Until We Say Goodbye by Joe Satriani
Kagome mengerjapkan manik birunya. Perlahan netra indah milik gadis manis itu terbuka, menatap langit kamar dihiasi lampu duduk di tiap meja nakas.
Tercium wangi berasal dari selimut tebal dan sprei dengan corak mawar merah muda yang sama. Gadis itu belum sepenuhnya sadar. Nyawanya belum terkumpul. Merenggangkan tubuh sambil menguap lebar. Merasa bajunya longgar, kedua alisnya mengernyit.
Tunggu dulu! Kenapa aku ada di sini? Bukankah malam tadi berada di kamar Ibu Kimi?
Lalu bukankah kemarin memakai turtle neck hitam melekat di tubuhnya? Lalu, kemana bajunya dan mengapa dia memakai baju piyama bergambar hello kitty? Lalu, kenapa ponselnya sudah tergeletak di atas meja nakas? Siapa yang meng charger telepon seluler nya?
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Kagome. "Masuklah."
Pintu terbuka, sosok wanita tua renta dengan rambut ubanan membawa baju ganti. "Selamat pagi, Nona Kagome."
"Selamat pagi, Bibi Kaede," sapanya ramah.
"Bagaimana apa tidurmu nyenyak?" Sambil meletakkan baju ganti di atas bufet.
"Sangat sangat nyenyak, tahu-tahu aku sudah ada di sini. Oh ya, Bibi. Bagaimana kondisi Ibu Kimi? Apa beliau baik-baik saja?"
Bibi Kaede terharu. Calon istri Sesshoumaru sangat mengkhawatirkan keadaan majikannya. "Beliau sudah siuman. Sekarang masih di kamar."
"Syukurlah. Eh, ngomong-ngomong kenapa aku ada di sini? Bukankah semalam aku menemani Ibu Kimi?" Rasa penasaran gadis itu terus menjalar.
Wanita beruban itu tersenyum. "Nona digendong oleh Tuan Sesshoumaru."
'Sesshoumaru yang menggendongku ke sini?'
"Tuan mendapati nona tertidur di tepi ranjang. Lalu Tuan membawa nona ke sini."
"Bibi ..."
"Ya?"
Wajah Kagome merona. "Siapa yang mengganti bajuku?" Tanyanya hati-hati.
"Tentu saja saya, Nona," Kaede tertawa. "Lekaslah mandi mereka sudah menunggu nona."
Kagome menghela napas lega. Untunglah Bibi Kaede yang mengganti pakaiannya. "Baiklah."
Kagome beringsut turun dari ranjang empuk dan besar. Dia membersihkan tempat tidur sendiri tanpa dibantu. Tentu saja tindak tanduk gadis itu tak luput dari perhatian Kaede. Senyum tersemat di sudut bibirnya.
'Tuan Sesshoumaru memang tidak salah pilih', benak Kaede.
Sementara itu, Inukimi sudah duduk bersandar bantal menopang tubuhnya. Dia ditemani oleh putra tunggalnya. Di depannya tersaji berbagai macam menu sarapan yang lezat dan menyehatkan.
"Bu, makanlah!"
Inukimi menggeleng lemah. "Aku mau menunggu Kagome. Kita sarapan bersama di sini," titahnya.
Sesshoumaru menghela napas pelan.
Ponsel di saku celana nya bergetar. Tangannya merogoh seluler dan menatap siapa yang menelponnya.
'Ck! Si Tukang Grepe-Grepe!'
Menggeser tombol hijau ponselnya dia dekatkan ke telinga. "Hn."
Di seberang Miroku mendesah. "Bisa ga sih kau enggak bergumam andalanmu? Iya kek, hallo kek, apa kabar kek."
"Apa maumu."
"Kau tidak ngajar?"
"Ibu sedang tidak enak badan. Kalau tidak ada keperluan ga usah nelpon!"
"Ehhh jangan ditutup dulu, hey! Miroku panik. "Aku mencari Higurashi."
Alis Sesshoumaru bertemu di tengah. Kenapa akhir-akhir ini banyak yang mencari calon istrinya? Waktu itu Naraku. Terus teman-teman kampus cari Kagome, itu pun dia tahu dari si Pengabdi Siluman. Lalu Totosai, Kagura, dan sekarang si Tukang Grepe-Grepe. Ngapain sih nyari-nyari segala?
"Hallooooo 'Es Balok', are you there?" Nada suara Miroku mulai gusar.
"Ada apa cari-cari Higurashi?" Baritone Sesshoumaru makin berat. Andai saja Miroku melihat wajah datar pria ini kesal, sudah dipastikan diledekin habis oleh Miroku.
Inukimi pun menatap raut anaknya dengan pandangan geli. Tak lama pintu kamar terbuka. Wajah manis milik Kagome menyembul dari balik pintu.
"Selamat pagi, Ibu Kimi. Anda sudah baikkan?" Tanya Kagome lembut. Hari ini rambutnya diikat di tengah dengan menggunakan jepit rambut. Masih memakai baju yang kemarin. Lengannya digulung sampai siku.
"Selamat pagi, Kagome. Ayo masuk! Kami sudah menunggumu untuk sarapan. Bibi Kaede, bawakan sarapan ke sini," perintahnya.
"Selamat pagi, Sesshoumaru," sapa gadis itu, tapi malah dijawab dengan anggukan dan lirikan pria tampan karena sedang menerima panggilan telepon.
Ngomongin tentang ponsel dari kemarin tidak ada sms dan telepon masuk. Kagome memencet tombol samping kanan. Ah, sudah full charger. Apa pria itu yang mengisi nya?
Sesshoumaru segera menyudahi obrolan dengan Miroku. Kemudian mereka melanjutkan sarapan. Inukimi bilang hari ini Toga akan datang lagi. Tentunya dengan Inuyasha. Lagi-lagi alis Sesshoumaru bertaut di tengah. Mendengar nama itu saja sudah mengganggu relung hatinya terdalam. Apa dia tahu Kagome ada di sini?
"Apa kau kenal dengan Inuyasha, Kagome?" Tanya Inukimi.
Gadis itu mengangguk. "Tentu kenal, Ibu Kimi. Kami pernah dekat sekarang hanya berteman saja." Hati nya berdebar apakah wanita ini terkejut atau bagaimana reaksinya? Apakah akan menerimanya? Bagi Kagome lebih baik jujur bicara apa adanya daripada berbohong.
Alis Inukimi terangkat lalu wajahnya seperti biasa, datar. "Enggak anak enggak ayahnya sama saja, ya. Hobinya 'menduakan'!" Nada sindiran keluar dari bibir Inukimi.
"Dalam keturunan kami, baik itu aku dan Sesshoumaru kami hanya akan setia pada satu pasangan." Memberi jeda wanita berparas masih jelita itu melanjutkan. " Belum pernah di keluarga besar kami menceraikan pasangannya. Bila memang keadaan tidak memungkinkan atau sudah tidak bisa diperbaiki ya maka itu jalan satu-satunya."
Kagome tercenung. Kedua tangannya di atas paha. Gadis itu merasa kasihan pada Ibu Kimi. "maafkan kalau saya lancang, apakah Ibu Kimi masih mencintainya?" Kata paling akhir dia ucapkan dengan nada rendah dan hati-hati. Dia paling takut menyakiti hati perasaan ibu kandung Sesshoumaru.
"Ibu harus tegas dalam memutuskan. Mana jalan yang terbaik! Bukankah 'dia' mau ketemu ibu?"
Inukimi tertegun. 'Dia'. Kalau Sesshoumaru sudah memanggil kata 'dia' berarti sudah tidak ada kesempatan lagi. Entah mengapa hatinya sedih tapi lega. Kagome menangkap gurat kesedihan dari wajah sang calon ibu mertua. Cepat-cepat dia meralat.
"Um, maksud Sesshoumaru adalah coba bicara dari hati ke hati. Apabila memang sudah benar-benar tidak bisa lagi, kan masih bisa berteman. Jangan sampai putus tali silaturahmi. Dan jika Ibu Kimi masih mencintainya, jangan takut kalah saing. Bagiku, Ibu Kimi tuh ibu yang sangat luar biasa. Ibu Kimi kuat! Bukan begitu, Sesshoumaru?"
Hening.
Inukimi menatap Kagome dengan setengah tidak percaya. Sedangkan bibir Sesshoumaru terbuka sedikit. Kedua manik emasnya menyipit. Pria itu tidak menyalahkan calon istrinya. Apa yang dikatakannya memang benar.
Kagome langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah. "I-itu terserah Ibu Kimi saja. Saran yang tadi jangan didengarkan," sangkalnya cepat-cepat. Aduh, aku bicara apa sih? Ngaco! Ngaco! Ngaco! Paraaaahhhh!!!
"Saranmu boleh dicoba."
Kagome cepat-cepat meralat. "Jangan, yang tadi menyesatkan. Jangan deh, hahaha." Sebuah tawa hambar dari Kagome.
Tanpa gadis itu sadari, senyum segaris dari sudut bibir Sesshoumaru. Ah, dia kalau ngasih saran memang ajaib.
Ketukan pintu kamar terdengar. Muncul kepala ubanan milik Kaede. "Nyonya, Tuan Toga sudah datang."
Inukimi bangkit dari ranjangnya. "Baiklah. Aku akan mandi dulu. Tolong bereskan ini," titahnya.
Kaede mengangguk. "Baik."
Kagome berinisiatif membereskan piring dan gelas kotor di atas meja yang sudah disediakan. Namun, dicegah oleh Kaede. "Tidak usah, nona. Biar aku saja yang membereskan."
Menggaruk pipinya tidak gatal, Kagome menurut.
"Ayo!"
Gadis itu mengikuti langkah kaki kemana pria itu melangkah. Rumah seluas ini paling enak main petak umpet. Yah, paling nyasar. Langkah kaki mereka menuju gazeeboo. Di dalamnya ada bantal putih berjejer dan sebuah meja kecil di tengahnya. Di samping berhadapan kolam ikan koi. Kagome sampai ternganga. Ikannya besar sekali. Gendut pula. Hey, Kagome! Memang koi itu si sapi Buyou apa? Kagome duduk di samping pria itu.
"Kagome."
"Ya?"
Sesshoumaru meraih jemari gadis yang sangat dia cintai lalu mengecup punggung tangannya. "Terima kasih."
Wajah Kagome memerah seperti lobster. (Aiko: Bosan saya kepiting rebus. Sekali2 lobster lah). "Eh? Kenapa terima kasih? Rasanya aku tadi ngaco aja ngomongnya dan sesat, hahahah!"
"Kau tidak meracau. Itu memang benar. Biarkan mereka bicara masalah yang belum terselesaikan."
Kagome mengangguk sambil mengusap punggung pria itu. "Um, kau betul, Sesshoumaru." Kagome mengeluarkan telpon selular dari saku celananya. Telunjuknya mengetuk layar namun tidak mau menyala.
"Ponselmu semalam mati jadi aku isi daya batrenya." Sesshoumaru masih mengamati Kagome sibuk mengetuk layar. Lalu casing belakang yang sudah hampir mengelupas dibuka. Batrenya sudah menggelembung!
"Kagome, ponselmu tidak menyala."
Gadis berambut hitam sepunggung itu mendesah kecewa. "Yah, rusak deh. Memang sudah lama sih, sering jatuh pula. Padahal ini ponsel hasil tabunganku."
"Setelah urusan ibuku sudah selesai kita ke gerai ponsel sekalian mengantarmu pulang."
Kagome mengangguk. "Ohya, malam tadi kau yang memindahkanku ke kamar?"
"Hn. Ibu sudah sadar. Melihatmu tidur di tepi ranjang dia tidak tega. Aku yang menggendongmu ke kamar."
Semburat merah merayap ke wajah Kagome. Kata 'kamar' saja sudah membuatnya malu. (Kalau gt gosah dibayangin).
"Kagome."
Gadis itu menoleh dengan tatapan matanya yang lembut. "Ya?"
"Aku bukanlah Toga. Jadi kau tidak usah takut!"
EEHH??? Tunggu dulu, darimana dia tahu kalau aku tadi sempat kepikiran?
TBC.
WADOHHH TERNYATA MASALAH KANJENG KIMI RUMIT JUGA YA. ANAKNYA G BS KE KAMPUS. KAGOME PUN JUGA. DAN YANG NULIS INI JUGA LIEUR
EH napa ini kepslok jebol? Maafkan.
Terima kasih banyak yang udah komen apalagi yang ngevote. Boleh lah ninggalin jejak. Feel free ngobrol ama aku.
Masih kuteror AmetoAi nhoahahahahahaha
