Nothing's Gonna Change My Love For You by George Benson.

"Kagome, cepat!"

Gadis berkuncir kuda menarik lengan Kagome. Tangannya menghalau tubuh para mahasiswa yang sedang berkerumun. Mata mereka tertuju pada objek benda persegi panjang yang menempel di dinding.

Kedua perempuan sama-sama berwajah cantik menjinjitkan kaki. "Uh, enggak kelihatan," keluh Sango kecewa.

"Sama aku juga." Kagome mengerucutkan bibirnya sambil berkacak pinggang.

Setelah mengikuti ujian akhir semester dan melaksanakan tes bahasa Inggris yang telah ditentukan oleh dosen, Kagome melangkah ke depan untuk presentasi. Telapak tangannya mulai berkeringat. Berdoa dalam hati supaya lancar, menghembuskan napas pelan, Kagome siap. Matanya tertuju pada sosok dosen bertampang dingin tapi tampan yang tengah menatapnya.

"Kau sudah siap, Higurashi?" Tanya salah satu dosen pengawas.

Kagome mengangguk mantap seraya merapikan jas biru terang almamater dan rok hitam lipit selutut. Manik birunya menatap sepatu kets biru yang sudah terikat rapi. "Saya siap!"

"Silakan pilih kertas di meja ini," titah sang dosen. Ada lima kertas beraneka warna. Kagome meneliti kira-kira apa ya.

"Jangan lama-lama, Higurashi."

"Hai." Kagome masih bimbang, kertas mana yang akan dia ambil. Diam-diam netra biru laut mencuri pandang Sesshoumaru yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Gadis itu membuang muka menghindari tatapan tajam pria itu.

"Ja -ken-po!"

Tentu saja dosen pengawas di ruangan itu terheran-heran dengan ulahnya. "Apa yang kau lakukan, Higurashi?"

"Saya memilih nomor dua." Kagome menyentuh kertas berwarna merah muda dengan kelima jarinya sebagai bentuk kesopanan.

Salah satu dosen menyerahkan kertas merah muda kepada Kagome. Ketika dia membalikkan lembaran itu, manik birunya membulat, mulutnya menganga.

Translate Feodal History Japanese to English.

DUAAR! Bagai dilempar bom atom, Kagome terkesiap.

'Mampus deh aku, tolong ceburkan aku ke dalam kolam ikan!' batinnya menjerit nelangsa.

"Waktumu dimulai dari sekarang!"

Kagome mengangguk seraya menarik napas panjang. "In Japanese history, the feudal era is divided into two parts. The first half is called medieval (chūsei) from the Kamakura period to the Muromachi period, while the second half is called the modern century (kinsei) from the Azuchi-Momoyama period to the Edo period."

Kagome menarik napas lalu membuangnya. Kemudian dia melanjutkan, "Reigned in Japan from 1185 to 1333 in the so-called Kamakura period which was a period of transition to medieval Japan. The Middle Ages lasted for nearly 700 years ..."

Sementara gadis yang memakai jas biru terang sibuk menerjemahkan, Sesshoumaru tampak menahan tawa. Dia takjub akan perubahan roman Kagome nya. Hati pria tampan itu tergelitik manakala raut kekasih-ralat-calon istri tampak serius, alis hitam bertemu di tengah. Tangan Sesshoumaru bertumpu ke dagu, manik amber tak lepas memandang.

Kemudian pria sebentar lagi berumur 27 tahun melirik dosen-dosen sedang asyik berdiskusi. Sementara dua dosennya mengangguk puas.

"Bagaimana Pak Sesshoumaru mengenai Kagome Higurashi?"

Kembali lagi ke wajah stoic andalannya, dingin di mix datar. "Hn."

"Mahasiswa sebelum Higurashi bagaimana pendapatmu, Pak Sesshoumaru?"

"Kasih saja nilai D!" Tegasnya.

Dosen tua itu mengangguk. "Baik."

Kagome bernapas lega, akhirnya dia dapat menyelesaikan dengan cukup baik. Rambut gadis itu sudah melewati punggung, poninya sudah melebihi mata. Karena mengganggu, dia selipkan belakang telinga.

"Terima kasih, Higurashi. Silakan keluar di pintu sebelah sana."

"Baik, terima kasih," Kagome membungkuk ke dosen pengawas termasuk laki-laki berambut silver yang dia sayangi. Setelah tubuhnya sudah menegak kembali. Kaki jenjang itu melangkah menuju pintu keluar.

Kagome lulus dan melaju ke semeter dua dengan angka yang memuaskan IPK 4.00. Gadis manis itu segera menelpon mama di Nagoya. Terdengar ucapan penuh syukur dari wanita yang sudah melahirkannya.

"Belajar lebih giat lagi, Kagome," titah sang Mama.

"Baik, Mama."

Pada semester kedua, untuk mengimbangi biaya hidup tinggi di Jepang, para mahasiswa diperbolehkan bekerja paruh waktu demi memperoleh uang tambahan. Tentu saja dengan syarat mendapat izin dari pihak kampus. Mereka tidak boleh bekerja pada jam malam seperti klub, panti pijat, dan tempat karaoke.

Maka dari itu Kagome tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Beberapa lowongan kerja di mading dia tulis. "Sango, kau sudah dapat belum?"

Sango menyerahkan notes pada Kagome. "Jam nya? Kita jangan terlalu sore. Siang saja kalau bisa."

"Tunggu, aku lihat dulu jadwal mata kuliah yang kosong hari apa saja." Sango menggeser layar ponsel dengan telunjuknya. Gadis yang ditaksir oleh Miroku genit itu berkata, "Bagaimana hari Rabu dan Kamis?"

Kagome berpikir sejenak. "Um, oke."

Hari berikutnya, Kagome sudah mengantongi Surat Izin Cari Kerja Paruh Waktu (SIKPW) dari Sesshoumaru. Gadis itu bersyukur, kekasihnya memperbolehkannya bekerja paruh waktu. Dengan syarat, sama siapa, dimana, dan pulang jam berapa.

Karena tempatnya dekat dengan kampus dan apartemennya, Sesshoumaru berkata, "Boleh."

Kedua gadis itu langsung diterima jadi pelayan oleh pemilik cafe Winter. Owner bule tersebut menanyakan kuliah dimana. Setelah mengetahui, dua gadis itu tidak diperbolehkan memakai rok apalagi di atas lutut. Wajib memakai celana pandang dengan atasan baju yang sopan, demi menjaga nama baik kampus Todai. Setelah dijelaskan peraturan dan cara kinerja yang pemilik cafe inginkan dan diberi gaji dalam satu minggu, mereka mengangguk setuju.

Siang ini pelanggan cafe Winter banyak sekali yang datang dan tempat hampir penuh. Kecuali meja no 9 sudah ada yang pesan. Entah siapa yang reserved, Kagome mengendikkan bahu, seraya ke meja kasir untuk melayani tamu berikutnya.

"Welcome, oh Mr. Sesshoumaru. How are you? Come and have a sit."

"Table no 9."

Kagome lagi melayani tamu memesan kudapan di meja no 4, telinganya menangkap suara kasak kusuk di ruang belakang. Ada apa sih? Ketika berbalik, matanya serasa keluar dari tempatnya. Meja no 9 itu adalah ...

"Sesshoumaru," desisnya.

"Nona?"

"Maafkan, saya ulangi dua chicken katsu dan dua hot ocha." Konsumen itu mengangguk, Kagome segera menuju ke belakang.

"Kagome, Pak Sesshoumaru datang," bisik Sango.

Kagome menggaruk pipinya tidak gatal. "Oh iya, hehehe."

"Meja no 9."

Namun apa yang terjadi? Pelayan-pelayan Winter malah berebut ingin melayani si pria tampan yang duduk di pojok dekat jendela. Kagome tersenyum geli.

"Maaf, nona-nona. Mr. Sesshoumaru hanya mau dilayani oleh Nona Higurashi," ucap pemilik cafe Winter tersenyum.

"Ehh?"

Erangan kecewa keluar dari mulut mereka. Kagome hanya bisa tersenyum hambar. Gadis itu membawa nampan berisikan croissant dan earl gray tea.

"Silakan, Sesshoumaru," bisiknya geli. Senyum manis terukir di bibir Kagome.

Sesshoumaru menatap Kagome. Sorot matanya hangat dalam damba. "Thanks."

Jam hampir menunjukkan pukul 16.30 saatnya berganti shift. Kagome segera melepas apron putihnya ke dalam locker. Setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik cafe, dua gadia itu kemudian berpisah.

Ponsel anak sulung Higurashi bergetar di dalam tas. Ops! Sesshoumaru. Jempolnya menggeser tombol hijau di ponselnya.

"Ya, Sesshoumaru?"

"Aku di belakangmu."

Kagome memutar tubuhnya, mencari sosok tak jua dia temui.

"Ke kanan sedikit."

Kagome melangkah, tapi matanya tetap awas buat jaga-jaga agar tidak ketahuan oleh mahasiswa lainnya. Tidak ada yang tahu mereka mempunyai hubungan khusus. Di kampus tetap profesional layaknya dosen dan asisten dosen.

Kagome sudah duduk di mobil. "Huaah aku merasa seperti mata-mata." Gurauan gadis itu dibalas oleh nada monoton, biasalah khas Sesahoumaru. (Kayak kagak tau aje)

"Kita jalan-jalan sebentar, yuk."

Menerima ajakan dari sang kekasih, Kagome mengangguk semangat. "Hai."

S-class melaju ke tempat yang akan mereka tuju. Sesshoumaru memutar lagu favoritnya.

If I had to live my life without you near me

The days would all be empty

The nights would seem so long, with you I see forever

Oh, so clearly, I might have been in love before

But it never felt this strong

"Sesshoumaru, bagaimana harimu?"

"Biasa saja."

"Um, hariku dilalui pertama kali diterima kerja di cafe tadi. Capek memang, tapi aku senang sekali. Ya, itung-itung menambah pengalaman," tuturnya dengan semangat membara."

Sesshoumaru diam, tapi telinganya siap mendengarkan 'curhatan' sang calon pendamping hidupnya. Dia tidak keberatan sama sekali gadis itu bercerita panjang x lebar.

Hold me now

Touch me now

I don't want to live without you ...

"Sesshoumaru."

Manik ambernya menoleh sekilas lalu lurus ke depan. "Hn?"

Nothing's gonna change my love for you

"Apa kau malu aku bekerja di sana?" Tanyanya takut-takut. Kalau pria itu tidak suka maka dia harus berhenti.

"Tidak."

Matanya melirik lagi. "Aku tidak pernah melarangmu. Asal itu sama siapa, dimana, dan pulang jam berapa."

Kagome terharu mendengar penuturan dari Sesshoumaru tercinta. Timbul niat iseng menggodanya. "Kalau bukan perempuan? Boleh?" Aslinya sih Kagome menahan tawa.

"Tidak boleh." Wajahnya mengeras.

"Bila aku menolak?" Goda Kagome, lagi.

You ought to know by now how much I love you

The world may change my whole life through but

Nothing's gonna change my love for you

Emas bertemu biru laut. "Ku cium kau."

Kagome tergelak ramai seraya mengelus lengan kanan Sesshoumaru. "Gomen, gomen, aku hanya bercanda. Tidak mungkin lah aku berbuat seperti itu, Sesshoumaru yang ku sayangi."

Relung hati terdalamnya jadi hangat. Ada kelegaan terpancar di raut dinginnya. Pria itu meraih lengan Kagome dan mengecup lembut punggung tangannya.

"Aku cinta kau apa adanya, Kagome. "

TBC.

KYAAAHH!!! habis nulis ini aku langsung koprol!!! Senang? Jelaz. Walau di bab ini awalnya aku bingung mau nulis apa. Sekitar pukul 19.00 baru deh dapat ide setelah aq denger lagu sambil riset. Hahahyy

Terima kasihku untuk:

Sobatku AmetoAi yang selalu menanti karya abal-abal ini. Aku juga menunggu CTO loh, fufufu

dewi_novica yang sudah komen dan vote. Nuhuunn pisan.

yeinjungkok hatur nuhunnn dah komen, vote dan saran-saranmu. Aku sangat menghargainya.

Buat guest di FFN, thanks a lot of your komen. Ini Bab 16 dah update. Hehehehe

Minna, aeigatou gozaimasu.

Spoiler alert!

Kanjeng Inukimi muncul di bab selanjutnya.

Inukimi: thanks God! /Langsung sujud syukur.