Love Is by Vanessa W Brian Mcknight

Di kediaman Higurashi setelah acara pertunangan ...

"Kagome, kau ingin baju pengantin warna apa? Corak merah atau putih semua?" Tanya mama.

"Putih, Mama."

"Baiklah." Wanita itu mencatat kebutuhan pernikahan putri sulungnya di buku catatannya agar tidak lupa.

"Aku tidak mau wajahku dipoles bedak putih, Mama," pintanya.

Mama mengangguk. Matanya sibuk meneliti tulisan di bukunya apa ada yang ketinggalan. Semua sudah beres. Jadi besok pagi ke kuil untuk memesan bangunan pernikahan sesuai tanggal dan hari baik yang ditetapkan.

Sedangkan Inukimi sibuk menulis nama tamu yang akan diundang baik dari dalam maupun luar negeri di notebook acara pernikahan adat nanti. Sesshoumaru meminta kepada sang ibu upacara adat dilangsungkan musim semi nanti.

Dua wanita dewasa membagi tugas. Ibu Sesshoumaru bersikeras dan bersemangat ikut andil membantu upacara adat pernikahan tradisional. Setelah itu akan diadakan resepsi di hotel bintang lima. Chef di kediamannya akan dia kerahkan. Begitu pun para pelayannya. Akan tetapi lihat situasi dan kondisi.

Kala itu Sesshoumaru sedang duduk di bangku taman menghadap pohon besar. Di sampingnya sang ayah ikut menemani. Tampak ayah dan anak tengah bercakap-cakap. Sesekali Toga bersenda gurau membuat roman muka Sesshoumaru merengut.

"Maafkan ayah, Nak."

Sesshoumaru menyimak. Kepalanya dimiringkan sedikit. Telinga siap mendengarkan.

"Ayah ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu. Untuk itulah aku sudah membicarakan hal ini pada Kimi sebelumnya."

"Apa kata ibu?"

"Aku harus membagi waktu antara Danenchofu dan Asakusa." Manik Toga meredup menatap jalan bebatuan. "Permasalah sudah selesai. Hanya satu yang belum tuntas. Aku harus menghadapi keluarga besar ibumu nanti. Cepat atau lambat."

Sesshoumaru melirik pria di sampingnya. Perawakan tegas sama seperti dirinya. Sesshoumaru tidak akan mau secara terang-terangan mengakui bahwa ia kagum pada laki-laki ini.

Gentleman.

Itu yang Sesshoumaru nilai. Ayahnya berani mengambil langkah walau resikonya tanggung sendiri.

"Aku tidak mau kau seperti ayah. Ayah memang pengecut. Tidak berani menemui kalian. Akan tetapi, jauh dari dalam lubuk hati terdalam ayah sangat menyayangimu. Ayah selalu menanyakan kabar kalian melalui Totosai."

Sesshoumaru menyimak. Netra emasnya memandang pohon besar. Angin perlahan-lahan menyapu wajah rupawannya. Surai silvernya tergerak tertiup udara.

"Ayah bersedia jadi mendampingimu jika kau mau," ujarnya penuh harap. Dia paham betul perangai anaknya. Sebuah keajaiban bila Sesshoumaru mau memaafkannya.

Sesshoumaru belum jua membuka suaranya. Tak lama maniknya menangkap sosok baju putih mendekati mereka. Gadis itu melambaikan tangannya. Kemudian dibalas dengan anggukan kepala Sesshoumaru.

"Apa tidak keberatan kalau aku ikut bergabung?" Tanyanya sopan.

"Tentu saja, Kagome," sahut Toga.

"Hn." Sesshoumaru lantas menggeser ke tengah agar Kagome duduk di sampingnya. Kini putra Inukimi diapit oleh Kagome dan sang ayah.

"Bagaimana persiapanmu, Kagome?"

"Sudah beres. Tinggal mencari souvenir," tuturnya riang.

"Ah, bagaimana kalau kalian ke Asakusa? Di sana banyak souvenir lucu-lucu dan kalian bisa memilihnya. Ayah ada kenalan di sana. Kalau mau, ayah bisa menemani kalian."

"Wah tentu saja. Ya, kan Sesshoumaru?"

"Hn."

"Dan ayah juga meminta pada Sesshoumaru untuk menjadi wali nya. Itu pun kalau tidak keberatan."

Senyum gadis itu mengembang. "Tentu saja, ayah. Bagaimana denganmu Sesshoumaru?"

Cukup lama terdiam akhirnya pria itu melisankan kalimat yang akan membuat sang ayah tertegun. "Jangan sampai terlambat datang, ayah."

Mata Toga membelalak lebar. Apakah itu berarti anak itu mengampuni? "Apakah itu kau memaafkan ayah?" Suara pria itu bergetar.

"Apa kalimatku barusan kurang cukup?" Tanyanya dingin.

"Ayah, itu berarti Sesshoumaru telah memaafkan ayah," ucap si gadis manis penuh kelembutan seraya mengusap sayang punggung calon suaminya.

Rasa haru membuncah didalam dada Toga. Sesshoumaru memanglah dingin, tapi bila mengenalnya dengan sangat baik di balik ucapan itu, ada kepedulian walau tidak akan ditunjukkan. Sekarang, semua sudah jelas. Si putra sulung meminta untuk jadi wali nya.

"Terima kasih, anakku," ucap pria itu menahan tangis. Dia memeluk erat tubuh Sesshoumaru.

"Sesshoumaru jengah, di sampingnya Kagome terkikik melihat calon suaminya malu. "Ayah, lepaskan! Enggak usah nangis, itu memalukan!!!"

"Tidak mau! Dan ayah tidak menangis!" Sang ayah semakin mendekap erat, tapi air matanya lolos juga ke pipi. Kagome tertawa terpingkal-pingkal melihat 'keakraban' ayah dan anak.

Wajah Sesshoumaru berubah masam. Kedua tangan bersedekap di dada. "Cih!"

Hari cepat berlalu. Pergantian bulan ke depan semakin dekat. Musim semi sebentar lagi akan tiba. Tiga minggu lagi hari bersejarah yang tak akan terlupa seumur hidup sudah terbentang. Hawa sejuk teralihkan oleh bunga yang mulai bermekaran. Ragam kembang merah muda dipadu putih tampak cantik.

Gadis cantik itu sedang mematut dirinya di depan cermin. Ah, sebentar lagi akan meninggalkan apartemen ini. Mahasiswi sebentar lagi tingkat tiga akan mengakhiri masa lajangnya. Setelah mengucapkan janji suci ia akan kembali ke tempatnya menuntut ilmu.

Sulung Higurashi ingin segera menamatkan pendidikan gelar sarjana. Setelah itu ia ingin berbulan madu dengan Sesshoumaru tercinta. Membayangkan itu saja sudah membuat wajah memerah.

Kagome melirik goodie bag berisi kartu undangan untuk ia sebarkan ke teman terdekatnya. Tiap kartu undangan berbeda bagi mahasiswa dan kolega nya Sesshoumaru. Tak lupa sebagian dikirim ke pos untuk teman SMA nya.

Dering ponsel berbunyi, tertera nama Sesshoumaru di sana. Segera ia geser tombol hijau ke atas.

"Kau dimana?"

Suara berat terkesan dingin namun lembut membuat Kagome sedikit merinding sekaligus senang. "Aku segera ke sana."

Manik biru keabuan mencari pria berambut silver di ruang dosen. Dirinya bernapas lega, sosok bertubub tegap itu sudah berada di sana. Dia dikerubuni leh Miroku, Naraku, dan Kagura.

Miroku menoleh. "Nah, 'pelakunya' sudah datang." Miroku langsung menarik kursi agar Kagome duduk di sampingnya.

'Pelaku'? Gema Kagome dalam hati.

"Duduk sini," perintah Miroku. Menurut, Kagome duduk di sebelahnya.

"Ada apa?" Tanyanya pelan. Matanya menatap Sesshoumaru yang sedang santai bersedekap di dada.

"Kenapa kau tidak bilang pada kami bahwa kalian pacaran lalu sekarang nikah!?" Seru ketiganya kompak.

Alis hitam gadis itu terangkat. "Memangnya kami harus memberitahukan kalian?"

Sesshoumaru berdiri lalu mengeluarkan surat undangan berwarna putih untuk laki-laki. Sedangkan merah muda untuk perempuan. Kemudian dia memberikan satu persatu. Tak lama dosen lain pun ikut berkumpul dan suasana mulai heboh.

"Wei semuanya! Sesshoumaru mau menikah!" Seru pria ubanan dan mengajak yang lain untuk melihat siapa calon istrinya. Begitu dibuka beberapa pasang mata tertuju dengan mulut menganga pada satu objek yang sedang menatap kebingungan.

"Hehehe," Kagome tertawa canggung seraya membenarkan kaus putih dan celana kulot warna hitam. Jaket hitam dililitkan di pinggang rampingnya. Gadis itu jadi malu.

Menyadari kegugupan kekasihnya, Sesshoumaru menghampiri seraya mengusap rambut hitam gadisnya penuh kasih. "Dia Kagome, calon istriku."

"WOAAAAAAAAA!" Mulut mereka menganga lebar. Kehebohan langsung terjadi karena berebut ingin menyalami sang calon pasangan Sesshoumaru. Keributan pun akhirnya dimulai dan saling dorong.

"Aku duluan!" Raung Miroku.

"Enggak bisa, aku duluan yang di sini!" Sahut si bapak botak tak mau kalah.

"Jangan ngadi-ngadi, Botak Tua Nakal!"

"Heh, kau pun sama bahkan lebih parah dari ak-ups!" Cepat-cepat ia menutup mulutnya.

Sorak membahana di ruang dosen. Semua kebagian undangan, riak bahagia di wajah mereka.

Kagura maju. Cepat-cepat Kagome berdiri dan membungkuk, tapi ditahan oleh wanita bermanik ruby. "Selamat ya, Kagome dan Sesshoumaru. Kalian memang cocok." Senyum tulus terukir di sudut bibirnya. Kemudian disusul ucapan selamat dari yang lain.

Lagi-lagi Kagome tersenyum dan membungkuk. "Terima kasih, Bu Kagura."

"Ternyata kau penyebabnya, Kagome. Kau membuat 'Si Kulkas' mencair," kata Naraku sok puitis.

"Tidakkah kalian enggak merelakan dua orang mesum itu sedang berkelahi?"

"Abaikan saja, Pak Sesshoumaru."

"Mereka memang begitu."

Manik emas Sesshoumaru menatap dua orang sedang adu mulut dengan pandangan menusuk.

"Kalian sudah selesai?"

Miroku dan Pak Botak Nakal serentak menoleh. Sesshoumaru sudah berdiri di hadapan mereka. Matanya tajam, raut wajahnya menyeramkan.

"Katakan! Bagian tubuh mana yang ingin Sesshoumaru ini tinju?" Ujarnya tajam. "Wajah, perut? Atau ..."

Dua orang yang tadi bertengkar diam seketika. "Tidak."

"Kalian sudah dewasa, jangan bertingkah seperti bocah!"

Dua orang dewasa tadi hanya menganguk menurut saja daripada cari mati. Sesshoumaru kalau sudah marah bahaya. Seram, kan?

Selesai mengajar, dengan sabar Sesshoumaru menunggu di luar, Kagome sedang ada kelas. Setengah jam kelas pun bubar. Setelah dirasa sepi, Kagome memanggil teman-temannya. Satu persatu dia menyerahkan undangan.

Sesshoumaru masuk ke kelas. "Kau sudah selesai?"

"Hm." Kagome mengangguk.

Yang paling heboh adalah Ayame. Mata bulatnya membelalak siapa calon suami Kagome. "KAU MENIKAH DENGAN PAK SESSHOUMARU?"

"Selamat ya, Kagome dan Pak Sesshoumaru. Aku senang mendengar kabar baik ini." Sango memeluk Kagome.

"Aku pasti datang, Kagome," ujar Ginta tak kalah senang.

"Pak, kalau gitu naikin dong nilai mata kuliah kami," rayu Ayame.

"Itu tidak ada hubungannya," jawab pria dingin itu datar.

"POKOKNYA APAPUN ITU KAMI PASTI DATANG!" Seru mereka kompak.

Kagome mengangguk riang. "Terima kasih. Kami tunggu kedatangan kalian."

"Ayo!" Ajak Sesshoumaru.

"Kita mau kemana?"

Keluarga dari ibu ingin bertemu denganmu."

Seketika saja dadanya berdegup dengan kencang. Dia melirik pria yang ia sayangi, wajahnya tampak tegang. Pasti ada sesuatu. Perasaan jadi tak enak. Ada apa ya?

TBC.

Hollaaaaa apa kabar? Lama ya kita tak bersua. Duh maafkan keenakan nyambit tahun baru.

Sesshoumaru: Nyambit?

Aiko: Nyambut.

Ga kerasa ya beberapa part lagi akan tamat AWMAWY. Rasanya entah napa ga rela.

Aku bahagia AWMAWY tamat tapi yah gitu deh. Btw nanti cerita SessKag kalian mau kek gimana ceritanya?

Boleh lah share sini kita ngobrol.

Terima kasih banyak yang udah komen dan vote.