Lovely Day by Bill Withers

Sesshoumaru duduk dengan menyilangkan kaki bertumpu ke kaki kiri. Manik emas pria tampan itu tak lepas menatap takjub sang istri sedang di make up oleh penata rias. Dari cermin kamar hotel ia dapat melihat dengan jelas raut wajah Kagome.

Sungguh, ia sangat bersyukur pada Kami-Sama, dianugerahi sang pendamping hidup begitu cantiknya. Rambut panjangnya digerai ke depan menutupi belahan dadanya menyisakan surainya ke belakang. Kemudian rambutnya diberi seperti sirkam bentuk sulur daun penuh mutiara cantik. kedua telinganya dipasang anting. Leher jenjang Kagome dihiasi kalung pemberian Sesshoumaru waktu lamaran. Gelang telah tersemat di pergelangan kiri. Tak lupa cincin sudah tersemat di jari manis kanan.

Kagome tahu ia sedang diperhatikan lekat-lekat oleh sang suami. Sontak wajahnya memerah. Untung saja tidak kelihatan karena ditutupi oleh blush on. Tangan kirinya memainkan rambut ikal nya menutupi belahan dadanya. Tentu saja ini permintaan Sesshoumaru. Dalam hati ia bersyukur memiliki Sesshoumaru yang perhatian dan penuh kasih sayang. Terakhir atas rambutnya diberi tudung putih tulang panjang penuh renda di tiap tepinya.

Gaun pengantin putih tulang penuh payet, tule renda, model A-line tidak terlalu mengembang melekat sempurna di tubuh ramping Kagome. Diam-diam wanita itu melirik Sesshoumaru mengenakan setelan jas berwarna abu-abu. Ah, suaminya memang tampan.

Mama muncul dan mengetuk pintu kamar. "Kagome, Sesshoumaru, kalian sudah siap?"

Kagome menoleh. "Sebentar, Mama. Aku pakai sepatu dulu." Sesshoumaru beranjak dan merapikan jas nya. Kepalanya mengangguk tanda menyapa ibu mertua.

"Sesshoumaru, menantu mama sangat tampan," puji Mama Hitomi seraya mendekat.

"Terima kasih, Mama," ujarnya pelan. Ia mendongak ke atas sedikit karena Mama Hitomi membetulkan dasi dan bunga tersemat di dada jas kiri.

(Guys, Sesshy manggil Mama. Ini berita baru!!!!)

Kagome tampak kerepotan memakai sepatu. Maka sebagai suami siaga Sesshoumaru sigap membantu dan berjongkok memakai high heels. "Sini aku bantu."

Kagome mengangkat gaun bagian bawah hingga betis mulusnya terlihat jelas. Fokus Sesshoumaru kini beralih ke kaki jenjang istrinya. Ingin ia mengelus dan mengecupnya. Dadanya berdegup kencang. Tenang Sesshoumaru, perjalanan menuju ranjang masih lama. Ingin rasanya resepsi cepat selesai dan membopong Kagome ke kamar.

"Terima kasih, suamiku," ujar Kagome pelan seraya menatap mesra sang suami.

"Hn."

Tiba-tiba dari balik pintu, muncul Ibu Kimi. Rambut peraknya ditata rapi. "Wah, anakku tampan. Menantuku juga cantik sekali. Tak sia-sia kita berganti butik."

Kagome tersenyum manis. Wajahnya sangat kaku. Mau ketawa saja rasanya susah. Manik biru keabuan itu terpaku, Sesshoumaru mengulurkan tangan agar Kagome menggenggamnya.

"Ayo!"

Sesshoumaru dan Kagome memasuki ball room. Sebenarnya acara resepsi digelar siang hari. Pihak Wedding Organizer menyulap ruangan sebesar ini seperti malam hari. Seluruh ball room dipasang kain hitam agar terkesan hidup. Lampu kristal terpajang di atas langit-langit. Para tamu undangan berdecak kagum. Begitu mewahnya meja dan kursi ditata apik, serasa memasuki dunia peri.

Tamu undangan diharuskan membawa undangan. Bila tidak membawanya, tidak diperkenankan masuk oleh petugas memeriksa tiap tamu yang datang.

Tanpa sengaja manik emas Sesshoumaru melihat seorang kakek tua memakai tuxedo hitam yang menatap aneh padanya. Sesshoumaru tahu, pak tua bernama Drunkard itu memperhatikan Kagome. Ralat! Bukan itu, melainkan belahan dada istrinya. Ho, tentu tak akan ia biarkan si 'Bocah Tua Nakal' menyentuh Kagome.

Setelah acara sambutan selesai para tamu beserta kolega menyantap hidangan terlezat dan terenak di hotel bintang lima. Wajah mereka sangat bahagia dan tak henti-henti menghampiri dan mengucapkan selamat pada sepasang suami istri sedang duduk di meja.

Rekan dosen Sesshoumaru tak lupa memberikan ucapan selamat berbahagia. Bahkan Miroku sempat-sempatnya mengatakan, 'Bro, malam pertama gimana? Enak kan?'

Sesshoumaru pun dengan santainya berkata, "Istriku waktu itu sedang datang bulan."

Naraku berujar, "Ho, jadi sekarang kau balas dendam, hum?"

"Kalian ini berhentilah menggodaku!" Sudut ekor matanya melirik Kagome sedang berbincang dengan teman sekelasnya. Heboh amat mereka? Menanyakan malam pertama enak enggak? Sakit enggak? Hell! Tak lama si Drunkard datang dan menyalami Kagome bukan dirinya!

What? What the-

"Kagome, kuucapkan selamat berbahagia ya." Tangannya sibuk mengelus punggung tangan Kagome dan hampir mengecupnya. Kalau saja kepala si kakek genit itu tak ditahan oleh telapak Sesshoumaru, sudah dipastikan bibir keriput drunkard mendarat di tangan istrinya.

"Jangan cium-cium!"

Selang kemudian, datanglah ayah Miroku berprofesi sebagai pendeta. Pendeta mesum, sebelah dua belas dengan anaknya, Miroku. Sesshoumaru sibuk membetulkan rambut Kagome ditaruh ke depan dadanya. Pria itu tahu arah mata si pendeta menatap kemana.

Ya jelas menatap dada istrinya!

Mana tangannya menyentuh bahu Kagome, Sesshoumaru langsung menepis tangan ayah Miroku dan mendorong bahu agar menjauh.

"Jangan pegang-pegang!"

Pria berwajah datar itu menjadi sangat posesif dan tangannya yang kokoh memeluk pinggang sang istri dengan erat. Mana rela ia, Kagomenya yang dia cinta disentuh oleh orang lain.

Acara selanjutnya memotong kue, di lanjutkan acara berdansa di hadapan para tamu. Uh, Sesshoumaru merasa seperti robot. Untunglah Kagome selalu menyemangatinya, tak menyerah melatihnya berdansa.

Setelah beramah tamah dengan kolega dan tamu undangan, acara pun berakhir. Sesshoumaru dan Kagome langsung tancap gas pulang ke kediamannya. Kagome mengeluh sakit di bagian kaki. Daripada berlama-lama di sana dan alasannya masuk akal.

Sampai dalam rumah kosong tak ada siapa-siapa, para pelayan masih di hotel. Sesshoumaru langsung meraih tubuh mungil sang istri dan membopong ke kamar mereka di lantai dua. Kagome melingkarkan lengan di ceruk leher suaminya.

Sesshoumaru mengecup bibir Kagome ketika di dalam kamar. Dengan terburu-buru ia membuka jas, bibirnya masih menempel bibir istrinya. Dengan bertelanjang dada ia membantu membuka kancing di belakang punggung Kagome.

"Banyak sekali kancingnya."

Kagome hanya tertawa seraya membuka tudung atas kepala dan melepas jepit sulur daun di rambutnya. "Sabar, sayang."

Mereka saling menatap penuh mesra, penuh cinta, dan sayang. Mata mereka menunjukkan hal itu. Tanpa selehai benang pun, Sesshoumaru mengangkat tubuh Kagome dan kembali mencium wajah, pipi, hidung, dan bibir Kagome.

Kagome pun melingkarkan kaki di pinggang Sesshoumaru. Desah dan rintihan menggema dan saling mendominasi. Di atas ranjang Sesshoumaru menjamah tubuh Kagome.

"Kau siap?" Bisik Sesshoumaru.

Kagome yang berada di bawah tubuh Sesshoumaru mengangguk. "Aku siap."

Kagome menjerit, kejantanan milik suaminya menerobos paksa ke area pribadinya. Rasa sakit dan tak nyaman membuatnya menitikkan air mata. Tak lama rasa sakit berganti dengan kenikmatan tiada tara. Sesshoumaru hampir meledak di dalamnya. Mereka mencapai titik puncak bersama-sama dengan napas terengah-engah.

Sesshoumaru tidur di samping Kagome setelah salah satu kakinya tidak melingkar di pinggangnya. Kejantanannya masih di dalam. Ia mengecup lama puncak kepala dan memeluk tubuh Kagome erat.

"Tidurlah, istriku."

TBC.

Ya ampun, what i've done?

Aku jadi malu nulis adegan itu. Maafkan tidak sesuai ekspektasi kalian. Aku sudah memikirkan dan pertimbangan matang-matang. So jadilah seperti itu.

Terima kasih.