Longinus 14Th ( Declare of The War )
Naruto Masashi Kishimoto
High School DxD Ichie Ishibumi
Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain
DemiDevilNaru, SmartNaru
Chapter 15 : Ravel Phenex /Uzumaki , The Future Lady Uzumaki. ( Youth Gathering )
Osaka
Bagi Ravel Phenex, hubungan pertunangannya bukan hanya berarti pengikatan politik antara Phenex dan Uzumaki maupun Agares, lebih dari itu hubungan tersebut menjadi perwujudan dari impian kecil gadis muda Phenex tersebut. Sebagai gadis bangsawan, ia memiliki impian yang begitu sederhana. Ceritanya begini, saat ia kecil dahulu terdapat satu pelayan Phenex yang memang ditugaskan khusus untuk mengasuhnya karena ibunya Lady Phenex harus selalu menemani suaminya untuk mengurus politik yang tengah memburuk di masa – masa kecil Ravel. Pengasuh tersebut begitu lembut padanya, ia mengasuh anak majikannya itu selayaknya anaknya sendiri, dan bagian yang selalu Ravel kenang adalah ketika pengasuh itu membacakan sebuah cerita dongeng untuk mengantarkannya tidur. Hanya sebuah cerita dongeng yang klise dimana seorang putri kerajaan yang hidup berbahagia dengan pangeran yang gagah berani mempertaruhkan segala miliknya demi kebahagiaan putri tersebut.
Seiring bertambahnya usia, Ravel menyadari bahwa semua dongeng yang menghantarkannya pada alam mimpi itu hanya fiktif belaka, tidak mungkin terjadi dalam dunia iblis yang kejam. Tak akan ada iblis jantan yang rela mengorbankan diri mereka hanya untuk menyelamatkan putri, itu yang ia pelajari setelah menjadi bishop dari kakak ketiganya, Raiser Phenex.
Akan tetapi, Ravel diberikan harapan akan impiannya itu ada ketika pertama kali mendapati Naruto mengalahkan Raiser dalam sparring sederhana, ia masih ingat percikan kecil muncul di hatinya begitu menatap senyum dan tatapan dari iris biru pemuda pirang itu setelah mengalahkan kakaknya dan ia begitu ingat Raiser mulai berhenti bertingkah arogan ketika Naruto di sekitarnya. Keyakinannya semakin bertambah begitu mendapati tunangannya itu berdiri tanpa ragu di samping kakaknya, membela nama keluarganya dan namanya agar terhindar dari niat buruk Sirzech Lucifer.
" RAVEL ! "
" Eh ? " Ravel tersentak dari pikirannya begitu mendengar seseorang meneriakkan namanya. Matanya berkedip beberapa kali begitu melihat wajah tunangannya yang menatapnya khawatir berada begitu dekat dengan wajahnya, sangat dekat hingga mereka dapat berci-
' Apa yang kupikirkan ' rutuk Ravel dalam hatinya. Wajahnya memerah ketika bayangan Naruto akan menciumnya berputar berulang – ulang di dalam otaknya hingga membuatnya lagi – lagi meninggalkan pemuda di hadapannya dalam kebingungan.
Ctik
" Aw " Ravel mengerang kecil begitu merasakan jentikan pelan pada dahinya. Gadis itu memberikan tatapan tajam pada tunangannya itu kendati wajahnya masih memerah karena pemuda itu sama sekali belum memundurkan wajahnya.
" Ah, kau sudah sadar kembali ? Akhir – akhir ini wajahmu sering memerah ? Apa kau kelelahan ? " pertanyaan – pertanyaan yang menunjukkan perhatian Naruto malah membuat gadis itu semakin memerah, tak dapat menahan lebih lama rasa malu tersebut gadis itu hanya terpaku dengan kepala yang mengepulkan asap imajinatif.
" Ravel ? " Naruto yang sama sekali tidak mengerti situasi hanya dapat memanggil kembali salah satu tunangannya itu dengan nada bingung dan khawatir.
" Hentikan itu Naruto, dan bersiaplah untuk pertemuan nanti. Kau sudah menjadi Lord Uzumaki sekarang, perlihatkan sedikit wibawamu " tegur Seekvaira yang berkacak pinggang tak jauh dari pasangan iblis tersebut, irisnya sedikit menyipit melihat posisi Naruto dan Ravel yang terlihat begitu intim, orang – orang yang tak mengetahui sifat Naruto sudah pasti akan mengira bahwa Naruto saat ini sedang berbuat mesum dengan Ravel.
" Oh baiklah " Ravel menghela nafas lega begitu Naruto berdiri tegak dan berbalik menatap gadis pirang lainnya. " Ravel – san kau juga bersiaplah, kita akan berangkat ke pertemuan iblis muda begitu kau siap. Kuharap kita dapat ke sana tepat waktu "
" Oh iya, Seekvaira bisakah kau berangkat duluan ke Meikai bersama Ravel ? " Naruto bertanya begitu mengingat suatu hal.
" Memangnya kau mau kemana ? Kenapa tidak berangkat bersama saja ? " Tanya balik Seekvaira.
" Aku baru ingat bahwa hampir setengah tahun ini aku tak mengunjungi Ruzal – sama. Terlebih, aku belum berterima kasih padanya karena telah mengurus para Magician liar yang kita tangkap dalam Pertemuan Pembentukan Aliansi lalu "
" Apa tak bisa lain kali ? Kau tahu bukan ini pertemuan penting … dan lagi ketika kau pergi bertemu para pemimpin biasanya menghabiskan waktu yang lama " Naruto memiringkan kepalanya mendapati nada khawatir dari sahabat kecilnya itu. Suatu perasaan hangat yang nyaman mulai menjalari hatinya begitu menyadari beberapa hari yang lalu Seekvaira mulai bersikap lebih hangat kepadanya.
" Tak masalah. Aku yakin tidak akan memakan waktu lama, karena aku juga membawa Reni – san, Le Fay – san , dan Ilya – san "
' Itu malah akan semakin memperlambatmu ' batin kedua gadis pirang tersebut merutuk ketidak pekaan Naruto. Apa Naruto tak sadar bahwa ketiga gadis itu mulai menaruh perasaan pada Naruto, tentunya mereka akan mengulur waktu agar dapat lebih lama bersama pujaan hati mereka karena waktu santai Naruto telah banyak dihabiskan untuk urusan promosi Pillar Uzumaki.
Kenyataan bahwa Naruto saat ini telah memiliki satu istri dan 4 tunangan sama sekali tak melunturkan perasaan ketiga gadis tersebut, Ilya yang paling agresif melakukan pendekatan kepada Naruto dengan menggodanya di setiap kesempatan, hal itu kadang membuat Kushina tak nyaman dan hanya dapat memberikan pandangan simpati pada putranya yang hanya dapat bingung karena ia idiot akan segala sesuatu mengenai wanita.
" Kau tidak bisa membawa Ilya – san. Selebihnya yang penting kau datang ke pertemuan itu tepat waktu " ujar Seekvaira, ia memijit batang hidungnya untuk menghadapi keidiotan Naruto akan lingkungan sekitar.
" Ha'i ha'i. Kalau begitu aku pergi dulu Mecha – onna dan Ravel. Ah, kalau ada masalah jangan lupa mengontakku " Naruto tak memberi kesempatan bagi Seekvaira untuk protes atas panggilan konyol tersebut, pemuda pirang itu segera menghilang dengan menggunakan teknik teleportasinya.
" Sudahlah Seekvaira – san, Naruto – kun memang selalu bersikap begitu. Apa kita bisa berangkat sekarang ? " Tanya Ravel telah selesai bersiap – siap.
Seekvaira mengangguk setelah selesai menenangkan dirinya sendiri, irisnya bergerak menilai penampilan bishop cadangannya itu, gaun keunguan yang biasa Ravel sekarang telah dikombinasi dengan ornamen – ornamen orange yang menyerupai klan Uzumaki, 3 kain yang seperti ekor Phenex itu masih bertahan dan terakhir pita yang mengikat rambutnya berganti warna orange, ciri khas dari Pillar Uzumaki. Gadis pirang itu mengakui kecerdikan Ravel untuk memanfaatkan event besar ini untuk memperkenalkan ialah the Future Lady Uzumaki. Hal itu telah disepakati oleh 3 tunangan Naruto lain karena mereka merupakan pewaris resmi dari Pillar masing – masing dan juga Kunou telah memiliki Kyoto untuk ia pimpin, maka peran Lady Uzumaki yang senantiasa menemani Naruto nantinya berurusan dengan Pillar – pillar lain di Meikai jatuh ke tangan Ravel.
" Pilihan yang bagus " komentar Seekvaira singkat.
" Terima kasih " balas Ravel tersenyum kecil, rona merah kembali hadir di wajahnya.
" Baiklah, kita akan pergi setelah aku menghubungi Ilya – san. Kemungkinan saat ini ia membuat keributan karena tak dapat pergi bersama Naruto " ujar Seekvaira datar dan mengajak Ravel menuju ke ruang tamu apartemen Agares.
XoX
" Kuisha … "
Gadis pirang ponytail itu masih diam tak menanggapi panggilan Kingnya. Pikirannya terus mengulangi kejadian seminggu yang lalu. Sejam setelah kepulangannya dari Sitri Mansion, daerah terasing dari territory Pillarnya menjadi tempat pertarungan dahsyat yang sempat menggemparkan seantero Pillarnya, berita itu tak menyebar keluar karena mereka menemukan bahwa salah satu pihak petarung itu merupakan anggota mereka sendiri yakni Bedeze Abaddon yang ditemukan terbaring lelah dengan nafas tersendat – sendat. Sedangkan lawan dari kakaknya itu sama sekali tak ditemukan jejak keberadaannya.
Ayahnya telah berkali – kali menanyakan perihal ini kepada kakaknya, akan tetapi kakaknya seakan enggan menjawab. Jawabannya selalu berputar pada latihan, latihan , dan latihan, padahal jelas saja mereka dapat merasakan ada dua aura berbeda yang saling mendominasi satu sama lain saat terjadi ledakan tersebut.
" Kuisha! " Sairaorg memanggil quennya itu lebih kencang.
" Ah, Maaf Sairaorg – sama, ada apa ? "
" Seharusnya aku yang bertanya begitu ! Ada apa denganmu ? Akhir – akhir ini setelah kembali dari Pillar mu kau sering melamun " Tanya balik Sairaorg menaikkan alisnya, ia saat ini bersama seluruh anggota peerage sedang duduk menunggu rookie lainnya untuk hadir. Mereka adalah yang pertama dan satu – satunya tim yang berada di tempat pertemuan tersebut. Selagi menunggu queennya menjawab, pemuda bersurai hitam itu mengawasi terus iblis – iblis pelayan yang hilir mudik mempersiapkan gedung pertemuan.
" Aku hanya merenungkan beberapa masalah sepele, bukan hal yang terlalu penting " Kuisha berusaha menepis kekhawatiran Kingnya itu dengan jawaban singkat dan ambigunya yang justru semakin mengkhawatirkan Sairaorg. Namun, pemuda itu memilih diam kali ini, ia yakin Kuisha akan menceritakan masalah apapun padanya jikalau waktunya telah tepat.
Sring
Dua lingkaran sihir muncul tak jauh dari mereka, Agares berada di sebelah kanan sedangkan Gasya-labolas berada di sebelah kiri. Sairaorg tersenyum kecil melihat lingkaran sihir kanan tersebut, ia bangkit dari duduknya bersiap untuk menyapa iblis dari Agares tersebut.
" Seekvaira … lama tak berjumpa " sapa Sairaorg selagi irisnya meneliti dua gadis yang dibawa Seekvaira.
" Lama tak berjumpa Sairaorg. Kau selalu tepat waktu " sapa balik Seekvaira menyilang tangannya di bawah dada.
"Well … beginilah komitmenku untuk merebut tahta Lucifer – " komentar Sairaorg terhenti oleh delikan dari iblis jantan yang berasal dari Gasya- Labolas, Sairaorg tersenyum kecil sebentar pada Seekvaira sebelum melihat kepada iblis tersebut dengan pandangan ' Apa ada masalah ?'.
" Tch … tidak ada masalah apapun. Hanya saja aku geli mendengar iblis yang tak mewarisi kemampuan Pillarnya sendiri bermimpi menjadi Lucifer " jawab iblis jantan tersebut seakan mengerti arti tatapan Sairaorg.
" Jaga ucapanmu Zephyrdor ! Kau bahkan tak pernah sekalipun mengalahkan Sairaorg " Seekvaira dengan sikap mudah emosi mengambil peran membalas hinaan Zephyrdor. Sairaorg merupakan salah satu sahabat kecil Seekvaira selain Naruto, hubungan persahabatan mereka cukup kuat hingga membuat Seekvaira mengetahui bagaimana kerja keras Sairaorg selama ini untuk meraih kembali pengakuan dari Pillar dan keluarganya sendiri.
" Aku tak berbicara padamu bitch ! " Delik Zephyrdor.
" Bukankah Seekvaira telah memperingati untuk menjaga ucapanmu Zephyrdor " kali ini Sairaorg mengancam, kepalan tangannya bergetar menahan emosi. Ia merupakan pribadi yang mengabaikan hinaan yang ditujukan padanya, karena ia telah terbiasa dan pernah merasakan yang lebih parah daripada itu, dicampakkan oleh keluarganya sendiri hingga ia berada di neraka yang membuatnya hingga seperti sekarang, salah satu iblis muda berbakat yang diakui potensinya dan diterima kembali oleh pillarnya walaupun ia masih belum meraih hak warisnya kembali.
" Berisik ! – " Zephyrdor terhenyak begitu merasakan hempasan angin yang hadir di depan wajahnya. Matanya melotot melihat sebuah tangan tan yang menahan kepalan Sairaorg berjarak hanya 2 cm dari wajahnya. Kejadian itu begitu cepat, sejurus ia mengeluarkan makian tersebut, Sairaorg segera melesatkan tinjunya dan dalam selang waktu yang begitu sempit tersebut sebuah kilat kuning hadir di antara mereka dan menahan kepalan tangan Sairaorg seakan tinju yang menghempaskan sebagian anggota di belakang Zephyrdor itu tak ada apa – apanya.
" Wah – wah ada apa ini Sairaorg – kun. Jangan emosi, segala sesuatu tidak harus diselesaikan melalui kekerasan " ujar pemilik tangan tan tersebut yang segera melepaskan kepalan tangan Sairaorg. Pemuda yang tinjunya berhasil ditahan itu hanya bereaksi biasa, sebab ia mengetahui sosok yang menahan tinjunya itu merupakan rivalnya, iblis muda terkuat yang pernah ada di Meikai, iblis muda dengan sejuta potensi yang mengundang ketertarikan dari Maou Leviathan dan Beelzebub, dan terakhir iblis muda yang benar – benar ingin ia kalahkan. Iblis itu Uzumaki Naruto.
" Aku mengetahui itu Naruto, hanya saja aku kelepasan tadi. " ujar Sairaorg berjalan mundur mendekati Seekvaira. Naruto menepuk telapak tangannya yang digunakan untuk menahan tinju Sairaorg, terdapat sedikit ruam merah di sana namun diabaikan oleh Naruto yang segera bergabung dengan Kingnya.
" Jarang sekali melihatmu datang ke acara formal seperti ini tak berdampingan dengan Seekvaira. Apa kalian sedang bertengkar ? " komentar Sairaorg.
" Bertengkar dengan si dungu ini ? Kau bercanda Sairaorg, aku hanya perlu memanggil Kushina – baasan jika ia berani mengusiliku lagi " balas Seekvaira memberikan tatapan mengejek pada Naruto yang terlihat frustasi seketika karena mendengar nama ibunya. Sairaorg terkekeh melihat ekspresi Naruto, kendati menjadi iblis muda terkuat, rivalnya itu sangat takut memancing kemarahan ibunya.
" Ah, aku baru menyadarinya. Ravel Phenex datang bersamamu ? Apa itu artinya Naruto tak bergabung dalam Rating Game ini ? "
" Kau benar Sairaorg - kun. Kunou – hime sibuk dengan politik Kyoto, sedangkan Sasuke – teme sama sekali tak tertarik atas event ini, maka dari itu aku melakukan Trade dengan Seekvaira agar Ravel dapat mengikuti event ini " jelas Naruto menggantikan Seekvaira.
" Begitu ya ? sayang sekali padahal aku sangat menantikan saat – saat untuk bertarung dengan tim mu. Tapi … kurasa tim Seekvaira akan sangat mengerikan. Aku mengharapkan pertarungan yang hebat ke depannya Ravel – san "
" Aku juga mengharapkan demikian Sairaorg – san " balas Ravel menyahut tantangan tersirat dari pemuda Bael tersebut.
" SIALAN ! SOMBONG SEKALI KAU RENDAHAN ! " atensi tim Seekvaira dan Sairaorg kembali kepada Zephyrdor yang wajahnya telah memerah, geram menahan emosi. Akan tetapi bagi yang lain ekspresi itu seperti Zephyrdor sedang menahan hasrat untuk membuang air besar, atas impresi yang salah tersebut Naruto dengan bego nya menunjuk toilet yang terletak di ujung koridor dan memberitahukan ini pada Zephyrdor
" Toiletnya berada di sana "
" Naruto – san, aku yakin Zephyrdor – sama tidak sedang menahan BAB seperti yang anda pikirkan " ujar Kuisha karena anggotanya yang lain dan Seekvaira hanya dapat sweatdrop melihat kelakuan iblis muda terkuat tersebut.
" Begitu kah ? Lalu mengapa ia seperti itu ? " Tanya Naruto balik pada tunangannya itu dengan sinar mata yang menyiratkan keingintahuan yang begitu dalam. Kuisha menggaruk pipinya canggung berusaha mencari kombinasi kalimat yang dapat membuat pemuda pirang itu mengerti tanpa menyinggung iblis jantan lainnya yang sedang emosi.
" BRENGSEK ! " Tak terima atas perbuatan Naruto yang ia anggap sebagai bentuk penghinaan, Zephyrdor menembakkan demonic powernya menuju Naruto dan Kuisha, listrik kemerahan itu menjalar cepat menyentrum Naruto dan Kuisha.
Kuisha terlambat membuat pertahanan karena terkejut akan kecepatan serangan tersebut sementara Seekvaira dan Sairaorg tak mengambil tindakan mengetahui pemuda pirang itu dapat mengurus serangan menegah tersebut.
Splash
Listrik merah itu meluncur kembali kepada pemiliknya meninggalkan luka gores kecil pada wajah Zephyrdor sebelum melubangi dinding yang terletak jauh di belakang Zephyrdor setelah Naruto menjentiknya dengan mudah.
" Bisakah kita bertarung di arena saja ? para pelayan telah bekerja keras untuk menyiapkan gedung ini untuk pertemuan kita nanti " nasihat Naruto pada Zephyrdor yang masih membatu setelah melihat salah satu serangan terkuatnya dengan mudah Naruto jentik.
" Perbuatanmu tak sesuai dengan nasihatmu, lihat apa yang telah kau lakukan pada dinding di sana " tegur Ravel. Gadis pirang itu mengetahui tunangannya itu dapat menghentikan serangan itu tanpa harus meninggalkan kerusakan apapun jika ia inginkan, mengingat pemuda yang ia cintai itu setahun yang lalu berhasil menyudutkan Grayfia, The Strongest Queen.
" Ah, maaf maaf " Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya canggung.
" Hentikan keributan ini. Lebih baik kita duduk mengobrol di dalam " Sairaorg menengahi. Ia menatap sebentar queennya untuk memastikan gadis pirang itu dalam keadaan baik – baik saja. Setelah yakin, Sairaorg bersama dengan Seekvaira melangkah duluan diikuti dengan anggota peerage mereka.
XoX
6 rookie yang diundang pada Youth Gathering ini bukanlah tanpa alasan. Mereka berasal dari pillar – pillar hebat seperti Gremory yang memiliki Lucifer, Sitri dengan Leviathan, Astaroth melalui Beelzebub, sedangkan Gasya-labolas dengan Asmodeus nya, tak kalah dengan empat tersebut Bael merupakan Great King sedangkan Agares adalah Archduke, tingkat Pillar yang berada di bawah satu tingkat dengan Great King.
Keenam rookie tersebut tak sendiri, mereka juga ikut membawa seluruh anggota peerage mereka masing – masing. Mereka berbaris rapi di lantai bawah, setiap pasang mata mereka tertuju pada balkon atas tempat para tetua iblis dan para kepala 72 Pillar selain Pillar keenam rookie itu berasal. Yondai Maou sendiri berada pada balkon yang sedikit lebih tinggi dengan empat singgasana emas yang begitu megah.
Ruangan yang penuh dengan aura kekuatan yang begitu dahsyat membuat beberapa iblis baru meneguk ludah seperti Issei dan Asia. Sekiryuutei masa kini itu tak berhenti menatap takjub megahnya ruangan tersebut, akan tetapi yang paling membuatnya terperanjat adalah keberadaan Naruto yang berada di balkon, duduk bersama para kepala Pillar lainnya.
" Kenapa Naruto – san duduk di sana ? " Pertanyaan itu datang dari Asia, pemuda bersurai coklat itu sedikit heran melihat sikap Asia yang mulai percaya diri setelah pertemuan terakhirnya dengan Naruto.
" Ah, saat pesta pertunangan Buchou dulu kau datang saat – saat terakhir saja ya, pantas kau tak mengerti Asia – chan. Naruto – san kini telah menjadi Lord Uzumaki, kepala Pillar Uzumaki yang baru saja dipromosikan menjadi 72 Pillar Meikai. Jika saja ia tak menyandang pangkat tersebut, ia pasti berada sejajar dengan kita " jelas Akeno, kali ini ia tidak mengeluarkan sikap jahilnya karena mengingat betapa pentingnya pertemuan ini bagi Kingnya, Rias Gremory.
Issei merutuk dirinya sendiri begitu mengingat kembali deklarasi Naruto yang balik mengancam Rias pada pesta pertunangan tersebut. Mengingat kejadian tersebut, membuat sang Sekiryuutei menggeram kecil karena dipaksa mengingat ketidakberdayaannya saat itu.
" Bagus, kalian telah berkumpuk. Demi mengecek wajah kalian semua, yang akan memikul beban generasi berikutnya, kalian telah dikumpulkan kemari. Ini juga pertemuan yang dilakukan dengan siklus teratur, jadi kami bisa menyimak perkembangan para iblis muda " Zekram yang berada di kursinya yang pertama berkomentar. Iblis tua itu mengatupkan tangannya dengan mata yang meneliti satu persatu iblis muda yang mereka panggil dalam event tersebut.
" Mereka sepertinya baru saja bertengkar " Komentar sarkatis datang dari tetua di samping Zekram. Zephyrdor hanya mendecih pelan ketika melihat hamper seluruh tetua menatap dirinya lebih tepatnya luka gores di pipinya.
Sirzech berdiri dari kusinya. Matanya menatap satu persatu iblis muda berpotensi di bawahnya sebelum memulai ' sapaan awal ' nya.
" Kalian berenam adalah iblis dari generasi berikutnya yang memiliki bakat dan kemampuan sejati dimana tak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Oleh karena itu, kami ingin kalian berkompetisi bersama sebelum debut kalian dan meningkatkan kekuatan kalian dengan berpatisipasi dalam event ini. "
" Akankah kami juga diutus dalam pertarungan melawan para teroris ? " celetuk Sairaorg bersedekap dada. Ia telah mendengar bagaimana rivalnya dapat memusnahkan Katarea Leviathan salah satu keturunan Maou lama pada pembentukan aliansi 3 fraksi. Tentunya hal ini memicunya untuk dapat melakukan hal yang sama.
" Itu belum pasti. Tapi, sebisa mungkin kami tak akan mengirim kalian para iblis muda untuk berhadapan dengan mereka " Sairaorg menaikkan alisnya atas jawaban Sirzech, iblis muda itu terlihat belum puas.
" Kenapa ? Biarpun kami masih muda, kami membawa sebagian tanggung jawab para Iblis. Kalau kami hanya menerima kebaikan hati dari para pendahulu kami bahkan di usia ini, tak akan ada lagi yang bisa kami lakukan."
" Sairaorg, aku mengakui keberanianmu. Namun,kau terlalu ceroboh. Di atas semua itu, kami ingin menghindari mengutus kalian semua yang masih dalam tahap perkembangan ke medan tempur. Kami ingin kalian memahami bahwa kalian adalah harta karun terbesar bagi Meikai. Maka dari itu kami ingin kalian tumbuh secara bertahap. "
" Saya mengerti " balas Sairaorg walaupun masih belum puas akan kata – kata dari Sirzech. Ajuka yang melihat bahwa Sirzech selesai dengan pembukaannya, memulai penjelasan tentang Rating Game para iblis muda. Rating game tersebut hampir sama dengan Rating Game pada biasanya hanya saja terdapat beberapa aturan istimewa yang akan dijelaskan pada pertemuan – pertemuan selanjutnya.
" Baiklah, aku minta maaf sudah menahan kalian dalam pembicaraan panjang ini. Baik, kami semua ingin masing – masing dari kalian menceritakan tujuan masa depan kalian ! "
" Impianku menjadi Lucifer selanjutnya " Sairaorg yang pertama kali merespon perintah Sirzech.
Para tetua dan kepala Pillar tersenyum mendengar impian yang Sairaorg nyatakan dengan tegas dan tanpa keraguan.
" Sangat wajar bagi iblis dari Bael mengincar posisi tersebut " komentar tetua yang duduk di samping Zekram, ia menyatakan komentar dengan memberikan lirikan pada iblis tua yang sedang tersenyum lebar mendengar impian dari cucu kebanggaannya tersebut. Akan tetapi, senyum itu luntur begitu melihat pandangan cucunya yang tertuju pada satu orang, Uzumaki Naruto.
Zekram menghembuskan nafas panjang mengingat bocah demi devil itu akan menjadi penghalang besar bagi cucunya untuk meraih mimpi. Untuk saat ini, ia hanya dapat melihat usaha cucunya dan ketika tiba saatnya, tangan tua nya siap menolong cucunya.
" Tujuanku di masa depan adalah menjadi kepala Gremory berikutnya, dan memenangkan semua pertandingan Rating Game " Rias yang berada di samping kiri mengambil kesempatannya. Terdengar bisik – bisik kagum dari beberapa tetua. Setelah itu, Diodora, Zephyrdor, dan Seekvaira menyatakan impian mereka, sama seperti sebelumnya para tetua memberikan komentar singkat dan decak kagum atas impian mereka.
Sona yang berada pada barisan terakhir akhirnya membuka mulut begitu semua rookie selesai.
" Aku ingin membangun sekolah untuk Rating Game di dunia bawah "
" Bukankah kita sudah memilikinya ? " Tanya salah satu tetua untuk memeriksa apakah ia tak salah mendengar impian dari adik Leviathan tersebut.
" Benar. Namun sekolah itu hanya diperuntukkan bagi High Class Devil atau Iblis yang berasal keluarga bangsawan. Sekolah yang ingin kubangun adalah tempat dimana seluruh iblis tanpa memandang kelas dan statusnya bisa belajar rating game tanpa adanya diskriminasi " jawab Sona tegas.
" HAHAHAHAHA "
Suara tawa para tetua menggema di balkon tersebut. Hampir seluruh tetua dan kepala Pillar tergelak mendengar impian Sona, yah hampir semua karena terdapat Zekram yang hanya menatap Sona dengan pandangan tertarik dan juga Naruto yang sedang sibuk membuka sebuah buku kecil.
" Itu mustahil ! "
" Hanya berangan – angan saja "
" Begitu rupanya ! Kau hanyalah gadis kecil yang suka bermimpi "
" Masa muda memang bagus. Namun, kalau kepala berikutnya dari Sitri memiliki impian seperti itu, aku harus mengucapkan syukur ini diucapkan sebelum kau memulai debutmu "
Sona mengepalkan tangannya erat hingga tubuhnya sedikit bergetar mendengar olokan – olokan dari para tetua tersebut. Rias dan para peeragenya hanya dapat memandang Sona dengan tatapan prihatin. Saji, salah satu anggota peerage Sona yang memiliki keloyalan paling tinggi pada Sona tak terima mendengar impian Kingnya diperolok demikian, maka ia pun membuka mulutnya untuk mengeluarkan protes. Akan tetapi, sebelum protes tersebut sempat disampaikan, sebuah komentar singkat yang dinyatakan dengan datar menghentikannya.
" Aneh .. "
Para tetua dan kepala Pillar yang tergelak dan mengeluarkan komentar – komentar berisi olokan itu berhenti karena mendengar komentar terakhir yang datang dari kepala Pillar yang paling muda. Kepala Pillar yang saat ini sedang memasang ekspresi super bingung sambil terus membolak – balik buku pedoman kecil yang ia pegang.
" Oi apa maksud ucapanmu tadi ? "
Naruto menutup buku pedomannya. Ia menatap sebentar kepala Pillar di sampingnya, sebelum akhirnya menatap kepala Pillar lainnya.
" Aku telah mencatat semua yang diucapkan Sirzech – sama sejak awal pertemuan ini hingga akhir saat saudari Sona menyampaikan mimpinya, akan tetapi di dalam catatanku ini sama sekali tak ada bagian yang menyatakan bahwa pihak tetua, kepala Pillar, ataupun Yondai Maou berhak menghakimi atau memperolok impian dari rookie yang kita undang kemari. "
Penjelasan Naruto menghasilkan geraman dari para tetua.
" Tahu apa kau bocah ingusan ! Jangan menganggap dirimu berada di atas angin atas statusmu saat ini. ! Ingatlah tempatmu ! " Hardik salah satu tetua dengan ekspresi geram, ia bahkan telah berdiri dari kursinya.
" Aku sangat mengingat tempatku. Dan tempatku di sini sejajar dengan anda. Apa ada masalah dengan hal tersebut ? " balas Naruto dengan nada santai. Tetua yang sebelumnya menghardik pemuda pirang itu segera naik pitam dan mulai membentuk lingkaran sihir untuk menyerang Naruto.
Akan tetapi sekejap lingkaran sihir itu menghilang. Jawabannya ada pada lingkaran kecil yang berada di ujung jari Naruto, Ajuka menatap bangga ketika melihat murid kebanggaannya itu berhasil menggunakan teknik andalannya.
" Bisakah kita melakukan pertemuan ini dengan tenang. Walaupun kedudukanku sebagai Lord Uzumaki sekarang, namun faktanya aku tetaplah iblis muda, harta karun terbesar Meikai bukan ? "
" K – kau ! " tetua tersebut bersama para tetua lain meningkatkan keuatan mereka hingga ruangan itu menjadi begitu sesak.
BRUK
Seluruh iblis yang berada di tingkatan Low Class Devil segera tumbang merasakan tekanan energi dari para tetua, yang terlihat biasa – biasa saja hanyalah Yondai Maou, Sairaorg, Naruto, dan Diodora sedangkan 4 rookie lainnya masih dapat berdiri walaupun dengan keringat yang membanjiri tubuh mereka.
Swush
Tekanan aura kekuatan itu segera tersapu begitu angin kecil berhembus di sekitar Naruto. Penampilannya kini pun membuat sebagian orang melongo tak percaya, Koneko bahkan sampai bergetar begitu merasakan energy yang begitu ia takuti.
" Senjutsu … " bisik Koneko memeluk badannya yang bergetar.
" Dapatkah kalian menurunkan tekanan energy kalian para tetua yang terhormat ? Kupikir kalian membahayakan iblis – iblis muda berpotensi yang Meikai miliki " Tanya Naruto dengan kalimat intimidasi, tak ada getar takut dan ragu dari tindakannya. Jika 3 bulan yang lalu saja ia berani maju dan menentang Lucifer, mengapa ia harus takut berhadapan dengan para tetua kolot ini.
9 ekor rubah nya menari – nari berbahaya di belakang tubuhnya. Kedua taring yang tumbuh hingga keluar sedikit dari mulutnya sedikit mengeluarkan kilatan, dan iris biru Naruto yang kini telah menjadi merah dan vertical memberikan arti intimidasi yang sebenarnya, para tetua dan kepala Pillar yang berada di dekat Naruto bahkan tanpa sadar mundur.
" Cukup Naruto – kun " Naruto segera menghilangkan bentuk Youkainya setelah menerima perintah dari Maou yang paling ia hormati, Ajuka Beelzebub.
" Maaf atas kelancangan hamba Maou – sama, para tetua yang terhormat, dan kepala Pillar sekalian. Saya hanya mencoba menginterupsi sesuatu yang bertentangan dengan pedoman, semuanya hanya semata untuk menjaga kehormatan dan kemurnian dari sistem Meikai " ujar Naruto membungkukkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya memperlihatkan kembali senyuman innocentnya.
" Kau telah melakukan hal yang tepat Naruto – kun " Sirzech mulai berkata – kata dengan senyum santainya. Ia menatap para tetua yang memberikan pandangan sangsi ke arahnya. " Tindakan Naruto tepat,seharusnya anda semua menyadari tempat apa ini dan seharusnya dengan kemuliaan, anda semua tahu batas dalam menanggapi atau mengomentari seseorang. " tekan Sirzech santai.
Para tetua masih menatap sangsi pada Sirzech namun memilih kembali duduk dan sesekali memberikan tatapan tajam pada Kepala Pillar termuda tersebut.
" Jika kalian mempunyai keluhan dari apa yang disampaikan Sona Sitri, seharusnya kalian menyampaikannya dengan sewajarnya. Tindakan kalianlah yang menjadi awal dari semua ini bukan ? "
" .. "
" Kalian tidak dapat menghina mimpi seseorang hanya karena mimpi itu terasa mustahil bagi kalian. Mungkin bagi kalian dan beberapa orang mimpi itu mustahil, namun kita tidak tahu, apa yang bisa dilakukan oleh mereka yang menginginkan hal itu. Terkadang harapan seseorang yang terasa mustahil malah dapat tercapai secara tidak sengaja atau dengan keteguhan dan kerja keras. Hal itu juga terjadi dalam perang yang melanda kita dahulu. "
Atas nasihat panjang Sirzech tersebut, para tetua hanya dapat menundukkan kepala mereka.
" Kalian Ojii – sama semuanya bersekongkol untuk mengolok Sona – chanku ! Bahkan aku punya batas kesabaran ! Kalau kalian terus mengoloknya, aku akan menyiska kalian " peringatan itu datang dari Serafall dengan ekspresi sebal. Para tetua hanya dapat terdiam dan mengedipkan mata mereka bingung harus bereaksi apa.
Sona hanya dapat menutup wajahnya karena malu. Terlihat Sirzech dari kusinya berbisik pada Serafall. Kemudian mereka kembali memandang para tetua yang berada di bawah balkon mereka.
" Jika begitu bagaimana kalau Sona – chan ku menang secara gemilang dalam game ini ? Kalian takkan komplain lagi kan ?! Karena banyak hal yang akan dihadiahkan pada pemenang game " Serafall memberikan tawaran yang mengejutkan semua yang ada di sana.
" Aku setuju dengan saran Serafall. Lagipula, dengan ini kita dapat mengukur dan meningkatkan kekuatan mereka sesuai dengan tujuan awal pertemuan ini bukan ? " sahut Falbium yang telah bangun dari tidurnya karena merasakan tekanan energy Naruto.
" Baiklah kalau begitu … Rias, Sona, bersediakah kalian untuk menjadi yang pertama untuk bertanding ? " Sirzech ikut menyetujui saran Serafall.
Rias dan Sona menatap satu sama lain dan berkedip sebelum akhirnya mengangguk.
" Ini mungkin bukan pertandingan resmi, akan tetapi takdir sepertinya benar – benar mengarahkanku untuk menjadikanmu lawan rating game pertamaku, Rias "
" Karena kita akan berkompetisi satu sama lain. Aku tegaskan Sona, aku tak akan kalah darimu "
Maou Lucifer itu tersenyum puas akan jawaban langsung tersebut
" Sudah diputuskan untuk Rating Game pertama akan digelar satu minggu lagi yang mempertemukan Tim Gremory dan Tim Sitri. Untuk selanjutnya, biar kami yang mengurus " putus Sirzech.
XoX
Pertemuan iblis muda itu berakhir dengan satu keputusan tersebut, jadwal rating game rookie lainnya akan diputuskan pada pertemuan berikutnya ataupun diinformasikan langsung kepada mereka. Zephyrdor beserta peeragenya tanpa basa basi segera berteleport kembali pada Mansion Gasya – Labolas nya, instingnya terus mendesak untuk menghindari iblis muda terkuat karena konfrontasi di awal tadi. Diodora menyusul pergi setelah menyapa satu per satu rookie, walaupun beberapa dari mereka mendapati pewaris Astaroth memberikan pandangan yang tak dapat diartikan pada Naruto dan Asia. Sekarang yang tersisa hanyalah 5 rookie potensial yang diakui Meikai, duduk pada sofa yang berada di dekat mereka dengan posisi melingkar tanpa didampingi anggota peerage mereka.
" Ha … aku masih kecewa tidak mendapat kesempatan untuk berhadapan dengan para teroris … padahal itu kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kepercayaan rakyat Meikai untuk memilihku sebagai Lucifer berikutnya " keluh Sairaorg mengusap wajahnya sesekali.
" Tenang saja Sairaorg – kun, kesempatan lain akan tiba. " Rias memberi saran singkat.
" Ah, kau cukup beruntung saudara sepupu, kelompokmu telah beberapa kali terlibat dalam urusan seperti itu. Aku iri padamu "
" Yah, aku tidak dapat mengatakan bahwa aku tersanjung dengan pujianmu. Karena semua kejadian itu hampir berhasil merenggut nyawaku dan anggotaku " balas Rias tersenyum canggung.
" Gremory – sama benar ,Sairaorg – kun. Aku yakin suatu saat nanti kita semua akan mencapai impian kita masing – masing "
" Well, di antara kita, kaulah yang telah memulai usaha untuk menggapai mimpimu " komentar Sairaorg atas kata – kata Naruto.
" Ah, Naruto – kun. Aku sangat menghargai tindakanmu sebelumnya. Terima kasih " Naruto tersenyum kecil atas ucapan terima kasih salah satu tunangannya. " Tak masalah, Sona – sama. Aku hanya senang melakukannya " Rias dan Sairaorg menyeringai dalam diam mendapati semburat merah tipis pada wajah pualam sang pewaris Sitri.
" Ho … mulutmu sudah pandai merayu ya " sindir Seekvaira. Ah, dua bersaudara itu semakin memperpanjang seringai mereka ketika melihat King Naruto mulai memperlihatkan kecemburuan.
" Eh ? aku tidak sedang merayu ! Aku mengatakan hal yang sebenarnya " koreksi Naruto sama sekali tak mengetahui situasi.
" Hal sebenarnya itulah yang berkonten rayuan "
" Tidak … tidak … aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan "
" Ho … jadi kau mengetahui bagaimana dirimu dalam pikiranku ? " Naruto meneguk ludah mendengar nada menantang dari ucapan Seekvaira.
" Pasti. Kau memandang diriku sebagai Queen yang begitu bertanggung jawab, dapat diandalkan, dan satu lagi berkualitas ! " jawab Naruto narsis.
" Berhenti ! Kenarsisanmu membuatku jijik, dan semua yang kau utarakan tak sesuai dengan pemikiranku "
" Sudah. Sudah. Bukankah kalian memiliki keperluan lain ? " Sairaorg kembali menengahi, ia telah cukup puas mendengar perdebatan konyol ini sedari mereka kecil. " Kau benar juga Sairaorg, aku harus menjelaskan kepada Kunou – hime mengapa aku menghilang satu minggu yang lalu " Naruto bangkit sebentar sebelum memberikan tatapan kepada Rias yang tersentak, setelah melihat pewaris Gremory itu berkedip dan menatapnya bertanya, Naruto tersenyum kecil lalu mengangguk seperti mengkonfirmasi pertanyaan tersirat gadis merah itu.
Rias terlihat ragu sebentar, sebelum akhirnya mengangguk. Keempat iblis lainnya mengabaikan interaksi kedua iblis tersebut karena mereka juga telah ikut bangkit menuju peerage mereka masing – masing.
" Naruto – kun, aku akan mengikutimu ke Kyoto " ujar Ravel dan Ilya berbarengan. Kedua iblis tersebut segera memberikan tatapan tajam satu sama lain ketika menyadari mereka menyatakan hal tersebut berbarengan.
" Ah, hai – " belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Seekvaira telah hadir di sampingnya menggantikan perannya untuk menjawab.
" Tidak bisa, Ilya kau harus kembali ke Osaka dan melanjutkan latihan balance breakermu dan menjalankan kontrakmu. Ravel – san, jika kau memang ingin ikut ke Kyoto, aku ingin kau pulang dalam waktu 3 hari, kita masih harus berlatih agar dapat bekerja sama untuk rating game selanjutnya "
" AHHH, Seekvaira … kau brengsek. Ini pasti rencanamu untuk menjauhkanku dari Naruto – kun kan ?!" teriak Ilya tak terima. Penyihir putih tersebut telah lama tak memiliki waktu ' berkualitas ' dengan Naruto, banyak hal yang menyebabkan hal itu seperti promosi Naruto, padatnya jadwal misi, dan padatnya kontrak yang harus ia penuhi.
" Jangan membantah Ilya. Kau akan memiliki waktumu tersendiri nanti " Seekvaira mengabaikan hinaan bishopnya tersebut tanpa berekspresi.
" Kalian bicara apa sih ? " Tanya Naruto bingung. Ravel menghela nafas pelan dan segera meraih tangan Naruto. " Aku memahaminya Seekvaira – san. Kalau begitu kami berangkat "
" Tch, dia seenaknya saja " rutuk Seekvaira. Gadis muda itu menghela nafas lalu berdiri di depan Ilya.
" Kita kembali "
TBC
Oke, ini satu chap aja sebelum masuk ke rencanaku sebelumnya. Mulai di chap ini, aku akan mencoba untuk menonjolkan romance dengan sentralnya Ravel dan Seekvaira, ingat masih mencoba jadi aku minta maaf jika romance masih kurang berasa.
Ah banyak yang bingung pas aku buat di sana Naruto Death hehe, itu akan dijelaskan pada chap depan atau dua chap lagi, aku kurang dapat memprediksinya. Pada beberapa chap ke depan aku juga memangkas adegan pertarungannya karena masih mengumpulkan informasi dan imajinasi namun untuk chap depan kujanjikan akan ada pertarungan, kurasa itulah ciri khas dari ficku XD.
Untuk Naruto yang overpower, itu pasti. Tapi, ada tahapannya, kalau langsung overpower kurang seru pertarungannya tapi untuk ukuran iblis muda Naruto sudah overpower tu serangan Zephryrdor aja dijentik hehe. Kalau kita lihat One Punchman, di sana kan pertarungannya yang lebih seru di tangan Genos, sedangkan di tangan Saitama lebih mengutamakan humornya.
Untuk reviewer Kamvang, di sini kujelaskan secara singkat aja mengenai kemarin. Itu kesalahan saya juga karena langsung memangkasnya untuk menyingkat cerita, jadi singkatnya saat Naruto udah selesai ngantar Kunou, sedetik baru sampai di Kyoto ia segera ditransfer oleh Bedezze, makanya ia merasa tak nyaman.
Oke, ini judul selanjutnya untuk fic depan, pasti dah tertebak bukan siapa yang akan saling bertarung hehe.
Chapter 16 : Asia, Poor Girl that I wanted to save ( Shinto God Vs Welsh Dragon )
