Longinus 14Th ( Declare of The War )

Naruto Masashi Kishimoto

High School DxD Ichie Ishibumi

Warning : AU, OOC, OC, TYPO, Semi Canon, dan Lain – lain

DemiDevilNaru, SmartNaru

" Naruto – san ! " Asia yang berada paling dekat dengan Naruto segera menggunakan Twilight Healingnya. Hanya sebentar saja, Naruto bangkit berdiri mengenggam tangan gadis mantan biarawati itu untuk menghentikan teknik penyembuhnya.

" Arigatou Argento – san ! tapi, cukup sampai di sini, kita masih harus memeriksa Sasuke ! "

Chapter 17 : Asia Argento, Poor Girl that I wanted to save ( Welsh Dragon vs Shinto God)

Nafas Naruto masih tersengal, akan tetapi perawatan singkat dari Asia telah membuatnya setengah pulih, kekhawatirannya terus meningkat seiring meningkatnya suara ledakan yang tertangkap samar dalam pendengarannya. Iris birunya menangkap Ravel dan yang lain telah berhasil memulihkan tim Gremory dan juga Diodora yang telah terbaring tak sadarkan diri. Naruto membuat catatan kecil dalam otaknya untuk memberi pelajaran pada penerus Astaroth tersebut karena membuatnya harus menunda mengerjakan beberapa urusan Kepala Pillar.

" Anda yakin Naruto – san ? " Pemuda pirang itu hanya memberikan anggukan singkat atas pertanyaan Asia. Iris birunya menolak menatap gadis itu mengetahui bahwa ia akan dipaksa untuk menjawab beberapa pertanyaan yang bersarang di benak kepala kuning bishop Gremory tersebut.

" Naruto – niisan terima kasih telah datang dan maaf menganggumu, awalnya aku berpikir kami dapat menyelesaikan masalah ini sendiri, tapi – " Gasper menghentikan ucapannya begitu tangan Naruto menepuk pelan pucuk kepalanya dan memberikan elusan singkat di sana.

" Tak masalah Gasper. Tindakanmu hari ini sangat tepat. Valerie pasti senang melihat perubahanmu sekarang "

Gasper mengangguk kepala antusias " Uhm, terima kasih sekali lagi Nii san "

DUAAARRRRRRRRRRR

Semua yang berada di sana terlonjak mendengar ledakan tersebut, terlebih sesaat setelah ledakan tersebut cahaya crimson sempat mewarnai langit Meikai untuk beberapa detik.

" Ise – kun/ senpai/ san !" bisik para iblis Gremory ketika merasakan energy naga yang menyebabkan ledakan tersebut.

" Wah ! sepertinya Sasuke sedikit kesulitan … " komentar santai Naruto membuat Ravel mengetuk kepalanya yang cukup membuat pemuda pirang itu merintih kecil.

" Ia adalah knightmu bukan ? Seharusnya kau khawatir, ia bisa saja dalam bahaya " Naruto menggelengkan kepalanya tak setuju dengan teguran Ravel. " Tidak, tidak mungkin si Teme itu kalah. " Namun hal itu malah membuat Ravel menatapnya sangsi.

" Kurasa Naruto – san ada benarnya Ravel – san … " Ravel berpaling pada Le Fay yang mulai mengeluarkan pendapatnya. Jari telunjuk kanan gadis itu menusuk pipinya dengan kepala yang dimiringkan semakin menambah keimutan dari gadis tersebut. Alisnya mengkerut seakan sedang berpikir keras. " Terakhir kali kuingat, Uchiha – san dapat bertarung seimbang dengan Vali – sama yang juga menggunakan Juggernaut Drivenya "

" Ah, aku mengingat hari itu juga. Si Ero Azazel itu sampai harus turun tangan untuk menghentikan mereka berdua "

Kata – kata Ilya ini membuat para tim Gremory hanya dapat meneguk ludah mendengar Naruto memiliki Knight yang kuat. Rias bahkan membuat catatan dalam benak otaknya untuk mewaspadai tim Seekvaira dan tim Naruto untuk pertandingan rating game resmi mereka di masa depan.

" Baiklah kalau begitu " Ravel bersedekap dada. Ia kembali menatap tunangannya yang masih bercengkrama ria dengan Gasper, irisnya berpindah kepada Asia. Gadis mantan biarawati itu terlihat ragu – ragu untuk mendekati Naruto, dari ekspresinya terlihat jelas gadis itu menyimpan banyak pertanyaan untuk Lord Uzumaki.

" Yosh, aku sudah merasa pulih sekarang. Kita akan melihat keadaan mereka sekarang. Kelompokku akan berangkat duluan ke sana, dan tim Gremory akan menyusul setelah melacak keberadaan kami. "

" Mengapa tidak bersama saja ? Bukankah menggunakan teknik teleportasimu lebih praktis ? " Tanya Rias.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan " Itu tidak bisa dilakukan Gremory – san. Aku tak memiliki media untuk teleport langsung ke sana, Sasuke tidak membawa kunaiku " Rias mengangguk kecil atas penjelasan Naruto, ia memberikan tatapan pada Akeno untuk bersiap menteleport mereka setelah mendapat tanda dari Naruto.

" Baiklah kami duluan " Naruto, Ravel, Ilya, dan Le Fay segera menghilang dalam kilatan emas meninggalkan tim Gremory yang hanya dapat termangu melihat teknik teleportasi tersebut.

Asia mendekati anggota peerage lainnya dnegan kepala tertunduk. Ia membungkuk dalam " Buchou dan semuanya, maaf karena aku kalian harus terluka seperti ini " Rias menggeleng – gelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf yang tulus dari Bishopnya. " Jangan sungkan Asia – chan. Bukankah aku sudah mengatakannya di awal, kalian semua adalah keluargaku. Tentu kita akan membantu jika anggota keluarga kita dalam kesusahan, benar begitu bukan minna ? "

" Tentu saja " Gasper, Xenovia, dan Yuuto tersenyum kecil.

"Hn " Koneko mendengus dengan senyuman kecil di wajahnya.

" Ara ara … itu benar Asia – chan. Dan lagi, aku telah mendapat tanda dari Naruto – san. Apa kita berangkat sekarang buchou ? "

" Lebih cepat lebih baik. Ise – kun masih perlu ditenangkan "

Bibir kecil Asia menghembuskan nafas lega mendengar kata – kata Rias sebelum membentuk senyum kecil yang lugu. Satu beban di pundaknya telah terlepas, sekarang hanya harus memastikan satu hal lagi pada iblis muda terkuat Meikai. Pandangannya kali ini jatuh pada seonggok tubuh yang masih terbaring tak sadarkan diri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

" Ano Buchou … bagaimana dengan Astaroth – san ?" Tanya Gadis itu dengan nada polos dan menunjuk pemuda Astaroth tersebut. Yuuto menggeleng – gelengkan kepalanya mendapati sikap pemurah dari Asia, gadis itu masih memerhatikan pemuda yang bertanggung jawab membuat menderita beberapa tahun belakangan ini ? Knight pirang itu benar – benar tak tahu terbuat dari apa hati gadis ini.

Xenovia tak jauh berbeda dengan Yuuto, hanya saja di dalam hatinya kini timbul penyesalan karena pernah menganggap Asia sebagai penyihir, Knight Gremory itu membuat catatan dalam benaknya untuk meminta maaf ke Asia sekali lagi nantinya.

Berbeda dengan yang lain, Rias mendengus kasar. Ia menatap tajam pemuda yang tak sadarkan diri itu sejenak, lalu mengibas – ngibaskan tangannya di depan muka. " Biarkan saja ! aka nada pelayan Astaroth yang mengurusnya nanti "

" Akeno, apa sudah siap ? " Rias tak memberikan kesempatan gadis pirang itu untuk protes, atensinya tertuju pada Queennya yang menganggukkan kepala kecil.

" Bagus, kita berangkat " Tim Gremory ditransfer menuju tempat pertarungan Sasuke dan Issei bersama dengan lingkaran sihir kemerahan.

XoX

BRAKKKK

DUUUAAARRR

" Tch, si baka dobe pasti akan mengejekku jika melihatku seperti ini " Sasuke melompat keluar dari kawah di bebatuan yang menjulang tinggi dalam area pertarungannya setelah mengeluarkan umpatan tersebut. Teritory Astaroth yang menjadi tempatnya bertarung dengan Sekiryuutei dalam keadaan lepas kendali ini awalnya merupakan padang bebatuan karang, yah awalnya karena sekarang bebatuan karang itu telah banyak hancur.

Aura keunguan masih menyelimuti tubuh Sasuke namun kali ini hanya berbentuk sepasang rusuk yang melindungi sekujur tubuh sang Uchiha, iris Onyxnya bergerak – gerak waspada menanti dari mana serangan kali ini akan datang.

SYUUUT

DUAAARRR

Sasuke melompat ke batu karang lain yang juga telah kehilangan setengah bagiannya. Beruntung di detik – detik terakhir ia berhasil menghindar dari bola energy kemerahan yang meluncur cepat ke arahnya. Tekanan angin dari ledakan itu sama sekali tak berpengaruh padanya, iris onyxnya hanya terpaku pada musuhnya yang kini hanya berjarak 10 meter darinya.

Issei yang kini dalam keadaan lepas kendali menatap Sasuke dengan sinar mata merah yang mengerikan, terdengar samar deru nafas yang terengah – engah, dan tiga pasang sayap naga di belakang punggungnya kembali bersinar untuk melancarkan serangan. Namun, semua itu sama sekali tidak mengintimidasi Sasuke.

Poof

Tangan kanan Sasuke ditutupi oleh gumpalan asap kecil, hanya dengan satu hentakan gumpalan asap itu menghilang memperlihatkan katana hitam dengan ukuran standar telah berada di genggaman sang Uchiha, tak berhenti di sana tepat pada bagian mata pedangnya listrik mulai mengalir membuat suara bising yang menyerupai cicitan kumpulan burung, cahaya yang dihasilkan dari kumpulan listrik pada mata pedangnya Sasuke arahkan pada mata Issei hingga membuat naga mini itu kian meraung dan melepaskan teknik penghancurnya.

" GRAAOOOOOOOOOOOOOOOO "

SYIIIUUUUTTTT

Duar duar duar duar duar duar

Sasuke menyeringai kecil mendengar deru nafas sang naga semakin memburu melihat keenam laser merahnya berhasil ditepis dengan katana Sasuke dan hanya mendarat pada 6 pillar batu karang di sekitar Uchiha. " Apa hanya segini batas kemampuanmu ?! " Tepat ketika provokasinya selesai, naga mini itu bergerak cepat ke sampingnya dengan membawa bunyi mekanik Boost berulang kali. Issei merapatkan jari – jarinya hingga seluruh kuku naganya yang tajam siap menusuk lawannya.

Ting

Peraduan antara pedang dan cakar pun terjadi terjadi. Sasuke mengernyit tak melihat lawannya terpengaruh setelah bersentuhan dengan arus listrik dari katananya. Kedua bilah pihak sama – sama menekan pedang mereka untuk menebaskannya ke tubuh sang lawan.

[ boost boost boost … Explosion ]

Dengan meningkatkan kekuatannya menjadi 3 kali lipat, Issei berhasil menekan Sasuke hingga cukup membuat Uchiha itu terseret mundur hingga 100 meter. Dengusan puas terdengar dari balik armor tersebut, akan tetapi naga mini itu kembali meraung melihat musuhnya yang menyeringai kecil.

" Ini menjadi semakin menarik. Tak kusangka kau menggunakan otakmu naga merah. Ayo kita tingkatkan levelnya ! "

DUAAK

Keadaan berbalik kini Issei yang terseret mundur setelah menerima sikutan Sasuke.

" Jangan lengah ! "

Tak berhenti di sana, Sasuke terus menghajar Issei dengan beberapa pukulan dan tendangan. Sesekali katananya bertindak untuk menebas armor tersebut hingga beberapa bagian armor itu remuk dan hancur namun dengan cepat pula armor merah itu kembali mengkilat. Melihat itu, Sasuke melompat mundur setelah mengetahui serangan fisik tak efisien untuk menghadapi naga mini tersebut.

" GRAOOOOOOOOOOOO ! "

Sasuke mengeratkan pegangannya pada katananya melihat musuhnya juga melompat mundur dengan dada yang berkembang.

BWUSSHSHHHH

Luapan api yang maha besar ditiupkan menuju Sasuke dengan kecepatan tinggi. Sasuke menebaskan katananya ke udara kosong hingga membuat memotong luapan itu menjadi dua, akan tetapi serangan tak berhenti di sana sebab Issei kembali melakukan serangan tak terduga dengan terbang cepat melalui garis yang Sasuke ciptakan. Lengan kanannya berada di depan dan dalam keadaan terkepal terlebih permata hijau di dadanya terus mendengungkan kata Boost memberikan indikasi kepada Sasuke bahwa pukulan ini akan sangat mematikan.

Aura Susano'o Sasuke dengan cepat bangkit membentuk tubuh samurai kekar yang juga menarik mundur tangannya ke belakang, tepat ketika Issei berada dalam jarak serangnya, tinju dari Susano'o itu meluncur cepat menuju Issei hingga bertabrakan menghasilkan tekanan angin yang menghembuskan api naga Issei sebelumnya.

DUAAKKK

Kedua – duanya sama – sama terpental kencang ke belakang setelah beradu tinju.

" Ugh … ini mengingatkanku akan Sairaorg Bael " umpat Sasuke kembali.

Ia melompat keluar lagi dari pillar batu karang di belakangnya, irisnya membola begitu melihat sepasang cannon yang muncul pada bahu Issei.

' bagus ' batin Sasuke sarkatis saat mengingat serangan apa yang akan dilancarkan Issei.

Longinus Smasher

Simbol Telos Karma terbentuk di dadanya dan berkat keberuntungannya fokus Issei teralihkan hingga serangan pemusnah itu meluncur cepat ke langit dan meledak mewarnai langit Meikai dengan warna crimsonnya, tiupan angin hasil ledakan itu juga berhasil membuat seluruh lingkup tempat tersebut tertutupi oleh debu pekat sebelum akhirnya suara ledakan besar memekakkan telinga.

DUAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRR

Dari balik debu tebal tersebut, naga mini Issei masih menggeram. Naga merah itu bergerak – gerak gelisah karena tak dapat melihat jelas sekitarnya, tubuhnya segera berbalik ke kanan dengan posisi tegang begitu mendengar suara Sasuke. Berkat refleks naga itu melompat mundur ketika melihat seberkas sinar menujunya dengan cepat, sinar kemerahan yang semakin melebar dan naga itu hanya dapat menggeram melihat bola api yang begitu besar siap memanggangnya.

Fire Style : Great FireBall

Tak mengambil pusing atas serangan tersebut, naga mini itu menghembuskan api yang intensitasnya jauh lebih besar dibanding teknik bola api Sasuke. Akibatnya, debu pekat yang menyelimuti tempat tersebut telah sedikit mereda hingga membuat Issei dapat melihat samar posisi Sasuke. Pemuda bersurai raven itu masih dengan ekspresi impasifnya, Susano'onya masih tetap berfungsi, terbukti dengan sosok raksasa astral itu sedang bersiap menembakkan panahnya menuju sang naga.

" Bingo " bisik Sasuke menyeringai kecil

Syut

DUAARRR

Meleset, tembakan Sasuke hanya menghancurkan 6 Pillar batu di belakang Issei, naga itu telah melesat terbang ke udara. Uchiha terakhir itu mendengus melihat tembakan panahnya berhasil dihindari, irisnya menyipit ketika melihat sepasang Cannon kembali bersinar di bahu Issei.

" Teknik itu lagi … mungkin sekarang aku bisa mengukur sejauh mana kekuatan teknik baruku " gumam Sasuke. Seakan merespon pikirannya, sosok Susano'o yang menyelimuti tubuhnya meraung keras menyelimuti dirinya sendiri dengan aura ungu yang kali ini membentuk jubah energy keunguan. Busur panahnya telah terbentuk kembali lengkap dengan anak panah yang ukurannya jauh lebih besar dari sebelumnya dan untuk membuat teknik itu semakin berbahaya, mata panah astral itu mulai diselimuti oleh api hitam yang menari – nari.

" GRAOOOOOOOOOOOOOOOOOOO " Issei dalam versi naga mininya meraung keras membalas tantangan tersirat Sasuke.

" Ddraig … aku akan menembakmu jatuh dengan ini, Indra Arrows "

Splashhh

Panah astral ungu itu melesat dengan kecepatan tinggi menuju Issei yang juga telah melepaskan tekniknya.

Longinus Smasher

Kedua serangan melesat cepat menuju satu sama lain, yang terlihat dari jauh hanyalah outline merah dan ungu yang bertabrakan di udara. Tak butuh waktu lama, ledakan terjadi kembali, bahkan lebih dahsyat dari yang sebelumnya namun efek ledakan itu hanya terjadi sekitar tempat tersebut, terlihat samar sebuah energy kasat mata berbentuk kotak kokoh menahan ledakan itu menghancurkan sekitarnya sehingga hanya Issei dan Sasuke lah pihak yang terkena dampak serangan tersebut.

DUAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRR

ERASE

Tepat ketika bunyi ledakan itu berdengung nyaring, sebuah bunyi mekanik lainnya juga ikut mengambil bagian yang menghapus seluruh efek ledakan terhadap lingkungan sekitar. Teknik itu datang dari dua orang gadis bersurai pirang dan perak, Le Fay dan Ilya yang telah memasuki Balance Breakernya.

" Apa kau yakin mereka dapat selamat dari ledakan itu, Naruto – san ?! " Tanya Rias memekik pelan, keputusan Naruto untuk membentuk barrier di sekitar kedua orang itu untuk menahan efek ledakan tersebut terhadap lingkungan sekitar memang dinilai sangat bijak. Namun, apa ia tidak mempertimbangkan keselamatan kedua pihak, baik Issei maupun Sasuke pasti mati jika tidak melakukan pertahanan apapun terhadap ledakan tersebut.

" Sasuke tak akan apa – apa … Telos Karma akan memberikannya keberuntungan yang lebih besar jika ia berada dalam keadaan antara hidup dan mati. Sedangkan Sekiryuutei akan terluka begitu parah sehingga memaksa Juggernaut Drive nya untuk berhenti sebab kehabisan energy. " Jelas Naruto, ia melepaskan barrier yang ia gunakan, nafasnya kembali tersengal hanya untuk membuat Barrier tersebut.

" Lihat mereka di sana ! " tunjuk Ravel yang melihat kedua tubuh yang telah terbaring tak berjauhan. Keduanya sama – sama berbaring dengan pakaian yang hangus, jubah hitam Sasuke juga telah raib menyisakan beberapa potong pakaian yang tak bisa menutupi tubuh kekarnya. Issei beruntung pakaiannya hanya gosong pada beberapa tempat karena Armor merahnya yang menahan efek semua ledakan itu, akan tetapi yang membuat Issei mencolok adalah keberadaan lengan kirinya yang menyerupai lengan naga yang membengkak.

" Sialan kau Dobe ! " Oke, mereka semua mengetahui bahwa Sasuke masih hidup setelah mendengar erangan yang berisi kutukan tersebut, sementara iblis pirang yang memperoleh kutukan itu hanya terkekeh pelan.

Tim Gremory bergerak mendekati Issei dengan tergesa – gesa, Rias yang pertama sampai dan segera memeriksa keadaan pawnya satu – satunya itu. Helaan nafas terdengar lirih dari bibir sang Heiress, ia menganggukkan kepalanya pelan, isyarat kepada yang lain bahwa Issei selamat.

Asia segera berlutut di samping kaisar naga merah itu mentransfer aura kehijauannya untuk memulihkan luka bakar di sekujur tubuh pemuda bersurai coklat itu. Sama seperti Asia, Ravel juga berlutut di samping Sasuke setelah Naruto membantu Knightnya itu untuk duduk dan bersandar di dadanya. Sasuke segera pulih kembali setelah menerima setetes air mata Phoenix, dengan pelan ia menyingkirkan punggungnya yang sebelumnya bersandar pada dada Kingnya. Alisnya terangkat melihat Ilya yang seperti menahan tangis, itu aneh, setahunya gadis penyihir ini menaruh perasaan pada Naruto tapi mengapa gadis itu menangisi keadaannya, apakah ini pertanda bahwa perasaan itu berpaling kepadan –

" Ternyata benar … kalian berdua gay … " pernyataan lemas Ilya ini menyingkirkan semua prediksi Sasuke.

" Aku normal ! Menjauh dariku Dobe ! " bentak Sasuke yang telah mengurut pelipisnya, ia membuat catatan dalam benaknya untuk tidak berpikir kejauhan mengenai sikap para gadis di sekitarnya.

" Gih, aku juga normal Teme. Buktinya aku memiliki Ravel sebagai tunanganku di sini " balas Naruto membentak sambil melingkarkan tangannya di pinggang bungsu Phenex, itu seperti Naruto memeluk Ravel dari belakang. Dan tindakan tiba – tiba itu sukses membuat Ravel hilang kendali atas tubuhnya.

" Aw … kau panas Ravel ! " celetuk Naruto ketika merasa tangannya yang memeluk pinggang Ravel terasa seperti dibakar, namun pemuda itu tetap memeluknya mengira tunangannya sedang sakit.

" Aaa – apa ?! " Ravel semakin hilang kendali atas pernyataan Naruto. Sebenarnya tak ada yang salah dari pernyataan Lord muda itu, tubuh Ravel saat ini memang terasa panas karena gadis itu tak dapat mengendalikan Pyrokinesis dalam tubuhnya. Namun malang bagi Ravel, karena tak kuat menahan malu atas interaksi fisik pertama antara dirinya dengan tunangan membuatnya menyalah artikan ucapan Naruto. Pandangannya mulai berputar dan mengabur dan tak lama kemudian gadis itu pingsan dalam pelukan tunangannya yang hanya dapat memekik panik tak mengerti mengapa gadis itu pingsan.

" Mungkin, ia kelelahan membantu yang lain … ha … maaf Ravel " bisik Naruto kecil, ia membenarkan sebentar letak poni dari gadis itu sebelum menatap ke arah yang lain. Tak menyadari pandangan sweatdrop dari yang lain telah berganti menjadi kagum, iri, dan juga cemburu.

" So drama … " komentar Koneko datar.

' Ara ara Naruto – san bisa romantis juga ternyata ' batin Akeno terkikik geli.

Rias dan Xenovia tak berkomentar apa – apa hanya dapat menatap adegan roman picisan itu dengan wajah memerah sedangkan Ilya dan Le Fay menatap adegan itu dengan pandangan iri dan juga cemburu. Gadis penyihir pirang itu mengeratkan remasan tangannya sendiri yang bersandar di dadanya, irisnya terpaku pada Naruto sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

' Ya, harus kulakukan ! '

" Ya, kau dan kelakuan bodohmu Dobe. " umpat Sasuke acuh.

" Naruto – san … " panggil Asia lirih. Naruto menoleh pada mantan biarawati dengan alis terangkat, ia telah menyerahkan Ravel pada yang Le Fay untuk sementara. Pikiran Asia blank sebentar, entah mengapa otaknya terus memutar adegan Naruto dan Ravel sebelumnya dan yang paling membuatnya bingung adalah sensasi cubitan menyakitkan di hatinya ketika ingatan itu terus terulang.

" Argento – san … " Asia tersentak dari pikirannya mendengar panggilan itu, ia menatap Issei sesaat sebelum menatap tepat pada iris biru Naruto. " Naruto – san … aku mohon bantuanmu untuk memulihkan Issei – san. Ia menjadi seperti ini, itu semua karena salahku, karena aku yang terlalu lemah – "

" Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Sekiryuutei melakukan ini karena menganggap bahwa kau merupakan salah satu orang yang berharga baginya, menyalahkan diri sendiri seperti ini malah akan membuat seluruh usaha dan pengorbanannya ini sia – sia " Mantan biarawati itu terdiam, seakan menunggu kelanjutan nasihat dari iblis pirang tersebut, namun tidak ada kata – kata lagi yang keluar dari bibirnya itu, Asia mendapati iris biru iblis jantan di hadapannya telah terpejam dan tanpa sadar ia menghentikan teknik pemulihannya begitu melihat sinar emas terang yang menyelimuti tubuh sang Sekiryuutei

Naruto menyeringai kecil melihat pemandangan di depannya.

Ia kembali berada di tempat ini, alam kesadaran dari jiwa Ddraig. Tak jauh dari kegelapan tempat ia berdiri, ia dapat melihat dengan jelas dua sosok yang besarnya sangat berbeda. Yang satu, adalah seekor naga besar berwarna merah yang bentuknya sesuai dengan naga – naga eropa layaknya. Sebagian tubuhnya diselimuti oleh api, dan yang kedua merupakan seorang remaja bersurai coklat yang mana tangannya kirinya merupakan tangan seekor naga. Kepala remaja itu tertunduk hingga menyembunyikan ekspresinya.

" Salam Ddraig ! " Naruto menunjukkan eksistensinya dalam kesadaran tersebut, ia membungkuk kecil lalu melanjutkan maksudnya " Aku kemari membawa dua alasan, pertama memulihkan hostmu ini … " Ddraig tidak terlalu merespon ketika melihat jari telunjuk kanan iblis pirang itu jatuh pada Issei. " Yang kedua … " Naruto menggantung ucapannya, jarinya yang sebelumnya menunjuk Issei bergeser menunjuk sang naga " Menagih jawaban atas penawaranku beberapa bulan yang lalu … "

" Begitu huh ?! Jujur saja, tawaranmu itu sangat menggiurkan. Tapi, apa yang membuatmu yakin tujuan konyolmu ini dapat terwujud ? "

" Konyol ? Bagaimana kau dapat mengatakan tujuanku … konyol ?! " Tanya Naruto balik dengan nada tinggi dan membentak.

" Tentu saja itu konyol bocah iblis ! Kau tak mungkin dapat menemukan Nya … eksistensi yang bahkan keberadaannya dikutuk oleh seluruh eksistensi di dunia ini … " Ddraig menyeringai lebar ketika melihat Naruto sedikit limbung mendengar ini, setelah melihat iblis pirang itu berhasil memperoleh kesadarannya kembali, ia melanjutkan " Bahkan hanya dengan membicarakannya saja kau tak sanggup ! Kau sendirian tidak berkapabilitas untuk ini, impianmu kosong ! "

" Aku tidak ingin mendengar itu darimu ! " jawab Naruto dengan nada tinggi. Ia memejamkan matanya sebentar, menarik nafas panjang sebelum mengeluarkannya kembali untuk mengontrol emosinya " Maafkan aku, normalnya kau benar. Tak ada kesempatan bagiku untuk mencari keberadaan Nya sendirian …. Tapi di sana letak kesalahanmu. Aku tak sendirian, Ophis telah lebih dahulu menyadari bahaya yang akan datang dari Nya dan ia merekrutku ke dalam tim kecil yang ia bentuk sendiri untuk mencari sosok Nya. "

" Kontrol emosi yang bagus bocah ! Sebelum mendengar keputusanku, aku ingin mendengarkan rencanamu terlebih dahulu "

" Aku hanya akan menyampaikannya jika kita benar – benar telah sepakat "

" Well … bocah yang keras kepala. Namun, ini satu – satunya harapanku untuk lepas dari artefak God of Bibble ini. Baiklah, aku menerima tawaranmu "

Jrashh

5 rantai dari tubuh Naruto segera menusuk jauh ke dalam tubuh naga tersebut bahkan naga tersebut dapat merasakan rantai itu mengikat jantungnya. " Rantai itu merupakan bentuk perjanjian kita, tenang saja itu juga berlaku bagiku. Dan lagi, melalui rantai itu rencanaku akan langsung ditelepatikan kepadamu. Lebih efisien bukan ? "

Ddraig mengangguk.

" Baiklah, bagaimana cara menyelamatkan pemilimu ini ? "

" Kau hanya perlu menyerap energy negatifnya di sini. Pemulihan dari mantan biarawati itu tak berguna untuk itu. "

" Begitu ya … terima kasih Ddraig " balasku menundukkan badan sebentar sebelum menepukkan tanganku pada pundak remaja bersurai coklat itu. Aura emasku mulai menyelimuti tubuhnya dan kudapati naga merah itu terus menatapku dengan intens.

" Sudah selesai … " bisikku pelan. Aku berbalik menatap Ddraig kembali " Baiklah, Ddraig. Kita akan berjumpa kembali di lain waktu " Naga itu tak merespon, iris merahnya terus menatap Naruto yang perlahan menghilang.

" Yah, sampai nanti. Kutunggu waktu itu … "

Kembali ke realita.

Azazel menggosok – gosok dagunya melihat bagaimana Naruto menangani kondisi Issei yang semakin memburuk setelah menggunakan Juggernaut Drive dengan terpaksa. Pemimpin da – tenshi itu datang bersama wakilnya, Vali Lucifer setelah merasakan energy besar dari teknik Longinus Smasher Sekiryuutei. Sirzech dan Ajuka juga telah tiba di tempat itu beberapa menit setelah ledakan pertama terjadi, kedua Maou itu hanya sendiri tidak damping oleh anggota peerage mereka, sebuah pemandangan yang sangat langka mengingat biasanya Sirzech selalu didampingi istri yang sekaligus Queennya, Grayfia Lucrifuge. Dan terakhir yang turut tiba adalah Dulio Gesualdo yang katanya turut datang untuk mewakili pihak surge meningat mereka telah membentuk aliansi.

" Jika saja, aku lebih cepat tiba … kemampuan Divide Albion pasti akan lebih cepat menyelesaikan ini " tukas Vali yang telah bosan menunggu, Azazel hanya terkekeh pelan masih terus mengamati tingkat bawahannya itu, karena jika tidak Vali dengan sikap maniak akan langsung pergi menantang Dulio. Sirzech sibuk ' Mengintrogasi ' adiknya dengan pertanyaan berlebihan, bahkan tak jarang Lucifer itu memaksa membawa Rias dan Tim nya ke rumah sakit setelah ini yang selalu ditolak pewaris Gremory itu dengan kepayahan. Hanya Ajuka yang menaruh perhatian berlebih pada proses pemulihan yang dilakukan Naruto.

Perhatian mereka yang berada di sana kembali kepada Naruto dan Issei ketika melihat sinar emas Longinus Naruto yang meredup, begitu Naruto membuka iris birunya, ia tersenyum lega melihat lengan Issei kembali seperti semula. Pemuda itu bangkit mendapati seluruh tatapan bertumpu padanya.

" Aku telah mengurangi energy negative yang membuatnya lepas kendali, ia hanya kelelahan dan beberapa saat lagi akan tersadar " jelas Naruto, memberikan ruang bagi tim Gremory untuk melihat keadaan Issei. Alisnya terangkat tidak menemukan keberadaan di sana, dan kemudian tertekuk ketika melihat gadis itu sedang membelakanginya dan mengadakan perbincangan ringan dengan Dulio di sudut yang agak jauh dari kerumunan lain.

" Naruto – kun, bisa kau jelaskan keadaan di sini ? Sirzech telah memperoleh jawaban dari versi adiknya, dan kami ingin mendengar jawaban darimu untuk melaporkan ini pada tetua " Naruto mengangguk kecil atas permintaan Ajuka, akan tetapi, tak ada kata yang keluar dari mulutnya karena terlalu shock atas kehadiran mendadak eksistensi yang berdiri santai di sampingnya. Berkat refleks, pasangan guru dan murid itu melompat jauh ke samping sehingga kini mereka berdiri memunggungi Dulio dan Asia sementara itu Sirzech dan Azazel telah bergerak lebih dahulu mengamankan para iblis muda di belakang mereka sehingga sosok itu tersisa sendiri berdiri di tengah.

" Kau membunuh dua anggota kami " ungkapan Eksistensi itu membuat suasana semakin tegang, Naruto hanya dapat meneguk ludah mengetahui kata – kata itu tertuju padanya, akan tetapi dengan cepat ia kembali pada sikap tenangnya. Ia jelas mengenal eksistensi ini, seorang pemuda berjubah putih yang menjadi pengantar pesan Ophis.

" Oh, kau rupanya … apa ada pesan lagi dari Ophis ? " Tanya Naruto santai.

" Bukankah baru kusampaikan ?! " Tanya balik pemuda itu sarkatis.

Sirzech dan Azazel yang sebelumnya pernah berjumpa akhirnya mengingat sosok misterius itu, dengan serentak mereka menunjuk sosok tersebut, bahkan Azazel memberikan beberapa kalimat ancaman.

" Kau lagi ?! "

" Kali ini, kami tak akan membiarkanmu lolos ! "

" Tenanglah, aku kemari hanya untuk menyampaikan pesan lagi. Lihatlah ke atas langit "

Semua yang berada di sana tanpa sadar mematuhi ucapannya menatap ke langit Meikai yang mana tanpa mereka sadari langit di atas mereka telah menjadi retakan – retakan celah dimensi yang memperlihatkan seekor naga merah raksasa yang berenang – renang ria. Itu bukanlah gambar asli, melainkan hanya sebuah proyeksi.

" Dialah tujuan kami, Great Red, Sekiryuutenshi, sang DxD. Ophis mengumpulkan para makhluk superior untuk dapat membantunya mengusir naga merah raksasa itu dari celah dimensi. Sebagai balas jasanya, mereka akan memperoleh peningkatan kekuatan, seperti yang terjadi pada keturunan Leviathan dan Beelzebub yang telah kau bunuh " pada kalimat terakhirnya, pemuda itu menghentikan tatapannya sebentar pada Naruto, ia mengabaikan dua pemimpin yang bisa saja membunuhnya dari belakang.

" Mengapa Ophis menginginkan kami mengetahui tujuannya ?! " Tanya Sirzech dengan nada menuntut

" Kupikir kau cukup cerdas untuk menangkap jawabanku bukan Lucifer palsu ?! " balas pemuda itu tanpa niat. Nyatanya memang benar para pemimpin dan mereka yang mengerti betul politik mengerti maksud Ophis. Ini merupakan bentuk deklarasi, Ophis yang mengerti betul bagaimana para pandangan makhluk lain terhadap eksistensinya secara tersirat mengancam mereka untuk tak mengusik rencananya.

Pertanyaan itu hanya Sirzech lontarkan untuk memberikan Ajuka waktu menyiapkan formula sihir jika terdapat tanda – tanda Ophis akan muncul dan memaksa mereka bertempur. Selain itu, mengulur waktu seperti ini juga dapat memberi mereka informasi lebih akan entitas Khaos Brigade.

" Sudahlah … kalian tak akan mendapat informasi apapun. Dan aku hanyalah pengantar pesan … Uzumaki Naruto, akan tiba waktu dimana kami membalas atas perbuatanmu membunuh dua anggota kami " Eksistensinya memudar begitu saja, seakan sosoknya tak pernah ada. Beberapa yang berada di sana melebarkan mata mereka ketika mengetahui teknik apa yang ia gunakan.

" Jadi dia sudah memulai menduplikat Longinus lagi huh … menarik ! Aku akan berhadapannya dengannya suatu hari nanti " ujar Vali dengan senyum maniaknya. Azazel hanya dapat menghela nafas pasrah akan kelakuan muridnya, irisnya tertuju kembali pada Naruto yang entah sejak kapan telah menggendong Ravel dalam buaian, gadis itu masih belum sadarkan diri setelah ketengangan tadi.

" Jika tidak ada yang harus dilakukan lagi, saya mohon pamit undur diri. Kasihan jika Ravel harus berbaring terlalu lama di sini … Sasuke bisa kau mengurus sisanya " Sasuke mengangguk dan Naruto mulai berteleport menggunakan lingkaran sihirnya, ia tak ingin menggunakan teleport Longinusnya yang mungkin membuat Ravel terganggu.

" Apa keadaan tunanganmu begitu kritis hingga kau lupa menyapaku, Uzumaki Naruto ? " Pertanyaan sarkatis itu datang dari Dulio yang telah selesai berbincang dengan Asia. Naruto sedikit memperlambat lingkaran sihir teleportasinya untuk berbincang singkat dengan rivalnya ini.

" Kau terlihat memiliki perbincangan penting dengan Argento – san … aku hanya tak ingin menganggu momen dimana kau berkumpul kembali bersama saudaramu "

Dulio terdiam, ia dapat merasakan Asia yang berada di belakangnya menegang atas pernyataan Naruto ini. Exorcist terkuat itu menghela nafas panjang sebelum memberikan tatapan tajam yang membuat Sirzech, Ajuka, dan Azazel dalam diam sepakat untuk menghentikan mereka berdua yang berpotensi akan bentrok.

" Ini sangat menarik ! Jika kalian ingin bertarung sekarang, biarkan aku bergabung ! Aku tak akan melewatkan kesempatan untuk dapat bertarung dengan kalian ! " respon Vali paling berbeda dari yang lain, Armor Naga Putih nya pun kini telah terpasang menyatakan ia telah siap bertarung kapan saja.

" Tak kusangka kau mengetahui hal ini juga … bagaimana kau mengetahuinya ? " Dulio mengabaikan tantangan Vali.

" Ma … Ma … santai saja Vali. Tidak akan ada pertarungan lagi di tempat ini. Dan Dulio, aku mengetahuinya setelah membandingkan struktur DNA mu dan Argento – san. Tentu kau mengetahui fungsi Longinusku bukan ?! "

" Kheh, ini jadi tidak menarik " tukas Vali menghilangkan armornya dan mundur mendekati Sasuke.

" Begitu ya … sepertinya aku kecolongan … " Dulio menghentikan tatapan tajamnya, gesturtubuhnya kembali santai " Sebenarnya aku hanya ingin berterima kasih karena kau telah menepati janjimu untuk melindungi Asia selama ini "

" Tenang saja … aku mengerti tugasmu sebagai Exorcist. Tapi akan lebih baik jika kau memberikanku hadiah sebagai ungkapan terima kasih " Dulio memutar matanya bosan, sepertinya rival nya ini mengajaknya untuk bermain – main.

" Baiklah, aku akan mengabulkan satu permintaanmu " seringai lebar terbentuk di wajah Naruto, saat ini tubuhnya yang berada di sana hanyalah sebatas dada hingga kepala.

" Aku memiliki dua permintaan, pertama : Bereskan masalah akhir ini untukku dan … kedua : Jika tiba waktunya dimana kita harus bertarung, aku ingin kau tidak menahan apapun, mengerti ? " Dulio mengangguk pelan berbeda dengan para iblis muda yang telah meneguk ludah kepayahan karena nada Naruto ketika mengucapkan permintaan kedua itu terdengar sedikit … kelam.

" Baguslah, sebagai gantinya aku juga akan memenuhi satu permintaanmu. … sampai jumpa ! " Dengan ucapan pamit, itu sosok Naruto dan Ravel benar – benar telah berteleport menuju wilayah Pillar Uzumaki sendiri.

" Berpura – pura ini adil huh ? Apa yang kuharapkan dari iblis tamak sepertimu Uzumaki Naruto ? " ujar Dulio mengucapkannya dalam satu hembusan nafas hingga tak terdengar jelas bagi yang lain. Sasuke mendengus kecil melihat Dulio dan Asia mulai berkumpul dengan para generasi muda lainnya, kedua pirang itu berhenti sebentar menyapa Sasuke, Le Fay, dan Ilya.

" Uchiha – san, bisakah aku menitipkan jubah Naruto – san ini ? "

" Kau ingin pulang telanjang ?! Cuci dulu dan serahkan di lain waktu " Asia terpekik kecil mendengar nasehat bernada tinggi dari Sasuke, Dulio hanya dapat tertawa ringan melihat saudarinya itu menganggukkan kepala cepat.

" Kau tahu bukan kalau dia ini adikku ? " Tanya Dulio yang hanya dibalas tatapan tak peduli dari sang Uchiha

" Apa pentingnya fakta itu ? "

" Kau menarik. Sangat pantas untuk menjadi Knight Naruto … " Dulio menarik pelan Asia untuk membawanya menuju Tim Gremory.

" Jangan melawannya sekarang ! Kau tahu ia lebih unggul daripadamu sekarang " Dulio mengangguk kecil atas peringatan Sasuke. Dan kembali menarik Asia yang masih tak mengerti keadaan.

" Gremory – san … " sapa Dulio masih menggandeng tangan Asia. Dua pirang itu diam sebentar menunggu Rias selesai berbicara dengan kakaknya, tak lama kemudian para pemimpin beserta Vali ikut pergi setelah mendapat penjelasan terperinci atas situasi ini dengan penjelasan pelengkap dari Sasuke.

" Gremory – san … terima kasih karena telah merawat Asia selama ini. Aku sangat menghargainya " ujar Dulio membungkukkan badannya dalam, Asia hanya tersenyum kecil setelah meraih penjelasan Dulio. Dulio telah menjelaskannya dari awal, bagaimana mereka terpisah oleh perang, dan peran Naruto yang langsung menghadap Michael untuk memprotes takdir yang Asia peroleh, dari sana terbentuk perjanjian dimana Dulio akan membantu Naruto menyamar dalam gereja menggunakan identitas palsu yakni Menma, salah seorang pengawal yang paling dekat dengan Asia sebelum gadis malang itu dibuang ke Kuoh. Sejatinya, pembuangan Asia ke Kuoh juga tak lepas dari campur tangan Naruto, ia yang saat itu masih belum menjadi Lord Uzumaki tak berani mengambil resiko mereinkarnasikan Asia ke dalam peeragenya maka ia pun mengarahkan Asia ke Kuoh agar dapat direinkarnasikan oleh Gremory tentunya hal ini telah terlebih dahulu disetujui oleh Michael.

Rias gelagapan sesaat menerima sikap hormat dari Exorcist terkuat ini, tapi tepukan penenang dari Queennya membuatnya kembali tenang dan berwibawa selayaknya seorang pewaris. Senyum lembut gadis bersurai merah itu sampaikan.

" Tak perlu sungkan, Dulio – san. Kami semua telah menganggap Asia – chan sebagai anggota keluarga kami, dan kami sangat senang mendengar kabar bahwa Asia – chan masih memiliki saudara, yakni dirimu. "

" Ini semua tak terlepas dari adanya kedamaian. Kedamaian memang lebih baik … akan tetapi, Gremory – san maaf sebelumnya … aku memiliki permintaan "

" Permintaan ? Bisa anda jelaskan Dulio – san, jika aku sanggup, aku akan memenuhinya "

Dulio tersenyum kecil, ia semakin mengeratkan dekapannya kepada Asia.

" Aku ingin Adikku keluar dari peeragemu "

Asia terlonjak menatap tak percaya kakaknya sedangkan Rias dan seluruh anggota kelompoknya hanya dapat membolakan matanya.

XoX

Ophis Dimension

Ophis saat ini hanya duduk termenung dalam dimensi yang ia ciptakan sendiri. Dimensi itu hanyalah sebuah ruang kosong berwarna putih yang hanya memiliki 5 kursi, yang mana 3 kursi telah diduduki beberapa ekstensi. Dua eksistensi lain yang duduk sejajar dengan Ophis juga hanya duduk dengan tenang. Keduanya sama sekali tak bereaksi ketika sebuah robekan dimensi muncul tak jauh di depan mereka.

" Akhirnya kau di sini … " ujar Ophis impasif. Ia duduk dengan ekspresi blank pada singgasananya, tatapannya lurus ke depan pada seorang pemuda bersurai pirang yang mendadak muncul di dimensi ciptaannya.

" Cukup sulit untuk datang kemari. Terima kasih telah mengirimkan bawahanmu itu, dengannya aku mendapat koordinat yang lebih tepat " balas pemuda pirang itu yang berjalan mendekat. Ophis hanya mendengus kecil.

Salah seorang yang duduk sejajar dengan Ophis bangkit berdiri, ia adalah seorang pria paruh baya yang menggunakan pakaian bangsawan abad pertengahan, iris merah darahnya yang begitu mengerikan menatap bingung sebentar pemuda tersebut, sebelum akhirnya rentetan gigi taring putih yang tajam dari mulutnya menampakkan diri.

" Kau kah itu Uzumaki Naruto ? Tak kusangka kau mengajak orang semuda ini untuk kelompokkmu Ophis. " Ophis tak membalas komentar itu, ia masih menatap kosong Naruto yang tersenyum innocent atas komentar yang datang kepadanya.

" Kulihat kau masih kurang serius dalam masalah ini, kau masih hanya mengirim klonmu kemari " Naruto terkekeh kecil atas nada tak suka yang dikeluarkan Ophis, sebelum dapat menjelaskan sosok terakhir dengan perawakan pemuda dewasa rupawan berkulit biru menggantikan perannya.

" Teknik ini lebih menyerupai Avatarasu milikku. Kita tak dapat mengatakan bahwa ia klon, tapi ini juga bukan raga aslinya. Mengapa demikian anak muda "

" Terima kasih atas pembelaannya Sri Mahadewa Vshinu. Untuk jawabannya, raga asli hamba akan menyusul setelah keadaan memungkinkan "

" Begitu kah ? Baiklah hentikan perdebatan tak penting ini. Pertama, aku ingin memastikan satu hal padamu Uzumaki Naruto " Naruto kembali menaruh perhatian pada Ophis, tatapan yang Ophis berikan berbeda dari sebelumnya, kini terdapat sedikit emosi di sana.

"Ayahmu , Namikaze Minato tidak pernah ada "

TBC

Oke, ini update yang sangat lambat. Seperti yang kukatakan di Fic terbaru aku menemukan fakta baru hingga harus kembali merombak kerangka ceritaku, enggak perlu merubah total sih tapi terdapat beberapa hal yang harus kuganti, termasuk hal ini. Asia Argento, kujadikan saudara dari Dulio Gesualdo, dan akan keluar dari peerage Gremory. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di chap depannya.

Chap depan akan membahas masalah Loki, dan kelanjutan dari pembentukan tim Ophis. Masalah Loki akan berlanjut pada Chap khusus Kunou. Dan yang meminta Lemon antara Naruto dan Kunou, sekali lagi maaf aku tak akan membuatnya. Namun, seorang author lain yang tak akan kusebutkan namanya bersedia membuatkannya untukku, tapi masih akan kupertimbangkan karena hal ini terkait dengan kerangka alur yang telah dibuat.

Chap selanjutnya : Le Fay Pendragon, My Girlfriend ( Confession, The Evil God : Loki, and Armageddon Team )