Thank God I Found You by Mariah Carey 98 Degrees
Udara di pagi hari sangat dingin walau sudah memasuki musim gugur. Seorang gadis tengah duduk di meja sambil menonton tv. Matanya menatap layar tv flat tapi pikirannya melayang. Memikirkan sebuah lamaran yang membuat dadanya berdegup kencang.
Di usia nya terbilang masih belia, tapi sudah boleh untuk menikah bagi ukuran orang Jepang. Cepat-cepat dia mengeluarkan sebuah kota beludru broken white di laci. Oh, benda itu masih ada. Kagome mencubit pipi juga lengannya. Berarti ini bukanlah mimpi.
Kagome membuka kotak beludru. Di sana sebuah cincin biru safir yang sangat indah. Kilaunya terpancar bahwa ini asli. Ibunya pernah berkata, apabila seorang pria memberikan cincin safir berwarna biru itu ada artinya. Safir biru melambangkan kebijaksanaan, disiplin diri, dan kejernihan pikiran dan komunikasi. Dalam sebuah pernikahan hal yang paling penting adalah komunikasi.
Kagome menyematkan cincin itu di jari manisnya. 'Beautiful,' benaknya. Wajahnya merona. Sesshoumaru memanglah pria pendiam, wajah serius, dan tidak banyak bicara. Tapi, sekali nya dia bicara sudah bikin jantungan. (Termasuk author dan readers).
Maukah kau hidup bersamaku?
Gadis itu belum menjawab lamaran pria itu dan meminta waktu untuk berpikir. Sesshoumaru pun setuju. Ada rasa gundah di dalam hatinya. Bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana dengan ... Ah, Kagome jadi bingung. Setelah menikah dan mempunyai anak nanti, apakah dia bisa melanjutkan kuliahnya?
Kagome memotong cheese cake blueberry dengan garpunya. Bagaimana nanti menghadapi keluarga besar Sesshoumaru? Belum apa-apa sudah ngeri membayangkannya. Bagaimana jika nanti ditolak? Sama nasibnya dengan Toga?
Kagome menggeleng kepalanya. Dia tidak mau hal itu menimpa pada dirinya.
Tok tok
Kagome menghentikan makanannya yang tertunda. Dia beranjak menuju pintu depan. Matanya membelalak seorang wanita berdiri di depan pintu.
"Mama!" Pekiknya seraya menghambur memeluk mamanya.
"Pagi, Kagome," sapa Mama tersenyum.
"Masuk, Ma."
Wanita itu menatap sekeliling ruangan yang begitu tampak rapi. Bibir bergincu merah muda tersenyum. "Kagome, apartemenmu sudah rapi ya. Berbeda terakhir kali Mama ke sini."
Kagome menggaruk pipinya. "Ah, Mama bisa saja."
"Mama yakin, pasti pengaruh pangeran tampanmu, ya, kan?" Godanya.
Wajah Kagome memerah. "Mama ..."
"Anak gadis harus rapi. Malu nanti dilihat orang."
Mata wanita berumur lima puluh tahunan itu tertumbuk pada benda elektronik logo apel digigit. Mengetahui itu Kagome berkata, "Itu Sesshoumaru membelikan ponsel untukku. Ponsel yang lama sudah tidak bisa digunakan lagi."
Mama menggeleng. "Tidak apa, kau jagalah benda pemberiannya dengan baik."
Kagome mengangguk. "Hai, Mama."
"Hari ini kau bekerja?"
"Um, ya. Mama, aku boleh ngobrol sesuatu?"
Alis wanita berambut ikal pendek itu terangkat. "Mama siap mendengarkan. Apa ini tentang Sesshoumaru?"
Wajah gadis itu memerah lagi. "Iya, Ma. Kemarin malam dia melamarku." Lalu Kagome mengeluarkan kotak beludru dan diserahkan ke Mama nya.
Wanita itu segera membukanya. "Indah sekali, Kagome. Ini cincin yang sangat indah. Kau tahu, kan? Safir biru ini memiliki makna yang dalam. Keseimbangan, kedisiplinan diri, juga komunikasi adalah hal yang paling penting. Beda lagi dengan emerald, ametis, ruby. Mereka memiliki arti tersendiri."
Kagome menyimak. Tangannya yang satu lagi sibuk memotong kue cheesecake blueberry lalu meyodorkan ke Mama. Wanita itu mengangguk.
"Apa kau sudah menerima lamarannya?"
Kagome menggeleng. "Belum, Ma." Kagome lantas menceritakan kegundahan dan kegelisahan yang dia rasakan. Tidak ada yang ditutupi oleh mahasiswi jurusan sastra jepang.
Mama hanya mengangguk-angguk. "Kagome, Mama boleh bertanya?"
"Tentu, Ma," sahutnya penasaran.
"Apa kau mencintainya?"
Kagome tersentak. Rona merah muda merayap ke seluruh wajahnya. "Te-tentu saja aku menyayanginya, Mama."
Wanita itu tertawa lirih. "Nak, kalau kau mencintainya kenapa harus ragu? Bukankah kau yang paling mengerti dia? Bukankah kau yang paling memahami segala karakter yamg laki-laki itu punya?"
Kagome tercenung merenungi petuah mama nya.
"Nak, di dunia ini mana ada orang yang sempurna? Manusia itu paling banyak kekurangan daripada kebaikan. Hanya Kami-Sama lah yang sempurna. Selama kau bersamanya, pernahkah dia menuntutmu macam-macam?"
Kagome menggeleng. "Tidak, Ma."
"Apa dia pernah membuatmu menangis?"
"Tidak pernah, Ma."
"Di banding sama mantanmu, mana yang lebih baik?"
"Sesshoumaru, Ma."
"Pernahkah dia memarahimu?"
Kagome diam. Berusaha mengingat-ngingat.
"Kalaupun ada, berarti ada yang salah dengan dirimu. Kau itu ceroboh dan pemalas, Kagome. Kau tidak bisa begini terus. Hidup harus berubah. Sekarang Mama lihat ruangan ini tampak bersih. Dan kau pun rajin bangun pagi. Mama yakin, pasti Sesshoumaru lah penyebab nya."
Kagome termenung meresapi kata-kata Mama nya.
"Mengenai kuliah dan lain-lain itu bisa dibicarakan, Kagome. Ingat, safir biru ada artinya. Bicaralah dengan nya secara baik-baik. Mama yakin dia pasti mengerti."
Kagome mengangguk. "Terima kasih, Mama." Gadis itu menghambur ke pelukan sang Mama. Air matanya jatuh juga setelah ditahan dari tadi.
"Kagome, semenjak Sesshoumaru berkunjung ke rumah kita, dia berkata di hadapan kakek dan Mama."
Kagome mendongak. "Dia bilang apa, Ma."
"Izinkan aku menjaga anak anda."
Manik biru gelapnya membelalak. Jadi ... Sesshoumaru sudah menyukainya sejak itu? Pantas saja ...
"Dia memberi cincin ini itu berarti Sesshoumaru sangat serius denganmu. Apa kau sudah bertemu dengan ibunya?"
Gadis itu mengangguk. "Sudah, Ma."
"Bagaimana kesannya terhadapmu?"
"Um, Ibu Kimi wanita yang baik juga tangguh. Aku kagum padanya, Ma. Dia perempuan luar biasa," Kagome memuji sang calon ibu mertua dengan pandangan berbinar-binar.
"Kalau begitu tidak ada masalah, kan? Nyonya Kimi itu selalu menyempatkan ke kuil kita apabila dia lagi inspect ke Rumah Sakit Nagoya." Mama beranjak memeriksa isi kulkas. Matanya membelalak. "Astaga ini banyak sekali makanan dalam kulkas. Tadinya Mama mau belanja."
"Hehe, itu Sesshoumaru yang membelikan sushi, Ma."
"Kagome, jadi perempuan itu sulit, Nak. Kau harus sabar menghadapinya apalagi dengan karakternya yang sudah mendarah daging. Kalau Mama perhatikan, Sesshoumaru sangat sabar menghadapi sifatmu yang pemalas dan ceroboh."
Kagome tertunduk malu. " He he he."
"Sana, mandi. Mama akan meyiapkan bekal siangmu."
"Kagome mengangguk. "Baik, Ma."
Setelah semua keluh kesah dan untunglah Mama datang di saat yang tepat, Kagome merasa lega luar biasa. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
Jam kelas telah usai, Sesshoumaru keluar mendahului mahasiswa nya. Wajahnya datar tatkala sosok dosen mesum itu terlihat dari jangkauan matanya.
"Yo, Sesshoumaru," sapanya.
"Ada apa?"
"Kemarin kau pergi bersama Kagome, Ya?"
Alis pria itu menukik tajam. "Kenapa."
"Tidak."
"Dan kenapa teman-temannya mengejar Kagome? Kau menyuruhnya ke ruanganmu, kan?" Nada suaranya makin berat.
"I-itu ..."
"Kalau begitu aku yang akan ke ruanganmu sekarang juga menggantikan dirinya."
Miroku garuk-garuk kepala. Maksud hati memanggil Kagome itu ingin tahu mengenai hubungannya dengan Sesshoumaru. Eh, kenapa malah jadi kepo ya? Ah sudahlah. Pria dingin itu sudah mendahului nya.
Sesshoumaru duduk di hadapan Miroku. Dia pria berkuncir satu itu duduk dan memperhatikan pria bermanik emas sedang memutar-mutar iphone nya.
"Kau sepertinya sedang menunggu seseorang."
"Bukan urusanmu."
Miroku menyenderkan tubuh ke kursi. "Kau ini, selalu saja ya. Kau bisa berbagi cerita denganku." Pria itu cepat-cepat berkilah, manik emas Sesshoumaru lurus menatapnya tajam. "Walau aku begini seperti yang kau bilang aku ini tukang grepe-grepe pantat Sango, temannya Higurashi. Tapi aku hanya sama dia saja."
"Oh ya? Bukankah tiap kali ketemu wanita kau selalu bilang 'maukah kau melahirkan anakku'? Masih begitu, kan?"
"Ehehehe iya masih kulakukan," sahutnya tanpa dosa.
"Kampret kau!" Umpat Sesshoumaru melempar buku bantal tebal di atas meja ke wajah Miroku. Tentu saja pria itu gesit mengelak dan malah menjulurkan lidahnya. Sesshoumaru kesal.
"Haha jangan marah, aku kan cuma canda," gelak Miroku.
"Candamu ga lucu!" Sorot mata Sesshoumaru makin menusuk.
Miroku angkat tangan. "Iya, iya, maafkan aku. Nah sekarang kau mau cerita?"
Sesshoumaru jadi meragu. Antara mau cerita atau enggak, dia malah takut. Takut mulut Miroku ember alias emang bener. Segila-gila nya Miroku kalau lagi serius ya jadi kalem.
"Kau tahu? Aku sama Sango itu kebetulan. Aku jatuh cinta padanya. Kau tahu apa yang aku suka darinya?"
"Aku tahu," jawab Sesshoumaru pelan.
Miroku menjentikkan jarinya. "Nah, betul. Dari bokongnya yang seksi."
Sesshoumaru mengusap wajahnya, kepalanya mulai pening. Tidak salah kan kalau menamai nya Si Tukang Grepe-Grepe?
"Aku sering ditampar olehnya gara-gara aku ngusap pantatnya." Miroku bicara seolah tidak ada beban. "Walau dia galak, tapi aku suka padanya."
Sesshoumaru tidak bisa membayangkan dan tidak mau pusing. Nih orang parah, Men!
"Andaikan kau melamar Sango, akankah langsung menerima?"
Miroku tertegun dengan pertanyaan Sesshoumaru. "Tidak, biasanya wanita akan minta waktu untuk berpikir. Yah, tergantung situasi dan orangnya juga. Aku akan menunggu sampai dia siap."
Sesshoumaru tiba-tiba berdiri dan melangkah ke depan pintu.
"Sessshoumaru," panggil Miroku. Sedangkan yamg dipanggil tidak menoleh. Telinganya sudah siap mendengar petuah si pendeta mesum. "Boleh kutebak, apa gadis itu Higurashi?"
Pria itu masih mematung. Tak lama dia membalikan tubuh dan kembali duduk di depan Miroku. Sesshoumaru masih diam. Miroku mengambil napas dan berkata, "Apa kau mencintainya?"
"Kalau itu jangan ditanya," nada suaranya makin rendah. Sudah tentu pria itu sangat mencintai gadisnya.
Miroku mengangguk. "Kalau begitu kau melamarnya?"
Itu dia! Tepat sekali!
"Saranku, berilah dia waktu untuk berpikir. Dia masih muda, umurnya masih dua puluhan kan?" Sesshoumaru mengangguk. "Sebuah langkah besar apabila dia menerimamu, Sesshoumaru. Aku mendoakan kebaikan untuk kalian berdua," ucap Miroku tulus. Sudut biburnya menyunggingkan senyum.
"Kau jangan khawatir. Hanya aku yang tahu."
Sesshoumaru mengangguk. "Thanks," ujarnya pelan.
"Hah? Kau bilang apa barusan?"
"Enggak bilang apa-apa!"
Di Cafe Winter ...
Hari ini cafe tempat Kagome bekerja banyak pengunjung. Mungkin musim dingin sebentar lagi tiba. Bisa saja mampir hanya sekedar menghangatkan badan sambil minum teh. Gadis itu bolak balik mengecek pesanan apakah ada yang miss atau tidak. Setelah dirasa oke baru lah dia menyerahkan ke chef di dapur.
"Kagome, hari ini tumben sekali penuh," bisik Sango. Tangannya sibuk mengelap meja.
"Iya, kau betul," bisiknya.
"Higurashi, meja no 9."
Eh? Meja no 9? Apa itu kekasihnya? Biasanya pria itu selalu duduk di sana. Jantung gadis itu berdebar-debar. "Baik, saya segera ke sana."
Manik birunya mencari sosok sangat dia rindukan. Pria itu belum menelponnya sama sekali. Di meja no 9, wanita itu tersenyum ke arahnya. kagome terkesiap. "Ibu Kimi?"
"Hallo, Kagome," sapanya. Wanita wajahnya masih tetap cantik memakai mantel hitam cukup tebal.
"Ha-hallo," di hadapan Ibu Kimi Kagome jadi gugup
"Ah," Inukimi mengibaskan salah satu tangannya. "Santai saja, Kagome.
"Hai, Ibu Kimi. Silakan ini kue dan kopi nya."
"Kau bekerja di sini?"
Kagome mengangguk sopan. "Ya, Ibu Kimi. Hanya paruh waktu."
"Silakan kau lanjutkan pekerjaanmu."
Gadis itu mengangguk patuh. "Baik, Ibu Kimi. Maaf, saya tinggal dulu."
Manik emas Inukimi terus memperhatikan Kagome bekerja. Dari sini Inukimi bisa menilai, gadis ini cukup tangkas dan cekatan. Bergerak kesana kemari. Inukimi jadi nostalgia. Dulu dia pun pernah bekerja paruh waktu. Iseng saja, sih.
Sambil menyesap kopi dan kue stroberi, matanya tak lepas memandang gadis itu selalu tersenyum. Senyum yang menenangkan. Senyum penuh kelembutan. Senyumnya menular, bahkan pengunjung di cafe ini betah berlama duduk walau hanya sekedar melepas lelah atau menyantap kudapan sore.
Hari mulai petang, orang yang akan menggantikannya sebentar lagi akan datang.Kagome sudah bersiap untuk pulang. Matanya masih sempat melirik meja no 9 sudah kosong. Ibu Kimi sudah pulang.
"Bye, Kagome. Sampai jumpa besok."
"Hati-hati di jalan, Sango," lambainya.
Baru saja memutar tumit, dia dikejutkan wanita bersurai silver digelung rapi berdiri di hadapannya.
"Ibu Kimi? Anda belum pulang?"
"Temani aku jalan-jalan."
Sepanjang jalan mereka bercakap-cakap. Kagome acap kali melempar guyonan dan disambut oleh Inukimi. Tak ayal Kagome tertawa terbahak-bahak mendengar Inukimi berkisah tentang Sesshoumaru dipakai baju perempuan sewaktu kecil.
"Kau jangan bilang-bilang ke dia ya. Bisa gawat nanti," tukas Inukimi.
"Haha baik, Ibu Kimi," seraya menyeka air matanya akibat tertawa keras tadi.
Klakson dari belakang berbunyi. Sedan S-Class warna putih sudah berada di samping Inukimi. "Kagome, aku pulang dulu. Terima kasih sudah menemaniku."
"Sama-sama, Ibu Kimi," ujarnya membungkukkan tubuhnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Inukimi memegang kedua bahu Kagome. Menatap lurus manik biru Kagome, dia berkata, "Kagome, buatlah Sesshoumaru tersenyum."
Kagome masih terpana. Maniknya mengerjap-ngerjap. Mobil yang membawa Inukimi sudah menghilang dari hadapannya.
Ketika sampai di apartemen, Kagome tidak menyadari. Sepasang netra amber memandangnya dari kejauhan. Tatapan penuh rindu pada sosok mungil yang sudah masuk ke dalam. Ingin sekali ke sana dan mendekap wangi dari tubuh gadis itu. Namun, belum waktunya.
"Kagome, aku bersyukur bisa bertemu denganmu," gumam Sesshoumaru.
TBC
Huaaaaaah ini cerita paling puanjaaaaaaangg
Hosh hosh!
Sesshoumaru menyodorkan gelas berisi air. "Nih."
"Ga beracun kan?"
"Enggak."
Terima kasih pada teman-teman yang sudah setia vote dan komen.
Semua gambar yang aku ambil berasal dari Pinterest.
Aku ngantuk nih tapi mata blm mau diajak kompromi.
Arigatou gizaimasssuuuuuuu
Peloookkk kaliaaaaann
