Miroku si anak Pendeta mesum enggak ketulungan.

Miroku: Woy! Jangan gitu, dong!

Aiko: Emang kenyataannya gitu kok. Weee!!

PLAKK

Pria kuncir satu rendah itu memiringkan kepalanya. "Aw," ringisnya sambil mengelus pipinya memerah akibat kena serangan cap lima jari.

"Dasar tukang selingkuh!!" Seru wanita dengan tubuh seksi, memergoki Miroku tengah bercumbu dengan seorang gadis.

"Hei! Ummm M-mmania eh siapa namamu? Mania, eh, salah ..."

"NAMAKU SONIA!" Raung wanita itu. "KITA PUTUS SEKARANG JUGA!!"

Yah, itulah pengalamanku sewaktu aku masih kuliah di Todai. Entah berapa banyak wanita aku pacari. Satuan? No! Puluhan? Bisa jadi. Atau ratusan? Nah ini betul. Betul sekali!

Setiap kali aku mempunyai kekasih, itu tidak pernah bertahan lama. Yaaa ... Paling tiga atau seminggu. Dan itu pun berakhir dengan tamparan keras di wajah tampanku. (Jiaaah!)

(Miroku: Apanya yang 'jiaah'?)

Sekarang, sejak aku menjadi dosen Hiragana Sastra Jepang, kebiasaan burukku tak pernah berubah. Sudah berapa banyak gadis-gadis jadi korban ku.

Setiap kali itulah aku selalu bilang, "Hai gadis pujaanku, maukah kau melahirkan anakku?" Sudah kalian duga 'kan ending nya seperti apa?

Yang membuatku malu adalah kepergok oleh si pemilik 'Wajah Es' Sesshoumaru ketika aku sedang merayu wanita. Manik emasnya menatapku datar. Sangat datar.

"Menjijikkan."

Satu kata dari nya saja sudah membuatku tertegun. Aku kenal dia sejak lama dan aku benar-benar ingin mengenalnya, tapi pria itu susah nya minta ampun untuk didekati. Kemana-mana laki-laki itu menyendiri. Di ruang dosen pun duduknya paling pojok.

Oleh karena itu aku getol ingin kenal dan selalu caper alias cari perhatian. Usahaku sia-sia, pria bersurai silver itu tetap tenang tak terbantahkan. Walau dia sedikit mengerikan, baritonenya menurutku seksi, dia adalah sosok yang baik. Pernah sekali laki-laki itu menyodorkan makanan kepadaku.

Para dosen di sini banyak yang bilang, Sesshoumaru pria yang dingin, tak berperasaan, dan arogan. Si Dosen Sejarah itu sangat pelit kasih nilai. Tidak suka disogok dengan cara apapun. Banyak mahasiswa tidak menyukainya walau ada sih yang suka padanya.

Sesshoumaru sebenarnya perhatian. Dia bahkan menasehati agar aku jangan merayu gadis-gadis. Namun, aku hanya tertawa menanggapi nya. Mana mempan? Seorang Casanova Miroku akan terus menggombal wanita.

Nah, kalian jadi tahu kan kenapa di ponsel Sesshoumaru namaku jadi si 'Maukah Kau Melahirkan Anakku'.

Kejam banget, Nyet!

Tahun silih berganti. Kampus Todai kedatangan mahasiswa/i baru. Mataku terus mencari 'mangsa' dari lantai dua. Manik hitamku tertumbuk pada sosok gadis berkuncir tinggi sedang berdiri di halaman kampus. Hm, lumayan, wajahnya cantik. Tubuhnya bagus seperti bodi gitar.

Oya, satu lagi hal yang membuatku tergelitik. Bokongnya seksi! Udah itu aja. Ingin sekali aku meremasnya.

"Sess ..."

Pria itu menelengkan kepalanya.

"Aku ingin sekali meremas pantat dia." Aku langsung menunjuk objek di bawah sana.

Aku mendapat 'hadiah' dari Sesshoumaru juga kata pedasnya. Sebuah buku tebal meluncur keras ke atas kepalaku.

"Kau mesum, Nyet!"

"Hahahaha!" Ringisku seraya mengelus kepalaku.

Aku mengerling lagi pada pria di sebelahku. Tunggu dulu, manik keemasannya menatap lekat pada sosok seorang gadis di sebelah wanita inceranku. Siapa dia? Kenapa pria di sampingku tertarik? Biasanya enggak pernah! Sama sekali tidak pernah. Ini baru berita! Eh, berita Baru!

Tunggu saja, aku akan segera mencari tahu. He he he! senyum setan terpampang nyata di wajah iblisku.

''Apa yang kau tertawakan."

"Mau tahu aja kau, Nyet."

"Aku manusia, bukan monyet seperti kau yang sibuk mencari jalang untuk kau pacari."

Njir! Itu dia, kata-kata suangaatt pedas di telingaku. Salahku sih emang ngatain dia Nyet alias monyet. Harusnya aku marah dibilang seperti itu. Anehnya apabila dia yang mengatakannya aku sama sekali tidak marah.

Eits, aku bukan guy, ya! Aku laki-laki normal. Hanya saja aku ingin berteman dengannya. Itu saja. Iya, itu saja.

Aiko: "Benarkah?" /Menyipitkan mata.

Miroku: "Iya benar."

Sesshoumaru: *mundur lima langkah*

Suatu hari aku memasuki kelas mahasiswa tingkat satu sastra jepang. Mataku tak sengaja bertemu pandang dengan seorang gadis yang ku incar. Bingo! Dia di kelas ini bersama gadis manis di sebelahnya. Aha, pucuk dicinta ulam pun tiba. Sesekali aku mencuri pandang, tapi dia cuek dan tidak peduli dengan keberadaanku.

Aku benar-benar terhina. Mana ada gadis mengacuhkanku kecuali dia! Hm, saatnya nanti melancarkan aksiku. Myoahahahaha!

Saat kelas mulai sepi aku mulai mendekatinya. "Siapa namamu?"

Gadis itu mendongak. "Namaku Sango, Pak Miroku."

"Kau bisa bantu saya membawakan alat proyektor ke ruangku?"

"Tentu."

Aku sengaja berjalan dibelakangnya. Benar, bokongnya seksi bodinya bodi gitar! Tanganku sudah gatal ingin meremasnya.

Pelan-pelan ... Tanganku terjulur ke bokongnya.

Puk.

"Kyaa!"

Ah, akhirnya ... Tapi malang sekali nasibku. Aku ketahuan. Dia memutar tumit dan wajahnya merah karena malu bercampur marah.

"Apa yang bapak lakukan? Bapak mau melecehkanku ya hah!?"

Tak pelak, dia mencengkeram kerah kemejaku dan membentur tubuhku ke dinding. Wow, tenaganya edan kuat sekali. Tangan kanan gadis itu siap melayangkan ke wajahku.

PLAKK

Tangan kiri yang satu lagi pun ikut mendarat di pipiku.

PLAKK

Terakhir, dia meninjuku.

BUK BAK BUK!!

"Aahh ..." Aku jatuh terduduk di lantai.

"NIH, AMBIL! BAWA SENDIRI SANA!" Gadis itu melempar proyektor ke pangkuanku dan meninggalkanku begitu saja.

Dari balik jendela, muncul wanita bernama Kagura, dosen pariwisata. "Sakit, ya? Duh kasihan sekali," dengan suara dibuat-buat.

Aku tertawa miris mengusap tengkuk bagian belakang.

"Belum kapok juga kau ya."

Aku menoleh ke samping kiri. Pemilik suara baritone itu mendekap tangan ke dada. Tubuhnya menyender di belakang pintu. Wajah rupawan tetap datar menatapku.

"Kau abis ngapain?"

Aku menengok ke kanan. Naraku si dosen kebudayaan dan sangat suka sekali ngobrolin tentang setan atau siluman. Kayaknya dia adore banget ya ama setan.

"Mata Naraku memandang sosok gadis dengan jalan mengentak dari kejauhan. Matanya kini berpindah menatapku. "Rasakan!"

"Kalian tahu, gaez? Aku langsung jatuh cinta pada gadis itu."

Tiga orang itu memandangku dengan tatapan antara iba dan kasihan. Miroku sudah gila.

Yah, itulah kisah sekelumitku.

Aku jatuh cinta pada nya.

Tamparan keras dan tinju di wajah membuatku makin tergila-gila. Walau dia jaga jarak tapi dia mau aku mendekatinya. Yah, aku masih sayang wajahku juga nyawaku. Hehe

Tak terasa aku menjalani hubungan dengannya lebih dari setahun. Dibilang pacaran enggak juga. Hanya dekat saja. Apakah aku berubah?

Belum tentu.

Masa?

Iya.

Sumpeh Lu?

Dibilang enggak cayak.

Entah ada angin apa yang menimpaku, aku terpesona oleh sosok wanita cantik jelita bersurai perak melenggang masuk ke dalam kampus. Seketika saja aku tidak tahan. Aku menghadang dan menggenggam kedua tangannya dan mengatakan, "Wahai wanita yang cantik jelita, mau kah kau melahirkan anakku?"

Sosok tinggi langsing itu mengerjapkan kedua mata indahnya.

Sejenak Miroku teringat sesuatu. Dia mirip seseorang. Siapa ya? Ah-

JEDUK

"AW!" Aku menoleh siapa yang berani menendang bokongku hingga aku tersungkur ke depan. Wanita tadi dengan gesit menghindari.

"Kenapa kau menendangku, Nyet?!" Seruku sambil mengelus pantatku. Sialan kau, Sesshoumaru!

"Dia ibuku, Nyet!"

END.

AHAHAHAHAHAHAHA!!!!!

Yah, itulah sekelumit kisah Miroku.

Aku kerasukan nulis ini. Feelingku so good.

Next aku bahas siapa yaaaaa

Evil grin*