[ jeanere, bxb, romance-fluff, rate-NC ]

[ d i s c l a i m e r ]

Karakter FF ini punya Hajime Isayama. Pitik hanya bikin ff dan tidak mendapat keuntungan apapun selain rasa senang :)

.

.

.

Bungsu Yeager itu tidak tahu memiliki seorang kekasih akan serepot ini. Ia kira akan seperti serial drama yang langganan ditonton Armin saat berada di rumahnya. Lelaki sembilan belas tahun itu berpikir bahwa menjalin hubungan romansa akan membuatnya sering merasa 'terbang' dan bahagia.

Tapi sekarang Eren Yeager harus berkutat dengan kepanikan. Connie, tetangga sebelah apartemen Jean baru saja meneleponnya.

'Oi, pacarmu jatuh sakit sejak pagi. Aku tidak bisa mengurusnya malam ini karena tempat kerjaku sedang ramai.'

Connie Springer mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pengantar makanan cepat saji. Jika lelaki plontos itu tidak berangkat sehari saja, maka tidak ada uang makan. Eren sedikit beruntung karena tinggal di rumahnya sendiri, tidak perlu bersusah payah mencari uang saku.

Berbekal beras, kaldu instan, beberapa botol air mineral, dan obat penurun panas, Eren berkunjung ke apartemen sang kekasih. Dengan mata tertutup ia menekan sandi pintu lalu melangkah masuk. Ruang tamunya gelap—bahkan lampu kamar pun tidak ada yang menyala. Lelaki berambut coklat itu mendengus pelan, menekan saklar agar kondisi apartemen Jean Kirschtein tampak lebih jelas.

Jelas-jelas berantakan.

Dengusan jengkel lolos lagi dari bibir Eren. Jika ia adalah Levi Ackerman, maka ruangan ini pasti sudah mengkilap sekarang. Tapi Eren bukanlah kakak tingkat kampusnya. Fokus utama lelaki itu adalah menemukan keberadaan Jean.

"Jean," panggil Eren.

"Jeanboy?" Barusan adalah panggilan sayang dari ibu kekasihnya. Eren gemar menggoda lelaki itu dengan sebutan masa kecil. Biasanya Jean akan memasang wajah masam dan menggerutu. Baginya panggilan 'Jeanboy' sangat memalukan. Tapi bagi Eren itu adalah sebutan favorit.

Kembali pada fokus, di mana Jean sekarang? Eren sudah memanggil dua kali. Jika ketiga kalinya tidak mendapat jawaban, maka angkat kaki adalah jawaban yang paling tepat.

Sembari membuka pintu kamar sang kekasih, Eren memanggil lagi. "Jean Kirschtein?"

Kali ini ada gumaman pelan sebagai sahutan. Lelaki berambut coklat itu berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu kamar. Seseorang tengah membungkus dirinya sendiri dengan selimut tebal. Eren menghampiri, menarik lapisan berwarna putih.

"Jean, kau baik-baik saja?" tanya Eren dengan nada panik. Jean memalingkan wajah, enggan menatap sang kekasih yang tengah berkunjung.

Eren terduduk di lantai, mengulurkan tangan pada pipi Jean untuk mengecek temperatur badannya. Tidak terlalu panas. Mungkin dia sudah lebih baik karena perawatan tetangga apartemennya.

Lelaki berambut coklat itu menghela napas sebelum bicara, "Kalau kau sakit, kenapa tidak menghubungiku sejak pagi? Kau tahu aku bisa panik juga, kan?" Eren mengomel sambil mendorong pipi lainnya agar ia bisa melihat raut wajah Jean dengan jelas.

"Maaf," cicit sang kekasih—masih urung menatap Eren.

"Apa kau lapar? Aku bisa membuatkanmu bubur. Mikasa pernah mengajariku cara membuatnya. Jadi tenang saja, rasanya—,"

Penjelasan panjang Eren Yeager terhenti karena sebuah kecup di dahi. Betapa kurang kerjaannya orang sakit di atas ranjang ini.

"Jean," protes Eren sembari menatap tajam. Kekasihnya itu hanya terkekeh, menertawakan raut masam lelaki di hadapannya.

Eren bangkit berdiri, menghentakkan kaki dengan marah. Ia mendengus jengkel, merasa tertipu dengan gelagat aneh seorang Jean Kirschtein. Lelaki itu berkacak pinggang, memicingkan mata ke arah sang kekasih yang sudah duduk di pinggir ranjang.

"Hei, apakah kau benar-benar sakit?" tebak Eren dengan nada kesal.

Alih-alih langsung menjawab dengan perkataan, Jean meraih pinggang Eren dan membawanya dalam peluk. Ia mengusapkan pipinya sendiri pada perut Eren sembari menyahut, "Aku sakit. Benar-benar sakit."

Lelaki rambut coklat itu mendecih, membuang muka sejenak sebelum memandang kekasihnya. "Bagaimana orang sakit bisa memelukku seerat ini? Harusnya tubuhmu lemas."

Jean memejamkan mata sejenak dan merasakan kehangatan tubuh Eren. Perlahan tapi pasti ia menariknya, menaikkan kedua kaki lelaki itu ke atas kasur. Sekarang Eren terpaksa duduk di atas pangkuan.

"Jenis penyakit apa yang kau derita sampai membuat Connie meneleponku?" Eren bertanya sembari menaruh tangan di kedua pundak Jean. Ekspresinya tampak jengah, tapi ia tidak menepis ketika sang kekasih meraba area punggungnya.

Jean terkekeh pelan sembari menatap wajah Eren. Ia merasa gemas, ingin sekali menangkup dan mencubit pipinya.

"Malarindu," sebut lelaki itu pelan, "hanya kau yang bisa menyembuhkanku. Connie Springer tidak bisa."

"Omong kosong apa yang—," ucapan Eren terhenti saat menatap sepasang manik coklat dan seulas senyum.

"Eren Yeager, tolong aku," sebut Jean kemudian menekan tengkuk lelaki itu, dan mencuri sebuah ciuman dari bibirnya. Kedua mata Eren terbuka lebar, sedikit terkejut atas perlakuan Jean Kirschtein. Lelaki itu mencumbunya agak lama, bahkan menautkan bibir mereka dan mencecap rasanya. Wajah Eren merah padam sekarang, campuran antara rasa malu dan jengkel.

Jean melepas ciuman mereka, ganti menyingkap pakaian atas Eren dan mendaratkan kecupan-kecupan ringan di tubuh sang kekasih. Setiap telinga Eren menangkap bunyi bibir, pundaknya menegang.

"J-Jean, kau benar-benar tidak s-sakit?" celetuk Eren di tengah kegugupan. Kekasihnya itu tidak menyahut, masih berkutat pada kecupan-kecupan di tubuh Eren. Sekarang bibirnya mencium puncak dada lelaki itu, menyesapnya kuat-kuat hingga berwarna lebih pekat ketika dilepas.

"Hh—Jean, stop!" Permintaan Eren tidak digubris. Cengkraman pada pundak lelaki undercut itu mengeras.

Saat Jean menekan puncak dada Eren yang telah pekat dengan ibu jari, sang kekasih mengelak tidak nyaman. Eren merasakan timbunan sensasi geli, membuat wajahnya semakin merah lagi. Ia tidak suka begini.

"Jeanboy, kau ingin apa? Jangan menggodaku seperti ini," protes Eren kemudian menangkup wajah Jean, menatap mata coklat itu lekat-lekat.

"Aku sudah di tengah jalan. Masa kau tidak bisa menebaknya?"

Untuk sejenak tadi, merah padam di wajah Eren sudah berangsur reda. Tapi Jean Kirschtein malah membuatnya muncul lagi.

"Aku merindukanmu," sebut Jean sambil membawa Eren dalam dekapan erat, "kita tidak pernah bertemu sejak ujian semester beberapa minggu yang lalu."

"Jadi?"

Jean mendengus pelan, menatap sepasang mata kelabu dalam-dalam. "Aku ingin quality time bersama pacarku."

Eren menaikkan sebelah alis. "Hanya itu?" Ia bertanya sekaligus mengungkapkan ketidakpercayaan.

"Dan mungkin sedikit peregangan di atas ranjang," jawab Jean seraya menelusupkan tangan ke sela tubuh mereka. Jemarinya meraih kait celana dan menurunkan resleting Eren.

"Tidak—," protes lelaki berambut coklat itu. Namun tidak sempat karena Jean sudah menahan punggungnya.

"Kalau memberontak terus, nanti kau jatuh," sebut Jean seraya menarik turun celana luar dan dalam sang kekasih. Sekarang udara hangat di kamar Jean Kirschtein membelai sepasang pipi bokong di belakang sana.

Jemari nakal meremas pelan, membuat sang kekasih melenguh di belakang pundaknya. "Uh—Jean, aku—,"

"Apa?" Pertanyaan singkat itu diucapkan dengan nada lembut. Tapi Eren tidak menjawab. Ia malah bertumpu pada lutut sembari melingkarkan tangan di tengkuk Jean. Sekarang kekasihnya lebih leluasa menjamah.

Ia menurunkan celana Eren hingga pangkal paha, dua-duanya langsung. Kepemilikan lelaki itu sekarang sepenuhnya terekspos. Jean menundukkan kepala, mengintip milik sang kekasih yang sedikit keras. Miliknya juga sedikit keras dan seiring berjalannya kegiatan panas ini, Jean yakin akan berdiri sepenuhnya dan siap memasuki celah belakang Eren.

Sekarang lelaki itu hanya perlu mempersiapkan tempatnya. Dengan hati-hati ia melucuti celana Eren, membiarkannya teronggok di lantai kamar selagi telunjuknya gencar membelai pintu masuk. Eren masih memeluk leher Jean erat-erat selagi kekasihnya itu beralih lagi pada bagian depan.

Dengus tidak sabaran lolos dari bibir Eren. Jean kini tengah mengusap kepemilikannya, membuat precum yang sedikit membasahi ujung kini keluar lebih banyak. Milik Eren menegang sempurna ketika itu dan Jean cukup tahu cairan putih yang membasahi pakaiannya lebih dari cukup untuk pemanasan di belakang sana.

Beralih pada pintu masuk berwarna merah muda, Jean sekarang tengah mengusapnya dengan dua jari, telunjuk dan yang tengah. Ia menekan ke dalam, memperlebar liang hangat itu sedikit demi sedikit. Kini telunjuknya berhasil masuk, mencari jalan menuju titik prostat Eren.

Desah pelan tertangkap oleh telinga Jean saat ujung jarinya menyentuh dinding hangat di dalam sana. Ia kira lama tidak bertemu akan membuat jari telunjuk itu lupa jalan. Ternyata ingatannya masih jelas.

Dan sekarang jari tengah ikut menyusul, bergerak menyentuh titik yang sama dan mengusap-usap di dalam sana. Eren tersentak dan menarik Jean ke dalam dekapan yang lebih erat. Sang kekasih hanya terkekeh, membiarkan Eren melakukan apapun.

Setelah jari tengah, jari manis ikut menyusul, memperlebar celah Eren untuk penautan hal lain. Jean sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya bila nanti ia masuk ke dalam sana.

Cukup dengan pemanasan menyiksa ini! Jean membuat Eren berlutut agar tangannya bisa meraih karet celana dengan leluasa. Lelaki itu melepas bawahan dan membiarkan Eren duduk kembali di atas pangkuan. Sekarang semuanya sempurna.

Sebuah kecup mendarat di bibir sang kekasih. "Aku akan pelan," ucapnya sebelum membaringkan Eren di atas ranjang. Jean melebarkan tungkai sang kekasih dan langsung mendesak masuk.

Siapa yang tadi berkata 'aku akan pelan'? Jean tidak pernah bisa sabar. Kesabaran itu hanya bertahan saat sesi pemanasan. Ketika dihadapkan dengan penautan tubuh yang lain, ia tidak bisa menahan diri.

"Tunggu—ah—Jean, tunggu," protes Eren sembari mencengkram pundak sang kekasih erat-erat. Agak perih rasanya ketika liang sempit dipaksa untuk melebar dalam waktu cepat. Bahkan Eren sampai menitikkan air mata.

Ketika Jean bergerak maju dan mundur, air mata itu semakin deras. Eren mendesah sambil terisak, membuat manik kelabu dan bibir ranumnya tampak beribu-ribu kali lebih indah.

"Jean—hh—pelan," mohonnya.

Jean menurut, menurunkan tempo gerakan. Namun pinggul Eren di bawah sana justru menyambut antusias, seakan belum rela dengan perubahan tempo yang mendadak. Karena itu Jean mengabaikan permohonan Eren dan menaikkan temponya lagi.

"Jeanboy—ah—pelan," mohon Eren untuk yang kedua kalinya.

Tapi Jean tidak peduli. Sekalipun ia berubah pelan, Eren akan memimpin tempo dan membuatnya kembali cepat. Jadi lebih baik bila ia saja yang menjadi cepat.

"Jean—hh—Kirschtein," isak Eren sambil mendesah. Tangannya sekarang meraih tengkuk sang kekasih, menarik dan mencium bibirnya. Jean menyambut senang dan memperdalam taut di kedua tempat.

Eren yang menginisiasi ciuman, tapi ia juga yang melepas pertama. Kejantanan Jean membesar di dalam liangnya, membuat Eren merasa penuh. Maniknya masih berkaca-kaca dan jemarinya kini meremas kaus Jean erat-erat.

Mereka keluar.

Cukup banyak, terutama Jean. Lelaki itu tidak repot melepas penautan mereka dan membiarkan benih-benih putih mengisi celah sang kekasih.

"Akan kubersihkan nanti," sebut Jean kemudian mendaratkan kecup di dahi Eren. Ia mengeluarkan miliknya dan mengusapnya sendiri. Matanya dengan penuh cinta memandangi wajah indah sang kekasih.

"M-mau apa lagi kau, Jeanboy? Huh?" tanya Eren sembari memeluk lututnya sendiri.

"Apa kau sudah lelah hanya dengan satu ronde? Ayo lakukan lagi," sebut Jean kemudian meraih kedua tungkai Eren dan melebarkannya kembali.

Lelaki itu meringis pelan ketika Jean memasukkan miliknya kembali dan menerobos pintu yang sudah licin itu. Kekasihnya bergerak lagi, menyentuh titik prostat Eren dengan batang kemaluan.

Manik kelabu terpejam erat, merasakan liangnya sekali lagi penuh. Eren menggigit bibirnya, menahan perih dan kenikmatan yang telah melebur menjadi satu.

"Uh—malarindu, sialan."

.

.

.

The End

Udahan awokaoak

Biasa lah, Pitik kalo ngasih entri FFA emang sukanya oneshoot nsfw ehe ehe ehe ehe