Goodbye by Tulus

Wanita yang parasnya masih cantik itu berjalan ke arah ruang tamu. Manik emas menyipit tatkala dia mendapati laki-laki atau tepatnya suami bersama perempuan berambut hitam digelung. Di sebelah mereka duduk seroang pemuda bersurai perak.

Lekas-lekas memasang wajah stoic andalan Inukimi. Ketiga orang itu berdiri menyambut Inukimi. Laki-laki gagah hendak menyalami nya. Namun, kekecewaan yang didapat karena Inukimi tidak melengos.

"Silakan duduk!" Ucapnya penuh kewibawaan. "Ada apa gerangan kalian kemari?"

Nadanya mengalun, tapi tidak dapat di pungkiri aura wanita itu kuat dan memancarkan keanggunan. Dengan kemeja garis putih biru dengan bawahan kulot biru gelap sangat berkharisma.

Pria gagah di hadapanya sampai tidak berkedip memandang wajah wanita itu. Perempuan di samping itu menyadari dan menyikut tulang rusuknya. Tentu saja ringisan didapat laki-laki berkuncir itu.

"Maafkan kami telah lancang kemari."

Wajah Inukimi tetap datar. "Siapa kau ini?"

Wanita berambut hitam itu tergagap. "Perkenalkan, namaku Izayoi, istrinya Toga," memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.

"Tidak kenal."

Bagai puncak kepala peremouan itu ditimpa batu besar, dia malah panik dan meminta tolong pada suaminya.

"Maafkan aku, Kimi."

Inukimi mengepalkan tangan erat. Dia meradang. "Maaf? Apa telingaku tidak salah, Toga?!

Wajah datar Inukimi retak sudah. Dia benar-benar murka. "Begitu enak nya kau bilang maaf pada istri pertamamu ini? Aku tanya, sekarang aku ini apa mu? Masih kau anggap istri atau apa?"

Inuyasha mulai emosi. "Jaga bicaramu!"

"Kau-yang-jaga-bicaramu!" Nada Inukimi makin berat. Manik emasnya tajam menusuk.

Inukimi berdiri hendak meninggalkan mereka bertiga. Hatinya sakit. Sangat sakit. Tidak tahu kah dia betapa beratnya hidup tanpa seorang suami.

"Aku minta maaf, Kimi! Aku yang salah!" Toga membungkuk dalam.

Alis Inukimi terangkat dan menoleh.

"Kenapa baru sekarang ke sini? Kemana saja kau selama ini?" Cecar Inukimi.

"Tolong dengarkan aku."

Inukimi masih mematung di tempat.

"Kumohon ..."

Inukimi kembali ke tempat duduknya. Kali ini tangannya bersedekap di dada.

"Semua ini berawal dari campur tangan keluargamu, Kimi ..."

Di ruang lain, Sesshoumaru mendengar sangat jelas percakapan ibu dan ayahnya. Keturunan keluarga Inukimi memang mempunyai pendengaran super tapi hanya kalangan tertentu dan itu termasuk dirinya.

Ditambah orang yang membuatnya iritasi adalah pemuda itu ada di sana. Bocah ingusan selalu memanggilnya dengan sebutan 'brengsek' tiap kali berpapasan di kampus.

Tangannya mengepal geram.

Harusnya brengsek itu ayahnya! Meninggalkan ibu dan dia tanpa sebab.

Kagome yang duduk di hadapannya berusaha menghibur kekasihnya. Gadis itu tidak mau ikut campur urusan keluarga orang.

Batin Kagome terenyuh, Sesshoumaru menggenggam erat tangannya. Kelihatan sekali pria ini menahan amarah dan beban yang ditanggung.

Kagome mengusap punggung tangannya menenangkan sang putra Inukimi. Dan Sesshoumaru menarik tangan Kagome lalu di tempelkan ke keningnya.

Tatapan matanya sendu. "Kagome, apa yang harus kulakukan?"

Kagome memberi senyuman manis. "Kau harus tenang. Kita belum tahu apa sebab ayahmu pergi meninggalkan Ibu Kimi."

Sesshoumaru mengecup lama punggung tangan calon pendampingnya. "Terima kasih," bisiknya.

"Kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu?" Tanya gadis manis itu hati-hati. Sedapat mungkin jangan sampai kata-katanya menyakiti hati putra Toga.

"Tuan Sesshoumaru."

"Hn."

"Tuan dipanggil oleh Nyonya." Kaede di berdiri di belakang Sesshoumaru.

Mengangguk, pria itu berdiri menuju ruang tamu. Bibi temani Kagome di sini!" Titahnya.

Kaede mengangguk. "Baik, Tuan."

Sesshoumaru melangkah dengan elegan. Mendapati tiga orang dewasa dan satu 'bocah kurang ajar' duduk di sana. Kedua alisnya bertaut di tengah.

"Sesshoumaru." Sang ayah berdiri hendak memeluk anaknya. Sayangnya, sang anak tidak membalas pelukannya. "Maafkan ayah, Nak! Maafkan ayah!"

Sesshoumaru tidak bergeming, masih mematung. Tatapannya tajam memandang ayahnya. Namun, dia tetap menjaga sopan santun. "Duduklah!"

"Ada apa, Bu?" Memandang sang ibu hanya menunduk dalam.

Kemudian Toga menceritakan kembali awal mula dia pergi meninggalkan dua orang yang dia cintai. Semuanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Izayoi yang duduk di sisi nya diam. Inuyasha pun tidak berkata apa-apa.

"Semua ini karena campur tangan dari keluarga Kimi. Mereka tidak senang akan keberadaanku. Katanya, aku ingin merebut harta warisan. Dan mereka akan melakukan apapun itu. Apapun!"

"Aku dan Kimi terus berdebat tanpa ada penyelesaian. Akhirnya aku pergi supaya kalian aman."

"Kenapa ..." Desis Sesshoumaru dingin.

"Aku terpaksa, Sesshoumaru. Selama mereka masih hidup aku tidak bisa melihat kalian." Ada nada getir dari bibir Toga.

Potongan demi potongan terekam di benak Sesshoumaru. Pria itu cerdas. Dia menyimpulkan bahwa hubungan ayah dan ibunya tidak disetujui hanya karena beda kasta.

'Menyedihkan!'

Dan kini dia mengerti. Ayahnya masih mencintai ibunya. Hanya saja caranya yang salah. Para sesepuh bagsawan dari sang ibu sudah tidak ada di dunia ini. Maka itu ayahnya berani menginjak kakinya kemari.

Dari semua puzzle itu ibunya belum bercerai dengan Toga

"Terima kasih, Kimi. Kau berhasil mendidik Sesshoumaru." Ucapan tulus keluar dari lisan Toga.

Kimi hanya menunduk. Bahunya berguncang hebat. Wanita berlipstik merah itu menangis!

"Kimi." Izayoi memulai pembicaraan. "Toga masih mencintaimu."

Setelah Toga dan istrinya pulang, Inukimi masih mengurung diri di kamar. Sesshoumaru berdiri di depan pintu kamar sang ibu. Di dampingi Kagome, mereka mengetuk pintu bersamaan. Kala itu Kagome melepas blazer abu nya.

"Ibu Kimi, mari kita makan dulu." Suara penuh kelembutan dari gadis itu membuat pemilik manik emas menoleh. Tangannya bergerak mengelus rambut hitam calon pendampingnya. Tentu saja roman gadis memerah.

Hening.

Kagome mencoba mengetuk pintu. "Ibu Kimi?"

Manik emas Sesshoumaru menyipit. Ada yang tidak beres!

Knop berputar dan pintu berukir sulur itu terbuka. Sesshoumaru dan Kagome terkejut. Inukimi tergeletak di bawah lantai marmer yang dingin. Segera saja mereka menghambur menghampirinya.

"Ibu!"

"Ibu Kimi!" Jerit gadis itu panik. Tangannya memeriksa kening Inukimi. "Ibu Kimi demam!"

"Bibi Kaede!!"

Dari balik pintu tampak wanita tua berambut ubanan datang tergopoh-gopoh.

"Bibi Kaede, bisakah bibi membantuku untuk mengganti pakaian Ibu Kimi?" Pinta Kagome. Tangannya bergerak melepas kancing kemeja sang calon ibu mertua.

"Tentu!"

Sesshoumaru sibuk menelpon dokter tangannya terjulur membuka lemari pakaian. Matanya mencari baju yang nyaman. Mendapati baju sutra putih keunguan Sesshoumaru langsung mengambilnya.

"Kagome."

Gadis itu menoleh. Sesshoumaru menyerahkan pakaian tidur terbuat dari sutra yang sudah pasti mahal. "Terima kasih, Sesshoumaru," pujinya yang dibalas anggukan dari laki-laki itu.

"Aku ambilkan segelas air hangat!"

Kagome mengangguk. Tangannya sibuk mengganti pakaian. Tubuh Inikimi lemah tak berdaya.

"Kau sangat cekatan, Nonan Kagome," puji Kaede takjub.

Kagome tersenyum malu. "Dulu aku ikut P3K. Untunglah aku masih ingat."

Dokter berseragam putih masuk ke dalam kamar diikuti Sesshoumaru. "Permisi, ujar dokter pria itu sopan."

Mereka bertiga memberi ruang agar dokter memeriksa kondisi Inukimi. Napas wanita itu memburu. Keringat muncul di keningnya.

Setelah dokter selesai memeriksa, Kagome melisankan kalimatnya. "Bagaimana keadaan Ibu Kimi, Dok?" Tanyanya cemas.

Dokter melepas kacamatanya. "Nyonya Inukimi sangat kelelahan dan syok. Jadi saya akan memberi suntikan antibiotik dan obat-obatan untuk Nyonya."

"Terima kasih, Dok."

Kagome mengompres memakai handuk hangat ke kening Ibu Kimi. Setelah itu tangannya mengelus pinggung sang calon ibu mertua tidak sadarkan diri. Napasnya kini teratur. Tangan Kagome terjulur membetulkan letak selimut sampai ke dada.

Gadis itu merasakan Sesshoumaru berjalan mendekatinya. Puncak kepalanya diusap oleh pria yang sangat dia sayangi.

"Kagome, sebaiknya kau makan dulu," bisiknya.

Sang asisten dosen menggeleng pelan. "Nanti saja, aku sangat mengkhawatirkan Ibu Kimi."

Mata Sesshoumaru melembut. Dia meraih dagu Kagome lalu mengecup lama bibir merah muda milik gadisnya.

Kagome mengerjapkan kedua matanya. "Sesshoumaru, bagaimana nanti tiba-tiba Ibu Kimi terbangun?" Bisiknya. Namun dia senang mendapat kecupan hangat dari Sesshoumaru.

"Hn."

"Sesshoumaru, kalau ibu Kimi sudah siuman sebaiknya aku pulang saja. Tidak usah diantar." Kagome menepuk pelan lengan kokoh Sesshoumaru.

"Aku sudah meminta Bibi Kaede menyiapkan kamar dan baju ganti untukmu."

Mata biru indah Kagome mengerjap. Kelopak merah muda sedikit terbuka.

Baritone pria itu makin berat. "Temani aku di sini."

TBC.

Wadohh akhirnya update juga.

Setelah sekian lama mencari dan bol bal cari lagu yang cocok dan akhirnya nemu deh. Judulnya Pamit By Tulus

Ketika aku memutar lagu milik Tulus, tanpa sadar air mataku keluar deh. Hehe. Entahlah mungkin aku terbuai atau mendalami apa yang kanjeng kimi rasakan.

Terima kasih banyak yang udah meninggalkan jejak komen dan vote. Aku sangat sangat menghargainya. Senang sekali bisa ngobrol dan gibahin abang kesayangan kita, Sesshy.

Dan aku tetap meneror AmetoAi mana nihh CTO nya. Wakkakakakka

Arigatou gozaimasu.*deep bow*