I'll Stand By You by Pretenders
Di apartemen Kagome, pagi sekali pria bertubuh tegap sudsh berdiri di depan pintu. Tentu saja gadis itu kalang kabut dibuatnya. Sesshoumaru diam saja mendengar nada panik kekasihnya.
Lelaki tampan memakai longcoat abu tua dengan aksen bulu-bulu putih di kerah. Dia mengamati gadis itu kesana kemari. Makan roti sambil hilir mudik. Lalu membuka lemari mencari baju yang cocok untuk ketemu ibu pria itu. Mandi dan gosok gigi secepat kilat. Keluar kamar mandi hanya memakai handuk. Dia lupa ada sosok tampan sedang memperhatikan tiap gerak geriknya.
Hatinya tergelitik tatkala Sesshoumaru memandang dua gundukan tertutup oleh handuk mandi. Di balik pintu siluet lekuk tubuh gadis manis itu terlihat jelas dari belakang.
Kagome menoleh. Mata biru gelapnya mendelik, wajahnya merah padam mendapati Sesshoumaru memandang tanpa berkedip. "Jangan lihat, balik sana!" Langsung menutup pintu.
'Telat! sudah terlanjur melihat!' umpat Sesshoumaru dalam hati. Salah sendiri kesana kesini tanpa memperhatikan ada Sesshoumaru ini.
Ya, begitulah Kagome. Ceroboh. Biar kelakuannya kadang bikin gemas bagaimanapun juga pria wajah rupawan itu sangat mencintainya.
"Pantas tidak aku memakai baju ini?" Tanya Kagome.
Hari ini dia akan bertemu dengan ibunya Sesshoumaru. Jadi harus rapi dan wangi. Laki-laki di hadapannya memang suka bikin orang terkejut. Agak was-was bila ketemu sama calon mertua.
Sesshoumaru memutar tumitnya, mendapati Kagome memakai turtle neck hitam senada celana hitam lurus memperlihatkan lekuk pinggangnya, blazer warna khaki dan sepasang sneakers tali hitam putih. Tas hitam tersampir di pundaknya. Rambut hitam tebal dibiarkan tergerai. Make up tipis dan lipatick nude mempercantik bibirnya.
'Cantik,' puji nya dalam hati.
"Hn. Pantas. Maaf bila aku menjemputmu pagi-pagi." Sesshoumaru meraih pinggang ramping Kagome.
"Enggak apa-apa. Dan maafkan aku juga dandan ala kadarnya." Kagome melangkah sambil menyugar rambut agar tampak rapi.
Tiba-tiba Sesshoumaru merengkuh tubuh Kagome nya erat. Gadis itu membalas pelukannya. Harum di tubuhnya menguar. "Kau harum."
Kagome memberi jarak menatap sang kekasih. Dengan tergelak dia berkata, "Itu karena aku sudah mandi."
"Ayo! Ibu sudah menunggu kita."
Dalam perjalanan, Sesshoumaru merasakan tidak ada celoteh dari Kagome. Biasanya gadis itu 'rutin' menceritakan segala aktivitas baik itu di apartemen maupun di kampus. Pokoknya aja saja jadi bahan cerita.
Sesshoumaru mengaitkan jemarinya. Gadis cantik itu menoleh, lalu membalas mengeratkan tangannya. "Apa yang kau takutkan?"
Kagome menghela napas. "Aku khawatir, Sesshoumaru. Aku belum tahu seperti apa rupa ibumu."
"Kalian sudah pernah bertemu, kok." Jawab pria itu tenang.
Alis hitam Kagome bertaut. "Hah? Kapan? Di mana?!" Seketika saja dadanya berdegup kencang.
"Nanti kau akan tahu."
"Aku deg-degan," Wajahnya mulai tegang dan duduknya tidak tenang.
Untuk menenangkan kekasih hatinya, Sesshoumaru mengusap mahkota hitam gadis itu dengan penuh sayang.
Mereka tiba di kediaman Taisho. Kagome sampai menganga saking takjubnya. Inikah rumah Sesshoumaru dan ibunya tinggal? Halamannya luas sekali. Pohon cemara berjejer di kiri jalan pintu masuk. Di sana sudah menunggu pelayan laki-laki menyambut mereka.
Begitu tiba di beranda pintu depan, pelayan itu membuka pintu mobil. "Selamat datang Tuan Seshoumaru dan Nona Kagome. Nyonya sudah menantikan kalian."
Kagome membungkuk. "Terima kasih."
"Ayo!"
Ketika memasuki ruang tamu, guci antik berjejer di sudut ruangan. Lampu kristal chandelier tergantung cantik di ruang tamunya yang luas. Bunga mawar putih ditaruh dalam vas antik dibatas bufet.
Mereka sampai di ruang kerja. Pelayan mengetuk pintu. "Nyonya, Nona Kagome sudah datang.
"Masuk!"
'Eh? Suara itu, rasanya aku pernah mendengarnya, tapi di mana ya?' benak Kagome dalam hati.
Pintu cokelat berukir flora terbuka. Sesshoumaru meraih pinggang Kagome menuju sofa merah pinggiran emas. Di balik meja kantor ada seseorang duduk di kursi itu.
"Bu, Kagome di sini," ujar Sesshoumaru.
Kursi itu berbalik.
"Salam kenal, Nyonya Namaku Higurashi Kagome," gadis itu membungkukkan tubuhnya.
"Selamat datang, Kagome."
Kagome menegakkan tubuhnya, matanya membulat seperti hendak melompat keluar, rahangnya jatuh sangat tidak elit. "D-ddia ...!" Kagome kehabisan kata-kata. "A-aanda adalah ... Bukankah pernah ada di kelasku waktu itu?!"
Wanita itu mengangguk. "Kau benar." Lalu berdiri. "Perkenalkan. Namaku Inukimi."
'Inukimi? Tunggu dulu, jangan-jangan ...'
Perempuan cantik itu menyunggingkan senyum. Manik emasnya menelisik penampilan Kagome. "Aku ibunya Sesshoumaru."
Bagai ketimpa batu meteor yang menancap di atas puncak kepala, Kagome masih ternganga lebar, matanya sudah bulat jadi tambah bulat seperti mata rektornya, Totosai.
"APAAA?!!!" Kagome syok abis. Wajahnya pucat pasi. Gadis itu terhuyung dan tak sengaja memegang lengan Sesshoumaru. Dan pria itu sigap melingkar pinggangnya.
"Kau terkejut?" Inukimi berjalan menghampiri Kagome yang sedang terkaget-kaget.
Kagome tidak bisa berkata apa-apa. Hari ini anaknya menjemputnya pagi-pagi sekali. Padahal janjinya jam 9 pagi. Nah, sekarang ibunya. Datang ke kampus dengan pakaian yang elegan abis sehingga mahasiswa di kelasnya tak berhenti terpesona menatapnya layaknya ada artis menyusup di kelas. Rasanya mereka memang hobi bikin kejutan.
"Ibu, berhentilah menggodanya!"
Wajah wanita itu tetap datar tanpa ekspresi. "Kenapa?"
Kagome tak habis pikir, wanita ini ibunya Sesshoumaru. Dia kira sudah tua, nyatanya masih muda penampilannya bak ABG. Apakah dia ini vampire? Kagome kecele abis hari ini.
Kagome menunduk dalam, malu. Dia ingat pernah memberikan dua sandwich padanya. Mau taruh di mana muka ini?
"Kagome."
Kagome menegakkan kepalanya. "Ya, Nyonya?"
"Jadi kau rupanya yang sudah merebut hati anakku."
Alis hitam Kagome bertaut. Hah? Maksudnya apa sih?
"Aku penasaran. Kesenanganku akhir-akhir ini jadi berkurang."
"Bu."
"Biasanya wajah merengut dan dingin Sesshoumaru selalu aku lihat setiap hari.
"Bu!"
Inukimi tidak peduli dan terus melanjutkan kalimatnya. "Kini wajah itu terganti dengan sebuah garis senyuman."
"Bu, hentikan!"
Kagome memandang ibu dan anak secara bergantian. Tunggu dulu, jadi dulu Sesshoumaru ..."
"Kau rupanya biang keladinya, Kagome."
Sesshoumaru menutup matanya dengan tangan kanan. Beneran deh, ibunya ini senang sekali menggoda dia dan Kagome nya.
Kagome terhenyak. Inukimi memegang kedua bahunya. Memperhatikan penampian kekasih anaknya dari atas sampai ujung kaki. Manik emasnya yang tadi menatapnya dingin kini berubah hangat. Kagome cepat membungkuk, "Maafkan aku telah memberi dua sandwich ala kadarnya, Nyonya Inukimi."
Inukimi menggeleng. "Aku yang harusnya mengucapkan terima kasih. Aku merasakan ketulusanmu.
Kagome tertegun lalu memandang wajah Sesshoumaru yang berdiri di sebelahnya.
"Dan itu terpancar dari matamu, Kagome."
Gadis itu tersenyum manis. "Terima kasih Nyonya Inukimi."
"Mulai sekarang, panggil aku Ibu Kimi." Lalu memeluk Kagome setelah itu memandang lekat-lekat. "Selamat datang, Kagome. Kau diterima di sini."
Kagome hendak membungkuk tapi ditahan oleh Inukimi.
"Hai, Ibu Kimi," ujar gadis itu dengan suara lembut. Senyum merekah.
Inukimi masih menatap lekat gadis di hadapannya. "Kau begitu kurus. Sebagai calon istri anakku, kau harus makan yang banyak."
'CA-CALON ISTRI?!!" Jeritnya dalam hati.
"Bu, aku lapar!"
"Ayo, kita sarapan bersama." Inukimi merangkul pundak Kagome. Tentu saja disambut dengan anggukan gadis itu.
Teras samping disulap tempat meja makan. Di sudut kiri terhidang berbagai aneka masakan lezat. Di sebelah kanan beraneka kue dan kukis dan minuman.
"Kau duduk di sampingku." Inukimi menepuk kursi agar gadis itu duduk di sebelahnya sedangkan Sesshoumaru duduk berhadapan dua wanita yang dia sayangi.
(Author ngiler beneran ini(•ᴗ•))
Kagome sampai terperangah melihat aneka makanan sangat lezat. Perutnya sudah keroncongan. Dan wooww ada es krim kesukaannya!
Inukimi senang melihat mata Kagome. Selalu berbinar dan indah. "Sesshoumaru bilang itu kesukaanmu. Maka aku sengaja membelikannya untukmu."
"Terima kasih, Sesshoumaru. Dan terima kasih juga, Ibu Kimi." Ah, Kagome terharu. Walau ibu dan anak ini sama-sama dingin, namun dibalik wajah es itu tersimpan hati yang hangat. Mereka lebih ke tindakan daripada kata-kata.
"Mari makan!"
Ketika sedang makan harusnya tidak ada yang bersuara. Kagome lah yang memecah keheningan itu. Maka dia memulai duluan. Ya, ngobrol apa saja. Dia tak sadar, empat pasang mata menatapnya tanpa berkedip.
Kagome tersadar, seharusnya pada saat makan tidak boleh bicara. "Maafkan aku, Ibu Kimi."
"Teruskan," ujar Sesshoumaru.
Obrolan makin berlanjut. Inukimi terpancing oleh gosip tentang film-film drama korea.
"Aku suka film Goblin."
Kagome mengangguk semangat. "Sama, Bu. Aku juga suka sama Gong Yo."
Manik emas Sesshoumaru menyipit. "Siapa itu Gong Yo?" Nadanya berubah dingin.
Inukimi mengibaskan tangannya. "Ah, anakku ini payah, Kagome. Gong Yo itu aktor film Goblin asal Korea.
Kemudian Kagome menunjukkan foto Gong Yo yang dia ambil dari internet. Sesshoumaru meraih ponsel gadis itu dan langsung men delete foto siapa sih tadi? Gong? Sun Go Kong?
(Aiko: Astaga, Bang! Ga gitu juga kaliik)
Mata Kagome mendelik. Bibirnya mengerucut. Foto Gong Yo dihapus oleh Sesshoumaru. Aduhh segitunya ya.
Sesshoumaru memandang dua wanita sedang asyik ngerumpi. Terutama ibunya. Ibunya itu tampak 'hidup'. Setelah sekian lama hidup menyendiri tanpa teman bicara selain Bibi Kaede. Kehadiran kekasihnya membawa aura positif.
Ibunya tertawa!
Sesshoumaru takjub. Kagome membawa perubahan di rumah ini. Bahkan dia melihat Bibi Kaede tersenyum sambil menyeka air mata di sudut sana.
"Kagome, leluconmu sangat lucu." Di sela-sela tawanya wanita berambut silver itu berkata, "Aku sudah lama tidak sesenang ini. Kau tahu? Aku membesarkan Sesshoumaru seorang diri. Dulu, Sesshoumaru aku bawa ke kampus ketika dia masih kecil. Menemaniku kuliah dan selalu aku bawa kemana-mana. Sampai akhirnya aku lulus Cum Laude dengan hasil memuaskan."
Kagome terpana. Betapa hebatnya orang ini. Membesarkan anak dan menjadi orang yang berhasil dan sukses. Kagome benar-benar kagum dibuatnya.
"Wahh, Ibu Kimi memang hebat!" Puji Kagome tulus. Gadis itu benar-benar mengagumi wanita ini.
Drrrt drrrt
Ponsel Inukimi berbunyi. Menggeser slide tombol hijau. Alis nya bertaut. Raut wajahnya tak senang.
"Ada apa, Bu."
Inukimi menatap wajah sang anak . Terlihat sekali riak mukanya gusar. Ayahmu dan istri nya akan datang ke sini."
Mata emas Sesshoumaru melebar.
Sedangkan Kagome membelalakkan kedua matanya.
Nada geram keluar dari bibir Sesshoumaru. Baritone nya makin berat. "Mau apa mereka ke sini."
TBC.
Wadohhhhh dr semalem nulis laahh malah ketidurann. Skrg mau update.
Makasih banyak yang udah komen lucu2 dan udah vote. Makasi banyak.
AmetoAi aku mau neror epilog CTO aahh
Arogatou gozaimasu!!!
