biaya sewanya lumayan tinggi. Apartemennya memang berada di kawasan Roppongi. Sebuah distrik yang terkenal akan tempat hiburannya nan ramai pula terkenal oleh warga Jepang itu sendiri dan turis-turis asing.

Pemilik mahkota kuning itu memang tengah berada di dalam sebuah konbini yang sepi, sedang duduk merenung ditemani se-cup ramen instan yang sudah mendingin dan sama sekali belum tersentuh ketika bertemu dengan Hinata. Saat itu, Naruto tengah mencari apartemen yang biaya sewanya murah untuk pindah dari apartemen lamanya. Pria itu juga tengah menimbang-nimbang apakah perlu dirinya kembali lagi ke Okinawa, tetapi pemikiran itu langsung ditepisnya ketika mengingat para saudaranya bisa saja tengah berada dalam kesulitan yang sama. Naruto tidak ingin membebani siapa pun juga.

Wanita Hyuuga itu memang terlihat seperti menarik perhatian, masuk ke dalam konbini dengan membawa serta dua koper besar yang terlihat sangat berat. Belum lagi dengan dua tas besar di bagian belakang dan depan. Mata Hinata kala itu terlihat sembab, tetapi Naruto sama sekali tidak bisa mengenyahkan bahwa dirinya merasa tertarik dan penasaran pada mata aneh tanpa pupil itu. Seperti alien, tetapi menggemaskan.

Dilihatnya, wanita Hyuuga itu memesan satu set bento dengan harga termurah dan air mineral. Wanita bermahkotakan nila panjang itu memang duduk dengan jarak yang lumayan jauh dari sang pria Uzumaki karena social distancing. Ketika Hinata membuka maskernya untuk makan, barulah wajah yang aslinya sangat indah itu terlihat, bahkan dari tempat duduk Naruto yang lumayan jauh pun, wajah Hinata masih terlihat begitu manis. Wanita itu makan dengan lahap, dan Naruto menemukan bahwa mata unik itu kemudian berkaca-kaca. Wajah putih itu juga memerah, entah menahan tangis atau malu menjadi atensi orang-orang di dalam konbini.

Iba.

Sang Uzumaki harus akui bahwa pria itu tergerak untuk mengikuti Hinata saat itu karena iba. Secara tidak sadar pula sudah mengikuti wanita itu sampai di depan sebuah kafe internet yang lumayan besar. Naruto tahu apa yang akan dilakukan Hinata saat itu; menginap—tinggal untuk beberapa waktu di sana. Para orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap di Jepang memang banyak yang memilih untuk tinggal di dalam sebuah kafe internet. Sebuah kesenjangan nyata penduduk di negeri sakura itu.

"Hai," Masih segar dalam ingatan di Uzumaki Naruto, pria itu menyapa Hinata dengan sapaan garing nan payah. Dan dihadiahi tatapan penuh tanya dari mata bulat bagai leci berwarna lavendel pucat. "Aku Uzumaki Naruto."

"Ya?" Suara wanita Hyuuga itu terdengar halus—lembut. Tipe suara yang menenangkan sekaligus menyenangkan. "A-ada apa, Uzumaki-san?"

"Sebelumnya, boleh kutahu siapa namamu?"

Payah. Sampai sekarang pun, Naruto masih senantiasa memaki kebodohannya saat pertama kali menanyakan nama Hinata.

Mungkin wanita Hyuuga itu tengah menggunakannya masker, tetapi Naruto tahu bahwa Hinata saat itu tengah tersenyum. "Hyuuga Hinata, panggil saja Hinata. Ada apa, Uzumaki-san?"

Tanpa sadar Naruto menepi dari pintu masuk kafe internet, dan pergerakannya diikuti pula oleh Hinata. Untung saja kala itu memang tidak terlalu ramai.

"Panggil saja aku Naruto, Uzumaki-san seperti terlalu kaku dan formal. Kurasa kita juga seumuran." Dengan suasana yang masih garing, Naruto dengan cepat mengutarakan pikiran yang terbersit begitu saja. "Maaf sebelumnya, kurasa aku tahu—uhm, tentang masalah yang kini sedang kauhadapi. Sekali lagi mohon maaf, tetapi daripada tinggal di kafe internet yang berbahaya. Aku ingin mengajakmu untuk tinggal bersamaku saja, Hinata."

Yang Naruto ingat, dirinya mendapatkan tatapan rendah dari Hinata. Mungkin wanita itu terlihat menahan diri untuk tidak menamparnya juga.

"Maaf, saya permisi dahulu." Akhirnya Hinata memilih untuk undur diri saja, berusaha masuk ke dalam kafe internet—tetapi nyatanya Uzumaki Naruto adalah orang yang gigih. Entah keberanian dari mana, pria itu dengan cepat mengambil dua koper Hinata yang ternyata memang benar-benar terasa berat.

"Kumohon, kau bisa menghajarku nanti. Namun dengarkan dahulu penjelasanku."

Naruto dengan cepat menjelaskan bagaimana khawatirnya pria itu terhadap Hinata, menjelaskan bahwa kafe internet bukanlah pilihan yang baik. Kafe internet banyak menjadi klaster corona saat ini, belum lagi fakta bahwa belum tentu tempat ini ramah perempuan. Banyaknya kasus pelecehan seksual di tempat itu tentu membuat Naruto benar-benar terasa sekarat memikirkan Hinata. Pria itu sama sekali tidak mengerti mengapa bisa dirinya se-peduli ini kepada wanita yang bahkan baru ditemuinya belum sampai satu jam.

Entah, mungkin ratusan penolakan Hinata berikan. Namun Naruto akhirnya berhasil mengajak wanita itu ke apartemennya setelah berdebat panjang yang mulai memancing atensi banyak orang.

Celetukan "pasangan kekasih yang sedang bertengkar" selalu menghiasi mereka saat itu, dan Hinata akhirnya luluh—tadinya walaupun mereka sudah tinggal bersama interaksi di antara mereka hanya sebatas layaknya teman satu kamar asrama saja. Jangan sekali-kali berpikiran bahwa Naruto pria yang sedang mencari keuntungan semata, hal itu sangat salah sekali. Bahkan pria itu tadinya sama sekali tidak pernah menyentuh Hinata saat itu.

Naruto sibuk untuk mencari perkejaan lagi di tengah pandemi, begitu pula dengan Hinata. Mereka berdua sepakat mengatur jadwal harian siapa yang akan tidur di ranjang kamar dan siapa yang akan tidur di futon tipis ruang tengah tiap malamnya. Dan Hinata yang berjanji, akan membayar sewa tempatnya yang dijadikan hunian sementara sang wanita ketika mendapatkan pekerjaan—walaupun Naruto menolak mentah-mentah. Namun pada akhirnya wanita itu benar-benar memaksanya dengan begitu keras, Hinata sangat ingin ikut membantunya dalam membayar sewa apartemen baru mereka saat ini. Naruto terpaksa mengiyakan. Membuat sang pria itu malah mendapatkan julukan "malaikat penyelamat" dari Hinata. Agak aneh memang.

Di minggu pertama Hinata bersama dengannya, pria itu mendapatkan apartemen baru dengan harga yang jauh lebih murah walau jauh lebih sederhana juga. Letaknya tak jauh dari apartemen lamanya. Hinata tentu ikut membantunya untuk membereskan barang-barang pindahan selain ikut patungan membayar sewanya, Naruto bersyukur wanita itu dan dirinya memang tidak terlalu memiliki banyak barang.

Omong-omong, Hinata nyatanya juga resmi menjadi kekasihnya sejak bulan Juli lalu. Tepat dua bulan ketika Naruto mengajak wanita itu tinggal bersama. Pria itu dengan lantang memproklamirkan bagaimana perasaannya kepada sang wanita. Yang tadinya iba—tetapi saat melihat wajah manis, kelembutan yang dimiliki sang wanita, dan bagaimana sifat-sifat Hinata yang muncul saat mereka tinggal bersama—rasa iba itu berubah menjadi rasa cinta. Mungkin bukan cinta pertama, tetapi entah mengapa Naruto merasa yakin wanita itu merupakan cinta sejatinya.

Dan dirinya dihadiahi tangisan yang sampai sekarang Naruto masih bingung apa artinya, pula suara mencicit dari Hinata yang wajahnya tampak sudah ingin meledak. Lucu.

"B-baiklah, a-aku j-juga s-suka padamu."

Hanya kata-kata itu, tetapi membuat mereka terikat sebegini dekatnya. Absurd memang. Lagi pula, siapa yang peduli?

Toh dari awal tahun ini, memang tak ada hal yang benar-benar menarik dan membuat Naruto bahagia selain bertemu dengan Hinata. Itu saja.

.

Meneguk air putih, Naruto melirik jam dinding lucu berwarna lavendel yang dibeli Hinata dua minggu lalu. Harganya sangat murah karena mendapat potongan harga lumayan tinggi, gratis ongkos kirim lagi—pria itu kagum dengan kecepatan wanitanya dalam merebut flash sale. Pada jam itu tertera bahwa waktu telah menunjukkan pukul lima sore, artinya sudah hampir tiga jam wanita Hyuuga yang tinggal bersamanya sejak beberapa bulan yang lalu itu pergi ke dokter obstetri.

"Kenapa lama sekali?" Bermonolog ria, pria Uzumaki itu mematikan laptopnya. Omong-omong, Naruto saat ini memang telah mendapatkan pekerjaan di salah satu situs jual-beli daring yang memang sedang ramai di masa pandemi ini. Gajinya memang tidak sebesar gaji pegawai tetap perusahaannya dahulu, tetapi tentu lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali dan mengandalkan tabungannya atau tabungan Hinata saja. Hinata pula telah mendapatkan perkejaan kembali, tadinya wanita itu memang bekerja sebagai guru sebuah taman kanak-kanak bertaraf internasional—tetapi sekarang Hinata menjadi tenaga pengajar bahasa Jepang bagi para siswa internasional di salah satu situs bimbel daring.

Pria itu bangkit berdiri, merenggangkan otot-ototnya sebentar—work from home hampir tujuh jam tentu membuat tubuh terasa kaku. Dengan segera pria itu juga membereskan kembali alat-alat yang digunakan dalam bekerja. Entah itu laptop, kabel pengisi daya, kertas-kertas, alat tulis, ataupun gelas air putih. Hinata bisa mengomel panjang jikalau menemukan dirinya yang terkapar dengan keadaan yang berantakan begini, wanita itu memang pecinta kebersihan dan kerapian. Walaupun Hinata yang sedang mengomel itu tampak lucu dan manis, tetapi Naruto tak mau ambil risiko. Apalagi fakta bahwa—

—Hinata bisa saja sedang benar-benar hamil.

Ayolah, Naruto mungkin terlihat bodoh. Namun sang pria Uzumaki benar-benar tidak sebodoh itu juga.

Naruto harus akui, mereka lumayan aktif dalam berhubungan seksual. Lagi pula, mereka berdua nyatanya sudah dewasa. Usia sang pria yang sudah seperempat abad dan sang wanita juga sama. Mereka bukan lagi remaja tanggung yang masih malu-malu tapi mau. Mereka bisa melakukan itu jika mereka sama-sama ingin.

Oke, ini salah Naruto. Sejak awal mereka memadu kasih, pria itu memang jarang mengenakan pengaman. Namun—entahlah, Naruto juga sulit menjelaskan apa yang pria itu rasakan saat ini.

Menghela napas, Naruto kemudian meraih tas laptopnya yang masih ada di atas sofa. Pria itu tampak merogoh sesuatu di dalamnya, sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah kotak kecil berbeledu merah yang khas. Pria yang dijuluki 'si penuh kejutan nomor satu' itu menyeringai senang melihatnya.

Sebelum kembali menaruh kotak merah beledu itu ke dalam tas laptop, Naruto mengambil ponselnya yang berada di atas meja berkaki rendah di hadapannya. Pria itu berniat menelepon sang wanita karena rasa khawatir yang berlebih saat manik safirnya bertatapan dengan jam.


Perkataan dokter kandungan yang ditemui Hinata dua jam lalu masih terekam jelas di telinga sang wanita. Saat itu, dirinya digiring ke atas ranjang di ruangan praktik dokter kandungan. Bagian atasan pakaiannya dinaikkan. Perutnya yang memang terasa agak sedikit membesar itu terekspos jelas, kemudian dilapisi oleh gel dingin oleh dokter wanita yang tampak ramah tadi. Sebuah alat bernama probe berjalan-jalan di atas perutnya. Agak geli, tetapi fokusnya beralih pada layar yang menampilkan layar monokrom tidak jelas. Namun Hinata masih dapat melihat suatu yang membuat matanya berkaca-kaca di sana, sebuah gumpalan unik.

"Selamat Nyonya, Anda sedang mengandung."

Hinata sama sekali tidak sadar bahwa setitik air mata telah berhasil lolos dari matanya.

"Lagi-lagi selamat, Nyonya. Janinnya sehat. Mungkin saat ini sudah masuk minggu ketujuh. Anda juga sudah bisa mendengarkan detak jantungnya, lho."

Hinata benar-benar tak bisa menahan air matanya lagi untuk mengalir dengan deras dan dokter yang memperkenalkan dirinya dengan nama Shizune itu tertawa manis bagai maklum. Wanita itu diberikan beberapa tisu—serius, sampai saat ini, rasa malu masih sangat membekas pada diri Hinata karena menangis seperti anak kecil begitu di depan seorang dokter obstetri yang baru ditemuinya. Selain terjadinya adegan haru yang agak memalukan itu, dokter Shizune—nama dokter berwajah ramah itu—menjelaskan beberapa hal tentang kandungannya saat ini. Katanya, ukuran bayinya memang masih sangat mungil, tetapi otaknya tengah berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Gumpalan unik itu juga sedang mulai membentuk gigi, langit-langit mulut, dan sendi. Tak lupa juga dokter Shizune memberikannya beberapa nasihat sebelum akhirnya meresepkan beberapa vitamin dan obat pengurang rasa mual.

"Mama!"

Kesadaran Hinata saat ini kembali lagi ke taman. Taman yang tak seramai dahulu sebelum pandemi. Terkesan sangat sepi malah. Manik kecubung pucatnya menangkap visualisasi seorang anak laki-laki yang kemungkinan berusia tiga tahun. Anak laki-laki yang menggunakan masker kecil dan agak melorot sehingga hanya menutupi mulutnya saja, tetapi syukurlah anak itu menggunakan pelindung wajah dengan atasan gambar karakter kartun.

Anak itu berjalan tergopoh-gopoh mendekati sang ibu yang ternyata duduk tak jauh dari kursi taman yang ditempati Hinata saat ini.

"Mama, Hiloshi mau es klim!"

Mungkin wajah sang ibu tampak tertutupi masker, tetapi Hinata dapat menebak bahwa wanita itu tersenyum bahkan menahan tawa.

"Hiloshi janji malam ini akan mam sayul, tapi Hiloshi mau es klim!"

Manisnya. Hinata ikut tersenyum mendengar rayuan anak itu pada sang ibu. Dalam benaknya, wanita itu mulai bertanya-tanya dengan agak liar—apakah nanti anaknya akan merayunya seperti itu jika ingin sesuatu?

Sang ibu mengangguk, anak laki-laki yang didengarnya bernama Hiroshi itu tertawa manis. Dalam gendongan sang ibu, Hiroshi kecil dibawa mendekati sebuah kios es krim yang lumayan terkenal di daerah ini. Semua itu tak luput dari pandangan Hinata.

Sontak saja wanita Hyuuga itu mengelus perutnya, senyumnya terkembang manis.

"Hey, apakah kamu juga ingin es krim seperti Nii-chan tadi? Rasa campuran, dengan porsi besar untuk dinikmati di apartemen. Bersama Mama dan... Papamu, mungkin?"

Sambil bermonolog, Hinata bangkit dari duduknya. Menggenggam tas jinjingnya yang menjadi sedikit lebih berat beberapa gram akibat adanya bungkusan kecil berisi vitamin dan beberapa obat pengurang rasa mual dari dokter Shizune. Juga formulir dari dokter itu untuk ditukarkan sang wanita untuk memperoleh hak pelayanan ibu hamil dari pemerintah.

Dengan perlahan Hinata mendekati kios es krim itu juga. Wanita itu memesan satu baskom besar es krim berbagai rasa. Harganya lumayan mahal, memang. Dan nyatanya Hinata jarang mengonsumsi es krim sebegini banyaknya. Namun entah mengapa wanita itu merasakan adanya dorongan kuat di dalam dirinya untuk itu.

Keinginan bayinya, mungkin? Beginikah keadaan yang orang-orang seringkali sebut sebagai ngidam?

Hinata duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana, dirinya kembali menangkap visualisasi anak laki-laki tadi—kali ini seorang pria paruh baya mendekati mereka. Dan Hiroshi yang meneriakkan kata "papa" tiba-tiba saja membuat dirinya bertanya-tanya.

Apakah yang akan Naruto lakukan?

Namun tiba-tiba saja terbayang dalam benak Hinata raut wajah Naruto yang benar-benar terlihat sangat bahagia. Bayangan yang berhasil membuat Hinata tersenyum senang.

Sejujurnya selain kebahagiaan Naruto saat mengetahui dirinya mengandung, Hinata juga ingin sesuatu yang terdengar agak egois; wanita itu ingin anaknya nanti memiliki kedua orang tua yang lengkap di mata hukum pula negara. Hinata ingin Naruto menikahinya. Karena bagaimanapun juga, wanita itu tak bisa menampik bahwa hatinya sudah terpaut begitu erat dengan pria Uzumaki itu.

Namun, akankah Naruto benar-benar ingin terikat dengannya dalam sebuah pernikahan?

Hinata menggigit bibirnya perlahan. Wanita itu memainkan jemarinya sembari duduk menunggu pesanannya.

Sejak kecil, sebelum bercita-cita menjadi sesuatu; pastilah seorang gadis kecil berkeinginan menjadi ibu. Memainkan boneka layaknya bayi—anak mereka. Dan Hinata tentunya juga berkeinginan besar untuk merasakan sensasi itu. Hinata ingin menjadi ibu yang baik; merasakan tubuhnya yang terasa berat selama sembilan bulan, mendengar tangisan si kecil, dapat mengajari anak-anaknya, membacakan cerita penuh amanat, mendengar celotehan mereka, dan yang paling penting menyaksikannya mereka tumbuh dewasa. Dengan seorang ayah di antara mereka, tentunya.

Hinata beberapa bulan yang lalu hanyalah seorang pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja. Tadinya, wanita itu berprofesi sebagai guru di salah taman kanak-kanak bertaraf internasional dengan gaji yang lumayan. Namun sejak corona ini mulai muncul, taman kanak-kanak tempat Hinata mengajar ditutup. Kegiatannya dilakukan secara daring, tetapi hal itulah yang membuat Hinata harus merelakan pekerjaannya dalam rangka tetap mempertahankan agar TK tersebut dapat tetap berdiri saat pemasukan mereka terbilang hanya sedikit akibat pandemi.

Omong-omong, bukan hanya tempat Hinata mengajar saja, tetapi banyak sekali yang bernasib sama sepertinya. Namun Hinata merasa sangat frustrasi, selama ini gajinya sengaja dibagi untuk membantu kehidupan adik dan ayahnya di Hokkaido—tempat asalnya. Untuk membantu perekonomian mereka. Ayahnya yang sudah tua mengantungkan kehidupan perekonomian mereka padanya. Sementara adiknya, Hanabi, hanyalah gadis yang sekarang menduduki kelas tiga SMA. Gadis remaja itu memang bekerja paruh waktu untuk membantu meringankan beban keluarga, tetapi Hinata tahu bahwa adiknya itu juga menjadi korban pemutusan hubungan kerja saat pandemi begini.

Waktu itu memang waktu tersulit milik Hinata, selama di Tokyo wanita itu memang sudah menempati apartemen kecil yang sangat sederhana dan berusaha untuk berhemat. Namun memang sulit untuk hidup tanpa perkejaan di sebuah kota sebesar ini. Hinata menemukan tabungannya hanya mampu menghidupi dirinya sendiri untuk beberapa waktu saja. Belum lagi dengan biaya sewa tempat tinggalnya yang naik secara tidak waras. Di tengah campur aduk emosinya saat itu, Hinata memilih untuk pergi saja. Mungkin pulang ke Hokkaido dengan kereta. Walaupun wanita itu nyatanya belum siap mendapati tatapan kecewa adik dan ayahnya. Atau pula luapan kekecewaan sang ayah merasa dirinya tak berguna.

Dan Uzumaki Naruto adalah pria terbaik yang pernah ia temui, Hinata menyebutnya sebagai malaikat—visualiasi pria itu juga mendukung. Rupawan, bagai pahatan dewa Yunani. Naruto mengajaknya untuk tinggal bersama di apartemennya yang lebih nyaman daripada menetap sementara di kafe internet yang sangat rawan saat dirinya benar-benar terpuruk. Merencanakan untuk pulang ke daerah asalnya entah besok atau dua hari lagi nanti. Awalnya Hinata melihatnya sebagai orang mesum semata yang ingin sekadar teman tidur, tentu saja wanita itu menolak mentah-mentah. Namun melihat ketulusan di mata Naruto—dan menangkap sedikit rasa iba pada dirinya (Hinata menyadari hal itu, omong-omong. Malu memang, tetapi mau bagaimana lagi. Faktanya wanita itu sedang kesusahan), Hinata dengan gila menyetujui hal itu. Tinggal bersama.

Nyatanya pria itu benar-benar menghormatinya sebagai perempuan, tak menyentuhnya sama sekali pada awal mereka tinggal bersama. Sekitar seminggu kemudian, mereka memang pindah dari apartemen yang lumayan mewah milik Naruto ke apartemen yang lebih sederhana. Hinata mengira dirinya membuat pria itu merasa terbebani menampung pengangguran yang baru saja dikenalnya. Namun Naruto menolak mati-matian pernyataan itu, mengatakan bahwa sejak awal dirinya ingin pindah. Setelah beberapa perdebatan kolot, Hinata akhirnya tetap bersama si Uzumaki. Wanita itu juga memaksa agar Naruto membiarkan dirinya ikut patungan dalam membayar sewa apartemen itu, dan pria itu tampak dengan berat hati mengiyakan.

Lagi pula, Hinata harus mengakui bahwa Naruto adalah pria termanis yang pernah dikenalnya. Walaupun agak sedikit tidak peka. Membuat Hinata merasakan dirinya jatuh cinta.

Apalagi dengan pernyataan pria itu yang berhasil membuat wanita itu cengeng, tentu membuat mereka menjadi pasangan kekasih tanpa menunggu lama lagi.

Terlalu banyak yang sudah Naruto berikan kepadanya, tempat tinggal, kehidupan, cinta yang wanita itu rasa sangat tulus, bahkan akhir-akhir ini —Hanabi sang adik seringkali diberi uang jajan oleh pria itu juga. Yah, mereka memang telah bekerja lagi sih. Walaupun gajinya tidak sebesar gaji perkejaan awal mereka, tetapi lumayan. Keluarga Hyuuganya juga memang sudah tahu perihal dirinya yang tinggal bersama dengan pria asing. Ayahnya sempat terkejut setengah mati. Pria tua itu sempat memarahinya dan sedikit mengutuknya, Hinata tak ingin menjelaskan detail tentang ini—dirinya sengaja ingin melupakan hal itu saja. Namun entah apa yang Naruto katakan pada ayahnya via telepon saat itu, tiba-tiba saja pria tua nan keras dan agak kolot itu luluh. Sampai sekarang Hinata sama sekali tidak diberitahu apa percakapan mereka berdua. Karena Naruto tampak selalu mengelak.

Sudah terlalu banyak. Namun, tentang bayi dan sebuah pernikahan—

—Hinata hanya merasakan setitik rasa tidak pantas yang menghantuinya. Naruto orang yang paling baik, ada banyak perempuan yang lebih pantas untuk bersama dengan pria itu dibandingkan dirinya. Hal inilah yang menjadi alasannya hampir menangis kemarin malam.

Naruto terlalu baik, Hinata merasa senang—tetapi juga merasakan ketidakmampuan untuk menerima hal baik sebanyak itu.

Namun sekali lagi, seperti sebelumnya—Hinata masih memiliki keinginan egois untuk dinikahi Naruto.

Dan juga saat pandemi begini—eh, tidak jadi. Untuk masalah ini setidaknya pemerintah Jepang menjanjikan bantuan dana. Biaya bukan lagi hambatan, menurut Hinata.

... Namun, biasanya bantuan itu didapatkan untuk para wanita dengan status pernikahan yang sah saja.

Duh, wanita itu jadi tambah bimbang.

"Nona Hyuuga," Oh, pesanannya sudah selesai rupanya. Segera saja Hinata mengambil bungkusan besar berisi satu baskom es krim dengan senyum sebelum ponsel pintarnya berdering pula disertai dengan getar.

Dengan cepat wanita itu berjalan keluar dari kios, mengangkat teleponnya yang ternyata dari Naruto. Pria yang menghantuinya akan kebimbangan.

•••

Pintu apartemen terbuka, tanpa harus diwaspadai—Naruto tentu sudah tahu jelas siapa yang datang.

"Hinata!" Dengan tergopoh-gopoh pria Uzumaki itu mendekati genkan dan merentangkan kedua tangannya—ingin memeluk Hinata yang sedang menyemprotkan cairan disinfektan dalam sebuah bekas tempat parfum milik sang wanita ke sepatu, gagang pintu, tas, dan baju yang dikenakannya juga.

"Jangan peluk dulu, habis dari luar. Banyak virus. Aku mau mandi dulu, tolong taruh ini di freezer kulkas. Taruh dulu saja, ya. Kita makan sama-sama nanti sehabis makan malam."

Bukannya memeluk, tetapi Hinata malah menyerahkan bungkusan besar se-baskom es krim bermerek terkenal yang membuat mata birunya berbinar. "Wah, tumben!"

"Es krimnya masukkan ke dalam freezer dulu, Naruto-kun. Itu sudah hampir mencair."

"Yes, Ma'am!" Gelengan samar dan senyum tipis Naruto dapatkan. Pria itu terkekeh, kemudian berlarian mendekati kulkas kecil mereka dan menaruh baskom lumayan besar berisi es krim itu ke dalam sana.

"Hinata, ayo kita mandi bersama~" Goda pria itu mendekati wanitanya, melupakan fakta bahwa rambutnya bahkan masih basah dan handuk kecil masih tersampir di pundak—pertanda Naruto baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya. Lagi pula, siapa yang peduli. Naruto rindu mandi bersama Hinata.

"Tidak mau, kau sudah mandi Naruto-kun. Jangan buang-buang air dan sabun."

Hinata dengan segera menaruh tas yang tadi dibawanya ke atas meja berkaki rendah yang ada di sana, kemudian wanita itu melangkahkan kakinya ke balkon tempat mereka menjemur pakaian—mengambil handuk jubahnya yang memang tergantung di sana. Dan pergi ke dalam kamar mereka untuk mandi.

Naruto mengerucutkan tubir, menyesali keputusannya untuk mandi terlebih dahulu tadi. Namun bagaimana lagi, pria itu sudah terlanjur gerah tadi.

Jadilah pria itu memilih untuk benar-benar mengeringkan rambutnya dengan handuk yang tersampir di bahunya. Naruto mulai menduduki sofa dekat meja berkaki rendah di mana tas Hinata berada.

Sebenarnya, Naruto benar-benar penasaran dengan isi tas wanitanya itu. Ingin sekadar tahu, bagaimana hasil dari pemeriksaan Hinata. Karena pemilik mahkota nila panjang itu sama sekali tidak memberikan pernyataan apa-apa tentang kunjungannya ke dokter tadi, bahkan saat Naruto meneleponnya, Hinata hanya berkata bahwa dirinya sebentar lagi akan pulang. Hanya itu. Dan Naruto tidak ingin memaksa.

Namun entah mengapa, pria itu yakin dalam tas jinjing kecil milik Hinata terdapat benda yang paling penting atas pemeriksaannya tadi. Naruto ingin sedikit mengintip, tetapi ditahannya. Lagi pula, dirinya yakin Hinata akan menjelaskan...

...just wait and see.

Omong-omong, kalau menurut pendapat Naruto sendiri—pria itu yakin Hinata memang tengah mengandung anaknya. Wanita itu menjadi lebih sensitif, dan mungkin juga lebih ekspresif. Apalagi dengan Hinata yang akhir-akhir ini makin suka mual, dan terkadang seringkali membeli ataupun melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Contohnya seperti es krim tadi, Naruto pernah membeli se-baskom sedang sekitar sebulan yang lalu dan malah mendapatkan omelan panjang untuk berhemat. Dan Hinata sendiri tak terlalu suka es krim yang rasanya tercampur-campur. Namun lihat sendiri tadi, bagaimana wanita itu membeli se-baskom besar es krim dengan berbagai rasa yang berbeda-beda. Mungkin mereka memang baru tinggal beberapa bulan saja, tetapi itu semua tak menampik fakta bahwa Naruto merasakan keanehan pada Hinata.

"Sabar, sabar," Naruto memilih untuk menghidupkan ponsel pintarnya saja. Bermain satu pertandingan gim kesukaannya. Menunggu Hinata selesai mandi, dan mungkin wanita itu akan memasak makan malam terlebih dahulu.

"Naruto-kun, mau makan apa?"

Hinata keluar dari kamar mandi memang agak lama daripada perkiraan Naruto, rupanya wanita itu sengaja mencuci baju yang tadi dipakainya terlebih dahulu. Saking lamanya bahkan pria Uzumaki itu telah menyelesaikan tiga pertandingan gim sekaligus—dan untungnya sih win streak.

"Terserah, aku selalu suka masakan Hinata." Naruto mematikan ponselnya.

"Aduh, itu handuknya dijemur lagi, Naruto-kun. Jangan ditaruh di atas sofa begitu. Nanti sofanya lembab, bisa bau."

Naruto menoleh, memberikan cengiran khasnya. Hinata terlihat sangat segar sehabis mandi, rambut panjangnya yang masih basah terselimuti handuk rambut warna lavendel. Wanita itu mengenakan piaya lucu bermotif lumba-lumba yang berwana sama dengan handuknya. Oh, memang—Hinata dan keluarga warna ungu pucat memang tidak dapat terpisahkan.

"Iya, iya, Hinata-sama."

Hinata mengerucutkan tubir sejenak, mendekati Naruto sembari mengambil tas jinjingnya. "Naruto-kun tidak membuka tasku, 'kan tadi?"

Naruto membuka pintu balkon apartemen mereka dan dengan asal menjemur handuk yang telah dipakainya tadi. "Tidak kok, memang ada apa sih? Ada uang lima juta yen, ya? Duh, harusnya tadi kubuka saja."

"Kalau memang ada uang segitu, aku sudah pindah ke apartemen di kawasan Roppongi seperti apartemen Naruto-kun yang dulu." celetuk Hinata. Kali ini wanita itu menaruh tas jinjingnya di bawah meja, kemudian mulai mengeringkan rambut nila panjangnya.

"Biar kubantu," Naruto mendekati Hinata, membantu wanita itu untuk mengeringkan rambutnya dengan perlahan mengunakan handuk. Aroma shampo kesukaan Hinata yang berbau menenangkan menguar. Omong-omong, ingatkan pria itu pula untuk membeli pengering rambut. Kali ini Naruto benar akan membelinya untuk Hinata, walau wanita itu terus-menerus menolaknya. "Nanti kubelikan pengering rambut untukmu."

"Tidak usah, untuk apa? Pakai handuk saja 'kan bisa."

"Jangan menolak, please." Setelah merasa cukup kering. Naruto mengambil sisir yang ada di tangan Hinata. Pria itu sekarang tengah menyisir rambut segelap malam yang entah sejak kapan menjadi favoritnya. "Anggap saja hadiah dariku."

"Hadiah? Bahkan ulang tahunku masih lama. Harusnya aku yang menyiapkan hadiah untukmu, Naruto-kun. Oktober tinggal dua bulan lagi." Hinata tertawa. Dan Naruto hanya mendengkus mendengar hal itu. Namun dalam hati, pria itu telah menetapkan dirinya sendiri untuk membeli sebuah pengering rambut nanti. Pasti di situs jual-beli daring tempatnya bekerja ada banyak sekali yang bagus, Naruto akan mencarinya di sana besok.

"Sudah." Entah berapa lama kesunyian mendekap, tetapi akhirnya berhasil dipatahkan oleh suara senang dari Naruto. Hinata tersenyum, manis. Wanita itu mengambil sisirnya lagi dan mengecup ujung bibir Naruto.

"Terima kasih."

Naruto terkekeh, balas mengecup bibir Hinata—kali ini tepat di tengah. "Sama-sama."

"A-aku bakal masak dulu."

Pria itu lagi-lagi nyengir, pipi gembil Hinata memang tak bisa jauh-jauh dari kata merona. Wanita itu terlihat masih malu-malu saja, padahal mereka sudah melakukan banyak hal yang lebih dari sekadar kecupan di bibir.

"Aye, Captain!"

Hinata terlihat mulai sibuk di dapur kecil—sangat kecil malah—milik mereka setelah menjemur kembali handuk dan meletakkan kembali sisirnya ke dalam kamar. Wanita itu segera bertempur dengan bahan masakan untuk mereka santap sebagai hidangan makan malam. Rupanya Hinata memasak tamagoyaki, tempura sayur, dan sup miso. Dengan iseng Naruto sengaja mendekati wanita yang sedang sibuk memasak itu dan melingkarkan lengannya di perut Hinata. Pria itu menyeringai senang merasakan bahwa perut wanita itu terasa agak membesar daripada sebelumnya dan juga rona-rona merah yang menodai pipi gembil Hinata tampak membuat sang wanita makin manis.

"A-apaan sih, Naruto-kun? Aku lagi masak."

Naruto terkekeh, menyampirkan rambut nila yang masih agak lembab—pria itu menciun lembut leher Hinata menguarkan harum manis dari sabun yang wanita itu gunakan.

"Aku kangen, Hinata."

"A-ada-ada saja, hampir tiap saat kita bertemu, Naruto-kun."

"Aku kangen makan Hina—"

"—N-Naruto-kun, m-mending bantu aku menyiapkan piring dan nasinya deh."

"Argh, Hinata enggak asik."

Omong-omong, pria itu makin tidak tahan untuk mengetahui fakta yang kelihatannya tampak disembunyikan Hinata ketika telapak tangannya merasakan sendiri bagaimana perut sang wanita Hyuuga terasa berbeda. Mereka memang baru saja bersama, tetapi setidaknya Naruto menyadari perbedaan yang signifikan di bagian perut. Mungkin saja, Naruto bakal tidak tahan untuk menanyai wanita itu nanti.

•••

Makan malam sederhana mereka telah usai, Hinata sedang mencuci piring bekas peperangan mereka tadi ketika Naruto melontarkan pertanyaan yang berhasil membuat sang wanita membeku sesaat.

"Bagaimana hasilnya tadi?"

Dengan cepat Hinata menyelesaikan pekerjaannya. "Hasil apa?"

Wanita itu pura-pura lupa saja, wajah Naruto yang tampak kesal terlihat lucu di matanya.

"Aku tahu, Hinata mengerti maksudku."

Mendengkus pelan, Hinata mengelap tangannya yang basah sebelum mendekati kulkas kecil mereka dan mengambil se-baskom es krim yang wanita itu beli. "Yang di dokter tadi maksudnya?"

"Ya, apalagi memangnya."

Mengambil dua sendok makan, wanita mendekati Naruto yang tengah duduk di sofa dan ikut duduk di samping sang pria. "Nih," Hinata menyodorkan Naruto sebuah sendok.

Pipi Naruto menggembung lucu, manik safir kesukaannya itu tampak menginterogasi. "Kau belum menjawab pertanyaanku."

Oh, tidak. Hinata benar-benar merasa senang rupanya membuat sang pria Uzumaki itu menjadi kesal. Ada setitik rasa usil dalam diri Hinata untuk menggoda Naruto. Bukannya menjawab, wanita itu malah membuka es krimnya—mulai menikmati es krim campuran rasa vanila, stoberi, cokelat, dan mint.

"Naruto-kun, tidak mau?" Tanpa rasa bersalah Hinata malah menawari es krimnya pada Naruto.

"Kau pasti sedang menggodaku?! Iya, 'kan?" Toh, walau pria bermata sebiru langit itu tampak kesal—es krimnya juga tetap dimakan.

"Hinataaa..."

Hinata terkikik. "Iya, iya,"

Wanita itu tidak mengerti mengapa dirinya jadi terlihat yakin saat ini. Padahal rasanya baru saja Hinata merasa sangat ragu, banyak pikiran yang menganggu. Namun sekarang Hinata menjadi sangat-sangat santai dan yakin semuanya akan baik-baik saja. Duh, apakah ini faktor dari si adik bayi? Hinata jadi terlalu mudah berganti perasaan begini. Mood swing ibu hamil benar-benar mengerikan.

Hinata menyerahkan baskom es krim itu pada Naruto dan mengambil tas jinjing kecilnya. Wanita itu mengeluarkan beberapa foto hitam putih—yang Hinata yakini Naruto pasti tahu apa itu—dan beberapa vitamin pula obat dari sana.

"Yap, empat testpack kemarin benar," Hinata menyerahkan kepada Naruto salah satu foto hitam putih itu. Isinya seperti abstrak, tetapi terdapat gumpalan kecil yang manis pula unik di sana. "Kata dokter, dia sudah berusia tujuh minggu di dalam sini." Lanjut Hinata sembari mengelus pelan perutnya.

Naruto dengan segera menaruh baskom berisi es krim itu di atas meja berkaki rendah di hadapan mereka. Wajahnya tampak aneh—memerah seperti kepiting rebus, bibirnya bagai bergetar seperti ingin berteriak, tetapi matanya berkaca-kaca.

"Aaaaaaaa..." Hinata benar-benar tertawa ketika Naruto menahan jerit—suaranya mirip seperti tikus yang terjepit.

Wanita itu sedikit terkejut ketika mendapatkan serangan dadakan—sebuah pelukan hangat dari Naruto. Pria itu tak henti-hentinya mengecupi tiap senti wajahnya sebelum akhirnya melabuhkan sebuah ciuman dalam di bibirnya.

"Aku mencintaimu." Kening mereka saling menyentuh, senyum Naruto yang menawan membuat Hinata merasakan wajahnya benar-benar terbakar.

"A-aku juga mencintaimu."

Keju memang, tetapi selama membuat mereka berdua bahagia tak masalah.

Naruto kembali membawa Hinata ke dalam rengkuhannya. "Sebenarnya aku juga sudah bisa menebak bahwa kita akan benar-benar menjadi orang tua, tetapi saat kau menunjukkan foto itu rasanya seperti...berbeda. Lebih menyenangkan. Entahlah."

Naruto—pria itu sedikit membungkuk, wajahnya sengaja dihadapkan pada bagian perut Hinata.

"Halo, sayang. Ini Papa." sapanya sembari mengelus pelan perut yang belum terlalu membesar itu. Sementara Hinata, wanita itu tengah membeku sesaat melihat perlakuan sang pria.

"Jangan nakal, ya. Jaga Mamamu baik-baik. Papa menyayangimu." Naruto sengaja menyingkap atasan piyama Hinata untuk mencium langsung perut sang wanita.

Ayolah, ini terlalu manis. Lebih dari pikiran positif yang sempat dibayangkan Hinata tadi sore.

Senyum manis Naruto masih mengembang, mata birunya sengaja fokus tepat ke arah mata gandaria itu.

"Ayo, kita menikah."

"Baik—apa?"

Naruto tertawa, tampan. Pria itu mengulangi pernyataannya.

"Ayo kita menikah, Hyuuga Hinata. Jadilah, Uzumaki Hinata."

Hening sejenak. "Semudah itu? Secepat ini? Kau mau menikah dengan wanita aneh sepertiku?"

"...ya, memang tidak seperti pernikahan yang mungkin kau impikan, sih. Yang terpenting nama kita secepatnya harus tercatat sebagai pasangan suami-istri," Naruto mengecup pipi gembil calon istrinya yang merona sebelum mencubit pelan pipi bak bakpao itu. "Dan apa-apaan 'menikah dengan wanita aneh sepertiku' itu? Kau memang aneh, tapi aku tidak peduli. Soalnya aku juga agak aneh. Yang terpenting itu, aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Kita saling mencintai, bahkan berusaha untuk saling berkomitmen walau belum lama ini. Untuk apa mempertanyakan hal ribet seperti itu? Kita jalani saja dahulu."

Hinata meringis, iya juga. Sial, akhir-akhir ini dia terlalu berpikiran negatif—membuatnya sering menjadi melankolis sendiri. Yang berada di hadapannya saat ini hanyalah Uzumaki Naruto.

Pria malaikat tampan bagi Hinata, tetapi wanita itu sempat melupakan fakta bahwa Naruto tak se-menarik itu di mata wanita pada umumnya. Apalagi pria itu kadang suka ceroboh dan agak jorok. Selera pria itu terkadang juga sangat aneh—melebihi dirinya. Sangat bukan tipe pangeran berkuda putih.

"Ya," Walaupun sejujurnya pernikahan impian Hinata dari kecil ialah mengenakan gaun pengantin bagai gaun putri yang bagus dan mempelai pria bertuksedo layaknya pangeran berbau modernisasi—tetapi semakin dirinya dewasa, harus semakin realistis bukan? "Aku mau."

"Tentu saja kau harus mau," Naruto tersenyum jahil. Pria itu melirik beberapa obat dan vitamin yang masih digenggam Hinata. "Dan apa itu?"

"Ini vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mual," Setelah menjelaskan hal itu dengan singkat, Hinata tiba-tiba mengingat kembali secarik kertas dari dokter obstetri yang ditemuinya tadi. "Oh, iya, aku hampir lupa. Karena sudah masuk minggu ketujuh, dokternya sudah memberikanku ninshintodokesho untuk ditukarkan di kantor pemerintahan. Rencananya besok aku akan ke sana sehabis jadwal mengajarku berakhir besok siang. Sekalian mau belanja bulanan dan membeli susu ibu hamil."

"Sudah ada formulirnya? Namamu di sana tertulis sebagai—"

"—tentu saja Hyuuga Hinata. Aku 'kan belum resmi menjadi Uzumaki." Hinata sedikit mengerucutkan tubir. Dirapikannya kembali berbagai vitamin dan obatnya, memasukkan kembali ke dalam tas jinjing kesayangannya itu. Selanjutnya Hinata kembali mengambil baskom es krim dan mulai menyantapnya lagi.

"Hinata, kau tahu 'kan—kupon dan buku pemeriksaannya hanya berlaku ketika namamu masih seperti di formulirnya?"

Ditanyai seperti itu, Hinata menjadi merasa sebal sendiri. "Tentu saja tahu, aku 'kan memang masih menjadi Hyuuga Hinata."

Kini Naruto menggembungkan pipinya, "Namun besok tidak lagi."

Wanita itu menghela napas, menahan diri agar tidak marah-marah. Hinata memang agak kesal dengan pernyataan yang dilontarkan Naruto tadi. "Jangan bercanda, Naruto-kun."

Lagi pula, tidak akan secepat itu. Naruto setidaknya harus menyediakan cincin—tidak wajib, tetapi Hinata ingin itu ada menyiapkan surat-surat untuk mendaftarkan pernikahan mereka, dan yang paling penting adalah izin dari ayahnya tercinta di Hokkaido sana.

Hinata agak sangsi dengan bagian yang terakhir, ayahnya pasti bakal marah—menolak. Karena nyatanya hubungan mereka berdua masih seusia jagung. Tinggal bersama saja, kata Hanabi—ayahnya itu sudah menyiapkan pisau daging. Apalagi menikah? Di tengah pandemi begini. Jauh dari mereka. Namun Hinata yakin pria baya kesayangannya itu akan menerima walau terpaksa pinangan Naruto ketika tahu bahwa calon cucunya akan hadir ke dunia. Dan jangan lupakan pula kemarahan sang ayah yang mungkin kecewa dengannya. Lagi-lagi rasa sedih menghampiri Hinata kalau mengingat hal yang mungkin bakal terjadi ke depannya.

Duh, Hinata juga menjadi makin rindu dengan keluarganya. Terutama sang ayah.

"Aku tidak bercanda, Hinata." Nada suara Naruto terdengar sangat serius, begitu pula mata birunya yang tampak tajam meluruskan pandangan hanya pada Hinata. Pria itu tampak makin menawan. Membuat wajah Hinata memerah lagi entah sudah yang keberapa kalinya. Wanita itu kini menelan ludah, gugup.

"N-Naruto-kun?"

Kini pria itu tampak meraih sesuatu di kantong celana training yang sedang dikenakannya. Dan mata Hinata membulat ketika menemukan sebuah kotak berwarna merah yang khas tersodor padanya.

Kotak cincin.

Wanita itu gagal menyendok es krim, hanya mampu memegang erat baskom dingin itu saat Naruto mulai bersuara.

"Aku tahu, aku itu tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Suka tidak peka, tolol lagi. Namun aku benar-benar tidak dapat menampik fakta bahwa aku kini telah gila. Gila akan cintaku padamu."

Siapa pun. Tolong cari tahu dari mana Naruto menyontek kata-kata itu! Payah sekali, tetapi Hinata benci dengan jantungnya yang malah berdebar keras sekarang. Wajahnya benar-benar seperti terpanggang.

"Jadi, maukah kau menikah denganku, Hinata? Mengubah namamu menjadi Uzumaki. Menjadikanku Ayah dari anak-anak kita nanti."

Hening sejenak. Hinata sangat bingung untuk berkata-kata. Pula wajah Naruto yang entah mengapa menjadi sedikit kecewa karena wanita itu sama sekali tidak membalasnya.

Namun tiba-tiba saja—

"Hahahaha," Demi apa pun, rasanya Hinata benar-benar ingin tertawa sekeras-kerasnya. Menertawai wajah Naruto yang pias ke seluruh dunia jika bisa.

Apalagi wajah pria itu yang kini berubah jadi tanya.

Hinata tersenyum manis, sampai-sampai matanya terlihat menyipit.

"Aku tidak punya alasan untuk menolak 'kan? Dan kau juga harus memiliki kata-kata yang bagus untuk kauucapkan pada ayahku nanti, bukan? Namun tolong jangan kata-kata cringe seperti tadi, ya."

Hinata tahu, orang-orang bakal menilai mereka gila.

Namun nyatanya ada banyak hal yang kedua manusia itu syukuri saat terjadinya pandemi virus saat ini; bertemu, saling mengenal, dan membentuk sebuah keluarga. Kebahagiaan yang sedikit tidak sesuai kondisi memang, tetapi bahagia akan tetap menjadi bahagia. Tak tergantikan.

.

.

End

.

.

Ninshintodokesho: Formulir pemberitahuan kehamilan. Biasanya berupa kertas yang diberikan oleh dokter kandungan kepada ibu hamil di Jepang kalau usia kandungannya sudah masuk minggu ketujuh. Formulir ini nantinya bakal ditukar dengan;

-Kupon pemeriksaan ibu hamil (kupon ini membantu banget, jadi dengan kupon ini tuh para ibu hamil bisa USG, tensi, cek urin, dsb dengan gratis. Jadi, kalian hanya bayar konsultasi dokter aja. Soalnya kalau enggak ada kupon ini, biaya USG dan yang lainnya mahal banget.)

-Buku-buku kehamilan, balita, dsb (ini semacam buku-buku KB lah, kalau di Indonesia)

-Ganci dan pin penanda ibu hamil

Jadi, ninshintodokesho ini harus dibawa ke kelurahan supaya bisa dapat hal-hal yang di atas tadi.

.

.

Omake:

"Hinata, percaya atau tidak—tetapi Ayahmu sudah memberikan restu pada kita."

Hinata makin mengeraskan tawa. "Wah, keren! Bagaimana bisa? Kenapa kau masih selamat?"

Oh, Naruto tentu tahu wanita itu sedang mengejeknya. Pria itu mendengkus. "Ya sudah, kalau tidak percaya."

Wanita itu tersenyum geli, kembali memakan es krimnya dengan tenang. Kali ini Hinata menghidupkan televisi yang tersedia untuk sekadar nonton berita di malam hari.

Naruto menghela napas. "Beneran, Sayang."

"Oke, kalau begitu kita akan menikah kapan?"

Jelas, pria itu tahu Hinata masih menganggapnya melucu. Namun Naruto memilih untuk diam saja, bersabar.

"Besok siang."

Dan hanya dibalas gumaman asal oleh Hinata yang mulai fokus menonton sembari menikmati es krimnya. Ternyata Hinata telah mengganti channel televisi menjadi salah satu channel yang menayangkan drama misteri malam kesukaannya.

Ada banyak hal yang sebenarnya ia rahasiakan dari Hinata. Tentu bukan rahasia buruk, hanya saja Naruto ingin sekali memberikan wanitanya itu kejutan. Terlihat manis, Naruto tak tahan untuk mengecup singkat pipi Hinata. Yang dibalas dengan tawa kecil dari sang wanita.

Mungkin tahun ini bukan tahun yang terbaik bagi mereka, tetapi Naruto tetap ingin tahun ini tidak terlewati hanya dipenuhi dengan duka saja. Terutama untuk Hinata, Naruto mengakui bahwa dirinya benar-benar sudah gila. Jatuh cinta sedalam ini untuk wanita yang bahkan baru dikenalnya beberapa bulan. Tinggal bersama bahkan akan memiliki si kecil. Bagi orang, Naruto memang sudah dianggap tidak waras. Namun bagi dirinya sendiri adalah kebahagiaan. Dan Naruto merasa Hinata adalah orang yang paling tepat untuk melengkapi hidupnya.

Berbicara tentang restu, Naruto sama sekali tidak bohong. Bahkan, faktanya diam-diam pria itu sudah beberapa kali bertemu dengan Hyuuga Hiashi. Ayah dari calon istrinya.

Ya, bertemu.

Beberapa bulan yang lalu, ketika ayah Hinata mengetahui bahwa anak perempuannya tinggal dengan seorang lelaki—Naruto tahu bagaimana sedihnya Hinata dan betapa hebatnya kemarahan pula kekecewaan Hiashi pada putrinya.

Naruto tentu tahu diri, dia yang menyebabkan kekacauan itu dan harus bertanggung jawab.

Memang sangat tidak mudah, ayah Hinata itu seringkali memakinya, menyumpahinya, bahkan tak jarang mengancam untuk menghabisi nyawanya. Pria baya itu galak sekali, berbeda jauh dari putri sulungnya yang titisan malaikat.

Namun, dengan sangat yakin—Naruto selalu mengatakan hal yang sama pada ayah Hinata sejak pertama kali mereka beradu suara.

"Saya akan bertanggung jawab. Saya mencintai Hinata dan ingin menikahinya." Tentu kata-katanya itu dihadiahi serapah. Namun Naruto tetap gigih. Lagi pula, pria itu sama sekali tidak dendam pada calon ayah mertuanya itu.

Menurut Naruto wajar, Hiashi menginginkan hal yang terbaik untuk putrinya. Naruto merasa suatu saat dia akan menjadi seperti itu juga. Mendiang kedua orang tuanya pun pasti menginginkan yang terbaik untuk Naruto selama ini, pastinya mereka juga akan mendukung keputusan yang diyakininya baik. Ibu dan ayah Naruto pasti juga menginginkan putra mereka tumbuh dengan bertanggung jawab dan menjadi lelaki sejati.

Maka yang selama ini Naruto lakukan adalah meyakinkan Hiashi. Melayakkan dirinya untuk mampu bersanding dengan wanita sebaik Hinata, dan selalu menunjukkan rasa hormat pada sang calon ayah mertua dengan sebaik-baiknya walau kadang dibalas tuba.

Hal itu Naruto lakukan secara diam-diam. Tanpa diketahui Hinata.

Naruto tidak bisa menjelaskan secara detailnya sekarang. Yang pasti usahanya sangat keras sekali. Salah satu buktinya adalah tato cap biru di lututnya yang masih bertahan saat ini—walaupun sudah tidak terlalu sakit. Hasil karya calon ayah mertua tersayangnya. Namun, Naruto mengakui ini hanya hasil jatuh di jalan beberapa hari yang lalu saat pergi berbelanja bulanan pada Hinata.

Nyatanya tato biru itu Naruto dapatkan saat bertemu dengan Hiashi untuk yang pertama kali. Sebuah tendangan dahsyat yang tak terlupakan.

Ya, Hiashi ada di Tokyo beberapa minggu ini. Bersama dengan Hanabi juga. Mereka dapat kemari atas undangan dan tiket pesawat yang Naruto sengaja berikan secara cuma-cuma. Alias tak ada hal lain yang membahagiakan daripada mendapat restu dari orang tua kekasih. Naruto hampir menangis karena akhirnya Hiashi hanya menghela napas dan mengangguk setelah mereka bertemu secara langsung untuk yang ketiga kalinya. Hiashi pasrah, dia menyerahkan seluruh masa depan hubungan mereka pada perasaan Hinata nanti. Pria baya galak itu nyatanya sangat mencintai putrinya. Hiashi hanya berpesan untuk selalu membahagiakan Hinata—dan Naruto dengan senang hati akan melaksanakannya, bahkan sekalipun tanpa diminta.

Omong-omong, sebenarnya juga Naruto bahkan sudah menyiapkan berkas-berkas pernikahan—pun mendaftarkan nama mereka berdua di Balai Kota. Tanpa sepengetahuan Hinata, tentu saja. Tepatnya sang pria melakukan itu semua saat Hiashi tiba di Tokyo. Ayah wanitanya itu meminta sebuah pertanggungjawaban saat keduanya baru pertama kali bertemu. Naruto pun tidak memiliki alasan untuk menolak. Ya, bisa dibilang Hiashi sebenarnya sudah memberikan restu sejak awal—hanya saja tetap Naruto masih belum lolos dari yang namanya omelan. Namun, jelas Naruto maklum—secara pria itu dengan seenaknya mengajak anak gadis orang tinggal di kediamannya, menjadikannya kekasih. Pun entahlah mengapa, firasat Naruto mengatakan bahwa dirinya harus melakukan hal tersebut—mendaftarkan pernikahan mereka secapatnya. Dan benar saja, sekarang, Hinata tengah mengandung anaknya. Jelas Naruto memiliki dasar yang sangat kuat untuk menikahinya.

Semoga saja, Hinata—

—benar-benar mau menikahinya.

Tentu saja, Naruto merasa agak tidak enak juga karena melakukan hal sesakral ini diam-diam. Namun, entah, Naruto hanya bisa berdoa yang terbaik dalam hati.

Selain itu, beberapa saudara Naruto dari Okinawa juga telah berada di Tokyo atas undangannya. Naruto mengumumkan bahwa pria itu akan menikah. Okinawa gempar. Menjadikan Nagato—sepupunya dan bibi Karin, adik mendiang ibunya—seseorang yang selama ini menjadi wali dari Naruto segera terbang ke sini setelah mendapatkan undangan terkesan abal-abal itu.

Ya, Hinata sama sekali tidak tahu apa-apa. Biar saja jadi kejutan yang tak terlupakan untuk wanita itu.

Naruto lagi-lagi berdoa agar Hinata benar-benar ingin menikahinya.

Omong-omong, ketika pandangan Naruto bertemu kembali dengan foto hitam putih unik itu—pria itu tersenyum manis. Namun setelahnya meringis.

Kali ini dia akan mendapatkan lebih banyak tato. Dari dua orang, bahkan bisa lebih.

Semoga saja termaafkan.