Summary: Dazai dan Akutagawa bertanya-tanya tentang sebuah perbandingan.
Bungou Stray Dogs Milik Asagiri Kafka dan Harukawa Sango
Daakuweek2021
Day 1
Warning: Kayaknya gak sesuai prompt, OOC, dll.
Antara yang melukai dengan yang dilukai, siapa yang lebih menderita? Dazai kadang berpikir begitu secara egois. Dia bahkan tahu bahwa normalnya tidak perlu membandingkan kedua posisi tersebut, karena secara umum jawabnya adalah ...
"Tentu saja yang dilukai."
Yosano menjawab begitu dengan tatapan sedikit membara. Mungkin masa lalu kelamnya jadi terkenang lagi. Atsushi mengangguk setuju, mengusap bajunya yang menyembunyikan bekas luka bakar dari besi panas, kenang-kenangan dari pantinya dulu.
"Kenapa bertanya aneh-aneh begitu? Kerjakan saja laporanmu!" Kunikida menegur Dazai yang jadi terdiam, seolah pikirannya melayang keluar jendela lantai empat.
Laporan yang dimaksud Kunikida adalah soal 'penangkapan' Dazai oleh Port Mafia. Baru-baru ini Dazai berusaha memperdaya Atsushi untuk mengerjakan untuknya, tetapi jadi tidak mungkin karena yang tahu detail peristiwanya hanya dia sendiri.
Kecuali Dazai mau mendiktekan kejadiannya pada Atsushi, tetapi itu pun lebih melelahkan bagi Dazai sendiri. Jadilah sekarang dia menatap kosong pada layar komputer, tidak sengaja mengingat kembali apa-apa saja yang dia lakukan beberapa hari kemarin.
'Aku sedikit memprovokasi Akutagawa-kun, lalu dia jadi marah dan menghajarku.'
Disebut menghajar, sebenarnya itu hanya satu pukulan. Setelahnya Akutagawa berhenti, yang Dazai tidak mengerti mengapa ekspresi Akutagawa malah lebih sakit daripada dia yang meludahkan darah.Dazai sedikit berharap Akutagawa akan lebih keras lagi padanya. Setidaknya mendekati apa yang dia lakukan pada anak itu semasa mereka di Port Mafia dulu.
'Dalam kasus Akutagawa-kun, apakah melukai itu lebih menyakitkan baginya daripada dilukai? Sungguh anak yang aneh.'
Mesti Dazai memikirkan kemungkinan lain pula. Bahwa Akutagawa sakit hati karena perkataannya, makanya ekspresinya demikian setelah melayangkan tinju.
Jika kemungkinan tersebut benar, berarti tidak ada yang berubah dari dulu. Tentang Dazai yang selalu 'melukai', dan Akutagawa yang senantiasa terluka, dengan cara-cara paling sederhana yang dilakukannya.
Bertahun lalu, dalam salah satu latihannya dengan Dazai, Akutagawa merenungkan hal serupa. Antara yang melukai dengan yang dilukai, siapa yang lebih ngilu?
Pukulan-pukulan Dazai memang menyakitkan, sampai dia sulit bernapas dan tidak ingin bangkit lagi, kadang-kadang.
Namun, saat dia sekarang sudah menjadi salah satu dari elit Port Mafia, saat Dazai tidak ada lagi di samping sebagai mentornya, kenangan pelatihan keras itu adalah salah satu hal yang bisa Akutagawa genggam sebagai sisa.
Lalu, perkara melukai dan dilukai, Akutagawa pernah secara harfiah melihat bukti, bahwa yang melukai bisa jadi lebih deras mengalirkan darah.
Itu terjadi pada saat dia awal-awal bergabung sebagai bawahan Dazai. Akutagawa meminta latihan setelah Dazai pulang misi, dan bocah 16 tahun waktu itu menyanggupi.
Entah lupa soal cedera di telapak tangannya atau bagaimana, Dazai memukul Akutagawa dengan genggaman dibungkus perban, dan memekik setelahnya kala luka barunya terbuka lagi. Mungkin bekas ditembus pisau, cukup dalam sampai merah yang merembes langsung menyebar basah.
"Duh, lupa!" ringisnya sambil meniup-niup, yang sebenarnya tidak banyak membantu. Akutagawa yang lebih muda tidak menyia-nyiakan kesempatan, mendaratkan pukulan balik mumpung Dazai sedang lengah, dan berhasil membuat mentornya itu kerepotan selama beberapa menit.
"Bagus, sesuai prinsip yang kuajarkan kemarin," puji Dazai, tertawa kecil entah untuk alasan apa. Akutagawa menatap darah yang menetes-netes dari sebelah tangan mentornya, dan entah kenapa merasa kurang puas. Dia tidak suka melihat kondisi Dazai, tetapi dia sedikit senang dengan komen itu.
Katanya kenangan itu semakin indah dengan berlalunya waktu. Namun, bagaimana jika kenangan tersebut adalah tentang luka?
Dazai masih bermimpi buruk kadang-kadang, tentang Akutagawa yang menuntutnya memberi alasan hidup, tentang sesi pelatihan yang kejam, di mana dalam mimpi itu ada pula Oda dan Atsushi yang menontoni.
Lalu dia akan terbangun dengan rasa bersalah yang mengerikan. Sebanyak Dazai menyadari dia salah, sebanyak itu pula dia tidak bisa meminta maaf. Yang membuat perasaannya bertambah buruk.
'Akutagawa-kun, maaf atas apa yang kulakukan dulu.'
Mana bisa sesederhana itu. Sebabnya Akutagawa meyakini yang Dazai lakukan itu perlu. Maka bagaimana dia akan menanggapi jika Dazai mengakui itu sebagai kesalahan, sebagai kegagalan, sebagai perhitungan yang meleset?
Mimpi buruk Akutagawa sendiri bukan tentang tinju yang keras dan rentetan peluru. Hidupnya di Nadir tidak mudah, dan Dazai sudah memperingatinya sejak awal.
Mimpi buruk Akutagawa adalah perkara ekspresi kecewa Dazai setiap dia mengacaukan sesuatu. Dari melihat cara kerjanya sebagai eksekutif termuda Port Mafia, Akutagawa percaya bahwa Dazai selalu punya maksud tersembunyi dari setiap tindakan.
Maka, saat Dazai menghilang, Akutagawa tidak pernah menyerah untuk mencari. Berpikir bahwa menemukan Dazai merupakan bagian dari pelatihannya yang belum usai
'Bawahan baruku jauh lebih baik darimu.'
Kalimat itu tidak bisa Akutagawa terima lebih dari apa pun. Pada saat yang sama, dia merasa nostalgia dengan Dazai yang tidak berubah. Setelah empat tahun berlalu, mentornya tetap menyebalkan seperti dulu.
"Jadi mesti bagaimana, yaaa ..." Dazai mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Laporan sudah selesai, tetapi proses berpikirnya yang dilakukan secara sambilan, belum membuahkan hasil.
"Apanya?" tanggap Kunikida, sedikit terganggu karena Dazai sudah menggumamkan hal yang sama sepuluh kali.
"Hmm ... kenangan buruk, apa suatu hari bisa jadi bagus?"
"Mana mungkin." Kunikida membawakan hal tersebut pada kematian Rokuzou dan Sasaki Nobuko. "Paling, yang bisa kau lakukan hanyalah mengambil pelajaran dari hal itu."
Dazai tercenung. Oda yang menghembuskan asap rokok untuk terakhir kali di depan matanya juga bukan hal bagus untuk dikenang. Tapi usapan di kepala, wasiat Oda, itu adalah sesuatu yang Dazai merasa lebih baik dia dengar, daripada tidak sama sekali.
Kalau begitu ...
'Kau jadi tambah kuat, ya.'
Sejak hari Dazai menepuk bahunya dan mengatakan kalimat itu, Akutagawa tidak pernah berhenti mengingat ulang adegan singkat tersebut setiap malam. Masih dengan rasa tidak percaya, masih bertanya-tanya apa tujuan Dazai sebenarnya.
Namun, seperti biasa, Akutagawa memutuskan bahwa dia tidak mengerti. Walaupun begitu, meskipun sementara, dia boleh merasa bahagia, kan?
End.
A/N
Ini baru mulai mikir dan bikin setelah lihat sw link fanfic Syn. Salah lihat tanggal sebenarnya, kukira tanggal 28, rupanya sudah 29. Mau publish sebelum ganti hari, tapi aku seperti biasa ... ketiduran sampai pagi •_•
