How Deep Is Your Love by Bee Gees
Matahari sudah berada di titik tengah, sosok gadis manis berambut hitam sepunggung melangkah santai menuju kampus Todai. Dengan memakai kaus putih bergambar Marilyn Monroe dipadu cardigan cokelat muda. Tangan kanannya memegang cup kopi. Rambut nya dibiarkan tergerai begitu saja.
Tidak banyak mahasiswa yang berlalu lalang di area depan.
Mungkin sudah pada masuk kelas atau ada praktikum. Gadis berumur sekitar 20 tahun mengendikkan bahunya. Jam dua ada kelas Hiragana dari Miroku. Kedua alisnya mengernyit. Kok bisa ya Sango mau-maunya sama Miroku?
Sesshoumaru pernah bilang, Miroku adalah anak pendeta yang suka main mata sama gadis yang ditemui. Dan itu menurun ke anaknya. Dasar genit!
Sango pun pernah cerita bahwa dia pernah menampar Miroku di pipinya. Sepele, karena laki-laki itu meraba bokong seksi nya. Jelas saja Sango marah besar. Huh, ada-ada saja.
Belakangan ini Kagome menyadari quality time nya sedikit berkurang dengan kekasihnya. Selain sibuk, Ibu Kimi mengajaknya jalan-jalan. Kemarin ke Hokkaido naik jet pribadi. Kadang yaz Kagome salut dan kagum pada Sesshoumaru. Walau pria itu berasal dari keluarga kaya raya tapi gaya berpakaian tetap sederhana. Tidak pernah pamer harta atau menunjukkan kekayaannya.
Hari ini Kagome ingin sekali berduaan dengan Sesshoumaru. Kasihan dia kemarin habis-habisan diledek oleh teman-temannya. Kagome tidak bisa membayangkan ekspresi si pemilik wajah datar itu. Entah malu atau enggak, ah entahlah. Pria itu sangat pandai sekali memasang wajah dingin seperti ubin. Kagome tahu, kekasihnya itu pasti malu.
Gadis itu tidak menyadari di depan ada perbaikan jalan dan salah satu tukang gali memperingatkan dirinya. Kagome terus berjalan hingga ...
"KYAAAAH!"
Gema suara berasal dari si gadis yang berada dalam lubang galian. Untung tanah, coba kalau ada airnya basah dong bajunya. Kagome keluar dibantu oleh salah satu petugas galian jalan. Betapa malunya dia, mahasiswa yang kebetulan lewat menertawakannya.
"Lain kali kalau jalan lihat ke depan, jangan melamun."
Kagome membungkukkan tubuhnya. "Maafkan, maafkan."
Menepuk tas nya agak kotor dan merutuki kopinya tumpah yang belum dia sentuh sama sekali. Yah, nasib kali. Di belokan kiri Kagome melirik ada mercy hitam terpakir diapit kiri kanan mobil entah punya siapa. Yang jelas punya dosen lah. Kagome gimana sih? Telmi!
Di kelas paling bawah dan begitu masuk, Kagome langsung dikerubunin layaknya semut hitam ketemu ratunya. Kagome digiring ke bangku. Dan menceritakan kejadian kemarin. kagome bukannya terkejut dia malah ngakak kencang-kencang.
"Astaga! Lucu sekaliii!!" Gelaknya ramai.
"Kau sih pake ga datang segala," rutuk Ayame.
Sango duduk di hadapannya. "Memangnya kau kemarin kemana sih? Kok aku jadi curiga ya?"
Gawat!
Kagome gelagapan. "Oh, aku ada perlu sebentar, hehe." Tanpa sadar tangannya menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Sepertinya Pak Sesshoumaru merindukanmu, Kagome," Ginta menyeletuk.
Kagome terbatuk-batuk sakit terkejutnya. "Hah masa?" Jawab nya pura-pura enggak tahu. Gawat kan kalau ketahuan.
"Ada Pak Miroku!"
Obrolan yang tertunda pun bubar. Untunglah dosen yang katanya genit itu masuk ke dalam kelas. Kalau tidak, teman-temannya pasti menanyakan hal yang aneh-aneh. Gadis itu mengusap perutnya. Baru sadar malam kemarin tidak makan malam. Untung saja kejadian terperosok lubang galian kopinya tumpah. Kalau tidak, bisa-bisa masuk angin.
Selama Miroku menerangkan pikiran Kagome menjelajah kemana-mana. Benarkah Sesshoumaru merindukannya? Belum pernah sekalipun kata 'rindu' keluar dari bibir pria itu. Bahkan sapaan pagi pun dibalas dengan anggukan. Selama dia menjadi kekasihnya, Kagome belum pernah Sesshoumaru berkata 'aku mencintaimu' atau 'aku sayang padamu'. Sepertinya kalimat itu tabu bagi putra sulung Inukimi.
Layaknya kekasih yang sedang kasmaran, Kagome ingin sekali mendengar kata sakral dari bibir Sesshoumaru, tapi rasanya kok memaksa ya? Kalau dipikir-pikir, Sesshoumaru tidak pernah melarangnya bekerja paruh waktu dan dia tidak malu sama sekali. Mengingat derajatnya lebih tinggi daripada nya.
Membiayai rumah sakit, bahkan membelikannya ponsel mahal. kagome yakin, di antara barang-barangnya, seluler berlogo apel lah yang paling mahal yang dia miliki sekarang ini. Sebagai rasa terima kasih akan kebaikan kekasihnya, akan dia jaga dan dia rawat sebaik mungkin.
Sebuah senyuman terukir dari sudut bibir Kagome. Ya, wajahnya boleh saja datar, tatapan boleh saja tajam setajam silet, dan suara beratnya terdengar mengerikan. Namun, dibalik itu semua tersimpan hati yang hangat dan lembut dari diri Sesshoumaru. Belum pernah sekalipun kekasihnya membentaknya.
Kagome menggelengkan kepalanya. Jangan sampai itu terjadi. Tidak mau! Sungguh tidak bisa dia bayangkan. Sebisa mungkin Kagome berusaha membuat laki-laki itu nyaman bersamanya. Berhati-hati dalam berkata-kata.
Sementara itu, Miroku memberi tugas yang akan dikumpulkan minggu depan. Semua menjawab iya. Hanya satu yang tidak. Mata hitam Miroku tertuju pada gadis yang sedang melamun dekat jendela.
"Higurashi!"
Kagome tersadar dari lamunan. "I-iya, Pak."
"Kau melamun! Nanti ke ruangan saya!"
Kagome panik. Matanya menatap Sango, sahabatnya yang sedang menatap balik ke arahnya. Ponselnya bergetar. Layar hitam itu tertera nama Sesshoumaru. Menggeser layar ke atas terbaca sebuah pesan pendek:
Aku ingin berdua denganmu. Luangkan waktumu untukku.
Wajahnya memerah. Dadanya berdegup kencang. Kalimat sederhana itu sudah cukup membuat jantungnya bertalu-talu. Ah, Sesshoumaru ...
"Higurashi! Jangan lupa!"
Lupakan Miroku. Lupakan disuruh ke ruangannya. Dan perutnya sudah mengibarkan bendera putih tanda lapar. Begitu kelas berakhir secepat kilat dia membereskan buku dan melesat keluar kelas.
Sesshoumaru pasti sudah menunggunya.
"Higurashi kau mau kemana?" Panggil Miroku.
"Pulang!"
"Hei, kau harus ke ruanganku. Tangkap dia!"
Kagome mempercepat larinya. Beneran deh sumpah dia sudah lemah karena perut belum diisi. Kagome memekik, teman-temannya malah ikut mengejarnya. sampai di koridor sbuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.
"Cepat masuk!"
Kagome membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. "Cepat, mereka mengejarku!" Kagome menoleh ke belakang. Teman-temannya berteriak memanggilnya.
Pria bersurai silver itu segera melesat keluar dari pelataran kampus yang luasnya minta ampun. Setelah keluar dari sana Sesahoumaru melirik gadisnya tampak tegang. Dadanya kembang kempis. "Kau kenapa?"
"Aku tadi melamun, lalu aku disuruh Pak Miroku ke ruangannya. Lalu dia menyuruh teman-teman menangkapku." Dengan satu tarikan napas Kagome menceritakan kejadian barusan.
Di balik kemudi pria berparas tampan itu berkata, "Kita makan, yuk."
Sesshoumaru memarkir mobilnya. Dari balik jendela mobil Kagome membaca sebuah plang Sushi Bar. Mata birunya berbinar-binar. Asyikkk!
"Ayo!"
Kagome mengangguk. Sesshoumaru mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh gadis itu. Mereka berdua melenggang masuk restorant tampak sepi pengunjung sambil bergandengan tangan.
Setelah duduk, Kagome menelusuri seluruh ruangan. Restoran ini memang agak terpencil. Kenapa tidak ada pengunjung sama sekali? Dan kenapa salah satu pegawai restoran itu membalikan dari open ke close.
"Aku sudah memesan tempat ini. Jadi hanya kita berdua saja."
Kagome hanya bisa ber-oh.
"Aku tidak mau ada gangguan siapapun."
Lagi-lagi Kagome mengangguk. Dalam hatinya dia sangat tersanjung. Apa yang dia pikirkan, pria ini selalu tahu. Seolah-olah paling mengerti. Sesshoumaru ... Ternyata kau-
"Kau mau pesan apa?" Sesshoumaru menyodorkan menu yang terbaik. Bahu mereka bersentuhan. Pria itu terus menatap kekasihnya sedang fokus memilih menu. Alisnya bertemu di tengah, telunjuknya mengusap bibirnya mengerucut. Sesshoumaru tergelitik. Tangannya menyentuh dagu gadis itu dan mencium bibirnya.
Manik biru Kagome membulat. Tak disangka, Sesshoumaru mencium bibirnya. Wajah mereka sangat dekat. Rasanya wajah Kagome memanas. "Sesshoumaru, ujarnya manja.
Sekali lagi, pria itu menciumnya sekali lagi. Kali ini ciuman berubah menjadi lebih dalam. Sesshoumaru sangat menyukai suara manja kekasihnya. Tidak banyak kata, tapi lewat dari ciuman pula lah kerinduan tersampaikan.
Grrruukk
Ciuman mereka terhenti. Kagome memegang perutnya. Iya, itu berasal darinya. Bahunya beguncang, tak lama Kagome tertawa renyah.
"Kau sudah lapar." Tawa tertahan di dada Sesshoumaru. Tak lama chef pun datang. Laki-laki itu menunjuk salah satu menu terbaiknya.
Kagome benar-benar bersyukur. Terima kasih Kami-Sama, hari ini bisa makan enak. Perutnya terasa penuh. Diliriknya pria di sebelah terus makan dengan ketenangan tak terbantahkan. Setelah selesai meracik sushi, chef itu meninggalkan mereka berdua.
"Kau makan banyak sekali hari ini."
"Aku lapar."
Kagome terdiam.
"Lapar memikirkanmu."
Bagai air mendidih di atas kepala Kagome, raut wajahnya sudah seperti udang rebus.
"Rasanya hampa hidupku bila tidak ada kau walau sehari."
Dada gadis itu membuncah karena bahagia. "Sesshoumaru ..."
"Aku ingin ini quality time kita, Kagome."
Drrrt
Ponsel Kagome berbunyi. "Pak Miroku? Ada apa ya?"
"Jangan diangkat! Dia pasti menelponku juga!"
Drrrrtt
Kali ini alis Kagome mengernyit. Pak Naraku."
"Abaikan!" Geram Sesshoumaru.
Drrrrrrt
"Dari Ginta," ujar Kagome takut-takut.
"Matikan saja ponselmu!" Sesshoumaru pun ikut mematikan selulernya dan diikuti oleh Kagome.
"Mungkin mereka penasaran," kikik Kagome sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Biarkan saja. Begini kan tenang, tidak ada gangguan."
Kagome menyesap matcha nya.
"Kemarin apa yang kalian obrolkan di Hokkaido?"
"Memangnya Ibu Kimi tidak memberitahumu?"
Sesshoumaru menggeleng.
"Tidak ada yang serius. Ibu Kimi hanya mengecek peternakan kuda."
Sesshoumaru mengubah posisi duduknya menghadap kekasihnya.
"Ibu Kimi cerita, mengenai Toga, sih. Katanya memberi kesempatan padanya agar memperbaiki kesalahan di masa lalu."
"Sudah kuduga."
"Kau ... Tidak marah?" Tanyanya hati-hati.
Sesshoumaru menggeleng. "Mereka sudah dewasa, bukan bertingkah seperti anak-anak."
Kagome mengangguk pelan. "Kasihan Ibu Kimi ..."
Sesshoumaru memainkan ujung rambut hitam kekasihnya. "Biarkan waktu yang menjawab."
Kagome tersenyum. "Kau benar, Sesshoumaru."
"Aku bukanlah Toga."
Gadis berumur dua puluh tahun itu tertegun. Bibirnya sedikit terbuka. Manik birunya menatap bergantian netra emas belahan jiwa nya.
"Kalau kau bertanya seberapa dalam cintaku padamu, itu tak terhingga, Kagome."
Cukup. Kini Kagome mengerti. Bersama pria ini Kagome yakin Sesshoumaru adalah Seaahoumaru. Dan itu tidak ia ubah. Gadis itu suka pria itu apa adanya. Di balik sifatnya pendiam, irit bicara, Sesshoumaru tidak pernah menjual kata-kata bohong.
Punggung tangan Kagome dikecup lama oleh Sesahoumaru. "Kau tahu? Aku sangat menyukai quality time kita, Sesshoumaru," ujarnya penuh kelembutan.
"Hn." Jemarinya sibuk memilin surai hitam kekasih hatinya.
"Lain kali kita atur jadwal kita."
"Hn."
"Jangan hanya 'hn' saja, Sesshoumaru," Kagome pura-pura merajuk.
Telapak Sesshoumaru meraih kepala Kagome. Wajah mereka sangat dekat. Bibir hangat Sesshoumaru menyapu lembut kelopak merah muda milik gadisnya. "Jadilah milikku, Kagome."
Sesshoumaru merogoh di balik saku jas nya. Sebuah kotak beludru broken white. Lalu menyerahkannya pada Kagome.
Jantung gadis itu berdegup kencang. Perlahan dia membukanya. Manik biru laut membulat. Satu tangannya menutup mulutnya. "I-ini ..."
"Itu milikmu." Kemudian Sesshoumaru menyematkan benda bulat itu ke jari manis kiri kekasihnya. Masa depan telah terbuka. Kebahagiaan terpancar di wajah Sesshoumaru.
"Kagome."
"Ya," bisiknya lirih. Air mata gadis itu siap tumpah kapan saja.
"Maukah kau hidup bersamaku?"
TBC
EAAAAAKK EAAAAAAKKKKK
Akhirnyaaaa ...
Kok aku jd pengen cincin itu ya /uhuk
Tak lupa aku haturkan terima kasih tak terhingga untuk readersku yang setia menanti, vote ataupun komen.
Sungguh aku terharu. Terima kasih banyak. Peluk satu-satu.
