Memories by Within Temptations

"Apa ini, Sesshoumaru?" Kagome menerima pemberian dari Sesshoumaru dan meneliti bungkusan kain tersebut. Gadis itu menebak ada empat susun di dalam nya. Dua sejoli itu duduk di dekat taman parkiran mobil.

"Dari ibu. Kotak kecil buatku dan kotak yang besar untukmu."

Wajah mahasiswi tingkat dua itu sumringah. "Asyiik! Terima kasih banyak, Sesshoumaru." Kagome hampir berjinjit ingin mencium pipi tunangannya, tapi dia urungkan mengingat di sini wilayah kampus dan tidak ingin ada orang yang melihat.

Sesshoumaru pun mencongdongkan tubuhnya siap menerima hadiah kecupan dari sang kekasih. Manik keemasannya menatap gadis di hadapannya tampak malu. Alisnya terangkat.

"Na-nanti saja. Banyak orang," bisiknya pelan.

"Jadi kau ingin menciumku saat sepi atau di dalam mobil?" Bisik pria itu menahan tawa. Suka sekali menggoda kekasihnya.

Kagome mencubit gemas lengan Sesshoumaru. "Aw," ringis putra Inukimi. "Kubalas kau nanti."

Kagome jadi merinding mendengar suara rendah Sesshoumaru namun seksi di telinganya. "Hehe coba saja," tantang gadis itu.

"Nantang, ya?"

Kagome tahu Sesshoumaru bercanda, tapi tetap aja seram. Dering ponsel pria itu berbunyi. "Ya, aku ke sana sekarang."

Sesshoumaru berdiri. "Kau jangan lupa makan. Kau ada kelas mengajar sore nanti."

"Kagome mengangguk. "Siap, Boss!"

Sesshoumaru menatap sekeliling. Masih ada orang di taman. Jadi enggak bisa mengecup bibir sang kekasih. Sebagai gantinya dia mengelus puncak kepala Kagome dengan sayang.

Sesshoumaru menghela napas. "Andai saja ibu enggak minta ditemani berbelanja, aku akan menunggumu di sini."

Manik Kagome menyipit ketika sedang tersenyum. "Aku baik-baik saja, Sesshoumaru. Aku meminta Sango untuk menemaniku. Temanilah ibumu," sahutnya menggenggam erat tangan pria itu.

"Aku pergi dulu."

Sambil menunggu sore nanti, Kagome dan Sango makan di area taman. Karena di dalam kantin tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar. Sango mengulurkan botol minuman kepada Kagome.

"Wah, kiku!" Serunya riang. "Ayo kita makan."

Sango sampai melongo melihat empat kotak dan isinya berbagai macam makanan. "Ini kau yang buat?"

Kagome menggeleng. "Bukan."

Sango mencongdongkan tubuhnya. "Lalu siapa?" Bisiknya.

Kagome ragu-ragu untuk menjawab. "Um, anu ..." Gadis manis itu malah menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah menjalar merah.

"Anu?"

"Itu dari ibunya Pak Sesshoumaru."

Mata Sango membelalak. "Benarkah? Tunggu dulu. Apa ada hubungannya dengan cincin itu?"

"Ada." Kagome tak kuasa menahan rona bahagia nya. "Calon ibu mertuaku."

Sango memekik. Kedua tangannya ditangkupkan ke pipi. "Jadi kau sekarang tunangan Pak Sesshoumaru?!"

"Sstt, kecilkan suaramu, Sango," desisnya panik. Bahaya entar pada heboh terutama teman sejurusan pada minta traktir.

"Lho, kenapa? Ini kan berita bahagia. Kenapa kau tidak bilang padaku? Kan aku orang pertama yang ngucapin selamat," cecar Sango ceria.

"Iya, iya, kau orang pertama yang tahu akan hal ini."

"Sekali lagi. Selamat ya, Kagome. Aku bahagia mendengarnya," ucapnya tulis seraya memeluk Kagome dengan erat.

"Terima kasih, Sango. Doakan sabtu lancar acaranya," ujarnya penuh harap.

"Ngomong-ngomong kau sudah mempersiapkan gaun apa nanti buat lamaran?"

Kagome menepuk keningnya. "Astaga! Aku malah enggak kepikiran."

"Selesai kau mengajar ayo kita beli gaunmu."

Hari yang dinanti telah tiba. Kagome sudah pulang ke Nagoya lebih awal agar dapat mempersiapkan acara lamaran di rumah. Sang ibu sudah mempersiapkan catering di dojo yang sudah disulap jadi ruang keluarga.

Ketika Sesshoumaru melamarnya, Klagome sudah mewanti-wanti tidak mau terlalu wah atau heboh. Inginnya yamg sederhana saja. Pria tampan itu setuju mengikuti kemauan sang calon pasangan.

Kagome menggantungkan gaun di samping cermin. Pilihan Sango memang top markotop. Sebuah gaun putih gading out shoulder dengan bahan lace putih.

Tak lupa sepatu senada dengan dress nya.

Rambut hitam Kagome model messy bun agar terkesan natural.

"Kagome, kau harus bersiap. Mereka sudah datang!" Titah ibunya dari bawah tangga.

"Ya, Mama." Sekali lagi Kagome memandang dirinya di depan cermin. "Benarkah ini aku?" Gumamnya tak percaya. Biasanya sehari-hari pakai celana jeans, kaus, dan sepatu kets. Kini berubah menjadi cinderella, dari itik buruk rupa menjadi cantik jelita. Gadis itu mengintip dari balik tirai jendela. Dadanya berdegup kencang tatkala manik birunya menatap sosok pria tampan yang kelak akan menjadi suaminya turun dari mobil.

Sesshoumaru sangat tampan memakai blazer, dasi dan celana warna abu tua. Dipake kemeja hitam. Inukimi datang bersama Toga dan Bibi Kaede.

Dan apa itu?

Beberapa bingkisan dikeluarkan dari mobil mereka. Waduh, banyak amat? Kagome malah sibuk menghitung.

"Kagome, Mama boleh masuk?"

Gadis itu memutar tumitnya. "Masuklah, Mama."

"Kagome, Mama sangat takjub. Kau cantik sekali," puji Mama melihat anak sulung tampil beda hari ini.

"Kakak, kau cantik sekali." Souta muncul dari belakang.

"Ayo, mereka sudah menunggu di dojo," titah kakek.

Sekali lagi Kagome memandang penampilannya di cermin. Make up sederhana, bibirnya dipoles lipstick merah muda menambah kesan segar.

Mereka turun menuruni tangga menuju dojo.

"Kau dan Souta tunggu di sini. Tunggu aba-aba dari Mama."

Kagome mengangguk. "Baik, Mama."

Souta menggiring sang kakak duduk di meja makan. Adik bungsu nya menatap wajah saudara kandungnya. "Kak, kau tampak tegang."

"Yah, wajar lah," desahnya pelan. Dari sini terdengar suara gelak tawa di ruang sebelah sana. Tampaknya seru sekali.

"Ayo, Kak," ajak si adik bungsu.

Kagome mengangguk.

Dua kakak beradik berjalan menuju dojo yang sudah disulap ruang keluarga. Kagome menunduk tidak berani menatap wajah rupawan. Telinganya dapat menangkap Ibu Kimi menuturkan kalimat Kagome cantik sekali.

Gadis berbaju putih gading berdiri berhadapan dengan Sesshoumaru memandangnya tanpa berkedip. Kagome mendongak, sepasang safir emas menatapnya dengan wajah andalannya, tapi ada kebahagiaan terpancar dari netra ambernya.

"Inikah gadis pilihanmu, Sesshoumaru?" Tanya Mama yang telah berdiri di samping anak gadisnya.

Pria itu mengangguk mantap, matanya tak lepas menatap gadis cantik lekat-lekat dan menyimpan dalam benak. Kapan lagi dia akan melihat Kagome dalam wujud feminim seperti ini. "Ya, dia adalah gadis pilihan yang kucinta."

Senyum Kagome merekah. Tanpa sadar setitik air mata lolos jatuh di pipi. Sesshoumaru langsung menghapus jejak likuit bening dengan ibu jarinya.

"Kagome, kau sangat cantik," puji Inukimi maju selangkah dan memeluk nya dengan tulus seraya mengecup pipi Kagome. Di samping wanita itu Toga mengangguk setuju dengan senyum mengembang.

"Terima kasih, Ibu Kimi."

Sebagai tanda jadi, keluarga Taisho menghadiahkan satu set perhiasan. Toga memasang gelang di pergelangan tangan kanan. Sedangkan Inukimi mengaitkan kalung di leher gadis itu. Mama pun memasang anting-anting di kiri kanan. Dan terakhir, Sesshoumaru menyematkan cincin emas putih di jari manisnya. Ibu jarinya membelai cincin safir biru pemberian darinya.

Sesshoumaru mengecup kening gadisnya penuh cinta dan segenap jiwa nya.

"Terima kasih kepada-..." Kagome bingung memanggil ayahnya Sesshoumaru apa.

"Ayah Toga," ujar suami Inukimi itu. tersenyum.

"Ah, terima kasih kepada Ayah Toga, Ibu Kimi, Mama, Kakek, Bibi Kaede, Sesshoumaru, dan Souta. Hari ini adalah hari yang paling bahagia untukku. Dua keluarga yang aku sayangi dan aku harap menerimaku dengan apa adanya."

"Kami menerimamu dengan tangan terbuka, Kagome." Inukimi yang saat ini memakai gaun lace abu tua selutut. Wanita itu merentangkan kedua tangannya memeluk calon menantunya. Kagome pun tak dapat menahan haru. Mama pun sempat menitikkan air mata.

Agar suasana mencair kakek mengajak keluarga Taisho makan. Mereka saling melempar canda. Tak disangka Ayah Toga suka bergurau. Ada saja candaannya. Sesshoumaru hanya merengut, sedangkan Kagome tergelak ramai.

Setelah selesai makan siang, Inukimi dan Mama asyik ngerumpi membahas tanggal pernikahan. Toga, kakek, dan Souta duduk di depan sambil menikmati teh hangat. Ketiga pria itu sangat serius membicarakan pedang samurai.

Kagome mengajak Sesshoumaru berjalan mengelilingi area kuil. Di depan pohon besar mereka berdiri. "Kau masih ingat? Dulu kita sering duduk di sini sehabis bermain."

"Hn."

"Dan kau selalu kalah," Kagome tertawa membayangkan masa kecilnya dengan pria di sampingnya.

"Kau memang jagoan."

"Habisnya, aku diperlakukan kakek seperti laki-laki. Dan apa kau masih ingat waktu kau datang ke sini kau dikerubuni ibu-ibu?"

"Ingat."

"Kau malah dijodohkan sama anak mereka." Kagome tertawa terpingkal.

"Aku tidak terpengaruh akan hal itu."

Manik keemasan Sesshoumaru tertumbuk pada makhluk lucu bernama Buyou tengah tertidur di atas bangku. "Si sapi tambah bulat saja," sindir laki-laki berwajah rupawan.

Kagome memukul pelan lengan tunangannya. "Dia kucing bukan sapi."

"Mirip sekali dengan sapi nya Totosai."

"Ish, Sesshoumaru ..."

"Kakak!"

Dua sejoli itu memutar tumitnya. Souta berlari ke arah mereka.

"Dipanggil ibu ke dalam."

"Hn."

"Eh, tunggu dulu. Souta tolong fotoin kami berdua." Sesshoumaru inisiatif memberi ponselnya. Pria itu merangkul bahu Kagome."

"Ayo senyum dan Kak Sesshoumaru ayo senyum," tutur si bocah sibuk jadi penata gaya.

"Hn."

Cekrek.

Souta memandang hasil jepretannya. "Wah, keren! Ayo sekali lagi. Gaya yang lain dong!"

Dengan pose yang sama.

"Yak, satu, dua, ti-."

Sesshoumaru langsung mencium bibir Kagome.

"Ga."

Cekrek.

Wajah si bocah memerah meihat hasil fotonya.

Sesshoumaru tersenyum kalem.

Sedangkan Kagome? Wajahnya saat ini merah padam karena pria ini tiba-tiba saja menciumnya.

"Ses-Sesshoumaru ..."

TBC

Hai semua met pagi. Tanpa terasa ya sebentar lagi bab ini akan tamat. Huhuhuu sedih deh. Bagaimanapun juga aku ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada kalian yang selalu support baik itu komen ataupun vote. Terima kasih banyak.

Ending bahagia akan menanti.

Eh, btw, Inuyasha aku munculkan jangan? Silakan tinggalkan di kolom komentar ya.

AmetoAi ditunggu updetannya. Uhiiyyy