My Everything by 98 Degress
(Mau nyoba pov Sesshoumaru ah. Tadinya sih pov 2, tapi akunya ga percaya diri. So pov Babang kita tersayang dulu ya.)
Sesshoumaru ini akan bercerita sebelum dan sesudah mengenal Kagome.
Aiko: "Cekidot."
Sesahoumaru: "Nanni cekidot?"
Aiko: "Udahlah, Bang. Kepo amat?"
Abaikan saja. Yuk mari ...
Aku memasuki S-Class hitamku ke pelataran halaman kampus Todai. Mataku lurus ke depan. Mengabaikan mahasiswa di luar sana berteriak memanggil namaku.
Cih!
Suara mereka membuatku terganggu. Berisik sekali. Seperti burung sedang kawin di atas pohon. Beberapa gadis berusaha menghalangiku agar aku membuka kaca jendela. Masa bodoh! Aku enggak mau. Mereka lebih meyeramkan daripada siluman.
Banyak gosip beredar bahwa aku ini gay atau homo. What the hell is that?! Kurang ajar sekali mereka. Enggak perempuan, enggak laki-laki semua sama saja! Mereka jauh mengerikan!
Apa Sesshoumaru ini takut? Tidak. Sesshoumaru ini tidak kenal takut. Mereka hanya berani diluar. Begitu aku memasuki kelas semua diam. Senyap. Hening. Seolah-olah aku ini membunuh mereka.
Ada yang nyontek? Keluar.
Ngobrol di kelas selama aku menerangkan mata kuliah? Nilai nol atau telur bundar.
Mau nilai E? Silakan saja, aku sama sekali tidak keberatan memberi nilai tanpa ampun. Jangan berharap merengek atau mengemis mendapat nilai di hadapanku.
Jadi, jangan macam-macam sama Sesshoumaru ini.
Gosip semakin santer terdengar. Aku dosen sejarah yang kejam. Mahasiswa seperti ketakutan dikarenakan auraku menebar maut. Layaknya pembunuh berdarah dingin. Bagus, mereka takut padaku. Tidak ada yang berani menatapku lama-lama.
Berita kekejamanku santer sampe ke ruang dosen. Miroku sudah menasihatiku berkali-kali jangan terlalu galak.
Aku tidak bergeming.
Naraku si rambut ombak keriting juga begitu. "Sesshoumaru, jangan begitu. Nanti kau ga punya pacar."
'Pacar'? Hal itu saja sudah membuat alisku berkedut.
Suatu hari, aku mengajar mahasiswa semester satu. Namun, aku melihat ada satu kursi kosong. Ada yang tidak datang. Berani-beraninya dia? Awas saja. Setelah pelajaran usai, ketika aku di luar seorang gadis menubruk tubuhku. Ketika manik itu menatapku, sepertinya dia habis menangis. Manik biru seteduh biru laut. Wajahnya yang manis, rambutnya tebal panjang sepunggung. Harum di rambutnya membuatku ingin menyesap aroma nya.
Yang membuatku terkejut, dia menraktirku makan tapi dengan uang seadanya. Aku menyunggingkan senyum remeh sekaligus ada rasa senang.
'Kagome Higurashi'.
Begitulah namanya. Sesuai dengan wajahnya yang lembut. Tapi ... Dia makan banyak sekali. Apa dia lapar atau enggak makan berapa hari?
'Sial!'
Kenapa aku malah peduli?
Hal yang aku kenal dia adalah ceroboh. Dan aku ingat sekali dan itu akan selalu tersimpan di benakku, dia datang terlambat dengan wajah tidak bersalah. Dia malah tersenyum padaku.
'Tubub Bapak aduhai.'
Aku terkejut dan membalikkan tubuhku. Apa-apaan dia? Ternyata dia melamun. Dan aku memergokinya sisir bulat ikut terangkut ke dalam kelas. Geger sudah seisi kelas menertawainya. Tanpa kenal takut apalagi ada aku di situ dia membentak teman-temannya walau masih skala bercanda.
Dari situlah ada perasaan asing mulai menjalar dihatiku. Apa ini? Kenapa kata-katanya terus terngiang di benakku? Sampai suatu saat aku bertemu dengannya lagi di minimarket. Tanganku menenteng bungkusan. Karena aku belum makan dia menawariku ke apartement supaya aku tidak kehujanan.
Ketika aku menginjak kakiku ke dalam, apartemennya kecil sekali dan agak berantakan. Sepatu berserakan dimana-mana. Bahkan mataku tertuju kain berenda segitiga dan bra berwarn biru teronggok di lantai. Tahu aku memperhatikan, dia cepat-cepat membersihkan dan menaruh asal ke keranjang pakaian kotor.
Jadilah aku makan bersamanya dengan lauk seadanya. Selama makan dia terus bercerita tiada henti seperti CD terus diputar. Dia tidak peduli aku bosan atau tidak. Toh, aku menikmatinya.
Lama kelamaan aku mulai mencari sosok gadis manis. Selama mengajar, aku diam-diam mencuri pandang. Aku mengamati gerak geriknya.
Aku baru tahu dia masuk ke Universtitas Tokyo menggunakan jalur beasiswa. Amat jarang calon mahasiswa bisa tembus ke Todai. Salah satunya gadis ini. Aku kagum padanya.
Aku memberanikan diri mengantarnya ke rumah dengan dalih mau main ke rumah teman. Padahal aku tidak punya kerabat di sana.
Alasan memang.
Hal yang membuatku kagum adalah keluarganya. Aku mulai menyukainya. Kata ibuku, waktu aku masih kecil aku sering mengunjungi kuil. Seorang wanita sedang menyuapi anak kecil di dalam gendongan dan dibelakangnya anak perempuan bersembunyi. waktu itu aku tidak kenal dia.
Wajar saja kan kakek tua itu masih mengenalku.
Keceriaan dan semangatnya yang tinggi membuatku penasaran. Aku jadi ingin bersamanya. Kemudian aku kerumahnya lagi karena ponselnya dimatikan.
Aku mulai khawatir. Aku takut dia kenapa-napa. Aku jarang melihatnya makan dengan 'normal'. Maka aku memutuskan menyusulnya. Pagi itu dia bangun dengan memakI celana pendek, dengan atasan kaus tipis memperlihatkan buah dada tidak memakai bra. Kala itu dia terkejut dan malu.
Ketika aku menyuruhnya mengerjakan soal sejarah, sebenarnya aku ada maksud terselubung. Tentu saja atas izin Pak Tua Totosai aku diperbolehkannya menjadi asisten dosenku. Tebakanku tidaklah salah. Dia menjawab soal yang lumayan sulit dengan nilai sempurna.
Tak lama tetangganya datang membawa sekotak apel. Gadis itu mengangkat kotak apel lumayan berat. Aku menawarkan diri untuk membantunya. Tanpa sadar aku mengesahkan Kagome kekasihku di depan para tetangganya.
Gadis itu tentu saja terkejut. Dikira aku ini bercanda. Sejak kapan aku main-main? Aku serius dengan ucapanku.
Nyatanya? Dia tidak peka.
Ada satu hal yang menggangguku. Adik tiriku yang sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya hampir mencium Kagome. Emosiku mendidih. Ingin rasanya meninju mukanya.
Aku bisa menahan kecemburuanku, tapi perbuatan adik tiriku membuatku sangat ingin melenyapkannya. Dalam artian jangan dekati Kagomeku!
Gayung bersambut. Study tour lah awal mula aku menyatakan perasaanku padanya. Dan dia belum menjawab. Aku menunggu, sampai kapanpun aku akan sabar menunggunya. Hanya Kagome seorang.
Hancur sudah raut dingin wajahku. Aku mendengar dengan sangat jelas gadis itu menolak adik tiriku. Kalau saja bayangan hitamku keluar dari tubuhku mungkin aku akan langsung bersujud, berlutut dan berdoa.
Aku bersyukur mengenalnya. Bagiku Kagome bagaikan matahari bersinar di atas sana. Memberiku cinta tanpa akhir. Sekarang begitu jelas bagiku. Perasaanku menghangat.
Kau segalanya bagiku. Semua rasa ini dibawa oleh cintamu. Hidupku hanya milikmu. Satu-satunya cinta yang pernah aku tahu. Kau menarikku ke permukaan, tiada ada gadis yang sepertimu.
Tanpa kau tahu, tiap malam aku berdoa.
Berlutut ...
Bahwa kau akan selalu menjadi ... Segalanya bagi Sesshoumaru ini.
Takdir yang mempertemukan kami. Semua harapan dan impian kini menjadi kenyataan. Perlahan kau telah membuka hati ini untuk merasakan cinta yang sebenarnya. Kasih dan cinta yang kau beri, tak kan ku biarkan pergi.
Aku melirik gadis cantik sedang asyik mendendangkan lagu. Sudah menjadi kebiasaannya bila aku sedang menyetir. Dia tidak akan membiarkanku mengantuk, maka mulailah dia bernyayi Black Mamba girlband asal Korea Selatan. Kubiarkan saja dia sesuka hati asal bahagia.
"Sesshoumaru, ini lagu NCT U, judulnya Work It," celotehnya dengan raut wajah ceria. Bagiku musiknya terlalu berisik ditambah Kagome nyanyi cukup kencang. Aku mengalah dan menutup salah satu telinga kiriku.
"Sesukamu sajalah."
Oya, sebelumnya Totosai mengatakan hal yang mengejutkan. "Pengaruhnya sangat besar. Kau telah berubah, Sesshoumaru."
Aku tersenyum sekilas. Mana mau terang-terangan di depan Pak Tua.
"Huaa capek nyanyi."
Aku mengerling. Dia mulai mengantuk tapi matanya terus dipaksakan terbuka. Aku mengusap kepalanya. "Tidurlah."
Gadis itu mengangguk. Tak lama suaranya tadi ramai kini sunyi. Tidurnya sangat tenang, dadanya naik turun teratur. Tinggalah aku menyetir sendirian.
Aku menurunkan kecepatan mobil dan perlahan menepi di pinggir jalan. Mataku terpaku, wajah manis yang terkena cahaya senja yang hendak pulang ke peraduan.
Cantik.
Kau nafasku, Kagome. Di dekatmu aku merasa bebas. Jiwa ini kembali utuh ... Untuk selamanya.
'Dan kau segalanya bagiku, Calon istriku.'
TBC
Gyaaahhh, aku deg-degan nulis ini. Entah apa yang merasukiku sekarang ini, aku bahagia. Sungguh!
Makasih banyaaaakkkkk tak terhingga untuk sobatku tersayang AmetoAi dan SitiaraPelmansyah yang sudi komen dan vote cerita ini. Muach muach.
Eh, btw gimana kalo kita bikin komunitas khusus SessKag? Jawab di komentar ya.
Arigatou gozaimasu.
NoteS: aku kek orang gila senyam senyum sendiri. Abis gimana dong aku seneng bNget. [-_-](*3)/(•ᴗ•)
