Will You Still Love Me by Chicago
"Kaede."
Wanita paruh baya menoleh. "Ya, Nyonya?"
Setelah menyelesaikan tugas di dapur, dia menuju teras samping di mana sang majikan sedang duduk menyesap earl grey.
Kaede berdiri tak jauh dari majikan duduk. Tak lama seorang chef terkenal datang membawa *Chocolate Earl Grey Cake with Lavender Ganache.
Mata Inukimi berbinar, cake di hadapannya sangat menggugah selera. "Berikan sepotong untuk saya."
Sang koki mengangguk. "Baik."
Chef dari Inggris itu meraih pisau lalu memotongnya. Dengan hati-hati dia meletakkan kue di atas piring porselen putih agar tampilannya tetap cantik. Chef bule itu tersenyum tatkala sang majikan memperhatikan cara ia menaruh cake. Lalu di atasnya disiram vla.
"Silakan Nyonya."
"Tampaknya lezat." Wanita itu meraih garpu lalu memakannya. "Hm, kue ini sangat enak. Kau sangat hebat dan berbakat, pujinya.
"Terima kasih, Nyonya."
"Kau boleh kembali. Oh ya, kau harus membuat kue dan tolong kasih tahu ke chef Bert untuk masak yang paling enak. Besok kita kedatangan tamu," titahnya.
"Baik, Nyonya."
Setelah chef itu menghilang dari pandangan, Kaede bertanya. "Siapa yang akan datang, Nyonya?"
"Hm." Senyum terpancar dari wajah cantiknya.
Drrt drrtt
Inukimi terus memakan kue yang bagi nya sangat lezat.
"Anda tidak mau menerima panggilan, Nyonya?"
Inukimi melirik sekilas. 'Sesshoumaru' ... "Tidak."
"Bagaimana tadi di kampus?"
"Great."
"Apa Anda sudah bertemu dengan gadis itu?"
Inukimi mengangguk, "Sudah. Tak kusangka dia mengajar waktu saya memasuki kelasnya."
Kaede tersenyum, "Penampilan Anda terlalu mencolok."
Alisnya terangkat. "Really? Apa saya sudah tidak pantas?" Wanita cantik itu menuangkan teh ke dalam cangkir biru yang sudah kosong.
Kaede menggeleng. "Sangat pantas, tapi alangkah baiknya Anda mempunyai baju seperti anak remaja pada umumnya."
"Baiklah, aku akan membeli beberapa pakaian besok."
Baik, Nyonya."
"Kaede ..."
"Ya, Nyonya?"
"Saya jadi ingin menculik anak itu," nadanya terdengar monoton.
Kaede hanya tersenyum. "Nanti Tuan Sesshoumaru marah, Nyonya."
Tangan kanannya menopang pelipis. "Habis lama amat, padahal sudah saya suruh bawa ke sini."
"Mungkin Tuan Sesshoumaru sibuk dan gadis itu juga mengajar."
Inukimi menghela napas. "Dia Lambat. Sungguh, saya jadi ingin menculiknya dan bawa ke sini."
Kaede hanya tersenyum. Dia mengerti arti di balik kalimat majikannya. Dia terlalu lama hidup menyendiri. Untuk menutupi kesepiannya wanita cantik jelita itu menyibukkan dirinya dengan berbagai pekerjaan.
"Siapkan makan malam, sebentar lagi anakku tiba," titah Inukimi seraya beranjak dari kursi.
"Baik."
Sesshoumaru sudah turun dari mobil. Kunci mobil dia serahkan pada salah satu pelayan yang sudah menunggunya.
"Ibu ada?"
Sang pelayan mengangguk hormat. "Beliau ada di dalam, Tuan Sesshoumaru."
Sesshoumaru melepas longcoat hitamnya lalu ditaruh di lengannya. Sosok yang dia cari ada di ruang tv sedang duduk membaca majalah ... Fashion mungkin.
"Oh, kau sudah pulang."
"Hn."
"Ibu sedang mencari baju yang cocok untuk ibu. Kira-kira mana yang bagus?" Inukimi menyodorkan majalah pada anaknya.
Bukan menerima, malah memberi tatapan tajam pada ibunya. "Apa yang ibu lakukan di kampus pagi tadi?" Sesshoumaru berkata tanpa basa basi.
Inukimi menatap heran. "Ibu rindu kampus ibu, kok. Kenapa?"
"Kenapa malah masuk kelas?"
"Memangnya kenapa? Enggak boleh? Suka-suka ibu dong," sahutnya cuek. "Ih, gadis itu cerita ya?"
Suara pria itu makin berat. "Ibu apakan Kagome?"
Inukimi meletakkan majalah ke meja jati penuh ukiran naga. "Kagome-mu tidak diapa-apakan. Ibu ingin melihat seperti apa sosoknya."
Sesshoumaru menghela napas mendengar penuturan ibunya yang terbilang kepo. "Bisakah ibu bersabar dulu?"
"Tidak bisa."
Sesahoumaru memijat pelipisnya. "Ibu tahu kan akhir-akhir ini aku sibuk, Kagome pun sibuk menggantikan aku mengajar."
"Alasan! Ibu ingin kau 'culik' dia, besok sudah ada di sini." Kali ini Inukimi benar- benar merajuk.
"Terus kalau aku culik, Kagome ibu apakan?" Sesshoumaru berusaha melindungi calon pendampingnya.
"Ibu ingin mengobrol dengannya."
"Bukankah ibu ada rapat besok?"
Inukimi menyenderkan tubuh ke sofa. "Sudah ibu tunda. Ini ibu lakukan karena ingin mengenal 'calon istrimu'.
Sesshoumaru tertegun. "Apa yang ibu lihat dari dirinya?"
"Banyak. Dia memberi ibu dua potong sandwich. Dia berkata, apa sudah pada sarapan? Ibu bilang belum. Lalu dia menyerahkan bekalnya untuk ibu makan.
"Ibu makan bekalnya?"
"Iya," jawabnya enteng.
"Ibu yakin dia belum sarapan."Alis anaknya terangkat sedikit saja. "Perutnya berbunyi."
'Pantas saja', gumam Sesshoumaru dalam hati.
Sesshoumaru tidak bisa berkata apa-apa. Kalau ibunya mau begitu, maka Sesshoumaru meliburkan kelasnya. Sesshoumaru mengambil ponsel apple nya di balik saku celana. Jempolnya menggeser lalu mencari nama yang akan dia telpon.
"Ya, Sesshoumaru?" Suara lembut dari seberang telpon.
"Kau lagi apa?" Tanya Sesshoumaru datar tapi lembut.
Inukimi mengangkat alisnya, sedikit. Dia tertegun. Wajah anaknya tadi dingin sekarang raut itu berubah dan sedikit senyuman. Hanya karena mendengar suara gadis itu sudah cukup membuatnya puas.
"Aku lagi makan."
Inukimi dapat mendengar dengan jelas, gadis itu tergelak.
"Kau makan lagi?"
"Makan mochi maksudnya, he he."
"Besok pagi kelas sudah aku liburkan. Jam 8 pagi aku culik kau." Bibir pria itu menyunggingkan senyum menawannya.
"EEEHH!?"
Sesshoumaru tampak menahan tawa. "Ya sudah, tidur yang cepat."
"Siap, Pak Bosku tersayang."
Inukimi terpana dibuatnya. Dia sangat tahu perangai anaknya. Dingin, jarang tertawa, raut nya datar, dan pelit senyum. Namun, semuanya berubah. Sesshoumaru menanggalkan itu semua karena gadis itu. Inukimi semakin penasaran ingin mengenalnya. Wajah merengut anaknya sudah jarang dia lihat. Diam-diam Inukimi mengabadikan anaknya tengah menelpon dengan iphone agar bisa disimpan. Langka, sih.
Manik emas Sesshomaru menyipit. Dia mematikan selulernya. "Apa yang ibu lakukan!"
"Memotretmu," sahut nya santai. Sesshoumaru berusaha merebut ponsel, tapi sang ibu sangat gesit dan langsung menaruh di balik bajunya, lebih tepat di dada.
Sesshoumaru menghela napas kasar, mengalah. Ibunya tersenyum kemenangan. "Wajahmu itu perlu dilestarikan".
"Makan malam sudah siap, Nyonya Kimi dan Tuan Sesshoumaru." Sahut Kaede.
"Hn," jawab keduanya kompak.
Di makan bundar di atasnya bisa diputar sudah terhidang makanan western yang sangat menggugah selera. Juru masak bule itu mengiris tipis Granny Classic Meatloaf. Lalu menaruh mash potatoes di pinggir dan salad sayur ditaburi potongan keju dan parmesan. Inukimi berpesan pada chef besok ada tamu nya Sesshoumaru. Jadi masak enak, kepala juru masak itu mengangguk.
Dua cangkir teh dengan dua irisan lemon dan rosemary siap disajikan.
"Terima kasih," sahut keduanya.
Setelah makanan di piring mereka kosong, Kaede mengupas apel hijau. Bagi mereka walau hidup kaya raya dan serba berkecukupan, pantang membuang makanan apalagi bersisa di atas piring. Banyak orang yang diluar sana kelaparan. Maka Inukimi selalu mengajarkan pada anaknya untuk hidup syukur dan jangan sampai menyisakan makanan. Ambil seperlunya, kalau kurang bisa tambah.
"Yang lain sudah makan?" Tanya Inukimi."
"Mereka sedang makan, Nyonya," ujar Kaede seraya menyodorkan potongan apel di atas piring.
Sesshoumaru mengambil anggur ungu satu buah.
Inukimi memberi isyarat pada Kaede bahwa Inukimi tidak ingin diganggu. Menurut, Kaede segera meninggalkan ruang makan.
"Sesshoumaru." Inukimi memanggil anaknya seraya meletakan garpu di sebelah kanan.
"Hn."
Tidak bisakah kau menjemputnya lebih pagi?"
"Apa ibu ingin aku menjemputnya subuh-subuh?"
"Oke, jam 7 pagi kau sudah harus berangkat."
"Jam 8 saja."
"Sekarang berubah. Jam 7 pagi."
Sesshoumaru menyender tubuh ke kursi. "Jangan merubah seenaknya."
"Keras kepala. Jam 7 pagi."
Tidak bisa diganggu gugat. Bila ibunya sudah punya keinginan maka itu tidak bisa dibantah. Tentu saja dalam batas kewajaran.
"Kelihatannya ibu sangat penasaran sekali."
Inukimi meletakkan cangkir teh. "Tentu saja. Ibu ingin tahu apakah dia mencintaimu apa adanya walau anakku ini keras kepala, dingin, wajah datar, dan jarang tersenyum?"
Netra amber Sesshoumaru terus menatap ibunya. Kekhawatiran nya terlalu berlebihan. Apa ibunya meragukan kesetiaan Sesshoumaru ini pada gadis yang dicintainya?
"Ibu hanya khawatir. Kau tahu kan ayahmu pergi meninggalkan ibu pada saat kau masih kecil?"
Sesshoumaru masih diam.
"Ibu membesarkanmu seorang diri, Sesshoumaru. Dia bahkan tidak pernah ke sini atau menghubungi ibu."
Raut wajah sedih tertinggal di wajahnya yang awet muda. Tak lama, roman kesedihan hilang sekejap mata. "Maka itu ibu putuskan menjadi spy di kampus Todai."
Sesshoumaru menurunkan kepalanya ke bawah. Wajahnya menegang.
"Biarkan ibu yang menilai."
TBC.
Ini dia cokelat earl grey lavender with ganache. Weheheheh tadinya mau taruh di atas, tapi kok tampilan wp agak berbeda sebelumnya jadi ya aku pasangin aja di sini. ohya hanya bisa diliat di Wattpad sih gambarnya.
Semua gambar aku ambil dari Pinterest. Sengaja aku tampilkan agar kesannya agak hidup.
Well, terima kasih banyak Ame yang lain yang udah vote dan kasih komen. Nantikan saja bab selanjutnya rada manis kek gulali.
Arigatou gozaimasu. *Bow*
