Longinus 14Th ( Declare of The War )

Naruto Masashi Kishimoto

High School DxD Ichie Ishibumi

Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain

DemiDevilNaru, SmartNaru

Summary :

Declare of The War, Longinus yang terlupakan. Longinus yang berada pada tingkatan Top – Tier Longinus dan selalu bersaing dengan rivalnya Zenith Tempest. Tak seperti dua naga langit surgawi yang begitu terkenal dengan kisah kerivalan mereka. Zenith Tempest bahkan tidak diketahui memiliki rival. Kini Declare of The War tersebut kembali hadir , akankah sang pemilik mendeklarasikan keberadaannya ?

Chapter 4 : Me, The Possesor of Declare of War

" Inikah ... Declare of War ? " Jerit Naruto tak percaya. Teriakan tersebut sepertinya cukup keras untuk membangunkan rubah tersebut. Iris vertikal berwarna semerah darah segera menyambut teriakannya diikuti dengan deretan gigi taring putih.

" Jadi akhirnya kau mengingatku ... partner ? "

" Partner ... ? Jangan bilang ... " Naruto menunjuk sosok rubah di depannya dengan tatapan tak percaya. Dengan gerakan pelan rubah itu bangkit dari posisi tidurnya, Iris vertikal itu masih sama menatap tajam Naruto dengan deretan gigi putih yang masih bergestur mengancam...

" Ya kau benar ... Aku adalah esensi dari ruang dan waktu. Kehadiranku membuat banyak perang di masa lampau dan oleh karena hal itu Tuhan ( anime ) menyegelku dalam benda ini, Sacred gear. Aku tak memiliki nama dan bentuk namun aku suka dengan bentukku yang sekarang terlihat menyeramkan dan berkharisma layak disandingkan dengan kemampuanku sendiri. " Naruto hanya mangut – mangut ( Pura – pura mengerti ).

Melihat ekspresi tolol dari pemiliknya tersebut, seringai di wajah rubah itu menghilang begitu ia mendengus keras. " Kau sepertinya belum mengerti begini saja ... " Naruto melebarkan matanya begitu sosok rubah itu berubah bentuk menjadi sejenis cairan yang secara cepat membentuk replika tubuh manusia. Replika itu semakin cepat bergerak hingga akhirnya berbentuk seseorang yang sangat Naruto kenali, yaitu sosok ibunya sendiri, Kushina.

" Aku mampu merubah diriku menjadi siapapun dan apapun karena keberadaanku didunia ini memang hanya esensi dari kemampuan Tuhan dalam ruang dan waktu. " Jelas sosok sacred gear tersebut dalam wujud Kushina. Wujud Kushina itu perlahan meleleh hingga akhirnya ke bentuk seorang gadis tanggung yang menggunakan kacamata, yakni Kingnya sendiri, Seekvaira. " Aku juga tak memiliki nama namun terdapat Tuhan pernah tanpa sengaja memanggilku dengan Kurama ... yah kupikir jika kau membutuhkan nama, Kurama cukup bagus juga " ucap sosok tersebut lengkap dengan bagaimana semestinya Seekvaira berbicara.

Hingga akhirnya wujudnya kembali ke bentuk rubah raksasa. Iris vertikalnya yang tajam kembali ke direksi Naruto

" Bagaimana Gaki ... apa kau paham ? " Cengiran lebar terbentuk di wajah Naruto.

" Oh begitu ... aku mengerti jika kau menyederhanakannya seperti itu hehe " Seringaian dari Kurama itu melebar begitu mendengar balasan Naruto. Tubuhnya merunduk sedikit sehingga Naruto tepat melihat ke dalam iris vertikalnya yang mengerikan.

" Nah apa yang kau inginkan Gaki ? Kedatanganmu kemari, pasti dengan suatu alasan bukan ? Aku akan mempersilahkanmu untuk mengucapkan permintaanmu terlebih dahulu sebelum kau menjawab pertanyaan usang " Naruto mengangguk mantap mendengar hal tersebut. Dengan hembusan nafas panjang, sinar keyakinan dari iris birunya cukup untuk membuat iris vertikal di depannya melebar sesaat.

" Kekuatan ... aku butuh kekuatan. Karena itu Kurama ... Izinkan aku menjadi partnermu ... dan bimbing aku agar dapat menguasai sebagian dari kekuatanmu itu " Kekehan panjang dari Kurama menghentikan ucapan Naruto. Sedetik kemudian dengan ketangkasannya Naruto segera melompat begitu cakar dari kaki kanan depan Kurama bergerak akan mencakarnya.

"He ... kau cukup terlatih juga ... Bagus." Naruto segera mendarat begitu mendengar gumaman dari Kurama. Mendapati kemungkinan Kurama akan melanjutkan ucapannya, Naruto diam dan menatap ke iris vertikal tersebut.

" Kau cukup berani bocah ... selama ini orang yang memilikiku selalu semena – semena menggunakan kekuatanku ataupun terlalu takut untuk menggunakan kekuatanku. Namun, kau cukup berbeda datang kemari dan secara gamblang mengungkapkan keinginanmu, aku hargai keberanianmu itu bocah. Namun ... " Kurama menjeda ucapannya, kembali menghadapkan Naruto pada iris vertikal semerah darahnya.

" Sepertii yang kukatakan sebelumnya, Aku adalah esensi dari ruang dan waktu itu sendiri ...Artinya aku dapat berkembang seiring dengan waktu menjadi semakin kuat dan mengerikan berbeda dengan sacred gear yang memiliki kepribadian lain dalamnya ... mereka tidak dapat berkembang seperti dua naga surgawi yang selalu bertengar itu ... mereka memang kuat namun dengan disegelnya mereka ke dalam sacred gear . Kesempatan mereka untuk berkembang hampir nol persen. Keberadaanku bahkan sulit untuk dikendalikan oleh Tuhan ( anime ) sekalipun ..." Naruto menelan ludah berat begitu mendengar hal tersebut ... bagaimana tidak ? bahkan Tuhan sekalipun kesulitan untuk mengendalikan kekuatan yang ada di depannya ini bagaimana mungkin ia sebagai manusia setengah iblis dapat mengendalikan kekuatan sebesar itu. Mendapatkan detak jantung dari hostnya meningkat, Kurama menyeringai kejam pertanyaan kritikal sudah saatnya ia keluarkan.

" Bagaimana bocah apa kau sanggup mengendalikan esensi kemampuanku yang bahkan sangat sulit bagi tingkatan Tuhan ( anime ) sekalipun ? " Naruto menghembuskan nafas panjang. Masih dengan iris biru yang menyinarkan keyakinan Naruto membalas

" Aku tak peduli ... Yang kubutuhkan hanya kekuatan untuk menjalani kehidupan ini sekaligus mengatasi akhir mengerikan yang kau maksud tersebut. Jika aku memang tak sanggup maka ... " Naruto mengeratkan genggaman tangannya. " Aku akan berlatih ... berlatih dan berlatih mengasah semua potensi yang kumiliki. Satu hal yang perlu kau ketahui Kurama ... aku ini bodoh ... "

Kurama mengangkat alisnya mendengar pernyataan terakhir tersebut. Kali ini iris biru itu sanggup membuat sang esensi ruang dan waktu terdiam. Jauh di dalam dirinya ia memiliki keyakinan tinggi pada hostnya saat ini.

" ... dan kau tahu ... orang bodoh tak akan pernah berhenti dengan tujuannya tak peduli dengan segala hambatan dan rintangan di depannya. Satu hal yang aku pedulikan sebagai orang bodoh ... tujuanku itu dan hanya ada satu jalur ... menghadapinya. Karena itu ... " Naruto mengulurkan tinjunya ke depan.

" Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah menarik kata – kataku kembali. Ini jalan kehidupan yang telah kutentukan "

Hening

Naruto masih setia dengan pose terakhirnya diiringi dengan cengiran lebarnya sementara Kurama sang esensi mulai menjauhkan kepalanya dari Naruto. Wujud raksasa itu menciut hingga menjadi seukuran dengan manusia biasa lebih tepatnya mirip dengan Naruto. Naruto terbelalak begitu mendapati sosok Kurama telah bertransformasi menjadi sosok yang ada di alam mimpinya.

" Ini wujud yang paling biasa kugunakan. " Kurama memulai ucapannya. Sebuah aura keemasan mulai mengumpul di tangan kanan dan kirinya kedua aura tersebut berkumpul dan memadat menjadi kubus rubik pada tangan kiri sedangkan jam bandul pada tangan kanan.

" Wujud dari diriku sendiri adalah aura emas ini. Kalian para makhluk – makhluk 3 dimensi yang hidup di dunia ini selalu menggambarkan diriku dengan kedua benda ini " Kurama memperlihatkan rubik dan jam bandul di tangannya. " Waktu adalah makhluk 5 dimensi, keberadaannya diluar nalar kalian para makhluk 3 dimensi dan tak akan ada satupun yang menyamai makhluk 5 dimensi meskipun ia dewa sekalipun. " Naruto mengangguk – angguk paham. Ia pernah membaca filosofi itu karena sering menemani Seekvaira untuk membaca buku di perpustakaan. Walaupun lebih tepatnya ia sering mengerjai Seekvaira saat membaca buku.

" Jadi apa maksudmu memberiku informasi ini ? " Kurama tersenyum sekilas. Senyuman yang berbeda dengan yang sebelumnya ia berikan. Kali ini senyumannya lebih ... ringan, tidak seperti seringai mengerikan yang biasa diberikannya.

" Ini merupakan konsep awal. Kedatanganmu kemari untuk dapat menguasai kekuatanku itu tersebut bukan ? Kau masih belum dapat membuka afinitas waktu disebabkan kau belum mengerti konsep waktu, fenomena. Kau harus mengerti hal tersebut terlebih dahulu. Kau tadi mengatakan bahwa kau bodoh bukan ? kenyataannya kau cerdas ... terdapat sebuah formula rumit dalam otakmu yang menghambat jalan kerjanya. Oleh sebab itu terkadang kau bisa bertindak sangat jenius bukan ? " Naruto memejamkan matanya. Bayangan mengenai bagaimana ia dengan tanpa ia sadari sendiri dapat mengalahkan Seekvaira dan Sona dalam pertandingan catur dimana itu adalah pertandingan pertamanya segera menyentaknya keras. Selama ini, ia selalu berpikir itu hanyalah sebuah keberuntungan belaka. Namun, jika diingat kembali Seekvaira dan Sona sampai sekarang masih belum bisa mengalahkannya dalam catur maupun teka – teki.

" Naruto ... bagaimana jikalau aku membuka formula tersebut ? " Naruto mengangkat alisnya penasaran akan tawaran dari Kurama.

" Bagaimana kau melakukannya ? " Jam bandul yang berada di tangan kanan Kurama bercahaya terang dan perlahan terserap ke dalam tangan tersebut. Kini di telapak tangan Kurama terlihat lingkaran dengan jarum yang jam yang bergerak konstan.

" Aku akan membalikkan keadaan otakmu sebelum formula tersebut terpasang. Saat formula tersebut akan terpasang maka aku akan membatalkannya ... dan mengembalikannya ke masa sekarang. Intinya aku memotong bagian pemasangan formula tersebut. Kau tak perlu memikirkan bagaimana detailnya karena dengan keadaan otakmu sekarang hal itu tak berarti sama sekali. Bagaimana ? " tanya Kurama sekali lagi. Naruto cemberut sedikit mendapati nada menghina dari Kurama.

" Kenapa kau melakukan itu Kurama ? " Ya, itu adalah hal yang menganggu Naruto. Pada awal kedatangannya, esensi ruang dan waktu itu bersikap seakan Naruto tak penting baginya ... namun hanya dalam sepersekian menit sifat itu berganti hampir 180 derajat.

" Aku sudah bosan dengan semua anggapan dunia mengenai diriku. Lagipula, sudah saatnya aku menampakkan diriku ke permukaan ... sehingga kalian para 3 dimensi mengetahui siapa penguasa sebenarnya ... " Jawab Kurama dengan nada angkuh. Mendapati hal itu sama sekali tak menganggunya, Naruto mengangguk menerima tawaran dari Kurama.

" Baiklah akan kumulai bocah ... ini pastinya akan sakit. Dan koneksi kita akan terputus secara langsung. Namun, jangan khawatir sekarang aku telah menerimamu sebagai partnermu aku pasti akan datang mengawali langkahmu. " Naruto tak mengerti dengan kata – kata terakhir dari Kurama, niatnya untuk bertanya telah terlebih dahulu oleh rasa perih, mual dan bergetar yang ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ingatan – ingatan masa lalu menerpanya dengan keras dan tanpa sadar ia berteriak nyaring begitu sinar dari tangan Kurama yang bersarang di dahinya menyilaukan tempat itu.

' Ku – Kushina ... beri nama ... beri nama untuk anak kita nantinya Naruto ... ya Uzumaki Naruto '

Satu bayangan terakhir yang dapat Naruto ambil hanyalah ibunya yang memangku pria bersurai pirang yang wajahnya tak dapat Naruto lihat jelas diiringi dengan isak tangis dari ibunya.

' Itukah ... Tou- san '

.

.

" – to "

" Naruto ! " Naruto segera mengerjapkan matanya cepat sebagai respon terbangun dari teriakan yang memanggil namanya tersebut. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan dan hanya mendapati Ajuka dan Serafall yang entah sejak kapan berada di Lab Ajuka memandanginya dengan khawatir.

Naruto menghembuskan nafas putus – putus begitu beberapa ingatan masa lalu kembali masuk dalam otaknya. Hingga akhirnya kini ia seperti dapat berfikir dengan lapang dan luas.

" Naruto – kun ada apa denganmu ? Apa kau berhasil menemui kesadaran sacred gearmu ? " tanya Ajuka begitu melihat Naruto sudah mulai tenang.

" Ya, Ajuka – sama aku telah bertemu dengannya. Dan Serafall – sama terima kasih atas teriakannya ... aku tak akan bangun tanpa itu " Ajuka dan Serafall sama mengaitkan alis mereka mendengar ucapan terima kasih dari Naruto.

" Naru – tan aku sama sekali belum berteriak ... saat aku pertama kali datang kau masih dalam bersemedi hingga akhirnya kami melihat tubuhmu diliputi aura emas. Dan saat itulah kau bangun ... "

" eh ? " Naruto hanya sanggup mengatakan dua kata tersebut.

" itu mungkin berasal dari kesadaranmu di masa lalu ... atau mungkin di masa depan. Aku belum tahu pasti namun formula itu cukup kuat ... aku juga tak menemukan siapa yang memasangkannya padamu. " Naruto tersentak begitu mendengar suara dari dalam dirinya sendiri. Dengan kecerdasannya sekarang ia dapat segera memahami bahwa suara tersebut adalah Kurama, kesadaran dari sacred gearnya sendiri.

' Baiklah terima kasih Kurama ' balas Naruto.

" Ah , mungkin itu hanya perasaanku saja " lanjut Naruto tak ingin mendapat pertanyaan lebih lanjut dari dua Maou di depannya. Serafall hanya mengangguk – angguk pelan sedangkan Ajuka matanya berkilat tajam meneliti sikap Naruto yang tidak seperti biasanya.

" Ehem ... baiklah jika begitu. Nah, Naruto – kun bisa kau sampaikan kesimpulan apa yang kau dapat dari bertemu dengan kesadaran sacred gearmu " Naruto mengangguk mantap. Ia menceritakan semuanya terkecuali di bagian akhir mengenai konsep waktu dan formula yang membendung kerja otaknya. Ia hanya menjelaskan untuk dapat menguasai afinitas waktu ia perlu pembelajaran lebih lanjut.

Ajuka tersenyum begitu mendapat pengetahuan baru tersebut. Sedikit keraguan akan keputusannya mengangkat Naruto sebagai murid perlahan terkikis secara pasti begitu melihat perkembangan Naruto selama 3 tahun dalam didikannya dan Serafall. Ia kini menjadi semakin yakin untuk melatih Naruto, bahkan ia berpikiran terdapat peluang bagi Naruto untuk mempelajari teknik terkuatnya ... Kankara Formula

" Naruto – kun ... kupikir untuk menguasai afinitas waktumu kau perlu mempelajari kankara formulaku ... bagaimana menurut pendapatmu ? " Serafall cengo mendengar penawaran Ajuka tersebut. Ia sendiri sebagai iblis tercerdas selain Ajuka di Meikai bahkan masih belum bisa mempelajari Kankara Formula yang Ajuka tawarkan tersebut.

" Itu bukan ide yang buruk menurutku " Komentar Kurama pendek. Naruto mengangguk senang mendengar komentar tersebut. Terlebih Kankara Formula merupakan teknik yang sangat ia idolakan dan ia impikan. Tentu mendapat peluang untuk mempelajarinya dari pencipta dan pengguna tekniknya sendiri merupakan kesempatan emas yang tak bisa di dapat dua kali menurut Naruto.

" Ha'i Ajuka – sama dengan senang hati "

XoX

Kushina menggelengkan kepalanya pelan begitu melihat tumpukan kertas laporan di meja Seekvaira. Keningnya berkedut begitu mengingat menumpuknya kertas laporan tersebut karena andil dari putranya sendiri yakni, Uzumaki Naruto yang kelimpahan kewajiban mengurus laporan tersebut karena kalah dari Taruhan bertajuk mecha dengan kingnya sendiri, Seekvaira Agares.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 19.00 namun dua remaja yang menghuni rumah tersebut masih belum pulang. Seekvaira ia ketahui pasti masih berada di Osaka Centre mengikuti pameran Mecha hingga larut malam, ia juga telah menitipkan familiarnya untuk mengikuti Seekvaira secara sembunyi takut – takut jika heiress Agares tersebut tersandung masalah. Namun berbeda dengan Naruto ... entah kenapa sekarang ia sedikit menyesali Naruto yang terlalu banyak mewarisi sifatnya, bukan sifat ayahnya yang tenang, berwibawa dan ... cerdas.

Sringg

Lamunan lebih panjang mengenai suaminya yang telah meninggal segera terhenti begitu melihat lingkaran sihir ke orangean dengan lambang Uzumaki dan Agares. Tangannya telah ia lemaskan begitu surai pirang putranya terlebih dahulu muncul dan begitu lingkaran sihir itu benar – benar menampilkan sosok putranya. Ia segera memberikan sebuah hadiah untuk kepulangan putranya itu

Bugg

" Itteeeeeeeeeeeeee "

Yah ... hadiah berupa Jitakan keras di batok kuning putranya.

" Ugh ... Kaa – chan lagi dapet ya ... Putranya yang paling tampan baru pulang bukannya ditawari makan atau pelukan selamat datang malah jitakan. Ha ... nanti Kaa – chan akan benar – benar sulit dapat cu -" celotehan panjang Naruto terhenti begitu ia dapat merasakan aura mengerikan dari ibunya. Dengan gerakan patah – patah sekaligus cepat ia telah sujud di depan ibunya.

" Maafkan Putramu ini Kaa – sama. Hamba lupa untuk mengabari bahwa hamba ada pelatihan mendadak dari Ajuka – sama. " Ucap Naruto dengan nada cepat dalam posisi bersujudnya. Ia tahu dalam keadaan seperti ini, alasan apapun yang akan ia gunakan tetap berarti salah bagi ibunya. Makanya ia menggunakan teknik terakhir ... menyebutkan salah satu nama Maou yang merupakan gurunya.

" Oh begitu ... " Naruto masih dalam posisi bersujud menyeringai begitu mendengar nada ringan dari bibir tipis ibunya. Dengan tatapan penuh harapan ia menengadahkan kembali kepalanya hanya untuk kembali pucat ketika ekspestasi mengenai senyum tulus di bibir ibunya karena mewajari perbuatannya hari itu sama sekali tidak nyata. Yah, nyatanya Kushina masih dengan ekspresi marahnya, diikuti tangan kanan yang telah terangkat ke atas dan mungkin juga ibu satu anak tersebut tanpa sadar telah mengalirkan demonic power tipis di tangannya.

" Jangan banyak alasan kau anak nakal "

PLAK

" Iiittteeeeeeeeeeeeeeeeeeee ... "

XoX

Naruto tertunduk lesu. Tangannya juga bergerak lamban dalam menandatangani beberapa laporan yang masih menggunung di meja kerja Seekvaira. Tak jauh di sampingnya berbanding terbalik dengan Naruto, Seekvaira dengan anggunnya duduk menyeruput teh. Seringai mengejek masih terpasang di wajahnya semenjak pertama kali melihat Naruto di malam itu lengkap dengan cap tangan kemerahan yang masih berada di wajah Naruto.

" Kuasumsikan kau membuat masalah lagi ... " ucap Seekvaira dengan mengejek

" Hm " Naruto hanya mendengus. Tangannya kali ini mulai bergerak cepat begitu perutnya mulai berontak minta di isi. Ia hanya akan mendapatkan makanan setelah menyelesaikan tumpukan laporan tersebut.

" Kau seharusnya mengirimkan familiarmu kepada Kushina – baa – san jika pergi ke Meikai "

" Hm " dengusan Naruto kembali menjawab saran Seekvaira.

Miris dengan tingkah quennya tersebut. Seekvaira melirik sebentar piring kosong yang berada di hadapannya. Senyum tulus yang tak Naruto lihat terkembang begitu sebuah ide muncul dari otaknya. Tanpa bicara ataupun pamit terlebih dahulu ia meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Naruto dengan perasaan iritasi karena sama sekali tak dipedulikan oleh kingnya sendiri.

" Tch ... Mecha – chan sialan. " maki Naruto kesal. Naruto masih terus menggerutu dengan nada kecil, tumpukan kertas kali ini telah berkurang dengan cepat karena Naruto menggunakan kedua tangannya sekaligus untuk menandatangani laporan tersebut. Ia juga kini mampu untuk membaca 4 laporan sekaligus. Sepertinya memang benar ... kecerdasan otaknya selama ini tertutup oleh formula. Namun formula seperti apa itu ? dan apa tujuannya ? apa ibunya tahu mengenai formula tersebut ?

Tep

Pikiran Naruto terhenti begitu mendengar suara benturan kecil dua benda. Matanya melebar begitu mendapati satu mangkuk ramen telah berada di bagian meja kerjanya yang kosong. Melirik ke atas ia mendapati Seekvaira yang dengan ekspresi datar memberikan tatapan yang berarti ' makanlah '.

Tanpa sadar, Naruto mengulas senyum tulus. Senyum yang pertama kali Seekvaira lihat hingga sanggup membuat gadis itu tanpa sadar merona.

" Arigatou ... Seekvaira "

Seekvaira terdiam ... ia mulai bingung dengan dirinya sendiri. Belakangan ini, ia mulai bertingkah aneh jika Naruto bersikap gentle padanya dan juga sedikit ' kesal ' jika melihat Naruto akrab dengan gadis lain. Ia pikir ini aneh ... ya ' aneh '.

XoX

At Inggris Airport

Dua sosok berjalan tenang di antara keramaian. Kehadiran kedua sosok itu sukses menarik perhatian dari beberapa penumpang yang masih menunggu di bandara tersebut, bagaimana tidak setelan dari dua sosok itu sungguh mencolok, pertama adalah seorang pria tua dengan pakaian ala butler namun terdapat jubah hitam panjang hingga ke bagian kaki. Tangan dari pria itu mengenggam erat tangan gadis cantik dengan setelah penyihir berwarna biru.

Begitu tiba di depan gerbang tunggu dari bandara tersebut. Pria tua itu melepaskan genggaman tangannya pelan ... ia merunduk sedikit menyamakan tingginya dengan gadis di sampingnya.

" Maaf Ojou – sama ... saya hanya dapat mengantarkan anda sampai di sini " ucap pria tua itu dengan nada menyesal. Gadis muda itu hanya menggeleng pelan.

" Tidak ... tidak perlu minta maaf Wilhelm – san. Kesediaanmu untuk mengantar saya kemari saja sudah sangat merepotkan. Terima kasih "

" Le – Fay – sama tak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi kewajiban saya untuk melayani putri dari King Arthur. " Pria tua, atau Wilhelm itu membungkuk sebentar. Ia segera berdiri tegap.

" Ojou – sama berhati – hatilah selama di Jepang. "

" Tak masalah... anda tak perlu mengkhawatirkan saya Wilhelm – san. Aku akan mencari Arthur – nii sampai berjumpa. Lagipula ... aku juga akan bersama temanku ... Lavinia Revi "

" Begitu ... baiklah Ojou – sama. Ini sudah waktunya keberangkatan anda. Semoga anda selamat dalam perjalanan dan sukses dengan tujuan anda. " Wilhelm membungkuk sekali lagi, sebelum akhirnya tersenyum lembut menatap punggung gadis kecil yang semakin menjauh dari pandangannya.

' Hati – hati Le – fay – sama '

TBC

Yo, ini kembali lagi dengan update terbaru. Pada chap ini saya udah keluarkan sedikit mengenai masalah sacred gear Naruto. Dan juga sedikit mengenai Le – Fay yang akan berujung pada perjumpaan antara Naruto dan Lavinia Revi. Perasaan Seekvaira disini juga sudah mulai berkembang.

Untuk pertanyaan mengenai mengapa namanya Declare of War. Jujur saya tidak memiliki konsep yang pasti. Namun, disini terdapat beberapa alasan yang pertama terkait dengan akhir yang akan Naruto hadapi nantinya, kedua waktu sebenarnya merupakan makhluk 5 dimensi yang sama sekali tak bisa diganggu gugat, kenapa dikaitkan dengan mendeklarasikan perang ... jawabannya adalah tidak ada alasan khusus. Sama seperti Zenith tempest yang berarti puncak kehebohan namun afinitasnya elemen dan cuaca dan Absolute Demise yang berarti Kematian Absolut tapi afinitasnya es. Mengenai Zenith Tempest dan Declare of War benar – benar rival itu hanya fiksi saja. Untuk mengembangkan cerita ... fokusnya pada pilihan Naruto untuk akhir yang disebutkan Kurama tersebut.

Lalu, aku umumin di sini pairnya Single. Namun, aku masih belum menentukan siapa yang jadi pairnya. Pair harem hanya akan jadi slight saja. Perasaan Naruto pada semua gadis nantinya pada tingkatan yang sama terkecuali Seekvaira yang telah ia anggap sebagai keluarga.