Naraku selaku Dosen Kebudayaan sangat populer di kampus Todai.
Naraku: "Asek!
Sebenarnya ganteng.
Naraku: "Sebenarnya?" /Mata menyipit.
Rambut panjang sampai pinggang, sering dikira Mbah Kunti.
Naraku: "Kok ujungnya ga enak sih?"
Aiko" DIYAAAM!"
Naraku mingkem.
Yak, kali ini yang akan saya nistakan adalah Pak Naraku kita tercinta!
Naraku: "WEYY!! ENAK AJA NISTAIN GUE!"
Aiko: "Readers, mana tepuk tangannya?"
Naraku: "Gosah tepuk tangan!!!"
Seorang pria bertubuh tegap berjalan santai menuju ruang dosen. Tangan kanannya mengapit laptop. Tangan yang satu lagi menenteng tas. Kemeja dan celana kain hitam polos, hanya long coat nya saja berwarna krem. Syal merah melilit manis di leher.
Langkah kakinya mantap memasuki ruang dosen. Manik gelap pria itu menatap sekeliling. Hanya satu orang paling rajin datang lebih awal dan tidak pernah datang terlambat. Siapa lagi kalau bukan ...
"Pagi Sesshoumaru," sapanya.
"Hn." Kepalanya turun ke bawah sedikit. Hanya Naraku lah yang mengerti arti itu sebagai tanda anggukan.
"Kau sudah sarapan?" Naraku mengeluarkan kotak bekal bergambar berbagai jenis hantu dari dalam tas nya.
"Sudah."
Naraku membuka kotak bekalnya. Berbagai macam buah dan aneka sushi. "Kau mau?"
"Tidak."
"Tenang, ga ada racunnya, kok."
"Kotak bekalmu sudah seram."
Naraku mengerucutkan bibirnya. Seperti biasa kata-katanya kadang pedas. Tak jarang juga Naraku sering disindir. Pria itu berusaha memaklumi sifat Sesshoumaru. Tanpa sadar, dia menghela napas.
"Kau kenapa?" Pandangannya masih terpaku pada buku tebal yang dia baca.
Pria berambut panjang sedikit keriting itu tertegun. Tumben nanya? Naraku duduk di hadapan Sesshoumaru. "Apa aku ini membosankan?" Tanyanya.
Mendapat perhatian, netra emas Sesshoumaru menatap Naraku. kedua alisnya bertemu di tengah. Dia menutup buku tebalnya seperti bantal. "Menurutmu?"
Naraku menyenderkan tubuhnya ke kursi, lalu menyodorkan kotak bekal di meja Sesshoumaru. Mau di makan atau tidak yang penting sudah nawarin.
Naraku mengambil kotak kacamatanya. "Aku merasa iya, membosankan dalam mengajar. Sehingga beberapa mahasiswa tertidur di kelas," ujarnya seraya memakai kacamatanya.
Readers: WAKAKAKKAKAK
Aiko: Sssst!!!
Sekilas, Naraku cakep, kok. Kalau pakai kacamata doang.
"Coba kau ubah gaya mengajarmu."
Naraku menyimak sambil mencomot buah anggur dengan tusuk gigi. Telinganya siap mendengar petuah yang sangat jarang sekali ia dengar dari laki-laki dingin ini.
"Sebentar lagi kita akan kedatangan mahasiswa baru. Masih ada kesempatan kau untuk berubah."
Naraku tersenyum. "Thanks, Bro."
"Aku bukan kakakmu."
Naraku tergelak. Senang sekali menggodanya.
"Eh, btw, Kagura belum datang?" Tanyanya lagi.
Sesshoumaru menjawab. "Belum".
Pintu terbuka. Kepala orang itu menyembul dari balik pintu. Pria yang mengaku-aku Cassanova itu melangkah masuk. Langkahnya tampak gontai.
Naraku menoleh ke belakang menatap pria berkuncir satu rendah masuk dan menaruh tas di atas meja. "Cara jalanmu aneh."
Miroku duduk dan mendesah. "Habis nganu," jawabnya santai tanpa dosa.
Naraku memutar kedua bola mata dengan tatapan 'yang benar saja' ke arah Miroku. Pria itu sudah gila! Kemarin habis 'olahraga malam' kata nya sih. Sekarang 'habis nganu'. Kenapa dia suka sekali gonta ganti pasangan sih?
"Kau enggak pakai sarung pengaman?" Tanya Naraku penuh selidik.
"Kondom maksudmu? Ya, pakai lah. Dan please, jangan ngomongin itu lagi. Jadi berdenyut lagi, kan?"
Naraku menghela napas. Dia cukup pusing menghadapi playboy yang satu ini.
"Tanggung jawab kau."
"Heh! Enak saja kau bicara! Memangnya aku ini apa?!" Seru Naraku.
Sedangkan Miroku tertawa terbahak-bahak.
Parah emang si Miroku.
Tak lama, sosok yang ditunggu Naraku sudah datang. Rambut si wanita digelung sampai atas dengan anting menjuntai ke bawah. Rok hitam selutut, atasan kemeja corak merah putih. Tangan kanan menenteng tas laptop. Tangan satu lagi membawa godiebag lumayan besar. Sepatu hitam pantofel selaras dengan rok nya.
Naraku mengintip sedikit isi godiebag wanita itu. "Apa yang kau bawa?"
"Kimono," sahutnya pendek. Kemudian dia duduk di sebelah Naraku. "Ada empat mahasiswi di kelasku menyewa kimono untuk kelulusan besok."
Naraku manggut-manggut. "Setelah ngajar kau ada acara?"
Kagura tampak berpikir, lalu menggeleng. "Tidak, kenapa?"
"Jalan-jalan, yuk. Aku ingin makan di suatu tempat."
"Baiklah."
Mahasiswa/i baru datang dan pergi datang silih berganti. Tak terasa sekarang sudah memasuki bulan April. Awal mahasiswa/i baru memulai perkuliahannya. Dari atas Naraku dapat melihat begitu antusias nya CAMABA mengambil Fakultas Sastra Departemen Sejarah.
Betul sekali, Fakultas Sastra memang paling diminati di Jepang. Bahkan nomer satu di Todai. Dalam hati pria itu sangat bangga sebagai alumni dan kini menjabat sebagai dosen di kampus bergengsi se-Jepang.
Dari lantai dua, manik merah delima milik pria itu memandang Camaba dari berbagai jurusan di aula. Ia berjalan mengikuti langkah dosen lainnya.
Netra nya tertuju pada sosok tegap sedang berdiri di ujung sana. Pandangannya lurus ke bawah. Naraku melirik ke bawah. Apa yang dia lihat? Lalu berganti menatap laki-laki bersurai perak.
"Sesshoumaru," sapanya. Kini, dia ikut memandang ke bawah di sisi pria di sebelahnya.
Sesahoumaru tidak bergeming. Di sebelah kanan Miroku tak henti-henti mengoceh tentang cewek kecengannya nanti.
Naraku yang sudah hapal tabiat dua rekan bagai kutub berbeda hanya menghela napas gusar. Dia melirik Sesshoumaru bagai patung. Sungguh, dirinya penasaran. Apa yang pria itu lihat?
Dari mata Sesshoumaru, Naraku menarik garis lurus dengan telunjuknya secara bergantian. Akhirnya, dia tahu apa yang diperhatikan putra Inukimi tersebut.
Segaris senyum tipis terpatri di sudut bibir Naraku. Seorang gadis manis tengah berdiri di antara kerumunan Camaba. Rambutnya hitam panjang, memakai kaus putih lengan pendek bergambar siluet wanita berkacamata hitam, celana hitam kulot menutupi kakinya. Sepatu sneakers senada dengan pakaian yang perempuan itu gunakan.
Gadis itu sedang membungkuk sebagai tanda perkenalan dengan seorang perempuan surai panjang diikat ke atas. Celana hijau pupus dipadu sweater cokelat muda. Kasihan sekali, gadis itu jadi inceran empuk Miroku.
"Apa dia kenalanmu?"
Pertanyaannya tak dipedulikan oleh Sesshoumaru. "Bukan urusanmu, Pengabdi Siluman," ujarnya dingin.
Alis Naraku terangkat. "Siapa Pengabdi Siluman?"
"Kau."
Sejak saat itu, Naraku bukanlah nama yang sebenarnya.
Gara-gara dia!
Ya dia!
Pria wajah dingin itu seenaknya saja mengubah namaku. Lebih gila lagi, seluruh dosen departemen sejarah sudah pada tahu nama keramat itu.
Dan sekarang?
Tiap kali Naraku masuk kelas, mahasiswi nya selalu memanggilnya.-
"Ada Pak Pengabdi Setan masuk ke kelas!"
Dan ...
Naraku sekarang berdiri di kelas A. Manik merah delimanya menyapu ke seluruh ruangan. Tak sengaja matanya menatap gadis yang dia lihat waktu itu di aula saat penerimaan Ma-Ba.
Naraku berdehem. "Hallo semuanya," sapanya.
"Salam kenal, Pak Pengabdi Setan!" Jawab mereka serempak.
Naraku memutar kedua bola matanya. Nasib, nasib. Harus sabar menghadapi ini semua.
END.
Naraku: "GOSAH KETAWA! GOSAAAHH!!!" Naraku kini kembali ke wujud aslinya.
Hai semuanya, apa kabar? Bikin Naraku kok susah amat yak? Jatohnya malah gini.
Terima kasih sudah komen dan vote. Terima kasihhh.
Next, siapa lagi ya yang akan aku bully?
Fufufuuu *evil grin*
