Glory of Love by Peter Cetera
Seminggu berlalu sejak Sesshoumaru melamarnya di restoran sushi, pria itu belum juga mengabari atau menelpon. Dan laki-laki itulah penyebab Kagome tidak bisa tidur bahkan tidak bisa berhenti memikirkannya.
Memang benar, pria itu memberi waktu, tapi kan enggak begini juga kali. Atau mungkin saja meluangkan untuk berpikir. Kagome membuka laci di samping tempat tidurnya. Perlahan kotak beludru broken white dia buka. Cincin safir biru berkilau sangat indah.
"Ini kalau dijual sudah pasti mahal sekali," gumamnya seraya menyematkan cincin di jari manisnya. Senyumnya mengembang.
Keberadaan cincin ini membuat wajah Kagome memerah lagi dan lagi. Gadis manis itu jadi gemas oleh sifat pria yang sangat ia sayangi. Kalau begini, Kagome harus menemuinya sekarang juga. Diraihnya kotak beludru itu dan ditaro dalam pouch kecil lalu dimasukkan ke dalam ransel. Tak lupa membawa syal, mantel dan sarung tangan.
Mata kuliah di jam sore begini hampir mahasiswa/i mengantuk di kelas. Tak terkecuali Kagome. Pemilik manik biru gelap itu setengah mengantuk. Pak Naraku selaku dosen kebudayaan terus menceritakan tentang keberadaan siluman yang kini menghilang entah kemana.
Untunglah kelas berakhir diakhir dengan seruan ucapan penuh syukur. Naraku hanya bisa menautkan alis ke tengah dan langsung meninggalkan kelas. Tangan Kagome mengetik di layar seluler nya dan memencet tombol hijau. Kagome mencari tempat yang sepi agar tidak terlalu mencolok di depan teman-temannya.
"Hai, Sesshoumaru," ujar Kagome pelan. Suara baritone yang sangat dia rindukan terpecah.
"Kagome."
"Kau ada waktu?"
"Ada."
"Bisa kita bicara?"
"Tentu."
Gadis itu lantas menyebutkan tempat yang nyaman agar pria itu bisa menemuinya di sana. Namun, Sesshoumaru menolak.
"Kita berangkat sama-sama. Tinggal sebut saja kemana yang kau inginkan."
Jantungnya serasa mau keluar dari tempatnya. Terkadang pria itu memang sukar ditebak. Kalimat barusan sukses membuat hatinya bertalu-talu.
"Nanti dilihat banyak orang bagaimana?" Maniknya melirik kiri dan kanan takut ada yang menguping pembicaraannya.
"Kau keberatan? Aku tidak terpengaruh hal itu." Baritone Sesshoumaru makin rendah.
"Ti-tidak, Sesshoumaru."
"Aku tunggu kau di mobil."
"Baiklah." Ucapan final dari bibir pria itu tidak bisa dibantah. Jalan satu-satunya adalah menurut saja. Kakinya melangkah menuju tempat parkiran mobil. Matanya sibuk mencari S-Class hitam dengan plat nomer ST. Wajah gadis itu lega, pria tegap itu sudah menunggunya.
"Maaf lama menunggu," Kagome membungkukan tubuhnya. Sesshoumaru menggeleng dan menggiringnya masuk ke dalam.
"Kau mau kemana?"
"Kita ke Odaiba, yuk."
Kurang lebih tiga puluh lima menit mereka sudah sampai ke Odaiba. Manik emas Sesshoumaru menelusuri tempat yang sepi. Kagome mengangguk setuju ketika telunjuk pria itu menunjuk Rainbow Bridge.
Hari mulai gelap pertanda senja berganti malam bertabur bintang. Kagome menunjuk sebuah kursi kosong dan laki-laki itu mengangguk. Dua sejoli duduk di bangku menghadap jembatan yang panjangnya 798 meter menghubungkan pulau reklamasi Shibaura Pier dan Odaiba jalur transportasi barang sangat penting di Tokyo.
Pada malam hari lampu iluminasi berwarna merah muda, putih, perak, dan hijau akan menyala dan menambah kesan manis Rainbow Bridge tersebut. Kagome memeluk tubuhnya. Dingin.
"Di sini cukup sejuk ya? Sepertinya aku salah memilih tempat," kekeh Kagome.
"Hn." Sebagai respon Sesshoumaru melingkarkan tangan kanan ke bahu gadisnya. Tentu saja Kagome jadi merapat. Bahu mereka bersentuhan.
"Um, Sesshoumaru. Aku boleh bertanya?"
Manik emas Sesshoumaru lurus menatap jembatan kelap kelip seperti pelangi. Kagome tahu pria itu sudah siap memasang telinganya.
"Kenapa kau memilih aku?" Tanyanya penasaran. "Seminggu ini aku tidak bisa tidur memikirkan. Tiap hari pula lah aku mencubit pipiku apakah aku sedang bermimpi atau bukan. Tiap hari itulah aku membuka laci dan kotak beludru darimu masih ada. Kadang aku masih tidak percaya."
Kagome menepuk pelan kedua pipinya. Menghela napas untuk mengambil jeda. Setelah itu dia melanjutkan, "Aku masih tidak percaya kenapa kau menyukaiku. Ceroboh, suka isengin ... Hehe. Jadi ingat aku pertama kali bilang padamu tubuh bapak aduhai." Kagome tergelak bahunya berguncang.
Posisi duduk Seshoumaru yang tadinya lurus sekarang memutar tubuhnya menatap mata biru Kagome. "Kau ingin tahu?"
Kagome mengangguk. Dengan adanya penjelasan Sesshoumaru, dia semakin yakin dengan keputusannya. Kagome kini berhadap-hadapan dengan Sesshoumaru.
"Aku sudah menyukaimu waktu aku berkunjung ke kuil Higurashi."
Manik biru gadis membelalak. Eh? Tunggu, tunggu dulu. Dia sudah menyukaiku sejak ...
"Aku sudah menyukaimu ketika kau masih bocah."
Ingatan Kagome berputar. Kalau tidak salah ingat Mama pernah bilang waktu Kagome masih kecil.
"Kagome, kenapa kau malu? Apa bocah surai silver itu terus menatapmu?
"Iya, Mama," sahut Kagome yang masih sembunyi di belakang Mamanya. Takut karena anak itu wajahnya datar dan sorot matanya tajam.
"Ayo, kalian kenalan dulu," sahut wanita cantik berambut silver digelung ke atas.
Kagome berjalan pelan, sedangkan anak itu berjalan mantap. Tangannya sudah terulur. Kagome menatap manik emas. "Namaku Kagome." Bocah berwajah tampan itu terpana sampai lupa memperkenalkan namanya.
"Wah, kau manis sekali, Kagome. Bagaimana nanti kita besanan saja, Nyonya Higurashi? Tanya wanita itu.
"Ah, anda bisa saja, Nyonya Kimi."
"Mama, mama," Kagome menarik ujung rok Mama.
"Ya, Nak?"
"kagome ingin seperti dia," tunjuknya ke arah Inukimi. "Kagome ingin secantik Nyonya Kimi," sahutnya riang.
Kedua wanita itu tertawa. Inukimi mencubit gemas pipi gembil Kagome. "Kau tidak usah sepertiku."
"Kenapa?" Suara kekanak-kanakan Kagome membuat anak-laki itu tersenyum ... Sedikit.
Inukimi berjongkok bersejajar dengan tubuh Kagome dan mengelus puncak kepala. "Karena kau sudah cantik."
Pipi gembil Kagome merona. Matanya biru tambah bulat. Tangan bocah laki-laki itu terjulur mengusap pucuk kepalanya.
"Namaku Sesshoumaru. Nanti aku mampir lagi."
Tiap sebulan sekali dua orang berambut silver itu mulai sering bertandang ke kuil Higurashi. Dua bocah jadi sering bermain bersama. Kagome mengajak main bola dan anak itu selalu kalah.
Mereka bermain hingga petang hari. Dua bocah duduk di bawah pohon rindang sambil minum limun.
"Haaaaahh rasanya segaaaaar," pekik Kagome riang.
"Hn."
"Kak Sesshoumaru, kakak sudah punya pacar?"
Sesshoumaru kecil langsung menyemburkan limunnya. Pertanyaan macam apa itu.
"Kalau belum, carilah Kagome," tuturnya.
Sesshoumaru tertegun lalu mengangguk. "Aku akan mencarimu."
Kagome kecil berbinar-binar. Mata itulah yang meluluh lantakkan wajah datarnya. "Benarkah?"
"Ya. Aku akan selalu menemukanmu."
Hingga pada suatu hari Inukimi dan Sesshoumaru sudah jarang ke kuil. Kata Mama, ada masalah. Kagome jadi sedih dan menangis. Selalu memanggil Sesshoumaru. Mama berkata, jangan menangis suatu saat kau akan bertemu dengannya."
Napas Kagome memburu, air matanya sudah tumpah dari pelupuk manik indahnya. Jadi, pria ini sudah menyukainya sejak dulu. "Lalu, kenapa kau tidak mencariku?"
"Ayahku tidak kembali, meninggalkan kami berdua. Sejak itu ibu selalu menyibukkan diri. Membawaku ke kampusnya bahkan tempatnya bekerja paruh waktu. Ketika aku beranjak dewasa aku mulai ngebut sekolah dan masuk akselerasi agar aku bisa kuliah dan begitu lulus langsung kerja."
Kagome memegang dadanya. Sesak. Sakit rasanya.
"Ibuku alumni Todai dan aku bisa masuk ke sana adalah hasil kerja kerasku. Bukan masuk jalur belakang. Perusahaan ibu mulai stabil dan aku dipercaya mengelolanya."
Kagome menggelengkan kepalanya. Sungguh, dia kagum pada pria ini di usianya cukup muda sudah jadi dosen dan mengelola usaha ibunya.
"Hingga aku mendengar dari Inuyasha gadis yang dipacari nya adalah kau."
Kagome menunduk dalam.
"Aku sedih sekali."
Bahu gadis yang tengah menunduk berguncang. Sesshoumaru melirik air mata kekasihnya menetes jatuh ke punggung tangannya.
"Maafkan aku, Sesshoumaru. Maafkan aku." Tangisnya makin pecah. Sesshoumaru memeluk erat tubuh mungil kekasihnya.
"Yang penting adalah aku bahagia bisa bertemu denganmu. Sejak itu aku tidak mau melepaskanmu." Sesshoumaru mengecup lembut puncak kepala Kagome penuh rasa sayang.
"Aku juga sedih sekali kau tidak pernah datang lagi. Aku selalu mencari sosokmu. Aku selalu menanyakan Mama apakah Sesshoumaru datang. Hingga akhirnya kita bertemu kembali. Sekarang aku yakin dan jawabanku adalah ..." Kagome melepas pelukan dan membuka sarung tangan kirinya.
Tubuh Sesshoumaru menegak. Matanya menatap lekat cincin safir biru tersemat manis di jari manis Kagome.
"Hei, Sesshoumaru. Kok diam? Ayo jawab," pungkasnya. Dalam hati Kagome menanti jawaban apa yang akan dilontarkan padanya.
Tangan kanan Sesshoumaru meraih kepala Kagome, sedagkan tangan kirinya memeluk punggung gadisnya. Diusap-usap penuh cinta. "Terima kasih."
Kagome mengangguk dan memeluknya erat. Dia sangat nyaman berada di dekat pria inu. Aroma maskulin dicampur parfume yang sangat ia suka.
"Kagome."
Wajahnya begitu dekat. Ujung hidungnyaah yang memisahkan jarak. Hembus napas hangat menyapu roman Kagome. Bibirnya setengah terbuka. "Ya?" Bisiknya.
"Jangan pergi lagi dariku."
Belum sempat Kagome mengiyakan, bibir hangat Sesshoumaru mencium lembut kelopak merah muda Kagome penuh cinta. Kagome memiringkan kepalanya sedikit memudahkan dia bergerak dalam hasrat. Lidah mereka berjibaku saling memasuki.
Tangan kanan Sesshoumaru perlahan bergerak menopang leher Kagome. Tangan kirinya memeluk erat ke dalam pelukannya. Semua sudah jelas, tidak ada lagi keraguan di hati mereka. Ciuman yang sarat makna penuh perasaan, sayang, dan cinta di antara mereka berdua.
Sesshoumaru menarik diri, tatapannya penuh hasrat. Lengan yang menopang kini berpindah mengusap lembut bibir bawah Kagome yang terbuka. Napas keduanya memburu. Kagome tersenyum bahagia.
Sesshoumaru mengecup lembut bibir Kagome. "Kau lapar."
Kagome tergelak ramai. "Aku lapar karenamu, Sessho- umph!"
Lagi, pria itu menciumnya penuh gairah. Dari bibir pindah ke leher. Kagome meraut surai silvernya. "Sessh- umph ... Geli."
Sesshoumaru makin dalam mengecup leher jenjangnya. Ujung hidungnya menelurusi wajah Kagome tiap inci. Tiap kecupan dari leher, tulang selangka, pipi, hingga bibir merekah Kagome, tunangan nya!
"Sesshoumaru ..."
Sesshoumaru masih menatap lekat sang kekasih hati.
"Maukah kau menungguku?"
Alis pria itu bertaut di tengah. Menunggu? Tidakkah dia tahu Sesshoumaru sudah menantinya cukup lama?
"Aku tidak mau menunggu. Kalau Mama mu belum tidur aku ingin ke sana malam ini juga."
"Hah?"
"Aku akan meminta anak gadisnya untuk hidup bersamaku."
Riak wajah Kagome terharu bercampur bahagia. "Aku mencintaimu, Sesshoumaru," Kagome menghambur ke dalam pelukan dan langsung disambut Sesshoumaru dengan penuh suka cita. Langit jadi terang benderang. Di dekat jembatan Rainbow Odaiba terdengar letusan kembang api. Sesshoumaru dan Kagome tanpa melepas pelukan memandang takjub pijar-pijar api di udara.
Dalam perjalanan menuju Nagoya, Sesshoumaru serius di belakang kemudi. Mulutnya penuh dengan makanan. Kagome pun sibuk mengunyah dan sesekali tangannya menyodorkan sushi ke mulut Sesshoumaru.
"Minum."
Dengan cekatan Kagome membuka botol air mineral berikut dengan sedotannya dan langsung dia letakkan ke bibir pria itu. "Mau makan lagi?"
"Kenyang."
Sebuah lagu oldies yang kini masih enak di dengar. Siapapun itu baik muda ataupun tua lagu ini cocok untuk pasangan seperti anda pasti akan merasa dicintai. Glory of Love dinyanyikan oleh penyanyi lawas Peter Cetera.
"Woah, Glory of Love!" Kagome memutar volume radio.
Tonight it's very clear as we're both lyin' here
There's so many things I wanna say
I will always love you, I would never leave you alone
Sometimes I just forget, say things I might regret
It breaks my heart to see you cryin'
I don't wanna lose you, I could never make it alone
"Sesshoumaru, aku sangat suka sekali lagu ini. Aku merasa ini memang untuk kita berdua," sahutnya riang.
Kemudian Sesshoumaru melanjutkan reef nya dengan ala baritonenya sendiri.
"I am a man who will fight for your honor
I'll be the hero you're dreamin' of
We'll live forever, knowin' together
That we did it all for the glory of love."
Kagome tak dapat menahan rasa bahagia nya. "Sesshoumaru, kau manis sekali," seraya mengelus tengkuk Sesshoumaru.
"Hn."
Mereka sudah tiba di rumah Kagome. Tak lupa gadis itu mengambil bungkusan di belakang jok mobil.
"Ayo." Sesshoumaru mengulurkan tangannya. Kagome memenuhi sambutannya. Sepasang kekasih itu bergandengan tangan dan melangkah mantap. Pintu terbuka, muncul kakek dan Souta menyambut mereka.
"Ayo masuklah kalian berdua."
Kagome menyerahkan bungkusan pada Mama. "Woaaahh sushi!" Celetuk Souta. Mama menyuruhnya membawa makanan itu ke meja makan.
Setelah cukup berbasa basi, Sesshoumaru mengutarakan keinginan terdalamnya. "Maaf, saya mengajak Kagome malam-malam begini."
Kakek tersenyum. "Hohoo tidak apa-apa, Sesshoumaru."
Tanpa basa basi, Sesshoumaru langsung pada inti nya. "Saya ingin melamar anak anda!"
TBC
entah apa yang merasukiku hingga nulis sepanjang ini. Pokoknya makasiiiihhhhh banyak kalian udah mau vote dan komen. Makasih banyak.
Punten pisan ga bisa panjang lebar, kepala puyeng yeuhh.
Arigatou gozaimasu.
