All About Underwear by Me
Di kediaman Inukimi ...
Suara burung riuh bersahut-sahutan yang bertengger di atas pohon menyambut pagi yang cerah. Dua manusia berambut silver sedang asyik bercengkrama di ruang makan. Masing-masing ponsel di taruh di atas bufet. Ibu dan anak itu ingin menghabiskan waktu berkualitas walau hanya sebentar.
"Bagaimana perkembanganmu dengan Kagome?" Tanyanya sambil memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya.
"Baik saja. Semalam aku ke rumah orang tuanya." Kemudian Sesshoumaru menceritakan maksud dan tujuannya. "Aku melamar Kagome."
Alis Inukimi terangkat. Wajahnya datar jadi sumringah. "Akhirnya!"
"Akhirnya apa?"
"Ya, akhirnya lah. Memangnya kenapa?"
"Mencurigakan," ujarnya seraya menyesap teh kesukaannya.
Inukimi menghela napas. "Akhirnya aku punya mantu, Sesshoumaru. Kapan kau akan melamarnya? Ibu harus punya waktu khusus untukmu," sahutnya dengan semangat menyala-nyala.
Baru saja Sesshoumaru membuka mulutnya, ibunya sudah menyela. "Dia suka warna apa? Apa yang dia belum punya? Berapa ukuran sepatunya? Sendalnya? Bra nya? Celana dalamnya?"
Kalimat nomer dua dan paling terakhir sukses membuat Sesshoumaru menyemburkan teh nya. Seketika saja memegang dadanya. Inukimi tertegun. Oke, anaknya yang kalem, anaknya yang tenang, anaknya seperti marmer lantai (hei, jangan samakan dengan ubin dong) kini menunjukkan ekspresi terkejutnya. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Keberadaan mahasiswi semester dua sastra jepang telah mengubahnya. Dalam hati Inukimi tersenyum senang. Telah terjadi sesuatu dan itu akan sangat menyenangkan.
"Kenapa ibu menanyakan hal itu?" Bisiknya dengan baritone seksinya yang rendah.
"Kau kan sering bersamanya," sahut wanita berwajah cantik itu dengan santai nya.
"Bukan berarti aku tahu 'dalam' nya, Bu," Sesshoumaru memijit pangkal keningnya. Beneran deh, ibunya ini suka iseng amat.
"Oh begitu." Inukimi menyesap teh lemonnya. "Kalau begitu kau tahu bra dan celana dalamnya warna apa?"
Oh, Kami-sama! Please deh. Sesshoumaru menutup wajah dengan tangan kanannya. Diliriknya Bibi Kaede menahan senyum. Oh, itu bukan, melainkan nahan tawa.
"Bu-."
"Kau pasti hapal. Dari bali bajunya kan kelihatan. Ya, kan?" Senyum Inukimi. Senyum jahil lebih tepatnya.
Astaga ibu, kenapa sih nanya yang aneh-aneh? Memangnya aku ini ahli nujum apa? Tapi mau tak mau Sesshoumaru jadi kepikiran. Warnanya apa ya? Waktu pria itu main ke apartemennya matanya tak sengaja melihat seonggok bra hitam renda di lantai. Lalu ... Warna biru gelap. Terus celana dalamnya juga warna senada. Apa tunangannya memang suka warna gelap? Hitam lebih seksi. Uh, kenapa jadi ikut mikirin sih? Sial ...
"Sesshoumaru, ibu menunggu jawabanmu. Siapa tahu saja ibu mampir ke toko khusus baju dalam wanita." Inukimi membersihkan sudut bibirnnya dengan serbet bersulam bunga. Di balik itu, Inukimi menahan tawa.
"Ibu tanyakan saja pada Kagome. Napa tanya ke Sesshoumaru ini?" Pria itu berusaha keras memasang wajah dinginnya. Sungguh, dia malu sekali. Tabahkan hatimu, Sesshoumaru.
"Pinjam ponselmu."
"Ibu mau ngapain."
"Telpon dia lah," ujarnya santai. Lalu dia menyuruh Kaede untuk mengambil ponsel Sesshoumaru. "Passwordnya?" Pria itu meraih ponsel dan mengetik kodenya lalu dia serahkan kembali pada ibunya.
"Tunggu saja."
Senyum wanita cantik itu mengembang tatkala manik emasnya menatap layar wallpaper anaknya merangkul bahu Kagome dengan mesra.
"Ya, Sesshoumaru?
"Hallo, Kagome. Ini ibu."
"Oh, maaf. Hai Ibu Kimi."
"Maaf ibu ganggu waktumu sebentar."
"Tidak apa-apa, Ibu Kimi. Ada apa?"
"Ibu mau nanya. Apa warna kesukaan bra dan celana dalammu?"
Sesshoumaru dapat mendengar dengan jelas Kagome terkesiap. Membayangkan wajah tunangannya merah padam ditanya hal yang 'paling pribadi.' Ibunya ini memang aneh! Pria itu menutup wajahnya.
"Ke-kenapa Ibu Kimi menanyakan hal itu?"
"Enggak. Ibu nanti mau sekalian mampir ke toko baju."
"Aku suka warna hitam dan biru gelap," ujar gadis itu malu-malu.
Ukuran bra?"
"36."
Celana?"
"M."
"Baiklah. Terima kasih banyak. Sampai jumpa."
Sesshoumaru kini tahu ukuran dalaman tunangannya. Huh, dasar Sesshoumaru!
"Hari ini kau ngajar?"
"Hn."
"Kaede, siapkan bekal untuk Sesshoumaru dan Kagome. Harus bergizi dan sehat. Jangan lupa buah-buahan dan cemilan," titahnya.
Kaede mengangguk. "Baik, nyonya."
"Sesshoumaru, setelah kau selesai ngajar temani ibu ke butik."
"Tidak mau."
"Ayolah, kau harus mengerti dalaman wanita. Biar kau tambah hot bikin anak nanti dengannya."
"Bu, hentikan!"
"Ibu ingin punya cucu yang lucu. Biar rumah ini tambah ramai."
"Kapan kita kesana untuk melamarnya?"
Asli, ibunya kini terobsesi melebihi dirinya. Astaga, kesambet apa ya hari ini? Hati terdalam Sesshoumaru lega luar biasa sang ibu menyambut kabar gembiranya dengan suka cita, tapi enggak begini juga kaliiii ...
"Sabtu pagi."
"Kaede."
Kaede muncul dari balik pintu. "Ya, Nyonya?"
"Sabtu depan aku dan anakku akan berkunjung ke rumah Kagome dalam rangka lamaran. Jadi, hari jumat tolong bilang ke chef buatkan dua atau empat kue kesukaannya."
"Baik, nyonya."
"Kau juga ikut dengan kami."
"Baik. Terima kasih, nyonya."
Kagome baru masuk kelas jam sepuluh pagi. Hari ini akan mengajar jam sore nanti. Jadi sekarang bisa kuliah dengan tenang. Modul yang diminta Sesshoumaru telah di siapkan. Di sana Sango sedang bercakap-cakap dengan Ayame.
"Kagome" seru Sango sambil menepuk kursi agar Kagome duduk di sebelahnya.
Gadis berambut hitam sepunggung ikut nimbrung. Tangan kirinya menopang kepalanya. Sesuatu yang berkilau di jari manisnya dan itu sudah sukses teman-temannya terpaku pada objek tersebut.
"Kagome, ini indah sekali!" Pekik Sango sambil meraih jemari Kagome.
"Waaah, kau mau tunangan? Selamat ya. Jangan lupa lho, makan-makan sih harus," todong Ayame. Soal makanan anak itu paling semangat.
"Eh, siapa calon suamimu, Kagome? Kok kita enggak tahu?" Tanya Ginta penasaran.
Salah satu mahasiswi dari Indonesia bernama Siri Ara ikut nyeletuk. "Cieee jangan-jangan ..."
Wajah Kagome merona. "Jangan-jangan apa?" Gadis itu berusaha setenang mungkin.
"Ada Pak Sesshoumaru!"
Mendengar nama itu saja sudah membuat mereka langsung membubarkan diri. Dosen mereka ini terkenal akan kedisiplinan. Seraaam!!!
"Pagi menuju siang, Pak Sesshoumaru!" Jawab mahasiswa/i serentak.
"Hn," hanya dibalas anggukan. Manik keemasannya bertemu dengan si pemilik biru kelabu. Wajah gadis itu memerah, dan dia lah penyebabnya. Senyum pria itu segaris melihat benda berkilau melingkar di jari manis Kagome, tunangannya.
"Hari ini kita akan belajar tentang pedang samurai."
Selama Sesshoumaru menerangkan, pikiran Kagome malah kemana-mana. Kekasihnya itu memakai kemeja biru gelap. Kedua lengan digulung sampai siku. Celana kain warna hitam senada dan matching dengan sepatunya.
Selama menjelaskan pula nya laki-laki itu mencuri pandang ke arahnya. Memastikan tunangannya baik-baik saja. Sedangkan Kagome? Jangan ditanya. Sudah pasti imajinasinya menerawang kemana-mana.
"Kagome, benda apa yang digunakan oleh para samurai pada masa Edo?"
Suara berat dan dalam membuyarkan lamunan Kagome. Gadis itu terkesiap. Dia tidak mendengar Sesahoumaru tadi menanyakan apa.
"Celana, Pak."
Kelas pun hening. Tak lama kasak kusuk terdengar dari beberapa mahasiswa. Tumben dosennya menyebut namanya biasanya kan Higurashi. Sesshoumaru menatap lurus. Suara Ginta memecahkan keheningan.
"Cieeee cieeeee!"
"Kau mau celana, Kagome?"
Kagome jadi gelagapan. "Bu-bukan itu maksudku. "Katana bukan celana!. Maafkan saya, Pak." Kagome membungkuk minta maaf.
Sango menyikut tangannya. "Kau kenapa, Kagome?"
Kagome sudah terlanjur basah ketahuan melamun. Hanya bisa menggeleng pasrah. Namun, tak disangka kalimat pendek dari Sesshoumaru akan membuat seisi kelas heboh.
"Iya, nanti aku belikan celana untukmu," jawab pria itu kalem.
"Pak ..." Kagome menutup wajahnya dengan kedua tangan dan pasrah sudah tidak dapat meneruskan kalimatnya.
Semua ini gara-gara Inukimi!
TBC
Ada apa ini? Kenapa judulnya makin absurd aja sih?
Inukimi: Lho, kok gegara aku sih?
Sesshoumaru: Ibu lah penyebab nya.
Minna! Apa kabar? Duh maafkan baru update hari ini. Beberapa hari ini aku kurang enak badan. Biasalah penyakit cewek. Eehehehe
Sesshoumaru: Kau kenapa, Aiko?
Aiko: Biasa lah. Lagi PMS.
Inukimi: Cepat sembuh, biar aku belikan celana untukmu.
Aiko: *big sweatdrops*
Sesshoumaru: Bu! Apaan sih?!
Inukimi: Kau mau dibelikan juga?
Sesshoumaru: GA!
Sudah, makin ngawur aja ini.
Semuanya makasih banyak ya yang udah nungguin cerita ini, komen dan vote nya.
To spesial pake telor SitiaraPelmansyah sudah update huhehehe
AmetoAi mana update nya?
