Beiden by alvad0n1a
Chapter 1: Pergulatan
Rated: T
Genre: Humor, Romance (if you squint), Friendship, Slice of Life?
Pairing: Jean Kirschtein/Eren Yeager, and more soon?
Warning: Harsh words, humor sampah anak SMA, jamet languages?, adult jokes maybe, SMAIndonesia!AU, etc
"Woi, muka kuda!" Bletak! Sampul tebal buku kamus Jerman-Jndonesia itu menghantam jidat mulus sang muda Kirschtein. "Jorok bat lu anjir, halaman bukunya ketumpahan kuah mie semua."
Tiga sudut segitiga imajiner muncul di kepala bersurai moka itu. Armin yang sedang berdiskusi tentang kromosom pewarisan DNA antara pasangan carrier buta warna bersama Marco pun menarik pelan tangan pria berbintik matahari itu agar menjauh dari dua sejoli penuh api ini. Dari telinga Jean sudah keluar asap soalnya, kata Armin. Marco hanya tersenyum masam sambil menggeret buku Campbellnya—terakhir kali ia biarkan dirinya berada di antara pertempuran dua pemuda alay ini, buku yang seharga dengan ginjal Jean itu tertumpahkan liur dan keringat busuk mereka—yang sudah usang.
"Kalau enggak mau pinjam, ya enggak usah!" Menyambar buku itu dengan kasar, Jean merogoh kantongnya untuk mencari-cari rupiah krincingan miliknya. Ah, dapat. "Nih, jajan lu, anjing!"
Bletak! Tengkorak Eren yang hanya dibalut kulit tipis dan sebongkah rambut brunette itu berbunyi kencang kala dihantam dengan recehan seribu perak sejumlah lima buah. Empunya mulai membuang nafas panas dari lubang hidungnya, nafsu sekali ia untuk menyeruduk pemuda jangkung yang berjarak lima meter di hadapannya itu.
"Maksud lu apa, bangsat?!" Langkah kaki berbalut sepatu hitam usang itu berderap menuju pemuda Kirschtein. Iris emerald yang berapi-api dan alis ulat bulu itu menukik-nukik, menghiasi paras tan si bungsu Jaeger.
Seluruh penghuni kelas sudah terbiasa tentunya dengan pemandangan ini, namun tak lupa pula mereka mengambil ancang-ancang untuk melerai dua binatang liar ini sebelum properti sekolah mereka rusak lagi dan kelas mereka harus menggantinya.
"Mikasa!" Armin meraih lengan kemeja putih seragam teman masa kecilnya itu. Si rambut jamur itu sudah stress sendiri melihat Mikasa yang mulai beranjak ke arah Jean sambil membawa dua bilah cutter berlumuran cairan merah. "Diam, Armin. Ini adalah pertempuran yang hanya bisa diselesaikan oleh perempuan. Please educate yourself." Armin pun hanya bisa ceming melihat sepupu Yeager itu.
Jean mulai bergerak, mendekati Eren yang sedang menuju ke arahnya. Jarak antara bangku paling belakang kelas dan pintu masuk kelas semakin dekat. Seluruh penghuni kelas menahan nafas mereka. Duh, anak berdua ini mau apa lagi?!
Deg, deg. Sasha sudah menyiapkan bulir-bulir kentang rebusnya, Reiner menggulung lengan kemeja putih ketatnya, tak lupa Connie memulas kepalanya agar semakin silau dan berpotensi membutakan mata para petarung nantinya. Deg, deg.
Mikasa mengasah cutter bergagang merah mudanya dengan penggaris berornamen Hello Kitty, pinjam dari Armin. Deru nafas terdengar, langkah kaki semakin cepat.
Semua sudah siap dengan kuda-kuda mereka.
Jarak semakin tipis, dan!
.
Eh?
Bulir keringat imajiner menetes dari kepala tiap anak di situ, minus Armin dan Marco. Diiringi BGM ba-dum-tssh, terdengar pula suara gagak lewat di kepala mereka, hal imajiner lainnya yang membantu menyuarakan reaksi mereka saat ini.
Ketiak basah Jean Kirschtein yang burket abis tidak disadari oleh si muda Jaeger. Kalaupun ia sadar, sudah pasti ia tak peduli, melihat ekspresi wajahnya yang rileks ketika tangan besar berkeringat itu merangkul pundak dan lehernya.
"Buruan anjir, keburu rame siomaynya..." Jean menampar kencang sisi wajah Eren yang paling dekat dengan punggung tangannya.
"Bujug, bau banget! Lu abis berak enggak cebok, ya?" Eren menampik tangan yang telah mencium pipi gembulnya. Diinjaknya Yeezy hitam dengan garis merah milik lawan mainnya itu. "Lagian elu yang lemet, ayo lari." Yeager pun hilang dalam satu kedipan mata.
Jean hanya bisa cengo melihat pelaku penginjakkan sepatu kaum bourjouisnya itu berlari kencang menuju lantai satu. "BALIK LU SINI BANGSAT!" Dan kini satu-satunya bukti ia pernah ada disana hanyalah tetesan bulir keringatnya di lantai kelas.
...
"Tadi itu apa?" Kelas 10 IPS 1 Shiganshina High itu hanya bisa termangu melihat debu prasasti pertengkaran dua sejoli itu.
Omake
"Mami lagi ngambek, Jen."
"Kenapa?"
"Biasa, ketauan begadang."
"Gadang mulu, sih lu."
"Apaan sih, siapa coba yang semalam nangis-nangis ketakutan minta vidcall karena bayangannya gerak-gerak sendiri di kaca?"
"Bacooot, engga gitu, ya."
"Haduh, elu sih. Duit jajan gua raib, kamus Jerman papi gua juga enggak dikasih. Siap-siap ditabok Pak Erwin."
"Alay lu."
"Gua stress beneran, anjing."
"Ya udah, puter balik dulu."
"Udah gila, mau kemana coba?"
"Mau kamus kagak?"
"...mau."
"Ngebut ke perpus Ayah gua aja. Buru."
"Berisiiik, sebentar tuan muda."
"Lemet."
"Duh, gaji tidak turun masih minta kebut."
"Entar beli siomay bareng."
"Oke, berangkat kita."
Eren menginjak kaki penumpang gratisnya itu dengan dalih hendak mengganti gigi motor. Dan motor Supra 2004 itu melenggang cepat menuju komplek perkantoran keluarga Kirschtein.
Owari
A/N: H-halo, aku Alva! Hari ini lagi main di Jean/Eren, hehe. Sebelumnya sudah pernah bermain di fandom ini dengan pen-name yang tampaknya tak bisa digunakan lagi, huhu. Semoga suka gengs. Ciaobella.
-Alva
